Page 17 of 40 FirstFirst ... 7151617181927 ... LastLast
Results 321 to 340 of 798

Thread: Jokowi - JK... What's next?

  1. #321
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Apa karena merasa dipilih 1000% rakyat?

    Kasihan Jokowi...
    Dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia yg tidak menggunakan rasionya...
    Akhirnya hanya jadi bahan olok-olok di media sosial...
    sorry nih gatal banget tangan gw, gini gw ajarin dikit jadi troll, jokowi tidak dipilih oleh 50% rakyat indo,
    ingat yg boleh milih itu orang yg udah berumur 17 tahun atau yg sudah nikah, jadi kasihan kalo anak kecil umur 1-2 tahun kalo dituduh memilih jokowi, padahal jalan aja belum lurus, trus belum lagi yg golput, oh ya jangan2 nak purba ga tahu artinya golput, golput itu singkatan dari golongan putih, golongan putih itu bukan maksdnya orang yang warna kulitnya atau orang yg suka pake baju putih, tapi orang yg tidak mau memakai hak pilihnya, sampe sini ngerti donk ya?

    nah jadi kalo ditotal dari seluruh rakyat indonesia yg milih jokowi-jk itu ga sampe 40%,ngerti donk beda dibawah 40%, sama diatas 50%, nah kalo ada pertanyaan lagi silahkan nanya gw, kalo malu misalnya lewat pm juga boleh kok, gw ga bakal bilang siapa2
    Last edited by surjadi05; 24-01-2015 at 12:00 PM.
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  2. #322
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Mangkanya lo sebagai rakyat pilih presiden dg rasional.
    Jangan cuman modal blusukan, lo anggap tuh orang udeh kapabel utk jadi presiden. Ini Indonesia mas....
    Jadi elu dan habib fpi pilih siapa pur?? Keknya seleranya mirip2 nih...

  3. #323
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Yg paling kanan itu keknya kenal...
    Kalo jamannya lupus dibilang numpang mejeng.

  4. #324
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    kekeke...
    Pimpinan KPK nya sendiri yang main-main di pusaran
    arus politis

    lapor 2015 (apapun motif nya) ditangani 2015 itu hal
    yang wajar....

    lapor 2008 ditangani 2015 apa wajar?
    Dalam politik semua diwajar2kan. Namanya juga kepentingan. Selama KPK atau pulisi kepentingannya rakyat ya rapopo. Kalo nda Pinter membaca arus politik dan berselancar dalam situ malah gampang dijagal.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  5. #325
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Yg paling kanan itu keknya kenal...
    Kalo jamannya lupus dibilang numpang mejeng.
    wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
    kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini

    ---------- Post Merged at 04:41 PM ----------

    Dalam politik semua diwajar2kan. Namanya juga kepentingan. Selama KPK atau pulisi kepentingannya rakyat ya rapopo. Kalo nda Pinter membaca arus politik dan berselancar dalam situ malah gampang dijagal.
    yang namanya elite itu orang pintar, orang kuat
    orang pintar dan orang kuat ya mestinya punya
    tanggung jawab... Kalau sampai "berantem" se
    sama elite, jelas itu menunjukkan ketidakpeduli
    annya akan kepentingan rakyat, cuma peduli pa
    da kepentingan kelompok nya sendiri.
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  6. #326
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
    kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini.
    keknya emang pernah liat ekspresi spt ini di manaaaa gituh...

    Jadi ceritanya gini..
    Entah karena balas budi atau keuntungan apa, jokowi diberi masukan oleh partai2 pendukung untuk mencalonkan budi gunawan sbg kapolri.
    KPK melindungi pemerintahan jokowi dengan menetapkan calon kapolri sbg tersangka, walau tanpa bukti kuat sekalipun, tanpa sepengetahuan jokowi. Mgk dorongan dari relawan jokowi yg juga relawan kpk.
    Kemudian calon kapolri tetep diloloskan DPR yg menganggap jokowi sbg tumbal (KIH) maupun musuh (KMP). Jokowi pun tidak punya jalan lain selain menunda pelantikan sampai kasus selesai.
    Polri pun meradang, merasa KPK sebagai aparat hukum bermain2 politik. Akhirnya saling serang lagi antara cicak dan buaya ini, akhirnya bales2an..

    Politik kayak gaul abg jg ya..

  7. #327
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    sorry nih gatal banget tangan gw, gini gw ajarin dikit jadi troll, jokowi tidak dipilih oleh 50% rakyat indo,
    ingat yg boleh milih itu orang yg udah berumur 17 tahun atau yg sudah nikah, jadi kasihan kalo anak kecil umur 1-2 tahun kalo dituduh memilih jokowi, padahal jalan aja belum lurus, trus belum lagi yg golput, oh ya jangan2 nak purba ga tahu artinya golput, golput itu singkatan dari golongan putih, golongan putih itu bukan maksdnya orang yang warna kulitnya atau orang yg suka pake baju putih, tapi orang yg tidak mau memakai hak pilihnya, sampe sini ngerti donk ya?

    nah jadi kalo ditotal dari seluruh rakyat indonesia yg milih jokowi-jk itu ga sampe 40%,ngerti donk beda dibawah 40%, sama diatas 50%, nah kalo ada pertanyaan lagi silahkan nanya gw, kalo malu misalnya lewat pm juga boleh kok, gw ga bakal bilang siapa2
    Jiahhh... ceritanya keren nih menunjukkan kesalahan si purba....

    Ngapain ente tulis panjang lebar kayak di atas? Ente tinggal ganti kata 'rakyat' yg ane tulis jadi 'rakyat yg ikut nyoblos di pemilu'. Beres 'kan?

    Trus utk tulisan ente pake ada yg ngasih jempol lagi... Dendam ya mbok?

    Betewe, antek-antek Jokowi gak mau ngakuin kalo sesembahannya gak becus. Emang susah...ibaratnya nasi udah jadi bubur ayam...makan aja...

  8. #328
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Wah.. sensitip jg purba, sampe yg ngasih jempol pun ditanggepin.. ente kesepian lay?

    Biar ga becus juga ud jadi presiden, elu jg musti ikut makan. Ato ente lebih pilih makan telék ayam? Silakan tuh bareng2 gubernur tandingan jakarta..

  9. #329
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Biarkan, itu dia mancing-mancing, kangen berat sama simbok..
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  10. #330
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    malam minggu, kesepian banget si purba wkwkwk temenin dong bleg

    emang sensi banget si purba, kayak lagi pms.
    jokowi kalo dilihat sih, dia sendiri tertekan kanan kiri. emang tipikalnya dia ga main frontal.
    kurang tegas pas press conference kemaren.

    eniwei bw kan dan dibebasin, abis itu apa ya?
    pelapor si bw sendiri kalau baca kisah hidupnya, sarap orangnya. kakek sendiri disiksa, malah pernah motong jari2 orang
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  11. #331
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Yang ada di foto di Reuters ini,
    Rakyat ndak jelas.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  12. #332
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910

  13. #333
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
    kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini
    Bukan.. miscall dari bos-nya karena tiba-tiba menghilang dari tempat kerja. Itu lagi komunikasi ama bos-nya.
    Dari sore sebelumnya gue gak bisa login ke komputer gue dan birokrasi kantor klien ribet hingga untuk reset password saja, sampai saat Shalat Jumat belum juga ada response.

    Daripada bengong karena gak bisa kerja di tempat klien mending demo.
    Last edited by kandalf; 25-01-2015 at 01:38 AM.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  14. #334
    pelanggan setia heihachiro's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    little nong
    Posts
    2,614
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    jawabannya tetep normatif-normatif aja, dan kalo soal jawaban normatif IMO cara menjawab "normatif" ala SBY masih lebih bagus dari cara menjawab terbata-bata dan berkesan bingung dari Jokowi

    "saya kan juga baru kemarin.."

    kenapa bukan Anies Baswedan yang dijadiin jubir presiden aja ya?
    next year™

  15. #335
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
    kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini

    ---------- Post Merged at 04:41 PM ----------



    yang namanya elite itu orang pintar, orang kuat
    orang pintar dan orang kuat ya mestinya punya
    tanggung jawab... Kalau sampai "berantem" se
    sama elite, jelas itu menunjukkan ketidakpeduli
    annya akan kepentingan rakyat, cuma peduli pa
    da kepentingan kelompok nya sendiri.
    Kan tinggal diliat om, yang bobotnya di pihak rakyat lebih banyak yang mana. Kadang bentrok tak terhindarkan dalam rangka self defense. Kadang loh ya...

    ---------- Post Merged at 03:14 AM ----------

    Purba bukan lagi sensitip, tapi lagi on the mood, menyala2 sehingga repot2 mengkoreksi tata bahasa sama mengkomen jempolnya orang. Mungkin lagi banyak waktu luang.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  16. #336
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    jawabannya tetep normatif-normatif aja, dan kalo soal jawaban normatif IMO cara menjawab "normatif" ala SBY masih lebih bagus dari cara menjawab terbata-bata dan berkesan bingung dari Jokowi

    "saya kan juga baru kemarin.."

    kenapa bukan Anies Baswedan yang dijadiin jubir presiden aja ya?
    http://birokrasi.kompasiana.com/2015...wi-698250.html
    Membedah Pernyataan “Normatif” Jokowi

    Birokrasi
    Nararya

    Pecinta teologi, sejarah, bahasa, filsafat, pendidikan, dan [sedikit] politik. Blog pribadi: nararya1979.wordpress.com (Blog ini khusus berisi selengkapnya
    Jadikan Teman | Kirim Pesan
    0inShare
    Membedah Pernyataan “Normatif” Jokowi
    HL | 24 January 2015 | 13:54 Dibaca: 1218 Komentar: 103 36

    1422097167350162662

    Presiden Jokowi/Kompasiana (sumber foto: Kompas.com)

    Setelah “sukses” memperburuk citranya di hadapan publik dengan mengajukan prapengadilan untuk Budi Gunawan, kini, sekali lagi, Polri mempertontonkan kegegabahannya di hadapan publik. Sepakat dengan rekan Kompasiner Hendra Budiman, drama penangkapan Bambang Widjojanto kemarin, merupakan sebuah kriminalisasi. Entah kegegabahan apa lagi berikutnya!?

    Konotasi negatif bagi “normatif”

    Dampak dari “serangan balik“ yang gegabah di atas, Jokowi pun menuai kritikan pedas terkait pernyataan resminya sebagai Presiden RI atas peristiwa penangkapan BW. Adalah Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care, memberi konotasi buruk kepada istilah “normatif” dengan menyebut pernyataan Jokowi berintonasi lebih rendah dari ketegasan seorang RT. Hidayah tampaknya masih mengasumsikan bahkan belum move on dari julukan latah, “petugas partai” (baca artikel saya di sini).

    Tak ketinggalan, sejumlah tulisan di Kompasiana pun ikut mengekor cercaan Hidayah. Jokowi dianggap sebagai biang semua kekacauan ini. Mereka berandai, Jokowi seharusnya tak mengusung BG sebagai calon tunggal Kapolri pada waktu itu. Lalu ketika terjadi “kericuhan”, Jokowi malah memberi respons “normatif”. Lagi-lagi, istilah “normatif” mendapatkan muatan konotatif yang negatif.

    Saya paham dan mengapresiasi kandungan makna di balik cibiran tersebut. Mereka menginginkan Jokowi menentukan sikap. Tidak kelabu. Arahnya adalah, Jokowi seharusnya menyalahkan Polri [atau KPK juga?] secara terbuka yang mempertontonkan aksi kriminalisasi di atas.

    Saya setuju dengan kandungan makna di atas, tetapi tidak setuju dengan cara yang diharuskan bagi Jokowi yang olehnya mereka menelorkan cibiran nan pedas itu. Saya memilih fleksibel untuk memberi ruang unik bagi Jokowi mengekspresikan maksudnya.

    Saya bahkan berpendapat bahwa Jokowi memang menegor Polri atas aksi penangkapan BW. Saya akan memperlihatkannya di bawah ini.

    Indikatif-imperatif

    Dalam bidang apa pun, entah itu tulisan atau lisan, seyogyanya orang bergerak dari indikatif menuju imperatif. Indikatif adalah adalah sebutan teknis dalam dunia akademis yang merujuk kepada: fondasi, norma, acuan dasar, atau sejenisnya yang melandasi tindakan atau sikap. Selanjutnya, imperatif juga adalah sebuah istilah teknis. Sebutan ini merujuk kepada: perintah, himbauan, nasihat, arahan, dan instruksi yang landasannya adalah indikatif tadi. Istilah teknis yang sinonim dengan imperatif adalah paraenesis.

    Dalam pernyataan resminya sebagai Presiden RI, kelihatannya Jokowi mengemukakan semata-mata imperatif, seperti yang saya kutip di bawah ini:

    Sebagai kepala negara, saya meminta institusi Polri dan KPK memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai aturan perundang-undangan yang ada [kalimat pertama].

    Saya meminta agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugasnya masing-masing [kalimat kedua] (Sumber: kompas.com).

    Sebenarnya tidak begitu. Jika Anda memperhatikan kalimat pertama di atas, teri-imply bahwa indikatif yang diasumsikan Jokowi adalah bahwa harus ada proses hukum yang objektif sesuai dengan UU. Atas dasar indikatif ini, ia mengemukakan imperatif atau paraenesisnya agar Polri dan KPK tidak saling gesek-menggesek. Gesek-menggesek di sini tentu dalam arti tidak melangar proses hukum yang objektif sesuai UU (indikatifnya).

    Lalu, adakah yang salah dari apa yang tereksplisit dari mulut Jokowi di atas? Tak ada! Jika istilah “normatif” dimaknai sebagai sesuai dengan norma atau yang bersifat norma, saya kira kandungan konotasi negatif di atas langsung terpental pada langkah pertama.

    Rupanya mereka mengingkan tegoran. Dan for sure, teguran itu ada, hanya saja tidak dengan cara yang mereka inginkan. Silakan perhatikan ulasan saya pada bagian berikut ini.

    Mirror reading

    Dalam artikel kemarin, saya sudah menjelaskan tentang metode baca mirror reading. Di sini, saya akan menggunakannya sekali lagi.

    Tanpa mengemukakannya secara eksplisit, pernyataan Jokowi di atas mencerminkan dua occasions (situasi spesifik) yang memprihatinkan. Kalimat pertama di atas mengindikasikan keprihatinan Jokowi terhadap proses hukum yang tidak objektif. Kalimat kedua juga mencerminkan adanya gesekan yang tidak sesuai dengan proses hukum yang objektif (kalimat pertama). Saya kira, ini adalah cerminan keprihatinan Jokowi menyikapi drama “heroik” penangkapan BW.

    Jika saya “membaca” secara tepat cerminan occasions tersebut, maka adalah sah untuk “memburu” referents (rujukan spesifik)-nya lebih lanjut. Hanya ada dua pihak yang disebutkan dalam konteks ini, yaitu KPK dan Polri. Pertanyaannya, apakah menurut Jokowi KPK atau Polri?; atau kedua-duanya sedang menjadi intonasi keprihatinan Jokowi di atas?

    Saya belum memiliki cukup alasan untuk menyebut KPK termasuk di dalam keprihatinan itu. Sebaliknya saya justru melihat dalam terang hidden transcript Jokowi bahwa status tersangka yang didulang BG adalah bukti bahwa KPK secara tepat menangkap “maksud” Jokowi. BG adalah “pintu masuk” menuju jejaring pemilik rekening gendut di kalangan petinggi Polri (Majalah Tempo 2010)!

    Berkiblat pada argumen Kompasianer Hendra Budiman di atas, termasuk argumen saya dalam tulisan terdahulu saya mengenai keblunderan Mabes Polri, saya kira kedua keprihatinan Jokowi tersebut merupakan “tamparan halus” bagi Polri, dalam konteks ini!

    Jokowi adalah seorang politikus yang santun (dalam konteks kultur Indonesia). Di hadapan publik, ia dapat menegor tanpa melukai; ia dapat menampik tanpa mengecewakan terlalu dalam. Kita semua ingin menjadi diri kita sendiri, bukan? Lalu mengapa Jokowi tak boleh menjadi “dirinya sendiri” dalam berpolitik serta mengurus Negara besar ini?

    De gustibus non est disputandum

    Saya sengaja menampilkan satu kali lagi, peribahasa dalam bahasa Latin di atas yang berarti “dalam hal selera/cara/gaya, tak [perlu] ada perbantahan.”

    Peribahasa di atas penting dalam konteks ini ketika orang menyerang pernyataan Jokowi dengan intonasi kepada “cara” atau “style“-nya, namun tak menyimak secara teliti kandungan esensial dari pernyataan Jokowi di atas.

    Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, seyogyanya kita memiliki ruang fleksibilitas yang cukup untuk membiarkan Jokowi mengekspresikan gaya kepemimpinannya dalam keunikannya. Rakyat Indonesia yang jumlahnya sekian ratus juta, dengan sekian ratus juta pula keinginan dan selera, jika menginginkan bahkan mengharuskan Jokowi memuaskan cara yang kita semua inginkan, betapa terpecah-belahnya tubuh Jokowi untuk memuaskan kita semua!

