Lihat yg ditebalkan di atas. Ente bilang tuhan tidak bisa dianalogikan dgn manusia, tetapi ente sendiri diperintah oleh tuhan utk melakukan bla bla bla. Yg bisa memerintah 'kan manusia, bukan kuda ataupun pohon kaktus. Ente gak konsisten donk...
:))
Printable View
aku setuju dengan ini
begini mas Aslan, Tuhanku berkata padaku melalui AL-Kitab yang ku pegang...Quote:
Saya harap orang beragama disini jangan keburu curiga atau merasa tersindir karena Filsafat adalah proses mencari kebenaran, filsafat tidak mengklaim dirinya adalah kebenaran.
Jadi semua pikiran disini adalah proses yg boleh ditambahi, dikurangi atau dikoreksi.
"Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong."
Nah kan... Tuhanku memerintahkan padaku untuk takut dengan Neraka..
Namanya juga tuhan, maha ini, maha itu. Dia mau berbuat apa, ya suka2 dia.
Bagi tuhan, manusia adalah robot yg dikasih prosesor dan program. Sayangnya, program yg dibuat tuhan masih memiliki bug (maklum tuhan kerja sendirian), sehingga robot tsb tidak sepenuhnya di bawah kendali program tsb. Bug tsb adalah freewill atau kebebasan manusia utk memilih apa yg dihadapinya. Tuhan sadar ada bug tsb tetapi program sudah terlanjur di-launching di pasar dan bajakannya banyak di jual di glodok dan mangga dua. Sebagai gantinya tuhan membuat arahan-arahan dalam bentuk kitab yg harus dibaca dan dipelajari oleh robot tersebut agar tidak salah jalan akibat bug tsb. Sampe sini ok? Kemudian karena tuhan berencana mau ekspor robot2 tsb ke dunia berikutnya yg juga akan dibuatnya, maka bug tsb diperlakukan juga oleh tuhan sebagai alat seleksi utk robot yg bagus dan yg jelek. Yg bagus akan langsung diekspor ke negeri surga nanti, sedangkan yg jelek akan didaur ulang direbus di neraka.
:))
klo menurut gw, idealnya, manusia ya nyembah Tuhan karena Tuhan memang yang pantas disembah, dan manusia adalah ciptaanNya. statusnya udah kayak gitu. sama kayak misal, punya nyokap pemabok pun, anak harus tetep hormat sama nyokapnya. anak kalo nggak hormat sama nyokapnya ya salah, walaupun anak itu sendiri nggak merasa minta untuk dilahirkan. (ini analoginya cocoknya buat manusia yang merasa kalo Tuhan emang semena-mena tanpa ada alasan yang bagus)
jadi seandainya Tuhan nggak baik sama kita pun, mestinya kita tetep nyembah. tapi ya yang namanya manusia, pastilah ada sombong2nya dan memberontak2nya.. jadinya banyak yang nggak nyembah karena nggak merasa Tuhan baik sama dia atau sama dunia.
bahkan Tuhan baik pun, masih banyak yang nggak nyembah. kayaknya Tuhan emang tau sifat manusia, makanya sampe bikin sistem pahala dan dosa. udah pake sistem pahala dan dosa aja masih banyak yang nggak nyembah.
tapi gw pribadi sih yakin, kalo Tuhan ngasih gw masalah yang bener2 kayak ta*, tetep ada alasan bagusnya. Misal, supaya kita bisa bersabar, dan bersabar itu bagus untuk jiwa manusia. (ya mungkin bukan itu alesannya, tapi nanti ada alesan lain :)) )
iPhone 3G sama batu juga sama..
sama2 nggak bisa MMS, video recording, videocall, nggak punya memory card yang bisa diganti2.
Pernah nonton CSI ?
Dari tempat kejadian perkara, seorang penyelidik bisa menyelidiki bagaimana kejadian yg sebenarnya terjadi.
Dari manusia dan alam semesta, kita bisa memikir2kan bagaimana sebenarnya sifat sang pencipta.
Kalo memeikirkan sifat Tuhan, cukup melalui kalimatNya di Kitab Suci dan ajaran utusanNya um.. kalo lewat film itu seh hanya khayalan manusia.. :D
Bukan gitu. Pernyataan ente kontradiksi. Ente gak mau menganalogikan tuhan dengan manusia, tetapi ente tetap ngomong tuhan memerintahkan manusia. Kalo ente konsisten gak mau menganalogikan tuhan dengan manusia, maka ente gak bisa mengatakan apapun ttg tuhan. Tuhan2 dlm agama semit adalah tuhan2 personal, tuhan2 yg diceritakan seperti manusia, tuhan yg bisa membenci, yg berkuasa, yg mengasihi, yg menyayangi, yg memerintahkan, yg melarang, yg berkata2, dll.
:))
well, kalo di agama kristen, dibilang "Tuhan menciptakan manusia berdasarkan gambaran diri-Nya" kan?
kalo di islam yaa... asmaul huzna :)) ada yang sifatnya dimiliki manusia (walaupun nggak ada seujung kukunya) (misal, maha penghukum,, ya semua manusia bisa ngehukum orang,, paling banter sampe hukuman mati. tapi nggak ada manusia yang bisa menghukum orang dalam keabadian di dalem api yang panasnya jauh lebih panas dari api manapun di bumi ini), ada yang jauh dari manusia (misal, maha kekal)..
jadi nggak bisa dibilang Tuhan mirip manusia. ibaratnya kayak iPhone sama batu tadi.. walaupun ada "persamaan"nya, sama2 nggak bisa MMS atau videocall, cuma orang bodoh yang bilang iPhone itu mirip batu :))
Apa bedanya dgn "purba analog dengan babi"? Sama-sama bisa bilang *ngok ngok*, sama-sama kencing lewat kemaluan, sama-sama makan lewat mulut, sama-sama berak lewat anus, sama-sama melihat pake mata. Purba mau dianalogikan dgn babi?
Kalo aku, apapun alasannya gak mau dianalogikan dengan babi.
:malumalu:
Ga gitu.. masalahnya manusia mencoba utk memahami tuhannya dgn cara menganalogikan memiliki sifat2 spt manusia. Sama aja kek cerita2 fabel lambang kebijaksanaan adalah burung hantu, lambang kecerdikan itu kancil, ato anjing yg setia. Emang manusia selalu mencoba memanusiakan hal2 yg bukan manusia supaya bisa memahami. Manusia kan belajar agama dari kecil, maka perlu diberikan jembatan keledai utk membantunya mengerti konsep tuhan.
Filsafat punya sejarah memikirkan sifat2 Tuhan loh...
Socrates pernah memikirkan bahwa secara logika Tuhan itu pasti Esa, Tuhan pasti suci.
Itu sebabnya Socrates menentang kepercayaan dewa dewi Yunani.
Ente gak paham apa yg ane bilang (atau pura2 gak mau paham?). :))
Nih ane tegesin terakhir kali. Ente bilang gak mau menganalogikan tuhan dgn manusia, tetapi ente tetep bilang tuhan memerintahkan manusia. Nah kalimat 'tuhan memerintahkan manusia' menunjukkan ente sudah menganalogikan tuhan dengan manusia. Itulah kontradiksinya.
Sekarang ane ganti tuhan menjadi babi: =))
Ente bilang gak mau menganalogikan babi dgn manusia, tetapi ente tetep bilang babi memerintahkan manusia. Nah kalimat 'babi memerintahkan manusia' menunjukkan ente sudah menganalogikan babi dengan manusia.
Paham gak? :))
Sebenarnya gak sama antara fabel dan cerita ttg tuhan. Fabel adalah dunia hewan yg diceritakan seperti manusia. Ada alternatif lain, hewan juga bisa diceritakan tanpa seperti manusia, misalnya dlm biologi. Sedangkan tuhan, bahkan dalam teologi pun, tetap saja diceritakan seperti manusia, tidak ada alternatif lain.
:))
Babi makan pake mulut dan purba juga makan pake mulut. ------------------------- . Manusia bisa memerintah dan Tuhan bisa memerintah..
Jadi
Babi analog denga purba ------------------------------- Manusia analog dengan Tuhan
=)) =))
Purba mau dibilang analog dengan babi ya??
:))
Udah lah jangan berdebat masalah yg tidak sesuai topik.
Salam
wahai tetanggaku yang saya hormati
sungguh dari tiap-tiap GOLONGAN terdapat orang-orang yang mendapatkan petunjuk
tahukah siapa dia...??
yang selalu WASPADA terhadap dirinya sendiri
yang menghukum dirinya adalah dirinya sendiri
pilihan itu ada setelah kamu mampu MEMILIH dan mempertanggung jawabkan apa pilihan itu
bagai mana kamu menggunakan pilihan itu, bagaimana melakukan pilihan itu
jika kamu menganggap bahwa SATU TUHAN lah yang menurunkan semua AGAMA, mengapa kamu meremehkan PILIHAN orang itu
bukankah KEBEBASAN manusia untuk memilih dan setiap pilihan itu KAMU HARUS MEMPERTANGGANG JAWABKAN
TATAP MUKA LANGSUNG KEPADA TUHAN setelah kita semua meninggal,
titik inilah yaitu MENINGGAL maka KITA AKAN MENGETAHUI .....BENARKAH PILIHAN KITA ITU...??
setuju dengan analisa anda sejauh yang anda sampaikan. tapi dalam hal ini anda memahami tuhan yang menciptakan manusia. padahal jika anda memahami pikiran tentang Tritunggal. Wahdatul wujud, maka anda yang bukan apa2 karena tidak memiliki "kesadaran" sebagai aku yang ADA, maka wajar saja jika Ego anda setelah mai menjadi debu yang tak bermakna. Namun seperti kata einstain bahwa tidak ada energi yang hilang maka energi yang telah anda ciptakan di bumi ini akan di olah kembali, seperti usur karbon yang di pakai untuk proses pembakaran.
hukum kekekalan energi (energi tidak dapat dimusnahkan dan diciptakan tapi hanya berubah wujud) rasanya bukan Einstein yg bilang... ::ungg::
dan jika konsisten dg statemen ini, harusnya penciptaan gak ada, karena sebelumnya gak ada "energi" lalu menjadi ada.... :ninja:
---------- Post added at 02:55 PM ---------- Previous post was at 02:36 PM ----------
sebagai tambahan, seperti kasus ini, kisah "einstein membenarkan pernyataan bahwa hukum kekekalan energi membuktikan adanya kehidupan setelah mati" adalah sesuatu yang... omong kosong... Einstein tak menyatakan hal demikian. Pencatutan nama Einstein hanya sebuah manipulatif untuk menyokong argumen adanya "life after death". Einstein secara tegas menyatakan bahwa dia gak percaya pada kehidupan setelah kematian...
Quote:
I cannot conceive of a God who rewards and punishes his creatures, or has a will of the kind that we experience in ourselves. Neither can I nor would I want to conceive of an individual that survives his physical death; let feeble souls, from fear or absurd egoism, cherish such thoughts. I am satisfied with the mystery of the eternity of life and with the awareness and a glimpse of the marvelous structure of the existing world, together with the devoted striving to comprehend a portion, be it ever so tiny, of the Reason that manifests itself in nature.
- Albert Einstein, The World As I See It
Quote:
I cannot imagine a God who rewards and punishes the objects of his creation, whose purposes are modeled after our own -- a God, in short, who is but a reflection of human frailty. Neither can I believe that the individual survives the death of his body, although feeble souls harbor such thoughts through fear or ridiculous egotisms.
- Albert Einstein, obituary in New York Times, April 19, 1955
Quote:
I do not believe in immortality of the individual, and I consider ethics to be an exclusively human concern with no superhuman authority behind it.
- Albert Einstein, Albert Einstein: The Human Side, edited by Helen Dukas & Banesh Hoffman
Quote:
A man's ethical behavior should be based effectually on sympathy, education, and social ties and needs; no religious basis is necessary. Man would indeed be in a poor way if he had to be restrained by fear of punishment and hope of reward after death.
- Albert Einstein, "Religion and Science," New York Times Magazine, November 9, 1930
Quote:
If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed. The further the spiritual evolution of mankind advances, the more certain it seems to me that the path to genuine religiosity does not lie through the fear of life, and the fear of death, and blind faith, but through striving after rational knowledge.
Immortality? There are two kinds. The first lives in the imagination of the people, and is thus an illusion. There is a relative immortality which may conserve the memory of an individual for some generations. But there is only one true immortality, on a cosmic scale, and that is the immortality of the cosmos itself. There is no other.
- Albert Einstein, quoted in: All the Questions You Ever Wanted to Ask American Atheists, by Madalyn Murray O'Hair
Quote:
The mystical trend of our time, which shows itself particularly in the rampant growth of the so-called Theosophy and Spiritualism, is for me no more than a symptom of weakness and confusion. Since our inner experiences consist of reproductions, and combinations of sensory impressions, the concept of a soul without a body seem to me to be empty and devoid of meaning.
- Albert Einstein, letter of February 5, 1921
Sekali lagi, nama Einstein sering disalahgunakan secara membabibuta untuk membenarkan klaim dan opini pribadi ::doh::
Kita hidup melepaskan energi, energi yang kita lepaskan tidak akan pernah hilang bahkan ketika mati pun energi ini tidak hilang (menurut hukum kekekalan energi) tetapi berubah bentuk. Energi yang tidak pernah hilang ini mengambil bentuk yang disebut JIWA. Pada jiwa inilah TUhan melihat kita, bukan pada bentuk pisik. Apakah yang dimaksud dengan jiwa? Jiwa adalah kualitas kesadaran.
Ketika ente bilang energi adalah jiwa, maka jiwa adalah sesuatu yg fisik*. Tetapi ketika ente bilang jiwa adalah kualitas kesadaran, maka jiwa adalah sesuatu yg nonfisik. Gimane ente? :))
*Ente singgung Einstein. Ente tau kan rumus Einstein yg terkenal, E=Mc^2. M adalah massa yg berarti fisik. Karena E sama dengan (=) Mc^2, maka E (energi) adalah juga fisik.
Saran ane, kalo mo ngomongin tuhan, gak usah bawa-bawa terminologi fisika segala, makin jaka sembung nanti.
Jiwa adalah qualitas dari kesadaran, atau kesadaran adalah esensi dari jiwa. Kita tdak ngomongin Tuhan. Tuhan kata Nietze sudah mati. yang ada adalah Jiwa atau ruh.
---------- Post added at 11:23 AM ---------- Previous post was at 11:18 AM ----------
Energi yang kita lepaskan pada saat hidup mengambil bentuk menjadi JIWA. Apakah itu bentuk? sesuatu yang bersifat pisik dan menempati ruang. Jiwa yang merupakan perubahan bentuk dari energi pisik menjadi energi ruh tentunya bersipat ruhaniah. Memiliki dimensi yang berbeda dengan dimensi ruang waktu yang dapat kita pahami
hmmm... saat mati, energi yg terlepas adalah panas... itu sebbanya entropi semesta naik...
Jika kita melihat segitiga api, yang melahirkan energi. yaitu terdiri dari ; unsur Carbon, panas dan Oxygen. jadi sebelum ada api yang bersifat panas maka harus ada unsur panas untuk menciptakan api.Panas adalah energi dan energi sesungguhnya adalah Roh. (Hipotesa mistikisme)
panas = energi
energi = roh
jadi, panas adalah roh?
dan ngomong-ngomong, Fire triangle meski konsepnya sederhana, tapi gagal menjabarkan proses pembakaran. makanya direvisi ulang menjadi Fire Tetrahedron. dimana sisi keempat adalah proses rekasi kimia. saya tak pernah menemukan adanya keterlibatan roh dalam proses pembakaran :cengir:
nyawa dan kehidupan bukan bersifat fisik.
tapi nyawa dan kehidupan benar2 real dan tidak bisa disangkal keberadaannya.
sampai sekarang ilmuwan tidak bisa menjelaskan keberadaan "hidup" apa yg menyebabkan sekumpulan senyawa hidro karbon bisa hidup dan bagaimana menghidupkan sebuah senyawa, sebuah misteri yg belum terjawab oleh science, jadi sulit didiskusikan.
Sains bertopang pada naturalism metodologis yaitu mencari penjelasan alamiah mengenai dunia. Apabila jiwa ada, maka ia dapat diamati dan dijelaskan secara alamiah. Sekarang, apakah jiwa dapat diamati dengan indera atau sensor lain buatan manusia? Sampai sejauh ini tidak ditemukan adanya jiwa dalam tubuh manusia.
Sebagian besar pemahaman sains terhadap jiwa memandangnya sebagai kepribadian manusia yang merujuk pada pikiran atau kesadaran. Dengan definisi ulang ini, jiwa dilihat sebagai objek keyakinan manusia, atau konsep yang membentuk kognisi dan pemahaman dunia. Posisinya dapat ditunjuk, yaitu di otak, dan berbentuk sebagai pola-pola interaksi yang muncul dari interaksi manusia dengan alam menggunakan komponen indera, syaraf, dan otak. Dengan pemahaman ini, maka jiwa tidak dapat lepas dari tubuh karena ia dibentuk oleh keempat komponen tersebut. Ketika salah satu dari empat komponen tersebut tidak ada, jiwa tidak ada.
Sebagian memandang jiwa sebagai zat non materi. Dalam sains, alam semesta disusun oleh dua zat, yaitu materi dan gaya. Jika bukan materi, berarti gaya. Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda berubah gerakan. Ada empat gaya dasar di alam yaitu gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, gaya elektromagnetik, dan gaya gravitasi. Untuk dapat menjadikan jiwa sebagai gaya, maka dibutuhkan partikel pembawa gaya. Dengan kata lain, gaya hanya dapat ada jika ada partikelnya (bendanya) berdasarkan definisi. Tanpa benda, gaya tidak ada.
Jiwa sebagai gaya dapat bermakna ketika manusia memang digerakkan oleh jiwa atau yang disebut orang sebagai gaya hidup. Ketika manusia lenyap, kemana gaya tersebut? Bercerai berai bersama bercerainya jasad? Lalu apa bedanya antara jiwa manusia dengan jiwa batu? Kenapa batu tidak memiliki jiwa? Atau robot, robot dapat bergerak, apakah robot memiliki jiwa?
masa ilmuwan gak bisa bedain mana sel hidup dan mana sel mati ?
bukan ilmuwan yg gak bisa bedain mana sel hidup mana sel mati. tapi pihak tertentu yg gak bisa bedain mana energi mana gaya mana materi :mrgreen:
masalah energi dll silahkan kalian diskusikan sendiri, yg saya bicarakan adalah kehidupan sebagai suatu yang nyata, bisa diamati dan bisa dicatat.
apakah kehidupan diakui sebagai suatu yg nyata oleh ilmu pengetahuan? apakah kehidupan itu ? darimana datangnya kehidupan ?
Singkatnya sains mengatakan jiwa sebagai zat non materi tidak ada. Sebagai zat materi apa lagi. Bagi sains, konsep jiwa yang dipandang oleh manusia pada umumnya hanyalah suatu proses interaksi biokimia di dalam otak yang memunculkan kesadaran. Kesadaran sendiri adalah interaksi antara otak, syaraf, indera, dan lingkungan. Tanpa otak, tidak ada kesadaran. Tanpa syaraf, tidak ada kesadaran. Tanpa indera, tidak ada kesadaran, dan tanpa lingkungan juga tidak ada kesadaran. Usaha manusia untuk mereplikasi jiwa diwujudkan dalam pengembangan di bidang robotika dimana para ilmuan berusaha menciptakan mesin, molekul, atau program yang dapat bertindak sendiri
Om Aslan mengatakn bahwa kehidupan yg nyata, bisa diamati dan dicatat, apakah jiwa versi Aslan bisa diamati dan dicatat? :mrgreen:
In what sense?
Tidak salah bahwa nyawa dan kehidupan adalah real.
Tapi, terutama nyawa, dalam pengertian seperti apa?
Manusia memiliki nyawa, ok?
Apakah bakteri juga memiliki nyawa?
Apakah batu memiliki nyawa?
Ketika manusia dinyatakan mati, apakah itu berarti nyawanya telah lepas dari tubuhnya?
Jika ya, bagaimana dengan nyawa sel-sel penyusun tubuh manusia, apakah sudah lepas juga?
Ketika manusia tsb mati (nyawanya telah meregang dari tubuhnya),
apakah serta merta sel-sel tubuhnya juga mati (nyawanya telah meregang dari tubuh sel-sel tsb)?
:))
biar gampangnya begini, apa bedanya sel hidup dengan sel mati ? masa ilmuwan gak bisa membedakan kedua hal itu ?