YANG bikin wagu penampilan Atut Chosiyah, Gubernur Banten tersangka kasus korupsi itu, adalah jilbabnya. Ini bukan bahasan mengenai kasus korupsi atau "syariat Islam", tapi soal penampilan.
Terlepas dari kasus korupsi yang menimpanya, Atut itu orang kaya. Sebagai orang kaya, wajar kalau dia suka penampilan glamor. Kalau saya kaya, saya pun akan suka pakai arloji ratusan juta, misalnya. Wajar saja itu.
Persoalannya adalah, kalau dia suka penampilan glamor yang sekuleristik, kenapa pakai jilbab? Bukankah jilbab dan keglamoran itu adalah dua nilai-nilai yang sebenarnya bertentangan?
Fenomena keglamoran dalam berjilbab bukan cuma Atut saja, banyak kok ibu-ibu setengah kaya di sekeliling kita yang begitu; Berjilbab, tapi masih suka “keglamoran”.
Gambaran awam saya mengenai perempuan berjilbab itu adalah perempuan dengan penampilan yang sederhana dan religius, seperti biarawati-biarawati Katolik. Tidak “ngglamor” walaupun kaya.
Kalau kepingin tampil glamor dan berkelas, kenapa mesti pake jilbab? Buat saya, outfit gaya Atut begitu malah kesannya kampungan.
Coba lihat cara berpakaian Royal Family di Inggris sana. Saya malah suka pakaian Kate Middleton dan Prince William, simpel dan selalu tampak elegan. Prince Charles dan Camilla, Prince Phillip dan Queen Elizabeth juga elegan walau sudah berumur. Saya tau, pasti apa yang mereka pakai mahal-mahal, tapi elegan. Tidak terlihat kampungan.
Coba perhatikan wajah-wajah Royal Family, mana ada yang “kinclong” hasil permakan kayak Atut?
Sebagai “pengamat mode amatiran”, saya cuma bisa berpendapat: Coba Atut lepas jilbab dan ubah konsep berpakaiannya, saya yakin dengan uang yang dia punya dia bisa tampil lebih elegan.
Bukan berarti pake jilbab itu jelek. Juga bukan berarti bergaya glamor itu jelek. Tapi, berjilbab dan bergaya glamor seperti Atut Chosiyah, kayaknya nggak “match”. Itu seperti misalnya ada cowok pake atasan batik, bawahnya pake sneakers.
Saya pernah lihat ada foto akad nikah di mana penganten prianya udah rapi-rapi pake baju akad, eh tapi jam tangannya yang model gaul “ngejreng” banget. Nggak match sama baju dan suasananya.
Nah begitu pun jilbab. Kalo emang mau njilbab, ya disesuaikan penampilan seutuhnya. Pake jilbab, tapi make upnya menor, ya elah, lucu banget.
Atut bagus aja kalo pake kerudung, tapi kerudungnya sebaiknya gak usah dipermanenkan. Bisa dipake dan tidak dipake, tergantung pakaian dan acaranya. Kalo jilbab itu kan harus permanen dalam arti ke mana-mana harus dipake.
Kalo style ”non-Islam” kan fleksible. Liat aja Kate Middleton, bajunya beda-beda modelnya. Ada kalanya pake gaun, ada kalanya pake jeans. Jadi variatif. Nah kalo format jilbab nggak bisa sevariatif itu. Jilbab selalu lengan panjang dan celana atau rok panjang. Cuma motif kainnya aja yang bisa dibeda-bedain.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote

hai hai hai.....
.


