Ceritanya begini. Pada November 2010, Rothschild lewat Vallar Plc meneken perjanjian jual beli saham dengan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan beberapa perusahaan dalam kelompok usaha Bakrie.
Dalam transaksi yang, dikenal dengan tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk itu, Grup Bakrie melepaskan 5,2 miliar (25%) saham Bumi Resources di harga Rp 2.500 per saham, senilai Rp 13 triliun kepada Vallar Plc. Vallar barter dengan 90,1 juta saham baru Vallar seharga GBP 10 per saham kepada Bakrie. Kala itu, Bakrie menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc memiliki 25% saham Bumi Resources.
Tak lama setelah transaksi tersebut, Vallar Plc berganti nama menjadi Bumi Plc. Kala itu, keduanya masih mesra di Bumi Plc, bahkan sempat menambah kepemilikan sahamnya. di Bumi Resources sebanyak 3,3% menjadi 32,1%.
Bumi Plc menukar 11,73 juta sahamnya dengan saham Bumi Resources sebanyak 676,65 juta saham milik Grup Bakrie. Penambahan saham di Bumi Resources secara bertahap itu diumumkan di keterbukaan informasi London Stock Exchange.
Waktu pun terus berjalan, niatan Bumi Plc menambah saham semakin mulus. Kini giliran saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) yang akan dilego. Nilainya mencapai Rp 17,52 triliun.
Jika transaksi tersebut terlaksana, maka Bumi Plc akan menguasai 75,1% saham di BRMS. Bumi Plc pun sudah siap untuk menerbitkan convertible bonds (CB) sebagai alat pembayaran.
Nilai dari surat utang itu sendiri diperkirakan US$ 2 miliar atau setara Rp 17 triliun jika memakai kurs Rp 8.500 per dolar AS. Surat utang itu juga bisa dikonversikan menjadi sebanyak-banyaknya 107,70 juta saham Bumi Plc.
Setelah melalui titik ini, Rothschild mulai melancarkan serangannya untuk merebut Bumi Plc dari Grup Bakrie. Pria yang biasa disapa Nat itu mulai menyebar isu mengenai potensi gagal bayar alias default Grup akibat krisis Eropa.
Dengan menyalahkan krisis Eropa, harga saham Bumi Plc di London Stock Exchange terus tergerus sehingga berpengaruh pada nilai saham yang sedang dijadikan jaminan atas pinjaman ke Credit Suisse. Emiten berkode BNBR itu pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan, antara lain mengupayakan fasilitas pinjaman baru.
Saat itulah, Rothschild mulai mengintensifkan rencananya untuk mengambil alih Bumi Plc dari Grup Bakrie. Dikabarkan, Nat mengincar kursi Direktur Utama Bumi Plc dari tangan Grup Bakrie.
Grup Bakrie mencium rencana ini. Mereka lalu melakukan perlawanan dengan cara membatalkan rencana divestasi 75% saham BMRS. Waktu itu, Grup Bakrie beralasan kondisi pasar masih belum kondusif. Mendengar penjelasan itu, Rothschild marah besar.
Akhirnya, Grup Bakrie memilih menjual sekitar 23,8% sahamnya di Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN). Nilai transaksinya mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 8,5 triliun.
Setelah transaksi tersebut rampung, Grup Bakrie bersama Borneo akan menguasai 47,6% saham di Bumi Plc. Kembali, Rothschild mencoba berbagai cara untuk menggagalkan rencana ini supaya niatan menguasai Bumi Plc makin mulus.
Rothschild yang memiliki 11% saham di Bumi Plc itu mengkritik ketika Bumi Resources membayar utang ke China Investment Corporation (CIC) sebesar US$ 600 juta atau sekitar Rp 5,1 triliun.
Aksi protes itu dianggap sebagai salah satu rencana kudeta Bumi Plc yang baru oleh Rothschild. Tujuan utama dari protesnya ini adalah supaya kerjasama Grup Bakrie dan Borneo batal terlaksana. Bila batal, maka ini memudahkan bagi Rothschild masuk.
Lantas, benarkah ribut-ribut kali ini terkait dengan aksi Rothschild? Bisa jadi. Dugaan ini makin menguat setelah Carley Barker, analis dari Numis Securities, mengatakan, rencana investigasi oleh Bumi Plc terhadap Bumi Resources berhubungan dengan kisruh sebelumnya yang melibatkan Rothschild.
Kini, banyak orang sedang menonton, seorang pengusaha asing yang luar biasa kayanya sedang mencoba merampas salah satu aset paling berharga milik kelompok usaha asal Indonesia.