kecimpulan :
minum susu bertahun2 cuma untuk selisih sepersekian detik
![]()
kecimpulan :
minum susu bertahun2 cuma untuk selisih sepersekian detik
![]()
sepersekian detik dalam sprint sangat berharga sekali om,
itu usain bolt aja belum bisa pecahin lagi rekornya sendiri
mungkin kebanyakan makan nugget, kurang minum susu![]()
ya itu, Ja
gak semua orang kerjanya lari melulu
dan atlet laripun gak lomba lari saben hari
![]()
Bener om, banyak orang2 di dunia ini yang benci dikasihani, benci memenangkan sesuatu
gara2 lawannya sengaja mengalah..
Saya setuju soal memberikan hadiah ke orang lain, tapi tidak untuk mengalah dalam perlombaan.
Memberikan hadiah kemenangan kepada yang lebih membutuhkan itu soal moral, kesadaran. Tetapi
berusaha memenangkan perlombaan itu lain soal, itu adalah sebuah kewajiban dalam berkompetisi.
Menang ya menang, kalah ya kalah. Kalo nggak ingin menang, ya gak usah ikut perlombaan.
Bener om, tetapi menghargai dan menghormati lawan itu bukan dengan cara mengalah. Justru apabila
kita main secara jujur, bersih dan bersungguh2, lawan2 akan menghargai dan menghormati kita, dan
kitapun akan dianggap menghormati dan menghargai mereka. Itu sebabnya di setiap event2 olahraga
seringkali didengungkan slogan Fair play..
---------- Post Merged at 04:34 PM ----------
Kalo saya bilang sih,
Apa yg dilakukan oleh A itu (kelihatannya) baik, tapi tidak benar..
BERLOMBA adalah PROSES ke tujuan
MENANG adalah HASIL yg dituju
Dgn berorientasi pd HASIL, maka apa yg dilakukan A adalah SALAH. Reasonnya sangat jelas, memberikan kemenangan kepada lawan adalah perbuatan yg MENYALAHI tujuan (untuk) MENANG.
Dgn berorientasi pada PROSES, maka apa yg dilakukan A, menurutku, adalah BAIK. Reasonnya? Tidak ada.
Baik-buruk itu ndak butuh reason. Itu adanya di ranah RASA, bukan ranah RASIO (reason).
Bisakah/mungkinkah itu dirasionalkan? Bisa saja untuk dicoba. Mari sejenak kita lupakan baik-buruk. Mari kita, tapi sejenak juga ya, berebut benar eh maksudku bicara benar-salah.
Benar-salah itu butuh sebuah premis. Dan sebuah premis itu selalu (diasumsikan/disepakati) BENAR. Sehingga, sesuatu disebut benar jika konsisten dgn premis tsb. Sebaliknya, sesuatu disebut salah jika tidak konsisten atau melanggar premis. (Note: Ini ndak/belum bicara "ranah empiris" lho.)
Kita ambil salah satu premis yg bisa dipakai yaitu PERATURAN lomba. Berdasarkan premis ini maka apa yg dilakukan oleh A adalah BENAR. Reasonnya, memberikan kemenangan kepada lawan itu TIDAK MENYALAHI peraturan lomba.
Bagaimana kalo pake premis yg lain? Etika lomba? Fairplay? Sportifitas? Moral? Kesadaran? Kebaikan hati eh maksudnya "kebenaran" hati? Dst. Dsb.
Selama hal tsb tidak terdefinisi dan terukur scr jelas maka itu ndak bisa dijadikan sbg sebuah premis dan, sbg konsekuensi logisnya, lupakan makhluk yg bernama BENAR dan SALAH.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
Numpang OOT...
Bicara soal mendidik anak jadi pengin sedikit sharing eh curcol ding.Originally Posted by Fere
Kalo yg saya alami bukan maunya si bocah, tapi maunya bapaknya.Originally Posted by tuscany
Saya ndak pernah minta, apalagi menuntut, anak2ku untuk menjadi juara 1 di sekolah. Saya maunya mereka persis ada di posisi ke-3. Dan "hadiah/apresiasi", minimal pujian, yg saya berikan akan lebih besar ke mereka dibandingkan kalo juara 1. Kayak becanda, tapi ini serius. I mean it.
Bagi saya, untuk menjadi (bertahan di posisi)juara 1 itu caranya lebih "simpel". Kuncinya cuma satu, ibaratnya, yaitu "pandangan lurus kedepan dan tekan pedal gas polll se-kuat2nya". Sedangkan untuk tetap di posisi ke-3 itu caranya lebih "rumit", butuh kelihaian untuk ibaratnya "kapan pantengin depan kapan menoleh ke belakang, kapan tekan pedal gas kapan injak rem, kapan kasih kapan ambil, dll".
Dan, hidup itu ibaratnya bukan "lomba lari sprint 100 meter". Capek dan bikin kemrungsung. Hidup itu ibarat "lomba lari marathon". Berusaha tetap menjaga posisi pada "rombongan besar di depan" dan tahu kapan waktu yg tepat untuk "melakukan sprint menjelang garis finish". Dan hidup itu "jumlah etapenya jauh lebih banyak dibandingkan jumlah etape dlm lomba long run marathon. Kalah di satu-dua etape ndak masalah, kalo perlu sengaja dilepas, masih bisa ambil etape2 lainnya. Dst."
Dan yg terjadi sampe saat ini adalah...:
Anak kedua (kebetulan aja) dua kali juara 1 (kelas) waktu kenaikan (SD) kelas 1 ke 2 dan kelas 2 ke 3. Waktu naik ke kelas 4 kemarin dia terlempar hanya dapat ranking 14Anaknya langsung terlihat agak down. Sempat murung. Bahkan waktu kasih rapor ke saya pun yg ngasih bojoku krn memang dia yg ambil ke sekolah, anaknya sendiri cuman cengir2 masam mungkin dipikirnya saya akan marah
padahal saya justru "kasihan". Sekarang saya lagi "gembleng" agar dia bangkit lagi untuk bisa merebut...juara 3.
Si bungsu kemarin juara 1 pas naik kelas 2. Sekarang lagi saya "umbar" untuk lebih banyak bermain supaya peringkatnya bisa "turun ke peringkat 3".
Kalo si sulung termasuk yg paling "berhasil". Terakhir pas kelulusan SMP kemarin nilai UN nya alhamdulillah bagus dan dapat ranking di sekolahnya, yaitu...juara 3Dan, yup, se-umur2 dia belum pernah juara 1 di sekolahnya. Lebih seringnya bertengger di 10 besar membuntuti para juara (1-3). Dan si sulung ini terlihat paling "enjoyable" se-hari2nya. Mudah2an nanti menular ke kedua adiknya. Aamiin.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
^^
saya suka cara om 234.. lebih suka lagi kalau ada sekolah yang kasih
evaluasi individu tanpa menerapkan sistem ranking
^
Setuju. Evaluasi individu.
Itu sebenarnya sudah diterapkan di sekolah bungsu saya. Ranking tidak diumumkan. Tapi pas ambil rapor, orang tua secara personal berdialog dgn wali kelas menyangkut perkembangan anak di sekolah, tapi wali kelasnya kemarin memang kasitau ranking si anak di kelas langsung ke saya. Bahkan anak saya pun tahunya dari saya, bukan dari sekolah/guru. Dan dalam hal ini, saya pribadi memang merasa perlu tahu ranking si anak sbg salah satu tolok ukur untuk mengarahkan anak pd jenjang selanjutnya.
Kalo anak pertama, dulu waktu SD, sistem di sekolahnya lain lagi. Ranking tidak diumumkan, tapi pas ambil rapor selalu dikasih lampiran rekap nilai kelas dus otomatis rankingnya ketahuan dari situ bahkan si anak juga tahu berapa nilai temen2nya.
Nah kalo anak kedua sekolahnya memang jelas2 menerapkan sistem ranking scr terbuka. Daftar ranking ditempel besar2 di tempat umum di sekolah. Pas ambil rapor jadi tempat bergerombol para orang tua sambil saling ngerumpi ngebahas (suwer samber gledek saya ndak pernah ikut2an lho hehe...)
Itu yg membuat anak saya sempet shock waktu kenaikan kelas kemarin namanya ada di urutan 14.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
di tempat anak saya juga gak pake ranking, tapi pake berat badan
namanya juga posyandu
** numpang oot
di tempat saya juga gak pake ranking,
yang muda sadar diri keliling ngambil jimpitan
namanya juga pos ronda..
**numpang eksis
Eh pernah baca sik, emang orang kreatif itu kebanyakan suka curang
Tapi dalam kasus ini menurut gw anak itu bukan curang. Dia cuma mau melakukan apa yg dia ingibkan dengan cara yg wajar. Kali aja dengan gitu win win solution. Jadi ga ada yg merasa dirugikan
You were born with the ability to change someone's life - don't ever waste it.
jadi inget waktu umur 10 tahun, tes masuk smp katolik di jakarta.
sebelum tes gw kenalan sama satu anak, trus tes nya bareng sebelahan.
gw liat dia gak bisa ngerjain test.
karena simpati, gw sengaja gak ngerjain banyak pertanyaan, kita berdua gak diterima.
cara pikirnya anak kecil gak selalu selogis kita yg udah dewasa...
Mbaca cerita om 234, kalo diingat-ingat ternyata orang tua saya juga nggak pernah nuntut saya ranking 1, jadinya saya termasuk siswa dan mahasiswa yang (kelewat) santai![]()
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
Kalo gw bilang bukan curang, keluar dari belenggu rutinitas, laen daripada yang biasa, out of the box. Jaela bahasa gw
Yup, maklumin ajahh namanya juga anak-anak, yang penting hepiii, biarin aja si fere sendiri yang pusing mikirin kenapa anak itu begini-begitu*kaboooor
![]()
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
Kalo menurut saya, itu karena 'orang curang itu memang kreatif', meskipun 'orang kreatif itu belum tentu curang'. Dengan kata lain, hanya orang kreatif yg bisa (lebih leluasa) berbuat curang.Originally Posted by Serendipity
Orang yg ndak kreatif mungkin pernah coba2 berbuat curang, tapi ya jelas aja langsung ketahuan curangnya lha wong namanya juga ndak kreatif. Dan ndak ada orang yg pengin curangnya ketahuan. Ndak ada orang suka dibilang curang. Itulah yg membuatnya kapok ndak mau eh ndak bisa curang lagi, kecuali disamping ndak kreatif dia juga punya sifat...tukang ngeyel.
Setuju. Dan logika (BENAR) itu bukan se-gala2nya. Ada "nilai2 lain" (BAIK) yg juga mesti diajarkan dan ditanamkan pd anak. Dan itu, idealnya menurutku, harus seimbang dan ditempatkan pada tempat yg semestinya masing2, bukan dicampur-adukkan semaunya apalagi dibolak-balik.Originally Posted by Aslan
Dlm kasus A, bagaimanapun, menurutku A telah menempatkan sesuatu (meskipun baik tapi) bukan pada tempat yg semestinya. Itu yg mesti diarahkan ke si anak, tentu saja juga harus dgn cara yg "baik dan benar".
Salah ya salah, baik ya baik. Yg salah diluruskan spy benar dan yg baik dipertahankan spy tetap baik.
Sayangnya, kata 'santai' itu terlanjur cenderung dikonotasikan sbg sesuatu yg negatif (malas). Padahal menurutku itu seharusnya dilihat scr netral.Originally Posted by Tuscany
Dan sayangnya lagi, saya dulu memang termasuk siswa/mahasiswa yg malas shg hasilnya ya...bubar jalan.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
iya ada tapi jarang bu mantri, apalagi di sekolah negeri![]()
Nah, ini lho sebenernya yang pengen saya katakan, "kreativitas" si A seperti yang ditunjukkan dalam
iklan susu itu tidak tepat jika diterapkan dalam sebuah pertandingan olahraga.
Pertandingan olahraga itu tempat dimana para atlet menunjukkan skill, saling bersaing menjadi yang
terbaik, baik kemenangan maupun kekalahan sebisa mungkin diraih dengan cara2 yang fair dan sportif.
Memang benar hingga sekarang belum ada pelarangan memberikan kemenangan kepada lawan, tapi ini
jelas2 melanggar etika berkompetisi. Apa asyiknya sebuah pertandingan olahraga jika ada pihak2 yang
sengaja mengalah..?
Dan di dunia olahraga jika terjadi suatu kemenangan ataupun kekalahan yang tidak wajar, pasti akan
menjadi perhatian khusus oleh pihak2 yang berwenang menangani masalah ini. Kenapa..? Karena hal
ini patut diduga adanya indikasi praktek2 yang dilarang keras dalam olahraga, suap misalnya.
setuju. Untuk itu baiknya si A dihukum saja tidak boleh mengikuti pertandingan olahraga
seumur hidup, karena perbuatan curang yang si A contohkan ditayangkan oleh televisi
secara nasional sehingga berpotensi merusak moral anak bangsa.
^
Nggak sekalian dihukum mati, ja..?![]()