
Originally Posted by
Δx Δp ≥ ½ ħ
Salah satu fungsi lidah yg utama adalah sebagai indikator utama untuk membedakan rasa sehingga bisa memilah mana makanan yang berbahaya, mana yang tidak. Kebanyakan makanan beracun adalah makanan yang pahit-pahit (getah-getah tumbuhan, dsb). Karenanya orang cenderung memuntahkan makanan yang rasanya pahit. Lidah juga cenderung menolak makanan yang berasa asam, karena asam berasosiasi dengan makanan basi/belendir.
Dalam proses "pengenalan" tsb, lidah "belajar" mengenali rasa. Pada anak kecil, indikator ini sangat mudah terlihat. Ketika lidah sedang memilah rasa, memori hasil belajar otak ini akan disimpan di batang otak (truncus cellebri). Saat masih bayi, lidah akan mengenali rasa manis dan gurih sebagai rasa yang "aman". Hal ini disebabkan karena makanan utama bayi adalah asi yang rasanya manis-gurih. Maka batang otak akan menyimpan memori ini dan mengisyaratkan, "makanan manis dan giruh itu enak dan aman". Maka di kemudian hari jika mereka diberi makanan yang gak manis dan gurih (seperti "rasa" pedas misalnya), maka otak melalui lidah akan memberikan peringatan, "makanan ini gak enak dan berbahaya". Maka anak kecil lebih suka makan makanan manis dan gurih tapi cenderung gak suka makanan pahit-asam-pedas.
Ada semacam saklar pada batang otak yang menyimpan memorinya. Bayi yang baru dilahirkan, akan menunjukan mimik wajah senang jika diberi makanan yang rasanya manis. Sebaliknya jika diberi obat-obatan yang pahit rasanya, mimik wajahnya terlihat tegang. Rasa dan mimik emosi ternyata memiliki pengaruh amat besar. Tubuh melalui lidah belajar membentuk emosi, untuk menolak makanan yang pernah membuat tubuh sakit. Misalnya sekali saja kita mengkonsumis makanan yang membuat sakit perut (yakni makanan pedas), sel-sel perasa pada lidah akan mengirim sinyal agar otak menyimpan memorinya. Jika dalam jangka waktu tertentu, kita kembali dihadapkan pada makanan yang membuat sakit itu (makanan pedas tadi), dengan tegas lidah akan dan tubuh akan menolak untuk memakannya.
Bagaimanapun, seiring dengan bertambahnya usia, anak belajar pemahaman baru: tak semua yg pahit/asam/pedas itu berbahaya. Dengan pengulangan-pengulangan, akan memberikan pengalaman dan wawasan baru, sehingga lidah terbiasa dengan makanan pahit/asam/pedas sehingga kebanyakan orang dewasa tidak mengalami masalah lagi saat menghadapi makanan pahit (obat), asam (mangga muda), pedas (sambal), dll. yah, tentu saja yang saya bicarakan ini kasus "mayoritas"