Results 1 to 20 of 39

Thread: Mengenal “Latte Factor”, Bahaya Baru yang Menggerogoti Orang Indonesia

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    eh tapi kopi2 / teh2 di cafe dan starbucks gitu emang mahal loh mbok. saya aja ngerasa mahal biarpun saya termasuk kategori yang bisa afford it memang sih saya ga doyan kopi maupun teh, jadi ngga ngerasa worth it buat ngelakukan pengeluaran buat ini. dan buat yang beli kopi di starbucks tiap hari, it adds up loh. sedangkan orang bisa hemat banyak kalo brew kopi sendiri, walo memang repot dikit.

  2. #2
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    eh tapi kopi2 / teh2 di cafe dan starbucks gitu emang mahal loh mbok. saya aja ngerasa mahal biarpun saya termasuk kategori yang bisa afford it memang sih saya ga doyan kopi maupun teh, jadi ngga ngerasa worth it buat ngelakukan pengeluaran buat ini. dan buat yang beli kopi di starbucks tiap hari, it adds up loh. sedangkan orang bisa hemat banyak kalo brew kopi sendiri, walo memang repot dikit.
    Wiken mbok racik kopi sendiri. Senin - Jumat beli kopi deket kantor sini tapi bukan Starbuck lah, itu mah susu hungkul. Kalau ditotalin sekitar 2.5 persen dari gaji sebulan. Buat mbok itu ndak mahal dan ndak percuma karena selain mbok menikmati rasanya juga membayangkan para petani kopi yang kebagian rejeki yang kebanyakan masih belum sejahtera hidupnya, plus barista yang rata-rata masih muda dan kuliah lagi, plus teknisi mesin kopi, plus cleaner, dll.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  3. #3
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Wiken mbok racik kopi sendiri.
    mau dong racikan kopi buatan mbok jamu

    ndak percuma karena selain mbok menikmati rasanya juga membayangkan para petani kopi yang kebagian rejeki yang kebanyakan masih belum sejahtera hidupnya, plus barista yang rata-rata masih muda dan kuliah lagi, plus teknisi mesin kopi, plus cleaner, dll.
    Rantai ekonomi dari secangkir kopi panjang. Kalau perdagangan dilakukan secara adil, petani bisa ikut merasakan dampak kopi yang dijual mahal di pasaran, terlebih petani yang menanam kopi dengan varietas khusus. Untuk Indonesia belum bisa seperti itu, karena sebagian besar penghasilan masyarakat masih rendah (GDP per capita $3,384 - 2015), sehingga melihat dan memperlakukan kopi sebagai minuman instant dan dihargai murah. Kalau perdagangan berjalan adil, dan orang-orang berpandangan seperti mbok jamu, mereka yang berada dalam rantai ekonomi kopi akan sejahtera.
    Last edited by itsreza; 06-02-2017 at 08:20 AM.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •