Page 10 of 12 FirstFirst ... 89101112 LastLast
Results 181 to 200 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #181
    Maklum mbah, kalo dah pendapat pribadi jadi nggak nafsu ngedebat.
    Karena memang itu hak masing-masing.

    Kalo misalnya mendasarkan pada ayat ini, atau ayat ono,
    Atau bilang ini perintah agama ini atau ono.
    baru deh suka kepancing ngedebat.

    Tapi sekedar ngasih pandangan boleh juga.

    Menurutku agama bumi juga sangat menekankan Tuhan.
    Misalnya agama Budha menekankan agar umatnya mencapai nibana.
    Yang menurutku Nibana adalah kondisi bertemu Tuhan.
    Misalnya agama Hindu menekankan umatnya agar menyadari Krishna.
    Yang menurutku Krisnha adalah pengejawantahan Tuhan.
    Misalnya agama Majusi mendorong umatnya untuk menemukan Cahaya sejati.
    Yang menurutku Cahaya sejati itu bukan lain adalah Tuhan.

  2. #182
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Makanya jangan didebat thoooo... tapi didiskusi-in(kan) dalam semangat untuk coba memahami dan belajar.

    Memang sengaja tidak ditulis panjang-panjang dan kumplit sekali tembak, selain ribet, saya ingin maju pelan-pelan dengan semua orang berkontribusi sepanjang prosesnya. Di sini kita khan pake acara semua orang boleh ikut... bukan ekslusif untuk orang-orang "berilmu dan paling benar"...

    Sekarang ke latar belakang...

    ***

    Kitab-kitab Upanishad yang awal, ditulis berabad-abad sebelum Masehi menekankan pada ketidak-terjangkauan-nya Brahman, dan manusia seyogyanya fokus pada ritual dan latihan untuk keluar dari kungkungan penderitaan daripada melamun tentang Brahman. Yajvanalkya, salah seorang suci Hindu di abad ketujuh pernah berujar "jika seseorang bertanya tentang Brahman, ia hanya akan mendapat jawaban neti, bukan itu".

    Yoga, latihan yang diajarkan untuk melepaskan diri dari roda penderitaan bukanlah ritual peribadatan, apalagi olahraga seperti yang kita temui di gym mahal di mall. Yoga adalah disiplin latihan yang pelan-pelan membina manusia untuk merangkul rasa sakit, kesedihan, dan penderitaan, untuk kemudian bisa tumbuh menjadi manusia yang melampaui semua itu.

    ***

    Kita pernah membaca di salah satu utasan di forum ini pula, bahwa Budha pernah berujar pada salah satu muridnya -- yang alih-alih menekuni Yoga justru bertanya-tanya tentang Tuhan dan dunia metafisika --, bahwa si murid itu ibaratnya orang yang terkena panah beracun. Bukannya cepat-cepat mengobati penderitaan akibat panah itu, dia malah sibuk bertanya-tanya soal siapa yang memanah, kenapa, di mana rumahnya, dan lain sebagainya...

    Budha menekankan bahwa menerima "paket kebenaran" dari seseorang yang dianggap suci, adalah akusala (tidak berguna). Seseorang harus menjalani proses pencerahannya sendiri melalui proses pematangan diri, bukannya tunduk pada suatu "kebenaran" yang didikte oleh orang lain.

    Adapun Nirvana, secara bahasa berarti "mematikan", "punah", yaitu suatu kondisi di mana seseorang melepaskan diri dari ego dan mencapai pemahaman yang lebih paripurna tentang hakikatnya sebagai manusia, seperti yang diharapkan oleh Yoga dalam Upanishad di atas (dan Budha tetap mempraktekkan Yoga). Memang yang jadi masalah adalah di Indonesia Nirvana diidentikkan dengan surga, heaven, atau jannah, konsep tentang suatu tempat di mana Tuhan "berada". Tapi Nirvana dalam konsep aslinya lebih sederhana.

    ***

    Konfusius berujar bahwa Dao berada di luar jangkauan bahasa. Karenanya diskusi teologis sesungguhnya cuma mengganggu hakikat suatu ajaran agama. Agama adalah tindakan, bukan lamunan. Seorang harus tekun mengikuti ritual (li) agar bisa mengasah dirinya menjadi manusia mumpuni (junzi). Ritual dalam ajaran konfusius lebih banyak berfokus pada tata krama, struktur masyarakat, kaidah penghormatan, dan sejenisnya.

    ***

    Jadi agama yang berkembang di periode kuno bukanlah ajaran yang bertujuan untuk mencapai "pemahaman atas Tuhan sejati", tapi ajaran yang praktis yang membumi. Meskipun menyandarkan konsepnya pada keberadaan suatu zat yang tak terjelaskan, tapi agama pada periode itu berfokus pada pencapaian derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Tuhan hanya berfungsi untuk membantu kesadaran bahwa manusia memiliki potensi lebih agung dari sekedar binatang berpikir yang tampak oleh mata.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  3. #183
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    [MENTION=912]234[/MENTION]

    Dulu saya juga pernah mengulas ttg agama di ini. Saya melihat agama sebagai penggumpalan idea. Maksudnya begini. Ambillah contoh Muhammad. Apakah Muhammad mendisains Islam? Merencanakan Quran? Saya pikir tidak. Ini dapat dilihat dari proses terbentuknya Quran yg membutuhkan waktu lama dan konten Quran yg kadang berseberangan satu dengan lainnya (sorry to say ). Kita dapat melihat Muhammad sbg agen perubahan. Awalnya, Muhammad menyendiri di gua, kemudian mengklaim mendapatkan wahyu, dst. Mengapa dia menyendiri? Ada yg bilang, itu kebiasaan masyarakat Arab saat itu. Ada juga yg bilang, itu utk mendapatkan solusi bagi (yg dilihatnya sbg) permasalahan masyarakat saat itu, dsb. Klaim menerima wahyu adalah semacam "pencerahan" yg dicapai oleh Muhammad. Dari perenungannya di gua tsb, Muhammad menemukan jawaban pertama yg diikuti oleh jawaban-jawaban berikutnya (baca: wahyu). Itu tidak disimpannya sendiri, tetapi dikomunikasikan, pertama tentunya pada istrinya, sahabat2nya, dst, akhirnya tersebar luas ke banyak orang. Dimana penggumpalan idea tsb? Ketika sang pembawanya tiada, kemudian pengikutnya membakukan idea tsb, di situlah penggumpalan idea tsb terjadi dan itulah agama.

    Lihat juga Sidharta. Kurang lebih kisahnya sama dgn Muhammad. Yesus? Mirza Ghulam Ahmad? Siapa lagi, sebutkan saja? Saya kira sama saja. Mereka adalah agen perubahan. Mereka menyumbangkan idea utk suatu perubahan. Selanjutnya idea mereka menggumpal menjadi agama.

    Bagaimana dgn iptek (sains)? Sama saja. Dia adalah idea. Iptek pun dapat berevolusi menjadi agama, misalnya saintologi, dll. Saya pernah menyebutkan (juga di ) bahwa agama pada awalnya adalah iptek primitif yg kemudian kadang berakhir menjadi sistem jumud (pinjem istilah sampeyan). Tidak melulu, tapi kadang. Sebab hingga saat ini iptek selalu berkembang (dlm istilah sampeyan) atau open mind.

    Buat apa idea-idea tsb? Kebaikan, kenyamanan, ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dst. Apa lagi yg dicari manusia, kalau bukan itu semua?

    Buat saya, kalau kita terpaksa harus menyebut kebenaran, itu tidak lain adalah perubahan itu sendiri.


  4. #184
    Pas google tadi q nemu tulisan yang menarik, makalah karya Bapak Ulil Abshar-Abdalla yang berjudul "Memahami Kitab-Kitab Suci secara non-apologetik".

    Pada makalah tersebut beliau mengutarakan pendapat bahwa di kitab suci agama apapun pertentangan itu ada. Hanya saja di mata orang yang mengimani kitab suci tsb, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.

    Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.

    Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.

    Memang benar, seorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.

    Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?

    Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.

    Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.

    Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:

    “What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).

    Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

    Sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan percecokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.

    Pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.

    ~kutipan dari Makalah Bapak Ulil saya cukupkan sampai di sini. Walau di tulisan di atas Pak Ulil menyebut "Islam vs Kristen", tapi kukira kata "Islam vs Kristen" pas-pas aja jika di replace menjadi "Free Thinker vs Orang Beragama". Ataupun "Atheis vs Dheis". Karena di mataku baik atheis ataupun Dheis adalah sebuah "Agama" juga. Sebentuk kepercayaan yang dibawa oleh komposisi hormon & kromosom sewaktu lahir. Coretan/warna yang ditorehkan orang tua dan lingkungan tempat dia tumbuh dewasa. Suatu kesimpulan dari segenap pengalaman yang telah tertempuh.

    Saus : ht***tp://ulil.net/2008/08/06/memahami-kitab-kitab-suci-secara-non-apologetik/

    pengertian apologetik menurut wikipedia : 'membela iman'.

    ***

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Konten Quran kadang berseberangan satu dengan lainnya (sorry to say ).
    Kata Bpk Rasjidi, "Saat seorang sarjana membicarakan agama, ia tidak dapat bersikap obyektif; ia sudah terikat dengan kepercayaannya, dengan kata lain, ia sudah terlibat (involved)."
    Begitupun saya, saat menulis postingan ini saya involved dengan kepercayaan saya sebagai muslim. Maka yang saya tulis pada quote di bawah ini adalah kepercayaan subjektif saya.
    Quote Originally Posted by 4:82 View Post
    Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.
    Yang berarti saya percaya bahwa tidak ada pertentangan di dalam Quran.


    Tapi saya akan sangat berterima kasih bilamana pak [MENTION=101]purba[/MENTION] bersedia menunjukkan ayat mana (saja) di kitab suci kami (Al-Quran) yang dipandang bertentangan. Agar dapat menambah pengetahuan dan menjadi bahan permenungan kami.
    Last edited by MoonCying; 09-04-2014 at 10:10 PM.

  5. #185
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    ^saya percaya Eyang Purba punya bahan lebih dari cukup dan akan dengan senang hati berbagi

    ... tapi boleh saya usul agar dibuka utasan tersendiri untuk topik itu supaya lebih fokus? Kalau nanti ada irisan di diskusinya, kan tetap bisa dirujuk kembali ke sini...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  6. #186
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    [MENTION=101]purba[/MENTION]

    Yup, saya memang telat boyongan ke KM shg ndak sempat nimbrung dlm hiruk-pikuknya fordis ini di awal2 yg setelah saya lurking2 ternyata lumayan "seru".

    Anyway, di akhir kalimat dlm "monolog" saya yg terakhir saya menulis...:

    Quote Originally Posted by 234
    So, tinggal bagaimana lihainya aja dlm memilih dan mengambil sudut dan cara pandang thd paradoks tsb yg, lagi2, ujung2nya bagaimana pinter2nya aja dalam...berasumsi.
    Tulisan2 saya, khususnya di tret ini, berangkat dr sebuah ide ttg paradoks (ibarat dua sisi pada satu keping mata uang) yg adanya memang IMO merupakan sebuah keniscayaan yg ndak bisa dilepaskan dari diri (alam pikiran) manusia. Dari situ kemudian berlanjut ke ide ttg bagaimana manusia (dlm hal ini diri saya sendiri) dlm menyikapi paradoks.

    Paradoks benar vs salah, baik vs buruk, senang vs susah, process (oriented) vs result (oriented), yin vs yang, dst yg saya ibaratkan nature-nya seperti ombak, bahkan sampe juga ke "paradoks" benar/otak/rasionalitas vs baik/hati/spiritualitas dan Tuhan vs agama. Dua hal terakhir sengaja saya tebalkan krn saya akan coba elaborasi dlm posting saya kali ini.

    ***
    Ttg "Tuhan vs agama"...

    Sejatinya saya "menolak" (tidak sepakat) kedua hal tsb ditempatkan sbg bentuk paradoks shg sampe muncul pertanyaan "Percaya Tuhan atau agama?" spt yg dijadikan judul tret ini.

    Sehingga untuk menjawab pertanyaan judul tret pun saya hanya bisa berikan jawaban "ngeles" (diplomatis) yaitu: I believe in God and trust in religion. (And my faith is Islam). Dan untuk menjelaskan jawaban saya tsb saya juga udah coba pisahkan (per definisi) dari ketiga hal tsb (belief, trust dan faith).

    Begitu juga ketika saya menyatakan "saya theist (ber-Tuhan) meskipun saya agnostis dan saya ber-agama meskipun saya [B]skeptis[B]", dimana dlm konteks tsb saya menolak (per definisi) agnostis diartikan sama dgn skeptis spt dlm definisinya Ndugu. (Note: Meskipun saya sebenarnya ndak pernah terlalu mempersoalkan kalo udah menyangkut persoalan definisi, tapi sekedar mengklarifikasi aja thd definisi yg saya buat sbg dasar pijakan pendapat saya sendiri spy ndak timbul kerancuan atau misperception).

    Demikian pula ketika saya coba menempatkan (ber)agama sbg bentuk "journey" (dlm analogi permainan papan selancar di atas ombak). Dlm analogi tsb saya tidak pernah menempatkan Tuhan sbg bentuk "destination" (dari analogi permainan papan selancar tsb).

    Pendapat2 saya tsb didasari oleh "definisi" (ide, konsep, asumsi, atau apapun disebutnya) ttg (ke)Tuhan(an) yg saya anut. Dlm ide/konsep/asumsi saya, Tuhan itu "ada"nya melampaui (beyond) paradoks apapun. Yin sekaligus Yang, atau sebaliknya, bukan Yin sekaligus bukan Yang.

    Wuji kalo dlm Taoism, Brahman dlm Hindu, Nibbana dlm Buddhism, JHVH dlm Judaism, Bapa dlm Kristen, Allah dlm Islam. "Alfa sekaligus Omega" dlm pendekatan agama samawi, "bukan Alfa sekaligus bukan Omega" dlm pendekatan Buddhism. Gusti kata orang Jawa. DJI kalo ala Djisamsoe. Dst...dsb.

    (Note: Saya sebenarnya udah ndak tertarik lagi untuk memperdebatkan lebih jauh lagi ttg "ide/konsep Tuhan". Seperti saya bilang sebelumnya, kesannya jadul banget. Saya cukup antusias berdebat ttg hal itu rasa2nya udah lebih dari 15thn lalu waktu era milis sebelum era fordis di Internet. Bahkan di era awal fordis, misalnja aja FFI periode 2002-2003, saya pun udah ndak berdebat "theist vs atheist" lagi, soale waktu itu saya sudah "agnostis" meskipun saya theist.)

    ***
    Ttg "benar vs baik" (otak vs hati, rasionalitas vs spiritualitas, dsb)

    Dlm hal ini saya memang (sedang) menempatkan hal2 tsb sbg bentuk paradoks shg sampe pada ide berupa sebuah bentuk paradoks "iptek vs agama", dimana saya menempatkan iptek kedlm ranah benar/otak/rasionalitas dan agama dlm ranah baik/hati/spiritualitas.

    Dan saya belum ingin mengelaborasi hal tsb lebih jauh lagi krn, rasa2nya, di beberapa postingan terakhir saya anggap sudah cukup menjelaskan hal tsb.

    Sekedar tambahan sedikit untuk lebih memberikan distinctive antar keduanya, IMO, baik itu (bersifat) subyektif sedangkan benar itu (bersifat) relatif.

    ***
    Lalu menanggapi postingan anda terakhir...

    Saya sepakat dgn ide anda ttg "penggumpalan ide" yg akhirnya mengkristal sbg bentuk agama. Proses penggumpalan itu scr formal berhenti saat agama ditempatkan sbg sesuatu yg bersifat formal. Tapi bagaimanapun, scr informal, proses tsb masih dan akan terus berlangsung meskipun karakternya ndak sedinamis sains. Menurutku, diakui atau ndak diakui oleh agamawan itu sendiri, tafsir thd ajaran agama itu terus berkembang meskipun karakternya lebih bersifat "tarik-menarik" antara pro-kontra terhadapnya. Tapi IMO proses (dinamika) itu niscaya tetap ada.

    Saya juga bisa bisa memahami cara pendekatan sampeyan dlm memandang "paradoks agama vs sains" dgn menyatakan, scr implisit, bahwa sejatinya "agama adalah sains yg jumud" disatu sisi, dan disisi lain "sains adalah agama yg openmind".

    Ttg saintologi saya punya pandangan berbeda. Bagi saya, saintologi ndak bisa dipandang sbg sebuah "agama". IMO itu kurang lebihnya mirip dgn misalnya Deism dan Raelian(ism). Ketiganya tidak lebih dari sebuah bentuk "parodi agama". Saya bisa memahami reason kenapa sampe muncul parodi seperti itu. Bagi saya itu merupakan wujud kekecewaan orang2 tertentu melihat kejumudan yg terjadi dlm agama pada umumnya. Prediksi saya, ketiga hal tsb (Saintologi, Deism dan Raelian) ndak akan pernah bisa "besar" dari sisi pengikut meskipun ketiganya akan terus tetap eksis sbg "tandingan" dari agama yg memang cenderung jumud.

    Itu dari sudut pandang saya dari sisi "agama" lho. Kalo dari sisi sains menurutku, CMIIW, mungkin Saintologi lebih tepat disebut sbg "sains yg jumud".

    Lalu ttg "kebenaran=perubahan", saya malah jadi inget seorang kawan baik eks teman SMA yg sekarang secara formal bergelar professor plus berderet titel pendidikan formal lainnya yg kesemuanya berlatar-belakang ilmu fisika (terapan) dan semua diperoleh di LN. Dia bilang, "kebenaran=waktu".

    Saya pribadi, kalo terpaksa harus mendefinisikan "kebenaran" dlm bentuk satu kata, saya prefer bilang "kebenaran=relevansi".

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  7. #187
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]

    Pertentangan, kontradiksi, dst itu IMO juga termasuk "paradoks" (per definisi dlm bahasan saya di tret ini).

    Quote Originally Posted by MoonCying
    ...wahyu “tidak mematikan akal/logika”. Justru wahyu memerintahkan manusia agar mendayagunakan akal dan logika yang dianugerahkan Tuhan untuk berpikir.
    Saya sepakat dgn ide yg bergaris bawah, terlepas itu bersumber dari mana(pun).

    Persoalannya adalah: Bagaimana dgn mendayagunakan akal dan logika untuk mengkritisi bahkan mungkin menolak wahyu itu sendiri?

    Jadinya paradoks kan?

    Dan kalo anda udah bisa dan terbiasa melakukan hal itu saya yakin anda sudah siap menerima "wejangan2" dari Encang Purba. Tapi kalo sebaliknya, seperti sebuah pernyataan yg pernah sekilas saya baca di forum ini yg kurang lebih berbunyi "akal pikiran harus ditundukkan dibawah otoritas wahyu dan kitab suci", maka bersiaplah untuk menerima "goyangan ombak" dr Encang Purba. Persiapkan baik2 papan selancar anda.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  8. #188
    Selain daripada perintah dan larangan, di lain waktu dalam bentuk pertanyaan retoris seakan-akan sambil lalu disingkapkan proses kejadian bumi ini sendiri, atau proses yang sama sekali tidak terjangkau oleh pengalaman manusia, -sebab terjadinya jauh sebelum adanya manusia, - dan yang di waktu wahyu itu diturunkan sama sekali belum dapat dicapai oleh daya aqal manusia; bahkan terkhayalkanpun sama sekali belum.
    Quote Originally Posted by Al-Anbiya’ 30 View Post
    Dan tidakkah orang-orang yang tidak beriman itu mengetahui, bahwa langit dan bumi itu (dahulunya) satu kepal **) lalu Kami ceraikan keduanya, dan Kami jadikan dari air, tiap-tiap sesuatu yang hidup; tidakkah mereka percaya?”

    **) “sama”, dalam bahasa arab : semua yang ada “diatas” kita. Bahwa bumi kita ini tadinya adalah pecahan dari matahari, barulah dizaman akhir-akhir ini dapat diketahui.
    Quote Originally Posted by Al-Anbiya’ 33 View Post
    ”.................... dan Dialah (Tuhan) yang telah menjadikan malam dan siang; matahari dan bulan; sedang semua itu berenang pada garis edar masing-masing ***)”

    ***) Ptolemaeus dari Alexandria (th. 150 M.) berpendapat bahwa bumi ini tetap pada tempatnya, sedangkan matahari, bulan dan bintang2 mengelilingi bumi. Teori ini umum dianut sampai abad ke 16. Setelah ilmu astronomy lebih maju, Copernicus (abad ke 16) mengemukakan bahwa mataharilah yang tetap pada tempatnya sebab menjadi pusat peredaran bumi dan satelit-satelitnya.
    Barulah Newton (1642-1725) sampai pada natijah, bahwa semua dalam alam cakrawala ini, juga matahari beredar, dan kekuatan tarik menarik antara satu badan cakrawala dengan yang lain menjaga kemantapan dan keseimbangan dalam sistim itu keseluruhan (law of gravity).
    Agak lama juga waktu yang dipergunakan oleh pengawasan panca indra dan penjelajahan aqal untuk mendekati apa yang dijangkaukan oleh wahyu berbelas abad yang lewat itu. Penyelidikan2 dizaman akhir-akhir ini menunjukkan, bahwa alam cakrawala itu tidak vacuum, kosong sama sekali. Dia ibarat lautan pelbagai pancaran radiasi bergelombang-gelombang dimana badan-badan cakrawala itu se-akan-akan “berenang” didalamnya.
    Begitulah bintang-bintang, matahari, bulan dan lain-lain ciptaan Khaliq terus beredar dalam satu sistim yang penuh harmoni, tak pernah gawal; tak ada yang menyimpang dari garis edar masing-masing yang ditentukan dalam keseimbangan kekuatan, tiang-meniang yang tidak kelihatan”:
    Quote Originally Posted by Luqman 10 View Post
    ................ tanpa tiang-meniang yang dapat kamu lihat ...........
    Begitu berbiliun abad yang lampau, tak terjangkau oleh daya hitung manusia, dimana mulanya, dan akan begitu dimasa yang akan datang, tak terterka dimana ‘kan berakhirnya .......................

    Manusia yang berfikir dan mengawasi itu semua dengan perasaan takjub, ditantang pula dengan suatu tantangan terhadap kemampuan dan pencapaian yang dapat diperoleh dengan aqal yang telah dikurniakan Ilahy kepadanya:
    Quote Originally Posted by Ar-Rahman 33 View Post
    ”Wahai para jin dan manusia! Kalau kamu sanggup menembus sempadan langit dan bumi, maka tembuslah! Kamu tak akan sanggup melintasinya melainkan dengan kekuatan (ilmu)”
    Tidaklah sekali-kali wahyu itu takut kepada aqal, tidak berusaha menutup-nutup aqal, apalagi mematikan aqal.

    Maka ia memanggil aqal untuk melakukan fungsinya.

    Dipanggilnya pancaindra untuk memberi “makanan pada aqal” Aqal manusia harus hidup, tidak boleh mati, tidak boleh lumpuh. Aqal harus bergerak. Digerakkan dengan pertanyaan-pertanyaan berkali-kali.

    “Tidakkah mereka melihat?”.

    “Kenapa kamu tidak mempergunakan aqal? Kenapa mereka tidak mau merenungkan?”.

    Wahyu tidak memusuhi pancaindra dan aqal *). Pancaindra, aqal dan wahyu berasal dari Khaliq yang Satu, Tak ada pertentangan antara pemberian-pemberian Khaliq itu. Mana yang tak tercapai oleh pancaindra dijemput oleh aqal’. Mana yang tidak atau belum tercapai oleh aqal, dijangkaukan oleh wahyu. Wahyu dari ‘Alimil Ghaibi wasy-Syahdah. Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata ataupun yang tidak.

    *) Bukanlah wahyu yang menyuruh menghukum seseorang seperti Galileo Galilei (1564-1642) dan banyak lagi ahli aqal dan ilmu yang senasib dengan dia, dalam sejarah “Barat” itu, yang diwaktu itu masih takut melihat cuaca siang.

    Sumber bacaan : kumpulan catatan-catatan dan diktat-diktat dari Kuliyah Bapak M. Natsir untuk kursus latihan calon Muballigh. Oleh Bapak Saleh-Umar Bajasut, catatan/diktat tersebut disusun dan dihimpun secara tertib, sehingga menjadi sebuah buku. Judul Buku: M. Natsir, FIQHUD-DA’WAH, Jejak Risalah dan Dasar-Dasar Da’wah. Penerbit: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 1977.

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Persoalannya adalah: Bagaimana dgn mendayagunakan akal dan logika untuk mengkritisi bahkan mungkin menolak wahyu itu sendiri?

    Jadinya paradoks kan?
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    I believe in God and trust in religion. (And my faith is Islam)
    Seorang mengkritik atau menolak wahyu biasanya karena perbedaan believe. Ataupun kalau sama-sama believe biasanya yang mengkritik dan yang dikritik berbeda religion.

    Terjadinya Sikap mengkritisi atau menolak wahyu antara penganut believe ataupun religion yang berbeda IMO adalah suatu keniscayaan sebagai akibat dari kenyataan bahwa agama satu dan yang lain tidak sama. Baik kitab suci, cara beribadat ataupun batasan moral tiap agama adalah berbeda.

    Untuk mendapatkan suatu gambaran bahwa agama-agama yang jumlahnya banyak itu tidaklah sama, marilah kita meninjau agama katolik dalam soal perceraian.

    Adalah satu prinsip yang sangat penting bagi umat Katolik bahwa perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang wanita dianggap ikatan untuk selama-lamanya yang tak mungkin dilepas oleh kematian. Hal semacam itu tidak terdapat dalam agama Islam, juga tidak dalam agama Protestan.

    Gereja Katolik melarang perceraian, sedangkan agama Islam memperbolehkan perceraian dengan syarat-syarat tertentu. Agama Protestan yang muncul pada tahun 1517 juga mengizinkan perceraian.

    Begitupula soal-soal ketuhanan atau teologi, maka kita akan menemukan perbedaan yang sangat besar.

    ***

    Dalam agama Islam, rukun Islam yang pertama adalah membaca syahadat yang berbunyi: “Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah” yang berarti “Aku percaya menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

    Karena telah menyatakan faith bahwa Muhammad adalah utusan Allah. IMO tidak bakal terjadi kritisi atau sikap menolak terhadap wahyu yang terucap dari bibir Muhammad. Yang saat ini wahyu tersebut telah dibukukan. Dikenal dengan sebutan Al-Quran.

    Alih-alih bertentangan, akal dan wahyu adalah saling melengkapi satu dengan yang lain.

    "Mana yang tak tercapai oleh pancaindra dijemput oleh aqal’. Mana yang tidak atau belum tercapai oleh aqal, dijangkaukan oleh wahyu. "
    Last edited by MoonCying; 11-04-2014 at 04:33 AM.

  9. #189
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by MoonCying View Post
    Kata Bpk Rasjidi, "Saat seorang sarjana membicarakan agama, ia tidak dapat bersikap obyektif; ia sudah terikat dengan kepercayaannya, dengan kata lain, ia sudah terlibat (involved)."
    Begitupun saya, saat menulis postingan ini saya involved dengan kepercayaan saya sebagai muslim. Maka yang saya tulis pada quote di bawah ini adalah kepercayaan subjektif saya.
    Ada ya dan tidak nya. Ya nya: Tentu latar belakang seseorang mempengaruhi penilaiannya thd sesuatu. Tidak nya: Sikap obyektif itu pilihan. Artinya, seseorang pun dapat bersikap obyektif. Sikap obyektif mungkin lebih dituntut dlm dunia ilmiah. Seorang sarjana muslim dapat menggunakan perangkat yg ada dlm dunia ilmiah utk menilai agamanya sendiri. Itu artinya dia memilih utk obyektif. Saya kira ini banyak dilakukan oleh sarjana muslim sendiri.

    Tapi saya akan sangat berterima kasih bilamana pak [MENTION=101]purba[/MENTION] bersedia menunjukkan ayat mana (saja) di kitab suci kami (Al-Quran) yang dipandang bertentangan. Agar dapat menambah pengetahuan dan menjadi bahan permenungan kami.
    Tidak di sini. Di topik lain saja.

  10. #190
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Mengenai isi wahyu yang bertentangan dengan akal, biarlah orang-orang yang lebih kompeten yang bertanya lebih lanjut

    ... saya tertarik untuk menyimpulkan bahwa makin lama suatu agama terbukti salah oleh akal, maka semakin gugur kredibiltas agama tersebut di mata manusia dan semakin perlu untuk ditinggalkan? Misalnya otoritas gereja Katolik (yang di atas disebut "Eropa") yang doktrinnya berbeda dengan argumen Galileo?

    ---------- Post Merged at 05:17 AM ----------

    Yah... keduluan Eyang Purba
    baru selesai sholat subuh, Eyang? Jam segini udah nongkorong di ?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  11. #191
    Okee eyang purba ... .
    See U next time ^^

    "Agama" itu soal hati.
    Obyektif IMO terletak di akal.

    Pengalaman pribadi sih, "akal gak bisa menang nglawan ati"

    IMO, tenangnya hati, kecenderungan hati -tidak terhindarkan- akan mempengaruhi hasil pemikiran.
    Last edited by MoonCying; 11-04-2014 at 09:49 AM.

  12. #192
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ... saya tertarik untuk menyimpulkan bahwa makin lama suatu agama terbukti salah oleh akal, maka semakin gugur kredibiltas agama tersebut di mata manusia dan semakin perlu untuk ditinggalkan? Misalnya otoritas gereja Katolik (yang di atas disebut "Eropa") yang doktrinnya berbeda dengan argumen Galileo?
    Mungkin begini Mbah Alip. Ada evolusi dlm cara manusia menarik kesimpulan. Sains yg kita kenal perlu verifikasi empirik, atau kita mengenalnya dgn metode ilmiah, utk mencapai suatu kesimpulan, sehingga kesimpulannya lebih obyektif. Sementara dulu tidak ada metode ilmiah. Agama sudah ada jauh sebelum metode ilmiah dikenal. Karena itu agama tertinggal dalam hal obyektifitas. Yg Mbah Alip sebut dgn "...makin lama suatu agama terbukti salah oleh akal.." menunjukkan bahwa agama makin kalah obyektif dibandingkan sains. Mengapa obyektifitas dikedepankan? Karena terbukti efektif dlm menyelesaikan masalah-masalah manusia.

    Yah... keduluan Eyang Purba
    baru selesai sholat subuh, Eyang? Jam segini udah nongkorong di ?
    Efek tuek Mbah... Udah gak bisa tidur lama-lama...

  13. #193

    Beragama dengan hati

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    .....agama terbukti salah oleh akal....
    Manusia selain daripada akal juga ada perangkat lain yang disebut hati.

    Dalam beragama peran hati lebih dominan daripada akal.

    Rasio/akal manusia tidak akan sanggup memahami semua hal.

    "Tuhan" adalah termasuk hal yang tidak terjangkau akal.

    Ada orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang beragama yang percaya bahwa Tuhan itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Tuhan itu tidak ada.

    Quote Originally Posted by Blaise Pascal View Post
    Le Coeur

    Le couer a ses raison ne connait point (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal. Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan. Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal. Baginya "hati" (Le couer) manusia adalah jauh lebih penting.

    Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti emosi. Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam. Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni pengetahuan tentang Allah.

    Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya. Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.


    Le Pari

    Le Pari atau "Pertaruhan" adalah argumen Paskal lainnya yang terkenal. Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah filsafat. Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang Kristen yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada. Ia kemudian membuat sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah.

    Dalam hal ini Paskal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah. Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di sorga kelak. Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun. Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.

    Saus:
    Ht***tp://id.wikipedia.org/wiki/Blaise_Pascal

    Beragama berarti percaya bahwa Tuhan itu ada.

    Beragama itu terbit dari hati.

    Percaya bahwa Tuhan itu ada melalui ucapan para rasul atau melalui kitab suci tidak dibenarkan!

    Quote Originally Posted by Syaikh Muhammad Abduh View Post
    “Kaum Muslimin sudah sepakat -kecuali sejumlah kecil dengan pendapat yang tidak berarti- bahwa kepercayaan kepada Allah adalah mendahului kepercayaan kepada nabi-nabi. Tidak mungkin orang percaya kepada rasul-rasul, sebelum ia beriman kepada Allah; sedang beriman kepada Allah melalui ucapan para rasul atau melalui kitab-kitab suci, tidak dibenarkan. Sungguh tidak masuk akal orang akan percaya kepada adanya kitab yang diturunkan Allah, jika sebelum itu kita tidak percaya akan adanya Allah. Maka Dia-lah yang harus menurunkan kitab dan mengutus rasul.”


    Saus:
    Muhammad Husain HAEKAL
    Sejarah Hidup Muhammad
    Penerjemah: Ali Audah
    Penerbit: Litera AntarNusa * Pustaka Nasional
    Cetakan Ketigapuluh delapan, Februari 2009
    Halaman cii.
    Dan menurut persangkaanku inilah kesalahan yang seringkali menjangkiti kaum beragama di "barat". Mereka percaya Tuhan melalui kitab suci, bukannya dari hati.

    ***

    IMO, Jika seiring perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi terbukti bahwa ayat di kitab suci tertentu bertentangan dengan fakta ilmiah ilmu pengetahuan. Janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa beragama (percaya bahwa Tuhan itu ada) adalah salah.

    Tengoklah kitab suci yang lain.

    Quote Originally Posted by subjektif View Post
    Quran misalnya, hingga hari ini blum ada ayat quran yang bertentangan dengan fakta ilmiah ilmu pengetahuan.

    #q setuju dengan yang dibilang Danalingga pada postingan yang urutannya tepat setelah postingan q ini. “....memakai hati akan sangat subjektif. Harus disimpan sendiri, tidak layak diceritakan kepada orang lain.”

    bila postingan q ada yang melanggar border mohon saya diingatkan.
    Berikutnya mengenai Galileo Galilei. Kmrn pas google q nemu blog yang dikelola oleh pasangan suami isteri sarjana kristen, Lulusan S2 Teologi Kristen di luar negeri. Di blog mereka ada satu bahasan khusus mengenai peristiwa Galileo Galilei ini. Sayangnya kmrn cuma q baca sambil lalu aja & ndak q bookmark. Ntar klo nemu lagi, q share di mari.
    Last edited by MoonCying; 12-04-2014 at 10:54 AM.

  14. #194
    ^ masalahnya memakai hati akan sangat subjektif.
    Harus disimpan sendiri, tidak layak diceritakan kepada orang lain.
    Karena memang sangat subjektif.

  15. #195
    Dalam postingan q sebelumnya saya menyebut perihal dihukumnya Galileo Galilei oleh otoritas gereja katolik.

    Agar dapat diperoleh informasi yang berimbang mengenai peristiwa Galileo Galilei, berikut link yang dapat dijadikan rujukan.


    katolisitas.org/1684/apakah-galileo-galilei-dibunuh-gereja-katolik

    (depannya mohon ditambahkan http:

    Artikel pada web “katolisitas.org” diatas berjudul -APAKAH GALILEO GALILEI DIBUNUH GEREJA KATOLIK?- ditulis oleh Stefanus Tay & Ingrid Tay.

    Quote Originally Posted by Stefanus Tay & Ingrid Tay View Post
    Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.
    Pandangan Gereja mengenai teori heliosentris yang diusung oleh Galileo Galilei sbb:

    Quote Originally Posted by Stefanus Tay & Ingrid Tay View Post
    Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

    “I say that if there were a true demonstration that the sun was in the center of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.)

    terjemahannya:

    “Saya berkata jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati- hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

    Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Kitab Suci. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya.
    Galileo dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, atas tuduhan mengajarkan teori yang bertentangan Kitab Suci, yaitu bahwa matahari tidak bergerak sebagai pusat jagad raya. Namun atas kebaikan Uskup Agung Siena, akhirnya Galileo diperbolehkan pulang ke villanya di dekat Florence tahun 1634 sampai wafatnya di tahun 1642, setelah menderita demam dan serangan jantung, di usia yang ke 77.

    Quote Originally Posted by Stefanus Tay & Ingrid Tay View Post
    Teori heliosentris yang diajarkan oleh Galileo berhubungan dengan cara menginterpretasikan Kitab Suci. Magisterium Gereja Katolik berpegang kepada Tradisi Suci mengajarkan bahwa Kitab Suci pertama- tama harus diartikan secara literal, dan baru kemudian secara spiritual. Dengan kata lain, hanya jika suatu ayat tidak mungkin diartikan secara literal, baru dapat dinyatakan bahwa ayat itu hanya untuk diinterpretasikan secara spiritual. Untuk mengubah interpretasi menjadi arti spiritual saja pada ayat- ayat tersebut (Mzm 93:1, 96:10 dan 1 Taw 16:30), nampaknya masih merupakan perdebatan saat itu, karena pihak Gereja menghendaki buktinya terlebih dahulu. Penjelasan ini diperlukan, sebab jika tidak, orang dapat menyangka bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci Injil adalah salah, padahal sebenarnya yang salah adalah interpretasinya.
    Last edited by MoonCying; 12-04-2014 at 10:31 AM.

  16. #196
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Memangnya kenapa kalo salah? Memangnya salah itu apa? Benar itu apa?

    *katanya pake hati kok masih pake benar-salah*

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  17. #197
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    IMO, Jika seiring perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi terbukti bahwa ayat di kitab suci tertentu bertentangan dengan fakta ilmiah ilmu pengetahuan. Janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa beragama (percaya bahwa Tuhan itu ada) adalah salah.

    Tengoklah kitab suci yang lain.
    Kecaaap...kecaaap...kecapku nomor satu... Jika anda ndak puas dgn kecap yg selama ini anda pilih silahkan beralihlah ke kecap kami... Jaminan mutu... Kecaaap...kecaaap...kecapku kecap nomer satu...

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  18. #198
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Komentar pendek...
    itu MoonCying ngomong apa sih?


  19. #199
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by 234 View Post

    (Note: Saya sebenarnya udah ndak tertarik lagi untuk memperdebatkan lebih jauh lagi ttg "ide/konsep Tuhan". Seperti saya bilang sebelumnya, kesannya jadul banget. Saya cukup antusias berdebat ttg hal itu rasa2nya udah lebih dari 15thn lalu waktu era milis sebelum era fordis di Internet. Bahkan di era awal fordis, misalnja aja FFI periode 2002-2003, saya pun udah ndak berdebat "theist vs atheist" lagi,

    Wuidiiiihhh....
    Itu jamannya krishna sang putra matahari ya?

    Uwekekekekkeke

  20. #200
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Duh, pantes gak ngerti... ternyata MoonCying mengedit postingan lama dengan data-data baru sekian lama sesudah diskusinya maju jauh mbicarain yang lain...

    Meskipun mengutamakan hati, tapi mbok ya tulisannya dibikin berstruktur dengan kronologi yang runut dong (bagiannya akal dan rasio) ... kalau ada tambahan dibuat aja di postingan baru... jangan ngedit postingan lama...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 10 of 12 FirstFirst ... 89101112 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •