berarti DF mirip bokap gw, chan lebih mirip gw.

mengenai kerumitan dan kesederhanaan, gw pernah denger pendeta gw ngomong bahwa tugas dia salah satunya adalah untuk mencerna hal2 yg rumit dan berat2, ditransformasikan menjadi sederhana lalu dibagikan ke banyak orang.
maka dia baca ribuan buku, lalu menjelaskan inti sari dari semua itu untuk jemaatnya, itupun masih sering di komplen katanya kotbahnya terlalu rumit dan bikin pusing.

orang yg hebat adalah orang yg sudah berhasil mencerna hal2 yg rumit dan sulit menjadi hal2 yg aplikatif, misalnya isinya jam tangan mekanik kan rumit banget, pemakai jam gak perlu tahu cara bikinnya, asal tau cara bacanya, beres.

Jadi semua kerumitan yg kita alami seharusnya gak perlu dicurhatin disini orang cuma perlu lihat bahwa kita itu simple (kelihatannya)

mungkin ini yg perlu gw usahakan, yaitu menyembunyikan semua kerumitan yg gw lakukan (lain kali gak perlu nulis2 beginian) dan biarkan orang lihat luarnya aja.

misalnya, orang gak perlu tahu cara gw milih2 parfum, mereka cuma perlu tau bahwa gw wangi.

memperlihatkan kerumitan itu seperti membuka isi perut, gak elok dipandang, membuat gw seperti seorang koki yg sedang kerepotan di dapur, mustinya orang cuma tahu masakannya udah jadi dan enak, gak perlu liat daging mentah berdarah2.

hmmm... 1 pelajaran baru hari ini.

biarlah kerumitan untuk kita sendiri saja, kita sajikan hal2 yg sudah simple dan indah untuk orang lain.

gimana? setuju gak?