Ga papa toh bu ngamuk2 di sini, ribut2 di sini. Daripada rusuh di luar. Di sini kan tempatnya mengeluarkan uneg2..
Jelas takut lah lawan FPI, masa kok dilawan.. pulisi aja takut.
Printable View
Ga papa toh bu ngamuk2 di sini, ribut2 di sini. Daripada rusuh di luar. Di sini kan tempatnya mengeluarkan uneg2..
Jelas takut lah lawan FPI, masa kok dilawan.. pulisi aja takut.
Sebenernya acara-acara begini nggak usah diributin. Soalnya yang hadir pasti orangnya ikut-itu aja, nggak jauh-jauh dari JIL dan sekutunya. Dengan adanya kayak gini malah jadi iklan gratis buat mereka. Yang tadinya nggak tau siapa itu Irshad Manji dan nggak pernah baca buku-bukunya, sekarang malah jadi tau dan niat buat baca bukunya. Kalo gitu kan sebenernya justru FPI ikut membesarkan mereka.
gara2 thread ini gw buka link yg dikasih P-li. buat gw, biasa aja, ga ngepek apa2. tp buat yg lg bth bimbingan, gawat!
topik yang bagus
bagus buat exploit islam dan agama
::ngakak2::
silahkeun dilandjoet deh, saya nonton ajah
Meskipun judulnya ada FPI-nya tapi ini sebenarnya tidak membahas Islam secara khusus, melainkan pelanggaran UUD45 yg dilakukan oleh FPI terhadap kebebasan utk berkumpul dan berpendapat. Dgn dalih tidak ada izin polisi, diskusi yg dihadiri oleh Irshad Manji dibubarkan. Setelah dicek apakah benar harus ada izin polisi utk diskusi (salah seorang kopier membeberkan aturan tsb), ternyata pada aturan tsb tidak tercantum keharusan utk izin diskusi pada polisi.
Kalo di atas dibiarkan terjadi, maka akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan berpendapat dan dunia akademik di Indonesia. Bahkan UGM, sebuah lembaga akademik yg seharusnya menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, akhirnya membatalkan acara diskusi di kampus tsb dgn alasan keamanan. Jangan sampai sejarah Abad Pertengahan terjadi di Indonesia, dimana pada waktu itu kebebasan akademik dibonsai dan diancam oleh kalangan agamais konservatif.
:))
setahu gw pur, di Abad pertengahan para akademi
si menggunakan kebebasan berfikir dalam ranah
kajian ilmu alam dan yang mengekang adalah lem
baga agama yang tidak menguasai kajian ilmu alam.
Tentu tidak sama dengan kasus sekarang, dimana
si Irshad Manji menggunakan kebebasan berfikir da
lam ranah kajian keagamaan, ranah yang justru men
jadi bidang kajian yang dikuasai kelompok agama,
sedang si Irshad Manji sendiri tidak menguasai kai
dah-kaidah dalam "riset" agama secara benar.
Mirip seperti para creationist yang tanda dasar-da
sar metode ilmiah dalam menolak/mengkritisi Teori
Evolusi, Irshad Manji mengkritisi ajaran agama, da
lam hal ini ajaran Islam, tanpa dasar "metode ilmiah"
yang berlaku dalam "riset" keislaman.
Gak juga. Kemudian lepas dari itu, faktanya adalah adanya pengekangan kebebasan dlm berfikir dan berpendapat pada masa itu.
Kaidah riset agama yg bagaimana?Quote:
Tentu tidak sama dengan kasus sekarang, dimana
si Irshad Manji menggunakan kebebasan berfikir da
lam ranah kajian keagamaan, ranah yang justru men
jadi bidang kajian yang dikuasai kelompok agama,
sedang si Irshad Manji sendiri tidak menguasai kai
dah-kaidah dalam "riset" agama secara benar.
Lepas dari itu, tetap saja namanya kebebasan utk berfikir dan berpendapat. Kebebasan tsb tidak melulu ranah akademik, tetapi juga yg non akademik, misalnya politik dan keyakinan. Tetapi sekali kebebasan tsb terbelenggu, ranah akademik otomatis terkena juga dampaknya (lihat kasus UGM). Padahal ranah akademik menjunjung tinggi kebebasan berfikir dan berpendapat.Quote:
Mirip seperti para creationist yang tanda dasar-da
sar metode ilmiah dalam menolak/mengkritisi Teori
Evolusi, Irshad Manji mengkritisi ajaran agama, da
lam hal ini ajaran Islam, tanpa dasar "metode ilmiah"
yang berlaku dalam "riset" keislaman.
si irshad udah balik ke negaranya? bukunya di sini best seller? si irshad sama karen (yg ngarang Muhamdad) obyektif mana
kaidah tafsir, metoda ijtihad... ini yang sedang di
dobrak oleh Irshad Manji... masalahnya dia ngga
pernah makan kuliah ilmu tafsir dll...
cuma karena dikasih corong, dia bisa ngomong se
enaknya tentang bidang yang sebenarnya ia tidak
kuasai, bahkan dasar-dasarnya.
gw setuju... dan setahu gw, pihak FPI, seperti MunarQuote:
Lepas dari itu, tetap saja namanya kebebasan utk berfikir dan berpendapat. Kebebasan tsb tidak melulu ranah akademik, tetapi juga yg non akademik, misalnya politik dan keyakinan. Tetapi sekali kebebasan tsb terbelenggu, ranah akademik otomatis terkena juga dampaknya (lihat kasus UGM). Padahal ranah akademik menjunjung tinggi kebebasan berfikir dan berpendapat.
man tidak menolak kalau dilakukan diskusi dua arah,
dengan saling adu argumen... kalau cuma diskusi pro
paganda, tanpa narasumber penyeimbang itu sih bu
kan diskusi akademis.
Nanti dulu. Orang mengaji Quran, bisa dlm rangka memperdalam keyakinannya sbg muslim, bisa juga bagian dari studi budaya dan sejarah. Pada kasus yg pertama, Quran ditempatkan sbg firman tuhan; sedangkan kasus kedua, Quran ditempatkan sebagai manuskrip kuno peninggalan budaya dan sejarah. Kasus pertama pun tidak tunggal, ada metode tradisional dan ada metode progresif. Kemudian metode tradisional pun tidak tunggal juga, ada yg old-fashioned dan yg neotradisional. Nah, ane kira, kaidah tafsir yg ente maksud adalah yg old-fashioned ini. Jadi tidak ada metode tunggal dlm mengaji Quran. Golongan old-fashioned tidak bisa mengklaim bahwa punya merekalah metode yg benar.
Mengenai Irshad Manji, ane melihatnya dia mengaji Quran sesuai sikon yg dia alami sendiri sbg bagian dari komunitas muslim. Ini memang perlu dikritisi dan dia pun terbuka utk masalah tsb. Karena itulah ada diskusi.
Nanti dulu. Diskusi propaganda adalah tuduhan belaka yg didasari kecurigaan tanpa alasan. Mungkin pada kasus Irshad Manji, mereka (golongan yg sewatak dgn FPI) tidak diundang karena pengalaman2 sebelumnya bahwa diskusi dgn melibatkan mereka malah menjadi anarkis dan tidak intelektual (panasan dan emosian). Dgn tidak diundangnya golongan sewatak FPI, tidak menurunkan kualitas diskusi tsb sbg diskusi akademik, malah kualitas diskusi menjadi lebih baik karena sudah mengurangi faktor anarki dan un-intelektualitas. Ane justru pengen melihat diskusi dua-blok antara JIL (progresif) dan INSIST (old-fashioned).Quote:
gw setuju... dan setahu gw, pihak FPI, seperti Munar
man tidak menolak kalau dilakukan diskusi dua arah,
dengan saling adu argumen... kalau cuma diskusi pro
paganda, tanpa narasumber penyeimbang itu sih bu
kan diskusi akademis.
Jadi bagaimanapun, apa yg dilakukan FPI adalah pelanggaran thd UUD45. Tapi gak mungkin kan ente mau mengakui hal tsb? :))
Juga timbul pertanyaan, mengapa FPI dan golongan yg sefaham dgnnya sangat tidak suka dgn kalangan progresif? Coba ane mo denger pendapat ente.
---------- Post added at 05:40 PM ---------- Previous post was at 05:26 PM ----------
Ane kagak tauk.
Ane juga kagak tauk.Quote:
bukunya di sini best seller?
Mungkin lebih obyektif Karen karena dia nonmuslim. :))Quote:
si irshad sama karen (yg ngarang Muhamdad) obyektif mana
kekeke... kalau gw sih ngeliat si Irshad persis te
man kita Aslan kalau lagi ngebantah Teori Evolusi.
Munarman di ILC/JLC bisa head to head adu arguQuote:
Nanti dulu. Diskusi propaganda adalah tuduhan belaka yg didasari kecurigaan tanpa alasan. Mungkin pada kasus Irshad Manji, mereka (golongan yg sewatak dgn FPI) tidak diundang karena pengalaman2 sebelumnya bahwa diskusi dgn melibatkan mereka malah menjadi anarkis dan tidak intelektual (panasan dan emosian). Dgn tidak diundangnya golongan sewatak FPI, tidak menurunkan kualitas diskusi tsb sbg diskusi akademik, malah kualitas diskusi menjadi lebih baik karena sudah mengurangi faktor anarki dan un-intelektualitas. Ane justru pengen melihat diskusi dua-blok antara JIL (progresif) dan INSIST (old-fashioned).
men dengan Ulil (atau si Guntur ya?)... jadi kita
tunggu saja :)
masa sih? UUD 1945 setahu gw untuk persoalanQuote:
Jadi bagaimanapun, apa yg dilakukan FPI adalah pelanggaran thd UUD45. Tapi gak mungkin kan ente mau mengakui hal tsb? :))
ini mengamanahkan untuk diatur dengan perun
dang-undangan yang lebih detil
Untuk kasus di Salihara, jelas pernyataan KapolsekQuote:
SI, STTP DAN REKOMENDASI
Pemohon harus datang sendiri Permohonan ijin kegiatan/keramaian ditujukan kepada kapolda up. Dir intelkam
Proposal kegiatan
Ijin tempat/ lokasi kegiatan
Rekomendasi dari polres/polwil setempat
Foto copy penanggung jawab
Jika ada orang asing harus disertai foto copy curiculim fitai dan passport.
Jumlah peserta dan asal peserta.
Jika parpol harus disertakan ad/art serta komposisi kepengurusan partai.
Tidak dipungut biaya.
Waktu 3 hari kerja
menunjukkan tidak adanya izin dari kepolisian.
bukan tidak suka, cuma karena kalangan JILQuote:
Juga timbul pertanyaan, mengapa FPI dan golongan yg sefaham dgnnya sangat tidak suka dgn kalangan progresif? Coba ane mo denger pendapat ente.
selama ini cuma menang corong doang, Pur..
eneg juga dengerin orang yang ngga punya
ilmu cuap-cuap seperti orang pintar :)
tapi gw setuju kalau sudah waktunya kita
mendengar diskusi/debat khusus JIL vs Insist
bukunya ga jelas best seller apa kagak (artinya berapa banyak sih yang baca?), tendensius, dan ga ngetop...kenapa harus ruwet kayak gini?
Ok ane terima dulu apa yg ente lihat itu. Trus apa hubungannya dgn larangan diskusi? Apakah AsLan dilarang ikut diskusi evolusi? Apakah AsLan dilarang membuat topik ttg kreasionis, dsb? Kan kagak.
Trus kasus kreasi vs evolusi adalah tuntutan kaum kreasionis utk memasukkan doktrin kreasionis ke dalam kurikulum biologi. Ini jelas ditentang oleh banyak saintis. Tapi bukan dilarang tidak diajarkan, melainkan silakan diajarkan pada mata pelajaran agama misalnya, bukan mata pelajaran biologi.
Nah apakah Irshad Manji memaksakan keyakinannya utk diajarkan juga di ponpesnya Munarman misalnya? Atau di ponpesnya habib Riziq misalnya? Kan kagak.
Mana ada aturan izin diskusi? Bukannya ente sudah dari awal ikut topik ini? Kalo ngutip jgn dipotong2 donk. :))Quote:
masa sih? UUD 1945 setahu gw untuk persoalan
ini mengamanahkan untuk diatur dengan perun
dang-undangan yang lebih detil
Untuk kasus di Salihara, jelas pernyataan Kapolsek
menunjukkan tidak adanya izin dari kepolisian.
Weleh sok teu ente bilang orang2 JIL gak punya ilmu. :))Quote:
bukan tidak suka, cuma karena kalangan JIL
selama ini cuma menang corong doang, Pur..
eneg juga dengerin orang yang ngga punya
ilmu cuap-cuap seperti orang pintar :)
Kalo eneg, ya jangan didengerin. Kalo merasa teve bikin rusak akhlak, jangan beli teve. Temen ane yg fundamentalis ada tuh yg sampe sekarang gak mau beli teve karena isinya gazwul fikr semua katanya. Nah itu sikap yg bagus dari pada menuntut stasiun teve atau pabrik teve dibubarkan.
---------- Post added at 06:45 PM ---------- Previous post was at 06:42 PM ----------
Ente tanya FPI donk, kan FPI yg bikin ruwet. :))
Gw sedikit setuju dengan purba, ini diskusi bukan dakwah, harusnya jdnya lebih bagus karena audience bisa liat ajaran islam dr berbagai sudut pandang, bukan kek dakwah yg cuman monolog.
Sayang sekali diskusi yg di ugm dibatalin, padahal gw ama teman2 gw pengen tau kok bisa si irshad kek gitu.
Apapun kondisinya, pelarangan terhadap diskusi Irshad Manji jelas tidak dapat dibenarkan dalam kerangka demokrasi dan kebebasan berpendapat. Irshad Manji salah? Oh, bisa saja. Namanya juga manusia. Silakan bantah di forum diskusi, atau buat forum tandingan. Prinsipnya: IDE DILAWAN IDE. Bukan ide dilawan fisik.
Saya kira, thread ini tidak memfokuskan pada benar salahnya pemikiran Irshad Manji, tapi mengenai hak-hak sipil untuk berkumpul dan berdiskusi yang telah dirampas oleh preman berjubah.
http://i138.photobucket.com/albums/q...nstein/jul.jpg
hahaha.... ngga ada hash yang lebih orisinil, Ish?
gw kirain kelas loe lebih dari FPI :)
hahaha... kalau yang begajulan saja ngerti keburu
kan JIL, ngga usah sok elit lah
::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::