Page 6 of 18 FirstFirst ... 4567816 ... LastLast
Results 101 to 120 of 343

Thread: renungan ndugu v2.0

  1. #101
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    oh iya, itu kasus berbeda
    tadi pagi sempat denger berita itu juga di tivi.

  2. #102
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    i think indonesia needs to help its citizens kick the habit too, bukan hanya orang utan.

    Indonesia is also one of the last remaining countries where tobacco companies face few restrictions on selling, advertising and promoting products long banned elsewhere.

    More than 60 percent of all men light up and a third of the country's entire population smokes
    and that's a pretty sad statistic, don't you think?

  3. #103
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://gma.yahoo.com/c-tv-reporter-l...-wellness.html

    bell's palsy. menurutku namanya sangat bagus, namanya terlalu cantik untuk suatu penyakit yang rada aneh. itu kesan pertamaku. selama itu tidak pernah saya denger mengenai bell's palsy sama skali sampe sekitar lebih dari 10 taon yang lalu saat saya sendiri kena serangan ini. ga bisa saya bayangkan seorang reporter, alias public figure, kena serangan ini. rasanya kasian juga, terutama jika kerjaannya berhubungan dengan tampil di public gini. im glad she got better. i can imagine her panic, karena itu juga yang sempat saya rasakan. the fear of the unknown. what the heck happened? sampe skarang saya juga ga tau kenapa bisa tiba2 begini.

    the day started off as normal. or almost. tapi tentu saja saya yang tidak pernah mendengar mengenai bell's palsy tidak mengenal gejala2nya. salah satunya, saat bangun tidur bagian belakang telingaku terasa sedikit sakit. seperti salah posisi tidur, mungkin telingaku terlipat saat tidur dengan posisi miring. begitu pikiranku. mata juga sedikit perih, kekeringan. tapi gejala itu terlalu kecil untuk saya ambil serius. dan mungkin ada gejala2 laen lagi yang sudah saya lupa.

    but the moment of realization came saat saya minum. saya ada kebiasaan minum air putih tiap pagi. so, as usual, saya lagi duduk di depan meja belajarku, di ruang tamu di apartment yang saya share dengan 6 penghuni kost laennya. dan seperti biasanya saya minum langsung dari botolku. tiba2 airnya muncrat from a corner of my lips i was like "huh?!" kucoba lagi, and it happened again. something was very wrong. apakah otot di bibirku tidak bertenaga sampe tidak bisa menahan pressure air di dalem mulut saat minum? saya langsung beranjak menghampiri full length cermin yang tergantung di lemari di ruang tengah. saya pernah melihat ayahku mengalami serangan saraf di muka yang menyebabkan posisi anatomi di muka jadi miring. saya ada sedikit feeling perhaps i was having something similar. i did a few facial tests, mencoba menarik muka dengan cara senyum, ngangkat alis, dll. true enough, sebelah mukaku tidak begitu responsif. it was more than 10 years ago, dan saya sudah lupa muka bagian mana yang kena serangan ini. mungkin sebelah kiri. saya mencari temen kostku untuk ikut inspeksi untuk memastikan. dan dia meyakinkanku saya tidak gila.

    setelah nimbang2, saya interlokal ke ortu, nanya mereka. biasanya kalo sakit, saya jarang telpon ke ortu. biasa setelah sembuh baru saya telpon ngabarin. tapi untuk yang ini, walo gejalanya tidak sama persis seperti yang pernah saya lihat di ayahku, mungkin tidak ada salahnya nanya. mungkin mereka tau sesuatu yang tidak saya ketahui. nothing much came out of it. ortu ada ngasi tau mengenai terapi yang dilakukan, tapi tidak menjelaskan apa yang terjadi. well, cant blame them. sama2 orang awam mengenai dunia medis.

    siang itu saya ke dokter umum deket tempat kostku. ibu dokter itu langsung mendiagnosa bell's palsy. saya sendiri ga pernah denger tentang itu. dia sendiri bilang ini cukup umum. rite. kalo umum, kok saya ga pernah denger ato liat tentang ini, that's what i thought. saya disuruh ke ahli saraf di rumkit laen. sebelum keluar dari kantornya, saya minta dia sebutin lagi nama penyakitnya, barangkali ntar saya bisa nyari di internet ato nanya temen.

    i did my research, dan getting ready mau ke dokter ahli saraf. out of curiosity, saya nanya ke mantan temen kostku di aptku yang dulu - sebut aja namanya ABC. dia calon mahasiswa kedokteran (pre-med student), one of the smartest and most amiable girl i've ever met. waktu kuceritakan masalahku, dia sangat fascinated, ternyata dia ga pernah denger tentang ini juga. dan dia ngotot ingin ngikut saya ke ahli saraf. i guess it was a good thing, karena saya dapet tumpangan dari temen sekelasnya yang juga sesama calon mahasiswa kedokteran, sebut aja XYZ. padahal tadinya saya udah mau nyari taxi.

    so off we went to the hospital. sampe ke ahli saraf, ABC minta ijin apa dia bole ikut saya ke ruang dokternya, pengen denger langsung katanya. it was fine with me. dengan backgroundnya, sapa tau dia bisa ask the right questions ke dokter dibandingkan saya yang bener2 awam dengan dunia medis. yang lucu, dari langkah pertama kita memasuki ruang dokter, pertanyaan pertama oleh neurologistnya adalah "did you look it up on the internet? ternyata pertanyaan ini sangat menyinggung temenku si ABC ngomel2 dia saat kita dalam perjalanan pulang

    to cut it short, stelah konsultasi, saya dikasi resep obat - steroid dan ntah apa lagi, plus obat tetes mata. tiap pagi at least harus minum 8-10 biji pil. eneq juga minum sebanyak itu tiap hari. untung obatnya hanya untuk 1-2 minggu.

    selama itu tiap minum saya harus hati2 supaya tidak muncrat. sebelah mukaku tidak berasa, agak numb. kalo senyum juga cuman sebelah. tiap mandi, sebelah mataku selalu perih kena air sabun karena tidak bisa tertutup rapat. begitu juga saat tidur, kering. tidak bisa baca buku dan tidak tahan melihat monitor komputer, berair terus dan perih dan gatel. obat tetes mata yang dikasi dokter itu untuk mencegah infeksi. mana minggu itu saya harus ambil test TOEFL pula, yang harus dilakukan lewat komputer. selama reaksi muka saya datar2 aja, orang tidak sadar saya ada masalah di muka. tapi waktu saya mendemonstrasikan ke beberapa temen kuliahku dan temen kerjaku (saat itu saya kerja sampingan di kampus), mereka heran dan ketawa. kok bisa gitu. ha, tell me about it dan saya pun menjadi subjek observasi yang menarik untuk ABC dan XYZ.

    thank goodness, tidak permanen. setelah sebulanan lebih, akhirnya gejalanya berangsur2 baikan. itu sala satu pengalaman yang aneh banget. it came out of nowhere. and went away just like that (dengan bantuan obat2an tentu saja).

    and i still like the name. bell's palsy. nama yang sangat bagus. terutama saat diucapkan. pokoknya kedengaran enak di telinga. terlalu bagus untuk nama suatu penyakit.

  4. #104
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    dari dulu saya mempunyai morbid facination dengan hal2 yang berhubungan dengan anatomi manusia. ada orang yang alergi ngeliat organ2 tubuh manusia yang dipotong, dicongkel, di-ini-itu sampe berdarah2, biarpun cuman di tivi. saya suka nonton ginian khususnya kalo acaranya berhubungan dengan medis, fiksi (semacam serial ER) maupun tidak (dokumentari), hidup maupun mati. kayanya saya ga ada masalah menonton hal2 begini biarpun sambil lagi makan. setiap kali saya disuntik, atopun lagi donor darah, susternya biasa suruh saya jangan liat. but hell no, i want to see. biarpun itu lengan saya sendiri saya tidak suka rasa sakitnya, tentu saja, tapi sepertinya rasa penasaran lebih gede, dan kesempatan jarang itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

    maka, wajar saja saya merasa harus membaca buku ini waktu melihat buku bekasnya dijual di tepi jalan - Stiff: the curious lives of human cadavers, oleh mary roach.

    dari dictionary.com
    cadaver : a dead body, especially a human body to be dissected; corpse.
    sampe baru beberapa taon yang lalu, saya sendiri ga tau apa itu cadaver. sampe dijelaskan oleh dokterku waktu mau operasi, karena dia mengatakan saya memerlukan tulang cadaver (organ dari orang yang sudah mati) untuk memperbaiki tulang tanganku yang pulihnya ga beres. well, antara itu, atau saya mencomot tulang dari bagianku yang laen. dan tentu saya saya memilih opsi pertama, biarpun katanya penyembuhan bakal sedikit lebih lama. thing is, why double the pain? dalam kasus itu, patahan tulang tanganku yang udah nyambung harus dipatahkan lagi. on another note, i completely missed out kesempatan melihat proses operasi itu biarpun waktu itu saya sempat terbangun saat sesi berlangsung, sayangnya ada kain yang sengaja diposisikan untuk menutupi sebelah pandanganku dari daerah operasi. all i could hear was suara seperti gergaji mesin. darn it. kesempatan untuk nonton yang sangat deket, yet so far.

    pengarang buku ini sepertinya juga mempunyai fascination yang sama sepertiku. di sini dia menulis tentang mayat, dan segala informasi mengenai apa yang terjadi pada badan manusia setelah seseorang meninggal. disumbangkan? sebagai spesimen studi untuk ahli bedah dan pakar anatomi? crash test dummies? sejarahnya? bagaimana manusia memanfaatkan dan mengekspoiltasi organ / mayat? pencurian mayat untuk diperjual belikan? dll.

    it sounds horrible. tapi di topik yang seharusnya mengerikan dan menyeramkan, ditulisnya dengan cukup ringan dan humoros, without being disrespectful. sepertinya dia sudah melakukan research yang cukup banyak mengenai topik ini. gaya tulisnya seperti orang yang lagi bercerita, lengkap dengan komentar2 lucu dan anekdot2 dari pengalamannya sendiri saat lagi melakukan research topik ini. i quite like it. definitely recommended.

    saya tau dari dulu juga i have given a lot of thought (perhaps more than i should) about anything related to death, baik kematian itu sendiri, cara kematian, maupun sisa / hasil kematian. dan saya selalu menyayangkan adanya rasa tabu yang selalu diasosiasikan pada badan / organ orang mati, padahal kematian itu sesuatu yang sangat alami. i find it rather ironic. ada yang berpikir, end of life means end of usefulness. padahal kupikir justru sebaliknya. yang pasti saya tidak ingin mayatku disia2kan begitu saja. dan saya juga yakin cukup banyak orang yang juga sadar betapa bergunanya cadaver. tapi kelangkaan cadaver diperparah oleh rasa tabu, larangan agama, maupun keseganan manusia sendiri. mungkin tidak nyaman dengan idea akan badannya diubek2 dan diteliti setelah mati. dan seperti yang dikatakan mary roach, there is something about death that makes us helplessly polite. untuk meminta donasi cadaver dari anggota keluarga yang baru kehilangan, tentu sangat tidak nyaman dan bikin serba salah saya suka merasa kasian dengan pekerja medis, yang harus mengabarkan kabar buruk, apalagi meminta donasi cadaver. saya salut dengan mereka, dan saya ga bisa bayangkan berada di posisi mereka.

    saya inget waktu pertama kali melihat Kartu Identitas amrik, seperti KTP / SIM. ada satu informasi di kartu itu yang menurutku ide yang sangat bagus. applicant akan ditanya akan kesediaannya untuk mendonasikan organnya saat isi formulir untuk bikin kartu identitas. jika bersedia, maka ada gambar hati kecil berwarna merah yang dicetak di atas kartunya. briliant. it makes perfect sense.

    sebagai manusia yang masih hidup, kita cenderung tidak memikirkan apa yang terjadi setelah mati. dan saya tidak bermaksud urusan 'setelah mati' seperti surga dan neraka, tapi lebih ke urusan logistiknya. saya inget bbrp taon yang lalu waktu bikin surat warisan/wasiat gini, memang hanya menggunakan servis online saja, yang mana sudah ada templatenya dan lalu tinggal dinotaris, ternyata ada banyak sekali hal2 yang tidak terpikirkan olehku. keputusan untuk mendonasikan badan ataupun tidak, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. keputusan itu adalah hak masing2. setiap orang mempunyai kepercayaan dan keinginan sendiri mengenai cara penanganan mayatnya. for some, bahkan sama sekali tidak ingin memikirkannya. sedangkan sikap cuek begini menurutku nantinya hanya akan mempersulit anggota keluarga laennya nanti saat beneren sudah meninggal. tapi bagaimana menghimbau orang untuk proaktif? seperti menyatakan dengan jelas apa yang diinginkan, dan spare other family members from making the decision? seriously, kematian memerlukan PR yang lebih positif.

  5. #105
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    semalam waktu pulang lembur, saya ketemu seorang anak muda dalam kereta. masi muda banget kalo diliat dari perawakannya, ngga keliatan mukanya karena duduk nyamping menghadap ke dinding, kurus, dekil, dan rambut pirangnya yang shaggy menutupi mukanya. saya perkirakan mungkin masi belasan taon.

    there was something wrong dengan gambar anak muda itu. keliatan seperti stengah tidur. tangannya stengah terulur di udara seakan2 ingin meraih sesuatu, tapi tidak bergerak. sebelah tangannya lagi memegang kantong plastik dan kartu cardboard yang biasa ditulisin untuk minta sumbangan. kadang terdeteksi gerakan yang sangat pelan yang menunjukkan dia sepertinya bukan lagi tidur. keliatannya bener2 teler ato high. mungkin narkoba? i dont know.

    ada seorang wanita relatif muda juga yang duduk menyamping dan keliatan lagi berbicara ke pemuda itu. sekilas saya mengira dia adalah temennya anak muda itu. arah pembicaraan sepertinya juga cuman satu arah, wanita ke anak muda, tapi tidak sebaliknya. mungkin terlalu teler untuk membalas bicara. posisi duduk saya terlalu jauh untuk menangkap pembicaraan mereka, tapi temen seperjalananku yang duduknya lebih deket bisa mendengar percakapan itu, yang lalu diceritakannya padaku. it went along this line:

    You are still young, get a real job..
    This is not the life for you..
    I'm getting off in two stops..
    Please find a job..
    God bless you..
    percakapannya tentu lebih lama. tapi kira2 begitu intinya. saya sendiri sampe ke stasiunku duluan sebelum wanita itu sampe ke stasiunnya. i guess he was one of those run-away / homeless kids. kudos for the woman for giving him her piece of mind, although i dont know if the boy was sober enough to register it. witnessing something like that kinda ruined the rest of my night. *sigh*

    sangat disayangkan. masih muda sekali padahal.

  6. #106
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://finance.yahoo.com/news/elite-...124855202.html

    dunia pendidikan jaman skarang sudah sangat berbeda ya?
    saya masih inget waktu pertama kali ngeliat banyaknya video kuliah di iTunes, serasa lagi berada di supermarket tinggal milih mo nonton subjek apa yang menarik. Dan tentu saja Khan Academy di youtube, yang kemudian meledak jadi seperti sekarang ini. Beberapa uni ternama juga bereksperimen dengan menawarkan kuliahnya gratis online di websitenya. Sejak itu, "kelas kuliah" yang tadinya pasif hanya lewat video, berevolusi menjadi jauh interaktif. Suksesnya beberapa kelas dari Stanford mengasilkan website seperti coursera yang bekerja sama dengan banyak universitas ternama laennya. Dan bejibun site2 pendidikan laennya seperti codeacademy (khusus programming), university of the people (it behaves like a real univ, dengan tujuan khusus menawarkan pendidikan gratis), edx (kolaborasi harvard dan mit, site yang baru saya ketahui dari artikel di atas), dan beberapa lagi yang sudah saya lupa namanya.

    saya sendiri ada enroll ke beberapa kelas dari coursera, walo ga terlalu rutin, padahal ada terlalu banyak kelas yang pengen saya ikutin. But it's amazing ngeliat betapa beragamnya background orang2 yang ikut mengambil kelas2 di sana, baik dari umur, negara, bahkan bidang pendidikan/pengalamannya. kalo udah ngeliat kaya gini, bikin kita jadi mikir juga, everything is possible thanks to technology. rasanya dunia menjadi sangat kecil sekali. anything is possible. kalo dulu kita harus nyiapin banyak modal untuk sekolah, kuliah, apalagi ke luar negri. skarang semua orang bisa mempunyai kesempatan yang sama selama mempunyai akses internet dan komputer. and this is great.

    kalo ngeliat sejarah peradaban manusia secara garis besar, rasanya kita berubah dan berkembang dengan sangat sangat sangat cepat sekali di era teknologi dan informasi. it exploded at exponential rate. ada kalanya saya berharap bisa hidup di jaman dulu di mana gaya hidup jauh lebih simpel. tapi saya ngga bisa deny kalo saya juga sangat bersyukur bisa menyaksikan perkembangan teknologi seperti jaman skarang.

    there are just too many possibilities.

  7. #107
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://news.yahoo.com/toilet-technol...203232552.html

    dammit!
    saya pengen ke toilet fair ini!
    not as participant of course (ga nyampe), but as audience

    kompetisi ini diadakan oleh bill and melinda gates foundation untuk me-reinvent toilet technology, dengan cara high tech maupun low tech.

    check out the threshold :
    To pass the foundation's threshold for the world's next toilet, it must operate without running water, electricity or a septic system, not discharge pollutants, preferably capture energy or other resources, and operate at a cost of 5 cents a day.
    that's very very impressive. bayangkan potensi dan manfaatnya.
    HUGE!

  8. #108
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    ada kejadian dari jaman kuliah yang saya inget sampe skarang. waktu itu saya lagi di perpustakaan, critanya mo bikin tugas yang perlu dikumpulin. masalahnya saya lagi sakit. ga demam, tapi batuk berat. daerah perpustakaan yang harusnya tenang jadi brisik karena saya batuk terus. mau pulang, ga bisa, karena tugas blom selesai. trus ada seorang ibu2, mungkin sesama mahasiswa, yang tiba2 nyamperin ke meja saya dan ngasi saya cough drop (permen kulum buat nekan batuk). saya sangat berterima kasih, tapi pada saat yang sama juga ngerasa ga enak, ntah apakah dia memang lagi berbaik hati nge-share cough dropsnya karena kasian dengan saya yang lagi batuk berat, ato merasa terganggu dengan batukan saya di perpus dan secara halus ngasi hint supaya saya keluar dari perpus ato ingin saya tidak berisik dengan memberi permen itu.

    i gave her the benefit of the doubt. mungkin dia memang bener kasian dengan saya. dan sampe skarang saya masi inget aksi kecilnya tapi sangat berarti buatku.

    semalam pas lagi dinner di luar, ada cewe di meja sebelah yang juga batuk berat. bener2 batuk berat. kelihatan menderita sekali. saya merasa seperti melihat diri sendiri karena minggu lalu saya juga batuk pilek berat. dan berhubung saya baru sembuh, di tasku masih ada obat batuk pilek dan throat lozenges (obat kulum) sisa kemaren2. sebelum cabut, saya mampir ke mejanya dan ngasi dia obat2 itu. semoga tenggorokannya bisa lega sedikit.

    but what happened? saya diketawai oleh temen dinnerku. ga da badai ga da salju tiba2 ngasi stranger obat, begitu katanya. sampe besoknya dia juga masih ngetawain saya sambil geleng2 kepala.

    is it wrong to pay it forward?

    whatever it is, i hope the lady from yesterday will pay it forward too.

  9. #109
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    after posting at the other thread, it got me thinking

    kurasa pertanyaan identitas bukan pertanyaan baru. migrasi sudah sering terjadi sejak dari dulu. tapi di era globalisasi dengan perkembangan teknologi dan akses transportasi yang sangat gampang mungkin membuat pertanyaan ini lebih sering muncul. do you identify yourself berdasarkan ancestry ato nationality? ini pertanyaan klasik. dan pertanyaan itu mungkin lebih ditujukan pada turunan imigran.

    tapi bagaimana dengan anak multirasial? do you identify yourself berdasarkan ras ayah ato ibu? interracial kids bukan hal baru, tapi di jaman skarang hal itu hanya akan terjadi semakin umum.

    kadang saya penasaran dengan generasi2 kedepan, earth is going to turn out as one giant human melting pot. akan sangat menarik melihat impact sosial dan cultural yang muncul dari ini. but i probably won't live long enough to witness it.

  10. #110
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    kehidupan manusia terdiri dari banyak keputusan yang diambil sepanjang hidupnya, baik keputusan kecil maupun keputusan besar. bagaimana keadaan hidupnya di masa sekarang, atau persepsi hidupnya, maupun situasi hidupnya, semua itu dipengaruhi dan dibentuk oleh pelajaran2 hidup dan keputusan2 yang diambilnya di masa lalu.

    kurasa kebanyakan orang pasti pernah mempertanyakan keputusan hidupnya di suatu saat. apakah itu keputusan yang bener ato salah kalau dilihat dari masa depan setelah tau hasilnya? apakah dia akan merubah keputusannya kalo seandainya diberi kesempatan lagi? ato, andai pun dia tidak menyesal dan masih tetep akan memilih keputusan yang sama di kesempatan yang sama, bukan berarti dia tidak pernah terpikir akan bagaimana kemungkinan keadaan hidupnya seandainya dia memilih keputusan yang satunya. harus digaris bawahi, ini tidak sama dengan menyesal, tapi sekedar toying with the idea dengan kehidupan dengan possibility laen.

    satu hal yang kupelajari dari hidup adalah, di saat lagi berada di persimpangan hidup yang memerlukan keputusan besar, pikirkanlah baik2, dan setelah keputusan diambil, jangan melihat kebelakang lagi. saya memang hampir tidak pernah merasa menyesal dengan keputusan yang kuambil, terutama saat diambil dengan sangat sadar. dan biarpun keputusan itu ternyata bukan keputusan yang terbaik, tetep no regrets. i take that as learning experience. bukankah pengalaman hidup adalah guru terbaik? dan tentu, kalo seandainya saya diberi kesempatan lagi untuk mengambil keputusan laen yang lebih baik, i should learn from the experience dan memilih keputusan yang mempunyai hasil lebih baik itu. i just don't dwell on what's been decided.

    keadaan kehidupanku sekarang juga hasil keputusanku. dan tidak ada rasa penyesalan berarti selama ini. tapi bukan brarti saya tidak pernah terpikirkan how would my life be kalo seandainya saya memilih keputusan laen? seperti kehidupan alternate laen, ato kehidupan paralel, ato kehidupan dengan possibilities laen (or not), kalo seandainya hidupku bisa dipecah2kan di setiap titik keputusan baru diambil.

    i would like to think kebanyakan orang yang hidup merantau pasti akan pernah terpikirkan bagaimana seandainya dia memilih untuk hidup tetep di daerah yang dia familiar. pertanyaan itu sudah sangat sering terlintas di kepalaku sejak pertama kali memutuskan hidup keluar rumah. semakin jauh jaraknya semakin kentara pula perbedaannya. di beberapa kesempatan saat berada di pantai lautan pasifik setelah sekian lama tidak pulang, saya sempat berpikir "aha. ini titik terdekat ke rumah setelah sekian lama. just across the ocean is home. cuman seberang aja". sejenak kita bayangkan jarak "cuman seberang" itu seperti jarak nyebrang jalan raya aja. dan sejenak kita lupakan seberapa besar lautan can be. di saat demikian juga, you can't help to think "what-if" dengan keputusan laen itu. mungkin hidup bisa lebih simpel, lebih lambat, lebih praktis, dengan its own set of problems. mungkin? sejak terakhir pulang rumah waktu itu, saya seperti menyicip kembali rasa kehidupan masa lalu yang sudah hampir saya lupakan. ternyata the familiarity akan gaya hidup itu, maupun hidup di antara orang2 yang mirip denganku, can be quite comforting. taste dan possibility itu jadi kembali melekat erat lagi di pikiran.

    "how would my life turn out to be?"

    I am not changing my decision, definitely not in the near future. Tapi kurasa pertanyaan ini akan nempel di kepalaku seumur hidup, karena apapun keputusanku, saya akan selalu bertanya2 dengan kemungkinan kehidupan yang satunya lagi.

  11. #111
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    “Freethinkers are those who are willing to use their minds without prejudice and without fearing to understand things that clash with their own customs, privileges, or beliefs. This state of mind is not common, but it is essential for right thinking...” - Leo Tolstoy
    Reminder to myself
    karena ada kalanya saya lupa and was carried away

  12. #112
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://sports.yahoo.com/news/from-pr...his-peace.html

    saya inget dua tahun yang lalu pernah baca sekilas mengenai atlet ini. mengenai seorang pemain baseball minor league, yang dikatakan sangat berbakat dan berpotensi untuk ke major league. dengan kata laen, a raising star. sama seperti american football (NFL) atopun basketball (NBA), baseball adalah cabang olahraga yang sangat besar di amrik. atlet2nya pun seperti selebritis, dengan kehidupan glamor dan gaji/endorsement-nya yang gede. it is a big business, after all. untuk bisa ke major league adalah pencapaian besar. cita2 setiap pemain baseball. jumlah duit yang dipertaruhkan pun sangat gede. kalo pun ada yang ga bisa main lagi ato pensiun, rata2 biasa adalah atlet yang cedera ato sudah lewat umur tertentu. tapi atlet ini malah sebaliknya. justru di puncaknya dia pensiun, dan memilih menjadi monk and later a priest di monastri gereja katolik.

    artikel ini mengikuti ceritanya dua tahun kemudian. mengenai kehidupan lama dan barunya, mengenai ketidakpuasan spiritual dengan dunia materi, pencarian ketentraman, perang batinnya, dan pelantikan dia pada stage selanjutnya. masih sangat muda padahal. agak panjang, but very interesting read.

    cerita dia agak mengingatkanku dengan mamanya kenalanku. mereka dari keluarga berada. kaya raya. memiliki rumah biasa di atas tanah, yang sangat tidak murah memandang minimnya lahan tanah di negara kecil seperti singapura. dan tidak hanya itu, rumahnya pun mempunyai lift, biarpun 'cuman' 4 tingkat. one day, ibunya memutuskan untuk meninggalkan segalanya, keluarganya, anak2nya yang sudah dewasa, kekayaan, dan memilih hidup sebagai nun/monk (biksuni) di kuil.

    sometimes i wish i can do that and live without possession, but i know im not ready to face the world, or even commit to it if i were to do so. apapun kepercayaan mereka, saya merasa harus angkat topi untuk orang2 demikian, simply for the fact mereka bisa melepaskan segalanya, menjalani hidup sesederhana itu, untuk mencapai dan bisa merasakan ketentraman hidup.

  13. #113
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    ^ sama kek saya, tp saya bahkan ga siap meninggalkan dunia

    entah ya... mungkin suatu saat, hal spiritual bukan hal yg bisa dipercepat
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  14. #114
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://news.yahoo.com/nkorean-soldie...075818506.html

    once in a while, kita mendengar mengenai orang korut yang lari ato nyelundup ke korsel. yang ini seorang tentara korut, yang demi lari ke korsel sampe membunuh komradnya sendiri. ato bbrp taon yang lalu nonton dokumentari mengenai orang korut yang mau lari ke korsel harus pake keliling jauh dulu - dari korut ke cina ke thailand baru naik kembali ke korsel. very long winded. dan sangat banyak resiko. it's kinda sad, no?

    i got a quick crash course mengenai sejarah korea bbrp bulan yang lalu waktu ke rumah temen seorang korean. quite fascinating. saya selalu berpikir, ah, mungkin masalah korsel dan korut akan berakhir seperti kisah berlin wall. tapi temenku ada opini laen, which makes sense. masalah korsel korut ga bisa dibandingin lagi dengan sejarah berlin wall, karena dari segi durasi sangat berbeda. berlin wall berlangsung selama 20+, or rather, hampir 30 taon. dan korean war, well, from the fifties, dan masih berlangsung. that's double the time. selama itu satu generasi sudah hampir berakhir. padahal yang masih "mengikat" korsel dan korut selama ini kan hubungan sodara yang secara kasar terputuskan oleh pembagian saat perang. masih ada sodara dan keluarga on both sides. but as the older generation goes, hubungan itu semakin tidak ada dan pelan2 ilang. sedangkan anak2 korsel yang lebih muda sudah tidak mempunyai memori atopun hubungan ke utara lagi. kemungkinan unification yang sudah sangat minim, mungkin malah akan hilang.

    that's really really sad i think.
    i know the issues are a lot more complex than this
    but, why cant people just get along?
    just a wistful thinking
    Last edited by ndugu; 06-10-2012 at 08:48 PM.

  15. #115
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    menunggu thread Poll: Negara vs Keluarga

  16. #116
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    saya tau ada negara2 di eropa yang mempunyai beberapa bahasa resmi
    tadi kebetulan baca artikel mengenai another royal wedding di luxembourg
    dan negara kecil ini juga mempunyai 3 bahasa resmi

    http://news.yahoo.com/royal-wedding-...050257312.html

    but here is the fascinating thing:

    Luxembourg is a linguistically complicated country, a reflection of its complicated past.
    ...
    Luxembourgish is related to German, but it is primarily a spoken language. In the country's schools, elementary students take all their classes in German. When students reach their teens, gradually all classes are converted to French. And English is studied the entire time.
    how does 'gradual conversion' work?
    that sounds amazing

    and check this out

    But the language dearest to their hearts is Luxembourgish. As 71-year-old retired engineer Rene Ries — a typical Luxembourger, with a French first name and a German last name — said, Luxembourgish is generally spoken in the home. When there is a complaint, the police file their reports in German. Then the lawyers litigate the case in French.

    saya bayangin aja udah pusing duluan
    how does that work?
    salut. not sure if it is a good thing or bad

  17. #117
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://news.yahoo.com/korean-men-mak...051134289.html

    definisi cantik dan indah memang sangat subjektif, opini bisa sangat berbeda tergantung pada budaya. dan kecantikan pun selalu diidentikkan pada wanita saja. tapi bagaimana dengan pria? what fascinates me adalah definisi cakep versi barat dan timur, sangat beda persepsinya.

    sebenarnya udah cukup lama saya perhatikan trend ini. di barat, cowo2 biasa ingin tampil manly, kemachoan biasa dipersepsikan sebagai sesuatu yang atraktif. cowo ber-make-up is a big no-no. tapi ntah kenapa cowo2 asia timur yang ada di tivi2, terutama yang ngepop jaman skarang, cenderung ingin tampil "cantik". dan seperti yang ditulis di artikel itu, trend cowo korea memakai make up seperti cewe pun semakin umum di sana, bahkan disupport oleh cewe2 maupun pacar2 cewenya. biar keliatan gaul. dan tidak heran kalau market kosmetik untuk pria sangat besar di sana. padahal kalo diliat secara historisnya, justru di generasi sebelumnya, "The ideal South Korean man used to be rough and tough." - demikian stereotipe dan kesanku dulu.

    While U.S. cosmetics companies report growing sales in male cosmetics, American men are often wary of makeup. "Men Wearing Makeup a Disturbing Trend" was how American columnist Jim Shea titled a recent post.

    In South Korea, however, effeminate male beauty is "a marker of social success," according to Roald Maliangkay, head of Korean studies at Australian National University.
    betapa berbedanya konotasi dan persepsi masyarakat mengenai cowo bermake-up

    very fascinating, dont you think?


  18. #118
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    saya tau ada negara2 di eropa yang mempunyai beberapa bahasa resmi
    tadi kebetulan baca artikel mengenai another royal wedding di luxembourg
    dan negara kecil ini juga mempunyai 3 bahasa resmi

    http://news.yahoo.com/royal-wedding-...050257312.html

    but here is the fascinating thing:


    how does 'gradual conversion' work?
    that sounds amazing

    and check this out



    saya bayangin aja udah pusing duluan
    how does that work?
    salut. not sure if it is a good thing or bad
    mungkin lebih mudah, gu, soalnya lingkungannya terkondisikan seperti itu
    g sendiri, karena pindah2 daerah tempat tinggal, mau ga mau jadi ikutan mempelajari 1-2 bahasa daerah, kan?
    orang indonesia, otomatis mereka biasanya menguasai bahasa sukunya dan bahasa indonesia (untuk yg daerahnya kuat bahasa kesukuannya)
    belum ditambah bahasa inggris di sekolah
    Popo Nest

  19. #119
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    banyak hal2 yang kita take for granted selama ini. seperti listrik dan air. ato sinyal hape dan internet. kemaren saya menjemput dan memberi tumpangan rumah ke teman yang daerah tempat tinggalnya ga da listrik gara2 bencana. the moment saya memasuki neighborhoodnya, sinyalku langsung hampir hilang. panik mungkin istilah yang terlalu keras dan bukan perasaanku saat itu. tapi yang pasti saya sempat merasakan a little discomfort. mungkin karena satu2nya modus komunikasiku dengannya terputus apalagi di situasi itu kita harus saling kontak. we have relied so much on technology. dengan sedikit kehilangan fasilitas itu, kita merasa seperti lagi mengalami suatu kecacatan hidup. sure, itu hanyalah ketidaknyamanan. tapi untuk hal2 yang lebih mendasar lagi seperti air bersih untuk minum, ato listrik untuk ngepower ini itu, impactnya semakin gede. banyak hal2 sepele yang tergantung pada itu, yang membantu keberlangsungan hidup, dan selama ini kita take for granted. kita tidak menyadari apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya. not to mention, mereka yang kehilangan rumah dan sodara. sebagian orang, tidak kehilangan apa2 secara material, tapi hanya merasakan ketidaknyamanan hidup sementara. sedangkan ada pula sebagian, yang justru semakin bertambah bebannya, baik secara materi maupun bukan.

    banyak pula orang yang merasa entitled, yang merasa mereka harus diladenin. saat kita terlena dengan kenyamanan akan standar hidup tertentu beserta fasilitas2 yang ditawarkan, kita cenderung lupa posisi kita. i have to keep reminding myself supaya tidak seperti demikian. i have been very lucky that i am not losing anything. bahkan segala fasilitas itu pun tetap masih ada.

    i am very grateful. dan besok, separah2nya masalah transportasi ke tempat kerja, i have to keep thinking about those un-luckier ones.

  20. #120
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    http://gma.yahoo.com/michigan-man-29...opstories.html

    berita lama, but still worth mentioning.
    seorang tua, tapi masih kuliah. sejauh ini sudah koleksi 29 degrees, dari s1 sampe s3.
    dia mengaku bukan grade-a student. hanya hobi kuliah.

    ... 71-year-old Michael Nicholson of Kalamazoo, Mich. Nicholson has earned 29 degrees and is now pursuing his 30th.
    ...
    Nicholson has one bachelor's degree, two associate's degrees, 22 master's degrees, three specialist degrees and one doctoral degree.
    ...
    His wife is highly educated in her own right, with seven degrees of her own.
    ...
    When asked what advice he would give to recent graduates, Nicholson paused before saying, "Don't quit too soon. Keep up with your aspirations. A lot of people tend to throw in the towel and have to come back to it later. Don't give up on your aspirations too soon."
    i like learning too, dan selalu ada keinginan untuk kuliah dengan jenis bidang yang beragam. tapi saya mungkin tidak ada kedisiplinan seperti itu. itu hanyalah rencana saat sudah pensiun nanti. ato setelah menemukan ritme hidup yang lebih stabil. *alasan*

    he is indeed the ultimate life-long learner. and the ultimate example kalo belajar tidak mengenal usia. memang hidup seharusnya demikian. saya harap dia diberi umur yang panjang supaya bisa mencapai targetnya untuk mendapatkan 33-34 degrees, saat berumur 80an nanti.

Page 6 of 18 FirstFirst ... 4567816 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •