Kalau Alip melamun hasilnya pemikiran yang dalam.
Kalau mbok melamun hasilnya koq molor thok ::doh::
Printable View
Kalau Alip melamun hasilnya pemikiran yang dalam.
Kalau mbok melamun hasilnya koq molor thok ::doh::
kenapa harus baca buku yang jelas2 berasal dari otak orang lain yg tidak mengerti siapa diri kita untuk menemukan hakikat diri?
Karena tidak ada penulis yang mengerti siapa kita, Cheek... jika premisnya adalah hanya membaca buku yang ditulis oleh orang yang mengerti siapa kita, maka kita tidak akan pernah membaca buku apapun kecuali buku yang kita tulis sendiri....
...proses belajar selalu berupa kegiatan aktif, yaitu ketika kita menerjemahkan apapun yang ada -termasuk buku- ke dalam dunia pemikiran kita sendiri, tanpa itu kita bukanlah pelajar, tapi hanya penghapal.
ini maksudnya buku self help yang ingin membimbing orang itu ya? :cengir:
for the longest time, saya dengan sadar dan dengan sengaja menghindari buku2 seperti filsafat ato buku self-help untuk menghindari "pengaruh" pemikiran orang laen atas suatu hal yang kurasa harus kutemukan sendiri. although, dalam 1-2 taon belakangan ini saya melakukan pengecualian :cengir:
Menghindari buku untuk menghindari pengaruh pemikiran orang lain, di satu sisi malah aktif ngeforum.
::hihi::
buku filsafat dan buku self help kan biasanya sangat 'sistematis'
bertukar pikiran sih ga papa :cengir:
tapi skarang ngga menghindari lagi kok :cengir:
saya hampir sama kek ndugu kok, iya, baca2 buku gituan...
yg kebanyakan ga malah menolong tapi makin gaje aja...
kalo berdasar pelajaran yg saya ambil sih ya...
percaya instict aja, karena tiap manusia itu unik dan ga bisa dikategorikan ataupun dibukukan kejiwaannya :))
Demikianlah kalau buat saya semua pembelajaran itu adalah dialog internal dengan diri sendiri. Pada saat membaca buku, sesungguhnya kita sedang membaca dialog internal si penulis, yang memacu dialog juga dalam diri kita. Hasil akhirnya tidak mesti kita mendapat sesuatu dari buku itu, tapi kita telah melakukan lebih banyak pengenalan terhadap diri sendiri. soft knowledge, bukan hard science. Itulah makanya buku kesukaan saya biasanya berupa biografi, memoar, atau sejarah (yang kayaknya masih ada hubungan sodara :mrgreen:). Malah selected fiction juga bisa merupakan karya tulis yang sangat bermanfaat.
Misalnya, waktu dulu kuliah di ilkom di sebuah institut negeri di Bogor, saya belajar soal bilangan biner dan operasi boolean... lucunya, membaca buku itu jadi membuat saya membayangkan tentang multiverse dan perbandingan antara persepsi dan realita. Gak nyambung khan? ::elaugh:: Tapi itulah proses belajar. Yang penting adalah kita tidak menutup diri terhadap stimulus yang ada, baik berupa buku, obrolan dengan orang, atau kejadian sederhana yang kebetulan kita lihat. Siang tadi sebuah daun jatuh membuat saya berpikir tentang peranan individu dalam masyarakat... kayaknya dalam waktu dekat saya perlu konsultasi ke neurologist. :mrgreen:
Tapi enaknya dialog kayak gini memang interaksinya yang asyik... ::bye::
Mengenai self-help yang makin gaje, jujur saya setuju ribuan persen. Saya sekarang sedang bertanya-tanya, apakah Amerika (sebagai produsen buku self-help terbesar di dunia) sedang mengalami kesakitan psikis akut sehingga buku-buku semacam itu (banyak yang bikin eneg) banyak dicari orang? Itukah sebabnya muncul ulasan kritis yang saya pakai mengawali utasan ini?
^ ya... si Amer adalah org yg selalu ngerti saat org lain sedang berbohong, jika ditanya : "mengapa si Amer bisa ngerti kalo org lagi bohong"
mungkin aje si Amer adalah seorang legend...
self-reflection
um alip banyak merenung dan berpikir ya? beda tipis ama pengkhayal (ini muji lho. beneran)
kayaknya tiap orang memang beda ya. ada yang menjadikan pencarian hakikat diri ini menjadi penting, bahkan tanpa sadar tiap detik dan apapun yang dilakukan akan mengarah ke pencarian hakikat ini.
sedangkan yang lainnya, memaksakan diri memikirkan soal hakikat diri membawanya ke alam kasur (tunjuk diri sendiri)
Di amrik yg yg booming bukanya buku ttg meditasi ya?
::hihi::
yang saya tahu si tidak, Oom Sedge. Buku meditasi hanya menyumbang kurang dari 10% total self-help. Mungkin karena Oom Sedge lebih memperhatikan subyek itu, makanya jadi terlihat dominan.
Dari data yang saya pegang, genre self-help didominasi oleh
- positive psychology (self esteem, stress management dan teman-temannya),
- get rich scheme (how to be a millionaire tonight),
- professional career guidance
- general health and diet
Buku soal meditasi, philosphy dan spiritual well being pada umumnya, dikategorikan sebagai special interest dan masih tergolong niche market banget.
Saya dulu juga anti buku self help
karena saya pikir mereka toh tahu apa tentang saya.
Tapi belakangan saya berubah, saya nggak anti lagi.
Dan saya menemukan beberapa "pencerahan" dalam buku2 self help tersebut.
Tapi iya, seperti halnya kitab suci, buku self help juga memang tidak baik
ditelan mentah mentah. Harus disesuaikan dengan kebutuhan kita masing2.
Buku selfhelp yak? Kayaknya saya malah belum pernah beli yg begituan, kesan pertama saya isinya terlalu ber-tele2 shg paling2 kalo pas ke toko buku kadang suka lihat resumenya dibelakang aja atau kalo udah kebuka plastiknya ya baca aja lompat2 sekilas. Tapi kalo kemudian saya nilai isinya "berguna" ya saya akan giring seseorang ke tempat itu supaya mau beli dan baca soale daripada saya capek2 ngomong menjelaskan mendingan saya suruh baca langsung aja krn biasanya dia lebih percaya kalo baca dari buku dibandingkan saya yg cuma omdo. Dan seseorang itu adalah...bojoku. :cengir:
Kalo saya sendiri suka yg isinya padat-ringkas-komplit jadi satu paket seperti misalnya 'kumpulan kata2 mutiara/bijak' (cieeey...sok bijak n romantis ;D). Karena ringkas jadi isinya relatif umum, ndak bisa langsung ditelan, bisa multi interpretasi, tapi itu semua justru lebih memancing imajinasi saya untuk bebas mengembara ke-mana2. Ibaratnya, untuk satu buku, pengembaraan saya bisa sampe ratusan bahkan ribuan kilometer panjangnya, ngalor-ngidul, kadang lempeng kadang kejedot itu biasa. Kalo dilihat dari harga beli bukunya menjadi sangat cost effective, beli satu tapi dapat masukan seabreg.
Begitu juga dgn misalnya buku filsafat, saya lebih suka yg isinya umum dan rangkuman dari berbagai pandangan filsuf dlm satu buku. Lagi2 itu sangat cost effective. Kalo pun toh penasaran banget dgn salah satu pandangan barulah nyari yg lebih fokus tapi inipun sangat jarang dan kalopun iya lagi2 saya nyarinya yg sifatnya umum dr pandangan tsb. Tetap masih ada celah bagi imajinasi saya untuk berkelana. Saya memang paling ndak suka 'dicekoki'.
Demikian juga dgn genre buku yg lain, teknis maupun non teknis, selalu yg bersifat umum dan basic lalu kembangkan sendiri.
Akibatnya, kalo saya punya ide, pendapat, pandangan, dll saya sendiri seringnya malah gelagapan kalo ditanya referensinya krn memang sejatinya ya gado2, comot sana comot sini sampe lupa sumbernya.
Tapi ya itulah 'hakikat' diri saya, kalo bisa disebut demikian. Bukan diri orang lain. ::hihi::
:ngopi:
---------- Post Merged at 11:23 AM ----------
Oya satu lagi, saya "ndak suka" dgn apa yg disebut dgn 'spesialisasi'. Penginnya selalu bisa nyerap apa aja. Efek negatifnya adalah jadi ndak jelas, ndak fokus, angin2an ndak pernah tuntas pd bidang tertentu, alih2 prestasi bidang tertentu. ::arg!::
:ngopi:
Self-help yang tuntas kubaca cuma 7 Habits doang. Minjem pula ::elaugh::
Sekarang udah jadi 8 Habits belom sempat baca yang ke delapan apaan.
Ada si yang lain tapi enggak ingat apa isinya, yah...nggak memorable aja.
nanya donk, apa genre buku get rich scheme (how to be a millionaire tonight),professional career guidance, general health and diet itu semua populer di amrik? kok ke gramedia juga lagi populer2nya ya
tapi saya paling males baca yang get rich scheme (how to be a millionaire tonight). ;D mending jauhin deh, yg kaya gini isinya BS :))
daripada mbaca buku self-help. Mending baca novel spiritual macam Kimya Sang Putri Rumi.
Atau mbaca dalang-galau-ngetwit nya sujiwotejo
[meditasi]
::hihi::
kebanyakan mikir malah nggak akan ketemu2.....karena pikiranlah sebenarnya racunnya...:luck:
mencari Diri ya di dalam diri.....
eee... ada Kop satmata... reinkarnasi dari forum lama.... ::bye::
Terima kasih atas masukkannya, saya setuju bahwa mencari diri memang di dalam diri sendiri. Tapi pengalaman saya sih (belum tentu bener), menasihati orang lain untuk mencari di dalam diri sendiri sama seperti menasihati seorang yang belum pernah belajar piano untuk "mainkan Rachmaninoff's 2nd sonata pada B Flat minor, maka kamu akan menemukan hakikat seni musik sejati".
Karenanya pencarian diri sendiri sesungguhnya merupakan proses belajar bertahap yang wajar dan manusiawi, yang juga dilakukan melalui refleksi menggunakan alam di luar diri. Oom Sedge lebih suka membaca puisi spiritual atau sableng, karena itulah yang paling menyentuh kedalaman diri beliau, ndugu sangat peka terhadap fakta-fakta kehidupan di sekitarnya, karena baginya itulah sumber enlightenment, saya sangat suka ngelamun, karena saat itulah saya dimarahin istri... ::elaugh::;D
Setiap orang punya pendekatannya masing-masing...
btw, soal ngelamun,
istri saya agak ngeluh karena si kakak belakangan ini suka ngelamun, nah, semalem si kakak datang ke ibunya dengan pertanyaan; "Bu, kenapa aku bisa tahu aku?"
Tentu saja ibunya tanya balik, "maksudnyahhh?"
"Gini loh... aku kan bisa tahu kalau aku itu bisa mikir... kadang aku mikir ini itu... padahal temenku mikir yang lain... terus aku kok bisa punya perasaan, bisa ketawa, bisa sedih... terus aku kok bisa punya niat, bisa nggerakin tanganku sendiri, kalo laper aku tahu mesti jalan ke meja makan... trus aku mikirin namaku... aku ini siapa ya? kenapa aku bisa tahu kalo aku ada... kenapa aku bukan temen-temenku... aku coba bayangin aku nggak ada... tapi nggak bisa. Kok aku bisa begitu?"
Istri saya noleh ke saya dengan pandangan 'yang ini bukan dari gen gw... loe yang jawab!!!!':gebuk: