Page 11 of 12 FirstFirst ... 9101112 LastLast
Results 201 to 220 of 235

Thread: Apakah Tafsir Itu Harus dilakukan Pemuka Agama?

  1. #201
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post

    Secara umum, menafsir sebuah teks ada ilmunya. Namanya HERMENEUTIKA. Jadi anda jangan berpikir bahwa ihwal tafsir Alquran dan Hadis cuma monopoli Islamic Scholars saja. Itu umum dan ilmiah kok, dan metode tersebut, yakni Hermeneutika, dipakai untuk menafsir teks apapun. Tak cuma Alquran dan Hadis saja.

    Gak cuma menguasai bahasa dari yang ditafsir, gak cuma menguasai nasakh dan mansukh, tapi juga harus menguasai antropologi manusia di jaman pada saat teks tersebut muncul. Jadi, pekerjaan menafsir memang tidak mudah, benar kata anda. Pekerjaan menafsir teks melibatkan berbagai disiplin ilmu.

    Masih. Asal dia bisa mempresentasikan tafsirnya dengan baik di hadapan khayalak (melalui buku misalnya) dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Serta, jangan lupa, jelas metodologinya.

    Inget loh bung, biasakanlah memandang persoalan kajian agama dari sudut pandang ilmiah, bukan sudut pandang kajian normatif agama tsb saja.

    Kajian ilmiah terhadap agama dimulai dari "desakralisasi" objek yang akan dikaji. Ini beda dengan kajian normatif agama yang dimulai dari iman dan keyakinan bahwa "agama ini benar dan oleh kaena itu sakral".
    Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
    filosofi yang berbeda.

    Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
    yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
    rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
    sudah dipastikan kebenarannya.

    ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
    olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
    Tafsir ilmu khusus..

    Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
    menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
    tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
    perselisihan atasnya.

  2. #202
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Pemuka agama ya yang sudah diakui sebagai ulama, cendikiawan agama, pastor, pendeta, biksu dll.
    Istilah yang tepat bukan "pemuka agama", tapi SCHOLARS. Atau "para sarjana".

    Walaupun bukan pastor, bukan biksu, bukan pendeta, bukan ustad, bahkan walaupun gak beriman sama sekali, tapi sejauh dia SCHOLARS, dalam arti dia memiliki kapasitas kesarjanaan/akademik di bidangnya, maka dia memiliki kapasitas melakukan hal tersebut.


    Menafsir teks dalam hal ini adalah pekerjaan para ilmuwan (scholars). Dan hasil kerja para ilmuwan TIDAK BISA DAN TIDAK BOLEH MENGANDUNG BIAS IMAN PRIBADI. Ini berkenaan dengan profesionalitas kerja.

    ---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:24 AM ----------

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
    filosofi yang berbeda.

    Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
    yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
    rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
    sudah dipastikan kebenarannya.

    ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
    olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
    Tafsir ilmu khusus..

    Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
    menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
    tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
    perselisihan atasnya.
    Hermeneutika itu metode menafsir teks secara umum, bukan metode khusus untuk menafsir Bible. Parah deh anda ini. Dan hermeneutika juga bukan untuk mencari "mana yang benar dan palsu", tapi UNTUK MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.
    Karena apa? Karena BAHASA VERBAL bukan cuma sekedar alat berkomunikasi, tapi juga mengandung pandangan dunia dari para penuturnya.

    Dan satu lagi: Hermeneutika itu BUKAN "TAFSIR", tapi METODA TAFSIR.

  3. #203
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Hermeneutika itu metode menafsir teks secara umum, bukan metode khusus untuk menafsir Bible. Parah deh anda ini. Dan hermeneutika juga bukan untuk mencari "mana yang benar dan palsu", tapi UNTUK MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.
    Karena apa? Karena BAHASA VERBAL bukan cuma sekedar alat berkomunikasi, tapi juga mengandung pandangan dunia dari para penuturnya.

    Dan satu lagi: Hermeneutika itu BUKAN "TAFSIR", tapi METODA TAFSIR.
    emang yang ngembangin Hermeneutika, sapa Ish?
    Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?
    Obyek yang diteliti apa? Alquran? Wedha? atau?

    ---------- Post added at 08:37 AM ---------- Previous post was at 08:33 AM ----------

    loe baca lagi tulisan gw yang gw kerengin.
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
    filosofi
    yang berbeda.

    Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
    yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
    rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
    sudah dipastikan kebenarannya.

    ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
    olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
    Tafsir ilmu khusus..

    Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
    menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
    tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
    perselisihan atasnya.

  4. #204
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    nah kebanyakan orang yg berderajat tinggi ini dijadikan pemuka agamapadahal, tidak semua pemuka agama itu berderajat tinggi (contohnya banyak lha di koran2 dan infotainment)

    karena untuk memperoleh derajat tinggi, gak cukup dengan sekolah sampe S3, atau dengan belajar bahasa arab sampe lidahnya bisa mlintir2
    untuk memperoleh derajat tinggi harus melalui olah bathin, perenungan dalam, perjalanan ke dalam diri di bawah bimbingan Guru Mursyid
    .
    “Batin”, hehehehe… nggak ilmiah.

    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

    menurut pendapat saya gak selalu
    karena bisa jadi ada seorang biasa, yang berguru pada Guru Mursyid yang sudah sampai level tinggi bisa melebihi seseorang yang cuma belajar S3 atau S10 tentang quran tapi tanpa dibimbing oleh Guru Mursyid.
    Bung, apa definisi anda tentang “ilmu” sih? “Ilmu” itu adalah sistematisasi pengetahuan, sehingga dengan disistematisasi, kita memperoleh pemahaman yang utuh (atau sekurang-kurangnya pemahaman yang terbaik) atas sesuatu tsb.

    Nah, hal-hal yang bersifat “batin” itu bukan sistematisasi pengetahuan dan tidak bisa dijadikan patokan dalam berdiskusi.

    Mari kita berdiskusi dalam platform ilmiah, bukan “kebatinan”.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    emang yang ngembangin Hermeneutika, sapa Ish?
    Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?
    Obyek yang diteliti apa? Alquran? Wedha? atau?
    Yang mengembangkan hermeneutika ya para scholars. Objek yang diteliti? TEKS! Pertanyaan anda aneh, karena anda berangkat dari pemahaman yang sempit dan keliru tentang hermeneutika. Anda "mengira" hermeneutika adalah metoda menafsir bible tok.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    loe baca lagi tulisan gw yang gw kerengin.
    Sudah. Dan menunjukkan anda TIDAK PAHAM apa itu hermeneutika.

    Sekali lagi: Hermeneutika adalah UPAYA MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?
    Bung, anda emang gak punya background mindset ilmiah, makanya pertanyaannya awam banget. Bung, kalo bicara "ilmiah" itu gak ada istilahnya "sejarawan Islam, Hindu dsb". Sejarawan ya sejarawan! Bahwa dia agamanya Islam itu urusan pribadi dan tidak ada urusannya dengan profesi sebagai sejarawan. Bahwa dia meneliti sejarah Islam, juga bukan berarti dia harus beragama Islam.

    Diskusi ini kembali ke masalah dasar, soal mindset dan platform yang digunakan dalam diskusi ini. Mindset ilmiah memandang agama sebagai semata objek studi yang dikaji dengan jarak, bukan sesuatu yang diimani lantas dikaji.

    Saya terbiasa dengan mindset ilmiah, sementara anda tidak. Pemahaman anda terhadap "kajian agama" adalah dalam kerangka normatif agama tsb. Ya nggak bisa begitu bung.
    Last edited by ishaputra; 04-02-2012 at 09:52 AM.

  5. #205
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    sebelum gw ngomong sejarawan Islam, Hindu dsb,
    gw sudah ngomong dulu, soal Obyek yang menjadi
    kajian dalam Hermeneutika....

    Artinya, kalau loe pake logika, loe harusnya tahu,
    ketika gw ngomong sejarawan Islam, gw bicara
    tentang sejarawan yang meneliti Islam, bukan se
    jarawan yang beragama Islam

    nih gw kutipin sejarah Hermeneutika, biar loe nyaho,
    kalau Hermeneutika berangkat dari tradisi keilmuan
    Yudeo-Kristian, yang sekarang loe mau paksakan
    harus digunakan oleh semua Agama lain, khususan
    Islam

    http://alkitab.plusadvisor.com/herme...eutika-bab-iii
    HERMENEUTIK DALAM SEJARAH

    Kapan ilmu menafsir Alkitab mulai berkembang? Aliran-aliran penafsiran apa saja yang yang ada?

    PERKEMBANGAN HERMENEUTIK DI KALANGAN ORANG YAHUDI

    Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel. Oleh karena itu untuk mempelajari sejarah Hermeneutik kita harus kembali paling tidak lima abad sebelum Kristus lahir.

    A. Hermeneutik Yahudi

    PUSAT IBADAH YAHUDI.

    Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra (457SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan. Pusat ibadah orang Yahudi dahulu adalah Yerusalem dimana mereka beribadah dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali pengajaran dari Kitab-kitab Taurat. Pengajaran Taurat itu menjadi sumber penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk mempertahankan diri dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.

    Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah menghilangkan gap bahasa yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu, khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik Pertama. Ref.: [sweb]Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20[/sweb]

    TEMPAT IBADAH SINAGOGE.

    Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat, didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah Bait Suci (Yerusalem). Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa, membaca Taurat dan mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka memelihara tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

    Sinagoge Agung adalah kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini adalah menafsirkan kitab-kitab Taurat. {[sweb]Ne 8:9-13[/sweb]} Oleh karena itu bisa dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama didirikan.

    Setelah semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah Palestina, tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap dibawa ke tanah air mereka dan sinagoge lokal pun mulai didirikan di tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah dibangun kembali). Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak sinagoge di kota-kota di Israel, yang dipimpin oleh seorang yang disebut "kepala rumah ibadah". {[sweb]Mr 5:22 Lu 13:14 Ac 13:5 14:1[/sweb]}

    SEKOLAH-SEKOLAH MENAFSIR YAHUDI.

    Melihat pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam perkembangan selanjutnya, (setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah menafsir formal, diantaranya:

    Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir kitab-kitab Taurat, yaitu menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas mutlak Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan Hukum-Hukum Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman itu, sehingga tulisan ini dikemudian hari dikenal dengan nama "Tradisi Lisan" (the Oral Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan otoritas yang sejajar yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.

    Pada abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang disebut "Mishna" yang artinya "doktrin lisan dan pengajarannya". Dalam Mishna ini terdapat dua macam tafsiran:

    Halakah

    Penafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.

    Hagadah

    Penafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum, yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama. Perkembangan selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku Mishna, yang disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya membentuk buku (kitab)

    Talmud.

    Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok masyarakat Yahudi yang sudah tercampur dengan budaya dan pikiran Yunani (kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama adalah menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai hasilnya adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab Apokrifa dalam Septuaginta menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.

    Namun sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi mengalami kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran Taurat. Sebagai jalan keluar muncullah cara interpretasi alegoris yang dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang bertentangan itu.

    Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis Yahudi yang pertama menggunakan metode alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat melalui penafsiran alegoris.

    Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip menafsir yang dipakai oleh Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum dewasa karena hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan penafsiran alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti yang tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa).

    Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi lisan dan juga metode penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode penafsiran literal, kecuali bila sifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai akibatnya mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.

    Selain sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal, yaitu Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.

  6. #206
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
    filosofi yang berbeda.
    Sekali lagi, hermeneutika itu bukan tafsir, tapi metode tafsir. Kalo anda ngotot mendikotomi antara hermeneutika dengan tafsir, itu menunjukkan dengan jelas anda gak paham apa itu hermeneutika.

  7. #207
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Lanjutannya
    B. Hermeneutik Apostolik

    Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah metode penafsiran literal. Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.

    YESUS KRISTUS, PENAFSIR SEMPURNA.

    Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak memberikan penafsiran kitab-kitab PL. {[sweb]Joh 5:39 Lu 24:27,44[/sweb]} Dengan cara demikian Yesus telah membuka pikiran murid-muridNya untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat (mis: [sweb]Mat 15:1-9; Mar 7:1-7 Mat 23:1-33 Mat 22:29[/sweb]). Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: [sweb]Mt 10:5,6 12:1-4,15-21 13:1-9 18:23 19:3-9 21:42-44 22:41-46 24:36-39 Lu 11:29,30 21:20-24 24:27-44[/sweb].

    PARA RASUL, PENULIS-PENULIS YANG MENDAPATKAN INSPIRASI DARI ALLAH.

    Mereka adalah contoh penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: [sweb]Ro 3:1-23 9:6-13 Ga 3:1-29; 4:21-31 1Co 9:9-12 10:1-11 Heb 6:20-7:21 8-8-12 10:1-14,37-11:40; 1Pe 2:4-10; 2Pe 3:1-13[/sweb].

    C. Hermeneutik Bapak-bapak Gereja

    Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:

    95 - 202 M (CLEMENT DARI ROMA SAMPAI IRENAEUS).

    Tidak ada banyak catatan penting mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.

    202 - 325 M (SEKOLAH ALEKSANDRIA).

    Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.

    Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.

    Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.

    325 - 600 M (SEKOLAH ANTIOKIA).

    Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat diringkaskan sbb.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode tipologi.

    Tokoh-tokoh Sekolah Antiokia adalah:

    Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah. Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.

    Gereja Bagian Timur

    Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).

    Gereja Bagian Barat

    Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).


    ---------- Post added at 09:00 AM ---------- Previous post was at 08:59 AM ----------

    lanjutannya lagi:
    D. Hermeneutik Abad Pertengahan

    Masa periode tahun 600 - 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi gereja. Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.

    Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.

    Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah: THOMAS AQUINAS. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.

    JOHN WYCLIFFE.

    Ia sering disebut sebagai "Bintang Fajar Reformasi" karena kegigihannya menyerang pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.

    Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.

    E. Hermeneutik Reformasi

    Periode ini terjadi pada tahun 1517 - 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.

    PERJUANGAN REFORMASI.

    Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang memperjuangkan "sola scriptura" (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:

    Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.

    Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.

    Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.

    Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.

    Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.

    Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.

    Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.

    TOKOH REFORMASI.

    Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.

    Prinsip penafsiran Martin Luther:

    Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.

    Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.

    Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah.

    Penafsiran alegoris tidak berlaku.

    Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.

    Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.

    Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.

    John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.

    Prinsip penafsiran John Calvin:

    Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.

    Alkitab akan menafsirkan Alkitab.

    Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi kata dan memeriksa tata bahasa.

    Menolak penafsiran alegoris.

    Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.

    Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat. Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.

  8. #208
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    dan berikutnya:
    F. Hermeneutik Paska-Reformasi

    Periode ini adalah antara tahun 1600 - 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.

    SESUDAH REFORMASI. Terjadi banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya menjadi kepahitan di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme mulai meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk membenarkan dogma dan teologia mereka sendiri.

    GERAKAN PEITISME.

    Gerakan ini muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena Alkitab telah disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu mempelajari Alkitab dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan memperkaya aplikasi kehidupan rohani. Meskipun motivasi ini baik, tetapi berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan lagi untuk mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah kelompok-kelompok seperti Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh gerakan Pietisme ini adalah:

    Philipp Jakob Spener - Bapak Pietisme. Ia percaya bahwa kemurnian hati lebih berharga daripada kemurnian doktrin. Ia mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari sendiri Firman Allah dan mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.

    August Hermann Francke.

    Sebagai murid Spener, ia juga mengikuti prinsip-prinsip Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir baru yang dapat mengerti arti berita Alkitab. Ia juga mengkombinasikan antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi negatif dari gerakan ini muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang bukan anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.

    KRITISISME.

    Melihat kelemahan Pietisme dengan metode devotional, banyak teolog mulai melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha dilakukan dalam bidang kritik teks. Naskah-naskah Alkitab mulai dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk mengetahui keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann August Ernesti.

    RASIONALISME.

    Dari Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas yang seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang lebih tinggi dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah, dianggap cukup untuk mengetahui Penyataan Allah. Apabila ada hal yang tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus dibuang. Sebagai akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti buku-buku yang lain. Dua tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes, Spinoza dan Semler.

    G. Hermeneutik Modern

    Masa periode ini adalah tahun 1800 - sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:

    LIBERALISME.

    Rasionalisme telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara umum diringkaskan pendekatan mereka adalah:

    Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak.

    Inspirasi didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia (penulis Alkitab).

    Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia.

    Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran teologis modern.

    Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologianya. Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.

    NEO ORTODOKS.

    Karl Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl Barth menolak baik inspirasi maupun ketidakbersalahan Alkitab karena menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru akan terjadi apabila ada pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab. Alkitab sendiri bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena itu penafsiran Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah sendiri yang bertemu dengan manusia.

    KONSERVATISME/INJILI.

    Gerakan Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiran-pikiran modern. Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain: Rasio harus ditaklukkan di bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk menginterpretasi Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan penerangan supaya kita mengerti.

    Pendekatan penafsiran literal, karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab. Percaya pada Penyataan yang progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu sehingga berlaku di sepanjang jaman.


    ---------- Post added at 09:01 AM ---------- Previous post was at 09:00 AM ----------

    dan yang terakhir
    HERMENEUTIK BARU.

    Tokohnya adalah Rudolf Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir adalah kita harus membaca sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak boleh mengabaikan inteleknya. Otoritas Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Mereka bahkan meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan utama Hermeneutik Baru adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki Liberalisme.

    C. Aliran-aliran Hermeneutik

    Telah kita pelajari sebelumnya bahwa sejak permulaan berdirinya sinagoge sampai gereja, bahkan sampai saat ini terdapat berbagai metode untuk melakukan penyelidikan/penafsiran Alkitab. Metode penafsiran dari kelompok-kelompok tertentu mengikuti aliran tertentu. Diantara aliran-aliran yang timbul dan berkembang tsb. akhirnya dapat digolong-golongkan sbb.:

    METODE ALEGORIS.

    Metode Alegoris berangkat dari suatu asumsi bahwa dibalik arti harafiah yang sudah biasa dan jelas itu terdapat arti sesungguhnya (kedua) yang lebih dalam yang perlu ditemukan oleh orang Kristen yang lebih dewasa. Dalam menafsirkan perikop Alkitab mereka membandingkan masing-masing fakta/informasi yang sudah jelas untuk membuka kebenaran rohani tersembunyi dibalik pengertian literalnya.

    Metode Alegoris tidak hanya populer di gereja-gereja purba, karena dalam gereja modern sekarangpun masih banyak ditemukan cara penafsiran Alkitab seperti ini. Mereka sering berpendapat bahwa apa yang Allah katakan melalui penulis-penulis Alkitab bukanlah arti yang sesungguhnya. Bahaya dari metode ini adalah tidak adanya batasan dan aturan secara Alkitabiah untuk memeriksa kebenaran beritanya. Bahkan tujuan dan maksud penulisanpun akhirnya diabaikan sama sekali.

    METODE MISTIS.

    Banyak ahli tafsir Alkitab menggolongkan metode penafsiran Mistis sama dengan metode penafsiran Alegoris, karena memang sangat mirip. Penganut metode ini biasanya bercaya bahwa ada arti rohani dibalik semua arti harafiah yang kelihatan. Dan mereka memberikan botot yang lebih berat kepada hasil penafsiran mistis daripada arti yang sudah biasa.

    Bahaya dari cara penafsiran ini terletak pada keragaman dan ketidak-konsistenan hasil penafsiran mereka, sehingga tidak terkontrol banyaknya ragam hasil penafsiran mereka yang sering kali justru memecah belah jemaat. Hal ni juga memberikan kesulitan dalam mempertanggung jawabkan doktrin kejelasan (clarity) Alkitab, dan justru sebaliknya mereka membuat Alkitab tidak jelas dan Allah seakan-akan bermain tebak-tabakan dengan penafsir untuk menemukan arti rohani dari setiap ayat. Dan bahaya yang paling besar adalah penafsir menjadi otoritas tertinggi dalam menentukan kebenaran penafsirannya.

    METODE PERENUNGAN (Devotional).

    Tujuan metode penafsiran ini adalah hanya pada pengaplikasiannya saja sehingga penganut metode ini menafsirkan Alkitab dalam konteks pengalaman hidup mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa Alkitab ditulis memang untuk tujuan pengkudusan pribadi semata-mata oleh karena itu arti rohani ayat-ayat tsb. hanya akan dapat ditemukan dari terang pergumulan rohani pribadi. Oleh karena itu yang paling penting dalam mengerti Alkitab adalah apa yang Tuhan katakan kepada saya pribadi.

    Bahaya dari metode penafsiran ini adalah menjadikan Firman Tuhan menjadi pusat aplikasi pribadi saja dan mengabaikan memahami karya Tuhan dan campur tangan Tuhan dalam sejarah. Kelemahan yang lain dari metode ini adalah akhirnya jatuh pada kesalahan yang sama dengan metode Alegoris dan Mistis, karena mereka akhirnya mengalegoriskan dan merohanikan Firman Tuhan untuk bisa sesuai dengan kebutuhan pribadi.

    METODE RASIONAL.

    Metode Rasional sangat digemari pada masa sesudah Reformasi, namun demikian dampaknya masih terasa sampai jaman modern ini dalam berbagai macam bentuk penafsiran yang pada dasarnya bersumber pada metode Rasional. Penganut metode Rasional berasumsi bahwa Alkitab bukanlah otoritas tertinggi yang harus menjadi panutan. Alkitab ditulis oleh manusia maka berarti merupakan hasil karya rasio manusia. Oleh karena itu kalau ada bagian-bagian Alkitab yang tidak dapat diterima oleh rasio manusia maka bisa dikatakan bahwa bagian Alkitab tsb. hanyalah mitos saja.

    Meskipun metode ini disebut sebagai "rasional" dalam kenyataan metode penafsiran ini adalah metode yang paling tidak rasional. Jelas bahwa penganut metode ini sebenarnya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab, sebaliknya mereka hanya memperhatikan pada apa yang mereka pikir penulis Alkitab katakan. Rasio mereka pakai menjadi standard kebenaran yang lebih tinggi dari Firman Tuhan (Alkitab). Mereka menafsirkan Alkitab hanya untuk mencari aplikasi bagi standard moral mereka saja.

    METODE LITERAL (HARAFIAH).

    Metode Literal adalah metode penafsiran Alkitab yang paling tua, karena metode inilah yang dipakai pertama kali oleh Bapak Hermeneutik Ezra. Metode ini juga yang dipakai oleh Tuhan Yesus dan pada rasul. Metode penafsiran Literal berasumsi bahwa kata-kata yang dipakai dalam Alkitab adalah kata-kata yang memiliki arti seperti yang diterima oleh manusia normal pada umumnya, yang memiliki arti yang yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan oleh akal sehat manusia. Tujuan Allah memberikan FirmanNya adalah supaya dimengerti oleh manusia oleh karena itu Allah memakai bahasa dan hukum-hukum komunikasi manusia untuk menafsirkan arti dan maksudnya.

    Yang dimaksud dengan "literal" (harafiah) adalah arti yang biasa yang diterima secara sosial dan adat istiadat setempat dalam konteks dimana penulis Alkitab itu hidup. Oleh karena itu apabila arti ayat-ayat Alkitab tidak jelas maka penafsir harus kembali melihat konteks bahasa dan budaya (sejarah) dimana penulis itu hidup dan penafsir harus menafsirkan ayat-ayat itu sesuai dengan terang dan pertimbangan konteks bahasa dan budaya (sejarah) itu.

    Hal-hal yang perlu dipahami dalam menggunakan metode Literal:

    Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti figuratif dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.

    Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya ari rohani dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.

    Metode Literal tidak berarti mengabaikan tujuan aplikasi pribadi dalam penafsiran. Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti yang dalam yang harus ditemukan dalam penafsiran.

    Sumber Bacaan:

    Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal. 29-111)

    John H. Hayes & Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab – (Hal. 18-24)

    Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 17-41)

    Louis Berkhof, Principles of Biblical Interpretation - (Hal. 19-31)

    Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 13-16)


    ---------- Post added at 09:04 AM ---------- Previous post was at 09:01 AM ----------

    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Sekali lagi, hermeneutika itu bukan tafsir, tapi metode tafsir. Kalo anda ngotot mendikotomi antara hermeneutika dengan tafsir, itu menunjukkan dengan jelas anda gak paham apa itu hermeneutika.
    Indonesia punya tradisi batik Tulis, sekarang yang
    ngetop Batik Cetak/Mesin.

    hanya orang yang ngga mengerti Filosofi batik tu
    lis, yang ngotot untuk mengganti Batik Tulis de
    ngan Batik Cetak/Mesin.

    dan loe, yang ngga mengerti Ilmu Tafsir (Batik Tulis),
    memaksakan Hermeneutika (Batik Cetak/Mesin), pa
    da orang-orang Islam (pengrajin/seniman Batik Tulis)

    ngerti ora son?

  9. #209
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    nih gw kutipin sejarah Hermeneutika, biar loe nyaho,
    kalau Hermeneutika berangkat dari tradisi keilmuan
    Yudeo-Kristian
    , yang sekarang loe mau paksakan
    harus digunakan oleh semua Agama lain, khususan
    Islam.
    Banyak digunakan untuk tafsir Bible, bukan berarti METODA TSB milik eksklusif Yudeo Kristen. Hermeneutika itu sendiri asalnya istilah Yunani, dan berasal dari nama dewa yaitu "Hermes" yang bertugas sebagai "kurir pesan" dari Tuhan kepada manusia. Di sinilah kata hermeneutika berasal. Tujuan dari metoda hermeneutika adalah memahami dengan sebenar-benarnya, dengan setepat mungkin maksud dari sebuah teks dengan mempertimbangkan konteks adat tradisi, antropologi dan "pandangan dunia" (weltanschauung) masyarakat di mana teks tersebut muncul.

    Pengertian hermeneutika sebagaimana dijelaskan bersifat umum. Apakah upaya interpretasi terhadap Alquran dan Hadis, atau teks apapun, bisa lepas dari pengertian hermeneutika di atas? TIDAK! Di Islam pun dikenal dengan "asbabun nuzul", dan itu mirip dengan metoda hermeneutika, cuma bahasanya saja yang berbeda. Saya pernah ngobrol sama mahasiswa UIN Jogja tahun 2009 dalam sebuah seminar, dan dia sama sekali nggak keberatan dengan metoda hermeneutika. Adapun penolakan Muslim terhadap hermeneutika, menurut dia, lebih banyak karena ketidakpahaman (atau pemahaman yang keliru) terhadap apa itu hermeneutika.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    yang sekarang loe mau paksakan
    harus digunakan oleh semua Agama lain.
    Bukan hanya "semua agama lain", tapi UNTUK SEMUA TEKS terutama yang muncul di masa lampau. Kenapa diperlukan hermeneutika? Salah satunya karena faktor adanya GAP budaya dan pandangan dunia manusia selama ribuan tahun.

    Bung, ini saya jelaskan:

    Mengabaikan hermeneutika dalam menafsir Alquran dan Hadis, menyebabkan munculnya pemahaman yang literalistik terhadap teks-teks Alquran dan hadis. Dan itu jelas berbahaya.

    Contoh aplikasi hermeneutik terhadap hadis: Ada satu hadis sahih yang berbunyi "a’ful liha", yang artinya "panjangkan jenggot kalian". Bagaimana anda menyikapi hadis tersebut?

    Hadis itu bersifat perintah lho, dan diucapkan oleh rosul, sahih pula. Tapi, dengan pendekatan hermeneutis kita akan paham bahwa rosul, bagaimanapun, adalah anak dari zamannya. Perintah beliau itu memiliki konteks kultur tertentu, dalam hal ini kultur Arab. Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti.

    Biasanya, ayat-ayat Alquran maupun hadis yang harus dikaji dengan pendekatan hermeneutis adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan "kehidupan dan hubungan bermasyarakat".

    ---------- Post added at 09:33 AM ---------- Previous post was at 09:25 AM ----------

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Indonesia punya tradisi batik Tulis, sekarang yang
    ngetop Batik Cetak/Mesin.

    hanya orang yang ngga mengerti Filosofi batik tu
    lis, yang ngotot untuk mengganti Batik Tulis de
    ngan Batik Cetak/Mesin.

    dan loe, yang ngga mengerti Ilmu Tafsir (Batik Tulis),
    memaksakan Hermeneutika (Batik Cetak/Mesin), pa
    da orang-orang Islam (pengrajin/seniman Batik Tulis)

    ngerti ora son?
    False analogy. Menunjukkan anda tidak mengerti apa itu hermeneutika babar-blas. Dan susah diskusi sama orang yang tidak bertatapikir ilmiah.

    Di halaman awal, sudah dijelaskan berbagai tafsir berdasarkan metodologinya. Dan hermeneutika BUKAN metoda yang bersifat menggantikan metoda-metoda tersebut, melainkan melengkapi.

    Kutipan yang anda uraikan mengenai "sejarah hermeneutika" adalah uraian bagaimana hermeneutika digunakan dalam tafsir Alkitab (dan memang berasal dari situs kristen jadi wajar saja yang ditekankan adalah sejarah tafsir bible), dan TIDAK MENUNJUKKAN bahwa metode tersebut eksklusif milik Yudeo Kristen.

    Nih baca dan perhatikan yang saya bold:

    "Traditional hermeneutics is the study of the interpretation of written texts, especially texts in the areas of literature, religion and law. A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible. Modern hermeneutics encompasses everything in the interpretative process including verbal and non-verbal forms of communication as well as prior aspects that affect communication, such as presuppositions, preunderstandings, the meaning and philosophy of language, and semiotics."

    http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutics

    Hermeneutika sebagai metoda tafsir Bible cuma salah satu bentuk aplikasi metoda ini, bukan satu-satunya, bukan pula milik eksklusif Yudeo-Kristen.

    Situs yang anda kutip adalah situs kristen, ya WAJAR dan SANGAT WAJAR kalo menekankan pembahasa sejarah hermeneutika dalam konteks tafsir Bible.

    Makanya, belajar Islam itu sama scholars yang memang punya background akademik Islam, bukan sama yang punya background akademik dokter hewan alumni IPB. (tau dong yang saya mangsut)
    Last edited by ishaputra; 04-02-2012 at 10:39 AM.

  10. #210
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    harusnya loe kerengin yang itu tuh
    Nih baca dan perhatikan yang saya bold:

    "Traditional hermeneutics is the study of the interpretation of written texts, especially texts in the areas of literature, religion and law. A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible. Modern hermeneutics encompasses everything in the interpretative process including verbal and non-verbal forms of communication as well as prior aspects that affect communication, such as presuppositions, preunderstandings, the meaning and philosophy of language, and semiotics."

    http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutics
    modern hermeneutic encompases everything?

    mana ilmiahnya, bro?
    ngga ada tuh, yang namanya encompases every
    thing, kalau loe benar-benar berpegang pada prin
    sip-prinsip keilmiahan

    ---------- Post added at 09:39 AM ---------- Previous post was at 09:37 AM ----------


    Kutipan yang anda uraikan mengenai "sejarah hermeneutika" adalah uraian bagaimana hermeneutika digunakan dalam tafsir Alkitab (dan memang berasal dari situs kristen jadi wajar saja yang ditekankan adalah sejarah tafsir bible), dan TIDAK MENUNJUKKAN bahwa metode tersebut eksklusif milik Yudeo Kristen.
    Menunjukkan bahwa Hermeneutika berangkat dari
    tradisi keilmuan Yudeo-Christian.

    kalau umat Islam punya metode tafsir sendiri, nga
    pain loe maksa-maksa make metode dari luar Islam?
    Itu yang menjadi inti persoalan.

  11. #211
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Originally Posted by ishaputra
    Bukan hanya "semua agama lain", tapi UNTUK SEMUA TEKS terutama yang muncul di masa lampau. Kenapa diperlukan hermeneutika? Salah satunya karena faktor adanya GAP budaya dan pandangan dunia manusia selama ribuan tahun.

    Bung, ini saya jelaskan:

    Mengabaikan hermeneutika dalam menafsir Alquran dan Hadis, menyebabkan munculnya pemahaman yang literalistik terhadap teks-teks Alquran dan hadis. Dan itu jelas berbahaya.

    Contoh aplikasi hermeneutik terhadap hadis: Ada satu hadis sahih yang berbunyi "a’ful liha", yang artinya "panjangkan jenggot kalian". Bagaimana anda menyikapi hadis tersebut?

    Hadis itu bersifat perintah lho, dan diucapkan oleh rosul, sahih pula. Tapi, dengan pendekatan hermeneutis kita akan paham bahwa rosul, bagaimanapun, adalah anak dari zamannya. Perintah beliau itu memiliki konteks kultur tertentu, dalam hal ini kultur Arab. Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti.

    Biasanya, ayat-ayat Alquran maupun hadis yang harus dikaji dengan pendekatan hermeneutis adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan "kehidupan dan hubungan bermasyarakat bermasyarakat".
    buat yang gw bold...
    pertama. Rasullullah Shallohualaihi wa sallam itu diturunkan buat umat manusia bukan buat bangsa ARAB saja so perintahnya tersebut diberlakukan untuk semua umatnya dan waktu tidak mengikat...
    kedua. metode tafsir hermeneutika yang memisah2kan perintah berdasarkan waktu, tempat turunnya sehingga perintah2 tersebut nantinya dimasa depan atau di tempat lain bisa ditiadakan bukanlah konsep Islam saudaraku.... perintah2 ya perintah dan itu berlaku hingga akhir zaman dan dibelahan bumi manapu... tinggal umatnya yang mau melaksanakan perintah itu atau tidak, tentu denganreward dan punishment yang ada.....

  12. #212
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    harusnya loe kerengin yang itu tuh
    Baca dong yang bener:

    "A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible".

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    modern hermeneutic encompases everything?
    Yup. "...encompasses everything in the interpretative process..."

    Hermeneutika itu metoda tafsir teks, bukan "metoda tafsir bible". Pahami pengertian hermeneutika yang saya ungkapkan di atas.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Menunjukkan bahwa Hermeneutika berangkat dari
    tradisi keilmuan Yudeo-Christian.
    Dan itu BUKAN BERARTI hermeneutika menjadi milik eksklusif Yudeo-Kristen, karena ilmu itu berkembang.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    kalau umat Islam punya metode tafsir sendiri, nga
    pain loe maksa-maksa make metode dari luar Islam?
    Itu yang menjadi inti persoalan.
    Duh, bocah. Pahami dulu APA ITU HERMENEUTIKA baru ngomong. Saya sudah uraikan pemahaman saya tentang hermeneutika dan saya berangkat dari situ.

    Nah, anda sendiri, apa yang anda pahami dari hermeneutika? Bung, mari kita diskusi dalam platform ilmiah, bukan keimanan.

  13. #213
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Dan itu BUKAN BERARTI hermeneutika menjadi milik eksklusif Yudeo-Kristen, karena ilmu itu berkembang.
    kalau atheis, hindu, budhis mau make silahkan saja

    Sebagai Muslim dan mayoritas muslim ngga mau
    make tuh... tapi loe paksain,

    Duh, bocah. Pahami dulu APA ITU HERMENEUTIKA baru ngomong. Saya sudah uraikan pemahaman saya tentang hermeneutika dan saya berangkat dari situ.

    Nah, anda sendiri, apa yang anda pahami dari hermeneutika? Bung, mari kita diskusi dalam platform ilmiah, bukan keimanan.
    loe pahami dulu, Hermeneutika itu berangkat dari
    apa? Baru ngemeng!

    Dalam Islam "Innamal a'malu bin niat"
    Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
    Alkitab,.... berarti niat awalnya udah ngga cocok
    dengan Islam.

  14. #214
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    setuju ama bung Ronggo.. dalam Islam sendiri Nabi Muhammad Shallohu alaihi wa sallam sering mengingatkan untuk menyelisishi kaum Yahudi.. nah kalo dalam masalah memanjangkan jenggot dan memotong kumis aja disuruh menyelisihi apalagi masalah metode tafsir.... so tafsir hermeneutika kagak dipake dalam Islam.. ntahlah kalo metode tafsir ini digunakan oleh kalangan Islam Liberal....

  15. #215
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    buat yang gw bold...
    pertama. Rasullullah Shallohualaihi wa sallam itu diturunkan buat umat manusia bukan buat bangsa ARAB saja so perintahnya tersebut diberlakukan untuk semua umatnya dan waktu tidak mengikat...
    kedua. metode tafsir hermeneutika yang memisah2kan perintah berdasarkan waktu, tempat turunnya sehingga perintah2 tersebut nantinya dimasa depan atau di tempat lain bisa ditiadakan bukanlah konsep Islam saudaraku.... perintah2 ya perintah dan itu berlaku hingga akhir zaman dan dibelahan bumi manapu... tinggal umatnya yang mau melaksanakan perintah itu atau tidak, tentu denganreward dan punishment yang ada.....
    Tidak ada sesuatu ajaran atau perintah yang diturunkan "untuk semua manusia". Anda harus belajar apa itu logika komunikasi bung. Klaim bahwa "Islam diturunkan untuk semua manusia" adalah klaim tidak berdasar dan tidak logis, dan hanya bentuk superioritas Muslim saja.

    Bung, dalam komunikasi itu ada yang namanya segmentasi audience. Anda ngomong sama anak kecil, dengan anda ngomong sama orang dewasa itu beda caranya. Kalo anda kerja di biro iklan, mendesain iklan itu harus lihat-lihat dulu apa dan siapa segmen yang dituju. Iklan Coca Cola untuk audience remaja Amerika tahun 60-an beda dengan format iklan Coca Cola untuk remaja Indonesia 2000-an, walau produk yang ditawarkan sama: Coca Cola. Itu namanya komunikasi. Tidak ada dan tidak mungkin ada iklan yang ditujukan untuk remaja di seluruh dunia dari segala jaman. Itu jelas menyalahi logika komunikasi.

    Alquran itu muncul dalam konteks masyarakat tertentu di masa lampau, dalam hal ini masyarakat Arab di abad ke 7 M yang tentu saja secara otomatis (mau tidak mau) dipengaruhi oleh weltanschauung (pandangan dunia) masyarakat pada zamannya.

    Contoh sederhananya, kenapa Alquran berbahasa Arab? Karena audiencenya di awal munculnya Alquran adalah ORANG ARAB. Kalo Alquran berbahasa mandarin, orang pada bingung. Jadi kalo kita asumsikan Alquran muncul di Jawa pada abad ke 10, pasti Alquran muncul dalam bahasa dan tulisan yang dipakai orang Jawa pada masa itu. Ini saja sudah menunjukkan sempit segmentasi audiencenya. Dan memang HARUS BEGITU, itu benar. Jadi jangan bilang teks-teks Alquran itu diperuntukkan untuk seluruh dunia dari segala zaman.

    Alquran muncul di tengah-tengah problematika masyarakat Arab pada zamannya, dan tentu, solusi yang ditawarkan Alquran adalah solusi untuk masalah pada zamannya.

    Kenapa dalam Islam, mencuri itu dipotong tangan? Karena pada masa itu, hukuman itu bersifat "cash and carry". Dulu tidak ada konsep penjara.

    Kenapa dalam Islam, berzinah itu dirajam hukumannya? Orang Arab dulu, terbiasa punya isteri banyak. Sudah isterinya banyak, eh masih ngembat perawan orang, jelas keterlaluan. Jadi, rajam itu ada konteks masalahnya, bukan sesuatu yang bisa dibakukan segala jaman.

    Kenapa dalam hadis, rosul memerintahkan membunuh orang murtad? Karena masa di mana ucapan itu muncul, adalah dalam konteks perang, dan "murtad" sama saja dengan desersi. (Bahkan Musailamah yang jelas-jelas ngaku nabi aja nggak dibunuh sama rosul.)

    Kalo kita melupakan hermeneutika dalam konteks ajaran tersebut, hasilnya adalah aplikasi agama yang kaku, kolot dan ahistoris.

    Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Alquran dari hukuman potong tangan, rajam, dan sebagainya? Yaitu nilai KETATASUSILAAN dan KEADILAN. Ini adalah nilai dasar yang ditawarkan Alqurn pada masyarakat jahiliyah dulu dengan cara yang sesuai pada masa itu.

    Nah, yang harus dilakukan oleh umat Muslim jaman sekarang, bukan menampik seluruh isi Alquran, tapi MELAKUKAN RE-INTERPRETASI TERHADAP ALQURAN. Di sinilah peran hermeneutika.


    PS: Baca buku karangan Budhy Munawar Rachman: "Reorientasi Pembaruan Islam: Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme". Menarik.

    ---------- Post added at 10:17 AM ---------- Previous post was at 10:16 AM ----------

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Dalam Islam "Innamal a'malu bin niat"
    Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
    Alkitab,....
    berarti niat awalnya udah ngga cocok
    dengan Islam.
    Wajar kalo anda menolak hermeneutika. Lah pemahaman anda tentang hermeneutika saja KELIRU.

    ---------- Post added at 10:22 AM ---------- Previous post was at 10:17 AM ----------

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
    Alkitab,.... berarti niat awalnya udah ngga cocok
    dengan Islam.
    Hermeneutika adalah metode tafsir teks untuk memahami dengan sebenar-benarnya, dengan setepat mungkin maksud dari sebuah teks dengan mempertimbangkan konteks adat tradisi, antropologi dan "pandangan dunia" (weltanschauung) masyarakat di mana teks tersebut muncul.

    Ketika Rosul memerintahkan memanjangkan jenggot, apa maksud dari perintah itu? Tentu, untuk memahaminya kita harus mengetahui dalam konteks kultur dan jaman apa rosul itu hidup.

    Ada hadis lagi, saya lupa tepatnya, tapi kira-kira isinya begini: Rosul melarang para sahabatnya untuk pake jubah yang menggelambir sampe ke tanah, dan memerintahkan untuk pake jubah pendek saja, di atas mata kaki. Hal ini kemudian ditiru mentah-mentah oleh orang-orang salafi yang dangkal pemikirannya, makanya mereka doyan pake celana ngatung.

    Padahal, konteks perintah rosul adalah: Dulu, orang Arab itu dibilang kaya kalo mampu pake jubah yang menggelambir sampe ke tanah. Maklum, tekstil barang mahal pada waktu itu. Nah, banyak orang kaya menyombongkan kekayaannya dengan bergaya seperti itu. Rosul mengajarkan orang supaya jangan sombong, maka dilaranglah para sahabat-sahabatnya yang kaya untuk pake jubah panjang. Yang pendek saja, di atas mata kaki. Jadi tidak ada gap antara kaya dan miskin. Itu maksudnya. Tentu, problematika kesombongan di masyarakat kita beda dong. Tidak bisa kita ikutin mentah-mentah perintah rosul itu karena konteks jaman yang berbeda.
    Last edited by ishaputra; 04-02-2012 at 11:28 AM.

  16. #216
    Setuju ama Isha soal melihat konteks sejarah (atau situasi kondisi kemasyarakatan) suatu ayat kitab suci (bukan cuma Al Quran), tapi semua kitab suci atau bahkan kitab sejarah.

  17. #217
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    oooo jadi hermeneutika ini salah satu metoda tafsir ?
    kalo pake metode hermeneutika alif lam mim itu maknanya apa ? (al baqarah ayat 1)

    saya lebih percaya metode batin Rasulullah dalam memaknai tafsir alif lam mim
    kalo hermeneutika gimana menafsirkan alif lam mim itu ?
    Last edited by sedgedjenar; 04-02-2012 at 02:24 PM.

  18. #218
    ^konteks bisa membantu menjelaskan loh bro. Misalnya soal syahadat Jenar itu, kalo ngerti konteksnya nggak akan dibilang sesat.
    Last edited by danalingga; 04-02-2012 at 09:53 PM.

  19. #219
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    oooo jadi hermeneutika ini salah satu metoda tafsir ?
    kalo pake metode hermeneutika alif lam mim itu maknanya apa ? (al baqarah ayat 1)

    saya lebih percaya metode batin Rasulullah dalam memaknai tafsir alif lam mim
    kalo hermeneutika gimana menafsirkan alif lam mim itu ?
    Nah, bagaimana kita MEMAHAMI "metode batin" rosululloh kalo mengabaikan konteks kultur dan antropologi masyarakat Arab di jaman dulu?

    Ada peserta di sini yang nggak paham betul apa itu "hermeneutika". Hanya karena itu "istilah kristen", "istilah asing", "istilah barat", maka ujug-ujug membabi buta pasang sikap anti. Ngerti aja enggak.

    Liat tuh uraian si Ronggolawe, jan... ngaco banget. Wajar dia nolak hermeneutika, lah wong pemahamannya aja keliru.

  20. #220
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Nah, bagaimana kita MEMAHAMI "metode batin" rosululloh kalo mengabaikan konteks kultur dan antropologi masyarakat Arab di jaman dulu?

    Ada peserta di sini yang nggak paham betul apa itu "hermeneutika". Hanya karena itu "istilah kristen", "istilah asing", "istilah barat", maka ujug-ujug membabi buta pasang sikap anti. Ngerti aja enggak.

    Liat tuh uraian si Ronggolawe, jan... ngaco banget. Wajar dia nolak hermeneutika, lah wong pemahamannya aja keliru.
    Gak usah bawa2 urusan ronggolawe ke ane.
    Jawab aja pertanyaan ane, kalo pake metoda permenikah itu bagaimana menafsirkan alif lam mim. Apa maknanya?
    Last edited by sedgedjenar; 06-02-2012 at 01:42 AM.

Page 11 of 12 FirstFirst ... 9101112 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •