Kalo ada dosa yg gw lakukan dan gw tau itu salah ya musti ngaku.
Tapi kalo gw malah minta kitab suci yg diubah supaya sesuai dengan apa yg gw lakukan, nah itu yg keterlaluan.
---------- Post Merged at 11:10 PM ----------
Diluar masalah homoseks, gw pikir bahwa Pernikahan adalah perintah Tuhan untuk manusia.
Kalo orang gak percaya adanya Tuhan, dan percaya evolusi, maka gak perlu ada pernikahan... lah monyet gak nikah aja bisa beranak pinak, kenapa manusia repot2 nikah ?
Negara2 di dunia pun mengadopsi konsep pernikahan dari agama.
Pada dasarnya atheisme gak punya konsep pernikahan, maka ikut mengadopsi konsepnya agama.
Atheis di barat mengadopsi konsep pernikahan kristen yaitu satu pria dengan satu wanita, hidup bersama tak boleh berhubungan seks dengan orang lain selama pernikahan.
Atheis di china mengadopsi konsep pernikahan konghucu, satu pria boleh menikahi beberapa wanita, tapi kemudian direvisi jadi mirip versi kristen.
Tapi semua negara itu tetap punya rules, konsep pernikahan yg mengadopsi konsep agama, jadi gak ada negara yg misalnya melegalisasi poliandri (mungkin yg ini saya salah, mungkin india melegalisasi poliandri akibat pengaruh hindu ?)
Jadi akui saja bahwa atheis gak punya konsep nikah, seperti tokoh atheis yg disebut oleh mbok jamu.
Nah otak lu mulai kebuka nih. Qala, bahwa pada awalnya negara memang dikuasai oleh kaum agamawan. Otomatis aturan negara diambil dari ajaran agama. Dengan berjalannya waktu, muncullah ateisme di negara tsb. Logikanya, kaum ateis akan menjadi kaum terbuang di negara tersebut. Tapi, kaum ateis punya pendirian bahwa setiap manusia sama. Karena itu kaum ateis memperjuangkan eksistensi mereka. Salah satu caranya beradaptasi dengan aturan negara yg sudah terlanjur diambil dari ajaran agama tsb. Tapi bersamaan dgn itu mengembangkan sekulerisme di masyarakat agar negara tidak lagi dimonopoli oleh kaum agamawan. Selanjutnya aturan-aturan religius tadi perlahan-lahan akan digantikan dengan aturan-aturan yg mengedepankan kemanusiaan. Manusia bukan lagi obyek tuhan, tapi subyek peradaban (tuhan dilipet-lipet aja, kemudian diselipin di dompet, toh memang tempatnya di situ).
Qala, di masa depan nanti, ketika kaum agamawan sudah punah, pernikahan mungkin tetap diperlukan, tapi bukan dlm pengertian menjalankan ajaran tuhan, melainkan utk mengatur masyarakat agar tidak chaos. Di sini, pernikahan dilihat sebagai kontrak antara dua manusia (kombinasi 1+4 juga boleh) yg mau hidup bersama. Kontrak tsb bisa dilihat sebagai AD/ART-nya keluarga tsb. Sekarang saja sudah ada pasangan istri-suami yg punya kontrak seperti itu, di samping buku nikah. Ini konsekuensi zaman.
![]()
Qala apaan sih?
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
monyet bisa beranak pinak, bisa cari makan sendiri2, gak perlu akte nikah, gak perlu ngurusin hipotek, gak perlu ngurusin warisan dan silsilah keluarga [MENTION=25]AsLan[/MENTION]...masak atheis sama homo lu samain dengan monyet![]()
oow ... yng butuh aturan pernikahan itu manusia yak pur?Originally Posted by purba
kirain klo agama dah punah, manusia dah gak butuh lagi aturan pernikahan![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
Betul, ateis perlu aturan. Ateis jelas kagak butuh tuhan. Namanya saja ateis. Bahkan ateis sejati, kalo denger nama tuhan, mencret-mencet...Originally Posted by AsLan
Gak harus dari agama, dari AD/ART suatu organisasi juga bisa. Namanya saja kontrak.Originally Posted by AsLan
Jangankan manusia, kecoa saja butuh peraturan, Sing.![]()
soal blasphemy
I like thisOriginally Posted by Alip
![]()
Last edited by pasingsingan; 02-01-2014 at 02:14 PM.
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito