Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 49

Thread: UN SMP 2014 mulai memakan "korban"

  1. #1

    UN SMP 2014 mulai memakan "korban"

    Leony Tinggalkan
    Kesan Bagi
    Teman-temannya
    TRIBUN-BALI,COM, TABANAN - Sudah dua hari dan
    dua mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian
    Nasional (UN) SMP diikuti oleh Leony Alvionita S (14),
    siswi SMP Negeri 1 Tabanan. Namun, untuk dua mata
    pelajaran lagi yang akan diujikan hari ini (yakni
    Bahasa Inggris) dan besok (IPA), dipastikan Leony tak
    akan lagi bisa mengikutinya.
    Leony yang akrab dipanggil Onik telah menghadap
    Sang Maha Pencipta dengan cepat, mengejutkan
    keluarga, teman-teman sekolah dan gurunya. Selasa
    (6/5) menjelang siang itu, setelah mengerjakan UN
    bidang studi Matematika, Onik mengakhiri hidupnya.
    Siswi kelas X SMPN 1 Tabanan ditemukan
    menggantung dirinya menggunakan dasi seragam
    sekolah di kediamannya Jalan Mawar nomor 51
    Tabanan.
    Menurut Keterangan Kapolres Tabanan, AKBP
    Dekananto Eko Purwono, Onik nekat mengakhiri
    nyawanya karena diduga kecewa tidak bisa menjawab
    soal Matematika UN.
    “Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu
    Tabanan,” ujarnya. Namun, jiwa Onik tak tertolong,
    dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.30
    Wita.
    Dari obrolan beberapa warga sekitar rumah keluarga
    Onik, seusai ujian Onik pulang dan mengobrol dengan
    ibunya tentang situasi UN. Onik memberitahu ibunya
    bahwa dia mendapat contekan dari temannya.
    Mendengar itu, sang ibu langsung memarahi Onik,
    karena dianggap belajar Onik selama sebelum UN
    menjadi sia-sia jika dia mencontek saat UN.
    Onik lantas ngambek dan masuk ke kamarnya. Sang
    ibunda mengira Onik ganti baju di dalam kamar.
    Namun, setelah namanya dipanggil, dan dari dalam
    kamar tak ada jawaban, sang ibunda lantas masuk
    kamar.
    Ternyata Onik didapati sudah dalam posisi gantung
    diri dengan menggunakan dasi. Hariadi, guru Agama
    Budha SMPN 1 Tabanan yang selama ini cukup
    mengenal Onik, mengatakan bahwa muridnya itu
    tergolong paling menonjol kemampuan akademiknya.
    “Saya kaget membaca status BlackBerry teman-
    temannya, yang menginformasikan Onik meninggal
    dunia,” ujar Hariadi.
    Hariadi tak menyangka Onik bisa berbuat senekat itu.
    Pasalnya, tak ada gelagat aneh yang tampak pada
    pribadi Onik. Bahkan, gadis berusia 14 tahun itu
    pernah diikutkan lomba ceramah agama Budha dalam
    bahasa Inggris. “Dia cerdas, dan akrab dengan
    teman-temannya,” terangnya.
    Pada saat diberi tugas pun, kata Hariadi, Onik selalu
    mengerjakannya tepat waktu dan disiplin. Hariadi
    sempat bertemu Onik setelah ujian kemarin.
    Satu di antara teman Onik, Shasha Bella, merasa
    kehilangan dengan kepergian Onik. Namun, Shasha
    tak berkenan memberikan keterangan lebih lanjut
    karena hendak belajar. “Yang pasti saya sedih, dia
    orangnya cantik dan baik,” ucapnya.
    Sementara itu, dalam kalimat terakhirnya di twitter
    tertanggal 5 Mei, Onik yang memiliki akun
    @liony_alvionita menulis “Eh ternyata sekarang
    tanggal 5″. Pada tanggal 27 April, ia menulis
    “sepahit-pahitnya hidup pasti akan manis pada
    waktunya”
    Sementara itu, tadi malam doa terus dilantunkan di
    rumah duka Kertha Semadi, Denpasar, tempat di mana
    jenazah Onik disemayamkan. Tangis dari sanak
    keluarga, kerabat serta kawan-kawan Onik seakan
    tak berhenti ketika mereka bertandang di rumah duka
    itu. Mereka larut dalam kesedihan.
    Air mata menetes dari sejumlah teman sekolah yang
    menghadiri persemayaman Onik berbaur dengan
    panjatan doa. Banyak kerabat tidak menduga bahwa
    anak keempat Sugiartama itu meninggal dunia dengan
    cara nekat hanya karena hal sepele.
    Sejumlah kerabat yang datang langsung menghampiri
    Sugiartama, ayahanda Onik. Mereka menanyakan
    tentang kepergian Leony secara mendadak.
    Dengan tabah Sugiartama menceritakan kepergian
    anak perempuannya tersebut. Kepada Tribun Bali,
    Sugiartama mengaku urusan telah diserahkannya ke
    pada pihak kepolisian.
    Ia sendiri tidak menduga sama sekali kepergian
    anaknya secepat itu. Padahal, saat pulang sekolah
    kemarin, Sugiartama sendiri yang menjemput Leony.
    “Tidak ada firasat apapun saat itu. Sikap Leony juga
    seperti biasanya, tidak ada yang berbeda,” tuturnya.
    Meninggalnya Leony sangat disesali, karena di
    lingkungan keluarga sama sekali tidak ada masalah.
    Sugiartama pun tidak menyangka ujian nasional
    menjadi pemicu anak perempuannya nekat mengakhiri
    hidup.
    “Selama ini Leony sudah belajar dan mengikuti
    bimbingan belajar. Keluarga berpikir tidak menjurus
    ke sana (bunuh diri),” imbuh Sugiartama, yang
    tampak terpukul.
    Rencananya, pemakaman Leony akan dilakukan pada
    9 Mei nanti. “Dikremasi atau dikubur di Tabanan
    masih belum tahu. Keluarga masih rembuk,” ucap
    Sugiartama.(Tribun Bali Cetak)

    ---------- Post Merged at 08:12 AM ----------

    Mendikbud Bersedih Ada Siswa Bunuh
    Diri Usai UN
    Andi Saputra - detikNews
    Sorong - Menteri Pe�didikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
    M Nuh prihatin dan memberikan simpati sedalam-dalamnya
    bagi keluarga yang anaknya bunuh diri usai ikut Ujian
    Nasional (UN). Meski demikian, harus diselidiki lebih
    mendalam kasus di SMPN 1 Tabanan, Bali itu.
    "Kami tentu ikut bersedih, tapi apa semata-mata karena
    itu?" kata M Nuh di sela-sela kunjungan kerja di Sorong,
    Papua Barat, Kamis (8/5/2014).
    Dalam mengkorelasikan variable satu dengan variable
    lainnya, masyarakat harus jeli. Apakah ada korelasi antara
    UN dengan bunuh diri. Menurut M Nuh, bisa jadi UN
    hanyalah puncak dari stress yang dialami siswa tersebut.
    "Ini bukan berarti kami mentolerir bunuh diri, tidak sama
    sekali. Tapi ini barangkali case-case sangat spesifik pada
    diri siswa itu," ujar mantan Rektor ITS Surabaya.
    Apalagi, dari 4,1 juta peserta UN SMP, yang bunuh diri tidak
    menunjukan angka yang signifikan. Seraya berkelakar, jika
    ada satu kelas bunuh diri massal usai UN, baru bisa
    dipikirkan ulang penyelenggaraan UN.
    "Tapi jangan diplintir saya mendukung bunuh diri. Sekali
    lagi tidak dibenarkan bunuh diri itu," pungkas M Nuh.

  2. #2
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    RIP Onik,
    speechless gw, memang sih 'masalah' terberat bagi anak kelas 3 adalah menghadapi UN.
    Obrolan tadi pagi dengan ponaan : "Gimana? lega UN udah kelar?"
    Trus dia langsung pasang muka panik, "Apaan? Makin horor dan panik nunggu hasilnya."

  3. #3
    Barista lily's Avatar
    Join Date
    May 2012
    Location
    a place called home
    Posts
    12,753
    saya heran , sekarang makin banyak anak bunuh diri , setelah ditegur ato dinasehati ortunya ya ?

    kapan hari , anak 6 taon terjun dari apartment setelah ditolak ortunya nonton Spiderman 2.

    sekarang , bunuh diri , gantung diri setelah ditegur ortunya karena mencontek.
    - I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -

  4. #4
    kok anak2 jaman sekarang labil banget ya
    dimarahin dikit langsung bunuh diri

    yang salah cara marahinnya, ato emang jaman udah berubah?


    "Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
    Takahashi Minami

    ------------------------------------------------------------------
    Thread paling Hot di l AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog

  5. #5
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Dulu yang begini ndak diberitakan, anak bunuh diri itu memalukan, aib.

    Jaman sekarang semua diberitakan, ndak peduli dengan dampaknya.

  6. #6
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo terpaksa harus "menyalahkan orang", IMO, saya akan tunjuk pihak ortu yg menurutku kurang peka thd anak sendiri shg langsung memarahi Onik krn mengaku nyontek.

    Kalo terpaksa harus "menyalahkan sistem", dlm konteks dan cakupan yg lebih kecil (baca: bukan sistem pendidikan scr lebih luas), saya tidak akan tunjuk sistem UN nya melainkan akan tunjuk sistem penerimaan siswa jenjang selanjutnya (dlm hal ini jenjang masuk SMA) yg kebanyakan menerapkan sistem penyaringan calon siswa dgn se-mata2 melihat hasil nilai murni UN shg UN menjadi ajang ujian berat bagi siswa. Dan ada rentang waktu hampir 2bln antara pelaksanaan UN SMP dgn penerimaan siswa SMA. Dua hal itu IMO scr psikologis ndak bagus buat anak yg merasa "gagal dlm UN". Jangankan anak, saya yakin ortu pun akan stress kalo nilai UN anaknya jeblok sementara hampir 2bln ndak bisa berbuat apa2 selain harus menunggu "eksekusinya" (gagal masuk SMA favorit). Stress, takut, cemas, kuatir dst itu muncul thd sesuatu yg belum terjadi (gagal masuk sekolah favorit), bukan yg sudah terjadi (nilai UN jeblok). Bayangan2 buruk yg tersimpan di otak terlalu lama (2 bln) itulah yg bisa memicu hal2 negatif dari orang ybs, baik itu si anak maupun ortunya.

    Just my 2 cents sbg orang yg ndak terlalu paham masalah psikologi (scr formal).

    RIP Onik.



    ---------- Post Merged at 02:23 PM ----------

    @Mbak Mbok

    Biasanya sih nanti terus ada yg menimpali "kejadian yg menimpa Onik adalah sebuah fenomena gunung es". Heboh deh jadinya.

    Masyarakat kita memang masih suka yg heboh2 kok mbak Mbok. Celakanya itu seringnya justru ndak pernah bisa menyentuh ke inti persoalan yg sesungguhnya. Lha gimana mau bisa berpikir jernih kalo sambil heboh. Dan hebohnya paling juga sebentar, lalu masalahnya menguap dilupakan begitu saja ditelan kehebohan masalah lain silih berganti. Begitulah potretnya.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  7. #7
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    gw masih gak mudheng
    seandainya gak lulus UN, masalah berikut yg terkait dg hasil UN ini apa aja ya ?

  8. #8
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo sekalian ndak lulus sekolah IMO menurutku scr "psikologis" relatif ndak terlalu berat dibandingkan lulus sekolah dgn nilai UN jeblok dan pas2an.

    Ndak lulus sekolah itu jelas. Harus tinggal kelas dan mengulang ujian lagi tahun depan.

    Sedangkan lulus sekolah dgn nilai UN pas2an itu nasibnya masih menggantung ndak jelas. Cemas-cemas cemas (bukan harap-harap cemas) menunggu hampir 2bln tanpa bisa berbuat banyak sebelum masuk ke jenjang berikutnya (SMA). Padahal, IMO, toh akhirnya sejeblok apapun peluang tetap bisa sekolah di SMA masih sangat besar meskipun tentu saja kemungkinan besar hanya masuk sekolah "asal2an" aja. Tapi toh setelah itu sudah tidak ada lagi kecemasan, yg ada biasanya adalah yo wis "terima nasib", kecuali muncul kecemasan baru mikir nanti bisa kuliah dimana kalo SMA nya dianggap kualitasnya ndak bagus. Tapi setidaknya masih cukup waktu mengatasi kecemasan baru tsb krn masih punya kesempatan (les tambahan misalnya). Sehingga meskipun cemas tapi masih bersifat "harap2 cemas", bukan "cemas2 cemas".

    Adanya asa dan harapan itulah yg menjadikan semangat hidup seseorang. Kalo hanya cemas, cemas dan cemas aja tanpa merasa punya harapan itulah yg membuat seseorang down kehilangan semangat hidup, resiko terburuk ya bunuh diri.

    Perasaan cemas2 cemas menunggu dlm rentang waktu 2bln (terhitung sejak ybs sadar bahwa nilai UN nya jeblok sampe akhirnya bisa sekolah kembali di SMA "asal2an") itulah menurut saya yg bisa sangat "berbahaya".

    Tentu saja resiko itu menjadi sangat kecil kalo anak ybs punya "mental baja". Disinilah pentingnya peran ortu dlm menanamkan sikap dan mental tsb ke anak. Gagal itu wajar, bukan musibah yg harus terus diratapi.

    Note: Saya dulu kuliah kena DO ato lebih tepatnya men-DO-kan diri dgn cara ndak daftar ulang ngambil SKS. Saat2 setahun (2 semester) menunggu surat DO sekaligus dampratan ortu adalah saat2 yg paling "menyiksa" bagi saya. Begitu muncul surat DO dari dekan yg ditandatangani rektor langsung, plus omelan dan kekecewaan ortu, maka perasaan saya langsung legaaa. Tinggal mikir kedepannya mesti ngapain, tapi malah lebih jelas ndak ada stress lagi. Ndak jadi sarjana ora patheken.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  9. #9
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    jadi orientasinya semacam gengsi sesaat ya, mbah

    btw, sebelum UN banyak sekolah2 mengadakan acara doa bersama sampe nginep2 di sekolah dengan tujuan para siswa/i dapat lulus UN
    belum denger ada yang berdoa dg tujuan ilmunya bisa bermanfaat

  10. #10
    opera's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    http://www.opera.com/
    Posts
    4,852
    disini memang masih salah kaprah...
    dikiranya klo nilai matematika jelek = bodoh = gak bisa maju = gak bisa jadi orang sukses
    sama aja ngetest ikan manjat pohon ( kata siapa ya ini ) padahal dia jago renang

  11. #11
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by GiKu View Post
    jadi orientasinya semacam gengsi sesaat ya, mbah

    btw, sebelum UN banyak sekolah2 mengadakan acara doa bersama sampe nginep2 di sekolah dengan tujuan para siswa/i dapat lulus UN
    belum denger ada yang berdoa dg tujuan ilmunya bisa bermanfaat
    Bisa jadi ada unsur tsb (gengsi sesaat). Tapi bukan itu poin saya. Lebih kena pake istilah "cemas sesaat". Tapi kalo "sesaat" itu relatif lama maka semakin lama perasaan cemas tsb akan bisa semakin menggumpal yg bisa berujung pada bentuk sikap paling fatal berupa bunuh diri, tergantung sejauh mana "kekuatan mental" ybs dlm menghadapi rasa cemas ts.

    Btw, pengalaman setahun lalu waktu sulungku ikutan UN SMP, saya malah memperlakukannya "bak seorang raja". Ndak boleh stress, mboknya saya suruh "puasa cerewet" selama anakku UN, tiap hari saya yg anterin langsung ke sekolah selama UN, saya ajak terus becanda hahahihi tapi scr terselubung kasih semangat n motivasi ke anak, bahkan selalu saya tanamkan sugesti "pokoke kamu pasti bisa, halagh UN sih masalah cemen itu, bukan dhemit yg harus ditakuti, dst..dsb."

    Dan alhamdulillah hasilnya lumayan kok, cuman tetep aja sambil becanda saya ledekin ke si tole, "kok ndak bisa dapet nilai 10 semua?" Pas ambil nilai UN wali kelasnya coba mau ngasih surprise ke saya pas ngasih amplop tertutup ke saya dia bilang "bapak jgn kaget lihat nilainya ya..." Setelah saya buka dan tahu nilainya wali kelasnya malah yg "kaget" sambil bilang "kok biasa2 aja ndak surprise sih pak?!" *mungkin dia membayangkan setelah buka amplop saya akan langsung berdiri mengangkat tangan keatas dan jalan muter2 sambil teriak "goooolll...goooolll..."*

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  12. #12
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    ^Lebih lucu lagi, pas kepala sekolah gue dulu nyerahin surat kelulusan gue di atas podium... dan baru tau, setelah tiga tahun nguplek di sekolah beliau,... baru tau kalo gue cowok...

    nggak tau mau atau .



    BTW, seriusnya, gue masih agak bingung, jaman gue sekolah dulu, dari SD sampe SMA, target 'lulus' tuh bahkan nggak masuk ekuasi gerombolan gue.
    Target kita dulu, honestly, 'be the best in the game'. For the bragging rights.

    So, betul-betul atas nama semangat ingin tau, Apa ujian UN sekarang segitu susahnya ?
    Gue dari jurusan IPA, So ada yang bisa berbaik hati ngasi contoh soal FIS, BIO, MAT atau KIM dari UN yang relatif baru biar gue bisa dapet klarifikasi ?
    Last edited by TheCursed; 09-05-2014 at 06:10 PM.
    A proud SpaceBattler now.

  13. #13
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    ^
    jaman gw dulu, WC cowok/cewek dipisah

  14. #14
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo soal yg konyol2 kayaknya saya udah kenyang deh waktu jaman sekolah. Cuman harga yg harus dibayar cukup mahal. DO.

    *sekarang cuman bisa "ngiri" aja pas 2thn lalu dapet kontaknya lagi teman dulu eks "saingan" di kelas ternyata sekarang didepan namanya udah ada embel2 Professor dan dibelakang namanya ada tambahan PhD plus sederet gelar yg saya ndak mudheng soale gelar dr LN semua. semua di bidang fisika lagi. padahal dulu temen barengan nyontek saya*

    Oops...sori oot...

    Apa ujian UN sekarang segitu susahnya ?
    Menurutku biasa2 kok. Cuma bedanya, CMIIW, kayaknya kejar targetnya yg lebih berat shg ndak semua anak bisa "tahan". Dulu jamanku dapet nilai 7 itu udah cukup, 8 mau nyari apa lagi, 9 anggap aja bonus, 10 kalo pas ada cewek yg lagi ditaksir. Kalo sekarang kayaknya standard nilainya udah lebih tinggi. Saya pernah sempet ter-bengong2 pas ambil nillai rapor anakku dapet "teguran" dari wali kelas karena nilainya (lupa mapelnya apa) "cuma" 8. Katanya minimal harus 8.5. Dus nilai 8 itu adalah "nilai merah".

    BTW di sekolah anakku yg SMA masuk tahun lalu, passing grade untuk bisa diterima nilai UN nya 37.4, artinya nilai rata2nya minimal 9.3 dari total 4 mapel (MAT, IPA, IND, ENG). Itupun karena thn lalu nilai UN rata2 scr nasional turun. Dulu, katanya, sempet di sekolah tsb passing grade nya nilai rata2 harus 9.7 baru bisa diterima.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  15. #15
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    ....
    Menurutku biasa2 kok. Cuma bedanya, CMIIW, kayaknya kejar targetnya yg lebih berat shg ndak semua anak bisa "tahan". Dulu jamanku dapet nilai 7 itu udah cukup, 8 mau nyari apa lagi, 9 anggap aja bonus, 10 kalo pas ada cewek yg lagi ditaksir. Kalo sekarang kayaknya standard nilainya udah lebih tinggi. Saya pernah sempet ter-bengong2 pas ambil nillai rapor anakku dapet "teguran" dari wali kelas karena nilainya (lupa mapelnya apa) "cuma" 8. Katanya minimal harus 8.5. Dus nilai 8 itu adalah "nilai merah".
    ...
    8 nilai merah ?
    The HELL ...?!
    Nggak heran pada stress....
    Kalo 8 nilai merah. Angkatan gue dulu bisa DO semua....

    BTW, serius, 8 nilai merah itu kebijakan dari mana sih ?
    Ada yang tau ?

    Kami dulu 5, baru nilai merah. Itupun karena emang beneran di tulis pake tinta merah.

    Walaupun, iya, setelah mengarungi lautan Interwebs, gue menemukan ternyata soal2 UN-nya, 'level derita'-nya 11-12 sama jaman gue dulu.
    A proud SpaceBattler now.

  16. #16
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Kalau saya nggak mau menyalahkan siapa-siapa.
    *sok bijak

    Cuma mau menyalahkan sistem. Selama pendidikan masih dibuat sekolah favorit versus non favorit, maka pressure ke anak dan (gengsi) ortu tetap ada. Mestinya sih agenda utama kementerian pendidikan adalah pemerataan kualitas pendidikan, pengecualian sekolah swasta bonafid yang memang pasarannya orang berduit. Jadi besok-besok pas mau ujian belajarnya lebih konsen, nggak ada pikiran ntar dapet nggak sekolah bagus karena semua sekolah bagus.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  17. #17
    sebenernya ada sih trik un ini. tapi eke mingkem aja aaaah...
    tatuuuut..hahahaaaaay.
    Good friends, good books, and a sleepy
    conscience: this is the ideal life.
    Mark Twain

  18. #18
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    BTW, serius, 8 nilai merah itu kebijakan dari mana sih ?
    Ada yang tau ?
    Kebijakan sekolah ybs. Memang ndak benar2 merah (makanya tak kasih tanda petik) dlm arti meskipun "merah" (dibawah 8) tapi tetap aja naik kelas.

    Di SMP anakku yg lalu (SMPN eks RSBI) standard tsb dibuat berjenjang. Saya udah lupa angka persisnya berapa, tapi misalnya aja begini...

    Pas kelas satu standard nilai MAT minimal harus 7, lalu di kelas dua dinaikkan jadi 8 dan kelas tiga naik lagi jadi 8.5 dst.

    Itu hanya misal aja lho soale saya beneran lupa detailnya bahkan memang ndak pernah niat ngapalin. Tapi kurang lebih modelnya begitu. Tentu saja, meskipun ini hanya tersirat, maksud sekolah ybs ya untuk mengangkat "rating sekolah". Jor2an nyari predikat "sekolah favorit". Dan itu sekolah negeri lho.

    Selama pendidikan masih dibuat sekolah favorit versus non favorit,...
    Setuju. Dan sistem penerimaan dgn hanya nilai murni UN (tanpa tes seleksi) yg saya singgung diatas itulah yg semakin menegaskan munculnya sekolah "favorit vs non-favorit" tsb. Yg "favorit" akan semakin favorit dan yg "non-favorit" akan tambah terpuruk. Makin memperjelas "gap", mau ndak mau, diakui atau ndak diakui, tapi memang itulah yg terjadi sbg dampak sistem tsb. IMO.

    Itulah kenapa, dugaanku aja lho tapi ini sangat logis, tahun lalu banyak sekolah swasta yg mundur ndak mau gabung lagi pake sistem penerimaan online. Itu, sekali lagi, sangat logis mereka menolak lha kalo ikutan ujung2nya cuma terima limpahan siswa "sisa2 buangan" yg terlempar dari sekolah negeri favorit.

    Makanya banyak sekolah swasta yg "curi start" sebelum masa kelulusan udah berani terima siswa baru dan harus bayar uang muka yg ndak bisa ditarik kembali kalo kemudian anak ybs diterima di sekolah negeri. Memang ini bisa dipandang sbg praktek "kotor", tapi ya apaboleh buat menurutku memang itulah cara "cerdik" sekolah untuk bisa dapetin kandidat anak2 potensial bisa masuk ke sekolah itu. Setidaknya ini bisa jadi upaya pemerataan, menghindari penumpukan "siswa2 pintar masuk sekolah favorit" dan disisi lain "siswa2 kurang pintar masuk sekolah non-favorit" yg akan bikin tambah lebar jurang pemisahnya aja.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  19. #19
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    @Mbak Mbok

    Biasanya sih nanti terus ada yg menimpali "kejadian yg menimpa Onik adalah sebuah fenomena gunung es". Heboh deh jadinya.

    Masyarakat kita memang masih suka yg heboh2 kok mbak Mbok. Celakanya itu seringnya justru ndak pernah bisa menyentuh ke inti persoalan yg sesungguhnya. Lha gimana mau bisa berpikir jernih kalo sambil heboh. Dan hebohnya paling juga sebentar, lalu masalahnya menguap dilupakan begitu saja ditelan kehebohan masalah lain silih berganti. Begitulah potretnya.

    Waktu masih kecil, kakak temen mbok ada yang pernah mencoba bunuh diri, minum cairan pembunuh serangga. Sampai sekarang mbok ndak tahu kenapa, yang jelas orangtuanya malu banget. Malu karena sebagai orangtua mereka ndak bisa melihat bahwa anaknya sedang bermasalah and the child didn't trust them enough to talk to them.

    Jaman sekarang semua diberitakan, masalah individu dilemparkan ke masyarakat. Masyarakat disuruh mikir sementara individu itu sendiri bersikap seakan-akan ndak ada yang salah pada mereka. Masyarakat latah ngurusin masalah orang pada diri sendiri punya masalah yang harus diselesaikan. Si individu tadi tetap jadi pecundang, wong ndak merasa bertanggungjawab menyelesaikan masalahnya sendiri.

  20. #20
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    8 nilai merah ?
    The HELL ...?!
    Nggak heran pada stress....
    Kalo 8 nilai merah. Angkatan gue dulu bisa DO semua....

    BTW, serius, 8 nilai merah itu kebijakan dari mana sih ?
    Ada yang tau ?

    Kami dulu 5, baru nilai merah. Itupun karena emang beneran di tulis pake tinta merah.

    Walaupun, iya, setelah mengarungi lautan Interwebs, gue menemukan ternyata soal2 UN-nya, 'level derita'-nya 11-12 sama jaman gue dulu.
    itu akibat budaya "tiger mom" yang merasuki banyak
    keluarga "modern" di kota-kota besar Indonesia. Aki
    batnya secara spartan anak-anak ini di les tambahan
    setiap hari untuk mendapatkan nilai sempurna ~9,2 an
    nilai minimal untuk bersekolah di SMA Negeri Top Ten
    se Jakarta
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •