Page 14 of 18 FirstFirst ... 41213141516 ... LastLast
Results 261 to 280 of 343

Thread: renungan ndugu v2.0

  1. #261
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    kalo tuhan tidak sesempurna yang dibayangkan, apakah pantes dituhankan?
    apakah bayangan tentang tuhan sudah sempurna?
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  2. #262
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    apakah bayangan tentang tuhan sudah sempurna?
    memang tuhan itu seperti apa sih?

  3. #263
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    saya serahkan kesimpulan itu pada kalian masing2

  4. #264
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    hal2 yang dianggap 'politically correct', memang kadang bisa merepotkan

    kemaren saya membaca artikel mengenai perbandingan penggunaan ucapan selamat natal di inggris dan di amerika. katanya di inggris, orang2 tetep aja menggunakan ucapan merry christmas, ngga peduli latar, dan konotasinya tidak harus berhubungan dengan agama lagi (biarpun sejarahnya memang dari situ). itu cuman ucapan umum untuk musim2 akhir taon yang notabene juga adalah musim natal. sedangkan di amrik, penggunaan merry christmas biasanya perlu dilihat2 latarnya, karena blom tentu orang yang diselamatin selamat natal bakal menghargai ucapan itu, or worse, tersinggung. selain natal (christianity), hanukkah (yahudi) dan kwanza (african) juga adalah hari raya yang terjadi di akhir taon. sehingga, untuk menghindari offending others karena mengambil asumsi salah, maka biasanya dipakai ucapan yang netral aja seperti happy holiday. it makes sense

    so, kemaren2 sebelum cabut dari sesi physical therapy, sebagai basa basi saya nanya si therapist apakah dia ada rencana saat natal nanti. maksud natal saya tentu aja tanggal 25 dalam arti tanggalan merah/libur (secara sekuler, if you will), bukan menanyakan apakah dia merayakan. barangkali dia mo tidur seharian kek ato apa gitu loh well, he is nice enough to say he doesn't celebrate christmas. dia tidak kedengaran offended. cuman saya ngerasa lucu aja. saya tau dia tidak bertujuan untuk memberi 'alasan'. bahkan kupikir dia tidak perlu beralasan. sama seperti saya pun santai aja dan tidak menjelaskan apa2 saat dia mengucapakan selamat natal buatku dengan embel2 'if you celebrate it'.

    yeah, everyone is just trying to be politically correct
    cuman, perlukah sekaku itu?

  5. #265
    pelanggan tetap Hai_Lee's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    830
    kok saya ga merasakan itu yah?
    my host parents tau saya ga merayakan natal, tapi tetep ngucapin merry christmas bahkan sampe ngasih hadiah natal.
    temen-temen saya yang ga merayakan natal juga tetep bilang merry christmas. bahkan sampai saya kira memang mereka semua merayakan 'natal'. mungkin beda yah di kota-kota besar sama kota kecil

  6. #266
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    maybe
    yang pasti sangat dirasakan di dunia profesional ato komersial ya. di kantorku, kalo beli kartu untuk kirim2 ke klien, selalu sengaja nyari yang bernada netral. begitu juga kartu2 ucapan yang diterima oleh kantor. ucapan secara verbal yang kuterima juga demikian. di toko2 pun hiasan natal selalu disertai menorah (walopun pohon natal masih yang paling dominan). begitu juga dengan kartu2 yang kuterima secara pribadi, yang ini memang ada yang kartu natal juga, tapi sebagian pula kartu ucapan holiday generic, biasanya yang kaya gini dikirim oleh keluarga turunan jewish sih dan yang ngetren adalah kartu foto keluarga mereka kurasa faktor bahwa kota ini sangat diverse, mungkin berperan juga

  7. #267
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Spoiler for math:
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    kurasa bahasa indonesia tidak lah begitu math-friendly. sebutan untuk angka2 cenderung panjang2 kalau dihitung sukukatanya per nomor. menyebut angka 9 memerlukan 3 sukukata, apalagi menyebut angka 99, memerlukan 8 sukukata.

    kalo dibandingkan dengan, katakan bahasa inggris, nomer 9 hanyalah 1 sukukata, dan nomer 99 hanyalah 3 sukukata. satu2nya nomer dalam bahasa inggris yang melebihi dari 1 sukukata hanyalah nomer 7, yaitu se-ven. tapi tidak ada yang sampe 3 sukukata hanya untuk satu nomer. apalagi bahasa cina, semua satu sukukata saja, termasuk satuan ratusan maupun ribuan bahkan puluh ribuan, yang padahal inggris maupun indo juga masing2 masih terdiri dari 2 sukukata (ra-tus / hun-dred dan ri-bu / thou-sand).

    intinya? kepanjangan.

    dan angka2 yang mempunyai suku kata yang panjang tidak lah membantu seseorang dalam melakukan hafalan maupun perhitungan secara mental, karena jelas waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sebutan nomer yang terdiri dari satu sukukata tentu lebih cepat dibandingkan yang terdiri dari tiga sukukata. saat komat kamit, bikin haus duluan

    sampe sekarang, saya masih selalu lupa akan nomor telpon di rumah. nomer itu tidak kuhafal di luar kepala, padahal sebenarnya kalo dilihat2, nomornya lumayan 'cantik' dan seharusnya gampang dihafal. kalo ada yang menanyakannya, saya selalu harus melihatnya dulu di daftar telpon di hape. bagaimana harus mengingatinya, karena toh saya tidak menelpon diri sendiri? untuk nomer hape, masih mending ya, surprisingly saya juga masih bisa mengingatnya.

    kemaren saya ditanyain nomor hape. orang2 di sekitarku terkejut ketika melihatku mencoba mengucapkan hafalan nomor telponku dalam bahasa lain, sebelum menterjemahkannya kemudian.

    as i have written before, untuk urusan numeric, bahasa indonesia memang tidak friendly. bahkan menggunakan inggris lebih mudah dan merupakan bahasa kedua favorit saat melakukan perhitungan numerik, followed by dialekku sendiri sebagai pilihan pertama. tapi kurasa ada yang sedikit lebih menarik juga when it comes to numbers. saat melakukan perhitungan numerik, from something as simple as menghitung dari nomor 1 sampe 10 (misalnya lagi menghitung jumlah brapa biji telor di kulkas), rasanya saya lebih lancar melakukannya dalam dialek sendiri. dan kurasa saya bukan satu2nya yang begitu, karena sepupu2ku yang berbahasa ibu yang sama juga demikian. otomatis. reflex. and i realized praktek itu kadang membuat beberapa orang heran.

    well, sebenarnya saya juga heran kenapa bisa begitu.
    kesimpulan awalku masih seperti yang kutulis di atas. but i really thing there is something more, dari aspek bagaimana bagian otak berfungsi. kuingat jaman kuliah dulu, saya tidak bisa mendengar musik sambil belajar yang berhubungan dengan tulisan, biarpun tanpa lirik. tetapi saat lagi belajar/bikin pe-er yang berhubungan dengan hitung2an nomor, sama sekali tidak ada masalah dengan musik, bahkan yang berlirik sekalipun.

    perlu dikaji dengan scan mri dan sensor2 yang ditempel ke kepala saat si subjek lagi menghitung dan menghafal teks dan dilihat perbedaannya kurasa mungkin kajian itu juga udah dilakukan

  8. #268
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    sambil menunggu perubahan tahun lagi dalam bbrp jam, let's do a little reflection ya?

    just like last year, berkesempatan ketemu berbagai sodara lagi dari berbagai tempat yang sudah lama ngga ketemu, some more than 10 years, some more than 20 years, some i had never met before. dari semuanya, yang cukup spesial tentu adalah paman yang udah sepuh, yang udah ntah brapa lama ngga pernah ketemu. bahkan ini pertama kali ketemu anak dan keturunannya. and i was able to make another connection through him to another special family member too. the only sad thing was we could hardly communicate with each other gara2 bahasa but i'm glad i had the opportunity to bring my folks along. who knows, bukannya mo nyumpahin, but this could be the very last time they could meet like this.

    urusan kesehatan, ah well, ngga semulus tahun lalu. still recuperating from the ankle sprain. warna memarnya udah memudar except for a very slight shade.

    urusan kerjaan dan personal development, not quite sure where to start definitely learned some stuff, tapi juga ngga seproduktif yang kuharapkan. nego pengunduran dengan mr bos was definitely quite an experience in any case, it's over now. let's get ready for a new start, shall we? there is something a lot more exciting in the horizon coming early next year prasaan bbrp taon belakangan ini, yang exciting2 kok rata2 terjadi di awal2 tahun ya jadinya kan tiap kali nulis renungan di akhir taon, rasanya kok udah lama banget akhir taon depan mungkin akan merasa hal yang sama lagi

    kejadian yang unexpected that left a very deep impression on me was the case where someone i knew ended his own life and his son's in such a tragic way. i know it just happened, and it seemed so fresh still. and very surreal. Kejadian ini rasanya membuatku kembali berkontemplasi lebih dalam mengenai kehidupan dan kemanusiaan lagi.

    i'm not going to promise myself anything this coming new year, karena tiap tahun juga rasanya mengulangi mantra yang sama aja. i do hope i can be more disciplined, walo saya ragukan kesuksesannya tahun depan

    that's all

  9. #269
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://www.kopimaya.com/forum/showth...-7-deadly-sins

    pride, sala satu deadly sins yang saya sadari adalah pengidapnya, one of my worst sins too. kurasa istilah ini juga mencakup hal yang sangat luas sekali, kadang terkesan abstrak buatku dan masih sering kutebak2 batas border definisi ini. di mana kah batas positif negatifnya? dari semua 7 dosa itu, kurasa pride juga lah yang paling kompleks di antaranya.

    tidak berapa lama yang lalu, sebagai sala satu workshop wajib yang harus kami ikuti di suatu kursus, topik yang diangkat adalah mengenai self-awareness, emotional intelligence, empathy, super-ego/ego/id dan teman2nya.

    kurasa saya cukup self-aware selama ini. cuman kurasa, diskusi hari itu membuatmu melihat diri dan sekeliling lagi dengan sedikit perspektif berbeda. and it that kinda made me wonder too, apakah superego ini yang berperan dalam dosa pride-ku ini? apakah mereka saling berhubungan?

    it's hard to admit your weakness, your insecurities, your ignorance, especially when ego, and pride, are involved. and what about the other spectrum of pride, seperti conceit and vanity, terutama jika seseorang merasa s/he is justified to be so?

    buku pride and prejudice ada banyak quote2 menarik dan ilustrasi karakternya yang banyak mengangkat topik mengenai ini. sala satunya yang sangat meninggalkan kesan adalah quote dari mr darcy ini, persis mengenai itu.

    ``Yes, vanity is a weakness indeed. But pride -- where there is a real superiority of mind, pride will be always under good regulation.''
    di jaman sekarang, mindset kebanyakan orang tentu sudah sangat berubah dibandingkan jaman2 dulu. lagipula kalangan gentry era itu kupikir adalah kalangan minoritas. orang2 skarang jauh lebih aware mengenai social class. bahkan banyak usaha yang dilakukan untuk mengurangi gap education and social class ini. this thing, whatever it is called, adalah sesuatu yang secara publik akan di-condemn secara ramai2. but behind closed doors (or not), dengungan opini seperti mr darcy ini juga kadang masih terdengar.

    anyway
    what am i trying to say here?
    i'm not quite sure either
    it's just something interesting to ponder about.
    and something that i'm consciously trying to study and get rid of.
    tapi sebelum itu, kurasa saya perlu mempelajari diri lagi dengan lebih dalam untuk menentukan, sisi pride manakah yang kumiliki? kurasa perjalanan untuk itu akan panjang, dan mungkin ngga akan bisa secara total dihapus.

  10. #270
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    udah lama ga mampir ya
    *bersih2 pake kemoceng*
    sebenarnya banyak yang bisa ditulis, karena bbrp minggu terakhir ini udah sekian kali mengikuti workshop refleksi diri. but i'll leave it for another time.

    anyway, remember the old days of irc?
    man, it's been a long time

    lagi ada masalah dengan komputer, dan tadi lagi ngetroubleshoot sendiri dan ngeliat dokumentasinya, sala satu direksinya ke freenode. iseng2 mampir deh
    trus mampir ke dalnet juga, dan udah hampir2 lupa panggilan chanserv dll. padahal dulu it was natural.

    bbrp waktu yang lalu saya ngobrol2 dengan temen kos dan mention mengenai irc. he didn't know what it was, even though he is a technical guy. and that struck me, walopun kita cuman beda not even 10 years, rasanya seperti beda generasi i guess that's how it is in the technical world. things change so fast. padahal i was breathing irc in my past life. i ate and lived by irc, created one of the major channels in the community. and now they all seem so far away.

    ah, generation gap
    i'm getting old

  11. #271
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    mungkin begini ya orang yang baru keluar dari penjara
    selama 2 bulan lebih digembleng, dengan jadwal harian yang sangat panjang, sangat terstruktur, dan sangat intensif, tanpa berhenti, terus tiba2 dilepas rantainya, rasanya secara mental jadi bingung harus bagaimana menjalani hidup setelahnya. it feels surreal.

    saat saya mencoba mendeskripsikan perasaan itu pada orang lain, dia mengomentari: "that's called institutionalized"
    whaaa.. t? wait a sec.. where the heck did THAT come from?
    i wasn't expecting that. emangnya saya napi?
    tapi kalo dipikir2, i think he is right on the dot.

    selama ini sering mendengar konsep institutionalized dan impactnya, tapi ngga pernah bener2 mengerti bagaimana rasanya.
    i guess, this is the closest thing i have gone through ya and it takes an outsider to make me realize that.


  12. #272
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    "Science works on the frontier between knowledge and ignorance, not afraid to admit what we don't know. There's no shame in that. The only shame is to pretend that we have all the answers." -- Neil deGrasse Tyson from Cosmos: A Spacetime Odyssey
    great quote

    and even if we look beyond the realm of science, mengesampingkan ego dan membuka diri untuk mengakui ketidaktahuan akan sesuatu, is still a great virtue. kadang memang agak susah dipraktekkan.

  13. #273
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    ngomong2 tentang buah. sudah sekian minggu saya rutin makan pepaya tiap hari. ngga biasanya. terakhir kali makan pepaya se-rutin ini mungkin sejak jaman sd, itu pun diharuskan karena peraturan ortu, bukan atas niat sendiri padahal ini buah yang kita anggap sangat biasa ya. tapi untuk orang asing, ternyata ini buah yang cukup alien, apalagi saya beli pepayanya masih dalam bentuk mentah dan potong sendiri. kalo ngeliat biji2 itemnya yang banyak di dalem, memang agak2 mencengangkan sih

    "is that some kind of melon?"
    "is it a mango?

    ato as simple as "what is that?"


    info simpel yang kita take for granted karena berasal dari daerah penghasil pepaya

  14. #274
    pelanggan tetap Hai_Lee's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    830
    kalo saya di jakarta saya dikasih makan pepaya setiap pagi. bahkan anjing saya juga dikasih makan
    disini kayaknya jarang ada pepaya. padahal di jakarta dinamain pepaya california biar banyak yg beli
    saya sih geli liat biji2nya. biasa suster yang potongin. dan baunya itu loh bikin ga napsu. jadi saya kalo makan sambil tahan napas.

  15. #275
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    iya, di sini memang ngga setiap supermarket ada pepaya sih, kalo ada pun kondisinya blom tentu oke
    dulu di kampung juga tiap hari diharuskan makan pepaya (this is my mom's magic fruit. she believes it can cure all ailments ), padahal saya juga ga suka persis karena baunya itu loh cuman ntah kenapa skarang jadi lumayan suka, mungkin udah lama banget ga makan. saya juga ga bisa motong pepaya dalam bentuk cubes/slices, terlalu licin, yang jadinya saya otomatis nge-grip lebih kuat, tapi kan malah remuk tuh pepaya jadinya so i gave up, and instead of slicing it, biasanya saya split pepaya (yang agak gedean) jadi seperempatan ato sepertigaan, scrap off the seeds, trus saya makannya dengan nge-scoop, kaya orang yang lagi scoop avocado gitu loh, lebih gampang dihandle aja.

  16. #276
    pelanggan tetap Hai_Lee's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    830
    Maybe because old people (especially Chinese ) believes that everything starts in the gut. Pepaya kan bagus buat digestion. maybe that's why?

  17. #277
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://en.wikipedia.org/wiki/Ryan_Fe...ul_conviction)

    barusan nonton acara tv tentang anak muda yang dibebaskan dari penjara atas tuduhan pembunuhan yang tidak dilakukannya. secara teknis dia dipenjara hampir 10 taon, tapi kalo ngeliat timelinenya dari dimulainya investigasi dll (saat dia berumur 17 taon) sampe pembebasan (umur 29), that's about 12 years. time was frozen for this young kid.

    bbrp taon yang lalu saya sempat ketemu dan ngobrol dengan ex-napi yang juga dibebaskan atas aksi kriminal yang tidak dilakukannya, setelah dipenjarakan selama 25 taon. kalo yang ini sudah om2 agak senior.

    untuk yang anak muda itu, rasanya kasian juga, keluar dari penjara, ga da pendidikan, ga da tabungan, ga ada pengalaman kerja, ga da apa2. he is now out in the wild with a handicap. walo kalo diliat dari sisi positifnya, dia masih muda dan semoga masih bisa make up for it. kalo yang udah om2an ato kakek2 waktu dibebaskan, rasanya posisi itu akan lebih disadvantaged. or is it?

    that makes you wonder though, apakah lebih baik membiarkan seorang kriminal terlepas di luar sana, ato memenjarakan orang yang salah?
    which choice does more harm?

  18. #278
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    di satu aspek kehidupanku yang ini, i've done a lot of soul searching.
    saya tau saya sudah mulai merasa complacent. dan saya tau jalan hidup yang ini akan nyaman, yang lurus2 aja, yang diharapkan oleh sekelilingku.
    tapi apakah saya bener2 ingin memilih jalan ini, untuk seumur hidup?

    saya merasa ada panggilan laen, termasuk bbrp hal yang kurang sreg, sehingga kepikiran untuk melepaskan kehidupan yang nyaman dan complacent ini, biarpun ini berarti turning my life upside down, melangkah ke jalan yang lebih unknown and possibily lebih kurang nyaman, dan kuyakin akan membuat orang di sekeliling bertanya2 akan keputusan itu karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan kehidupanku yang sekarang.

    apa yang saya inginkan dari kehidupan yang ini?

  19. #279
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    I would say, you are on the right track
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  20. #280
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    there are two tracks here
    which one is the right track?

    *galau*

Page 14 of 18 FirstFirst ... 41213141516 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •