Page 3 of 5 FirstFirst 12345 LastLast
Results 41 to 60 of 92

Thread: Miss World dan Kecemburuan Nilai

  1. #41
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Mereka jelas gak bisa pake bikini, karena larangan agama (udah dijelaskan di artikel). Kecemburuan itu muncul karena ada kesenjangan nilai yang jauh. Antara konservatifisme dan modernisme. Bukan sekedar soal bikini.

    Psikologi kecemburuan ini mirip dengan sikap orang muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan, yang “risih” melihat orang-orang makan atau warung buka di bulan Ramadhan, terus mensweeping atau mengkomplain.

    Atau dalam kasus penolakan gereja di lingkungan mayoritas muslim. Dasarnya juga kecemburuan. Takut “dakwah kristen” bisa mempengaruhi warga muslim sekitar, sehingga banyak yang masuk kristen. Itu aja.
    Harus ane akui, ente jeli menjelaskan faktor yang membuat mereka cemburu
    Menurut ane gak sebatas konservatif atau modern, tapi udah ampe mendarah daging. Enggak bisa dirubah, karna udah pakemnya seperti itu.
    Mulai dari ngerasa risih di saat bulan puasa, ngeliat orang makan. Ya apa mau dikata, namanya juga cemburu kalo sikapnya lempeng enggak akan marah-marah gitu ngeliat orang makan
    Dalam kasus penolakan gereja di masyarakat mayoritas muslim, juga jelas bahwa kecemburuan mereka merajalela. Tapi mereka cuma berani di kandangnya aja. Coba kalo di Negara non muslim, apa berani ngelarang orang ngediri'in tempat ibadah umat lain

  2. #42
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Emang jg dasarnya karena ini tanah ane. Masuk sini baek2.. kata bang jali..
    Kalo masalah protes di negara lain banyaklah. macam anti perang, anti zionis, dlsbgnya.

  3. #43
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Mereka jelas gak bisa pake bikini, karena larangan agama (udah dijelaskan di artikel). Kecemburuan itu muncul karena ada kesenjangan nilai yang jauh. Antara konservatifisme dan modernisme. Bukan sekedar soal bikini.

    Psikologi kecemburuan ini mirip dengan sikap orang muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan, yang “risih” melihat orang-orang makan atau warung buka di bulan Ramadhan, terus mensweeping atau mengkomplain.

    Atau dalam kasus penolakan gereja di lingkungan mayoritas muslim. Dasarnya juga kecemburuan. Takut “dakwah kristen” bisa mempengaruhi warga muslim sekitar, sehingga banyak yang masuk kristen. Itu aja.

    ---------- Post Merged at 02:55 PM ----------

    Nah, komentar saya pada thread di atas bisa menjadi bahan perenungan. Ini terkait soal "kecemburuan".

    Sikap jealous juga dipicu oleh mental inferior/minderan ketika berhadapan dengan nilai-nilai baru (modernitas). Muslim yang bermental inferior, memandang apapun nilai-nilai baru (apalagi yang berasal dari luar Islam) sebagai ancaman bagi identitas dan eksistensi nilai-nilai Islam.

    Kelompok muslim konservatif sepertinya khawatir bahwa kalau nilai-nilai Miss World menjadi ‘trend’, maka itu akan mengalahkan niZlai-nilai Islam.


    Era globalisasi adalah era kompetisi nilai-nilai. Mental inferior dan minderan akan takut eksistensi dan identitas adat/suku atau agamanya luntur digerus nilai-nilai baru.
    Hmm.. Mbok masih ndak bisa melihat di mana letak kecemburuannya. Kalau soal puasa, muslim ndak dipaksa untuk puasa koq. Lingkungan mbok di sini kalau ndak Kristen ya Atheis, mereka makan, ngopi, ngudud di depan mbok, it does not bother me. Toh habis maghrib mbok bisa makan, ngopi, ngudud dan rasanya jauh lebih nikmat karena those little things that we had taken for granted have become a reward.

    Mbok pikir kekhawatiran lebih tepat daripada bukan kecemburuan. Ndak khawatir kah anda kalau anak perempuan anda masih kecil sudah ikut-ikutan kontes kecantikan? Ndak khawatir kah anda melihat anak perempuan anda pergi kencan memakai hotpants menonjolkan pipi-pipi bawahnya coz it is considered as a beauty dalam kontes bikini?

    Dan jangan salah, kontes-kontes seperti ini ndak hanya diprotes oleh kelompok Islam saja lho..

  4. #44
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    kalo saya boleh jawab jujur dr otak dangkal saya...

    jikalau saya sdg bercermin skrg...

    saya jg mikir kenapa saya mau membaca atau mereply utk thread ini...

    mungkin saya cm iri krn ga ada kerjaan, atau iri krn si A atau si B lbh pinter dari saya, ato sejenisnya...

    ya, kalo itu kalo bercermin sih... irikah saya? mungkin ya, meski ga yakin iri sama apa.

    postingan ini ga sesuai konteks yg ingin dibahas TS sih.
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  5. #45
    pelanggan setia aya_muaya's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    semarang
    Posts
    5,884
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Mereka jelas gak bisa pake bikini, karena larangan agama (udah dijelaskan di artikel).
    Eh, mau ngelurusin dikit, gak ada larangan agama buat make bikini....

    Yang ada larangan buat mamerin aurat dan mengundang syahwat atau birahi...
    Percayai apa yang ingin kau percayai
    Dan hiduplah seperti apa yang kau inginkan….

  6. #46
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by purpose View Post
    Harus ane akui,
    ente jeli menjelaskan faktor yang membuat mereka cemburu
    Menurut ane gak sebatas konservatif atau modern, tapi udah ampe mendarah
    daging. Enggak bisa dirubah, karna udah pakemnya seperti itu.
    Mulai dari ngerasa risih di saat bulan puasa, ngeliat orang makan. Ya
    apa mau dikata, namanya juga cemburu kalo sikapnya lempeng enggak akan
    marah-marah gitu ngeliat orang makan
    Dalam kasus penolakan gereja di masyarakat mayoritas muslim, juga jelas
    bahwa kecemburuan mereka merajalela. Tapi mereka cuma berani di
    kandangnya aja. Coba kalo di Negara non muslim, apa berani ngelarang
    orang ngediri'in tempat ibadah umat lain
    makanya, emang muslim bebas bikin tempat ibadahnya di negara non muslim? dan mereka menuruti aturan yg diberlakukan negara tsb. bagaimana dgn kasus2 yg ada di tanah air? ngemengnya juga obyektip, kagak asjep penting nyerang muslim dong situ. btw, byk negara mayoritas muslim ga memaksa muslimah berhijab, jadiii yg pada pake yg atas kesadaran sendiri, masak iya jeles sama miss2an ga penting geto. aduh, mau eksis byk cara tanpa ngurusin miss2an getow

  7. #47
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Tidak hanya pakaian, begitu juga tata pergaulan dalam peradaban modern. Saya tidak bicara “seks bebas”, “perzinahan”, “narkoba”, “mabuk-mabukan” atau apapun yang oleh muslim fanatik secara keliru sering diasosiasikan dengan “kemodernan”. Saya bicara tata pergaulan modern yang wajar. Di mana laki-laki dan perempuan bisa berkumpul dan bergaul bersama dengan wajar, equal, bersentuhan dengan wajar (salaman, pelukan, dsb). Hal itu sesuatu yang natural dalam bersosialisasi, tetapi “haram” dalam nilai-nilai Islam yang konservatif.
    Natural buat siapa? Kalo buat anda natural apa otomatis buat orang lain juga natural? Jangan memaksa orang lain memakai sepatumu, ukuran kita masing-masing beda.

    Di sinilah, pada muslim konservatif, terjadi ‘bentrok pikiran’. Melihat dinamika tata-nilai modern, mereka “pingin kayak begitu”, tapi tidak bisa, karena dibatasi oleh prinsip-prinsip dasar yang mereka yakini. Akhirnya timbul sikap “denial”, sikap menyatakan “tidak suka” terhadap kehidupan modern yang demikian untuk menutupi ketertarikan alamiah tersebut.
    Sebenarnya mereka bukan tidak suka, tetapi iri. Mereka merasa “capek-capek” secara ketat mengamalkan ajaran agama, sementara orang-orang dengan enaknya menikmati hidup dengan bebas dan berwarna. Sekali lagi, mereka cuma iri.
    Kalo sampe iri dengan kehidupan modern berarti belum masuk kategori konservatif tuh.

    con·ser·va·tive (kn-sûrv-tv)
    adj.
    1. Favoring traditional views and values; tending to oppose change.

    Rasa iri tersebut terpendam, dan hanya “meluap” pada momentum-momentum tertentu. Misalnya ajang Miss World.
    “Kecemburuan”, itu pangkalnya.

    Sama seperti wong-wong cilik yang teriak-teriak anti kapitalisme. Pada dasarnya bukan soal kapitalisme itu baik apa buruk, tetapi kecemburuan sosial pada kaum “pemilik modal”. Andai wong- wong cilik yang menghujat kapitalisme itu kita kasih per-orang 100 juta, niscaya mereka bakalan diam, anteng. Mereka mulai buka usaha dengan modal yang diberikan, dan menjadi kaum “pemilik modal” yang sebelumnya mereka hujat.
    Kata andai yang sangat berbahaya dalam sebuah argumen karena tidak perlu membuktikan benar tidaknya tau-tau jadi benar aja . Siapa bisa membuktikan konsekuensi andai itulah yang akan terjadi? Mungkin saja dikasi modal 100 juta lalu masing2 beli senjata dan merampok si kapitalis untuk mendapatkan lebih banyak lagi.

    Pada wong-wong cilik, mereka tidak anti terhadap kepemilikan modal. Mereka cuma tidak mampu menjadi pemilik modal. Pada muslim konservatif, mereka tidak anti terhadap tubuh perempuan. Mereka hanya tidak bisa melihat dan berhubungan dengan perempuan dengan bebas dan wajar, karena faktor larangan agama yang mereka yakini.

    Kalau pada wong-wong cilik tersebut merupakan “kecemburuan sosial”, maka pada muslim konservatif adalah “kecemburuan nilai”.
    Berdasarkan andai di atas

    Sementara kelompok muslim yang agak moderat, mampu mensintesakan antara modernitas dengan dogma agama. Maka, muncullah, sebagai contoh saja, aneka “jilbab gaul” yang modis dan menarik. Atas jilbab, bawah jeans ketat. Dengan wangi parfum, make-up dan aksesoris cantik, mereka bersosialisasi secara normal.

    Saya tidak memandang sintesa tersebut secara positif. Saya justru memandangnya secara sinis. Fenomena “jilbab gaul” yang beraneka warna dan trendy, itu seperti anda memasang kloset duduk tetapi dalam pemakaiannya tetap jongkok.

    Anda kepingin menaruh sesuatu yang dianggap modern, tetapi tidak bisa meninggalkan “tradisi lama”. Akhirnya wagu: Klosetnya duduk, beraknya jongkok. Gaul, akrab dengan gadget, aktif di jejaring sosial, mengenakan aksesoris trendy, wangi dan sexy, tapi masih berjilbab yang merupakan nilai-nilai agama yang konservatif.
    Jelas sekali anda menganggap bahwa semua muslimah dalam pandangan anda tidak boleh gaul, wangi dan trendi. Mana yang tentang (pria) muslim? *misogyny detected.

    Kelompok muslim/muslimah yang agak moderat seperti itu, biasanya tidak anti terhadap Miss World. Ini sisi positifnya. Karena mereka telah “melampiaskan” hasrat modernitasnya pada gaya berjilbab mereka, maka tingkat kecemburuannya terhadap modernitas kecil, bahkan tidak ada. []
    Muslim yang tidak anti terhadap Miss World itu banyak alasannya. Berjilbab gaul adalah satu-satunya alasan yang TS bisa pakai sebagai justifikasi bahwa ada kompromi dari kecemburuan nilai. Jadi bukan misogyny ternyata tapi karena hanya itu celah untuk menyatakan bahwa muslim kalo modern itu pasti ada yang salah. Karena kalo nggak modern lebih gampang untuk bilang bahwa si konservatif menolak Miss World berdasarkan alasan kecemburuan nilai.

    In sum:
    Buat saya pribadi teori kecemburuan nilai berdasarkan pengandaian jatuhnya maksa. Asumsi yang tidak bisa dibuktikan tidaklah valid.
    Lalu jilbaber gaul hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan komunitas muslim/muslimah modern, dianggap sebagai suatu kesalahan, eh ndilalah digeneralisasi menjadi semua muslim modern tidak anti dengan Miss World karena sudah terlampiaskan hasrat modernitasnya.

    Yah, you only see what you want to see...
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  8. #48
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Kalo yg nonton kontes bikini itu pure seniman yg berketuhanan mereka akan berdecak kagum karena keindahan ciptaan Tuhan.

    Nah kalo yg nonton..... Ah, gak jadi deh.

  9. #49
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    ah cursed jahat si isha doang yang ditawarkan..
    lho, kamu kan ngga perlu di ajak 'keluar kotak' lagi.
    emang di turkish town ada apa?
    Tempat cuci mata dan isi perut yang asik, banget.

    Buat gue, yang bikin gue ngga sreg dengan acara miss2an kayak gini adalah: berasa shallow aja ini acara. Dan bikin gue inget adegan Miss Congeniality. World Peace !

    Dan sejujurnya, setau gue, acara miss2an kayak gini emang selalu jadi 'bulan2'an, kok. Kalo di bilang 'Iri tanda tak mampu' sebagai motivasi utama ke tidak sukaan...... welp, kelompok feminis, tuh salah satu kelompok, yang cepet aja terlintas di kepala gue, yang nggak perlu pake alasan 'syariah' buat nggak suka acara miss2an ini.

    Dan pake hijab jadi alasan buat jadi 'jelek'.... oalah, mas, kata temen2 gue: Cakep itu relatif, Jelek Absolut.
    Obviously, mas Isha ini belom pernah ketemu sama mbak yang ngisi loesung seminar di kelas gue.
    Atau mbak2 rusia yang buka lapak kupluk sama bapaknya di jalan <rahasia>.
    Clue aja: Gue and crew pada pengen manggil Abi sama si pak tua itu.
    Last edited by TheCursed; 08-09-2013 at 04:56 AM.

  10. #50
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Mereka jelas gak bisa pake bikini, karena larangan agama (udah dijelaskan di artikel). Kecemburuan itu muncul karena ada kesenjangan nilai yang jauh. Antara konservatifisme dan modernisme. Bukan sekedar soal bikini.
    Memang bukan sekedar bikini, itu hanya representasi saja. Tapi cemburu sebagai penyebab aksi anti-miss-world adalah alasan yg terlalu mengada-ada. Ini mungkin karena perspektif ente yg melihat "jilbab" (baca:konservatifisme) lebih rendah dibandingkan dgn "bikini" (baca:modernisme). Ane setuju bahwa jilbab dan bikini adalah dua nilai yg berbeda, tetapi apakah itu adalah sebuah kesenjangan, seperti bumi dan langit? Ane kira tidak.

    Tambahan lagi, larangan agama adalah larangan semu. Karena itu ane bilang tidak ada halangan sedikit pun bagi mereka yg berjilbab utk berbikini. Sangat berbeda dengan orang Papua yg tidak bisa mengakses lahan Freeport. Itu larangan nyata. Larangan nyata seperti itulah yg menimbulkan kecemburuan.

    Ini sama saja dengan aksi ular mematuk. Ular mematuk bukan karena merasa kuat utk menyerang tetapi merasa lemah utk melarikan diri. Demikian juga dgn aksi atau sikap anti terhadap sesuatu, bukan melulu berarti cemburu dgn sesuatu tsb, tetapi bisa juga karena jijik dgn sesuatu tsb.


  11. #51
    Quote Originally Posted by BundaNa View Post
    makanya, emang muslim bebas bikin tempat ibadahnya di negara non muslim? dan mereka menuruti aturan yg diberlakukan negara tsb. bagaimana dgn kasus2 yg ada di tanah air? ngemengnya juga obyektip, kagak asjep penting nyerang muslim dong situ. btw, byk negara mayoritas muslim ga memaksa muslimah berhijab, jadiii yg pada pake yg atas kesadaran sendiri, masak iya jeles sama miss2an ga penting geto. aduh, mau eksis byk cara tanpa ngurusin miss2an getow
    Lah kok jadi balik nanya ta'? kita lagi ngomongin negara sendiri dulu. Yang ane liat orang sana, bolehin aja bangun tempat ibadahnya muslim tuh. Tidak ada aturan yg memberatkan.

    Gak usah jauh-jauh ke negara orang, coba ke Aceh aja liat. Apa iya wanita bisa jalan-jalan kalau gak pake jilbab?

  12. #52
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by purpose View Post
    ...

    Gak usah jauh-jauh ke negara orang, coba ke Aceh aja liat. Apa iya wanita bisa jalan-jalan kalau gak pake jilbab?
    Pertnyaan: Aturan ini hasil konsensus Masyarakat Aceh, atau Pejabat Aceh? Ada yang tau?
    A proud SpaceBattler now.

  13. #53
    pelanggan tetap PERMANDYAN's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    denpasar - bali
    Posts
    1,790
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Pertnyaan: Aturan ini hasil konsensus Masyarakat Aceh, atau Pejabat Aceh? Ada yang tau?

    moengkin ini bisa membantoe...


    http://muammar-arafat.blogspot.com/2...-muslimah.html

  14. #54
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by PERMANDYAN View Post
    ^Kedengerannya kayak konsensus Masyarakat, yah ? Kayak aturan orang jepang lepas sepatu sebelum masuk rumah.
    Cuman di bukukan sebagai Undang2 sebagai respek terhadap perjuangan rakyat Aceh semasa DOM.

    Seharusnya sih, Dimana bumi di pijak... and When in Rome....
    A proud SpaceBattler now.

  15. #55
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    ^^ peraturannya ngeri bgt, agaknya bumi sekarang bukan lagi milik manusia... tapi udh jadi milik islam (paling ngga itu terjadi di beberapa tempat)
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  16. #56
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Miss World diadakan di Bali yang mayoritas Hindu. Masyarakat adat Hindu menerima, tapi malah ormas-ormas Islam dari luar Bali yang ribut menolak. Apa itu kalo bukan jealous?


    Modernitas memang penuh warna dan dinamis. Sementara konservatifisme agama adalah sesuatu yang kaku, dingin dan statis. Ini adalah kesenjangan nilai yang jauh, yang berpotensi memunculkan sikap 'jealous' di kalangan konservatif.


    Kalau dalam modernitas ada hal-hal yang bertentangan dengan asas-asas kepercayaan, ya tidak usah diambil. Gampang aja sebenarnya.


    Tapi sikap atau upaya melarang orang lain untuk mengamalkan nilai-nilai modern yang berbasis kebebasan dan equality, jelas adalah bentuk kecemburuan nilai-nilai yang dibalut dengan alasan "ajaran agama".


    Orang yang iri gak akan ngaku iri. Mereka akan mencari alasan lain supaya penolakan dan penentangan terhadap sesuatu menjadi tampak logis.


    Sikap jealous juga dipicu oleh mental inferior/minderan ketika berhadapan dengan nilai-nilai baru (modernitas). Muslim yang bermental inferior, memandang apapun nilai-nilai baru (apalagi yang berasal dari luar Islam) sebagai ancaman bagi identitas dan eksistensi nilai-nilai Islam.

    Kelompok muslim konservatif sepertinya khawatir bahwa kalau nilai-nilai Miss World menjadi ‘trend’, maka itu akan mengalahkan nilai-nilai Islam.


    Era globalisasi adalah era kompetisi nilai-nilai. Mental inferior dan minderan akan takut eksistensi dan identitas adat/suku atau agamanya luntur digerus nilai-nilai baru.


    Tetapi ketika suatu nilai adat/suku atau agama memiliki DAYA TAWAR YANG TINGGI terhadap nilai-nilai baru, maka nilai-nilai adat/suku atau agama tersebut akan BERDIRI GAGAH menyambut nilai-nilai baru tersebut sebagai bagian dari keragaman manusia. Contohnya nilai-nilai adat/suku orang Hindu Bali. Makanya, orang Hindu Bali nggak khawatir bahwa alkohol dan bikini yang tiap hari ada di pantai, bisa melunturkan kekhusyukan kehidupan beragama di Bali.

    Kenapa begitu?

    Karena masyarakat adat Hindu Bali memiliki daya tawar yang tinggi terhadap perubahan. Hindu Bali itu eksotik, spiritualistik dan unik. Bali menjadi terkenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena adat-budayanya.

    Bandingkan dengan Islam, terutama Islam yang diaplikasikan secara jumud di Aceh.
    he jgn salah dalam masyarakat HINDU Bali minuman beralkohol itu halal lho... kalo masalah bikini sih mereka juga gak kalah sexy kok liat aja kalo ada upacara agama cewek2nya pada pake pakaian tembus pandang.....

  17. #57
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Pertama,
    Alih-alih istilah fanatik, saya lebih suka menggunakan istilah Puritan. Istilah ini lebih mengena untuk dialamatkan pada kelompok-kelompok yang dituju oleh artikel-nya TS di awal utasan ketimbang fanatik, karena istilah fanatik bisa saja diterapkan pada siapa saja yang menjadikan suatu ajaran sebagai pegangan hidupnya. Bagi saya, kaum Islam liberal sekalipun adalah kaum fanatik.

    Kedua,
    Saya setuju bahwa sikap intoleran biasanya muncul dari kondisi tertekan, terbelakang atau terpinggirkan, yang akhirnya bermuara pada kemarahan dan kecemburuan terhadap pihak lain yang memiliki sikap, gaya hidup, dan derajat ekonomi yang berbeda. Tapi saya tidak sepakat kalau dikatakan bahwa protes yang dilakukan oleh beberapa ormas Islam terhadap kegiatan "nona dunia" di Bali berangkat dari sikap ini.

    Saya lebih melihat fenomena ini sebagai ketidaksetujuan kaum puritan terhadap penyelenggaraan kegiatan yang bertentangan dengan prinsip hidup yang mereka anut, bukan karena mereka iri terhadap kegiatan itu. Sebagai buktinya, lihat bagaimana ormas-ormas itu bersikap terhadap kegiatan -misalnya- abang-none Jakarta, Mojang Jajaka Bandung, KangMas Diajeng Jogja, yang semuanya berangkat dari budaya lokal meski secara konsep tetap ajang adu cantik-rupawan.

    Saya melihat penghubungan antara sikap inferioritas yang dialami kebanyakan kaum puritan dengan penolakan mereka terhadap ajang 'miss world' sebagai hal yang tidak berdasar. Penghubungan ini melupakan fakta bahwa di Indonesia jilbab bukan merupakan kewajiban yang dipaksakan oleh hukum positif yang didukung oleh negara. Kebanyakan perempuan mengenakan jilbab setelah melalui proses persuasif panjang dari para teman-teman, guru, lingkungan, dan sebagainya. Sehingga keputusan untuk mengenakan jilbab datang dari keinginan si perempuan sendiri, bukan karena paksaan ancaman sangsi dari negara (kecuali belakangan ini di Aceh, tapi kita bicara demo yang dilakukan di banyak daerah, kan?). Tentunya perempuan-perempuan seperti ini tidak perlu merasa iri terhadap mereka yang mengenakan bikini...

    Bahwa mereka protes terhadap suatu kegiatan yang mereka anggap berselisih dengan nilai yang mereka anut, saya juga tidak melihat ada unsur negatif dalam hal ini. Wajar saja jika seseorang atau suatu kelompok mengungkapkan suara mereka yang anti terhadap pola hidup lain. Nyatanya hampir semua negara sibuk mendidik generasi muda mereka dengan ideologi kebangsaan dan nasionalisme masing-masing.

    Sebagai analogi,
    Saya adalah orang yang anti rokok, dan secara keras menerapkan aturan anti rokok di rumah saya. Saya memboikot semua acara yang disponsori oleh rokok, dan secara terang-terangan meninggalkan lingkungan yang dipenuhi asap rokok.

    Jika saya ikut kegiatan protes pada hari anti tembakau nasional, tentunya saya bukan iri pada orang-orang yang bisa merokok (get real), tapi karena lintingan tembakau jahanam itu bertentangan dengan ideologi saya dan saya punya hak untuk menyuarakan ketidaksukaan itu.

    btw, OOT sedikit...
    Saya ikut menandatangani petisi tidak setuju atas pembangunan gereja yang berkasus itu... yang kebetulan dekat lingkungan saya tinggal. Tapi bukan masalah agama, semata-mata karena gereja itu membuat lalu lintas jadi macet parah, terhambat oleh jemaat yang parkir di bahu jalan yang 95% bukan penduduk setempat. Demikian pula alasan ketidaksetujuan dari para tetangga saya.

    Kami sudah mengajukan alternatif lokasi dan pengaturan parkir, tapi banyak orang kelihatannya lebih suka menjadikan ini sebagai kasus penindasan agama. Tell me who's having troubled mind now?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  18. #58
    pelanggan second_life's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    again, on my second life
    Posts
    434
    maap OT dikit, tp itu peraturan 'wajib pake jilbab' ny serem sekali ya kayaknya.
    sepertinya jadi ada unsur paksaan kalau begini. bikin muslimah terpaksa pake jilbab kalau ga mau kena hukum. padahal, setauku (CMIIW) pemilihan make jilbab/ga itu bebas berdasarkan pribadi masing2.
    apalah artiny make jilbab kalau jiwanya ga rela, ga niat. ttp aja tingkahny ga akan sesuai dengan jilbabnya *teringat pernah liat ce pake jilbab tp bajuna ketat bgt*

  19. #59
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by Silvercheeks View Post
    ^^ peraturannya ngeri bgt, agaknya bumi sekarang bukan lagi milik manusia... tapi udh jadi milik islam (paling ngga itu terjadi di beberapa tempat)
    Selama ini bumi memangnya milik manusia?
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  20. #60
    pelanggan setia aya_muaya's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    semarang
    Posts
    5,884
    Quote Originally Posted by Silvercheeks View Post
    ^^ peraturannya ngeri bgt, agaknya bumi sekarang bukan lagi milik manusia... tapi udh jadi milik islam (paling ngga itu terjadi di beberapa tempat)
    Mana aja contohnya? Pengen tahu..

    ---------- Post Merged at 07:35 PM ----------

    Quote Originally Posted by second_life View Post
    maap OT dikit, tp itu peraturan 'wajib pake jilbab' ny serem sekali ya kayaknya.
    sepertinya jadi ada unsur paksaan kalau begini. bikin muslimah terpaksa pake jilbab kalau ga mau kena hukum. padahal, setauku (CMIIW) pemilihan make jilbab/ga itu bebas berdasarkan pribadi masing2.
    apalah artiny make jilbab kalau jiwanya ga rela, ga niat. ttp aja tingkahny ga akan sesuai dengan jilbabnya *teringat pernah liat ce pake jilbab tp bajuna ketat bgt*
    Setahu gw, perintah berjilbab atau menutup aurat itu setara wajibnya dengan sholat, zakat, puasa ramadhan,,, dan tidak ada paksaan, memang, secara rela, tidak ada paksaan dalam beragama islam.. Rela beragama islam atau tidak...

    Tapi jika sudah memilih ya harus patuh...

    Ini pemahaman dangkal ane sih...

    Gak niat, gak rela melakukan perintah agama yang ia pilih? Aneh loh menurut gw... Tapi ini cuma perasaan gw doank sih... Cmiiw...
    Last edited by aya_muaya; 09-09-2013 at 08:38 PM.

Page 3 of 5 FirstFirst 12345 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •