Ya udah, kalo gak ada yg bilang itu sebuah masalah ya gak usah dipermasalahkan dengan mengatakan bahwa itu masalah.
Sama halnya anda mempermasalahkan orang yg ketawa lalu nyari tau lucu atau nggaknya.
Printable View
Silakan dilanjut percaya tuhan atau agama?
monggo dilanjut aja..... :ngopi:
Noted. Kebetulan di tret ini saya tidak sedang dlm kapasitas membahas (substansi ajaran) agama tertentu. :)Quote:
Originally Posted by hajime_saitoh
Berarti mungkin memang ada (beberapa) ajaran "spiritual" dan/atau "agama" yg tidak termasuk dari yg saya garis-bawahi tsb. No problems.Quote:
Originally Posted by 234
Beda yak? Kalo "melawan, menaklukkan, menguasai,...something like that" itu beda ndak dgn "mengendalikan atau memanaje"? Tapi oke, saya sebenarnya ndak terlalu mempersoalkan kalo soal definisi/istilah kok. Ndak dielaborasi juga ndak apa2.Quote:
Originally Posted by hajime_saitoh
Apa yg anda maksud "mematikan nafsu"?Quote:
Originally Posted by hajime_saitoh
(Note: Kalo asumsi saya sih "mematikan nafsu" disitu ya sama aja mati beneran, minimal gejala mati, lha gimana ndak mati kalo misalnya "nafsu makan" aja udah ndak ada sama sekali. Tapi entah kalo "nafsu" disitu diartikan sbg "nafsu negatif" seperti misalnya nafsu korupsi, nafsu nyolong, nafsu membunuh, dll. Kalo nafsu2 seperti iini sih saya memang pengin "bunuh" semua meskipun saya sadar itu bukan hal mudah.)
BTW...
Bagaimana dgn "mematikan akal/logika"? Ini yg setahuku, CMIIW, sering terjadi dlm agama. Silahken kalo ingin mengklarifikasi.
(Note: Sekali lagi, saya bicara agama scr umum lho, bukan merujuk agama tertentu soale disini saya tidak sedang dlm kapasitas berbicara apalagi "mewakili" agama tertentu. Tidak sama sekali. Saya bicara sebatas apa yg ada di otak/akal/logika saya yg memang ndak tunduk, apalagi harus saya "matikan", thd apapun, termasuk thd agama maupun iptek. Tapi "tidak tunduk" itu jgn terus diartikan "melawan" lho. Melawan, tunduk-menundukkan, takluk-menaklukkan, dll itu yg justru ingin saya hindari soale kesannya agak2 gimana gitu. Saya hanya ingin otak/akal/logika saya bisa "bersahabat dan bersenda-gurau" dgn, diantaranya, agama maupun iptek misalnya.)
Kalo masalah itu suwer beneran saya ndak tahu. Saya agnostis.Quote:
Originally Posted by hajime_saitoh
:ngopi:
mematikan nafsu disini yang dimaksud adalah nafsu2 duniawi yang bukan hanya buruk tapi juga nafsu2 yang lain seperti nafsu ***, nafsu makan dll... seperti yang dilakukan kaum pertapa... karena dalam islam itu diperbolehkan menikah, makan daging menjadi kaya dan lain-lain...Quote:
Apa yg anda maksud "mematikan nafsu"?
(Note: Kalo asumsi saya sih "mematikan nafsu" disitu ya sama aja mati beneran, minimal gejala mati, lha gimana ndak mati kalo misalnya "nafsu makan" aja udah ndak ada sama sekali. Tapi entah kalo "nafsu" disitu diartikan sbg "nafsu negatif" seperti misalnya nafsu korupsi, nafsu nyolong, nafsu membunuh, dll. Kalo nafsu2 seperti iini sih saya memang pengin "bunuh" semua meskipun saya sadar itu bukan hal mudah.)
[MENTION=912]234[/MENTION]
Mengenai azas manfaat pernah saya ungkapkan di suatu topik di ::KM:: ini di masa lalu. Waktu itu konteksnya menawarkan sebuah parameter alternatif utk menilai kebenaran suatu agama. Biasanya klaim kebenaran sangat penting bagi agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Dari pada meributkan kebenaran kitab suci ataupun aqidah agama lain, lebih baik tunjukkan pada dunia bahwa mereka-lah umat yg paling bermanfaat bagi dunia. Dari situ, silakan klaim bahwa agama mereka-lah yg benar. Saya membayangkan seandainya ide tsb diterima, maka umat Islam, Kristen, dan Yahudi akan berlomba-lomba membuat sekolah, universitas, rumah sehat, dan fasilitas sosial lainnya utk menunjukkan bahwa mereka-lah pengikut agama yg benar karena memberikan manfaat yg sebesar-besarnya bagi masyarakat luas. Tapi yg terjadi malah mereka berlomba-lomba mendirikan mesjid dan gereja, yg dipakai hanya hari jumat dan minggu, hari lainnya kosong.
:)
... ada yang tau siapa yang pertama kali hadir dengan konsep agama samawi vs agama ardhi?
:ngopi:
[MENTION=101]purba[/MENTION]
Saya sepakat. Seperti yg sering saya sampaikan, bagi saya pribadi, bicara agama adalah bicara kebajikan bukan bicara "kebenaran". Kata "kebenaran" sengaja saya beri tanda petik sekedar ingin menekanan bahwa kebenaran ilmiah/empiris/logika itu sejatinya tidak bisa dilepaskan dari "asumsi dan persepsi" akal pikiran manusia, alias asumsi diatas asumsi. No...no..., jgn dikonotasikan itu sbg sesuatu yg negatif. Tidak sama sekali. Tapi memang begitulah nature akal pikiran manusia. Tentu saja dlm ranah ilmiah, "asumsi diatas asumsi" itu bisa diartikan sbg "asumsi yg telah teruji dan teruji dan akan terus diuji..." entah sampe kapan. Semua itulah, tanpa bermaksud menafikan peran agama, yg telah mengantarkan manusia dari peradaban primitif sampe peradaban modern saat ini dan akan terus berkembang entah sampe seperti apa nantinya.
Mestinya, IMO, agama dan iptek bisa jalan beriringan. Agama bicara kebajikan, iptek bicara kebenaran. Agama itu, saya ibaratkan, hatinya, sedangkan iptek adalah otaknya. Hati (baca: agama) menjaga, mengawasi dan mengontrol otak (baca: iptek) supaya si otak ndak kebablasan mentang2 pintar tapi justru bisa menghancurkan kehidupan umat manusia sendiri. Teknologi senjata kimia dan biologi, ini misalnya aja, kalo terindikasi akan membawa kehancuran ya ndak usah dikembangkan. Cloning manusia, bahkan mungkin cloning dinosaurus, buat apa dikembangkan kalo itu terindikasi bertentangan dgn nilai2 kebajikan dus bisa membawa kehancuran umat manusia. Dst...dsb. Disinilah, menurutku, peran agama mestinya diperlukan, tentu saja tanpa bermaksud menafikan ajaran nilai2 kebajikan lain diluar agama (moral, budaya, kearifan lokal, dll).
BTW ttg "Kebenaran (Mutlak)" (entah itu apa saya juga agnostis eh ndak tahu)...
Agama, terutama yg "ber-Tuhan", setahu saya selalu menekankan bahwa "Kebenaran (Mutlak) adalah milik Tuhan", bukan milik manusia.
SSJ dan al-Hallaj, katanya, pernah bilang "ana al-Haq". Tentu saja saya, dlm kapasitas sbg theist, menolak substansi ucapan tsb. Bagi saya tentu saja SSJ dan al-Hallaj bukan Tuhan. Tapi bagaimanapun, saya sangat2 menghormati "pencapaian spiritual" mereka berdua.
Sekarang bandingkan dgn orang2 yg sama sekali ndak pernah bilang "ana al-Haq" dari mulutnya tapi lihatlah kelakuannya. Ke-mana2 selalu bawa jargon "kebenaran, kebenaran dan kebenaran", "akulah yg benar, penafsirankulah yg benar, yg beda dengan aku berarti salah", "Akulah Sang Penegak Kebenaran", kalo perlu sambil bawa pentungan, main gebug,...dsb. Sejarah telah mencatat tragedi2 kemanusiaan yg berbalut agama. Perang antar agama, bahkan lebih konyol lagi antar aliran dlm satu agama. Pentung2an gebug2an bahkan bunuh2an saling berebut benar. Dan ini bukan terjadi di agama samawi aja lho, yg non-samawi juga banyak. Bagi saya pribadi, sejatinya orang2 tsb adalah para pengecut yg ndak berani berikrar "ana al-Haq" melalui mulutnya langsung. Mereka berikrar "ana al-Haq" melalui pentungan, gebugan bahkan kalo perlu melalui bom segala. Mereka jelas jauh lebih pengecut dibandingkan dgn SSJ dan al-Hallaj yg dgn "gagah berani" mengucapkan "ana al-Haq" langsung dari ucapan mulut beliau sendiri, bukan lewat pentungan.
:ngopi:
---------- Post Merged at 08:24 AM ----------
Sori dobel posting. Udah saya hapus.
Konsep agama Bumi (ardhi) dan agama Langit(samawi) bisa dijumpai pada salah satu buku karya Dr. H.M . Rasjidi, “Empat Kuliah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi”. Yang terbit tahun 1974, pada bab ketiga.
Beliau adalah menteri agama RI ke-dua. Menjabat pada tahun 1945-1946.
Pendidikan beliau :
-Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938). Sarjana Cairo pertama dari Mahasiswa Indonesia dengan Nilai A.
-Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956)
Tapi q tidak tau, konsep agama samawi vs agama ardhi ini, merupakan ide orisinal beliau ataukah beliau hanya menyadur dari sumber bacaan terdahulu.
Saus: ht***tp://hindudamai.blogspot.co***m/2014/02/polemik-agama-bumi-dan-agama-langit.html
#udah install app scribd untuk android, di app itu buku tsb diatas tersedia. Tapi ntah kenapa barusan app itu cuma loading aja ndak kelar-kelar. Jadi q blum baca juga secara lengkap isi bukunya gimana.::ungg::
Tapi sementara dari hasil googling dapat artikel berikut:
A) AGAMA SAMAWI
# Pengertiaan Agama Samawi ialah :
Agama samawi/wahyu disebut juga (agama langit) yang artinya agama yang diterima oleh manusia dari allah sang pencipta melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh rasul-nya kepada umat manusia.
# Contoh Agama Samawi adalah :
Islam, Kristen, dan Yahudi.
# Ciri-Ciri Agama Samawi yaitu :
1)Agamanya tumbuh secara kelahiran dapat ditentukan dari tidak ada menjadi ada.
2)Agama ini mempunyai kitab suci yang otentik (ajarannya bertahan/asli dari tuhan)
3)Secara pasti dapat ditentukan lahirnya,dan bukan tumbuh dari masyarakat,melainkan diturunkan kepada masyarakat.
4)Disampaikan oleh manusia yang dipilih allah sebagai utusan-nya.
5)Ajarannya serba tetap,walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.
6)Konsep ketuhanannya monotheisme mutlak (tauhid).
7)Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia,masa dan keadaan.
B) AGAMA ARDHI
# Pengertian Agama Ardhi ialah :
Suatu faham agama yang berasal dari suatu tradisi, adat istiadat yang harus dilestarikan.
# Contoh Agama Ardhi adalah :
Hindu, Budha, Konghuchu, dll.
# Ciri-Ciri Agama Ardhi yaitu :
1)Konsep ketuhanannya panthaisme, dinamisme, dan animisme.
2)Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
3)Tidak disampaikan oleh utusan tuhan (rasul)
Saus:
ht***tp://alianismet.blogspot.co***m/2011/12/perbedaan-agama-samawi-dan-agama-ardhi.html
Tapinya lagi di bagian disqus pada artikel di atas ada yg menulis: "Wah ngawur ini artikelnya,......bukan lagi ngawur tapi fitnah. Saya agama Buddha, tapi yang kamu tuliskan di atas sama sekali tidak sama dengan ajaran Buddha. Hati-hati soal agama itu sensitif, JANGAN MEMANDANG AGAMA ORANG LAIN DARI AGAMA MU."
Btw klo aq tdk pernah ada minat memandang keyakinan orang lain dari keyakinan q.
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Tulis komen bukan untuk debat, tapi berbagi informasi.::maap::
^ terima kasih keterangannya... soalnya di lingkungan akademis lain cuma disebut sebagai agama revelation atau abrahamik... tidak pake istilah langit bumi segala...
saya ragu kalau ini temuan orang Indonesia, tapi nyatanya di buku-buku luar istilah ini tidak saya temukan.
Btw iseng aja mau nambahin mengenai informasi bahwa makna dari kata "agama" adalah "tidak kacau" (a = tidak, gama = kacau).
Dari kamus online Sansekerta, saya dapatkan bahwa "agama" diartikan sebagai "ajaran tradisional", "tidak dapat dilampaui", "prinsip", "bacaan", "tidak pergi", "mendekat", "kursus/ajaran", "teori", dsb. Secara garis besar saya coba simpulkan bahwa makna "agama" adalah = ajaran klasik/tradisional.
Tidak ada satupun yang memiliki persamaan makna dengan "tidak kacau".
Pun ketika saya mencoba mencari makna dari kata "gama", yang muncul adalah "pergi", "ajaran", "pelarian", "jalan", "intercourse dengan wanita", "permainan dadu", dsb.
Tidak ada satupun yang memiliki persamaan makna dengan "kacau".
Bagi yang penasaran, silakan cek di sini untuk agama dan gama
Jadi, apakah informasi bahwa "agama berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna a = tidak, dan gama = kacau; sehingga agama berarti tidak kacau" itu valid?
Ini yang tidak bisa saya jawab dengan pasti, karena saya tidak menguasai Bahasa Sansekerta (mungkin ada member di sini yang menguasainya dan bisa membantu?). Berdasarkan kamus online tersebut, memang tidak sesuai dengan informasi di atas.
Tapi, dengan membaca beberapa sumber dan menduga-duga, kata "agama" memang berasal dari Bahasa Sansekerta dan kemudian diserap ke Bahasa Indonesia.
Dugaan saya, pada zaman Hindu-Buddha di nusantara, banyak orang-orang yang mengajarkan ajaran Hindu dan Buddha. Kedua agama tersebut menggunakan Bahasa Sansekerta dalam kitabnya (Buddhisme yg berkembang pada zaman tersebut adalah Tantrayana yang menggunakan Sutra Bhs.Sanskrit dari Mahayana).
Kitab-kitab dalam Buddhisme menggunakan istilah "agama", misalnya "Dirghagama" (dirgha = panjang, agama = panjang/teks --> dirghagama = ajaran panjang, maksudnya khotbah2 Buddha yang panjaaaang uraiannya dan dijadikan teks), "Madhyamagama", dan "agama-agama" lainnya (total ada 5 agama, maaf saya tidak menghafal semua). Demikian juga dengan Hindu, Veda memiliki sinonim dengan "Agama" (adakah member di sini yang beragama Hindu? Mohon konfirmasinya, karena saya kurang banyak membaca literatur Hindu :) ).
Di tambah arti dari kata "agama" adalah "ajaran".
Jadi pada saat itu, ketika seseorang ingin belajar Hindu-Buddha, maka mereka akan berkata "saya ingin belajar agama dulu di sana, ada guru agama" --> maksudnya "saya ingin belajar veda/kitab2 Buddha/ajaran Hindu-Buddha, di sana ada guru veda/kitab2 Buddha/ajaran Hindu-Buddha". Sehingga lama-lama, jadilah agama = religion. Ketika zaman Hindu-Buddha berakhir dan masuklah ajaran2 lain seperti Kristen dan Islam, mereka pun dianggap sebagai "agama" (ya, memang makna dari agama = ajaran, jadi gak salah juga. Agama Islam = ajaran Islam, Agama Kristen = ajaran Kristen).
Lalu kaitan dengan percaya Tuhan atau percaya agama, gw percaya agama (ajaran) :). Tapi juga tidak 100% ajaran agama gw terima, kadang yg berasa gak make sense gw gak ikuti juga, misalnya gw gak memiliki keyakinan terhadap worship/doa. (no offense kpd teman2)
Demikian pandangan dan pendapat saya. ::maap::
Deism berarti percaya kepada Zat yang Maha Agung, tetapi yang tidak mempunyai kekuasaan terhadap alam dan manusia.
Atheism berarti mengingkari adanya Tuhan sama sekali.
Agama, apakah sebenarnya agama itu?
Untuk menemukan definisi agama yang baik, suatu judul umum yang mencakup semua fenomena-fenomena yang kita namakan agama itu sangat sulit dan memerlukan suatu kupasan khusus.Karena kesukaran memberi definisi agama, maka para sarjana mengalihkan persoalan dari definisi agama kepada definisi orang yang beragama.
Mircea Eliade dalam bukunya "The sacred and the Profane" mengatakan: "A Religious man is one who recognises the essential differences between the sacred and the profane and prefers the sacred".
Artinya: "Seorang beragama ialah orang yang menyadari perbedaan-perbedaan pokok antara yang suci dan yang biasa (profane), serta mengutamakan yang suci"
Contoh yg relevan untuk definisi agama menurut Mircea diatas adalah S3X.
(S3X yg suci = S3X dalam bingkai pernikahan. S3X dg TTM atau beli cabe-cabean=profane).
Saat seorang sarjana membicarakan agama, ia tidak dapat bersikap obyektif; ia sudah terikat dengan kepercayaannya, dengan kata lain, ia sudah terlibat (involved).
{Karena tidak mungkin bersikap objektif, maka pertanyaan benar atau salah menjadi tidak relevan}.
Pengelompokan agama.
(Ntah saus kecap darimana, bpk. Rasjidi tdk menyebut nama)
Ada pengelompokan agama dalam dua kelompok, yaitu "natural religions", dan "revealed religion"
Natural religions atau agama alamiyah (agama ardhi/bumi), adalah agama-agama yang timbul diantara manusia-manusia itu sendiri dan lingkungan dimana mereka hidup.
Sedangkan "revealed religions" adalah agama-agama yang diwahyukan atau agama-agama samawi, yakni agama-agama yang diturunkan Allah agar menjadi petunjuk bagi manusia.
Secara konkrit, agama samawi ada 3, yaitu agama Yahudi, agama nasrani dan agama Islam.
Adapun agama-agama selain tiga itu dapat dinamakan agama alamiyah.
~kecuali kalimat yang tercetak miring, uraian diatas plek saya salin kata per kata dari buku karya Dr. H.M . Rasjidi, “Empat Kuliah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi”.
berikutnya saya ingin menjawab ulang pertanyaan teman kak cha_n ahh::oops::
Apakah harus pilih salah satu. Abis sebagai orang yang beragama saya percaya dua-duanya.
Dalam menyikapi kepercayaan terhadap Tuhan dan Agama manusia terbagi dalam 3 kelompok.
1. Atheis
2. Deist
3. Manusia yang beragama.
Orang yang percaya Tuhan tetapi tidak beragama maka disebut dheist.
Orang yang mengaku bahwa dia beragama tetapi tidak percaya Tuhan, kukira tidak ada orang seperti ini.
Agama ‘kan tidak cuma satu. Di Indonesia saja secara resmi mengakui 6 agama. Jadi yaa harus diperjelas dulu agama mana yang teman cha_n maksud. Agama yang dikenalkan oleh orang tuanya saat beliau lahir, ataukah agama yang lain.
Kukira penganut agama apapun akan tersinggung lho, klo kita bilang agama yang dia anut itu buatan manusia.::ungg::
Klo saya pribadi selaku pemeluk islam, saya percaya bahwa islam bukanlah buatan Muhammad.
Islam adalah wahyu Tuhan yang disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril kepada Muhammad. Lalu muhammad menyampaikan wahyu tersebut kepada segenap manusia tanpa ada penambahan dan pengurangan. Dan sampai hari ini wahyu ini tetap terjaga, tiap kata, tidak berubah dari yang terucap dari bibir Rasululah Muhammad sampai hari ini. Wahyu ini telah dibukukan yang sekarang dikenal dengan sebutan Al-Qur’an.
Kalau dalam islam, wahyu “tidak mematikan akal/logika”. Justru wahyu memerintahkan manusia agar mendayagunakan akal dan logika yang dianugerahkan Tuhan untuk berpikir.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat yg berbunyi :
- tidakkah kau lihat … .
- tidakkah manusia berpikir …
- dsb.
q sedang di kantor. Tapi di rumah q ada buku karya pak M. Natsir yang di dalamnya ada uraian yang lugas perihal wahyu yang tidak mematikan, malahan justru memerintahkan agar manusia mendayagunakan akalnya.
Insya44ll4h nanti q copas disini uraian dari buku pak M. Natsir tsb.
[MENTION=256]MoodPecker[/MENTION], terima kasih atas penjelasannya soal definisi agama.
Saya belajar istilah "a-gama" ketika berguru Tantra, dan disitu dijelaskan bahwa asal usul sebutan "agama" adalah karena di awal masa sebelum ajaran-ajaran dibakukan, para penghulu (baik agama maupun masyarakat) fokus pada pencegahan-pencegahan perilaku tidak terpuji yang biasanya berakibat kekacauan. Entah apa saja yang dimaksud perilaku tidak terpuji itu karena mungkin definisinya sudah berbeda dengan saat ini, tapi kalau mengingat di Jawa kita mengenal istilah "Mo-Limo", mungkin salah duanya adalah berjudi dan main perempuan (keduanya memiliki akar kata "gama"). Jadi dalam bentuknya yang paling purba, agama adalah tindakan mencegah manusia dari melakukan tindakan tercela yang bisa merusak tatanan kemasyarakatan.
Kalau dikembalikan ke topik, berarti agama memang layak dipercaya tuntunannya... :mrgreen:
Membahas hubungan agama dan Tuhan,
Yang saya pahami, jaman purba dulu, agama-agama klasik tidak menempatkan Tuhan dalam posisi penting. Mereka jauh dari agama mistis penyembah berhala yang menempatkan sosok Tuhan sebagai suatu kepribadian yang diktator. Tuhan memang ada dan menjadi sentral dalam kehidupan beragama, tapi pencapaian Tuhan, pendefinisian tentang Tuhan, atau bahkan diskusi teologis tidak pernah masuk dalam ranah kehidupan mereka.
Pada masa klasik, agama tidak dibuat (atau diturunkan, whatever) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, mencari kebenaran, apalagi mencari kebenaran sejati. Peran agama dalam kehidupan adalah seperti peran seni, yaitu memberi ruang bagi pertumbuhan perasaan dan pemikiran, agar manusia bisa hidup secara baik, gembira, kreatif, dan tercerahkan, meskipun dalam kenyataan hidup selalu dihadapkan kepada realitas tanpa penjelasan atau tanpa harapan, mengalami kepahitan, kesedihan, dan kekecewaan. Manusia yang beragama dengan baik adalah mereka yang bisa melepaskan diri dari cengkeraman penderitaan dan merasa bahagia. Meski hidupnya tanpa harapan, ia tetap menjalani hidup yang bermakna. Seperti ujaran Romo Mudji dalam pemilihan Kick Andy Heroes pada 1 Maret lalu "inilah manifestasi dari iman yang sejati, orang-orang yang menghadapi kesukaran dan kemustahilan, tapi memilih untuk terus bertindak, percaya bahwa kebaikan akan memberi jalan".
Namun seperti bisa kita lihat seperti kasus Kick Andy Heroes di atas, agama tidak membawa hasil secara sim-salabim. Agama adalah tentang keyakinan yang mendalam dan kerja keras terus menerus. Agama bukanlah spekulasi abstrak, tapi disiplin diri dan dedikasi. Proses itu mungkin disebut sebagai "pencarian Tuhan", tapi seandainya itu sebuah pencarian, maka agama adalah suatu pencarian yang tak akan pernah berhenti. Seseorang yang menekuni agama adalah seseorang yang terus menerus mengembangkan dirinya, sampai pada tahapan di mana tujuan sudah tidak lagi penting.
Karenanya Tuhan menjadi tujuan yang tidak penting dalam kehidupan beragama. Ia adalah konsep abstrak yang akan selalu abstrak, sehingga pencarian kepada-Nya tidak akan pernah berakhir dan manusia bisa terus menerus ada di dalam perjalanan menuju kebaikan yang lebih tinggi.
Segini dulu... kita lanjut dalam moda dialog... silakan saya diubah dan diajari... ::maap::
^ Itu kesimpulan Mbah [MENTION=249]Alip[/MENTION] pribadi bukan?
^pertanyaan menarik :luck:
... tapi sebelum menjawab, boleh saya tanya dulu why does it matter?
wkwkwkwkkkk... ::hihi::
Bukannya suatu kesimpulan baru bisa ditelaah lebih lanjut kalau itu merupakan pendapat pribadi? Jadi ditelaah bagaimana ceritanya dia bisa sampai ke pendapat itu...
Jika pendapatnya merupakan salinan dari pendapat dari orang lain atau kitab suci tertentu, tidak banyak yang bisa kita gali kecuali cuma manggut-manggut ...
::hihi::
... dan saya gagal memahami bagaimana orang bisa tidak punya pendapat pribadi. Kalau dia mengatakan "itu bukan pendapat saya lho, itu kata Qur'an/Bible dll." saya akan bertanya, "Lah, terus pendapatmu sendiri gimana?" Jika ia setuju dengan apa yang ditulis di kitab sucinya, maka itu menjadi pendapat dia. Kalau tidak, itu namanya munafiq...
::bye::
Maklum mbah, kalo dah pendapat pribadi jadi nggak nafsu ngedebat.
Karena memang itu hak masing-masing.
Kalo misalnya mendasarkan pada ayat ini, atau ayat ono,
Atau bilang ini perintah agama ini atau ono.
baru deh suka kepancing ngedebat. ::hihi::
Tapi sekedar ngasih pandangan boleh juga.
Menurutku agama bumi juga sangat menekankan Tuhan.
Misalnya agama Budha menekankan agar umatnya mencapai nibana.
Yang menurutku Nibana adalah kondisi bertemu Tuhan.
Misalnya agama Hindu menekankan umatnya agar menyadari Krishna.
Yang menurutku Krisnha adalah pengejawantahan Tuhan.
Misalnya agama Majusi mendorong umatnya untuk menemukan Cahaya sejati.
Yang menurutku Cahaya sejati itu bukan lain adalah Tuhan.
Makanya jangan didebat thoooo... tapi didiskusi-in(kan) dalam semangat untuk coba memahami dan belajar. ::hihi::
Memang sengaja tidak ditulis panjang-panjang dan kumplit sekali tembak, selain ribet, saya ingin maju pelan-pelan dengan semua orang berkontribusi sepanjang prosesnya. Di sini kita khan pake acara semua orang boleh ikut... bukan ekslusif untuk orang-orang "berilmu dan paling benar"...
Sekarang ke latar belakang...
***
Kitab-kitab Upanishad yang awal, ditulis berabad-abad sebelum Masehi menekankan pada ketidak-terjangkauan-nya Brahman, dan manusia seyogyanya fokus pada ritual dan latihan untuk keluar dari kungkungan penderitaan daripada melamun tentang Brahman. Yajvanalkya, salah seorang suci Hindu di abad ketujuh pernah berujar "jika seseorang bertanya tentang Brahman, ia hanya akan mendapat jawaban neti, bukan itu".
Yoga, latihan yang diajarkan untuk melepaskan diri dari roda penderitaan bukanlah ritual peribadatan, apalagi olahraga seperti yang kita temui di gym mahal di mall. Yoga adalah disiplin latihan yang pelan-pelan membina manusia untuk merangkul rasa sakit, kesedihan, dan penderitaan, untuk kemudian bisa tumbuh menjadi manusia yang melampaui semua itu.
***
Kita pernah membaca di salah satu utasan di forum ini pula, bahwa Budha pernah berujar pada salah satu muridnya -- yang alih-alih menekuni Yoga justru bertanya-tanya tentang Tuhan dan dunia metafisika --, bahwa si murid itu ibaratnya orang yang terkena panah beracun. Bukannya cepat-cepat mengobati penderitaan akibat panah itu, dia malah sibuk bertanya-tanya soal siapa yang memanah, kenapa, di mana rumahnya, dan lain sebagainya...
Budha menekankan bahwa menerima "paket kebenaran" dari seseorang yang dianggap suci, adalah akusala (tidak berguna). Seseorang harus menjalani proses pencerahannya sendiri melalui proses pematangan diri, bukannya tunduk pada suatu "kebenaran" yang didikte oleh orang lain.
Adapun Nirvana, secara bahasa berarti "mematikan", "punah", yaitu suatu kondisi di mana seseorang melepaskan diri dari ego dan mencapai pemahaman yang lebih paripurna tentang hakikatnya sebagai manusia, seperti yang diharapkan oleh Yoga dalam Upanishad di atas (dan Budha tetap mempraktekkan Yoga). Memang yang jadi masalah adalah di Indonesia Nirvana diidentikkan dengan surga, heaven, atau jannah, konsep tentang suatu tempat di mana Tuhan "berada". Tapi Nirvana dalam konsep aslinya lebih sederhana.
***
Konfusius berujar bahwa Dao berada di luar jangkauan bahasa. Karenanya diskusi teologis sesungguhnya cuma mengganggu hakikat suatu ajaran agama. Agama adalah tindakan, bukan lamunan. Seorang harus tekun mengikuti ritual (li) agar bisa mengasah dirinya menjadi manusia mumpuni (junzi). Ritual dalam ajaran konfusius lebih banyak berfokus pada tata krama, struktur masyarakat, kaidah penghormatan, dan sejenisnya.
***
Jadi agama yang berkembang di periode kuno bukanlah ajaran yang bertujuan untuk mencapai "pemahaman atas Tuhan sejati", tapi ajaran yang praktis yang membumi. Meskipun menyandarkan konsepnya pada keberadaan suatu zat yang tak terjelaskan, tapi agama pada periode itu berfokus pada pencapaian derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Tuhan hanya berfungsi untuk membantu kesadaran bahwa manusia memiliki potensi lebih agung dari sekedar binatang berpikir yang tampak oleh mata.
[MENTION=912]234[/MENTION]
Dulu saya juga pernah mengulas ttg agama di ::KM:: ini. Saya melihat agama sebagai penggumpalan idea. Maksudnya begini. Ambillah contoh Muhammad. Apakah Muhammad mendisains Islam? Merencanakan Quran? Saya pikir tidak. Ini dapat dilihat dari proses terbentuknya Quran yg membutuhkan waktu lama dan konten Quran yg kadang berseberangan satu dengan lainnya (sorry to say :) ). Kita dapat melihat Muhammad sbg agen perubahan. Awalnya, Muhammad menyendiri di gua, kemudian mengklaim mendapatkan wahyu, dst. Mengapa dia menyendiri? Ada yg bilang, itu kebiasaan masyarakat Arab saat itu. Ada juga yg bilang, itu utk mendapatkan solusi bagi (yg dilihatnya sbg) permasalahan masyarakat saat itu, dsb. Klaim menerima wahyu adalah semacam "pencerahan" yg dicapai oleh Muhammad. Dari perenungannya di gua tsb, Muhammad menemukan jawaban pertama yg diikuti oleh jawaban-jawaban berikutnya (baca: wahyu). Itu tidak disimpannya sendiri, tetapi dikomunikasikan, pertama tentunya pada istrinya, sahabat2nya, dst, akhirnya tersebar luas ke banyak orang. Dimana penggumpalan idea tsb? Ketika sang pembawanya tiada, kemudian pengikutnya membakukan idea tsb, di situlah penggumpalan idea tsb terjadi dan itulah agama.
Lihat juga Sidharta. Kurang lebih kisahnya sama dgn Muhammad. Yesus? Mirza Ghulam Ahmad? Siapa lagi, sebutkan saja? Saya kira sama saja. Mereka adalah agen perubahan. Mereka menyumbangkan idea utk suatu perubahan. Selanjutnya idea mereka menggumpal menjadi agama.
Bagaimana dgn iptek (sains)? Sama saja. Dia adalah idea. Iptek pun dapat berevolusi menjadi agama, misalnya saintologi, dll. Saya pernah menyebutkan (juga di ::KM:: ) bahwa agama pada awalnya adalah iptek primitif yg kemudian kadang berakhir menjadi sistem jumud (pinjem istilah sampeyan). Tidak melulu, tapi kadang. Sebab hingga saat ini iptek selalu berkembang (dlm istilah sampeyan) atau open mind.
Buat apa idea-idea tsb? Kebaikan, kenyamanan, ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dst. Apa lagi yg dicari manusia, kalau bukan itu semua?
Buat saya, kalau kita terpaksa harus menyebut kebenaran, itu tidak lain adalah perubahan itu sendiri.
:D
Pas google tadi q nemu tulisan yang menarik, makalah karya Bapak Ulil Abshar-Abdalla yang berjudul "Memahami Kitab-Kitab Suci secara non-apologetik".
Pada makalah tersebut beliau mengutarakan pendapat bahwa di kitab suci agama apapun pertentangan itu ada. Hanya saja di mata orang yang mengimani kitab suci tsb, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.
Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.
Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.
Memang benar, seorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.
Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?
Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.
Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.
Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:
“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).
Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.
Sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan percecokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.
Pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.
~kutipan dari Makalah Bapak Ulil saya cukupkan sampai di sini. Walau di tulisan di atas Pak Ulil menyebut "Islam vs Kristen", tapi kukira kata "Islam vs Kristen" pas-pas aja jika di replace menjadi "Free Thinker vs Orang Beragama". Ataupun "Atheis vs Dheis". Karena di mataku baik atheis ataupun Dheis adalah sebuah "Agama" juga. Sebentuk kepercayaan yang dibawa oleh komposisi hormon & kromosom sewaktu lahir. Coretan/warna yang ditorehkan orang tua dan lingkungan tempat dia tumbuh dewasa. Suatu kesimpulan dari segenap pengalaman yang telah tertempuh.
Saus : ht***tp://ulil.net/2008/08/06/memahami-kitab-kitab-suci-secara-non-apologetik/
pengertian apologetik menurut wikipedia : 'membela iman'.
***
Kata Bpk Rasjidi, "Saat seorang sarjana membicarakan agama, ia tidak dapat bersikap obyektif; ia sudah terikat dengan kepercayaannya, dengan kata lain, ia sudah terlibat (involved)."
Begitupun saya, saat menulis postingan ini saya involved dengan kepercayaan saya sebagai muslim. Maka yang saya tulis pada quote di bawah ini adalah kepercayaan subjektif saya.
Yang berarti saya percaya bahwa tidak ada pertentangan di dalam Quran.
:ngopi:
Tapi saya akan sangat berterima kasih bilamana pak [MENTION=101]purba[/MENTION] bersedia menunjukkan ayat mana (saja) di kitab suci kami (Al-Quran) yang dipandang bertentangan. Agar dapat menambah pengetahuan dan menjadi bahan permenungan kami.
::maap::
^saya percaya Eyang Purba punya bahan lebih dari cukup dan akan dengan senang hati berbagi ::hihi::
... tapi boleh saya usul agar dibuka utasan tersendiri untuk topik itu supaya lebih fokus? Kalau nanti ada irisan di diskusinya, kan tetap bisa dirujuk kembali ke sini...
[MENTION=101]purba[/MENTION]
Yup, saya memang telat boyongan ke KM shg ndak sempat nimbrung dlm hiruk-pikuknya fordis ini di awal2 yg setelah saya lurking2 ternyata lumayan "seru".
Anyway, di akhir kalimat dlm "monolog" saya yg terakhir saya menulis...:
Tulisan2 saya, khususnya di tret ini, berangkat dr sebuah ide ttg paradoks (ibarat dua sisi pada satu keping mata uang) yg adanya memang IMO merupakan sebuah keniscayaan yg ndak bisa dilepaskan dari diri (alam pikiran) manusia. Dari situ kemudian berlanjut ke ide ttg bagaimana manusia (dlm hal ini diri saya sendiri) dlm menyikapi paradoks.Quote:
Originally Posted by 234
Paradoks benar vs salah, baik vs buruk, senang vs susah, process (oriented) vs result (oriented), yin vs yang, dst yg saya ibaratkan nature-nya seperti ombak, bahkan sampe juga ke "paradoks" benar/otak/rasionalitas vs baik/hati/spiritualitas dan Tuhan vs agama. Dua hal terakhir sengaja saya tebalkan krn saya akan coba elaborasi dlm posting saya kali ini.
***
Ttg "Tuhan vs agama"...
Sejatinya saya "menolak" (tidak sepakat) kedua hal tsb ditempatkan sbg bentuk paradoks shg sampe muncul pertanyaan "Percaya Tuhan atau agama?" spt yg dijadikan judul tret ini.
Sehingga untuk menjawab pertanyaan judul tret pun saya hanya bisa berikan jawaban "ngeles" (diplomatis) yaitu: I believe in God and trust in religion. (And my faith is Islam). Dan untuk menjelaskan jawaban saya tsb saya juga udah coba pisahkan (per definisi) dari ketiga hal tsb (belief, trust dan faith).
Begitu juga ketika saya menyatakan "saya theist (ber-Tuhan) meskipun saya agnostis dan saya ber-agama meskipun saya [B]skeptis[B]", dimana dlm konteks tsb saya menolak (per definisi) agnostis diartikan sama dgn skeptis spt dlm definisinya Ndugu. (Note: Meskipun saya sebenarnya ndak pernah terlalu mempersoalkan kalo udah menyangkut persoalan definisi, tapi sekedar mengklarifikasi aja thd definisi yg saya buat sbg dasar pijakan pendapat saya sendiri spy ndak timbul kerancuan atau misperception).
Demikian pula ketika saya coba menempatkan (ber)agama sbg bentuk "journey" (dlm analogi permainan papan selancar di atas ombak). Dlm analogi tsb saya tidak pernah menempatkan Tuhan sbg bentuk "destination" (dari analogi permainan papan selancar tsb).
Pendapat2 saya tsb didasari oleh "definisi" (ide, konsep, asumsi, atau apapun disebutnya) ttg (ke)Tuhan(an) yg saya anut. Dlm ide/konsep/asumsi saya, Tuhan itu "ada"nya melampaui (beyond) paradoks apapun. Yin sekaligus Yang, atau sebaliknya, bukan Yin sekaligus bukan Yang.
Wuji kalo dlm Taoism, Brahman dlm Hindu, Nibbana dlm Buddhism, JHVH dlm Judaism, Bapa dlm Kristen, Allah dlm Islam. "Alfa sekaligus Omega" dlm pendekatan agama samawi, "bukan Alfa sekaligus bukan Omega" dlm pendekatan Buddhism. Gusti kata orang Jawa. DJI kalo ala Djisamsoe. Dst...dsb.:mrgreen:
(Note: Saya sebenarnya udah ndak tertarik lagi untuk memperdebatkan lebih jauh lagi ttg "ide/konsep Tuhan". Seperti saya bilang sebelumnya, kesannya jadul banget. Saya cukup antusias berdebat ttg hal itu rasa2nya udah lebih dari 15thn lalu waktu era milis sebelum era fordis di Internet. Bahkan di era awal fordis, misalnja aja FFI periode 2002-2003, saya pun udah ndak berdebat "theist vs atheist" lagi, soale waktu itu saya sudah "agnostis" meskipun saya theist.) :cengir:
***
Ttg "benar vs baik" (otak vs hati, rasionalitas vs spiritualitas, dsb)
Dlm hal ini saya memang (sedang) menempatkan hal2 tsb sbg bentuk paradoks shg sampe pada ide berupa sebuah bentuk paradoks "iptek vs agama", dimana saya menempatkan iptek kedlm ranah benar/otak/rasionalitas dan agama dlm ranah baik/hati/spiritualitas.
Dan saya belum ingin mengelaborasi hal tsb lebih jauh lagi krn, rasa2nya, di beberapa postingan terakhir saya anggap sudah cukup menjelaskan hal tsb.
Sekedar tambahan sedikit untuk lebih memberikan distinctive antar keduanya, IMO, baik itu (bersifat) subyektif sedangkan benar itu (bersifat) relatif.
***
Lalu menanggapi postingan anda terakhir...
Saya sepakat dgn ide anda ttg "penggumpalan ide" yg akhirnya mengkristal sbg bentuk agama. Proses penggumpalan itu scr formal berhenti saat agama ditempatkan sbg sesuatu yg bersifat formal. Tapi bagaimanapun, scr informal, proses tsb masih dan akan terus berlangsung meskipun karakternya ndak sedinamis sains. Menurutku, diakui atau ndak diakui oleh agamawan itu sendiri, tafsir thd ajaran agama itu terus berkembang meskipun karakternya lebih bersifat "tarik-menarik" antara pro-kontra terhadapnya. Tapi IMO proses (dinamika) itu niscaya tetap ada.
Saya juga bisa bisa memahami cara pendekatan sampeyan dlm memandang "paradoks agama vs sains" dgn menyatakan, scr implisit, bahwa sejatinya "agama adalah sains yg jumud" disatu sisi, dan disisi lain "sains adalah agama yg openmind".
Ttg saintologi saya punya pandangan berbeda. Bagi saya, saintologi ndak bisa dipandang sbg sebuah "agama". IMO itu kurang lebihnya mirip dgn misalnya Deism dan Raelian(ism). Ketiganya tidak lebih dari sebuah bentuk "parodi agama". Saya bisa memahami reason kenapa sampe muncul parodi seperti itu. Bagi saya itu merupakan wujud kekecewaan orang2 tertentu melihat kejumudan yg terjadi dlm agama pada umumnya. Prediksi saya, ketiga hal tsb (Saintologi, Deism dan Raelian) ndak akan pernah bisa "besar" dari sisi pengikut meskipun ketiganya akan terus tetap eksis sbg "tandingan" dari agama yg memang cenderung jumud.
Itu dari sudut pandang saya dari sisi "agama" lho. Kalo dari sisi sains menurutku, CMIIW, mungkin Saintologi lebih tepat disebut sbg "sains yg jumud".
Lalu ttg "kebenaran=perubahan", saya malah jadi inget seorang kawan baik eks teman SMA yg sekarang secara formal bergelar professor plus berderet titel pendidikan formal lainnya yg kesemuanya berlatar-belakang ilmu fisika (terapan) dan semua diperoleh di LN. Dia bilang, "kebenaran=waktu".
Saya pribadi, kalo terpaksa harus mendefinisikan "kebenaran" dlm bentuk satu kata, saya prefer bilang "kebenaran=relevansi".
:ngopi:
[MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]
Pertentangan, kontradiksi, dst itu IMO juga termasuk "paradoks" (per definisi dlm bahasan saya di tret ini).
Saya sepakat dgn ide yg bergaris bawah, terlepas itu bersumber dari mana(pun).Quote:
Originally Posted by MoonCying
Persoalannya adalah: Bagaimana dgn mendayagunakan akal dan logika untuk mengkritisi bahkan mungkin menolak wahyu itu sendiri?
Jadinya paradoks kan? :)
Dan kalo anda udah bisa dan terbiasa melakukan hal itu saya yakin anda sudah siap menerima "wejangan2" dari Encang Purba. Tapi kalo sebaliknya, seperti sebuah pernyataan yg pernah sekilas saya baca di forum ini yg kurang lebih berbunyi "akal pikiran harus ditundukkan dibawah otoritas wahyu dan kitab suci", maka bersiaplah untuk menerima "goyangan ombak" dr Encang Purba. Persiapkan baik2 papan selancar anda. :cengir:
:ngopi:
Selain daripada perintah dan larangan, di lain waktu dalam bentuk pertanyaan retoris seakan-akan sambil lalu disingkapkan proses kejadian bumi ini sendiri, atau proses yang sama sekali tidak terjangkau oleh pengalaman manusia, -sebab terjadinya jauh sebelum adanya manusia, - dan yang di waktu wahyu itu diturunkan sama sekali belum dapat dicapai oleh daya aqal manusia; bahkan terkhayalkanpun sama sekali belum.
Begitulah bintang-bintang, matahari, bulan dan lain-lain ciptaan Khaliq terus beredar dalam satu sistim yang penuh harmoni, tak pernah gawal; tak ada yang menyimpang dari garis edar masing-masing yang ditentukan dalam keseimbangan kekuatan, tiang-meniang yang tidak kelihatan”:
Begitu berbiliun abad yang lampau, tak terjangkau oleh daya hitung manusia, dimana mulanya, dan akan begitu dimasa yang akan datang, tak terterka dimana ‘kan berakhirnya .......................
Manusia yang berfikir dan mengawasi itu semua dengan perasaan takjub, ditantang pula dengan suatu tantangan terhadap kemampuan dan pencapaian yang dapat diperoleh dengan aqal yang telah dikurniakan Ilahy kepadanya:
Tidaklah sekali-kali wahyu itu takut kepada aqal, tidak berusaha menutup-nutup aqal, apalagi mematikan aqal.
Maka ia memanggil aqal untuk melakukan fungsinya.
Dipanggilnya pancaindra untuk memberi “makanan pada aqal” Aqal manusia harus hidup, tidak boleh mati, tidak boleh lumpuh. Aqal harus bergerak. Digerakkan dengan pertanyaan-pertanyaan berkali-kali.
“Tidakkah mereka melihat?”.
“Kenapa kamu tidak mempergunakan aqal? Kenapa mereka tidak mau merenungkan?”.
Wahyu tidak memusuhi pancaindra dan aqal *). Pancaindra, aqal dan wahyu berasal dari Khaliq yang Satu, Tak ada pertentangan antara pemberian-pemberian Khaliq itu. Mana yang tak tercapai oleh pancaindra dijemput oleh aqal’. Mana yang tidak atau belum tercapai oleh aqal, dijangkaukan oleh wahyu. Wahyu dari ‘Alimil Ghaibi wasy-Syahdah. Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata ataupun yang tidak.
*) Bukanlah wahyu yang menyuruh menghukum seseorang seperti Galileo Galilei (1564-1642) dan banyak lagi ahli aqal dan ilmu yang senasib dengan dia, dalam sejarah “Barat” itu, yang diwaktu itu masih takut melihat cuaca siang.
Sumber bacaan : kumpulan catatan-catatan dan diktat-diktat dari Kuliyah Bapak M. Natsir untuk kursus latihan calon Muballigh. Oleh Bapak Saleh-Umar Bajasut, catatan/diktat tersebut disusun dan dihimpun secara tertib, sehingga menjadi sebuah buku. Judul Buku: M. Natsir, FIQHUD-DA’WAH, Jejak Risalah dan Dasar-Dasar Da’wah. Penerbit: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 1977.
Seorang mengkritik atau menolak wahyu biasanya karena perbedaan believe. Ataupun kalau sama-sama believe biasanya yang mengkritik dan yang dikritik berbeda religion.
Terjadinya Sikap mengkritisi atau menolak wahyu antara penganut believe ataupun religion yang berbeda IMO adalah suatu keniscayaan sebagai akibat dari kenyataan bahwa agama satu dan yang lain tidak sama. Baik kitab suci, cara beribadat ataupun batasan moral tiap agama adalah berbeda.
Untuk mendapatkan suatu gambaran bahwa agama-agama yang jumlahnya banyak itu tidaklah sama, marilah kita meninjau agama katolik dalam soal perceraian.
Adalah satu prinsip yang sangat penting bagi umat Katolik bahwa perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang wanita dianggap ikatan untuk selama-lamanya yang tak mungkin dilepas oleh kematian. Hal semacam itu tidak terdapat dalam agama Islam, juga tidak dalam agama Protestan.
Gereja Katolik melarang perceraian, sedangkan agama Islam memperbolehkan perceraian dengan syarat-syarat tertentu. Agama Protestan yang muncul pada tahun 1517 juga mengizinkan perceraian.
Begitupula soal-soal ketuhanan atau teologi, maka kita akan menemukan perbedaan yang sangat besar.
***
Dalam agama Islam, rukun Islam yang pertama adalah membaca syahadat yang berbunyi: “Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah” yang berarti “Aku percaya menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”
Karena telah menyatakan faith bahwa Muhammad adalah utusan Allah. IMO tidak bakal terjadi kritisi atau sikap menolak terhadap wahyu yang terucap dari bibir Muhammad. Yang saat ini wahyu tersebut telah dibukukan. Dikenal dengan sebutan Al-Quran.
Alih-alih bertentangan, akal dan wahyu adalah saling melengkapi satu dengan yang lain.
"Mana yang tak tercapai oleh pancaindra dijemput oleh aqal’. Mana yang tidak atau belum tercapai oleh aqal, dijangkaukan oleh wahyu. "
Ada ya dan tidak nya. Ya nya: Tentu latar belakang seseorang mempengaruhi penilaiannya thd sesuatu. Tidak nya: Sikap obyektif itu pilihan. Artinya, seseorang pun dapat bersikap obyektif. Sikap obyektif mungkin lebih dituntut dlm dunia ilmiah. Seorang sarjana muslim dapat menggunakan perangkat yg ada dlm dunia ilmiah utk menilai agamanya sendiri. Itu artinya dia memilih utk obyektif. Saya kira ini banyak dilakukan oleh sarjana muslim sendiri.
Tidak di sini. Di topik lain saja. ::bye::Quote:
Tapi saya akan sangat berterima kasih bilamana pak [MENTION=101]purba[/MENTION] bersedia menunjukkan ayat mana (saja) di kitab suci kami (Al-Quran) yang dipandang bertentangan. Agar dapat menambah pengetahuan dan menjadi bahan permenungan kami.
::maap::
Mengenai isi wahyu yang bertentangan dengan akal, biarlah orang-orang yang lebih kompeten yang bertanya lebih lanjut O:-)
... saya tertarik untuk menyimpulkan bahwa makin lama suatu agama terbukti salah oleh akal, maka semakin gugur kredibiltas agama tersebut di mata manusia dan semakin perlu untuk ditinggalkan? Misalnya otoritas gereja Katolik (yang di atas disebut "Eropa") yang doktrinnya berbeda dengan argumen Galileo?
---------- Post Merged at 05:17 AM ----------
Yah... keduluan Eyang Purba ::elaugh::
baru selesai sholat subuh, Eyang? Jam segini udah nongkorong di ::KM::? :luck:
Okee eyang purba ... .
See U next time ^^
"Agama" itu soal hati.
Obyektif IMO terletak di akal.
Pengalaman pribadi sih, "akal gak bisa menang nglawan ati" ;D
IMO, tenangnya hati, kecenderungan hati -tidak terhindarkan- akan mempengaruhi hasil pemikiran.
Mungkin begini Mbah Alip. Ada evolusi dlm cara manusia menarik kesimpulan. Sains yg kita kenal perlu verifikasi empirik, atau kita mengenalnya dgn metode ilmiah, utk mencapai suatu kesimpulan, sehingga kesimpulannya lebih obyektif. Sementara dulu tidak ada metode ilmiah. Agama sudah ada jauh sebelum metode ilmiah dikenal. Karena itu agama tertinggal dalam hal obyektifitas. Yg Mbah Alip sebut dgn "...makin lama suatu agama terbukti salah oleh akal.." menunjukkan bahwa agama makin kalah obyektif dibandingkan sains. Mengapa obyektifitas dikedepankan? Karena terbukti efektif dlm menyelesaikan masalah-masalah manusia.
Efek tuek Mbah... Udah gak bisa tidur lama-lama... ::ngakak2::Quote:
Yah... keduluan Eyang Purba ::elaugh::
baru selesai sholat subuh, Eyang? Jam segini udah nongkorong di ::KM::? :luck:
Manusia selain daripada akal juga ada perangkat lain yang disebut hati.
Dalam beragama peran hati lebih dominan daripada akal.
Rasio/akal manusia tidak akan sanggup memahami semua hal.
"Tuhan" adalah termasuk hal yang tidak terjangkau akal.
Ada orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang beragama yang percaya bahwa Tuhan itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Tuhan itu tidak ada.
Beragama berarti percaya bahwa Tuhan itu ada.
Beragama itu terbit dari hati.
Percaya bahwa Tuhan itu ada melalui ucapan para rasul atau melalui kitab suci tidak dibenarkan!
Dan menurut persangkaanku inilah kesalahan yang seringkali menjangkiti kaum beragama di "barat". Mereka percaya Tuhan melalui kitab suci, bukannya dari hati.
***
IMO, Jika seiring perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi terbukti bahwa ayat di kitab suci tertentu bertentangan dengan fakta ilmiah ilmu pengetahuan. Janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa beragama (percaya bahwa Tuhan itu ada) adalah salah.
Tengoklah kitab suci yang lain.
Berikutnya mengenai Galileo Galilei. Kmrn pas google q nemu blog yang dikelola oleh pasangan suami isteri sarjana kristen, Lulusan S2 Teologi Kristen di luar negeri. Di blog mereka ada satu bahasan khusus mengenai peristiwa Galileo Galilei ini. Sayangnya kmrn cuma q baca sambil lalu aja & ndak q bookmark. Ntar klo nemu lagi, q share di mari.::bye::
^ masalahnya memakai hati akan sangat subjektif.
Harus disimpan sendiri, tidak layak diceritakan kepada orang lain.
Karena memang sangat subjektif.
Dalam postingan q sebelumnya saya menyebut perihal dihukumnya Galileo Galilei oleh otoritas gereja katolik.
Agar dapat diperoleh informasi yang berimbang mengenai peristiwa Galileo Galilei, berikut link yang dapat dijadikan rujukan.
katolisitas.org/1684/apakah-galileo-galilei-dibunuh-gereja-katolik
(depannya mohon ditambahkan http:
Artikel pada web “katolisitas.org” diatas berjudul -APAKAH GALILEO GALILEI DIBUNUH GEREJA KATOLIK?- ditulis oleh Stefanus Tay & Ingrid Tay.
Pandangan Gereja mengenai teori heliosentris yang diusung oleh Galileo Galilei sbb:
Galileo dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, atas tuduhan mengajarkan teori yang bertentangan Kitab Suci, yaitu bahwa matahari tidak bergerak sebagai pusat jagad raya. Namun atas kebaikan Uskup Agung Siena, akhirnya Galileo diperbolehkan pulang ke villanya di dekat Florence tahun 1634 sampai wafatnya di tahun 1642, setelah menderita demam dan serangan jantung, di usia yang ke 77.
Memangnya kenapa kalo salah? Memangnya salah itu apa? Benar itu apa?
*katanya pake hati kok masih pake benar-salah*
:ngopi:
Kecaaap...kecaaap...kecapku nomor satu... Jika anda ndak puas dgn kecap yg selama ini anda pilih silahkan beralihlah ke kecap kami... Jaminan mutu... Kecaaap...kecaaap...kecapku kecap nomer satu... :)Quote:
IMO, Jika seiring perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi terbukti bahwa ayat di kitab suci tertentu bertentangan dengan fakta ilmiah ilmu pengetahuan. Janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa beragama (percaya bahwa Tuhan itu ada) adalah salah.
Tengoklah kitab suci yang lain.
:ngopi:
Komentar pendek...
itu MoonCying ngomong apa sih?
:ngopi:
Duh, pantes gak ngerti... ternyata MoonCying mengedit postingan lama dengan data-data baru sekian lama sesudah diskusinya maju jauh mbicarain yang lain... ::doh::
Meskipun mengutamakan hati, tapi mbok ya tulisannya dibikin berstruktur dengan kronologi yang runut dong (bagiannya akal dan rasio) ... kalau ada tambahan dibuat aja di postingan baru... jangan ngedit postingan lama...
:iamdead: