@
sheva
Filmnya fiksi,
bahkan sebenarnya bisa dikategorikan propaganda pemerintah Jepang,
tetapi salah besar kalau tidak ada orang Jepang yang mendukung Indonesia buat merdeka.
Aku sudah menyebutkan nama-namanya di halaman 2.
Ada Abdul Rachman (ikut perangnya),
ada Maeda (menyediakan tempat untuk rapat tertutup pembahasan proklamasi.. bentuk pembangkangan sebenarnya),
ada Shibata Yaichiro (membukakan gudang senjata untuk Arek2 Surabaya)
Tadi googling sepintas dapat satu nama lagi Rachmat Sigheru Ono.
Terpaksa? Aku kurang sepakat.
Kalau memang karena gak bisa pulang akibat malu, mereka pasti akan memilih untuk bunuh diri.
Tipe seperti Abdul Rachman berjuang untuk kemerdekaan Indonesia bukan karena terpaksa tetapi karena ia kecewa dengan janji pemerintah mereka. Ia begitu percaya dengan konsep Asia Raya jadi bersedia ditempatkan di Hindia Belanda (sebelum penyerbuan Belanda) sejak 1937 untuk menjadi corong propaganda dan mata-mata. Begitu tahun 1943, ia mulai ragu dengan pemerintahnya sendiri. Begitu pemerintahnya menyerah, ia langsung membelot ke pihak Indonesia.