With Japan on the brink of losing the war, the Dutch sought to re-establish their authority in Indonesia and asked that the Japanese Army "preserve law and order" in Indonesia. The Japanese, however, were in favour of helping Indonesian nationalists prepare for self-government. On 7 September 1944, with the war going badly for the Japanese, Prime Minister Koiso promised independence for Indonesia, but no date was set. For supporters of Sukarno, this announcement was seen as vindication for his apparent collaboration with the Japanese.
Bukan karena Belanda bangkrut akibat perang dan Indonesia setuju untuk menanggung hutang-hutang Belanda?
Mbok sudah tulis, justru kekuatan politik komunisme menguat di Indonesia setelah pasca perang sampai tahun 65-66. Kalau Sekutu mengakui kedaulatan untuk menghadang komunisme, kenapa komunisme di Indonesia setelah itu justru menjadi kuat, bukan sebaliknya?
Komunisme dihabisi di tahun 65-66, apa hubungannya dengan "umat Islam memaafkan kolonialisasi barat"?
Kalau menghubung-hubungkan perang Gaza dengan agama maka Palestina sooner rather than later akan punah. Menyebarkan teori bahwa Yahudi ingin menghabisi Islam di Palestina justru merugikan rakyat Palestina karena di bagian dunia lain Islam sudah diindentikkan dengan terorisme, membela Islam di Palestina berarti membela terorisme di Palestina.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote
