kenapa anak kecil gak suka pedas tapi setelah gede jadi suka sambel?
Spoiler for bagaikan:
Printable View
kenapa anak kecil gak suka pedas tapi setelah gede jadi suka sambel?
Spoiler for bagaikan:
siapa bilang. si hegel blm ada 3 tahun doyan pedes tuh
karena kalo udah gede, bibirnya makin tebel, jadi bisa nahan
gw sejak kecil udah suka sambel
ah, oke, mayoritas anak kecil ::doh::
karena dewasa suka coba-coba
gw kecil gak bisa makan sambel, tp pas dewasa malah benci ama sambel. pedas. merusak tatanan cita rasa suatu masakan.
gw jg heran ada org yg suka pedas.
jadi utk yg ini gw ikutan komen aja deh, gak ikutan jawab.
Salah satu fungsi lidah yg utama adalah sebagai indikator utama untuk membedakan rasa sehingga bisa memilah mana makanan yang berbahaya, mana yang tidak. Kebanyakan makanan beracun adalah makanan yang pahit-pahit (getah-getah tumbuhan, dsb). Karenanya orang cenderung memuntahkan makanan yang rasanya pahit. Lidah juga cenderung menolak makanan yang berasa asam, karena asam berasosiasi dengan makanan basi/belendir.
Dalam proses "pengenalan" tsb, lidah "belajar" mengenali rasa. Pada anak kecil, indikator ini sangat mudah terlihat. Ketika lidah sedang memilah rasa, memori hasil belajar otak ini akan disimpan di batang otak (truncus cellebri). Saat masih bayi, lidah akan mengenali rasa manis dan gurih sebagai rasa yang "aman". Hal ini disebabkan karena makanan utama bayi adalah asi yang rasanya manis-gurih. Maka batang otak akan menyimpan memori ini dan mengisyaratkan, "makanan manis dan giruh itu enak dan aman". Maka di kemudian hari jika mereka diberi makanan yang gak manis dan gurih (seperti "rasa" pedas misalnya), maka otak melalui lidah akan memberikan peringatan, "makanan ini gak enak dan berbahaya". Maka anak kecil lebih suka makan makanan manis dan gurih tapi cenderung gak suka makanan pahit-asam-pedas.
Ada semacam saklar pada batang otak yang menyimpan memorinya. Bayi yang baru dilahirkan, akan menunjukan mimik wajah senang jika diberi makanan yang rasanya manis. Sebaliknya jika diberi obat-obatan yang pahit rasanya, mimik wajahnya terlihat tegang. Rasa dan mimik emosi ternyata memiliki pengaruh amat besar. Tubuh melalui lidah belajar membentuk emosi, untuk menolak makanan yang pernah membuat tubuh sakit. Misalnya sekali saja kita mengkonsumis makanan yang membuat sakit perut (yakni makanan pedas), sel-sel perasa pada lidah akan mengirim sinyal agar otak menyimpan memorinya. Jika dalam jangka waktu tertentu, kita kembali dihadapkan pada makanan yang membuat sakit itu (makanan pedas tadi), dengan tegas lidah akan dan tubuh akan menolak untuk memakannya.
Bagaimanapun, seiring dengan bertambahnya usia, anak belajar pemahaman baru: tak semua yg pahit/asam/pedas itu berbahaya. Dengan pengulangan-pengulangan, akan memberikan pengalaman dan wawasan baru, sehingga lidah terbiasa dengan makanan pahit/asam/pedas sehingga kebanyakan orang dewasa tidak mengalami masalah lagi saat menghadapi makanan pahit (obat), asam (mangga muda), pedas (sambal), dll. yah, tentu saja yang saya bicarakan ini kasus "mayoritas"
Jadi, tret ini akan ditutup lagi? :ninja:
doyannya pete sii :D
wah gawat si RS pingsan
saya sangat senang menjawab perntanyaan kamu, Mon. Soalnya membuat kamu menjadi sering mengingat tuhan :)
Wah sirumus harus tanggung jawab tuh..lasih cpr gih=))
mona langsung seneng ;D
karena sambel bikin napsu makan.. jadi tuh anak ntar kerjaannya makan mulu..
Dari kecil sampe sekarang tetep ga doyan pedes...
Padahal saya keturunan Menado...
kalo bener2 pada doyan sambel cobain dulu makan pelecing khas lombok, dijamin uham2 sambil mandi keringat....
karena pertanyaannya sudah terjawab http://images4.wikia.nocookie.net/__..._emote_gif.gif maka gw mau revisi yg ini aja:
harusnya Subhanallah, karena pakai huruf Ha ( ﺡ ) bukan Kha ( ﺥ )
sama spt di atas, harusnya Alhamdulillah (dan ngga pake "yah" )
Gw kebalek malah waktu kecil doyan makan pedes, sekarang gilee, masakan nyokap aja terasa pedasssss sekali::arg!::::arg!::
Oh nooo i miss my old me:nangislari::nangislari:
anakku yang cewe kelas 4 sd makan kalao gak ada sambel gak jadi makan..... niru bokapnya rupanya, yg doyan makan cabe ....ekekekke
setelah wau itu Ha (besar) ﻫ
setelah jim itu ha (kecil/biasa)
tapi mungkin cuma perbedaan penulisan aja, sedangkan ucapannya sama (homofon). ha/kha (yg setelah jim) memang dibacanya agak "mengecilkan" leher, mungkin krn itu ada yg nulis sbg "kha"
Perbedaan ini sama seperti Insha Allah & Insya Allah, keduanya tetep pake huruf yg ini: ﺵ
sudah OT jauh kita Ray, mari back to topic (atau close the topic? krn sudahterumusterjawab ;D)
Gon..itu pelafalan Jawa. Pak RT gw kalo ngasih kata sambutan juga suka gitu..ngomongnya "alkamdulillah"
klo originalnya sih Alhamdulillah.
gw nulis kaya gitu ikut2an ma Ray aja.
sepertinya penjelasan ini penting bgt ya?::hihi::
^ ooo.. sippp lakh kalo begitu ::oops::
lanjut pedes-pedesannya :)