emangnya kurikulum Indonesia kalah dari luar?
Sepertinya memang demikian.
Banyak orang Indonesia hasil didikan kurikulum Indonesia yang secara akademis hebat, tetapi tidak mampu memecahkan masalah dan tidak mampu berpikir kreatif, serta tidak memiliki keberanian untuk berinisiasi. Hafalannya kuat karena sejak awal dibiasakan menghafal materi.
Tetapi banyak orang Indonesia hasil didikan kurikulum barat yang secara akademis biasa saja, tetapi mampu memecahkan masalah, mampu berpikir kreatif, serta memiliki keberanian untuk berinisasi. Logikanya kuat karena sejak awal dibiasakan berpikir secara logis.
hm....
loe pernah ngikutin ngga siaran cepat tepat tingkat
SMP dan SMA di TVRI tahun 80an-90an dulu?
Ketika masuk soal-soal matematika dan Fisika, loe
akan lihat kemampuan hitungan, analisa dan logika
anak-anak yang rajin belajar di Jakarta.
Terlalu menggeneralisir kalau menganggap pendidikan
di Indonesia mengedepankan hafalan. Sepengalaman
gw, mayoritas ranking 1-7 untuk tingkatan SD kelas
4 sampai SMA kelas 10 tidak mungkin meraih prestasi
tersebut bermodalkan hafalan.
hasil didikan S1 Barat atau Elementary, Junior HighTetapi banyak orang Indonesia hasil didikan kurikulum barat yang secara akademis biasa saja, tetapi mampu memecahkan masalah, mampu berpikir kreatif, serta memiliki keberanian untuk berinisasi. Logikanya kuat karena sejak awal dibiasakan berpikir secara logis.
Senior High?
Akademisi Indonesia yang bertaburan dan berpres
tasi di luar negeri, hampir seluruhnya adalah produk
pendidikan dasar dan menengah dari Indonesia, dan
mayoritas mereka adalah lulusan S1 dari PT di Indo
nesia.
Yang menjadi persoalan bukan lah kurikulum atau kua
litas pendidikan di Indonesia, karena soal itu Indone
sia tidak kalah. yang menjadi masalah adalah ketika
mereka masuk dunia profesional, ternyata dunia pro
fesional Indonesia belum siap menyerap mereka.
ngga, saya merasa kurikulum indo ngga kalah dengan luar. mungkin ada sistem yang menitikberatkan satu aspek, dan sistem laen menitikberatkan di aspek laen. dari pengalamanku sih, kurikulum indo justru termasuk sangat lumayan.
skarang sih kita ngomongin pendidikan dasar ato menengah ya, yang kupikir kurang lebih kalo pun transfer cukup gampang adaptasi. dan kayanya urusan penyamaan ijasah juga lebih santai. tapi misalnya buat yang ada niat melanjutkan pendidikan tinggi di LN misalnya, sebenarnya ada bagusnya juga kalo terbiasa dengan format LN ini, dan ini lebih ke pengadaptasian murid aja ya, bukan isi materi pendidikannya. kuingat dulu saya sempat kerepotan dengan istilah2 teknis yang padahal konsep dan materi sudah pernah dipelajari dalam bahasa A, tetapi menjadi bego saat dipaparkan dalam bahasa B.ibaratnya, sekolah internasional gini berguna dari segi getting your feet wet aja, terutama kalo muridnya ada niat lanjutin ke LN.
![]()
secondarily. mengenai ijasah indo yang diakui ato ngga oleh LN, well, memang sah2 aja. i've seen ijasah indo yang gone both ways, di mana muridnya dimundurin karena sekolahnya "ngga" menerimanya. tapi ada juga kasus2 di mana muridnya dimajuin alias lompat kelas. it really varies, kadang ada sedikit trade-offnya saat konversi2 gini. makanya tadi sempat kutulis, sebenarnya kadang ada meritnya kalo sistem pendidikannya dan ijasahnya bener2 sama dalam arti diisue seperti di institusi negara tujuan. lebih ngga ambigu aja, dan sedikit lebih gampang dari segi paperwork. ini bukan yang versi half-assed seperti sekolah2 yang meng'internasional'kan statusnya dengan hanya memakai bahasa inggris dan upgrade fasilitas sekolahnya ya.
ultimately, semua tergantung pada perfoma murid itu sendiri. if you can handle it, that's all it matters, bahkan if you can more than handle it, maka ajukan aja lompat kelas. dan saya sempat melihat cukup banyak kasus demikian pada murid2 indo.
Last edited by ndugu; 25-01-2013 at 04:56 AM.