Kemaren seharian mbok menemani seorang ibu (IRT) dengan 2 anak, perempuan dan laki-laki. Seperti orangtua pada umumnya, si ibu pun curcol bagaimana susahnya menjadi orangtua. Mbok ndak tahu apakah menjadi ibu rumah tangga itu memiliki efek samping pembodohan karena sepertinya si ibu too mumet to realise that she is the adult.

Membesarkan anak memang ndak mudah tapi haruskah orangtua membuatnya menjadi sulit? Sehari bersama mereka, mbok bisa melihat sendiri.

1. Si ibu ndak pernah bisa mengontrol volume suaranya, berteriak-teriak setiap memanggil anak-anaknya. Ndak heran anak-anak itu cuwek karena hanya mamalia seperti kelelawar yang bisa mendengar suara si ibu. Bukankah jauh lebih baik jika si ibu mendekati anaknya dan dengan sopan berbicara pada si anak dengan volume yang sepantasnya?

2. Sewaktu menegur anak-anaknya, it was more like menceracau. Jangankan anaknya, mbok saja ndak bisa mencerna maksud si ibu yang sebenarnya. Maksudnya A, tapi nyinyir sampai Z. Seriously, is that really necessary? Ndak heran si anak pun bengong, what the hell are you talking about mum?
Apalagi si anak cowok. Ha ha..

3. Mempermalukan anak di depan orang lain. Anak itu manusia, mereka punya hati dan consequently bisa tersinggung. Ndak pantas menceritakan sesuatu, yang dianggap si anak very personal, pada orang lain. Bukankah anak seharusnya dapat mempercayai orangtuanya sendiri? Bukankah menceritakan kenakalan anak sendiri itu seperti menampar muka sendiri? Anakmu didikanmu toh..

4. No boundaries. Mbok perhatikan anak-anak itu berlarian kesana kemari, ndak bisa duduk dengan tenang seperti orang bisulan dan ketika duduk selalu dengan kaki di atas sofa, tanpa ragu atau malu-malu. Karena mbok dulu diajarkan ortu untuk duduk dengan sopan apalagi di rumah orang lain, perhatian mbok beralih pada ortunya, what have you taught these kids with? Si ibu pun kemudian bercerita. Ternyata anak-anak itu ndak dibesarkan dengan kursi atau sofa, tapi dengan full carpet. Bukan karena bapak ndak punya duit tapi karena ibu ingin "membebaskan" anak-anaknya di rumah. Dan itu berlaku di seluruh ruangan. Ndak ada istilah konsep waktu dan ruang orangtua yang harus dihormati si anak, seperti waktu untuk ortu berdua, ruang kerja untuk bapak atau ruang tamu untuk ibu di mana anak-anak itu bisa belajar mengenai konsep keterbatasan dalam kebebasan mereka.

5. Menganggap si anak ndak perlu penjelasan. Kebanyakan ortu put high expectations on their kids atau suka menceritakan prestasi anak-anaknya but they treat their kids like idiots. Ketika si anak cowok duduk dengan kaki di atas sofa, si ibu lalu meminta kaki-kaki itu turun dengan high note-nya. Si anak ndak bergeming dari ipad-nya, no response whatsoever. Si ibu mengeras, si anak melihat dengan pandangan bertanya, why?, si ibu pun frustasi. Mbok akhirnya buka mulut. Dengan lemah lembut tapi tegas mbok minta dia menurunkan kakinya then I explained to him bahwa dia sedang duduk di sofa pak mbok dan pakde ndak suka sofa-nya kotor. Kaki-kaki itu pun turun dan si anak tetap salim sama mbok ketika pamit.

6. Don't treat them like twins if they are not, apalagi kalau mereka beda jenis kelamin. Why? Because it makes the boy looks stupid. Anak laki-laki mana yang kelihatan ganteng wearing Lime? Warna itu hanya membuat si anak kelihatan seperti jeruk nipis. Menjadi atau dijadikan anak kembar itu ndak enak, selalu dibanding-bandingkan dengan the other egg or the other half of the egg.

7. Memaksa anak menjadi model. Honestly, how many of you (parents) have done this? Memaksa anak berdiri di depan mobil, foto. Memaksa anak berdiri di pintu depan dengan seragam sekolah yang masih kaku dan kedodoran di hari pertama sekolah, foto. Memaksa anak untuk tersenyum padahal ndak suka difoto, foto. If you didn't like it back then when your parents did it to you, most likely your kids do not like it now either. Kenapa ketidaknyamanan itu harus menjadi warisan turun temurun?


I'm not a parent but I've been a kid myself. So as a kid, I hope every parent out there can take this as a bit of slap on the face now and then.