Saya anak di bawah umur loh![]()
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
Ini namanya tergantung 'value' yg dipegang oleh masyarakat tsb. Di Eropa, nyawa seorang manusia, meski jahat sekalipun, sangat dilindungi, karena itu tidak ada lagi hukuman mati di sana. Padahal kita tahu, dulu Eropa adalah 'biang'nya hukuman mati, nyawa manusia tidak ada harganya sama sekali.
Ini yg saya ilustrasikan dgn 100 buah mangga yg dibuang tapi ada 1 yg bagus. Karena itu sebuah mangga, 1 yg bagus tsb dapat diabaikan meski terbuang, karena dia hanyalah sebuah mangga. Berbeda dgn 100 manusia terbunuh (hukuman mati) tapi ada 1 yg tidak bersalah, apakah akan dilihat seperti sebuah mangga juga? Jawabnya, tergantung 'value' yg dipegang oleh masyarakatnya. Jika nyawa manusia sama dengan buah mangga, silakan jalani terus hukuman mati tsb.
Ya memang masih ada. Tapi lihat Eropa, dari pemegang lisensi 'hukuman mati' menjadi tidak lagi.Dan terkait dengan 'pengalaman' masyarakat yang beda2, itu juga sebabnya pengadilan Internasional masih punya hukuman mati.
Itu karena pengalaman dunia internasional, mereka banyak ketemu orang2 yang kayak gue bilang 'Manusia Anjing Rabies'.
---------- Post Merged at 08:15 AM ----------
Nih kalo mau baca ttg 'death sentences':
http://www.scientificamerican.com/article/many-prisoners-on-death-row-are-wrongfully-convicted/
Researchers estimate that more than 340 U.S. inmates that could have been exonerated were sentenced to death since 1973 ...
Eropa sebelah mana dulu.
Eropa Timur masih.
Buat contoh aja, Rusia masih ada dalam kodifikasi hukum mereka.
Yang lo bayangin Eropa Barat, EU, kali.
Kalo disana sih, bawa piso sepanjang jempol aja udah di pertanyakan banget. Jam dua malem, literal kampung kayak tempat jin buang anak, siapa aja bisa keluar aman.
Dan analogi mangga.... gue lebih ngeliat situasinya dengan analogi Gangrane atau Kanker, dimana anggota badan(analogi dari bagian masyarakat) harus di potong, untuk menghindari seluruh tubuh(analogi dari masyarakat) keracunan. Dan kadang bagian yang sehat pun nggak sengaja kebawa dalam operasi pengangkatan.
Dan ngomongin buah sebagai analogi, nggak sekali dua kali, bahkan secara ekstrem seluruh ladang(yang gue tau, kejadian buat buat jeruk dan kedelai) harus di basmi gara2 ketauan beberapa bagian tanaman terserang hama.
A proud SpaceBattler now.
Dan setahu gw eropa barat alasan mencabut hukuman mati karna faktor ham deh bukan karna takut salah vonis, ::
atau udah berubah?![]()
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
Analogi lu itu menunjukkan lu pegang 'value' dimana nyawa manusia sama saja dengan buah mangga. That's Ok. Itu value yg lo pegang. Karena itu dapat dipahami bahwa lo setuju dgn hukuman mati.
Btw, dlm kasus kanker, terpaksa bagian tubuh yg sakit dibuang, utk apa? Utk mempertahankan nyawa manusia. Ini value yg membedakan nyawa manusia dan buah mangga.
Kalo 'value' yg dipegang seperti ladang jagung (lihat di bawah), mungkin orang Indonesia dimusnahkan saja oleh komunitas internasional karena biang kriminal dan biang korupsi.
Lu paham analogi kan?Dan ngomongin buah sebagai analogi, nggak sekali dua kali, bahkan secara ekstrem seluruh ladang(yang gue tau, kejadian buat buat jeruk dan kedelai) harus di basmi gara2 ketauan beberapa bagian tanaman terserang hama.
---------- Post Merged at 05:57 PM ----------
Gak tega gw. Nih gw tanggepin...
100 buah mangga dibuang tapi ada 1 yg masih baik bukan sedang menunjukkan probabilitas salah hukum 100:1 tapi sedang mengilustrasikan 'nilai' buah mangga dibandingkan dgn 'nilai' nyawa manusia. Paham?
Secara statistik kesalahan 1:10000000000000000000000000 mungkin tidak ada artinya. Tapi tidak utk nyawa manusia. Itu ilustrasinya. Mudah2an lu paham.![]()
Last edited by purba; 22-03-2015 at 06:59 PM.
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
PAHAM.
Gue cuman mau bilang, bahkan buah yang lu gunakan sebagai analogi-pun, di dunia nyatanya, perlakuannya bahkan bisa lebih ekstrem dari 'sekedar hukuman mati' dalam rangka menyingkirkan individu yang terdefinisi sebagai bibit buruk.
sekali lagi gue bilang, lo mesti 'jalan dalam sepatu orang lain' dulu untuk bisa bilang bahwa hukuman mati itu paling baik atau paling buruk.
Yang perlu lo paham adalah: Walaupun gue pro hukuman mati, sebagai 'necessary evil', gue nggak memandang pendapat ini sebagai harga mati.
Gua nggak memandang pendapat ini sebagai kebenaran absolut.
Gue anggap penerapannya sangat bergantung pada situasi masyarakatnya. Sangat2 relatif.
Tergantung situasi, bisa antara harus diterapkan, sampe nggak perlu sama sekali.
A proud SpaceBattler now.
Masih gak paham juga.
Kan lagi ngomongin hukuman mati, bukan tabrak lari atau begal motor. Di Jakarta mungkin orang yg jalan kaki saja punya peluang mati yg lebih tinggi dibandingin kesalahan hukuman mati. Apakah berarti jalan kaki musti dilarang? Bukan itu point-nya neng... Ini bukan sedang ngomongin peluang orang mati karena suatu sebab (buset ampe bosen gw jelasinnye), tapi kesalahan hukuman mati yg dilakukan oleh negara. Negara mencabut nyawa orang yg tidak bersalah karena dituduh bersalah. Ini jelas malfungsi dari suatu negara.
---------- Post Merged at 09:57 PM ----------
Berarti lu gak paham juga.
Apa maksud lu?sekali lagi gue bilang, lo mesti 'jalan dalam sepatu orang lain' dulu untuk bisa bilang bahwa hukuman mati itu paling baik atau paling buruk.Mungkin maksud lu, si purba kan anti-hukuman mati, maka si purba musti coba sepatu orang yg pro-hukuman mati. Gitu?
Ok, nanti gw coba. Trus apakah coba sepatu hanya berlaku buat si purba? Bagaimana dengan yg pro-hukuman mati, apakah mereka gak perlu coba sepatu si purba juga?
Ya baguslah buat lo kalo punya pendapat.Yang perlu lo paham adalah: Walaupun gue pro hukuman mati, sebagai 'necessary evil', gue nggak memandang pendapat ini sebagai harga mati.
Gua nggak memandang pendapat ini sebagai kebenaran absolut.
Gue anggap penerapannya sangat bergantung pada situasi masyarakatnya. Sangat2 relatif.
Tergantung situasi, bisa antara harus diterapkan, sampe nggak perlu sama sekali.
Pertanyaan berikutnya, pada situasi yg bagaimana itu harus diterapkan dan tidak perlu sama sekali?
Lah apa bedanya, negara cuma "menyediakan" hukum maks, yg menentukan plokis, jaksa, hakim, MA, dan dengan probabilitas yg sedemikian mustahil, dalam hal itu negara juga "menyediakan" pisau, mobil dll yg kontent nya sama2 bisa menghilangkan nyawa orang yg ga bersalah, apa bedanya![]()
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
Justru itu alasan yang SANGAT kuat. Dua anak kecil sudah mati karena satu bgst yang masih hidup. Atau sampeyan pikir dua anak mati itu masih kurang??
Tidak ada yang keberatan??![]()
Lho.. setiap warga negara memang wajib bayar pajak. Sampeyan ndak bayar pajak? Pantesan bahagia temen-temen dikasih makan tidur gratis.
Setiap manusia termasuk bgst-bgst itu punya tanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakatnya. Hanya pecundang yang menyalahkan orang lain ketika dirinya ndak mau bertanggungjawab pada tindakannya sendiri. Sekarang sampeyan menyalahkan masyarakatnya?
----
Jadi.. yang menolak Dubes RI itu para pecundang.
Last edited by mbok jamu; 23-03-2015 at 12:27 PM.
"The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
Gak perlu hukum mati. Hukum saja seumur hidup.
Kalo sampeyan tidak mau uang pajak digunakan oleh negara, ya jangan bayar pajak. Gitu aja repot....Tidak ada yang keberatan??![]()
Lho.. setiap warga negara memang wajib bayar pajak. Sampeyan ndak bayar pajak? Pantesan bahagia temen-temen dikasih makan tidur gratis.![]()
Halagh... Sampeyan bisa jelaskan buat apa orang diharuskan bayar pajak?Setiap manusia termasuk bgst-bgst itu punya tanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakatnya. Hanya pecundang yang menyalahkan orang lain ketika dirinya ndak mau bertanggungjawab pada tindakannya sendiri. Sekarang sampeyan menyalahkan masyarakatnya?![]()
Last edited by purba; 23-03-2015 at 02:38 PM.
Ibarat nonton begal dikeroyok, tapi begalnya chen lung.Lanjut keun euh!
Kenapa dihukum seumur hidup kalau bisa dihukum mati?
Untuk apa mereka dihukum seumur hidup? Apa manfaatnya?
Rehab? Supaya bisa bertobat? Bla bla bla… Lha kalau yang seperti sampeyan ndak percaya agama/Tuhan, mau bertobat sama siapa? Kalau pun beragama, kenapa mesti dihukum seumur hidup baru mau bertobat? Dihukum mati pun masih sempat bertobat, langsung masuk sorga, selesai. Kecuali ndak keburu selesai, baru "Tuhan.. am.." sudah didor.
Atau, bertobat atau ndak bertobat pada Tuhan tergantung hukuman dari manusia-nya?
Halah.. bilang saja ndak tahu, pakai nanya lagi. Gih gugel sendiri, lalu jelaskan. Kalau sempat besok mbok baca.![]()
Last edited by mbok jamu; 23-03-2015 at 09:14 PM.
"The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
Kenafa dihukum mati kalo bisa dihukum seumur hiduf?
Manfaatnya? Bisa dipekerjakan pada program padat karya. Dari situ dihasilkan uang utk biaya hidup mereka selama di penjara. Kalo ada lebihnya, bisa digunakan utk bantuan panti asuhan. Kalo ada lebihnya lagi, bisa buat program pengentasan kemiskinan. Kalo masih berlebih juga, bisa buat program mobil nasional. Jadi banyak sekali manfaat orang hidup dibandingkan orang mati.Untuk apa mereka dihukum seumur hidup? Apa manfaatnya?
Rehab? Supaya bisa bertobat? Bla bla bla… Lha kalau yang seperti sampeyan ndak percaya agama/Tuhan, mau bertobat sama siapa? Kalau pun beragama, kenapa mesti dihukum seumur hidup baru mau bertobat? Dihukum mati pun masih sempat bertobat, langsung masuk sorga, selesai. Kecuali ndak keburu selesai, baru "Tuhan.. am.." sudah didor.
Atau, bertobat atau ndak bertobat pada Tuhan tergantung hukuman dari manusia-nya?![]()
Soekarno saja berujar: Berikan aku 10 pemuda hidup, akan kubuat tol laut. Mosok: Berikan aku 10 mayat pemuda, lha buat opo tho cuk?
Jadi amat sangat jelas bahwa manusia hidup jauh lebih bermanfa'at dibandingkan manusia mati.
Ya memang ndak beri 10 pemuda, wong 2 sudah mati dibunuh si Cowan. 10 – 2 anak muda yang masih bisa diharapkan, tinggal 8 pemuda. Sampeyan kasih 1 bgst, total jadi 9. Satu-satu mati dibunuh si penjahat atau jadi prodigy-nya. Mereka pikir lha ya lebih enak jadi penjahat, sudah memperkosa dan membunuh anak orang lalu dikasih makan tidur gratis.
Atau sampeyan mau kasih Soekarno pemuda-pemuda harapan bangsa seperti yang mengeroyok dan membakar seorang gadis tiga hari yang lalu di Kabul itu?
Cerdas!![]()
"The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain