^ gak disukai kan lebih ke masalah "ideologi ajaran agamanya drpd konsep negaranya![]()
^ gak disukai kan lebih ke masalah "ideologi ajaran agamanya drpd konsep negaranya![]()
you can also find me here
itu dia kop
mestinya iran bisa dijadikan role model
faktanya kan gakda yng tertarik tuk mencontoh atau mengikutinya kan?![]()
Last edited by pasingsingan; 19-04-2011 at 07:23 PM.
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
jangankan syiah-suni. antar sesama suni ajah susahnya minta ampun. begitupun dg sesama syiah![]()
Last edited by E = mc²; 20-04-2011 at 10:27 AM.
you can also find me here
Dari Kristen saja saya sudah melihat bahwa agama itu kelihatannya satu dari luar tapi dalamnya da banyak aliran2 yg merasa dirinya benar (yg lain kurang benar).
Menyatukan satu agama dibawah satu kepemimpinan itu seperti mencampur tanah dengan besi, campuran yg rapuh.
Agama2 Semit percaya bahwa akan datang pemimpin sejati yg menyatukan umat manusia, kalo bukan dia ya gak bisa.
susah yak bernegara dng dasar theokrasi (baca agama)
blom ada contoh yng boleh dibilang lumayan sukses yak![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
Saya rasa hubungan antara agama dengan negara itu seperti ini : Agama --> Manusia --> Pemerintahan
Artinya Agama membentuk moral yang baik (manusianya) lalu Manusia yg bermoral baik ini memerintah negara atas dasar moral tersebut.
Tapi banyak orang ingin membuat Shortcut : Agama --> Pemerintahan Teokrasi --> Manusia
Artinya Agama diputar2 sampai berbentuk hukum2 pemerintahan, lalu pemerintahan agama ini berusaha menjadi polisi moral bagi manusia.
Hal ini tidak pernah sukses karena pada dasarnya Agama bukan diciptakan untuk negara, Agama adalah untuk membentuk jiwa manusia.
Kitab suci agama apapun tidak berbentuk hukum2 negara.
Jadi, pemerintahan atas dasar agama itu tidak alamiah, itu bukan tujuan Tuhan menurunkan kitab suci apapun. Itu hanya pinter2nya beberapa orang yg memperalat agama dan kitab suci untuk meraih kekuasaan.
Jangan berprasangka buruk dulu ah....
Adanya orang-orang yang bermimpi untuk menggabungkan agama dan pemerintahan, pada hakekatnya adalah sekumpulan orang yang menemukan kekecewaan dalam sistem pemerintahan yang ada sekarang ini.
Demokrasi yang ga jelas juntrungannya.
Dan mereka--berdasarkan pemahamannya--berusaha mengejawantahkan apa yang dipercayainya ke dalam sesuatu yang berbentuk dan berguna bagi masyarakat nyata.
Tentu saja apa yang dibawa oleh agama adalah kebaikan.
Kenapa harus ragu kalau agama (yang notabene dipercayai sebagai ajaran Tuhan) dapat digabungkan dengan pemerintahan?
Mereka-mereka yang mengusung bendera agama gak semuanya bertabiat jelek, begitu juga yang mengusung bendera "umum" ga semuanya bertingkah laku bersih nan rupawan. Sejauh yang saya tau, jauh lebih banyak politisi busuk daripada agamawan busuk.
Kalau memang agama berasal dari Tuhan, mengapa harus meragukannya baik sebagai peraturan umat manusia? Kenapa kita lebih memilih peraturan manusia dibandingkan Tuhan?
Ada Apa Dengan Tuhan?
Apa gunanya agama kalau bukan untuk jadi alat kebaikan? Pemuasan nafsu rohaniah diri sendiri? Menjadi manusia suci seorang diri sementara dirinya dikelilingi sebuah dunia yang kotor?
Khotbahmodeff
---
Mengenai "mimpi" HTI yang dianggap Utopian, ya ga apa-apa toh bercita-cita mendirikan khilafah Islamiyah ala Rasulullah tempo dulu. Kan bagus kalo islam bersatu. Supaya jelas lho... mana yang "ini" mana yang "itu". Selama ini kan kabur, ga jelas yang mana wujud aslinya (atau malah sengaja dikabur-kaburin).
Ya... paling tidak adalah semacam mimpi untuk membenarkan letak jarum kompas yang itu lho, agar berdiri tepat ditengah-tengah (Adil). Jangan ke arah "sono" mulu, sementara yang di "sini" diinjek-injek terus.
Setau saya, demokrasi itu juga utopia... malah utopia yang busuk.![]()
Ahhh...
Mgk masalahnya karena agama itu dianggap milik sebuah kelompok. Bukan milik semua orang. Orang beragama sendiri sih yg salah.
Satu lagi, Agama dianggap langsung dari Tuhan dan nggak mungkin salah. Jadinya ngeri konsekuensinya jika ada nanti yang protes. Kalo demokrasi kan dah jelas buatan manusia dan demokrasi itu sendiri telah diakui oleh penggunanya sebagai bukan sistem yang sempurna.
demokrasi yang ada sekarang cuma pas pemilihan caleg ama pemilihan pres dan ketua daerah
sesudah itu yang ada cuma suara frkais bukan lagi suara rakyat
yang gak setuju dengan fraksinya silakan out![]()
Kelebihan sistem berbasis agama dari demokrasi adalah. Dalam agama, batasan itu jelas. Ini boleh dilakukan, itu tidak boleh dilakukan. Hukumnya tegas tidak pandang bulu. Tidak ada yang boleh punya ilmu kebal di sini.
Kalo kamu melakukan ini ---> rewardnya itu
Kalo kamu melanggar ini ---> akibat yang lu tanggung itu
Ada kecenderungan untuk "sadar" akan segala konsekwensi atas segala tindakan. Seenggak-enggaknya orang akan mulai berfikir. "Kalo melanggar, ntar gue diapain ya?"
Dan positifnya, hukum tetap berlangsung dengan ada atau tidaknya penegak hukum di sini. Konsep mata-yang-melihat-segalanya itu ada kan?
Terserah orang mau menjalankan hukum berdasarkan motif apa, bagi yang percaya konsep dosa dan pahala mungkin udah cukup buat dia ngerti dan sadar akan keberadaan Tuhan. Sementara bagi yang ga gitu percaya, hukum agama (yang sudah bermetamorfosis jadi hukum negara), udah bisa dikatakan cukup buat mengakomodir itu semua.
Ini berlaku untuk semuanya tanpa pandang bulunya siapa.
Konsep bermusyawarah dalam urusan dunia itu kan ada dalam agama. Agama jangan melulu dipandang sebagai besi keras nan kaku. Pemimpin yang salah dan tidak adil juga bakal ditindak kalo salah.
Justru itu, orang-orang terus berlindung dibalik kata "tidak sempurna"-nya itu untuk terus melakukan banyak pelanggaran. Coba kalau sistemnya sempurna, semuanya serba dijamin, apa ada orang yang masih sudi melakukan pelanggaran?![]()
Ahhh...
Kalau masalah batasan dan pelaksanaan hukum, agama tidak lebih baik dari sekular.
Di Amerika pernah ada anak mentri yang dipenjara karena menabrak orang.
Sebaliknya banyak orang beragama yang melanggar ajaran agamanya sendiri.
Masalah kejelasan hukum, Agama isinya penuh dengan perdebatan dan kelompok2 yg berbeda pandangan, belum jadi penguasa saja banyak kelompok agama yg saling membunuh karena perbedaan penafsiran kitab suci.
Sebenarnya setiap hukum tidak dapat memuaskan setiap manusia. Hukum itu cenderung membatasi tingkah laku manusia.
Manusia itu ciptaan yang mempunyai pikiran dan nafsu. Manusia bisa lebih rendah dari binatang kalau menuruti nafsunya. Oleh karena itu diciptakanlah hukum dan norma.
Apakah hukum buatan manusia selama ini memuaskan ? tentu belum. Masih banyak persoalan yang belum tersentuh oleh hukum buatan manusia tersebut.
Contohnya [untuk KUHP] : santet, kanibalism, semen leven, dsb.
Kalau dipikir2 dan diperhatikan sekarang : keinginan masyarakat pun sekarang bahkan melampaui hukum Tuhan .
Sudah berapa banyak maling tertangkap basah, kemudian dihakimi massa dihajar sampai mati atapun dibakar hidup-hidup hanya karena mencuri sesuatu yang nilaianya pun kadang tidak seberapa.
Kalau hukum Tuhan : mencuri diatas batasan tertentu dikenai hukuman potong tangan.
batasan tertentu : mencuri bukan pada saat kelaparan, nilailnya di atas yang ditentukan.
Sebenarnya target hukum Tuhan tersebut bukan pada berapa banyak orang yang di potong tangan, tapi orang akan berpikir kesekian kali untuk mencuri karena hukumnnya cukup berat dan menyakitkan, potong tangan.
Jadi memang benar, apabila ada suatu kelompok tidak puas dengan sistem sekarang. Maka mereka akan berpaling ke sistem yang lain apalagi ditambah romantisme masa lalu.
Jadi keutopiaan sistem Hizbut Tahrir sah-sah saja dan bukan suatu masalah dengan catatan mereka memperjuangkan hal tersebut dengan legal dan tidak melanggar hukum.
Kalau masalah agama dijadikan alat untuk saling bunuh, semua hal bisa dijadikan alat saling bunuh kok.., lihat saja tragedi Troya, PD I, PD II, Perang Teluk, Malvinas, politik Apartheid, dll.
Meski tlah jauh....
Ketidakpuasan terhadap suatu sistem tidak seharusnya disikapi dengan mencoba mengganti dengan sistem lain, melainkan dengan evaluasi. Ane kira apa yg dilakukan HT bukan tidak puas dgn sistem sekarang, melainkan keyakinan bahwa hanya sistem merekalah yg benar. Seandainya benar mereka tidak puas dgn sistem sekarang, tentunya mereka harus sudah mengevaluasinya. Jika alasannya adalah sistem sekarang buatan manusia, sementara sistem mereka buatan Tuhan yg mereka yakini lebih baik, itu bukan evaluasi.
Kalau disebutkan romantisme masa lalu, yg mana? Kekalifahan Cordova, Bagdad, atau Istambul, jelas tidak menggambarkan pelaksanaan Quran. Mereka dulu, bak Amerika sekarang. Kalau mau romantisme qurani, mereka harus mengacu pada pemerintahan Muhammad di Madinah dan beberapa sahabatnya.
![]()
ada beberapa jalan , Kop. Kalau sistem sekarang udah berkali-kali dievaluasi dan hasilnya juga masih nihil? atau malah tambah buyar..?
Kalau reformasi kagak ada hasil ? revolusi toh?
Misal : Demokrasi sekarang, hanya berpihak pada uang. Kelakuan wakil rakyat sekarang malah lebih mengerikan dibandingkan jaman Orde baru dulu. Pilkada hanya menghasilkan pimpinan yang paling kuat membeli suara rakyat. Memang ada beberapa bupati dan gubernur yang berkualitas hasil pilkada, namun bisa dihitung dengan jari, sisanya tersangkut perkara korupsi. Penegak hukum sami mawon , benar bisa salah, salah bisa benar.
Semua sudah seperti lingkaran setan, mau dievaluasi dari mana dan butuh waktu berapa lama?
Semua pihak yang menerapkan suatu sistem pasti meyakini hanya sistem mereka lah yang benar, Amerika (duh.. Amerika lagi...Amerika lagi...) bisa menghamburkan puluhan milyar dolar hanya untuk menumbangkan Sadam, dan memberikan pelajaran bagi Irak arti demokrasi kok..
Kekalifahan sehabis Khulafaurrasidin memang tidak menggambarkan pelaksanaan Quran. Tapi bagi penganut "Theokrasi Islam" mereka masih bisa ber-romantisme pada pemerintahan Madinah dan Khulafaurrasidin paling nggak ya jaman Abu Bakar dan Umar kalau meragukan Usman dan Ali karena banyak kekacauan dan intrik yang melibatkan sesama muslim pada saat itu.
Jadi ya itu, kita tunggu aja kesabaran HTI dalam memperjuangkan "Theokrasi Islam" nya . Apakah mereka tetap Istiqomah atau putus di tengah jalan.
Meski tlah jauh....
Back to topic:
HTI disebut ber-utopia memang karena rasanya tidak mungkin menerapkan konsep mereka -- karena tida mewakili seluruh umat Islam apalagi manusia. Tapi ya, kalo tiba-tiba akhirnya terterapkan (entah karena apa) ya menjadi tidak utopia lagi.
ah nggak juga dalam islam hukum islam yang menyangkut kehidupan manusia sudah sangat jelas dan clear.. seperti hukum nikah, hukum waris, hukum kriminal dll... sedangkanj perbedaan yang terjadi antara satu aliran dengan yang lain hanya sekedar kecil dalam pelaksanaan ibadah.. contohnya dalam shalat subuh ada yang qunut ada yang tidak... shalat tarawih ada yang 8 rakaat ada yang 20 rakaat... kalo yang saling bunuh sih itu mah masalah kepentingan politik aja.. ghak pernah gw denger orang muslim saling bunuh hanya gara2 tahlilan ato gara yang satu tarawih 8 rakaat yang lainnya 20 rakaatKalau masalah batasan dan pelaksanaan hukum, agama tidak lebih baik dari sekular.
Di Amerika pernah ada anak mentri yang dipenjara karena menabrak orang.
Sebaliknya banyak orang beragama yang melanggar ajaran agamanya sendiri.
Masalah kejelasan hukum, Agama isinya penuh dengan perdebatan dan kelompok2 yg berbeda pandangan, belum jadi penguasa saja banyak kelompok agama yg saling membunuh karena perbedaan penafsiran kitab suci.