Page 3 of 12 FirstFirst 12345 ... LastLast
Results 41 to 60 of 235

Thread: Apakah Tafsir Itu Harus dilakukan Pemuka Agama?

  1. #41
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    'ilmu itu yang pengetahuan, dan sesuai konteks hadits adalah pengetahuan soal al-Qur'an.
    Ya itu pertanyaan saya... pengetahuan soal Qur'an itu yang seperti apa. Soalnya di waktu itu kan ayat-ayat masih terus turun, dan ada Rasulullah yang dijadikan tempat bertanya...

    Jadi waktu itu ada kasus apa sampai hadits ini dikeluarkan? apa ada kejadian orang yang ngaku lebih tahu soal Qur'an dibanding Rasulullah?

    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Kata siapa ?

    Coba cek lagi di posting #23

    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
    “Dan Kami turunkan kepadamu Ad-Dzikra (al-Qur’an), agar kamu menerangkan/menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” (QS 16:44)
    Nah sesuai sama pertanyaan saya di atas 'kan? "kamu" di situ maksudnya Rasulullah 'kan?
    Di periode itu Rasulullah adalah sumber keterangan, penafsir pertama dan utama ... jadi ilmu tafsir macam apa yang dimaksud harus dikuasai oleh orang-orang pada saat itu?

    atau 'tafsir' di hadits tadi konteksnya berbeda dengan ilmu tafsir baku yang dijelaskan panjang lebar oleh Kang Hajime sebelumnya? yaitu seperti yang disebutkan di bawah ini?

    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Karena tafsir diperuntukkan untuk lebih menjelaskan/menerangkan maksud yang dituju oleh Al-Qur'an bagi bangsa non Arab. Padanan kata, atau majaz dalam bhs Arab, belum tentu sesuai maksudnya dengan bhs aslinya (yaitu Arab).
    ...yaitu ilmu tafsir yang datang belakangan... ketika Islam tidak lagi terbatas di Yathrib, tapi sudah jadi imperium yang ekspansi ke mana-mana...

    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Kalau menurut anda sudah jelas, anda gak usah baca buku tafsir saja. Bereskan.
    sip... beres...

    Quote Originally Posted by Asum View Post
    O-iya, mungkin anda mau bantu menjawab apa yang saya tanya ke danalingga di post #32


    Apa ya?
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan gitu? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Selalu berprasangka baik sama niatan orang? Gitu kali ya?
    Last edited by Alip; 24-12-2011 at 08:02 AM.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  2. #42
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ...
    Apa ya?
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
    Jadi itu pemahaman anda soal kutipan dalam ayat al-Qur'an tsb ?

    Gak kebayang jika anda menjelaskan kepada orang lain yang bertanya kepada anda soal maksud ayat tsb. Padahal yang sedang dijadikan bahasan adalah firman Allah SWT.


    وإذا علم من ءايتنا شئا أتخذها هزوا
    Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok ... (QS 45:9)
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  3. #43
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Loh, terus yang dimaksud mendirikan sholat itu apa? Masak sekedar gerak-gerik tapi habis itu tetep pakai Windows bajakan... nggak ada bekasnya dong?

    Lalu bagaimana dengan pertanyaan saya yang lain?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  4. #44
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Nah.. al-mukarom al-ustad Asum rodiyallahuanhu mulai mengalihkan pokok obrolan seperti yg sudah-sudah.

    Padahal pertanyaan ya habibi mbah Alip mengenai pengetahuan Quran seperti apa yg harus dipenuhi dlm penafsiran Quran belum terjawab oleh al-mukarom al-ustad Asum radiyallahuanhu.


  5. #45
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali
    pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan
    pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al
    Quran. Yang penting niatnya tulus untuk mencari
    kebenaran dan ridha Allah SWT semata, bukan un
    tuk kepentingan yang lainnya.

    Al Quran (dan kitab suci lainnya dimata masing-
    masing umat yang meyakini kebenarannya) tidak
    lah "sekering" itu maknanya. Membacanya saja,
    tanpa memahami artinya sudah mendatangkan
    banyak hidayah Allah, baik bagi yang membaca
    maupun yang mendengarnya. Apalagi bagi mere
    ka yang mau mendalami dengan segala keterba
    tasannya.

    Apa gunanya mencapai tingkatan keahlian yang
    layak digelari Mufassir, kalau tidak mampu meng
    ayomi umat yang bertanya, apalagi kalau jawa
    ban yang diberikan cuma sebatas unjuk kemam
    puan belaka...

  6. #46
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    sedangkan purba akan menafsirkannya sesuai keyakinannya sbg ateis.
    Nah loh... bakal berapa jilid buku tafsirannya?
    Justru malah ringkas dan enlighten mbah...

    Yg kadang bikin sulit dlm memahami Quran sehingga perlu tafsiran yg aneh-aneh, tebal-tebal, dan berjilid-jilid adalah adanya constraint dari iman sbg muslim. Sang iman ini yg membuat Quran ditakuti dan menempatkan Muhammad sebagai the untouchable. Nah, apakah iman tsb juga syarat yg harus dipenuhi dlm menafsirkan Quran?

    Misal masalah tujuh lapis langit. Tafsiran klasik (yg ane tau) umumnya menyerahkan kembali masalah tujuh lapis legit eh langit tsb kepada sang penciptanya, Allah swt. Sedangkan muslim modern yg kebetulan belajar fisika di negeri kafir berusaha menafsirkan tujuh lapis langit dengan bantuan teori-teori fisika mutakhir. Itu dilakukan karena apa? Ya itu tadi: Iman. Bagaimana sang iman kok bisa sampe membatasi penafsiran? Yg klasik sudah jelas, mereka tdk tahu apa-apa, sehingga mereka kembalikan saja artinya pada Allah swt, karena frase tujuh lapis langit pun berasal dari Allah swt. Beres. Yg modern gak menyerah begitu saja. Mereka meyakini frase tujuh lapis langit datang dari Allah swt yg maha tinggi ilmunya dan bersamaan dengan itu mereka melihat fisika sebagai aktivitas pembacaan ayat-ayat Allah swt di alam raya, sehingga mereka merasa menemukan kecocokan antara dua hal tsb. Akhirnya ditafsirkanlah frase tsb dgn hasil-hasil terkini fisika modern.

    Lha kalo ane yg ateis simpel aja melihatnya. Kalo mo memahami frase tujuh lapis langit, lihat saja gimana kemajuan ilmu astronomi pada jaman Muhammad hidup, kemana saja dulu dia melancong sehingga bisa diperkirakan ilmu apa saja yg dia terima selama melancong tsb. Pada jaman tsb astronomi sudah cukup maju. Artinya orang sudah mengenal planet hingga saturnus yg bercincin tsb. Juga pada jaman itu langit digambarkan berlapis-lapis. Lapisan pertama misalnya tempat matahari, lapisan kedua bulan, ketiga venus, dst, hingga lapisan ketujuh sbg lapisan terluar tempat bintang-bintang bertaburan. Kalo tanpa iman, jadi sederhana kan memahaminya. Sebab, dgn tanpa iman, tidak ada kedudukan "wah" yg diberikan pada Muhammad dan Quran.

    ....... .............
    purba..............Asum..............Alip

  7. #47
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by Alip
    Loh, terus yang dimaksud mendirikan sholat itu apa? Masak sekedar gerak-gerik tapi habis itu tetep pakai Windows bajakan... nggak ada bekasnya dong?
    Jika jawaban ini :
    Apa ya?
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
    merupakan jawaban terbaik anda dalam memahami firman Allah SWT : أَقِمِ الصَّلَوٰةَ (aqimish sholat=dirikanlah sholat) ?

    Dan bagaimana seandainya penjelasan anda tsb dikerjakan orang lain, bahwa maksud aqimish shalat itu artinya
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
    Inikah jawaban dari orang awam yang ingin diakui keberadaannya dalam menafsir al-Qur'an ?


    Maka anda terkena apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw :

    فسئِلُوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا
    Mereka ditanya dan mereka menjawab dengan tanpa 'ilmu (pengetahuan), maka mereka orang-orang yang sesat dan menyesatkan


    Memahami zhahir pertanyaan saja tidak mampu, apalagi mau menjelaskan maksud yang tersirat dalam suatu kalimat.

    Padahal pertanyaan saya sih sederhana :
    Sholat yang dimaksud apa ya ?
    Dan anda menjawab di atas ...

    Quote Originally Posted by Alip
    Lalu bagaimana dengan pertanyaan saya yang lain?
    Anda menuntut orang laing memberikan jawaban sedangkan anda dalam menjawab asal-asalan ?*

    Asal tau saja, pertanyaan saya tsb nantinya terkait dengan apa yang telah disampaikan oleh sdr hajime_saitoh dan juga pertanyaan anda lainnya.


    Tapi sudahlah ... anda kan orang pintar, paham al-Qur'an tidak perlu bantuan 'ulama, apalagi saya (firman Allah saja dijadikan olok-olok, apalagi sabda Rasulullah saw dan perkataan selainnnya).


    Quote Originally Posted by Ronggolawe
    ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al-Quran.
    Awam ... menurut kamus : http://www.artikata.com/arti-320040-awam.html
    adjective
    1. umum; am; kebanyakan; biasa; tidak istimewa; 2 n orang kebanyakan; orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);
    meng·a·wam·kan v 1 mengumumkan; menyampaikan; (me-nyiarkan dsb) kpd orang banyak; 2 mengutarakan; menganjurkan; mengusulkan;
    ke·a·wam·an n perihal awam: ~ bangsa kita di bidang teknologi canggih, kini semakin mengecil dng dapatnya menguasai teknologi kedirgantaraan;
    peng·a·wam n penganjur: ia bertindak sbg ~ penanaman padi unggul
    Jadi bicara awam, maka dia itu termasuk orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);

    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ketentaraan memberikan penjelasan soal ketentaraan ?

    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ilmu kedokteran memberikan penjelasan soal ilmu kedokteran ?

    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) sejarah memberikan penjelasan soal sejarah ?



    aya ... aya ... wae...
    Last edited by Asum; 24-12-2011 at 11:05 AM.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  8. #48
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :

    أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
    aqimish sholaata
    Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


    Sholat yang dimaksud apa ya ?
    nah disnililah letak diperlukannya tafsir... dan memang banyak ayat dial-Quran yang menjelaskan tentang perintah ibadah namun tidak menjelaskan secara detil ibadahnya apa... nah penjelasannya ada di hadits, makanya sistem tafsir yang kedua setelah mentafsirkan al-Quran dengan al-Quran barulah menafsirkan al-Quran dengan hadits

  9. #49
    @Asum: Seperti yang saya katakan, thread ini sifatnya mengkonfirmasi saja tentang thread sebelah. Jadi saya pake arti ulama dari thread sebelah bukan arti ulama sebenarnya. Ini gugur ketika ternyata saya salah mengartikan alias hajime_saitoh mengkonfirmasi bahwa maksud ulama yang dia utarakan bukan seperti dugaan saya.

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    dalam hal tafsir,,, dibutuhkan bukan sekedar ulama tapi seseorang yang berilmu sangat tinggi dibidangnya, karena masalah tafsir tanggung jawabnya sangat berat dan ilmu yang dibutuhkan sangatlah banyak... samapai sekarang pun kitab2 tafsir yang utama dipakai teteap pegangannya yang itu-itu juga karena kebakuan dari ilmu tafsir, paling perbedaan antara kitab tafsir yang satu dengan yang lain sangat tipis....

    dalam islam kita berbicara tanpa memiliki ilmu tentang apa yang dibicarakan itu sangat dilarang apalagi sok2 mau nafsirin al-Quranm tanpa punya ilmunya,, itu diancam dengan neraka...
    Berarti masyarakan yang bukan "ulama", tapi punya ilmu-nya berhak menafsir toh? dan sebaliknya walau "ulama": tapi tidak punya ilmunya maka tidak berhak menafsir.

    Btw, arti ulama menurutmu apa sih?

    ---------- Post added at 11:23 AM ---------- Previous post was at 11:17 AM ----------

    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    its okay, no problem ttg bhs tuhan

    terjemah dng tafsir boleh dibilang serupa tapi tak sama
    terjemah = murni transliteration/alih bahasa
    tafsir = transliteration + interpretation

    kembali ke anologi saya diatas
    klo buku/diktat kedokteran berbahasa inggris
    diserahkan hanya kpd ahli berbahasa inggris semata
    kira2 berapa persen substansi ilmu kedokterannya yng dapat terkuak yak?
    Ok, ternyata memang untuk menerjamahkan juga harus mengerti substansi dari yang
    diterjamahkan itu agar hasil terjemahannya lebih mengena. Btw, setahu saya,
    hasil terjemahan kedokteran tersebut pun menjadi tidak berguna ketika yang membaca
    tidak mengerti ilmu kedokteran.

    Disini artinya walau telah di-tafsir (diterjemahkan) oleh sang ahli yang
    mengerti bahasa arab (dalam hal ini Al Quran), maka kita sebagai warga umum
    pecuma juga membaca hasil terjemahan tersebut jika tidak menguasai ilmun substansi juga.

    Btw, yang saya maksudkan tafsir dari tadi itu adalah kegiatan kita
    "membaca" hasil terjemahan dari para ahli tersebut
    (makanya saya bilang tidak butuh bahasa arab).


    Bukan begitu jadinya?
    Last edited by danalingga; 24-12-2011 at 12:36 PM.

  10. #50
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Awam ... menurut kamus : http://www.artikata.com/arti-320040-awam.html

    Jadi bicara awam, maka dia itu termasuk orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);

    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ketentaraan memberikan penjelasan soal ketentaraan ?

    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ilmu kedokteran memberikan penjelasan soal ilmu kedokteran ?


    Masa orang yang gak ngerti soal (misal) sejarah memberikan penjelasan soal sejarah ?



    aya ... aya ... wae...
    keknya loe lupa, gw nulisnya
    Originally Posted by Ronggolawe
    ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al-Quran.
    untuk keperluan pribadi gw, ngga ada urusannya
    dengan siapapun untuk melarang gw memahami
    tentara, kedokteran, sejarah, bahkan agama se
    suai dengan kapasitas ke-awaman gw.

    yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah
    seberapa dalam ilmu yang dimiliki dalam memaha
    mi kandungan ilmu Allah yang ada pada Al Quran,
    melainkan seberapa lurus hatimu dalam memaha
    minya, serta seberapa murni dan bersih niatan
    kita.

  11. #51
    Quote Originally Posted by purba
    Misal masalah tujuh lapis langit. Tafsiran klasik (yg ane tau) umumnya menyerahkan kembali masalah tujuh lapis legit eh langit tsb kepada sang penciptanya, Allah swt. Sedangkan muslim modern yg kebetulan belajar fisika di negeri kafir berusaha menafsirkan tujuh lapis langit dengan bantuan teori-teori fisika mutakhir. Itu dilakukan karena apa? Ya itu tadi: Iman. Bagaimana sang iman kok bisa sampe membatasi penafsiran? Yg klasik sudah jelas, mereka tdk tahu apa-apa, sehingga mereka kembalikan saja artinya pada Allah swt, karena frase tujuh lapis langit pun berasal dari Allah swt. Beres. Yg modern gak menyerah begitu saja. Mereka meyakini frase tujuh lapis langit datang dari Allah swt yg maha tinggi ilmunya dan bersamaan dengan itu mereka melihat fisika sebagai aktivitas pembacaan ayat-ayat Allah swt di alam raya, sehingga mereka merasa menemukan kecocokan antara dua hal tsb. Akhirnya ditafsirkanlah frase tsb dgn hasil-hasil terkini fisika modern.
    good job pur
    itulah contoh penafsiran yng dinamis
    secara literal emang terjemahan harafiahnya spt yng ente contohkan
    makna/tafsir yng sebenarnya tentu sesuai konteks yang berkembang
    dijaman nabi Muhammad, krn keterbatasan tools yng dimiliki
    atau tingkat pencapaian iptek umat manusia belom spt saat ini
    mungkin untuk amannya atau gampangnya, lebih baek tidak ditafsirkan
    alias dibiarkan sbg misteri oleh umat saat itu.

    Apakah ada upaya mencocok-cocokkan agar tafsir kitab suci sesuai iptek?
    bukan tafsirnya yng dicocok-cocokkan, tetapi krn kegiatan menafsir itu sendiri
    adalah bagian dari iptek, ostosmastis ilmu tafsir juga mengalami enrichment
    atau pengayaan makna, sesuai perkembangan iptek itu sendiri.

    masih banyak lagi contoh terjemahan harafiah yng serupa spt misal
    - gunung berjalan
    - mata hari tenggelam dilaut berlumpur
    - bintang bertabrakan
    Mungkin saat ini sudah didapat pendekatan kontekstualnya

    Quote Originally Posted by danaligga
    Disini artinya walau telah di-tafsir (diterjemahkan) oleh sang ahli yang
    mengerti bahasa arab (dalam hal ini Al Quran), maka kita sebagai warga umum
    pecuma juga membaca hasil terjemahan tersebut jika tidak menguasai ilmun substansi juga.
    ya gak segitunyalah
    tdk semua persoalan memerlukan penafsiran njelimet (baca canggih)
    ada hal2 yng simple/praktis juga, dari terjemahan literalnya saja dah langsung
    dapat ditangkap/dimengerti oleh orang awam sekalipun.
    misal:
    - Dilarang mencuri
    - Dilarang membunuh
    - Dilarang memperkosa
    - Dlsb.


    Btw, yang saya maksudkan tafsir dari tadi itu adalah kegiatan kita
    "membaca" hasil terjemahan dari para ahli tersebut
    (makanya saya bilang tidak butuh bahasa arab).
    Yup
    brarti kita tinggal memanfaatkan karya penafsiran orang/ahli lain to?
    ya iyalah, buat apa capek2 blajar bhs arab, hare gene gitu loh
    banyaknya informasi tersedia dan dng mudah dapat diakses kapan saja, iya gak?

    Tetapi klo ente pengen menggali sendiri dari sumbernya , tentu saja penguasaan bhs kitab suci
    menjadi prasyarat wajib.
    Last edited by pasingsingan; 24-12-2011 at 06:23 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  12. #52
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Jika jawaban ini :

    Apa ya?
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
    merupakan jawaban terbaik anda dalam memahami firman Allah SWT : (aqimish sholat=dirikanlah sholat) ?
    Ya jika jawaban itu kurang memenuhi selera Kang Asum, mohon diparingi ampun. Bahasa saya memang masih kurang gaul. Kalau harus memberi contoh bahwa seorang yang mendirikan sholat itu adalah orang yang sepanjang harinya selalu terjaga hatinya dari hal yang keji dan munkar sehingga dia tidak mencuri unta tetangganya... di lingkungan saya orang tidak mencuri unta, mereka membajak Windows... esensinya sama, tapi contoh yang pertama meleset ribuan kilometer ke barat.

    Dan bagaimana seandainya penjelasan anda tsb dikerjakan orang lain, bahwa maksud aqimish shalat itu artinya
    Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
    Inikah jawaban dari orang awam yang ingin diakui keberadaannya dalam menafsir al-Qur'an ?
    Maka sholat orang itu akan menjaganya dari mencuri hak karya orang lain, tidak korupsi waktu kerja di kantor, tidak sembarangan menuduh orang lain sebagai awam, bodoh, dan kurang ilmu, dan semacamnya. Boleh juga-lah di jaman sekarang...

    Kalau jawaban itu cuma dianggap cuma ingin eksis, ya, saya hargai kok. Saya memang bukan ulama besar yang dituhankan, yang kata-kata saya seberapapun ngaconya harus diterima sebagai kebenaran. Itu konsumsi saya sendiri kok... kalau tidak cocok dengan Kang Asum dan yang lainnya, ya saya cuma njawab pertanyaan, bukan mendakwahi orang.

    Maka anda terkena apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw :
    Mereka ditanya dan mereka menjawab dengan tanpa 'ilmu (pengetahuan), maka mereka orang-orang yang sesat dan menyesatkan
    Alhamdulillah... kepandaian Kang Asum dalam memilih ayat dan hadist sesuai memang saya akui.

    Anda menuntut orang lain memberikan jawaban sedangkan anda dalam menjawab asal-asalan ?*
    Nggak menuntut kok...Kalau Kang Asum memilih untuk tidak menjawab juga tidak apa-apa. Kan dialog, boleh saja menolak.

    Tapi sudahlah ... anda kan orang pintar, paham al-Qur'an tidak perlu bantuan 'ulama, apalagi saya (firman Allah saja dijadikan olok-olok, apalagi sabda Rasulullah saw dan perkataan selainnnya).
    Dengan demikian dialog kita akhiri sampai di sini. Sampai jumpa pada kesempatan yang lain.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  13. #53
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    keknya loe lupa, gw nulisnya
    Tidak lupa, cek aja. Saya kutip juga kok kalimat tsb

    Quote Originally Posted by Ronggolawe
    untuk keperluan pribadi gw, ngga ada urusannya
    dengan siapapun untuk melarang gw memahami
    tentara, kedokteran, sejarah, bahkan agama se
    suai dengan kapasitas ke-awaman gw.
    Makanya Allah SWT berfirman sebagaimana yang saya sampaikan di atas
    فَسْـئَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُـنتُمْ لَا تَعْلامُـوْنَ
    Terjemahan bebas : maka bertanyalah kamu kepada orang yang memiliki pengetahuan (akan hal tsb) jika kamu tidak mengetahui (QS 16:43)
    Quote Originally Posted by Ronggolawe
    yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah
    seberapa dalam ilmu yang dimiliki dalam memaha
    mi kandungan ilmu Allah yang ada pada Al Quran,
    melainkan seberapa lurus hatimu dalam memaha
    minya, serta seberapa murni dan bersih niatan
    kita.
    Betul bahwa Allah SWT itu melihat hati hambanya, atau niatnya. Namun niat yang baik, salah dalam melaksanakan perintah ... ya berdosa. Misal niat anda menolong ybs berwira usaha dengan memberikan usaha jualan daging babi <<< niat bener, mulia. Caranya salah bisa berdosa. Tapi bagi orang jahil (bodoh), perbuatan tsb dapat dima'afkan, karena tidak tau.

    Atau misal, niat anda shalat maghrib. menurut pemikiran anda 1 raka'at cukup karena dalam al-Qur'an gak dijelasin jumlah raka'at yang musti anda kerjakan. Niat bener (memenuhi perintah shalat), cara-nya salah (tidak sesuai petunjuk Rasulullah saw) <<< tidak sah ibadah anda alias batal.

    Makanya pentingnya mendengar apa yang sampaikan oleh orang yang lebih tau dari anda.

    Sudah dikasih tau bahwa hal tsb salah/keliru sesuai dalil, anda tetep ngotot bahwa jualan daging babi gak apa-apa sesuai pemahamannya, anda berdosa. Karena kebenaran tsb sudah sampai kepada anda, hanya hati anda yang tidak mau terbuka untuk menerima kebenaran tsb.


    Allahu A'lam

    Hadakallah.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  14. #54
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Tidak lupa, cek aja. Saya kutip juga kok kalimat tsb
    emang loe kutip, tapi dalam contra-argumen yang
    loe ajukan, loe menafikan kata "untuk keperluan
    pribadi" tersebut

    Betul bahwa Allah SWT itu melihat hati hambanya, atau niatnya. Namun niat yang baik, salah dalam melaksanakan perintah ... ya berdosa. Misal niat anda menolong ybs berwira usaha dengan memberikan usaha jualan daging babi <<< niat bener, mulia. Caranya salah bisa berdosa. Tapi bagi orang jahil (bodoh), perbuatan tsb dapat dima'afkan, karena tidak tau.
    hahaha... emang ada ya terjemahan Al Quran yang
    membolehkan makan babi? emang ada terjemahan
    Al Quran yang membolehkan jualan barang haram?

    ekstrim banget cara loe mengambil contoh, yang
    justru tidak realistis...

    Atau misal, niat anda shalat maghrib. menurut pemikiran anda 1 raka'at cukup karena dalam al-Qur'an gak dijelasin jumlah raka'at yang musti anda kerjakan. Niat bener (memenuhi perintah shalat), cara-nya salah (tidak sesuai petunjuk Rasulullah saw) <<< tidak sah ibadah anda alias batal.
    ini lagi, ngapain juga gw menafsirkan ayat yang
    sudah jelas, apalagi jumlah raka'at shalat nabi
    itu umum diketahui orang banyak, "sanad"nya ten
    tu saja dari semua jama'ah yang pernah ikut sha
    lat berjama'ah bareng nabi

    ngga bisa ya, loe nemuin penafsiran orang awam
    yang lurus niatnya, namun keliru?

    Makanya pentingnya mendengar apa yang sampaikan oleh orang yang lebih tau dari anda.

    Sudah dikasih tau bahwa hal tsb salah/keliru sesuai dalil, anda tetep ngotot bahwa jualan daging babi gak apa-apa sesuai pemahamannya, anda berdosa. Karena kebenaran tsb sudah sampai kepada anda, hanya hati anda yang tidak mau terbuka untuk menerima kebenaran tsb.
    kekeke... kapan gw menafsirkan jualan daging babi,
    bro? Diskusi saja loe sudah ngga jujur, bagaimana
    pengajaran yang loe niatkan baik bisa diterima orang
    lain?

    akhirnya gw malah teringat untuk mengutip ayat

    "Sesungguhnya agama disisi Allah, ialah Islam. Tia
    dalah berselisih
    ahli ahli Kitab melainkan setelah
    datang ilmu pengetahuan
    kepada mereka kerana
    berdengki dengki sesamanya. Barang siapa yang
    kafir akan ayat ayat Allah, maka sesunggunya
    Allah bersegera menghisabnya
    "

    ternyata perselisihan dalam menafsirkan bukan kare
    na perbedaan ilmu, namun karena hati yang tidak lu
    rus dalam mencari kebenaran agama.

    Itu menurut penafsiran gw yang awam bin jahil ini

  15. #55
    gogon's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    earth
    Posts
    4,845
    ayat Al-Qur'an sendiri ada bbrp yang sudah expired karena sudah diganti dengan ayat yg lebih baru. Namun ayat yg expired itu sebagian masih dicantumkan agar umat tahu proses dan sejarahnya. Kalo ga salah namanya 'manshuh'. CmiiW.
    Nah kalo yg manshuh itu masih ditafsirkan oleh orang awam, gimana tuh, bahaya dong.
    Salah satu contoh ayat yg sdh manshuh tsb kurang lebih artinya sbb (terjemahan bebas): '... Dan janganlah kamu memakan riba yg banyak'.
    Nah kalo ada orang awam yg kebetulan baca sepotong itu, gimana menafsirkannya? Bisa jadi dia narik kesimpulan: wah kalo riba dikit boleh donk
    nah yg manshuh ini termasuk bekal dalam ilmu tafsir. TOOLS kalo mbah pasing bilang
    ..
    Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu?

  16. #56
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Asum View Post

    btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :

    أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
    aqimish sholaata
    Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


    Sholat yang dimaksud apa ya ?
    misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
    lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
    dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

    bapak ini berhak gak nafsirin ?

  17. #57
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu?
    emang ikhlas itu apa bro? rela?
    kalau menurut penafsiran gw yang awam ini, Ikhlas
    itu memurnikan ketaatan hanya pada Allah.

    nah itu juga.. Ustadz juga manusia, Ulama juga ma
    nusia. Ulama-ulama Mufassir sendiri tidak pernah me
    wajibkan untuk ikut penafsirannya, kenapa yang bu
    kan mufassir mengharuskan?

  18. #58
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by gogon View Post
    yg berupa buku itu disebutnya mushaf isinya ya Qalam Ilahi alias Al-Qur'an.
    jadi djenar muslim juga? atau ada agama lain yg kitab suci nya sama-sama bernama Quran?
    gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
    di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
    bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!

    bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan
    nama Allah itu ada 99
    ada ya rohman ya rohim, maha pengasih dan penyayang

    kenapa banyak muslim yang tidak bisa membaca kalam ilahi dalam injil ? dalam kitab suci agama lain ?
    karena mereka belum membaca dengan menyebut nama tuhan

    masih ada benci di hati
    masih ada merasa benar dihati
    belum ada rohman rohimnya di hati
    karena mereka masih iqro bi ismi nafs, membaca dengan (nafs) ego

    ---------- Post added 25-12-2011 at 12:09 AM ---------- Previous post was 24-12-2011 at 11:32 PM ----------

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    surga neraka gak kekal? adam ada banyak,, kayaknya saya tau tuh bukunya..... tapi lupa siapa tuh yang ngarang... makanya di bilang al-Quran itu butuh orang2 yang menguasai ilmunya agar bisa mentafsirkan dengan sempurna, jadi gak asal tafsir seperti itu....

    ---------- Post added at 08:00 AM ---------- Previous post was at 07:55 AM ----------

    Quran Menyatakan Bahwa Quran Berbahasa Arab

    Al-Quran sendiri telahmenyebutkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa arab. Hal ini bisa kita baca dalam salah satu ayat di dalam Al-Quran.

    Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf: 2)

    Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Quraan itu sebagai peraturan dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap Allah. (QS. Ar-Ra'd: 37)

    bahasa Arab yang terang. (QS. An-Nahl: 103)

    Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau Al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS. Thaha: 113)

    Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin, ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. As-Syu'ara: 192-195)

    Bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab, padahal Al-Quran sendiri secara tegas dan berkali-kali menyebutkan bahwa bahasa yang digunakannnya adalah bahasa arab? Lalu apa maunya orang yang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab? Apakah adadalil yang lebih tinggi derajatnya dari ayat Al-Quran?
    hehehehehehe...
    mas, padahal saya bilang, quran yang sebenarnya itu bukan yg berbahasa arab itu maksudnya adalah : quran yg sebenarnya adalah ada di dada orang berilmu

    coba anda buka2 lagi, yg bilang gitu quran juga lho
    quran berbahasa arab itu karena turunnya di arab, pembawa risalahnya itu orang arab
    sedangkan quran yg sebenarnya adalah ada di dalam dada orang berilmu

    lagi2, jgn berpikiran yg berilmu itu kudu yang belajar sampe S3 ya
    makna berilmu itu jauh lebih luas lagi

    ---------- Post added at 12:14 AM ---------- Previous post was at 12:09 AM ----------

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    akhirnya gw malah teringat untuk mengutip ayat

    "Sesungguhnya agama disisi Allah, ialah Islam. Tia
    dalah berselisih
    ahli ahli Kitab melainkan setelah
    datang ilmu pengetahuan
    kepada mereka kerana
    berdengki dengki sesamanya. Barang siapa yang
    kafir akan ayat ayat Allah, maka sesunggunya
    Allah bersegera menghisabnya
    "

    ternyata perselisihan dalam menafsirkan bukan kare
    na perbedaan ilmu, namun karena hati yang tidak lu
    rus dalam mencari kebenaran agama.

    Itu menurut penafsiran gw yang awam bin jahil ini
    ya bener mas, hati yang blon lempeng itu masih IQRO dengan menyebut ego (baik ego agama, ego tuhan dll) yang tinggi
    belum IQRO dengan menyebut nama tuhan

  19. #59
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Justru malah ringkas dan enlighten mbah...
    Heheheheh... Eyang Purba memiliki kejelian yang baik. Penafsiran tanpa beban mental apapun akan sampai pada kesimpulan yang paling sederhana dan masuk akal. Tentunya dengan asumsi bahwa si penafsir atheis tidak punya tendensi untuk menafsirkan berdasarkan agenda tertentu, misalnya bagi gerakan anti agama atau untuk pembenaran "iman" atheisnya... soalnya kalau begitu jadinya khan sama juga, Eyang...



    ***

    Menarik bahwa penafsiran sangat dipengaruhi oleh niat dan agenda. Karenanya, langkah dasar yang pertama dan utama bagi kaum theis adalah memohon petunjuk pada yang mereka percayai sebagai Yang Maha Benar, kemudian menjaga netralitas hatinya ketika mengkaji atau mendengar suatu penyampaian atau tafsir. Berhati-hati agar tidak ada pre-determinasi dalam menilai suatu kajian atau orang yang menyampaikannya. Dengan niat yang lurus berharap agar kajian tersebut bisa menjadi lantaran bagi petunjuk yang benar.

    Moga-moga kita semua dapat petunjuk, baik yang theis maupun yang atheis...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  20. #60
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Menarik bahwa penafsiran sangat dipengaruhi oleh niat dan agenda.
    Nah itu dia. Dlm sejarah Islam, itu pun sudah terjadi. Adanya suni dan syiah, tidak lepas dari penafsiran Quran yg dimotivasi oleh niat dan agenda berbeda. Sekarang misalnya ada tafsir feminis yg dilatarbelakangi oleh gerakan feminisme (baca: pendobrakan thd dominasi laki-laki). Di sini terlihat Quran ditempatkan sbg alat utk mencapai tujuan tertentu yg mungkin sudah berbeda dari tujuan mula-mula. Contoh lain yg agak gamblang mungkin ketika musim kampanye, banyak politikus yg menafsirkan ayat2 Quran secara serampangan sesuai keperluan politik praktisnya.

    Kalo tafsiran ateis, tenang aja mbah... Ateis gak punya surga dan neraka....

Page 3 of 12 FirstFirst 12345 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •