Profesi yang ditekuni Ratna terbilang unik. Dia adalah konsultan dan ahli teh atau disebut tea connoisseur. Ratna pun hafal ratusan jenis the sekaligus cara menyeduhnya. Lewat profesinya, dia ingin memperkenalkan teh bukan hanya sebagai minuman, namun juga kisah sejarahnya yang patut diapresiasi.
SEKARING RATRI A., Jakarta
RATNA menyeduh teh hijau di sebuah cangkir putih. Kurang dari tiga menit, perempuan berambut panjang itu mengangkat kantong tehnya. Tanpa gula, dia menikmati teh hijau yang dibelinya dari Jepang beberapa waktu lalu tersebut.
“Kalau cara menyeduhnya benar, rasa tehnya akan terasa sekali,” jelasnya ketika ditemui di kantornya, Axia World, Sabtu (15/3). Menyeduh teh tidak bisa sembarangan. Sebab, bila tidak tepat, rasanya akan pahit. Karena itu, banyak yang mengatakan teh tawar berasa pahit. “Padahal, seharusnya tidak. Contohnya, teh hijau yang saya sajikan tadi. Tidak pahit kan? Sebab, cara menyeduhnya tepat,” ujar pemilik nama lengkap Ratna Soemantri itu.
Dia menuturkan, ada beberapa faktor yang membuat teh kurang nikmat atau berasa pahit. Di antaranya, cara menyeduhnya kurang tepat atau daun tehnya memang jelek. Contohnya, menyeduh teh hijau seharusnya tidak menggunakan air yang terlalu panas. Selain itu, sebaiknya tidak membiarkan kantong teh berada terlalu lama di cangkir yang sudah berisi air panas. “Setidaknya kurang dari tiga menit sudah diangkat,’’ jelasnya.
Ratna juga ingin meluruskan anggapan bahwa minum teh harus diberi gula agar manis. Mayoritas orang Indonesia lebih suka jika tehnya diberi gula, sehingga sering disebut teh manis. Padahal, sejatinya teh lebih enak dinikmati tanpa gula. Gula justru merusak cita rasa teh. “Sekali lagi, kalau cara menyeduhnya benar, teh tanpa gula pun sudah enak rasanya. Dan memang teh tidak perlu diberi gula. Tapi, orang Indonesia sudah terbiasa minum teh dengan gula ya,’’ ujarnya.
Karena itu, sebagai konsultan dan ahli teh, Ratna ingin memperkenalkan lebih jauh soal teh dan filosofinya. Dia paham betul seluk-beluk teh. Mulai karakter, cara penyajian, sejarah, hingga budaya penyajian teh di sejumlah negara. Ilmu itu dia peroleh setelah berguru kepada produsen teh di Jepang, Tiongkok, Hongkong, dan Kuala Lumpur. Dia juga berkeliling ke 25 negara un tuk mengenali budaya minum teh di negara-negara tersebut. Dari hasil belajar dan petualangannya ke sejumlah negara, Ratna kini mampu mengenali ratusan jenis teh dari berbagai belahan dunia.
Hanya dengan sekali lihat atau mengenali bentuknya serta merasakan cita rasanya, Ratna bisa langsung menyebutkan asal teh tersebut dan dari campuran apa saja. Termasuk, membedakan teh dengan kandungan daun teh yang jelek dan bagus. “Intinya, teh yang bagus itu yang banyak pucuk daun tehnya. Kalau banyak batangnya, memang warnanya lebih pekat. Tapi, rasanya juga jadi ber kurang,’’ paparnya.
Profesi yang digeluti Ratna termasuk langka. Bahkan, dia adalah konsultan dan ahli teh (tea connoisseur) pertama di Indonesia. Berkat kemahirannya itu, perempuan asal Cirebon tersebut sering diminta menjadi pembicara dalam berbagai forum tentang teh. Tidak jarang, Ratna juga diminta menyajikan teh bagi para audiens. Dia juga kerap diminta menjadi konsultan kafe.
Sejak kecil Ratna akrab dengan minuman kaya khasiat itu. Apalagi, ibunya penggemar berat teh. Tidak seperti orang Indonesia pada umumnya, sang ibu minum teh tanpa gula. Yang diminum pun tidak hanya satu jenis teh. “Ada teh dari China karena papaku dari sana. Ada juga teh dari Slawi. Jadi, mulai kecil aku juga minum teh,’’ kenang alumnus Le Cordon Bleu, Sydney, itu.
Kebiasaan tersebut berlanjut hingga saat kuliah di Sydney pada 2003. Kebetulan, orang tua angkat Ratna di Australia adalah keturunan Inggris, sehingga sering menggelar acara minum teh bersama atau yang lebih akrab disebut tea time. Sepulang dari Australia pada 2005, istri Alexander Mulia itu diminta rekan nya untuk membantu mendirikan sebuah kafe. Sang rekan berkonsultasi kepada Ratna seputar teh yang akan dijual. Kebetulan, kafe tersebut menyediakan ratusan jenis teh sebagai menunya. “Dari situlah awal karir saya sebagai konsultan dan ahli teh,’’ ungkapnya.
Sejak itu, perempuan kelahiran 3 November 1978 tersebut makin giat menekuni seluk-beluk teh. Sejalan dengan kegiatannya sebagai konsultan dan ahli teh, dia mendirikan komunitas penggemar teh bernama Pecinta Teh. Komunitas tersebut berkembang pesat. Hingga kini, tercatat 450 anggota dari seluruh Indonesia. Ratna yang hobi traveling itu selalu me nyempatkan diri mendatangi kafe yang menjual teh di negara yang dikunjungi.(c5/ari)