Kejadian cewek2 menguasai lapangan pekerjaan kan sudah terjadi sejak lama dibanyak lokalisasi
apalagi bidang profesi sebagai ibu rumah tangga, sejak lama dikuasai perempuan, laki2 sulit berkompetisi...
Kejadian cewek2 menguasai lapangan pekerjaan kan sudah terjadi sejak lama dibanyak lokalisasi
apalagi bidang profesi sebagai ibu rumah tangga, sejak lama dikuasai perempuan, laki2 sulit berkompetisi...
salah siapa??
para wanita memasuki lapangan kerja adalah salah para laki-laki,,
1. karena sisuami tidak bisa menghidupi istrinya secara layak,
2. karena si suami tidak bisa mendidik istrinya hidup sederhana sehingga istri jadi banyak maunya.
3. salah si bapak karena tidak cepat2 mencarikan suami bagi anak gadisnya seoranglaki2 yang tajir dan mampu menjadi pemimpin bagi anak gadisnya.
4. Salah saudara laki-lakinya yang tidak bisa menjaga dan menasehati saudara wanitanya..
(mending nyalahin diri sendiri dulu dah daripada di salahin ama orang laen)
membathin (untung istri gw Ibu RT)
berarti sitoh Bapak RT...![]()
Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!
bukan tapi wa pemimpin di RT gw..![]()
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
sebagian postingan saya split pindah ke sini
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Kok perempuan bekerja akibat suatu kesalahan? Seorang perempuan pun perlu mengaktualisasikan dirinya, salah satunya dengan bekerja seperti kaum laki-laki kebanyakan. Seandainya pun seorang istri mempunyai suami yg kaya, itu bukan berarti halangan buat sang istri utk bekerja. Kok masih saja membatasi perempuan sbg kucing dapur meski posisi tsb sama mulianya dgn perempuan yg menjadi seorang presiden. Biarkan perempuan menentukan pilihannya sendiri, apakah mau menjadi ibu rumah tangga yg mengurusi anak di rumah saja atau mau bekerja di luaran seperti kaum lelaki pada umumnya, karena kedua pilihan tsb sama mulianya.
![]()
pan diskusi dari awal pada mencari2 apa yang salah sehingga sepetinya kaum hawa mulai memadati wilayah kerja yang dulu di huni oleh kaum Adam.. dan saya menjawab menurut pengamatan saya.. dan seperti yang saya pernah katakan diatas, saya pribadi tidak bermasalah dengan wanita yang berkerja selama kalo dia punya suami atau anak dia tidak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.. itu aja kok... mungkin menurut bung purba pikiran saya kolot, namun menurut agama yang saya anut wanita yang diam dirumah dan mengurus anak serta suaminya serta patuh terhadap suaminya maka dia lebih mulia dibandingkan wanita yang sering keluar rumah gitu deh.........![]()
hm.... keknya gw pernah baca artikel, kalau satu
satunya kewajiban istri dalam rumah tangga ada
lah melayani suami di atas kasur. Diluar itu, adalah
kewajiban suami untuk memudahkan/menyenang
kan istri.
menyediakan makanan siap santap, pakaian siap
pakai, semuanya kewajiban suami, bukan istri
kalau ngga salah, artikelnya Ust. Ahmad Syarwat.
bukan di atas kasur juga kali kop ronggo.. pan mendidik anak ngerjain urusan rumah tangga.. kirain itu ringan apa... menyambut suami dengan senyuman pada saat pulang kerja dll...
http://www.ustsarwat.com/web/berita-...-pembantu.html
Sedangkan posisi syariat Islam langsung kepada realitas bahwa seorang istri tidak wajib memberi nafkah buat suaminya. Sebaliknya, justru suaminya lah yang wajib memberinya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhannya.
Gampangnya, istri hanya tinggal buka mulut, suaminya lah yang wajib memasukkan makanan siap saji ke dalam mulut istrinya. Meski ada khilaf juga di tengah ulama dalam hal ini, namun mazhab As-Syafi`i dan banyak mazhab lainnya yang secara tegas menyebutkan bahwa pada dasarnya pernikahan itu hanya mewajibkan seorang istri untuk melayani suaminya secara seksual saja, tidak lebih.
Yang wajib memasak, belanja, menyapu, mengepel, mencuci pakaian, beres-beres rumah, sampai urusan kebutuhan rumah tangga, bukan istri tetapi suami. Aneh? Nggak juga.
Kalau pun istri melakukan semua itu, sifatnya hanya membantu saja, tidak ada kewajiban dari langit atas seorang wanita untuk dipaksa melakukan semua itu. Sebab seorang istri bukanlah pembantu. Istri adalah wanita yang mulia, dia adalah ratu dalam rumahnya.
istri itu bukan pembantu yaaa plis deh
mendidik anak itu urusan ibu dan bapaknya, bukan satu pihak aja.
urusan rumah tangga, makan minum, pakaian itu sebenarnya tanggung jawab suami.
istri mau bantu urusan RT itu artinya si istri lagi bersedekah ke suaminya....
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
zaman apa yang nomaden bu, zaman sebelum atau sesudah bu???
---------- Post added at 01:29 PM ---------- Previous post was at 01:26 PM ----------
itu khan juga saya bilang menurut agama yang saya anut bu... banyak hadits2 sahih yang menegaskan kedudukan wanita agar tidak sering keluar rumah dan betapa mulianya mereka.. nah tinggal para wanitanya aja mau ikutin anjuran sunnah atau enggak... dan Alhamdulillah saya mendapatkan istri yang sangat mengerti tentang agama.....
zaman manusia masih hidup berpindah2, belum menetap.
kepala keluarga itu perempuan.
pan pak hajime bilang
dulu itu kapan?pan diskusi dari awal pada mencari2 apa yang salah sehingga sepetinya kaum hawa mulai memadati wilayah kerja yang dulu di huni oleh kaum Adam..
jaman dulu itu malah perempuan yang bekerja...
silakan baca buku sarinah karangan soekarno
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
jadi gimana?
masak harus selalu gender yang dipermasalahkan? Bangkitlah, bersaing karena skill, bukan gender
Sampe sekarang di beberapa daerah (atau desa?), istrinya yang bekerja keras, kalo suaminya mah nongkrong di warung kopi.![]()
Sarinah? wah belum baca tu buku...
zaman nomaden pun dimana2 pembagian tugasnya sudah jelas, laki2nya berburu wanitanya cenderung melakukan pekerjaan di rumah seperti memelihara unggas atau hewan ternak lainnya... saya nggak tau deh di zaman nomaden en daerah mana yang wanitanya yang pergi berburu... mungkin saja ada di sebagian kecil wilayah didunia dimaana menganut sistemmatrilinear seperti mungkin schytian warrior ataupun suku wanita yang ada di daerah Amazon..
---------- Post added at 09:59 PM ---------- Previous post was at 09:58 PM ----------
saya rasa gak ada yang mempermasalahkan gender disini.. saya pribadi sudah mengtakan sebelumnya, saya tidak keberatan dengan wanita yang berkarir asalkan dia tidak sampai melupakan tugasnya sebagai ibu..itu aja kok......
---------- Post added at 10:01 PM ---------- Previous post was at 09:59 PM ----------
itu mah berarti memang yang lakinya yang kagak ada tanggung jawabnya sama sekali... suami kayak gitu mah buang aja ke laut... kalo kata mamah dedeh mah itu suami yang jayuz..![]()