Berita yang anda beri itu justru yang TIDAK NETRAL. Memutar balik fakta, agar opini publik (terutama Muslim awam yang fanatik) jadi membenci barat.
Perhatikan:
Judul artikel: Pemerintah Quebec-Kanada Larang Jilbab
Montreal (ANTARA News) - Pemerintah Kanada membela Rancangan Undang-Undang (RUU) Quebec yang melarang para perempuan Islam memakai jilbab berpenutup muka di berbagai lembaga publik.
Saya tidak menggugat faktanya. Saya akui, bahwa itu FAKTA. Saya percaya, media tersebut tidak mungkin mengada-ada.
Netral tidaknya suatu media tidak dinilai dari apakah beritanya fakta atau bukan, tapi CARA PENYAMPAIAN DAN PROPORSI BERITA.
Cara penyampaian berita di atas jelas memlintir fakta. Dikatakan dalam judul: Pemerintah Quebec-Kanada Larang Jilbab
Kata “jilbab” digunakan untuk menciptakan “kesan pertama” yang negatif terhadap pemerintahan Kanada (kalau anda belajar ilmu komunikasi, taktik begini biasa dalam media dan bahkan dalam IKLAN).
Jilbab dalam masyarakat kita adalah penutup kepala dan seluruh badan, kecuali wajah. Sedang “jilbab” yang dimaksud dalam artikel tersebut adalah “dengan berpenutup muka”. Bisa dibayangkan itu adalah sejenis cadar, atau abaya, atau burqa.
Saya bisa memahami bahwa pemerintah Kanada melarang cara berpakaian seperti itu. Kenapa? Karena dalam peradaban modern, WAJAH adalah alat identifikasi.
Kalau wajahnya ditutup, bagaimana polisi atau masyarakat bisa mengidentifikasinya? Hal ini tentu rentan DISALAHGUNAKAN untuk kejahatan.
Sedang untuk jilbab biasa seperti yang dipakai Muslimah di Indonesia, apa dilarang? TIDAK. Bikin paspor saja, walau ada aturan tidak boleh pakai topi dst, BISA DIPERKECUALIKAN BAGI –TERUTAMA- MUSLIMAH YANG MENGGUNAKAN JILBAB!! So, DISKRIMINASI SEBELAH MANA?
Itulah yang saya maksud “memlintir fakta”.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)


Reply With Quote
