OK, lagi proses DL santet kuntilanak.
tar malam ditonton paling pertama deh diantara antrian tontonan.
wish me luck :nangis4:
Printable View
OK, lagi proses DL santet kuntilanak.
tar malam ditonton paling pertama deh diantara antrian tontonan.
wish me luck :nangis4:
saya atas nama teman2 ikut mendoakan malik, agar selamat sampai selesei melihat dan merivew pelem tsb
saya sarankan untk menyiapkan ember ;D;D
@chan, ayo, ikutan nonton :D
::nangis:: aku sunggu terharu... makin banyak orang2 sakti di KM.
ntar kalau aku khilaf, aku coba ngelanjutin filem cih, tetanggaku kuntilanak
tread ini betul2 sangat menghibur gw ::ngakak2::
btw gw blm cukup umur utk ntn film2 gaje kyk gini, so gw nunggu repiew kk2 aja deh ::hihi::
OK, review dikit.
rencana pengen nonton 'santet kuntilanak' paling pertama gagal, saya emang ga kuat nonton pelem horor, apalagi tengah" malam. ::nangis::
akhirnya setelah marathon nonton Sherlock series eps03ses02, dilanjut accel world eps 09, saya memberanikan diri. :nangis4:
awal" pilem disuguhi aksi yang lumayanlah menurut saya. darah" di adegan muntah pakunya lumayan lah, warna darahnya ga ngaco" banget. ;D
bercerita tentang 3 cewek Maya, Diania, Liya.
ceritanya si Diania suka curhat ke Maya kalo cowoknya Dicky selingkuh sama Nessa.
*herannya si Diania ini tahu bener" kalo cowoknya selingkuh tapi kok saaaaaantaaaaai aja, ga minta putus atau apa gitu. ::doh::*
ternyata, si Nessa yang jadi selingkuhannya Dicky ini tewas disantet sama Maya, kenapa.? ::managuetahu::
arwah si Nessa pun menghantui Liya lewat mimpinya, entah apa tujuannya.
kematian Nessa pun menyebar ke seluruh kampus.
*dan di kampus ini g ada yang heboh kalo mahasiswanya meninggal ::doh::, cuma ada selebaran di mading macam pengumuman beasiswa aja.*
cerita berlanjut, si Liya di ajakin bestfriendnya buat nginep di villa bareng" 3 temen conya. jadi ada 4 co dan 1 ce nginep di villa.
di sini saya ga ngerti, pas mereka lagi jalan ke villanya ada suara teriakan ce yang nyaring... buat apa coba.
udah sampe si Liya ternyata di kerjain ama empat co ini.
si Liya pun lari, dikejar" ama empat co ini.
akhirnya dapet, Liya jatuh, kepalanya terantuk poon trus terantuk batu, tapi g ada darahnya sama sekali ::why::
si Liya pun tewas ::doh::
segini dulu reviewnya, baru nonton 19 menit.
g kuat nonton pelm horor lama".
ah iya di pelm ini g ad bikini"nya yah, g ad yg enak di liat -_-.
Buset tengah malem nonton ginian ul ul.... Jangan lupa abis itu mandi kembang biar ga kebawa mimpi %heh
Biar ga ada bikini tp kan ada adegan "dikerjain" ul ::hihi::
Agree... opera mana yah? dia punya saingan nih :))Quote:
Originally Posted by cha_n
Brilliant bro karst :-bd
eh boleh ngepost ini gak? ;D moga gak repost, td pas baca,langsg ketawa.. Ada yg pernah nontn?
:D
KK Dheeraj dan Sensasi Dalam Film-
Filmnya Kehadiran KK Dheeraj di ranah
perfilman dalam negeri merupakan
fenomena tersendiri. Sejak pertama
merilis film pada tahun 2007, KKD,
begitu sapaan akrab pria keturunan
India ini, sudah sering membuat sensasi. Sebenarnya wajar sebuah film
membuat promosi terselubung di balik
kejadian yang sudah disetting
sedemikian rupa. Namun ada kalanya
mereka lupa bahwa film bukan hanya
tempat menjual sensasi. Film adalah tempat bagi sineas untuk menjual
karya, cerita, gambar dan akting
pemainnya. Di bawah ini editor Kapanlagi.com
berikan sensasi-sensasi yang dibuat KK
Dheeraj dalam setiap filmnya sepanjang
2007 hingga pertengahan 2012.
Penasaran apa saja? Mari simak
sensasinya di bawah ini. 1. GENDERUWO GENDERUWO merupakan produksi
pertama K2K Production yang diklaim
menggunakan jasa profesional dari
Amerika dan kru India. Sayangnya
untuk ukuran sebuah horor, apa yang
disajikan KKD terbilang sangat jauh dari kesan menyeramkan. Baiklah, jika pun
benar, apakah Anda percaya
dandanan seperti gambar di bawah ini
harus menggunakan jasa orang asing? Hal di atas juga cukup menggelikan
ketika membaca tagline yang tercetak
pada poster resminya; HANTU
TERSERAM DI DUNIA. Baiklah.. di dunia
sebelah mana?
2. PIJAT ATAS TEKAN BAWAH Meski menampik bahwa kasus
'meremas' yang dilakukan Saipul
Jamiell pada tubuh Kiki Fatmala adalah
settingan, film PIJAT ATAS TEKAN
BAWAH terangkat berkat kasus
tersebut. Uniknya, tema film ini hampir serupa
dengan film MD Pictures bertajuk SMS. Di
mana keduanya dianggap mendaur
ulang film India bertajuk DOSTANA.
3. HANTU BINAL JEMBATAN SEMANGGI Menjelang rilis, settingan pun dimulai.
Yakni pemberitaan media yang sengaja
mem-blow up adegan panas yang
dilakoni Okie Agustina dan Idea Pasha,
yang sempat dituduh oleh Pasha Ungu
sebagai perusak rumah tangganya dengan Okie. Selain itu, film ini juga menjual adegan
panas yang dimainkan oleh Cynthiara
Alona dan Five Vi.
4. RAYUAN ARWAH PENASARAN dan
SELIMUT BERDARAH Dalam dua judul film ini, KKD
menggunakan trik memancing rasa
penasaran penonton lewat poster
filmnya. Pada RAYUAN ARWAH
PENASARAN tertulis 'Menampilkan Artis
Jepang No. 1' yang ternyata adalah Leah Yuzuki. Sedang film kedua
menulis 'Artis Korea' yang ternyata
bernama Han Song Ho. Pada judul kedua, ditulis pula
penampilan perdana Enno Lerian dan
Pinkan Mambo di layar lebar. Sungguh
menggelikan, seolah dua nama
tersebut merupakan bintang yang
memang penting ditunggu kehadirannya.
5. RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN
dan POCONG MANDI GOYANG PINGGUL kehadiran dua film ini tentu saja hanya
menjual sosok Tera Patrick dan Sasha
Grey yang sudah di-blow up
sedemikian rupa untuk mendongkrak
pundi-pundi filmnya. Sementara itu,
fakta lain menyebutkan bahwa plot film RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN
sebelas dua belas dengan film Megan
Fox bertajuk JENNIFER'S BODY. 6. DENDAM POCONG MUPENG Sensasi film ini datang dari judul film
yang dengan 'sangat drama' terpaksa
diganti dari HANTU PUNCAK DATANG
BULAN menjadi DENDAM POCONG
MUPENG. Padahal jika ditinjau dari segi
cerita, tak ada hubungan sama sekali.
7. PELUKAN JANDA HANTU GERONDONG Dalam film yang plotnya mirip dengan
film India bertajuk 13B ini, KKD
membuat settingan dengan
tersebarnya gambar-gambar panas
Aida Saskia.
8. DEDEMIT GUNUNG KIDUL dan KUNG FU
POCONG PERAWAN Promosi terselubung film ini diawali
dari poster filmnya yang dibuat mirip
dengan poster DRIVE ANGRY dan KUNG
FU PANDA. Otomatis hal tersebut
mengundang kecaman di dunia maya
dan forum-forum terkemuka.
9. PACAR HANTU PERAWAN Ini film pertama Dewi Perssik bekerja
sama dengan KK Dheeraj. Sebagai
promosi, Dewi sempat dikabarkan
melakukan operasi keperawanan demi
film ini. Sungguh sangat berlebihan jika
harus membawa-bawa keperawanan demi sebuah film horor komedi seperti
ini. Selain sensasi Dewi Perssik, film ini juga
menjual nama Vicky Vette dan Misa
Campo. Keduanya merupakan artis
panas yang demi keamanan berbagai
pihak, melakukan syuting langsung
dari New York. Sebenarnya film Indonesia syuting di luar negeri itu
biasa saja. Namun KKD membuat
syuting di luar negeri yang dia lakukan
demi film ini tampak berlebihan.
10. ARWAH KUNTILANAK DUYUNG Kembali memakai Dewi Perssik, kali ini
KKD membuat heboh dengan
memasang tragedi yang dialami oleh
Saipul Jamiell dan almarhum sebagai
jualan utama.
11. KAFAN SUNDEL BOLONG Menjual The Return of Arumi Bachsin
pada poster filmnya, di mana saat itu
Arumi baru saja pulang ke rumah
setelah kabur, film ini juga menjual
tagline yang menyebutkan
persembahan untuk Ratu Horor Suzanna. Pertanyaan pentingnya
adalah, apakah Suzanna mau
dipersembahkan film seperti ini?
12. MR BEAN KESURUPAN DEPE Inilah yang sedang ramai dibicarakan
saat ini. Di mana KK Dheeraj dianggap
melakukan kebohongan publik yang
seolah-olah menyatakan bahwa
Rowan Atkinson bermain dalam film
horor komedi terbarunya. Saat ini, kasus kebohongan publik
tersebut sedang diproses hukum
setelah seorang penonton melaporkan
ke pihak berwajib. Demikian 12 sensasi yang berhasil
editor kumpulkan. Menurut kalian,
perlukah adanya sensasi seperti ini
untuk menjual sebuah film? (fb box office)
Kebanyakan kata perawan di pilem KKD yg padahal pemainnya mana ada yg perawan lagi %heh
dikerjain belum sempet, udah lari duluan orangnya. -_-
ok lanjut lagi reviewnya.
si Liya tewas, dan menghantui ketiga orang yg telah ngerjain dia.
eh, bukan ding si Maya, dan dua temennya Ruben dan Joe juga dihantui arwah Liya.
diawali dengan masuk ke mimpi Maya terus minta cariin 5 kuku orang mati, yang sampe akhir film ga diungkit" lagi buat apa.
Maya, Ruben, dan Joe pun bersama" mencari di mana Liya berada.
Beruntungnya mereka, si Joe denger percakapan Doni sahabat Liya dan temen yg pergi bareng mereka ke puncak.
hal ini membuat Maya,dkk fokus mengawasi mereka.
informasi sudah bocor, si Doni akhirnya dibunuh dengan tikaman di perut oleh ketiga temannya.
*lagi" tanpa darah, dan langsung tewas seketika.
saya pikir jantung orang ini pindah ke perut kali yah.
dan sampe film ini berakhir.
temen" sekampus Doni ga ada yang tau kalo Doni tewas, padahal dibunuhnya di perpus*
#PukPukDoni #Cyan ::hihi::
ga mau ngaku, Maya pun beraksi.
satu dari tiga orang ini di santet, dan tewas seketika karena patah leher ketika di diskotik.
*satu lagi kehebatan orang" ini, mereka yg di diskotik pada rame ngerubunin, dan langsung tau kalo orang ini tewas, hanya dengan melihatnya.
ilmu deduksinya melebihi sherlock holmes saya rasa.*
dan film pun mulai membosankan, cuma adegan sehari" Maya, Ruben, Joe, Diania, dan dua org yg masih hidup.
yang tiap harinya dihantui sama Liya.
oh iya, jangan lupakan Nessa!!
hantu ini kerjaannya cuma mondar mandir keluar masuk kamar mandi, entah mau ngapain.
Maya kembali beraksi, seorang dari dua org yg tersisa kembali di santetnya, dan tewas.
Tinggal satu orang tersisa, Ricky.
dengan bantuan dukun, Ricky mengetahui kalo yang meneror mereka selama ini adalah Maya.
Maya pun akhirnya dibisikin Liya, kalo Liya dikubur di dket Villa.
Ricky akhirnya balas dendam ke Maya, dengan bersenjatakan sebuah kapak, Ricky menyerang Maya.
untung aja Ruben datang menolong.
uahhhh..... adegan ini bikin saya deg"an :O ::doh::
Ricky berhasil dilimpuhkan.
Maya, dkk pergi ke Villa buat nyari Liya.
tapi kenapa si Ricky ikut dibawa di Mobil. ::doh::
*di sini adegan paling keren so far, sudah tau yang dicari ini mayat. tapi nyarinya sambil manggil" nama Liya.
mungkin mereka berharap mayatnya Liya melambaikan tangan di ujung jalan.*
akhirnya mayat Liya ditemukan di dalam sumur, masih mulus euiiii...... :O
padahal mayatnya udah berumur sekian hari.
tiba" Ricky datang lagi, stab Maya dari belakang dan ngegorok lehernya.
entah itu piso dapet dari mana. -_-
Joe pun melawan Ricky, duel seru pun terjadi.
dan tanpa sengaja si Joe berhasil menusuk perut Ricky, dan langsung tewas.
*tuh kan jantungnya pindah lagi -_-*
yang bikin saya surprise, si Maya masih idup untuk mengucapkan kata" terakhirnya.
padahal lehernya udah penuh darah kena gorok.
Maya pun tewas.
kasus selesai.? belum.
seorang cewek yang tiba" mengaku sebagai kakak tirinya Ricky, yang bahkan ga pernah dibahas sepanjang film tiba" muncul mendatangi Joe buat bales dendam atas kematian Ricky.
tau darimana dia yg bunuh Ricky si Joe.?
cewek ini ngakunya sih ngikutin mereka terus selama ini, buat apa.? ::managuetahu::
dan duel tidak imbang ini pun terjadi. Cewek lawan Cowok gitu.
Joe akhirnya tewas kena cucuk obeng dikepalanya. ::doh::
The End.
- - - Updated - - -
ada beberapa poin penting di film ini.
1. Hantu Nessa yang entah ngapain mondar mandir di dalam rumah keluar masuk kamar mandi.
2. Ruben yang perokok berat yang ngakunya udh ngerokok sejak SD. cara dia Isep-Rokok-tiap-detik nya perlu diacungi jempol.
3. Hantu Pocong. ga ada yang ngira kan di film ini bakal ada hantu pocong.
4. Kuntilanak. Kuntilanaknya manaaa.???? :why: :kesal:
hahahahah keren keren ul....
aduh sakit perut lagi deh...
judul pilem santet kuntilanak tapi ga ada kuntilanak nya epic....
Gila ini si rumus jam terbangnya nonton film ginian udah setingkat kritikus film Oscar. You're so legendary ::ngakak2::
resensi ul runtun,xixi:))
hebat.
jika saya seperti kalian yg bisa bertahan nonton film macam itu dlm durasi satu jam pasti skrg saya sudah cuci darah.
@ul: di film setannya Nayato mah, udah biasa setan salah tempat. di Film Pocong Jalan Blora malah kebalik, gak ada pocongnya, tapi banyak kuntinya.
Saya udah muak dengan film-film Nayato karena kemonotonannya seperti kita dipaksa screensaver Windows XP yg tulisan kelap-kelip dan bergerak-gerak di layar dg background item itu selama 2 jam. Pertama kali kita liat screensaver itu, kita pasti takjub, apalagi kalo liatnya pas pertama kali liat komputer pas masih SMP. Tapi 2 menit kemudian kita bosan. Nayato dengan lebih dari 36 film horor (dan akan terus bertambah) dari total 50an filmnya, membuat "film"-nya dengan formula yg sama, terus berulang-ulang kali. Kita tidak akan pernah dibuat ketakutan. Kita tidak akan mati karena seram, kita akan mati karena bosan.
Biasanya, gaya sinematografi dari Nayato (ya ampun, "sinematografi"... kata ini terlalu mewah utk seorang Nayato) sangat tipikal dan berulang. Pola-pola ini selalu sama. Dari sekitar 56-an film Nayato, lebih dr 50 udah sy tonton sampai eneg. Muka saya pas nontonnya udah kayak batu bata. Cuma beberapa saja yg belum ditonton karena kelewat di bioskop dan belum ada bajakannya :D
untuk film-film drama, akan selalu seperti ini:
- hujan plus kaca berembun,
- semua pemainnya mangambil karakter anak Jakarta yg high-end, tapi katroknya gak ketulungan, sok-sokan minum bir/wiski mahal tapi yg diminum kek air es limun gopean di pinggir jalan.
- kamar gelap-gelapan yg membuat kita harus menyorotkan senter ke layar monitor saat menontonnya,
- fast motion yg annoying yg sepertinya disyut dg kamera dibawa lari tukang copet,
- blower dimana-mana sampai rambut para pemainnya bertiup2 kemana-mana,
- adegan duduk-duduk di taman/padang ilalang,
- flashback berulang-ulang yg jika dihilangkan maka durasi film berkurang setengahnya,
- adegan berpapasan/bertubrukan antara tokoh diiringi lagu india yg membuat kamu berpikir bahwa dunia selebar daun kolor eh kelor,
- lampu kelap-kelip di tengah temaram senja yg bikin mata perih,
- settingannya cuma di 3 tempat: kamar kost-kostan/kampus/rumah sakit
- high angle camera, kamera disyut dari atas kepala pemain sampe-sampe kita bisa melihat ketombe yg nemplok di kepala pemainnya, atau membuat kita berpikir bahwa tokoh utama di filmnya adalah "LANTAI".
- diskotek! wajib banget ada adegan joget2 dan mabok2
Formula ini selalu sama di setiap filmnya, baik drama maupun horor, untuk film horor, dia punya formula tambahan:
- wajib ada poltergeist (benda melayang2 karena setan), kursi/meja/ampe tabung ijo gas elpiji pernah melayang di filmnya Nayato. Saya benar-benar berharap tabung itu bener2 meledak agar filmnya langsung tamat.
- setan yg selalu muncul di kamar mandi (coba hitung adegan setan nongol di kamar mandi, kamu rasanya perlu menggunakan kalkulator grafik yg dilengkapi dg menu limit/diferensial/integral untuk menghitung adegan ini saking banyaknya adegan ini), mulai dr pemainnya lagi mandi, cuci muka, hingga boker akan selalu ada adegan ini. Di film "Pocong Ngesot", sampai ada adegan Azis Gagap lagi boker, ditakutin setan lalu lari keluar tanpa celana dan tanpa cebok. Mimpi buruk macam apa ini?
- adegan setan yg suka muncul mendadak lalu menghilang saat si aktor nengok. setannya bisa nongol di bawah kasur (gak elit banget), kaca buram, atau di belakang pundak.
- adegan ada tangan yg mau menyentuh pundak org yg ketakutan, tapi pas tangannya nyampe dan orang itu menjerit, ternyata itu bukan setan tapi temennya yg mau nanya. Di salah satu filmnya, yg nanya itu ternyata tukang ojek yg nyasar -_-
- yg jadi setannya SELALU cewek. Motifnya seragam: diperkosa lalu balas dendam. Jika semua orang yg diperkosa lalu jadi setan yg membunuh pelakunya, kenapa angka kriminal pelecehan seksual masih sangat tinggi?
- muka setannya jelek seperti abis ditemplokin bubur basi, nongol tiba-tiba
- suara mendesis-desis kalau setan mau mucul seperti "aaaaaaahhhhhhh" tertahan. gimana kita mau kaget jika setiap penampakan ada "kode" dan "sinyal" terlebih dahulu?
- setan demen muncul di toilet, meski itu toilet publik seperti toilet kampus dan rumah sakit. Dan gak ada satupun toilet di kampus dan rumah sakit yg mengenal kata "hiegenis". selalu toiletnya kotor, berlumpur, dan kacanya burem. Buset, kampus/rumah sakit macam apa itu. Toiletnya juga gak pernah dipasangin lampu meski cuma bohlam 5 watt
- selalu terjadi pembunuhan, tapi tak pernah ada yg berniat melaporkan ke polsek, polda, komnas ham, YLKI, atau Kak Seto
- saya mengerti jika si pocong/kunti ternyata awalnya adalah seorang PEREMPUAN yg meninggal diperkosa Yang saya gak mengerti adalah, kenapa pas penampakan, pocong/kunti yg nongol SELALU LAKI-LAKI yah? Jelaskan Nayato! Jelaskan! Jelaskan! *mata melotot ala sinetron dg backsound petir menggelegar* JELASKAN!!!
- dll. dll. dll. dll. dll. dll.
Jelaskan, Amirah, kenapa kamu tega melukai hati Tuan Prabu yang bela-belain membiayai sekolah dan kuliah kamu, tapi kamu malah menikahi si Paijo anaknya tukang kebun keluarga kita! Jelaskan Amirah! Jelaskan! *eh?
Ah, saya udah mulai lebay. Okay. Stop!
Kuntilanak itu secara histori bukannya berasal dr perempuan hamil yg dibunuh, trus jadi setan dan gangguin ibu2 yg lagi hamil (atau org yg ngebunuh) namanya aja kuntilanak dr kata kuntil yg artinya mencuri dan anak.
So makanya aneh kalo para kunti di pilem itu masih pada perawan.
TSnya sukses beraattt euy?!! congrattssss
mampu meracuni orang2 buat nonton film indonesia ga jelas
ga akan heran bila bbrp tahun ke depan ada group legendaris FCFIG, alias Fan Club Film Indo Gaje
yang cikal bakalnya ternyata dari thread ini...
sebagai salah satu pengelola.. saya terharu ::nangis::
@cudi: halah, di film horor lokal mah, mana ada logika. judul2nya aja udah kacrut. Coba tonton film Nayato yg merupakan hybrid dua jenis setan: Pocong Ngesot.... -_-
@rumus
ah iya adegan hantu lewat kamar mandinya sering banget. ;D
dan rumahnya.
ini rumah dari luar gayanya minimalis, pas di dalam sumpek, sesumpek"nya.
dan saking minimalisnya lampunya pun remang".
tak bisakah mereka beli lampu neon. ::doh::
tangan hitam entah tangan siapa yang suka nongol tiba" juga gaje. ;D
dan jangan lupa, suara mendesis "aaaaaaahhhhhh" setiap setan mau muncul. ah kelupaan, tambah ke facts di atas ah :mrgreen:
@etca fanclub kek ginian dah ada lama setahu gw pesatnya di forum sebelah, vividism klo ga salah ;D ampe ada nobar segala :iamdead:
btw, gw lg suntuk, rekomen pilem horor legendaris tp minim bikini dong, males pantengin setengah pilem cuman liat belahan dada doang ;D
Nayato Fio Nuala: Saya Buat Film Untuk Nonton Film
Oleh Adrian Jonathan Pasaribu dan Arie Kartikasari
Spoiler for Sumber:
Suasana pengambilan gambar Keranda Kuntilanak (Foto: FI)
http://filmindonesia.or.id/public/up...tikel_wwcr.jpg
http://filmindonesia.or.id/public/up...el_wwcr_i2.jpg
Saat ini, nama Nayato Fio Nuala beredar sebagai sutradara paling produktif di industri film nasional. Tahun 2011 ini, terhitung hingga bulan September, sudah adasembilan film yang dirilis atas namanya. Tahun sebelumnya, ada tiga belas. Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film: 25 film atas nama Nayato, 15 film Koya Pagayo, 5 film Ian Jacobs, 3 film Chiska Doppert, dan 2 film Pingkan Utari. Produktivitas Nayato jadi kian impresif apabila kita turut memperhitungkan prestasi film-filmnya dibox office. Sejauh ini, belum ada film Nayato yang gagal di peredaran. Semuanya balik modal (bahkan untung), dengan rata-rata 300 sampai 500 ribu penonton per film, karena dia mampu menekan biaya serendah mungkin dengan sistem produksinya.
Tahun 2006 silam, nama Nayato dikenal publik via kontroversi Ekskul. Film tersebut didapuk sebagai film terbaik di Festival Film Indonesia. Namun, sejumlah pihak tidak puas dan protes terhadap kemenangan Ekskul. Pasalnya, Nayato ditenggarai menggunakan scoring dari sejumlah film asing tanpa izin. Kejadian tersebut konon membuat Nayato memilih untuk menjauh dari perhatian pers dan publik. Namanya menjadi semacam misteri dalam perfilman Indonesia, mengingat sedikit sekali informasi tentangnya di media.
Pada 17 Agustus 2011, redaksi FI mendapat kesempatan mengunjungi Nayato saat syutingKeranda Kuntilanak, yang mulai tayang di bioskop tanggal 22 September. Suatu kesempatan yang tak pernah diberikan kepada pers bahkan produser filmnya. Lokasinya di sebuah villa berhalaman luas di bilangan Bogor. Terhitung ada 13 kru di lokasi syuting, ditambah dengan tiga pemeran. Ketika kami datang, mereka sedang syuting sebuah adegan mencekam, di mana salah seorang karakter mendadak hilang. Mereka mengambil gambar di sebuah ruang kosong di bawah tangga, yang ditata ulang sehingga terlihat seperti kamar tidur. Ada satu kamera dan dua lampu. Nayato berdiri di depan monitor, mengecek apakah gambar yang diambil sudah sesuai standar atau belum.
Setelah tiga kali take, Nayato menghampiri kami. Dia menunjuk sebuah poster di dinding: Tarung (City of Darkness), yang baru tayang mulai tanggal 15 September lalu. “Film terbaru saya. Saya buat pakai hati. Sedikit,” ujarnya bercanda. Setelah itu ia harus berkutat membantu Tya Subiyaktodalam pembuatan film Kehormatan di Balik Kerudung. Dialog tersebut memantik percakapan kami dengan Nayato untuk tiga jam ke depan, yang diselingi oleh tiga kali syuting. Sepanjang tiga jam tersebut, ia bercerita tentang bagaimana dia selama ini membuat film, film seperti apa yang sebenarnya dia ingin buat, dan sejumlah kisah sepanjang kariernya yang produktif itu.
Metode Produksi
Film Indonesia (FI): Tahun lalu, Anda menghasilkan 13 film. Tahun ini, sudah ada tujuh film. Bagaimana metode kerja Anda sehingga bisa memproduksi film secepat itu?
Nayato (N): Setiap kali saya syuting, selalu ada dua editor yang ikut. Setiap habis take gambar,memory card dari kamera dikasih ke mereka, terus mereka susun gambarnya sesuai yang saya mau, baru kemudian dikirim ke kantor. Kerja jadi cepat.
FI: Editing dilakukan offline?
N: Online. Karena kualitas gambarnya sudah bagus. Klien senang kerja sama kami, karena gambar yang kami hasilkan bagus, dan cepat kerjanya. Biasanya kan sering ada komplain kalau resolusi gambar rendah segala macam. Pas lihat hasil syuting harian, mereka bingung kenapa warnanya beda, cahaya gelap terang. Klien tidak senang lihat yang seperti itu. Sama kami tidak. Film kami hampir tidak ada gambar yang gelap. Bisa dilihat bagaimana kualitas gambar kami. [Menunjuk layar laptop] Lihat, cahaya sama warnanya tidak terlalu beda jauh. Tidak perlu repot paspost-production. [Mengganti gambar di laptop] Nah, ini ada yang sedikit over cahayanya. Paling nanti diturunkan sedikit. Tapi kalau diperhatikan, warnanya sudah matang, padahal belum diapa-apain. Ini masih fresh habis syuting. Karena itu kerja kami bisa cepat. Lebih murah juga. Setiap selesai take, gambar bisa langsung disusun. Setiap hari kami mengusahakan jadi 15 menit.
FI: Maksudnya 15 menit?
N: 15 menit durasi film. 15 menit yang akan penonton lihat di layar. Kalau syuting hari ini kurang dua atau tiga menit, kami lunasi di syuting hari berikutnya. Bagaimanapun juga setiap hari harus jadi 15 menit, sampai akhirnya seluruh film jadi. [Diam sejenak] Lagi pula kami selalu syuting di Bogor. Semua kru juga tinggal di Bogor. Jadi cepat kalau ada apa-apa.
FI: Apakah mereka juga berasal dari sini?
N: Oh, tidak. Mereka aslinya dari mana-mana. Ada yang Bekasi, ada yang dari Tangerang. Tapi semuanya sudah pindah ke sini. Beberapa bahkan sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Sudah beranak-pinak. [Tertawa] Kantor kami juga dekat-dekat sini. Jadi kalau mau syuting, mau apa, bisa cepat. Tidak seperti di Jakarta. Macet. Karena itu film kami hampir semuanya tidak ada yang di Jakarta. Seratus persen di Bogor, kecuali beberapa di Bandung. Kami ada stok gambar Jakarta, seperti beberapa established shot jalanan di Jakarta, rumah-rumah. Jadi cepat buat filmnya.
FI: Selama ini, Anda selalu bekerja dengan kelompok Anda tersebut?
N: Iya. Mereka sudah paham banget dengan apa yang saya mau. Saya tinggal bilang apa yang saya mau, mereka bisa langsung mengerjakannya. (Kru ini dibayar bulanan, di samping mendapat penghasilan lagi setiap ada syuting)
FI: Total ada berapa orang dalam grup Anda tersebut?
N: Dua puluh orang. Latar belakangnya macam-macam. Ada yang dulunya kerja di sinetron. Ada yang dulunya kerja bareng saya di iklan. Ada juga yang bawa saudaranya buat kerja sama saya.
FI: Sistem kerjanya bagaimana? Apakah mereka turut berkontribusi juga dalam proses kreatif? Atau ada tata kerjanya sendiri?
N: Saya yang mengatur. Saya yang mikir. Yang lain tidak boleh ada yang mikir. Komando ada di Nayato seorang. [Tertawa] Kerja kami begini: tidak boleh ada diskusi di lokasi syuting. Kalau kelamaan diskusi, nanti lama. [Tertawa] Tapi ya itu, mereka sudah paham dengan apa yang saya mau. Mereka sudah sangat terbiasa dengan cara kerja begini. Pernah sekali kami minta anak IKJ buat edit film kami. Tiga jam dia lihat stok gambar kami, dia cuma bengong. “Saya tidak tahu Mas harus mulai dari mana,” begitu katanya. [Tertawa] Saya paham kenapa bisa sampai begitu. Kami syuting tidak pernah pakai clapper. Buat apa keluar duit lagi buat sewa orang buat jadi clapper.[Tertawa] Anak-anak sudah tahu apa yang saya mau. Tak masalah jadinya. Setiap habis syuting, bisa langsung edit, karena sudah tahu jalan ceritanya bakal kayak bagaimana. Anak IKJ itu belum tahu. [Tertawa]
FI: Sehari syuting bisa berapa lama?
N: Rata-rata 12 jam. Jadi kalau mulai jam sembilan pagi, balik jam sembilan malam. Mulai jam 10 pagi, balik jam 10 malam. Kalau mau syuting malam, biasanya kami mulai jam lima sore, sampai sekitar jam tiga subuh. Karena biasanya jam lima sudah mulai terang. Kami tidak pernah melewati kerja 12 jam. Ada kan yang namanya kekuatan kerja. Biasanya itu turun setelah sepuluh jam. Daripada besok-besok jadi masalah, mending sekarang istirahat, besok syuting lagi. Jadi lebih cepat kerjanya. Kami tidak pernah syuting 24 jam penuh.
FI: Satu film kira-kira berapa hari syuting?
N: Tergantung filmnya. Film horor itu biasanya cepat. Film drama lebih lama sedikit. Film actionapalagi. Biasanya tujuh hari syuting. Kalau filmnya bagusan dikit, maksudnya bujetnya rada besar, bisa sampai sepuluh hari. Tergantung kebutuhan saja sebenarnya. Tapi rata-rata tujuh hari syuting. Jadi lebih cepat juga karena kami biasanya syuting tidak pakai naskah. Sinopsis saja.
FI: Pada setiap film Anda selalu tercantum penulis naskahnya. Bagaimana selama ini peran mereka?
N: Oh, mereka tetap menulis naskah. Kami pernah kerja sama Titien [Wattimena], sama Viva [Westi]. Mereka tetap nulis naskah. Kami ikutin apa yang mereka tulis. Tapi masalahnya begini. Kadang ada penulis skenario yang nulis naskah kayak nulis novel. Banyak banget lokasi kejadiannya. Dari sini, ke sini, ke tempat mana lagi. Bikin film kan beda sama nulis novel. Pas bikin film, pindah lokasi tidak gampang. Buat apa kami sewa satu lokasi cuma buat syuting satuscene. Kalau bisa diakalin, lebih baik. Kalau sudah begitu kan, naskah terpaksa kami ubah. Kami kasih tahu ke penulis skenario kalau naskahnya akan kami rombak.
Masalah nama mereka tetap masuk, itu hak mereka. Yang pasti naskah kami rombak. Makanya banyak penulis naskah yang tidak senang sama saya. Naskahnya dirombak terus. Syuting tidak pakai skenario. Satu set yang tadinya cuma satu kejadian, saya ubah buat beberapa kejadian. Yang penting tetap sesuai sama sinopsis. Buat apa kami sewa kafe cuma buat satu adeganngobrol. [Tertawa] Jadi uang sama waktu kami tidak habis di satu lokasi saja. Buat penulis skenario yang sudah paham, mereka ikut saja kalau naskahnya kami ubah. Kecuali kalau kerja sama beberapa penulis, seperti Titien sama Viva. Kami ikut apa yang mereka tulis.
FI: Selain pertimbangan uang dan waktu, apakah ada pertimbangan kreatif dari keputusan Anda dalam mengubah naskah?
N: Oh, ada. Begini, ada naskah film yang enak dibaca, tapi setelah jadi film tidak enak ditonton. Ada yang nggak nyambung. Ada yang inilah, itulah. Nonton film kan beda sama baca novel. Tidak ada waktu lama buat penjelasan. Maksudnya gini lho, maksudnya gitu lho. Tidak ada kan orang yang mau jelasin itu semua. [Tertawa] Saya sederhana saja. Film itu yang penting enak ditonton.
FI: Enak ditonton dalam arti gambarnya enak dilihat atau bagaimana?
N: Gambar penting. Tapi feel juga penting. Kalau nonton film horor, bisa kaget berapa puluh kali, bisa ketawa berapa puluh kali. Bukannya cerita tidak penting, tapi kadang penonton juga tidak ingat itu. Anak-anak yang masuk bioskop dan nonton mereka. Pas misalnya mereka lihat ada karakter yang mati, kadang mereka juga tidak peduli kenapa dia mati. Mereka pedulinya bisa kaget berapa puluh kali. Itu kan yang penonton mau.
FI: Dengan syuting tanpa naskah, lantas bagaimana cerita dalam film Anda disusun?
N: Kami bikin cerita selesai syuting, saat editing. Setiap genre kan ada polanya. Biasanya kami mengedit dulu gambar kami. Kalau sudah jadi dan dirasa ada yang kurang, kami syuting sehari lagi buat mengisi yang bolong dalam cerita. Dalam film horor jelas kapan penonton harus ditakutin, kapan harus tenang, kapan harus ditakutin lagi. Sekarang kami sudah buat film komedi-horor empat kali. Sudah hafal polanya harus bagaimana. Pokoknya cerita ada di kepala sutradara. [Tertawa]
Kamera dan Gambar
FI: Selama ini syuting pakai kamera apa?
N: Canon 5D dan 7D. Mungkin sudah sekitar 30 film lebih. Dua tahun lalu, pas orang-orang pakai kamera ini buat foto, saya sudah pakai buat syuting. [Tertawa]
FI: Kenapa pakai kamera itu?
N: Karena gambar yang dihasilkan. Banyak pilihan kualitas gambar yang bisa kita pakai: dari yang standar sampai yang high definition. Kalau buat film horor, bisa pakai gambar yang biasa. Kalau film drama, kami biasanya pakai resolusi yang lebih tinggi. Selain itu, kamera ini bukaannya luar biasa. Syuting cukup pakai dua lampu, cahayanya sudah dapat. Pas syuting Tarung malah tidak pakai lampu sama sekali, tetap dapat cahayanya. Padahal itu syuting di lorong kereta bawah tanah Hong Kong. Gelap.
Sebenarnya kamera ini tidak gampang dipakainya. Karena setiap kali kamera ini mati, setting-nya berubah. Namanya juga kamera foto, bukan kamera video. Setiap kali off, pas dinyalain lagi,setting-nya berubah. Diafragma berubah. Bahkan setelah setting-nya dikunci sekalipun. Ini yang sebenarnya orang sulit kontrol. Makanya banyak yang bilang pakai kamera ini susah. Saya sendiri awalnya kesulitan pas pakai kamera ini.
FI: Butuh berapa lama sampai akhirnya Anda terbiasa menggunakan kamera itu?
N: Setelah syuting dua film. Baru setelah itu saya biasa. Sejak itu saya tahu bagaimana mengatur cahayanya. Bagaimana mengatur resolusi gambarnya, sehingga pas saya blow up gambarnya tidak flat seperti sinetron. Udah terlihat film. Soalnya, kalau syuting kamera selalu statis. Tidak gerak ke mana-mana. Diam di satu tempat, ganti adegan, baru kameranya dipindah.
FI: Tapi film-film Anda banyak sekali menggunakan gerak kamera.
N: Nah, untuk yang bergerak-gerak itu saya buat pas post-production. Misalnya mau buat efek kamera handheld, saya goyang-goyang saja gambarnya pas editing. Zoom in sekalipun saya buat waktu editing. Resolusi gambar yang dihasilkan sudah sangat bagus, jadi kalau mau diapa-apain gambarnya tidak bakal rusak. Masih bisa buat pemutaran layar lebar. (Nayato menjelaskan juga bagaimana dia "mengakali" sistem fokus kamera fotografi yang enteng itu dengan menambahkan sebuah alat lain agar stabil sewaktu pengambilan gambar.)
FI: Kenapa tidak pakai kamera video Alexa umpamanya?
N: Saya pakai kamera video juga (ia menunjuk kamera video profesional yang selalu berada di samping juru kamera). Tapi, untuk behind the scene (tertawa), dan untuk pengambilan suara. Susahnya, kalau saya ganti kamera, saya harus mengubah seluruh sistem peralatan dan alur kerja yang sekarang saya pakai.
Awal Karier, I-Sinema, dan Ekskul
FI: Awalnya Anda belajar film dari mana?
N: Di Taiwan. Saya belajar teknis film di sana.
FI: Berapa lama di Taiwan?
N: Delapan belas tahun.
FI: Waktu itu formalnya belajar apa?
N: Artistik. Kamera saya belajar sendiri. Guru saya orang film banget. Dia dulunya artistik, terus jadi sutradara. Terus lama-lama mulai ikut produksi sana-sini. Semuanya saya coba. Dari pegang kabel sampai pegang kamera. Saya coba semua. Terus balik ke Indonesia, saya buat iklan. Pas pegang kamera, saya bosan diomelin sutradara terus. Akhirnya saya jadi sutradara, supaya bisaomelin orang. [Tertawa] Saya sebenarnya tidak terlalu suka jadi sutradara.
FI: Kenapa?
N: Saya punya masalah komunikasi. Saya agak sulit bicara sama orang sebenarnya. Kalau bicara, bawaannya ketus terus. [Tertawa] Bicara sama produser saja seringnya lewat telepon. Untungnya saya punya tim. Saya punya teman-teman yang sudah paham betul apa yang saya mau. Mereka sudah terlatih. Saya yang melatih mereka. Buktinya syuting Tarung cuma tiga orang. Jadi tuh film. [Tertawa] Tapi saya yang pegang kendali. Karena saya yang tahu dari A sampai Z. Saya yang tahu konsep cerita. Saya yang bicara sama produser. Jadi saya yang pegang kendali. Mereka ikut saja. Kesannya saya seperti diktator. Tapi kalau tidak begitu, tidak jalan. Toh, dengan sistem seperti ini, teman-teman saya juga bisa hidup, bisa makan.
FI: Proses produksi film Tarung sendiri bagaimana?
N: Film itu no-budget production. Sudah bukan lagi low-budget, tapi no-budget. Karena memang buatnya hampir tidak pakai duit. [Tertawa] Kami produksi di sela-sela kerja kami yang begini. Setahun kami kerja seperti itu.
FI: Syutingnya di mana?
N: Beberapa syuting di Bogor. Beberapa di jalur kereta bawah tanah di Hong Kong. Di Hong Kong, syuting tidak pakai izin. Gerilya banget syutingnya. Orang Hong Kong saja tidak berani syuting di situ. [Tertawa] Kru cuma tiga orang, termasuk saya. Satu bawa kamera, satu bawa harddisk sama laptop. Tidak pakai lampu. Semua alat dimasukkin ke ransel. Jadi bisa langsung lari kalau dikejar polisi. Kami beberapa kali pindah stasiun kereta karena ketahuan polisi. [Tertawa] Tidak pakai figuran. Pakai saja orang-orang yang lewat. Kami buat sendiri. Soalnya kami tidak punya teman. Kami tidak bergaul sama filmmaker Jakarta Selatan itu. Kami kan filmmaker Bogor Tengah. [Tertawa] Dulu rasanya pengen banget bergaul sama filmmaker. Tapi kami tidak diterima. Ya sudahlah. Di sini saja. [Tertawa]
FI: Bukankah Anda pernah terlibat dalam I-Sinema?
N: Dulu. Iya pernah.
FI: Dulu bagaimana di I-Sinema? Targetnya seperti apa?
N: Oh, dulu itu idenya bagus banget. Saya waktu itu kerja di iklan. Rizal [Mantovani] bikin video klip. Ada Riri [Riza]. Ada Mira [Lesmana] juga yang pengen bikin film. Akhirnya Nan (Achnas) bikin kan: Bendera. Riri bikin
Eliana, Eliana. Saya mau buat film komedi, judulnya Jakarta. Tapi tidak jadi. Saya akhirnya bikin satu film televisi. Judulnya Atas Nama Cinta.
FI: Waktu itu I-Sinema sebagai sebuah gerakan maunya ke arah mana? Alternatif produksi?
N: Waktu itu belum ada produksi film di Indonesia. Jadi dibilang alternatif juga tidak bisa.
FI: Jadi, gerakan estetik?
N: Maunya seperti itu. Idenya dari Mira. Idenya bagus banget. Tidak mau diatur produser. Tidak mau diatur 21. Tidak mau diatur lembaga sensor. Tapi akhirnya kesibukan masing-masing bikin semua itu tidak kesampaian. Lucunya, sebelum bikin film, kami sudah press conference. Saking percaya dirinya. Lucu, orang biasanya bikin dulu baru ngomong. Ini terbalik.
FI: Kenapa sekarang I-Sinema tidak ada jejaknya?
N: Memang tidak ada jejaknya. Tidak penting juga. Gaya-gayaan saja. Harusnya kita seperti Korea. Di sana erat banget. Hubungan antarindividunya kuat banget. Mereka bisa sampai sehebat itu, karena mereka kompak banget. Beda sama di sini. Pola pikir kita itu bagaimana ya, harus diubah mungkin. Di sini terlalu banyak hantam-hantaman.
FI: Kalau boleh tahu, dulu kasus Ekskul bagaimana?
N: Ekskul itu awalnya tidak selebar itu kasusnya. Itu bukan film penting. Mendadak jadi penting, seakan-akan jadi hidup-mati perfilman Indonesia. Cuma itu saja. Kebetulan waktu itu ada musuh bersama. Ekskul jadi kena kepentingan-kepentingan politik itu. Akhirnya toh tidak ada perubahan juga. Hasilnya apa? Sensor juga sama saja sekarang.
FI: Waktu itu tuduhannya, Anda mengambil musik orang tanpa mencantumkan sumbernya...
N: Memang, saya pakai musik orang. Tapi waktu itu mengambil musik itu sering banget terjadi.Ekskul itu aslinya film kecil. Bukan film yang diniatkan untuk ikut festival. Itu film yang kami mau putar di sekolah-sekolah. Idealnya begitu. Itu film kecil. Waktu itu Eka Sitorus bikin pementasanBang Bang You’re Dead, terus kami kepikiran, “Yuk, syuting yuk, bikin film.” Pas editing, saya pikir, “Ah, film kecil ini. Film buat ditonton ramai-ramai.” Jadilah saya pakai musik orang. Toh, memang niatnya buat film kecil. Tahu-tahu ikut festival. Bukan saya yang masukkan film itu.
Ekskul sudah beredar enam bulan sebelum festival. Tidak laku malah. Ada yang ribut nggak? Tidak ada. Tahu-tahu masuk festival. Di situ saya sudah bingung. Saya tidak mengerti penilaiannya bagaimana. Kok bisa menang? Terus kok malah ribut? Berentet begitu. Efeknya terasa sampai sekarang. Dari situ saya belajar banyak. Saya tak mau gara-gara itu berhenti bikin film. Masa kami berhenti film karena kasus itu. Tidak juga kan. Kami tetap buat film. Caranya ya seperti ini.
gw cuman isa bayangin rumus klo lg liat film lokal yg geje sambil bawa daftar ceklist untuk point2 d atas ;D
nayato itu udah pernah nonton pilemnya sendiri gak sih ;D
gak perlu bawa checklist kok, semuanya selalu hadir. Nayato jd sutradara yg filmnya paling banyak sy tonton lho. Bahkan film2nya Woody Allen aja, dari 40-an filmnya, paling cuma 30-an yg udah saya tonton ;D
btw,,baru ngeh,,banyak yang nge view,, keren banget niii tread,, berarti banyak yang pengen tahuu::hihi::
Impian Ke Depan
FI: Dalam film-film Anda, kami lihat ada sejumlah poster film “seni”, yang dalam konteks film Anda jadi terkesan mencolok. Ada poster Breathless dan Blow-Up di Ekskul, My Blueberry Nights diVirgin 2, Amelie di Cinta Pertama dan Gaby dan Lagunya. Poster Blow Up juga muncul diKepergok Pocong. Apakah itu film-film favorit Anda?
N: Oh, iya. Saya suka banget Breathless. Blow Up juga. Itu filmnya [Michelangelo] Antonioni kan? Iya, saya suka banget film-film dia. Sebenarnya poster-poster itu bisa ada di film, karena itu ada yang di rumah. Diambil sama art director buat dipasang dalam film, buat jadi pajangan. Sialnya, poster film saya cuma adanya itu, jadi berulang kali bikin film, pakainya poster-poster itu saja. [Tertawa]
FI: Dengan referensi film-film Anda, yang jujur saja berbobot, apakah ada satu film ideal yang Anda ingin buat?
N: Jelas. Saya mau buat film-film seperti sutradara-sutradara besar itu. Tapi saya mellihat film seperti bacaan. Ada majalah hiburan, ada koran. Jalur saya ya film-film hiburan. [Tertawa] Saya sebenarnya penonton film serius. Tapi siapa yang bisa bikin film seperti itu di sini. Tidak realistis. Sebenarnya ada yang bisa seperti itu di sini. Garin Nugroho contohnya. Bahagia betul orang seperti itu. Dia bisa konsisten di jalurnya. Saya bukannya tidak bahagia. Tapi saya masih mau hidup senang, makan enak. Garin juga bisa hidup senang, makan enak. Tapi untuk mencapai posisi itu kan tidak gampang. Ada istilah “sinema popcorn”. Kalau saya “sinema instan”. Seperti buat mie, tinggal seduh, makan enak, selesai. [Tertawa]
FI: Tapi Anda masih berniat film yang Anda ingin buat, film yang bukan karena tuntutan kerja?
N: Mau. Mau banget. Pakai duit sendiri, mikir-mikir. Saya tidak mau buat film yang tidak laku. Idealnya, film artistik tapi laku. Tapi itu kan susah. Hanung Bramantyo yang bisa seperti itu. Saya selalu nonton film-filmnya dia. Saya suka. Saya mau seperti Zhang Yimou, tapi tidak mungkin. [Tertawa] Mungkin karena lingkungannya beda. Zhang Yimou besarnya di teater. Saya besarnya di Glodok, nontonnya DVD bajakan. Di Taiwan juga saya nongkrongnya sama yang pop-pop. Yang buat film gaya MTV. Saya lagi nunggu film Tree of Life, yang diperankan Brad Pitt itu. Nah, sayakaget juga pas dengar Tree of Life bakal masuk Indonesia. Pikir saya, “Keren juga nih.” Mending daripada nonton Transformers yang tidak jelas itu. Setengah jam nonton Transformers saya keluar. Pusing saya nontonnya. Harry Potter okelah. Tapi Transformers itu nggak deh. Saya sebenarnya tidak suka film-film seperti itu.
Tapi terus terang saya bukan orang yang suka bikin film. Saya sukanya nonton. Di rumah saya punya banyak koleksi film. Di setiap ruangan saya pasang LCD buat nonton film. Total ada enam televisi di rumah. Jadi di rumah saya bisa nonton di mana saja. Saya sebenarnya buat film untuk nonton film. Selesai syuting, saya pulang, saya nonton. Memang seringnya apa yang saya buat bukan yang saya mau, tapi tetap harus dijalanin. Tidak enak memang, tapi kalau tidak sayajalanin, saya makan apa.
FI: Kira-kira seperti apa satu film itu yang Anda mau buat?
N: Seperti film yang menang Cannes itu. Judulnya 4 Months, 3 Weeks, 2 Days. Film Romania tahun 2010. Saya pengen banget film seperti itu. Sudah pernah ada rencana sebenarnya. Saya sudah kumpulin teman-teman, sudah kumpulin pemain. Pas mau jalan, pemainnya diambil buat proyek lain. Pas mau minta dia buat main di proyek itu, harganya naik. Nggak jadi deh.
Secara teknis saya yakin dengan kemampuan saya. Pernah nonton film Monsters? Itu film Inggris.Box office. Yang buat namanya Gareth Edwards. Tentang satu kota yang dihabisin. Drama cinta. Sutradaranya sendirian. Produser dua orang, sama pemain dua orang. Dia pakai kamera yang sama kayak kami. Saya malah pakai kamera itu buat behind the scene. Syuting tanpa skenario selama dua bulan. Dia bikin filmnya sendiri. Dia sendiri saja bisa buat film, masa kami yang 20 orang tidak bisa. Akhirnya balik ke kami sendiri juga. Ada niat, ada kamera, ada peralatan. Tinggal tunggu kesempatan.
FI: Apakah Anda pernah merasa lelah membuat film-film yang Anda buat selama ini?
N: Lelah tidak. Jenuh iya. Jenuh banget. Seperti yang saya bilang tadi, saya kejar durasi. Setiap hari harus jadi 15 menit. Karena itu kami jalan seperti ini. Sama teman-teman. Saling membantu. Walau di lapangan ada yang pegang lighting, ada yang pegang kamera, buat saya mereka sudah seperti asisten sutradara. Itu juga yang kadang bikin saya terganggu. Karena kadang setiap satu film jadi, orang kami ada yang diambil orang. Bukan artinya kami yang paling bagus. Bukan. Tapi kesannya ini jadi seperti batu loncatan saja. Saya jujur agak repot kalau harus mengajari orang baru. Saya tidak cari orang pintar. Saya cari orang yang bisa diajak kerja sama. Bodoh tak apa, yang penting bisa kerja sama.
Begitu juga saya kerja sama produser selama ini. Saya maunya kerja sama produser yang bisa diajak kerja sama, sama produser yang sudah jadi. Mereka kasih duit, kami buat film. Mau filmnya hasilnya bagaimana, itu tanggung jawab saya. Saya juga sebaliknya nggak bohongin mereka.Nggak bikin mereka susah. Yang penting pekerjaan selesai. Jadwal oke, angka oke, kita jalan. Buktinya saya bisa hubungan sama [Chand] Parwez selama sepuluh tahun. Sekali lagi, kami bukan yang paling bagus. Buat saya, film kami tidak ada yang bagus. Tapi kami opsi yang paling aman. Produser percaya sama kami karena kerja kami cepat dan tepat waktu. Karena itu kami bisa buat banyak film setahun.
FI: Dengan sistem kerja Anda seperti ini, kapan kira-kira Anda akan punya waktu untuk buat film yang Anda mau?
N: Nah, itu dia. Saya tidak bisa berhenti. Padahal saya mau. Ini contohnya mau masuk bulan puasa, harusnya kan saya lebih santai, lebih tenang. Karena nggak mungkin buat film horor dekat bulan puasa. Kerja bisa lebih santai. Kami bisa ngobrolin film yang mau kami buat seperti apa. Bisa bikin rencana. Tahu-tahu datang produser. Bawa duit pula. Ya sudahlah. Langsung hijau mata saya. [Tertawa] Saya bisa nahan, tapi kalau ada duit cash di meja, pikir saya, “Kenapa tidak ini dulu? Yang lain nanti saja.” Masa orang di luar sana susah-susah cari duit, saya ditawarin duit di meja malah saya tolak. Saya langsung khilaf. [Tertawa]
Pewawancara
Adrian Jonathan Pasaribu
Pengurus harian CinemaPoetica.com. Programmer Kinoki dari tahun 2007 sampai 2010. Penonton film dari kecil sampai sekarang.
Arie Kartikasari
Lulusan sekolah film dengan minat utama Produksi. Pernah mengajar produksi film dan pengenalan audio visual di beberapa lembaga pendidikan dan SMU. Pernah menjadi kru dalam beberapa produksi film.
yang gw baca dari sekilas wawancara si nayato ini adalah, dia ga punya niatan sama sekali bikin pilem bagus, dia pengen bikin pilem bagus, sayang mawnya dia yang serba instan, dan bisa langsung masuk box office.
dan kalo dicrosscheck dr pengalaman rumus ttg pilemnya, jelas si nayato ini ga punya sense bikin pilem sama sekali, bikin poster pilem kok berdasarkan poster yang dipajang di rumah, yang namanya bikin poster pilem ya dari isi pilemnya ::doh::
nayato bandingin sama sutradara Monster yang bikin pilem minim kru, lah itu krunya bikin pilemnya pake hati bukan pake mata ijo kayak kru nayato.
nayato ini tipe yang bikin pilem serius aja jelek (gw pernah liat sekilas yg ekskul), makanya bikin pilem kacangan aja.
boleh sebuTkan gak? Nama2 film nayato. Siapa tau aku pernah ntn,dan pgn nonton (kalau bagus;D)
Sebagai Nayato Fio Nuala
The Soul (2002)
Ekskul (2006)
Cinta Pertama (2006)
Kangen (2007)
The Butterfly (2007)
Kereta Hantu Manggarai (2008)
Hantu Perawan Jeruk Purut (2008)
Kuntilanak Kamar Mayat (2009)
Virgin 2: Bukan Film Porno (2009)
Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets (2009)
18+ (2010)
Kain Kafan Perawan (2010)
Affair (2010)
Belum Cukup Umur (2010)
Akibat Pergaulan Bebas (2010)
Not For Sale (2010)
Nakalnya Anak Muda (2010)
Pocong Jumat Kliwon (2010)
Pengantin Pantai Biru (2010)
Gaby dan Lagunya (2010)
Heart 2 Heart (2010)
ocong Ngesot (2011)
Virgin 3: Satu Malam Mengubah Segalanya (2011)
Kuntilanak Kesurupan (2011)
Kepergok Pocong (2011)
Tarung: City of The Darkness (2011)
My Last Love (2012)
Seandainya (2012)
3 Pocong Idiot (2012)
Sebagai Koya Pagayo
Ada Hantu di Sekolah (2004)
Panggil Namaku Tiga Kali (2005)
12:00 am (film) (2005)
Hantu Jeruk Purut (2006)
Lewat Tengah Malam (2007)
Malam Jumat Kliwon (2007)
Hantu Ambulance (2008)
Hantu Jamu Gendong (2008)
Jeritan Kuntilanak (2009)
Te(Rekam) (2010)
Pocong Rumah Angker (2010)
Kalung Jailangkung (2011)
Pelet Kuntilanak (2011)
Keranda Kuntilanak (2011)
Santet Kuntilanak (2012)
Kuntilanak-Kuntilanak (2012)
Bangkit dari Kubur (2012)
Sebagai Ian Jacobs
Sarang Kuntilanak (2008)
Merem Melek (2008)
Kuntilanak Beranak (2009)
Pocong Kamar Sebelah (2009)
Pocong Jalan Blora (2009)
Sebagai Pingkan Utari
Me vs High Heels (2005)
Gotcha (2006)
Pocong Kesetanan (2011)
Kok yg sebagai chiska doppert ga ada ;D
Mus mus.... Review pilem Tarung: city of darkness donk.... Dr judulnya kok ga biasa ya? ;D
ah ada 4 filmnya yg aku tontn, me en high heels (lucu,aku suka) kangen(aneh,ga sampe hbs), gaby dan lagunya (film ngasal,wtf,aku nyesel ntn,huks) ada hantu disekolah(ni pilemnya rapi ahmad ya? Kalau iya aku pernah ntn,sedih,bgs,bikin mewek ni filmnya. Lebihnya gak pernah ntn, judulnya aneh;D,yg lain ada yg ntn? Btw makasih dah dilist khan pilemnya^^
lah kalo begitu ini apah? ;D
tapi biarpun si chiska bukan nayato, dari artikel di atas, bau2nya sealiran sama si nayato juga, bikin pilem 100% karena duid :ngopi:Quote:
Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film: 25 film atas nama Nayato, 15 film Koya Pagayo, 5 film Ian Jacobs, 3 film Chiska Doppert, dan 2 film Pingkan Utari.
wtf... hasil wawancaranya bikin speechless ::grr::
- - - Updated - - -
wtf... hasil wawancaranya bikin speechless ::grr::
gw penasaran muka orang retarded macam Nayato ni kaya gimana
::grrr::
Your wish is granted [meditasi]
http://ceritamu.com/cmspages/getfile...600&height=400
http://pakde.com/nayato.jpg
What the? :sembur: Nha bisa juga ngomong wtf ::hihi::
Pasti Nha udah nyesel bin nyesek banget nonton pilem inih
;D xixi.. Khan udah baca treadnya om surya yg dlu,jd tw wtf itu apa:)), bener tu film,kaga nyambung, aneh,maksa sedunia,sama parahnya dgn film banyu biru :iam dead: