Page 4 of 5 FirstFirst ... 2345 LastLast
Results 61 to 80 of 89

Thread: Pidato Yang Menampar Dunia Pendidikan

  1. #61
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    At the end of the day, it is YOUR life.

    Only YOU can make the best of it, NOT your teachers, NOT even your parents.

  2. #62
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    ....
    dalam video ini, yang ditekankan oleh valedictorian ini adalah sistem pendidikan sekolah umum di amrik ini yang terlalu fokus pada standardized exams, dan memproduksi murid sebagai robot bukannya menginspirasi, potensi2 murid banyak yang tidak tergali. tapi tentu aja, dalam hal ini pasti ada 2 sisi yang berperan, sekolah dan individu murid. bisa jadi dua2nya sama2 bisa bermasalah.
    Welp. IMHO, Tapi lagi, kalo si valedictorian ini sebelumnya, entah gimana caranya, tau pasti dia mau ngapain di masa depannya, dia sebetulnya bisa milih jalur pendidikan yang lebih cocok. i.e. sekolah2 kejuruan atau keahlian.
    Setau gue, sekolah umum level SMU itu goalnya emang mempersiapkan lulusannya masuk uni, dan, bar that, kalo gagal, bisa langsung masuk dunia kerja sebagai tenaga kerja kasar, AKA: 'Robot'. Nggak heran, stardardized exams isinya kayak gitu...
    A proud SpaceBattler now.

  3. #63
    tsu's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Rainbow Trout
    Posts
    5,365
    owalaaaaah, baru ngeh thread ini hehehehe

    anw, si anak itu bener2 antitesis saya deh, in my whole life, my parents never told me to become what they hoped me for
    saya selalu menjalani hidup in my own way, dan itu yg akan saya lakukan sama anak saya kelak

    saya masuk kelas unggulan saat SMP dan SMA bukan karena nilai saya bagus secara keseluruhan, tapi hanya karena my english was perfect, I mean PERFECT ! sepanjang smp hanya saya yg berani convo english sama guru
    tapi, jangan tanya soal matpel lain, hancur lebur wkwkwkwk
    saya dapat nilai 4 untuk matematika di EBTANAS SMA but a satisfying 9,8 in english

    semua ini berawal dari masuk smp, sang kepala sekolah berpidato saat itu, kalian harus berjuang untuk mendapatkan nilai bagus, bla bla bla, tapi kalau ada satu matpel dimana kalian suka, push it to the max

    dari situlah I got an idea, klo ga perlu ngotot matpel lain, but english, is my playground, and MINE only
    untungnya hal itu didukung sama ortu

    so yeah, I got a lot of time untuk hobi, maen drumband, ikutan KIR, kemping, nge band, Bolos, you name it

    imho peran ortu sekarang yang lebih dominan harusnya, si anak tetep butuh main, butuh hobi, butuh teman, dunia bukan hanya buku dan ujian soal
    life is an adventure

    omong2 ada yg inget iklan susu jadul ? yang ada si bapak ngajak anak nya maen bisbol, tapi ternyata si anak malah gambar skema tata surya, thats nice you know

  4. #64
    pelanggan setia spears's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    6,733
    sepanjang hidup gw...
    ini pengalaman gw sendiri ya..pengalaman orang lain blom tentu sama..

    tapi...
    sepanjang umur gw.. gw belajar sesuatu
    bahwa orang tua gw selalu benar..

    terkadang, gw mmg membelot dan melakukan sesuatu sesuai insting gw
    TAPI
    in the end of the day..
    PASTI deh kata2 ortu gw yg bener



    makanya gw ga berani lg ngelawan

    tp dilain pihak..gw jd tergantung gini.. so losttt without them

    love came down and rescue me, i am yours, i am forever yours

  5. #65
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    Quote Originally Posted by etca View Post
    Saya jadi teringat sebuah kalimat yang menurut Saya sangat mengena, tapi Saya lupa pernah membaca atau melihatnya dimana. "Orang-orang yang dulunya adalah siswa berprestasi di kelasnya umumnya akan berakhir sebagai seorang pegawai dari sebuah perusahaan, sementara teman-teman mereka yang dulunya biasa-biasa saja atau bahkan mungkin bodoh akan menjadi orang-orang yang menjadi pemilik perusahaan yang menggaji mereka".

    Sebuah kalimat yang lebih menohok pernah diutarakan oleh Paulo Freire, jika Saya tidak salah ingat, "Nenekku menginginkanku menjadi orang pintar, maka Ia melarangku ke sekolah".
    orang-orang bodoh ada 2 jenis, yang mau berusaha dan yg hanya menunggu keajaiban.
    Kalo orang bodohnya mau berusaha, pasti bisa lebih maju dari orang yg nilai atau IPK nya bagus, tp kalo org bodohnya hanya menunggu dan menunggu gak akan ada hasilnya

    sekedar share kisah Kakek ku dulu dia gak lulus SD, dia hanya seorang pejuang kemerdekaan. Tapi pada saat itu dia udah mampu mendirikan CV, menggaji beberapa orang dan punya rumah yg orang2 bilang sangat layak.
    Jaman sekarang, orang yg udah sarjana pun (S 1/ S 2) belom tentu berani dan bisa berhasil mendirikan CV, I'm so proud of him.. even I never met him.

  6. #66
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    ok..... (apaan coba)

    dia anak pintar kan? jenius....namanya victoria ya
    jika memang dia jenius, stop mengeluh, boleh mengeluh tapi hanya pada saat itu saja, untuk selanjutnya, stop mengeluh, lihat ke depan, lihat ke masa depanmu, jangan menoleh ke belakang, jangan terpaku ke belakang

    yg sudah berlalu ya biarlah berlalu

    kamu masih punya mata, telinga, panca indra masih berfungsi baik, kamu tidak cacat, kamu punya akal untuk berpikir dan emosi untuk merasakan, apalagi kenikmatan dan kelebihan yg engkau ingkari?

    tanya pada nuranimu yg terdalam....apa yg kamu inginkan sekarang? Temukan.....lalu raih keinginan itu

    tidak bisa menemukan hanya karena selama 12 tahun kamu mengalami proses pendidikan bagaikan robot? Itu hanyalah alasan omong kosong, tanya pada dirimu sendiri, kamu mau jadi orang apa kamu hanya mau berduram durja dan menjadi pecundang selama hidupmu?
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  7. #67
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    At the end of the day, it is YOUR life.

    Only YOU can make the best of it, NOT your teachers, NOT even your parents.
    Quote ini berlaku jika subjek sudah dewasa. Kalo belon? Tentu lingkungan yang mengarahkannya. Mosok bayi langsung dituntut menentukan nasibnya sendiri, nggak toh?

  8. #68
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Yang bilang buat bayi siapa, kaka Dana?

  9. #69
    Itu majas hiperbola mbok.

  10. #70
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by noodles maniac View Post
    Set dah! lu akhirnya membuat keputusan seperti ini? sementara temen-temen lu yang lain mungkin berusaha sekuat tenaga untuk jadi siswa teladan ya

    Baca statement nya [MENTION=194]Ronggolawe[/MENTION] kok gw tiba-tiba jadi keinget adegan pilem Star Wars yah?

    Master Yoda berkata kepada Luke...

    "trust your feeling, luke"
    lha, jaman gw SMP dan SMA, siswa teladan itu
    identik dengan penjilat guru

    ngga pentinglah predikat siswa teladan ataupun
    nantinya tampil pidato di perpisahan kelas
    secara dulu gw ngga teladan pun sering dipang
    gil guru karena kenakalan siswa (kenakalannya
    masih terukur kok, dan kalau dipikir secara logis,
    masih tergolong pemberontakan atas kezaliman
    guru, apalagi zaman itu zaman orba) jadi tetap
    saja akrab dan dikenal oleh guru

  11. #71
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by BundaNa View Post
    masyarakat yg menciptakan sistem atau praktisi pendidikan plus pemerintah yg memberlakukan sistem serta tidak konsisten memberlakukannya? contoh simpelnya, ada surat edaran ke semua tk di jawa tengah untuk melarang tk mengajarkan calistung ke siswanya. tapi membiarkan sd tetap mengadakan tes masuk. kontradiktip kan?
    Kebalik tuh.
    Mestinya SD dilarang membuat tes masuk.

    TK mau mengadakan calistung sih tergantung kesepakatan TK ama orang tua murid.


    Quote Originally Posted by Hai_Lee View Post
    menurut saya, si cewek ini belum paham sama passion dia. masih linglung mau ngapain. Teman-teman dia udah tau sama passion masing-masing. Sementara dia akhirnya melakukan apa yang biasanya society umum nilai sebagai orang sukses: belajar dan lulus dengan nilai gemilang. Namun dia pasti merasa kosong, apa bener ini passion dia? lalu habis lulus harus ngapain? karena bekerja ga semudah menghafal catatan-catatan guru, lalu menuangkan di lembar jawaban.
    Tampaknya iya.
    Dia masih belum tahu.

    Quote Originally Posted by ancuur View Post
    sekolah itu penitipan anak...
    dikala bapak emaknya sibuk kerja
    Aseeeem...
    Nyindir abiiis...


    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    jaman itu saya ngiri banget dengan tradisi gap year yang ada di inggris - di mana anak lulus sekolah (sma, ato a'level), mereka mengambil 1 tahun off (gap year) untuk travel ato berkecimpung di dunia masyarakat dewasa. kurasa kalo anak diberi ruang seperti itu, untuk mencari "jati diri" ato industri yang ingin ditekuninya, mungkin akan memberikan perspektif yang berbeda saat kuliah nanti. my logic is, kalo saya dari kecil sampe sma hanya mengenal dunia sekolah saja dan tidak dunia nyata di luar, bagaimana saya tau jurusan apa yang ingin saya tekuni saat kuliah nanti? apakah jurusan kuliah yang diambil itu berdasarkan hitungan kancing? ato diktean ortu?
    Saya gak butuh tradisi gap year.
    Tinggal menghabiskan uang orang tua sia-sia selama empat tahun..

    Oke, serius.
    Saya pernah empat tahun gak rela kuliah.
    Dua tahun di Yogya.
    Dua tahun di Australia.

    Bukan karena saya tidak bisa.
    Tapi setiap kali berdiri di depan kelas, saya tidak mau masuk kuliah.
    Dan itu juga masih terjadi ketika di UI.

    Alasannya sederhana. Saya dendam karena 'dikendalikan' oleh orang tua.
    Alasan kekanak-kanakan tetapi cukup membuang waktu.

    Wanita yang berpidato itu masih beruntung, walau dia gak bisa menentang keinginan orang tua, tetapi setidaknya dia gak membuang-buang waktunya.
    Kuharap dia bisa tenang sebelum kerja.


    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Sejak itu gw berhenti menjadi siswa/anak teladan...
    Quote Originally Posted by noodles maniac View Post
    Set dah! lu akhirnya membuat keputusan seperti ini? sementara temen-temen lu yang lain mungkin berusaha sekuat tenaga untuk jadi siswa teladan ya
    Gue berhenti jadi siswa teladan sejak kelas 4 SD.
    Sukses tidak 'menarik' perhatian saat SD.
    Sukses tidak 'menarik' perhatian saat SMP.

    Entah kenapa, pas SMU, tiba-tiba beredar isu di antara para guru kalau gue pintar.
    Damn!

    Padahal gue sudah berusaha tidak mengerjakan PR sama sekali.
    Eh.. tetap aja dipanggil ama guru-guru fisika dan matematika untuk memberi contoh mengerjakan tugas kalau kawan-kawan lain gak bisa mengerjakan.

    Tapi gue cukup senang dapat nilai merah tiga kali saat SMU. Sungguh bahagia.
    Satu merah untuk pelajaran Seni Rupa.
    Dua merah untuk pelajaran Sejarah.

    Dan lebih bangga lagi, tiga tahun setelah lulus, kembali ke sekolah, tahu2 ada junior yang nanya, "Kak.. angkatan 2000 ya? Katanya ada di angkatan 2000 yang Seni Rupa-nya dapat nilai merah ya?"

    Yes! Gue jadi legenda!


    Quote Originally Posted by serendipity View Post
    sekedar share kisah Kakek ku dulu dia gak lulus SD, dia hanya seorang pejuang kemerdekaan. Tapi pada saat itu dia udah mampu mendirikan CV, menggaji beberapa orang dan punya rumah yg orang2 bilang sangat layak.
    Jaman sekarang, orang yg udah sarjana pun (S 1/ S 2) belom tentu berani dan bisa berhasil mendirikan CV, I'm so proud of him.. even I never met him.
    Aku belum berani sampai sekarang.
    Jadi aku salut dengan kakekmu.

  12. #72
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Good for you. Tapi gue sependapat sama yang sebelumnya di atas, bahwa nggak semua remaja tau mau mengarahkan hidupnya ke mana. Makanya ada guru BP di sekolah. Seharusnya, fungsi guru ini adalah membantu anak2 yang masih galau dan mudah kebawa angin nan, sorry, alay ini untuk punya bayangan mau ngapain dengan masa depannya. Dan wajar banget buat remaja sampe 20-something buat galau begitu. Kalo jaman gue, kita bilangnya bukan alay(anak layangan), tapi madesu(masa depan suram). Karena sebagian besar kita, waktu itu, masih nggak jelas pengen jadi apa. there 'ya go. Jadinya orang tua-mu dulu terlibat dalam membantu mengarahkan pendidikanmu, kan ? Nah, kalo seandainya orang tua lepas tangan, terserah sama sekolah aja. Atau malah cuma memberikan perintah, tanpa membimbing. Sementara sekolah cara kerjanya cuma 'ngejar setoran' nilai...
    kalo kita tau tugas ortu, mengarahkan dan mendidik anak termasuk di dalamnya. kalo mau masa bodoh sama anak, berarti dia kalah dibanding binatang. binatang aja mengajari anaknya untuk survive, masak manusia masa bodoh? ngajarin tanggung jawab kan sesuatu yg dasar. kalo dia tau harus bertanggung jawab, kan dia bisa mengarahkan hidupnya. dia tau belajar di sekolah itu proses tanggung jawab dia utk hidupnya

    ---------- Post Merged at 03:51 PM ----------

    ah ya ortu saya tidak mengarahkan dengan saklek, bahkan cenderung membiarkan saya menentukan sekolah yg saya mau, mau apa saya kelak tapi harus berani bertanggung jawab. saya pernah lho dpt merah 2 di mata pelajaran utama di jurusan saya. saya sama sekali ga dimarahin, justru saya yg kerepotan sendiri utk m'hitamkan kembali nilai rapot. anak di video itu merasa hidupnya datar2 aja, ga bisa enjoy sama hidupnya, makanya akhirnya ngeluh

  13. #73
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    ^Joke-nya ancuur, yang "Sekolah itu tempat penitipan anak... Saat orang tua sibuk kerja";
    It happens. OFTEN.
    Mungkin joke-nya di situ... walaupun lumayan black comedy...

    BTW, buat anak2 yang di komando jalur hidupnya... sukur kalo 'datar2' aja, artinya masih gerak, masih dapet pangalaman, tapi ya itu, pengalamannya yang standar2 aja. Lah, kalo jalan di tempat ? Nggak dapet apapun yang ada gunanya....
    A proud SpaceBattler now.

  14. #74
    pelanggan tetap Hai_Lee's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    830
    ^

    sama, bun
    waktu SD, saya pernah ga masuk sekolah sehari karena sakit. Pelajaran hari itu ga ketangkep dan besokannya ada tes tentang pelajaran itu. Tentu saya dapet merah, wuih kelimpungan sendiri saya. sejak saat itu saya belom pernah ga masuk kelas kecuali kalo bener2 terpaksa banget. Pas kuliah semester 2, saya kesusahan sama satu matpel. Saya bener2 stres, saya pengen nilai saya bagus. Malah ortu bilang gapapa nilai ga usah dapet A, yang penting anaknya masih 'waras' dan ga stres. Mereka juga kayaknya ketakutan, soalnya belom pernah sepanik ini menghadapi mata pelajaran. Tapi tetep tiap hari waktu saya habiskan buat memperbaiki nilai tuh pelajaran. Untung endingnya worth it

    Ortu saya biasanya cuma sebagai 'guide' dan pemberi masukan. tetep keputusan ada ditangan saya. contohnya, saya pernah bikin tret tentang tempat kuliah. akhirnya saya memutuskan untuk ga ketempat yang dipilih ortu. Cuma yah kadang2 seperti kata spears, ortu (hampir) selalu benar.

    peran ortu harus seimbang. Sebagai pembimbing tapi jangan sampe jadi diktator. Harus bisa mengenali dan ngembangin potensi anak semaksimal mungkin tapi jangan melebihi kapasitas.
    Last edited by Hai_Lee; 08-07-2013 at 05:14 PM.

  15. #75
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Welp. IMHO, Tapi lagi, kalo si valedictorian ini sebelumnya, entah gimana caranya, tau pasti dia mau ngapain di masa depannya, dia sebetulnya bisa milih jalur pendidikan yang lebih cocok. i.e. sekolah2 kejuruan atau keahlian.
    Setau gue, sekolah umum level SMU itu goalnya emang mempersiapkan lulusannya masuk uni, dan, bar that, kalo gagal, bisa langsung masuk dunia kerja sebagai tenaga kerja kasar, AKA: 'Robot'. Nggak heran, stardardized exams isinya kayak gitu...
    Aku yakin dia sebenarnya tau mau ngapain di masa depan. Anak TK aja ditanya sudah besar mau jadi apa tau. Cuma dia kelihatannya terbelenggu sama pemikiran dia sendiri yang nggak bisa lepas dari standardized sistem.

    Quote Originally Posted by Yuki View Post
    ok..... (apaan coba)

    dia anak pintar kan? jenius....namanya victoria ya
    Kayaknya namanya bukan victoria deh...

    Quote Originally Posted by serendipity View Post
    sekedar share kisah Kakek ku dulu dia gak lulus SD, dia hanya seorang pejuang kemerdekaan. Tapi pada saat itu dia udah mampu mendirikan CV, menggaji beberapa orang dan punya rumah yg orang2 bilang sangat layak.
    Jaman sekarang, orang yg udah sarjana pun (S 1/ S 2) belom tentu berani dan bisa berhasil mendirikan CV, I'm so proud of him.. even I never met him.
    Dengan tidak mengurangi rasa hormatku ke kakek Seren, orang zaman dulu rata2 memang nggak sekolah (tinggi).
    Tapi buat mendirikan CV, butuh nyali. Ini tidak diajarkan sekolah tapi diberikan oleh bakat dan pengalaman.

    dari yang kuamati, ternyata di KM ini banyak yang pas masi sekolah pada pinter ya, either diakui sekolah atau tidak
    soal nilai merah, pernah dapat di SMP di pelajaran Kesenian. Gegara lupa submit tugas.
    waktu SMA matematik sempat merah juga dua kali. sampe sekarang nggak pernah pede sama yang namanya kalkulus. padahal kalo diselami nggak susah2 amat. cuma mentalnya udah hancur duluan.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  16. #76
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Aku yakin dia sebenarnya tau mau ngapain di masa depan. Anak TK aja ditanya sudah besar mau jadi apa tau. Cuma dia kelihatannya terbelenggu sama pemikiran dia sendiri yang nggak bisa lepas dari standardized sistem. ...
    IMHO, 'belenggu' itu sendiri bisa datangnya dari diri sendiri atau dari lingkungan.
    Dan, dari yang gue tau selama gue jadi pelajar dan pengajar, siswa mungkin tadinya tau dia mau jadi apa, tapi seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman, keinginan itu bisa berubah atau jadi mentah lagi.
    Dan ada problem juga dengan tau mau kemana, dan cara untuk mencapai tujuan itu. Soalnya itu dua hal yang beda.

    Tugasnya semua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan si siswa, termasuk di dalamnya orang tua dan sekolah, untuk memberikan bimbingan. Dalam artian, bukannya meng-impose ide mereka sendiri kepada siswa, yah.
    Dan sebetul-nya sistem pendidikan udah punya mekanisme untuk menjalankan hal ini. Kalo di Indo kita punya POMG dan guru BP. Di US, seinget gue ada yang namanya PTA dan councelor. Kalo di Deutschland sini, kata temen2 yang anaknya sekolah di sini, mereka punya pertemuan berkala orang tua dan guru cuma buat ngebahas hal2 kayak gini, sejak anak2nya bahkan baru masuk TK.

    Yang jadi problem adalah kalo sistem itu, nggak fungsi dengan seharusnya.

    So, balik ke judul topik, pertanyaan yang gue pengen ajukan disini adalah: "Tamparan terhadap sistem", atau, "Tamparan terhadap orang yang (tidak) menjalankan sistem" ?
    Last edited by TheCursed; 08-07-2013 at 06:34 PM.
    A proud SpaceBattler now.

  17. #77
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    saya sadar kok dengan kompetisi yg beredar saat ini lulusan S1 & S2 udah banyak banget makanya kalo ada orang yg bilang gak perlu sekolah tinggi-tinggi.. ya harus diliat dia ada di zaman apa.
    Untuk kasus kakek ku saat itu, emang hanya beberapa orang yg punya keberanian buat bisnis kaya gitu. Kakeknya Tika Panggabean juga salah satu yg berani dan berhasil dalam bisnisnya
    Orang-orang pintar jaman sekarang ( semua yg ngerasa udah lulus sarjana) sangkin perhitungan dengan untung dan rugi, jadi takut mengambil keputusan. Tapi yg kaya gitu juga gak bisa di salahin, soalnya setiap orang bisa memperhitungkan kemampuannya

  18. #78
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Dengan tidak mengurangi rasa hormatku ke kakek Seren, orang zaman dulu rata2 memang nggak sekolah (tinggi).
    Tapi buat mendirikan CV, butuh nyali. Ini tidak diajarkan sekolah tapi diberikan oleh bakat dan pengalaman.

    dari yang kuamati, ternyata di KM ini banyak yang pas masi sekolah pada pinter ya, either diakui sekolah atau tidak
    soal nilai merah, pernah dapat di SMP di pelajaran Kesenian. Gegara lupa submit tugas.
    waktu SMA matematik sempat merah juga dua kali. sampe sekarang nggak pernah pede sama yang namanya kalkulus. padahal kalo diselami nggak susah2 amat. cuma mentalnya udah hancur duluan.
    yup, emang faktor bakat dan pengalaman besar bgt pengaruhnya. Aku rasa karna mental kakek udah ditempa di hutan dan bertemu berbagai macam bahaya, dia pikir untuk mendirikan CV hampir sama seperti medan perang, ada menang dan kalah itu normal

  19. #79
    pelanggan tetap Hai_Lee's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    830
    Quote Originally Posted by serendipity View Post
    saya sadar kok dengan kompetisi yg beredar saat ini lulusan S1 & S2 udah banyak banget makanya kalo ada orang yg bilang gak perlu sekolah tinggi-tinggi.. ya harus diliat dia ada di zaman apa.
    Untuk kasus kakek ku saat itu, emang hanya beberapa orang yg punya keberanian buat bisnis kaya gitu. Kakeknya Tika Panggabean juga salah satu yg berani dan berhasil dalam bisnisnya
    Orang-orang pintar jaman sekarang ( semua yg ngerasa udah lulus sarjana) sangkin perhitungan dengan untung dan rugi, jadi takut mengambil keputusan. Tapi yg kaya gitu juga gak bisa di salahin, soalnya setiap orang bisa memperhitungkan kemampuannya
    entah sekolah membuat pintar atau membuat 'bodoh' orang2

  20. #80
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by Hai_Lee View Post
    entah sekolah membuat pintar atau membuat 'bodoh' orang2
    Nggak dua2nya.
    Risk averse, atau risk lovers, dua2nya nggak di tanamkan di sekolah.
    But, school give tools to do both.

    Kata kunci dari ceritanya Seren, mungkin, adalah 'orang2 jaman sekarang'. Kita hidup di jaman yang relatif tenang dan stabil. So, mengambil jalur beresiko ngga' terbayang di kepala kita.

    Sementara kakeknya Seren mungkin mikirnya, "Meh, cuma rugi,... masih idup dan nggak nyempil di torture camp entah di mana tau... ".

    Itu mirip kayak respon orang Indonesia di komper sama orang US saat nonton Fear Factor, misalnya. Orang US mungkin nontonnya sambil begidik, sementara orang Indo.. "Jalan di atas kereta, pake harness ? Meh, kita nyebutnya di sni cuma 'berangkat sekolah'. Tanpa Harness."
    A proud SpaceBattler now.

Page 4 of 5 FirstFirst ... 2345 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •