Quote:
Originally Posted by
ishaputra
Tidak hanya pakaian, begitu juga tata pergaulan dalam peradaban modern. Saya tidak bicara “seks bebas”, “perzinahan”, “narkoba”, “mabuk-mabukan” atau apapun yang oleh muslim fanatik secara keliru sering diasosiasikan dengan “kemodernan”. Saya bicara tata pergaulan modern yang wajar. Di mana laki-laki dan perempuan bisa berkumpul dan bergaul bersama dengan wajar, equal, bersentuhan dengan wajar (salaman, pelukan, dsb). Hal itu sesuatu yang natural dalam bersosialisasi, tetapi “haram” dalam nilai-nilai Islam yang konservatif.
Natural buat siapa? Kalo buat anda natural apa otomatis buat orang lain juga natural? Jangan memaksa orang lain memakai sepatumu, ukuran kita masing-masing beda.
Quote:
Di sinilah, pada muslim konservatif, terjadi ‘bentrok pikiran’. Melihat dinamika tata-nilai modern, mereka “pingin kayak begitu”, tapi tidak bisa, karena dibatasi oleh prinsip-prinsip dasar yang mereka yakini. Akhirnya timbul sikap “denial”, sikap menyatakan “tidak suka” terhadap kehidupan modern yang demikian untuk menutupi ketertarikan alamiah tersebut.
Sebenarnya mereka bukan tidak suka, tetapi iri. Mereka merasa “capek-capek” secara ketat mengamalkan ajaran agama, sementara orang-orang dengan enaknya menikmati hidup dengan bebas dan berwarna. Sekali lagi, mereka cuma iri.
Kalo sampe iri dengan kehidupan modern berarti belum masuk kategori konservatif tuh.
con·ser·va·tive (kn-sûrv-tv)
adj.
1. Favoring traditional views and values; tending to oppose change.
Quote:
Rasa iri tersebut terpendam, dan hanya “meluap” pada momentum-momentum tertentu. Misalnya ajang Miss World.
“Kecemburuan”, itu pangkalnya.
Sama seperti wong-wong cilik yang teriak-teriak anti kapitalisme. Pada dasarnya bukan soal kapitalisme itu baik apa buruk, tetapi kecemburuan sosial pada kaum “pemilik modal”. Andai wong- wong cilik yang menghujat kapitalisme itu kita kasih per-orang 100 juta, niscaya mereka bakalan diam, anteng. Mereka mulai buka usaha dengan modal yang diberikan, dan menjadi kaum “pemilik modal” yang sebelumnya mereka hujat.
Kata andai yang sangat berbahaya dalam sebuah argumen karena tidak perlu membuktikan benar tidaknya tau-tau jadi benar aja ::elaugh::. Siapa bisa membuktikan konsekuensi andai itulah yang akan terjadi? Mungkin saja dikasi modal 100 juta lalu masing2 beli senjata dan merampok si kapitalis untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
Quote:
Pada wong-wong cilik, mereka tidak anti terhadap kepemilikan modal. Mereka cuma tidak mampu menjadi pemilik modal. Pada muslim konservatif, mereka tidak anti terhadap tubuh perempuan. Mereka hanya tidak bisa melihat dan berhubungan dengan perempuan dengan bebas dan wajar, karena faktor larangan agama yang mereka yakini.
Kalau pada wong-wong cilik tersebut merupakan “kecemburuan sosial”, maka pada muslim konservatif adalah “kecemburuan nilai”.
Berdasarkan andai di atas ::elaugh::
Quote:
Sementara kelompok muslim yang agak moderat, mampu mensintesakan antara modernitas dengan dogma agama. Maka, muncullah, sebagai contoh saja, aneka “jilbab gaul” yang modis dan menarik. Atas jilbab, bawah jeans ketat. Dengan wangi parfum, make-up dan aksesoris cantik, mereka bersosialisasi secara normal.
Saya tidak memandang sintesa tersebut secara positif. Saya justru memandangnya secara sinis. Fenomena “jilbab gaul” yang beraneka warna dan trendy, itu seperti anda memasang kloset duduk tetapi dalam pemakaiannya tetap jongkok.
Anda kepingin menaruh sesuatu yang dianggap modern, tetapi tidak bisa meninggalkan “tradisi lama”. Akhirnya wagu: Klosetnya duduk, beraknya jongkok. Gaul, akrab dengan gadget, aktif di jejaring sosial, mengenakan aksesoris trendy, wangi dan sexy, tapi masih berjilbab yang merupakan nilai-nilai agama yang konservatif.
Jelas sekali anda menganggap bahwa semua muslimah dalam pandangan anda tidak boleh gaul, wangi dan trendi. Mana yang tentang (pria) muslim? *misogyny detected.
Quote:
Kelompok muslim/muslimah yang agak moderat seperti itu, biasanya tidak anti terhadap Miss World. Ini sisi positifnya. Karena mereka telah “melampiaskan” hasrat modernitasnya pada gaya berjilbab mereka, maka tingkat kecemburuannya terhadap modernitas kecil, bahkan tidak ada. []
Muslim yang tidak anti terhadap Miss World itu banyak alasannya. Berjilbab gaul adalah satu-satunya alasan yang TS bisa pakai sebagai justifikasi bahwa ada kompromi dari kecemburuan nilai. Jadi bukan misogyny ternyata tapi karena hanya itu celah untuk menyatakan bahwa muslim kalo modern itu pasti ada yang salah. Karena kalo nggak modern lebih gampang untuk bilang bahwa si konservatif menolak Miss World berdasarkan alasan kecemburuan nilai.
In sum:
Buat saya pribadi teori kecemburuan nilai berdasarkan pengandaian jatuhnya maksa. Asumsi yang tidak bisa dibuktikan tidaklah valid.
Lalu jilbaber gaul hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan komunitas muslim/muslimah modern, dianggap sebagai suatu kesalahan, eh ndilalah digeneralisasi menjadi semua muslim modern tidak anti dengan Miss World karena sudah terlampiaskan hasrat modernitasnya.
Yah, you only see what you want to see...