    Dalam terang argumentasi tersebut, cibiran-cibiran di atas mungkin hanya cocok diterapkan di suatu dunia yang entah ada di mana. Saya tidak tahu eksistensi dunia semacam itu. Yang pasti, di dunia ini, tempat di mana kita berpijak dan hidup bahkan boleh meneriakkan cibiran itu, berlaku, sekali lagi, pepatah Latin di atas: de gustibus non est disputandum!
    Yang gw suka, Jokowi selalu ngomong apa adanya,
    tidak malu-malu menunjukkan kekurangan diri nya,
    makanya "Jokowi adalah kita"

    dan sudah jelas kok, 1) secara institusi KPK dan Polri
    belum dewasa, 2) keduanya harus membuktikan ka
    lau kedua nya mampu profesional, 3) tidak boleh ada
    intervensi dari pihak mana pun.

    justru kalau Jokowi mutusin ini itu, ya sama saja de
    ngan gaya Babe di Orde Baru
    Lagian, KPK dan Polri, lembaga besar dan kuat kok,
    bukan rakyat yang dizalimi pengusaha besar, atau
    rakyat korban bencana, yang tidak bisa berbuat apa
    apa
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  17. #337
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Baca tribun hari ini, katanya jokowi marahin samad dan pejabat kapolri,sampe samad mau mengundurkan diri, tapi cari di tribun online, kok kaga ada, duh apa tribun
    salah cetak ::
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  18. #338
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    keliatan kaya gak PD yah atau takut salah ngomong???...
    dari jawabannya keliatan kurang tegas...masih mo main aman kayanya...

  19. #339
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Membedah pernyataan Jokowi = membedah kepala orang sakit karena masuk angin.

    Membela diri secara elegan, mbok kasih 10/10 buat Jokowi.

    Salah satu kewajiban presiden itu menjaga perdamaian tentunya termasuk di dalam republiknya sendiri. Nama BG sudah diberi simbol tanda tanya oleh KPK tapi Jokowi tetap memilih nama tersebut untuk menjadi Kapolri. Ndak usah berat-berat ditarik ke filsafat dulu deh, logika-nya di mana?

    Jokowi juga harus membuktikan bahwa dia adalah presiden yang profesional, yang mampu menunjukkan bahwa he knows what he's doing, bukan menimbulkan polemik dan gesekan antar institusi, sampai-sampai seorang panutan publik ditangkap dan diborgol seperti penjahat. Only God knows what could have happened that day if something went wrong.

    Menegur KPK dan Polri untuk menutup malu karena kesalahannya sendiri. Pathetic.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  20. #340
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    http://birokrasi.kompasiana.com/2015...wi-698250.html


    Yang gw suka, Jokowi selalu ngomong apa adanya,
    tidak malu-malu menunjukkan kekurangan diri nya,
    makanya "Jokowi adalah kita"

    dan sudah jelas kok, 1) secara institusi KPK dan Polri
    belum dewasa, 2) keduanya harus membuktikan ka
    lau kedua nya mampu profesional, 3) tidak boleh ada
    intervensi dari pihak mana pun.

    justru kalau Jokowi mutusin ini itu, ya sama saja de
    ngan gaya Babe di Orde Baru
    Lagian, KPK dan Polri, lembaga besar dan kuat kok,
    bukan rakyat yang dizalimi pengusaha besar, atau
    rakyat korban bencana, yang tidak bisa berbuat apa
    apa
    Iyee...sesembahan lo kagak salah...

    Artikel kompasiana di atas identik dgn orang yg menafsirkan kitab suci. Pertama definisikan dulu bahwa kitab suci selalu benar. Kemudian pernyataan apapun yg ada di kitab suci dapat dicarikan pembenarannya.

    Contoh: Kitab suci says: "Makanlah tahi kucing karena dapat menyehatkan tubuh." Kompasiana di atas akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari pembenaran bahwa tahi kucing memang menyehatkan tubuh.

    Contoh lain: Sumber suci says: "Kalo minuman ente dicemplungin laler, maka benamkanlah seluruh body laler tersebut, karena di sayap yg satunya ada obatnya."

    Contoh lain juga: Sumber suci says: "Minumlah air kencing onta, karena sesungguhnya air kencing onta dapat menggantikan ion-ion tubuh anda yg hilang ketika mengelilingi big-black-box."



    ---------- Post Merged at 10:24 AM ----------

    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Baca tribun hari ini, katanya jokowi marahin samad dan pejabat kapolri,sampe samad mau mengundurkan diri, tapi cari di tribun online, kok kaga ada, duh apa tribun
    salah cetak ::
    Nih ane bantuin...



    Gimane? Puas?

Page 17 of 40 FirstFirst ... 7151617181927 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •