Saya ndak tau pasti. Dan saya ndak sedang berasumsi. Silahken tanya langsung aja ke ybs.
***
Penjelasan? Dari awal saya dah kasih melalui contoh ilustrasi kasus "orang kesandung batu". Saya bertanya sesuatu ("mana yng lebih dulu...") bukan tanpa adanya penjelasan. Kenapa penjelasannya HARUS per definisi?
Oke singkat saja. "Percaya" disifatkan sebagai "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". (Lain kali saya akan elaborasi/jelaskan lebih rinci.)
Maksud saya, diterima tanpa menuntut bukti. Saya sekedar mengikuti definisi anda sendiri. Dan ini adalah bukti bahwa saya percaya dengan pernyataan (berbentuk definisi) sampeyan.
Ataukah saya harus membuat definisi sendiri yg pokoke harus beda ndak boleh sama dengan definisi yang disodorkan oleh pihak lain begitu? Emangnye ane ente!
Secara implisit saya juga dah nangkep dari posting2 sampeyan sebelumnya. Dan saya juga sudah kasih jawaban sebelumnya: Tergantung.
Kok malah ngasih bocoran jawaban? Ok, berdasarkan premis tsb maka...
...jawabnya: Tergantung. Mudah kan?
***
Anyway, dari contoh kasus "si Mamat" plus pernyataan terakhir sampeyan berikut ini:
Bagi saya itu udah cukup untuk justifikasi saya sebagai (orang yang mengaku) agnostic-theist, ato ada yang menyebutnya dgn istilah theistic-agnostic.
Dan itu sudah sangat eksplisit menjawab persoalan yang dilontarkan oleh TS dalam topik ini, kecuali masih ada yang ingin menyanggah hal tsb.
:ngopi:
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)
