Page 8 of 11 FirstFirst ... 678910 ... LastLast
Results 141 to 160 of 201

Thread: Filem Indonesia GaJe : hosted by Rumus

  1. #141
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    @etca fanclub kek ginian dah ada lama setahu gw pesatnya di forum sebelah, vividism klo ga salah ampe ada nobar segala

    btw, gw lg suntuk, rekomen pilem horor legendaris tp minim bikini dong, males pantengin setengah pilem cuman liat belahan dada doang

  2. #142
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool Wawancara Dengan Nayato

    Nayato Fio Nuala: Saya Buat Film Untuk Nonton Film

    Oleh Adrian Jonathan Pasaribu dan Arie Kartikasari



    Suasana pengambilan gambar Keranda Kuntilanak (Foto: FI)





    Saat ini, nama Nayato Fio Nuala beredar sebagai sutradara paling produktif di industri film nasional. Tahun 2011 ini, terhitung hingga bulan September, sudah adasembilan film yang dirilis atas namanya. Tahun sebelumnya, ada tiga belas. Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film: 25 film atas nama Nayato, 15 film Koya Pagayo, 5 film Ian Jacobs, 3 film Chiska Doppert, dan 2 film Pingkan Utari. Produktivitas Nayato jadi kian impresif apabila kita turut memperhitungkan prestasi film-filmnya dibox office. Sejauh ini, belum ada film Nayato yang gagal di peredaran. Semuanya balik modal (bahkan untung), dengan rata-rata 300 sampai 500 ribu penonton per film, karena dia mampu menekan biaya serendah mungkin dengan sistem produksinya.

    Tahun 2006 silam, nama Nayato dikenal publik via kontroversi Ekskul. Film tersebut didapuk sebagai film terbaik di Festival Film Indonesia. Namun, sejumlah pihak tidak puas dan protes terhadap kemenangan Ekskul. Pasalnya, Nayato ditenggarai menggunakan scoring dari sejumlah film asing tanpa izin. Kejadian tersebut konon membuat Nayato memilih untuk menjauh dari perhatian pers dan publik. Namanya menjadi semacam misteri dalam perfilman Indonesia, mengingat sedikit sekali informasi tentangnya di media.
    Pada 17 Agustus 2011, redaksi FI mendapat kesempatan mengunjungi Nayato saat syutingKeranda Kuntilanak, yang mulai tayang di bioskop tanggal 22 September. Suatu kesempatan yang tak pernah diberikan kepada pers bahkan produser filmnya. Lokasinya di sebuah villa berhalaman luas di bilangan Bogor. Terhitung ada 13 kru di lokasi syuting, ditambah dengan tiga pemeran. Ketika kami datang, mereka sedang syuting sebuah adegan mencekam, di mana salah seorang karakter mendadak hilang. Mereka mengambil gambar di sebuah ruang kosong di bawah tangga, yang ditata ulang sehingga terlihat seperti kamar tidur. Ada satu kamera dan dua lampu. Nayato berdiri di depan monitor, mengecek apakah gambar yang diambil sudah sesuai standar atau belum.

    Setelah tiga kali take, Nayato menghampiri kami. Dia menunjuk sebuah poster di dinding: Tarung (City of Darkness), yang baru tayang mulai tanggal 15 September lalu. “Film terbaru saya. Saya buat pakai hati. Sedikit,” ujarnya bercanda. Setelah itu ia harus berkutat membantu Tya Subiyaktodalam pembuatan film Kehormatan di Balik Kerudung. Dialog tersebut memantik percakapan kami dengan Nayato untuk tiga jam ke depan, yang diselingi oleh tiga kali syuting. Sepanjang tiga jam tersebut, ia bercerita tentang bagaimana dia selama ini membuat film, film seperti apa yang sebenarnya dia ingin buat, dan sejumlah kisah sepanjang kariernya yang produktif itu.

    Metode Produksi

    Film Indonesia (FI): Tahun lalu, Anda menghasilkan 13 film. Tahun ini, sudah ada tujuh film. Bagaimana metode kerja Anda sehingga bisa memproduksi film secepat itu?

    Nayato (N): Setiap kali saya syuting, selalu ada dua editor yang ikut. Setiap habis take gambar,memory card dari kamera dikasih ke mereka, terus mereka susun gambarnya sesuai yang saya mau, baru kemudian dikirim ke kantor. Kerja jadi cepat.

    FI: Editing dilakukan offline?

    N: Online. Karena kualitas gambarnya sudah bagus. Klien senang kerja sama kami, karena gambar yang kami hasilkan bagus, dan cepat kerjanya. Biasanya kan sering ada komplain kalau resolusi gambar rendah segala macam. Pas lihat hasil syuting harian, mereka bingung kenapa warnanya beda, cahaya gelap terang. Klien tidak senang lihat yang seperti itu. Sama kami tidak. Film kami hampir tidak ada gambar yang gelap. Bisa dilihat bagaimana kualitas gambar kami. [Menunjuk layar laptop] Lihat, cahaya sama warnanya tidak terlalu beda jauh. Tidak perlu repot paspost-production. [Mengganti gambar di laptop] Nah, ini ada yang sedikit over cahayanya. Paling nanti diturunkan sedikit. Tapi kalau diperhatikan, warnanya sudah matang, padahal belum diapa-apain. Ini masih fresh habis syuting. Karena itu kerja kami bisa cepat. Lebih murah juga. Setiap selesai take, gambar bisa langsung disusun. Setiap hari kami mengusahakan jadi 15 menit.

    FI: Maksudnya 15 menit?

    N: 15 menit durasi film. 15 menit yang akan penonton lihat di layar. Kalau syuting hari ini kurang dua atau tiga menit, kami lunasi di syuting hari berikutnya. Bagaimanapun juga setiap hari harus jadi 15 menit, sampai akhirnya seluruh film jadi. [Diam sejenak] Lagi pula kami selalu syuting di Bogor. Semua kru juga tinggal di Bogor. Jadi cepat kalau ada apa-apa.

    FI: Apakah mereka juga berasal dari sini?

    N: Oh, tidak. Mereka aslinya dari mana-mana. Ada yang Bekasi, ada yang dari Tangerang. Tapi semuanya sudah pindah ke sini. Beberapa bahkan sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Sudah beranak-pinak. [Tertawa] Kantor kami juga dekat-dekat sini. Jadi kalau mau syuting, mau apa, bisa cepat. Tidak seperti di Jakarta. Macet. Karena itu film kami hampir semuanya tidak ada yang di Jakarta. Seratus persen di Bogor, kecuali beberapa di Bandung. Kami ada stok gambar Jakarta, seperti beberapa established shot jalanan di Jakarta, rumah-rumah. Jadi cepat buat filmnya.

    FI: Selama ini, Anda selalu bekerja dengan kelompok Anda tersebut?

    N: Iya. Mereka sudah paham banget dengan apa yang saya mau. Saya tinggal bilang apa yang saya mau, mereka bisa langsung mengerjakannya. (Kru ini dibayar bulanan, di samping mendapat penghasilan lagi setiap ada syuting)

    FI: Total ada berapa orang dalam grup Anda tersebut?

    N: Dua puluh orang. Latar belakangnya macam-macam. Ada yang dulunya kerja di sinetron. Ada yang dulunya kerja bareng saya di iklan. Ada juga yang bawa saudaranya buat kerja sama saya.

    FI: Sistem kerjanya bagaimana? Apakah mereka turut berkontribusi juga dalam proses kreatif? Atau ada tata kerjanya sendiri?

    N: Saya yang mengatur. Saya yang mikir. Yang lain tidak boleh ada yang mikir. Komando ada di Nayato seorang. [Tertawa] Kerja kami begini: tidak boleh ada diskusi di lokasi syuting. Kalau kelamaan diskusi, nanti lama. [Tertawa] Tapi ya itu, mereka sudah paham dengan apa yang saya mau. Mereka sudah sangat terbiasa dengan cara kerja begini. Pernah sekali kami minta anak IKJ buat edit film kami. Tiga jam dia lihat stok gambar kami, dia cuma bengong. “Saya tidak tahu Mas harus mulai dari mana,” begitu katanya. [Tertawa] Saya paham kenapa bisa sampai begitu. Kami syuting tidak pernah pakai clapper. Buat apa keluar duit lagi buat sewa orang buat jadi clapper.[Tertawa] Anak-anak sudah tahu apa yang saya mau. Tak masalah jadinya. Setiap habis syuting, bisa langsung edit, karena sudah tahu jalan ceritanya bakal kayak bagaimana. Anak IKJ itu belum tahu. [Tertawa]

    FI: Sehari syuting bisa berapa lama?

    N: Rata-rata 12 jam. Jadi kalau mulai jam sembilan pagi, balik jam sembilan malam. Mulai jam 10 pagi, balik jam 10 malam. Kalau mau syuting malam, biasanya kami mulai jam lima sore, sampai sekitar jam tiga subuh. Karena biasanya jam lima sudah mulai terang. Kami tidak pernah melewati kerja 12 jam. Ada kan yang namanya kekuatan kerja. Biasanya itu turun setelah sepuluh jam. Daripada besok-besok jadi masalah, mending sekarang istirahat, besok syuting lagi. Jadi lebih cepat kerjanya. Kami tidak pernah syuting 24 jam penuh.

    FI: Satu film kira-kira berapa hari syuting?

    N: Tergantung filmnya. Film horor itu biasanya cepat. Film drama lebih lama sedikit. Film actionapalagi. Biasanya tujuh hari syuting. Kalau filmnya bagusan dikit, maksudnya bujetnya rada besar, bisa sampai sepuluh hari. Tergantung kebutuhan saja sebenarnya. Tapi rata-rata tujuh hari syuting. Jadi lebih cepat juga karena kami biasanya syuting tidak pakai naskah. Sinopsis saja.

    FI: Pada setiap film Anda selalu tercantum penulis naskahnya. Bagaimana selama ini peran mereka?

    N: Oh, mereka tetap menulis naskah. Kami pernah kerja sama Titien [Wattimena], sama Viva [Westi]. Mereka tetap nulis naskah. Kami ikutin apa yang mereka tulis. Tapi masalahnya begini. Kadang ada penulis skenario yang nulis naskah kayak nulis novel. Banyak banget lokasi kejadiannya. Dari sini, ke sini, ke tempat mana lagi. Bikin film kan beda sama nulis novel. Pas bikin film, pindah lokasi tidak gampang. Buat apa kami sewa satu lokasi cuma buat syuting satuscene. Kalau bisa diakalin, lebih baik. Kalau sudah begitu kan, naskah terpaksa kami ubah. Kami kasih tahu ke penulis skenario kalau naskahnya akan kami rombak.
    Masalah nama mereka tetap masuk, itu hak mereka. Yang pasti naskah kami rombak. Makanya banyak penulis naskah yang tidak senang sama saya. Naskahnya dirombak terus. Syuting tidak pakai skenario. Satu set yang tadinya cuma satu kejadian, saya ubah buat beberapa kejadian. Yang penting tetap sesuai sama sinopsis. Buat apa kami sewa kafe cuma buat satu adeganngobrol. [Tertawa] Jadi uang sama waktu kami tidak habis di satu lokasi saja. Buat penulis skenario yang sudah paham, mereka ikut saja kalau naskahnya kami ubah. Kecuali kalau kerja sama beberapa penulis, seperti Titien sama Viva. Kami ikut apa yang mereka tulis.

    FI: Selain pertimbangan uang dan waktu, apakah ada pertimbangan kreatif dari keputusan Anda dalam mengubah naskah?

    N: Oh, ada. Begini, ada naskah film yang enak dibaca, tapi setelah jadi film tidak enak ditonton. Ada yang nggak nyambung. Ada yang inilah, itulah. Nonton film kan beda sama baca novel. Tidak ada waktu lama buat penjelasan. Maksudnya gini lho, maksudnya gitu lho. Tidak ada kan orang yang mau jelasin itu semua. [Tertawa] Saya sederhana saja. Film itu yang penting enak ditonton.

    FI: Enak ditonton dalam arti gambarnya enak dilihat atau bagaimana?

    N: Gambar penting. Tapi feel juga penting. Kalau nonton film horor, bisa kaget berapa puluh kali, bisa ketawa berapa puluh kali. Bukannya cerita tidak penting, tapi kadang penonton juga tidak ingat itu. Anak-anak yang masuk bioskop dan nonton mereka. Pas misalnya mereka lihat ada karakter yang mati, kadang mereka juga tidak peduli kenapa dia mati. Mereka pedulinya bisa kaget berapa puluh kali. Itu kan yang penonton mau.

    FI: Dengan syuting tanpa naskah, lantas bagaimana cerita dalam film Anda disusun?

    N: Kami bikin cerita selesai syuting, saat editing. Setiap genre kan ada polanya. Biasanya kami mengedit dulu gambar kami. Kalau sudah jadi dan dirasa ada yang kurang, kami syuting sehari lagi buat mengisi yang bolong dalam cerita. Dalam film horor jelas kapan penonton harus ditakutin, kapan harus tenang, kapan harus ditakutin lagi. Sekarang kami sudah buat film komedi-horor empat kali. Sudah hafal polanya harus bagaimana. Pokoknya cerita ada di kepala sutradara. [Tertawa]

  3. #143
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool Wawancara Dengan Nayato

    Kamera dan Gambar

    FI: Selama ini syuting pakai kamera apa?

    N: Canon 5D dan 7D. Mungkin sudah sekitar 30 film lebih. Dua tahun lalu, pas orang-orang pakai kamera ini buat foto, saya sudah pakai buat syuting. [Tertawa]

    FI: Kenapa pakai kamera itu?

    N: Karena gambar yang dihasilkan. Banyak pilihan kualitas gambar yang bisa kita pakai: dari yang standar sampai yang high definition. Kalau buat film horor, bisa pakai gambar yang biasa. Kalau film drama, kami biasanya pakai resolusi yang lebih tinggi. Selain itu, kamera ini bukaannya luar biasa. Syuting cukup pakai dua lampu, cahayanya sudah dapat. Pas syuting Tarung malah tidak pakai lampu sama sekali, tetap dapat cahayanya. Padahal itu syuting di lorong kereta bawah tanah Hong Kong. Gelap.
    Sebenarnya kamera ini tidak gampang dipakainya. Karena setiap kali kamera ini mati, setting-nya berubah. Namanya juga kamera foto, bukan kamera video. Setiap kali off, pas dinyalain lagi,setting-nya berubah. Diafragma berubah. Bahkan setelah setting-nya dikunci sekalipun. Ini yang sebenarnya orang sulit kontrol. Makanya banyak yang bilang pakai kamera ini susah. Saya sendiri awalnya kesulitan pas pakai kamera ini.

    FI: Butuh berapa lama sampai akhirnya Anda terbiasa menggunakan kamera itu?

    N: Setelah syuting dua film. Baru setelah itu saya biasa. Sejak itu saya tahu bagaimana mengatur cahayanya. Bagaimana mengatur resolusi gambarnya, sehingga pas saya blow up gambarnya tidak flat seperti sinetron. Udah terlihat film. Soalnya, kalau syuting kamera selalu statis. Tidak gerak ke mana-mana. Diam di satu tempat, ganti adegan, baru kameranya dipindah.

    FI: Tapi film-film Anda banyak sekali menggunakan gerak kamera.

    N: Nah, untuk yang bergerak-gerak itu saya buat pas post-production. Misalnya mau buat efek kamera handheld, saya goyang-goyang saja gambarnya pas editing. Zoom in sekalipun saya buat waktu editing. Resolusi gambar yang dihasilkan sudah sangat bagus, jadi kalau mau diapa-apain gambarnya tidak bakal rusak. Masih bisa buat pemutaran layar lebar. (Nayato menjelaskan juga bagaimana dia "mengakali" sistem fokus kamera fotografi yang enteng itu dengan menambahkan sebuah alat lain agar stabil sewaktu pengambilan gambar.)

    FI: Kenapa tidak pakai kamera video Alexa umpamanya?

    N: Saya pakai kamera video juga (ia menunjuk kamera video profesional yang selalu berada di samping juru kamera). Tapi, untuk behind the scene (tertawa), dan untuk pengambilan suara. Susahnya, kalau saya ganti kamera, saya harus mengubah seluruh sistem peralatan dan alur kerja yang sekarang saya pakai.

    Awal Karier, I-Sinema, dan Ekskul

    FI: Awalnya Anda belajar film dari mana?

    N: Di Taiwan. Saya belajar teknis film di sana.

    FI: Berapa lama di Taiwan?

    N: Delapan belas tahun.

    FI: Waktu itu formalnya belajar apa?

    N: Artistik. Kamera saya belajar sendiri. Guru saya orang film banget. Dia dulunya artistik, terus jadi sutradara. Terus lama-lama mulai ikut produksi sana-sini. Semuanya saya coba. Dari pegang kabel sampai pegang kamera. Saya coba semua. Terus balik ke Indonesia, saya buat iklan. Pas pegang kamera, saya bosan diomelin sutradara terus. Akhirnya saya jadi sutradara, supaya bisaomelin orang. [Tertawa] Saya sebenarnya tidak terlalu suka jadi sutradara.

    FI: Kenapa?

    N: Saya punya masalah komunikasi. Saya agak sulit bicara sama orang sebenarnya. Kalau bicara, bawaannya ketus terus. [Tertawa] Bicara sama produser saja seringnya lewat telepon. Untungnya saya punya tim. Saya punya teman-teman yang sudah paham betul apa yang saya mau. Mereka sudah terlatih. Saya yang melatih mereka. Buktinya syuting Tarung cuma tiga orang. Jadi tuh film. [Tertawa] Tapi saya yang pegang kendali. Karena saya yang tahu dari A sampai Z. Saya yang tahu konsep cerita. Saya yang bicara sama produser. Jadi saya yang pegang kendali. Mereka ikut saja. Kesannya saya seperti diktator. Tapi kalau tidak begitu, tidak jalan. Toh, dengan sistem seperti ini, teman-teman saya juga bisa hidup, bisa makan.

    FI: Proses produksi film Tarung sendiri bagaimana?

    N: Film itu no-budget production. Sudah bukan lagi low-budget, tapi no-budget. Karena memang buatnya hampir tidak pakai duit. [Tertawa] Kami produksi di sela-sela kerja kami yang begini. Setahun kami kerja seperti itu.

    FI: Syutingnya di mana?

    N: Beberapa syuting di Bogor. Beberapa di jalur kereta bawah tanah di Hong Kong. Di Hong Kong, syuting tidak pakai izin. Gerilya banget syutingnya. Orang Hong Kong saja tidak berani syuting di situ. [Tertawa] Kru cuma tiga orang, termasuk saya. Satu bawa kamera, satu bawa harddisk sama laptop. Tidak pakai lampu. Semua alat dimasukkin ke ransel. Jadi bisa langsung lari kalau dikejar polisi. Kami beberapa kali pindah stasiun kereta karena ketahuan polisi. [Tertawa] Tidak pakai figuran. Pakai saja orang-orang yang lewat. Kami buat sendiri. Soalnya kami tidak punya teman. Kami tidak bergaul sama filmmaker Jakarta Selatan itu. Kami kan filmmaker Bogor Tengah. [Tertawa] Dulu rasanya pengen banget bergaul sama filmmaker. Tapi kami tidak diterima. Ya sudahlah. Di sini saja. [Tertawa]

    FI: Bukankah Anda pernah terlibat dalam I-Sinema?

    N: Dulu. Iya pernah.

    FI: Dulu bagaimana di I-Sinema? Targetnya seperti apa?

    N: Oh, dulu itu idenya bagus banget. Saya waktu itu kerja di iklan. Rizal [Mantovani] bikin video klip. Ada Riri [Riza]. Ada Mira [Lesmana] juga yang pengen bikin film. Akhirnya Nan (Achnas) bikin kan: Bendera. Riri bikin
    Eliana, Eliana. Saya mau buat film komedi, judulnya Jakarta. Tapi tidak jadi. Saya akhirnya bikin satu film televisi. Judulnya Atas Nama Cinta.

    FI: Waktu itu I-Sinema sebagai sebuah gerakan maunya ke arah mana? Alternatif produksi?

    N: Waktu itu belum ada produksi film di Indonesia. Jadi dibilang alternatif juga tidak bisa.

    FI: Jadi, gerakan estetik?

    N: Maunya seperti itu. Idenya dari Mira. Idenya bagus banget. Tidak mau diatur produser. Tidak mau diatur 21. Tidak mau diatur lembaga sensor. Tapi akhirnya kesibukan masing-masing bikin semua itu tidak kesampaian. Lucunya, sebelum bikin film, kami sudah press conference. Saking percaya dirinya. Lucu, orang biasanya bikin dulu baru ngomong. Ini terbalik.

    FI: Kenapa sekarang I-Sinema tidak ada jejaknya?

    N: Memang tidak ada jejaknya. Tidak penting juga. Gaya-gayaan saja. Harusnya kita seperti Korea. Di sana erat banget. Hubungan antarindividunya kuat banget. Mereka bisa sampai sehebat itu, karena mereka kompak banget. Beda sama di sini. Pola pikir kita itu bagaimana ya, harus diubah mungkin. Di sini terlalu banyak hantam-hantaman.

    FI: Kalau boleh tahu, dulu kasus Ekskul bagaimana?

    N: Ekskul itu awalnya tidak selebar itu kasusnya. Itu bukan film penting. Mendadak jadi penting, seakan-akan jadi hidup-mati perfilman Indonesia. Cuma itu saja. Kebetulan waktu itu ada musuh bersama. Ekskul jadi kena kepentingan-kepentingan politik itu. Akhirnya toh tidak ada perubahan juga. Hasilnya apa? Sensor juga sama saja sekarang.

    FI: Waktu itu tuduhannya, Anda mengambil musik orang tanpa mencantumkan sumbernya...

    N: Memang, saya pakai musik orang. Tapi waktu itu mengambil musik itu sering banget terjadi.Ekskul itu aslinya film kecil. Bukan film yang diniatkan untuk ikut festival. Itu film yang kami mau putar di sekolah-sekolah. Idealnya begitu. Itu film kecil. Waktu itu Eka Sitorus bikin pementasanBang Bang You’re Dead, terus kami kepikiran, “Yuk, syuting yuk, bikin film.” Pas editing, saya pikir, “Ah, film kecil ini. Film buat ditonton ramai-ramai.” Jadilah saya pakai musik orang. Toh, memang niatnya buat film kecil. Tahu-tahu ikut festival. Bukan saya yang masukkan film itu.
    Ekskul sudah beredar enam bulan sebelum festival. Tidak laku malah. Ada yang ribut nggak? Tidak ada. Tahu-tahu masuk festival. Di situ saya sudah bingung. Saya tidak mengerti penilaiannya bagaimana. Kok bisa menang? Terus kok malah ribut? Berentet begitu. Efeknya terasa sampai sekarang. Dari situ saya belajar banyak. Saya tak mau gara-gara itu berhenti bikin film. Masa kami berhenti film karena kasus itu. Tidak juga kan. Kami tetap buat film. Caranya ya seperti ini.

  4. #144
    pelanggan setia red>,<hair's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    kanatakara
    Posts
    2,824
    gw cuman isa bayangin rumus klo lg liat film lokal yg geje sambil bawa daftar ceklist untuk point2 d atas

    Anugurihiitusomi

  5. #145
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    nayato itu udah pernah nonton pilemnya sendiri gak sih

  6. #146
    gak perlu bawa checklist kok, semuanya selalu hadir. Nayato jd sutradara yg filmnya paling banyak sy tonton lho. Bahkan film2nya Woody Allen aja, dari 40-an filmnya, paling cuma 30-an yg udah saya tonton
    you can also find me here

  7. #147
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    btw,,baru ngeh,,banyak yang nge view,, keren banget niii tread,, berarti banyak yang pengen tahuu
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

  8. #148
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool Wawancara Dengan Nayato

    Impian Ke Depan

    FI: Dalam film-film Anda, kami lihat ada sejumlah poster film “seni”, yang dalam konteks film Anda jadi terkesan mencolok. Ada poster Breathless dan Blow-Up di Ekskul, My Blueberry Nights diVirgin 2, Amelie di Cinta Pertama dan Gaby dan Lagunya. Poster Blow Up juga muncul diKepergok Pocong. Apakah itu film-film favorit Anda?

    N: Oh, iya. Saya suka banget Breathless. Blow Up juga. Itu filmnya [Michelangelo] Antonioni kan? Iya, saya suka banget film-film dia. Sebenarnya poster-poster itu bisa ada di film, karena itu ada yang di rumah. Diambil sama art director buat dipasang dalam film, buat jadi pajangan. Sialnya, poster film saya cuma adanya itu, jadi berulang kali bikin film, pakainya poster-poster itu saja. [Tertawa]

    FI: Dengan referensi film-film Anda, yang jujur saja berbobot, apakah ada satu film ideal yang Anda ingin buat?

    N: Jelas. Saya mau buat film-film seperti sutradara-sutradara besar itu. Tapi saya mellihat film seperti bacaan. Ada majalah hiburan, ada koran. Jalur saya ya film-film hiburan. [Tertawa] Saya sebenarnya penonton film serius. Tapi siapa yang bisa bikin film seperti itu di sini. Tidak realistis. Sebenarnya ada yang bisa seperti itu di sini. Garin Nugroho contohnya. Bahagia betul orang seperti itu. Dia bisa konsisten di jalurnya. Saya bukannya tidak bahagia. Tapi saya masih mau hidup senang, makan enak. Garin juga bisa hidup senang, makan enak. Tapi untuk mencapai posisi itu kan tidak gampang. Ada istilah “sinema popcorn”. Kalau saya “sinema instan”. Seperti buat mie, tinggal seduh, makan enak, selesai. [Tertawa]

    FI: Tapi Anda masih berniat film yang Anda ingin buat, film yang bukan karena tuntutan kerja?

    N: Mau. Mau banget. Pakai duit sendiri, mikir-mikir. Saya tidak mau buat film yang tidak laku. Idealnya, film artistik tapi laku. Tapi itu kan susah. Hanung Bramantyo yang bisa seperti itu. Saya selalu nonton film-filmnya dia. Saya suka. Saya mau seperti Zhang Yimou, tapi tidak mungkin. [Tertawa] Mungkin karena lingkungannya beda. Zhang Yimou besarnya di teater. Saya besarnya di Glodok, nontonnya DVD bajakan. Di Taiwan juga saya nongkrongnya sama yang pop-pop. Yang buat film gaya MTV. Saya lagi nunggu film Tree of Life, yang diperankan Brad Pitt itu. Nah, sayakaget juga pas dengar Tree of Life bakal masuk Indonesia. Pikir saya, “Keren juga nih.” Mending daripada nonton Transformers yang tidak jelas itu. Setengah jam nonton Transformers saya keluar. Pusing saya nontonnya. Harry Potter okelah. Tapi Transformers itu nggak deh. Saya sebenarnya tidak suka film-film seperti itu.
    Tapi terus terang saya bukan orang yang suka bikin film. Saya sukanya nonton. Di rumah saya punya banyak koleksi film. Di setiap ruangan saya pasang LCD buat nonton film. Total ada enam televisi di rumah. Jadi di rumah saya bisa nonton di mana saja. Saya sebenarnya buat film untuk nonton film. Selesai syuting, saya pulang, saya nonton. Memang seringnya apa yang saya buat bukan yang saya mau, tapi tetap harus dijalanin. Tidak enak memang, tapi kalau tidak sayajalanin, saya makan apa.

    FI: Kira-kira seperti apa satu film itu yang Anda mau buat?

    N: Seperti film yang menang Cannes itu. Judulnya 4 Months, 3 Weeks, 2 Days. Film Romania tahun 2010. Saya pengen banget film seperti itu. Sudah pernah ada rencana sebenarnya. Saya sudah kumpulin teman-teman, sudah kumpulin pemain. Pas mau jalan, pemainnya diambil buat proyek lain. Pas mau minta dia buat main di proyek itu, harganya naik. Nggak jadi deh.
    Secara teknis saya yakin dengan kemampuan saya. Pernah nonton film Monsters? Itu film Inggris.Box office. Yang buat namanya Gareth Edwards. Tentang satu kota yang dihabisin. Drama cinta. Sutradaranya sendirian. Produser dua orang, sama pemain dua orang. Dia pakai kamera yang sama kayak kami. Saya malah pakai kamera itu buat behind the scene. Syuting tanpa skenario selama dua bulan. Dia bikin filmnya sendiri. Dia sendiri saja bisa buat film, masa kami yang 20 orang tidak bisa. Akhirnya balik ke kami sendiri juga. Ada niat, ada kamera, ada peralatan. Tinggal tunggu kesempatan.

    FI: Apakah Anda pernah merasa lelah membuat film-film yang Anda buat selama ini?

    N: Lelah tidak. Jenuh iya. Jenuh banget. Seperti yang saya bilang tadi, saya kejar durasi. Setiap hari harus jadi 15 menit. Karena itu kami jalan seperti ini. Sama teman-teman. Saling membantu. Walau di lapangan ada yang pegang lighting, ada yang pegang kamera, buat saya mereka sudah seperti asisten sutradara. Itu juga yang kadang bikin saya terganggu. Karena kadang setiap satu film jadi, orang kami ada yang diambil orang. Bukan artinya kami yang paling bagus. Bukan. Tapi kesannya ini jadi seperti batu loncatan saja. Saya jujur agak repot kalau harus mengajari orang baru. Saya tidak cari orang pintar. Saya cari orang yang bisa diajak kerja sama. Bodoh tak apa, yang penting bisa kerja sama.
    Begitu juga saya kerja sama produser selama ini. Saya maunya kerja sama produser yang bisa diajak kerja sama, sama produser yang sudah jadi. Mereka kasih duit, kami buat film. Mau filmnya hasilnya bagaimana, itu tanggung jawab saya. Saya juga sebaliknya nggak bohongin mereka.Nggak bikin mereka susah. Yang penting pekerjaan selesai. Jadwal oke, angka oke, kita jalan. Buktinya saya bisa hubungan sama [Chand] Parwez selama sepuluh tahun. Sekali lagi, kami bukan yang paling bagus. Buat saya, film kami tidak ada yang bagus. Tapi kami opsi yang paling aman. Produser percaya sama kami karena kerja kami cepat dan tepat waktu. Karena itu kami bisa buat banyak film setahun.

    FI: Dengan sistem kerja Anda seperti ini, kapan kira-kira Anda akan punya waktu untuk buat film yang Anda mau?

    N: Nah, itu dia. Saya tidak bisa berhenti. Padahal saya mau. Ini contohnya mau masuk bulan puasa, harusnya kan saya lebih santai, lebih tenang. Karena nggak mungkin buat film horor dekat bulan puasa. Kerja bisa lebih santai. Kami bisa ngobrolin film yang mau kami buat seperti apa. Bisa bikin rencana. Tahu-tahu datang produser. Bawa duit pula. Ya sudahlah. Langsung hijau mata saya. [Tertawa] Saya bisa nahan, tapi kalau ada duit cash di meja, pikir saya, “Kenapa tidak ini dulu? Yang lain nanti saja.” Masa orang di luar sana susah-susah cari duit, saya ditawarin duit di meja malah saya tolak. Saya langsung khilaf. [Tertawa]


    Pewawancara

    Adrian Jonathan Pasaribu
    Pengurus harian CinemaPoetica.com. Programmer Kinoki dari tahun 2007 sampai 2010. Penonton film dari kecil sampai sekarang.

    Arie Kartikasari
    Lulusan sekolah film dengan minat utama Produksi. Pernah mengajar produksi film dan pengenalan audio visual di beberapa lembaga pendidikan dan SMU. Pernah menjadi kru dalam beberapa produksi film.

  9. #149
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    yang gw baca dari sekilas wawancara si nayato ini adalah, dia ga punya niatan sama sekali bikin pilem bagus, dia pengen bikin pilem bagus, sayang mawnya dia yang serba instan, dan bisa langsung masuk box office.

    dan kalo dicrosscheck dr pengalaman rumus ttg pilemnya, jelas si nayato ini ga punya sense bikin pilem sama sekali, bikin poster pilem kok berdasarkan poster yang dipajang di rumah, yang namanya bikin poster pilem ya dari isi pilemnya

    nayato bandingin sama sutradara Monster yang bikin pilem minim kru, lah itu krunya bikin pilemnya pake hati bukan pake mata ijo kayak kru nayato.

    nayato ini tipe yang bikin pilem serius aja jelek (gw pernah liat sekilas yg ekskul), makanya bikin pilem kacangan aja.

  10. #150
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    boleh sebuTkan gak? Nama2 film nayato. Siapa tau aku pernah ntn,dan pgn nonton (kalau bagus)
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

  11. #151
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by Nharura View Post
    boleh sebuTkan gak? Nama2 film nayato. Siapa tau aku pernah ntn,dan pgn nonton (kalau bagus)

    Sebagai Nayato Fio Nuala

    The Soul (2002)
    Ekskul (2006)
    Cinta Pertama (2006)
    Kangen (2007)
    The Butterfly (2007)
    Kereta Hantu Manggarai (2008)
    Hantu Perawan Jeruk Purut (2008)
    Kuntilanak Kamar Mayat (2009)
    Virgin 2: Bukan Film Porno (2009)
    Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets (2009)
    18+ (2010)
    Kain Kafan Perawan (2010)
    Affair (2010)
    Belum Cukup Umur (2010)
    Akibat Pergaulan Bebas (2010)
    Not For Sale (2010)
    Nakalnya Anak Muda (2010)
    Pocong Jumat Kliwon (2010)
    Pengantin Pantai Biru (2010)
    Gaby dan Lagunya (2010)
    Heart 2 Heart (2010)
    ocong Ngesot (2011)
    Virgin 3: Satu Malam Mengubah Segalanya (2011)
    Kuntilanak Kesurupan (2011)
    Kepergok Pocong (2011)
    Tarung: City of The Darkness (2011)
    My Last Love (2012)
    Seandainya (2012)
    3 Pocong Idiot (2012)


    Sebagai Koya Pagayo

    Ada Hantu di Sekolah (2004)
    Panggil Namaku Tiga Kali (2005)
    12:00 am (film) (2005)
    Hantu Jeruk Purut (2006)
    Lewat Tengah Malam (2007)
    Malam Jumat Kliwon (2007)
    Hantu Ambulance (2008)
    Hantu Jamu Gendong (2008)
    Jeritan Kuntilanak (2009)
    Te(Rekam) (2010)
    Pocong Rumah Angker (2010)
    Kalung Jailangkung (2011)
    Pelet Kuntilanak (2011)
    Keranda Kuntilanak (2011)
    Santet Kuntilanak (2012)
    Kuntilanak-Kuntilanak (2012)
    Bangkit dari Kubur (2012)


    Sebagai Ian Jacobs

    Sarang Kuntilanak (2008)
    Merem Melek (2008)
    Kuntilanak Beranak (2009)
    Pocong Kamar Sebelah (2009)
    Pocong Jalan Blora (2009)


    Sebagai Pingkan Utari

    Me vs High Heels (2005)
    Gotcha (2006)
    Pocong Kesetanan (2011)

  12. #152
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Kok yg sebagai chiska doppert ga ada

    Mus mus.... Review pilem Tarung: city of darkness donk.... Dr judulnya kok ga biasa ya?

  13. #153
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    ah ada 4 filmnya yg aku tontn, me en high heels (lucu,aku suka) kangen(aneh,ga sampe hbs), gaby dan lagunya (film ngasal,wtf,aku nyesel ntn,huks) ada hantu disekolah(ni pilemnya rapi ahmad ya? Kalau iya aku pernah ntn,sedih,bgs,bikin mewek ni filmnya. Lebihnya gak pernah ntn, judulnya aneh,yg lain ada yg ntn? Btw makasih dah dilist khan pilemnya^^
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

  14. #154
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by choodee View Post
    Kok yg sebagai chiska doppert ga ada
    Menurut artikel ini, Chiska Doppert bukan Nayato. Walau memang dia bekerja di PH milik Nayato.


  15. #155
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    lah kalo begitu ini apah?

    Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film: 25 film atas nama Nayato, 15 film Koya Pagayo, 5 film Ian Jacobs, 3 film Chiska Doppert, dan 2 film Pingkan Utari.
    tapi biarpun si chiska bukan nayato, dari artikel di atas, bau2nya sealiran sama si nayato juga, bikin pilem 100% karena duid

  16. #156
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by choodee View Post
    lah kalo begitu ini apah?



    tapi biarpun si chiska bukan nayato, dari artikel di atas, bau2nya sealiran sama si nayato juga, bikin pilem 100% karena duid
    Ya berarti dia adik seperguruan Nayato. Mungkin dia memanggil Nayato dengan sebutan Kakak Pertama.

  17. #157
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    wtf... hasil wawancaranya bikin speechless ::grr::

    - - - Updated - - -

    wtf... hasil wawancaranya bikin speechless ::grr::
    because, imagination is a part of reality-

  18. #158
    pelanggan tetap Neptunus's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    1,814
    gw penasaran muka orang retarded macam Nayato ni kaya gimana

  19. #159
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Your wish is granted









    Quote Originally Posted by Nharura View Post
    ah ada 4 filmnya yg aku tontn, me en high heels (lucu,aku suka) kangen(aneh,ga sampe hbs), gaby dan lagunya (film ngasal,wtf,aku nyesel ntn,huks) ada hantu disekolah(ni pilemnya rapi ahmad ya? Kalau iya aku pernah ntn,sedih,bgs,bikin mewek ni filmnya. Lebihnya gak pernah ntn, judulnya aneh,yg lain ada yg ntn? Btw makasih dah dilist khan pilemnya^^
    What the? Nha bisa juga ngomong wtf

    Pasti Nha udah nyesel bin nyesek banget nonton pilem inih
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  20. #160
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    xixi.. Khan udah baca treadnya om surya yg dlu,jd tw wtf itu apa, bener tu film,kaga nyambung, aneh,maksa sedunia,sama parahnya dgn film banyu biru :iam dead:
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

Page 8 of 11 FirstFirst ... 678910 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •