Quote:
Pemikiran Ibnul Qayyim mengenai Hadits
Sebagai ulama ensiklopedis yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu, Ibnul Qayyim berpendapat tidak sembarangan, namun segala sesuatunya berdasarkan hasil ijtihad yang penuh ketelitian. Di lain pihak, sebagai penganut aliran salafi, pembelaan atas pendapat Ibn Taimiyyah sangat kental, dan pengaruhnya bisa dengan mudah ditemui di segala buku yang beliau tulis.
Ibnul Qayyim dikenal sebagai seorang muslim puritan yang teguh pendiriannya dalam mempertahankan kemurnian aqidah Islam. Guru yang paling berpengaruh dan banyak mewarnai pemikirannya adalah Ibnu Taimiyah, bahkan ia merupakan penyebar ide-ide gurunya tersebut. Misalnya penolakan Ibnu Taimiyah terhadap Mu‟tazilah dan Khawarij tentang penetapan sifat-sifat Tuhan dan bahwasanya nama-nama Tuhan bukanlah dzat Tuhan, yang mana kemudian pandangan ini menjadi pandangan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.[8] Meskipun demikian, tidak jarang ia berbeda pandangan dengan gurunya tersebut. Misalnya pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa perbuatan baik dan buruk dapat diketahui akal semata, sementara menurut Ibnu Taimiyah hal tersebut hanya diketahui berdasar wahyu.[9] Penafsiran secara aqli sangat banyak digunakan oleh Ibnul Qayyim, dan rasio penggunaan akal yang lebih banyak inilah yang membedakannya dengan Ibn Taimiyah. Walaupun beraliran teologi ala Asy’ariyyah sangat dipegang dengan erat, namun rasio tetap beliau gunakan, hal ini dapat dilihat dalam ra’yu yang senantiasa digunakan dalam tiap ijtihadnya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah adalah pengikut dan tokoh madzhab Hanbali sebagaimana gurunya Ibnu Taimiyah. Dalam kajian teologi Islam para pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal dikenal dengan nama kelompok salaf yang mana kebanyakan pemikiran teologinya cenderung tradisional sebagaimana kelompok Asy‟ariyah. Sebagaimana tokoh Salaf lainnya dalam menafsirkan sifat-sifat anthropomorphisme yang terdapat dalam al-Quran Ibnu Qayyim al-Jauziyah menetapkan sifat-sifat tersebut tanpa mentakwilkan dan menafsirkan dengan selain pengertian zahirnya, hal ini sebagaimana penafsirannya terhadap surat Thaha ayat 5[10] dimana menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah kata الاستواء (bersemayam) harus diartikan sesuai dengan zahirnya tanpa mentakwilkan dan menafsirkannya.[11] Hanya saja bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk Allah, demikian pula sifat-sifat arthropomorphisme lainnya. Allah Maha suci dari segala persamaan dengan makhluk-Nya (munazzahun ‘anil makhluqat).
Sejatinya, aliran hanabilah masuk dalam kategori mutakallimin yang dalam menyikapi hadits lebih memberatkan pada kritik matan hadits secara formal, namun Ibnul Qayyim menyimpang dalam hal ini dengan lebih menitikberatkan pada susbtansi, bukan formal. Maka beliau bisa dimasukkan dalam kalangan fuqaha, yang memahami hadits dengan pendekatan fikih. Epistimologinya adalah koherensi dengan ilmu-ilmu yang lain, dan beliau menggunakan ukuran sosio-historis.
Dalam mencari pemahaman hadits dalam masaah teologis, beliau cenderung memaknai secara tekstual. Bagi masalah lain, ada penggunaan pendapat salafus shalih dan analisa zhohir hadits, yaitu yang berkenaan dengan sanad dan matan hadits.
Beliau juga menolak penggunaan takwil yang berlebihan dan tanpa ilmu, dan juga menolak segala praktek keagamaan yang bidah. Semangat purifikasi yang ia dapatkan dari Ibn Taimiyyah sangat kental, kembali pada al-Quran dan hadits.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).
Ibnul Qayyim berpendapat bahwa hadis shahih adalah hadis yang memenuhi kriteria, 1) sanadnya bersambung; 2) para perawi hadisnya adalah orang-orang yang adil; 3) para perowinya adalah orang yang dlobith (cermat); 4) terbebas dari kontroversi; dan 5) tidak memiliki cacat. Kriteria ini sama dengan pendapat para ulama ahli hadits lain, seperti Ibn Shalah, Ibn Hajar al-’Asqalani, Jalaluddin as-Suyuthi, an-Nawawi dan ulama lainnya.
Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah juga memberikan kriteria kesahihan hadis dengan teori diametrikal (terbalik), yaitu hadits-hadits yang mengandung berbagai macam hal berikut, maka perlu dicurigai kesahihannya, bisa jadi itu adalah hadits dla’if (seperti pada kebanyakan hadits tentang shalat), ataupun bisa jadi itu adalah hadits maudlu’, jika dilihat dari matan hadits. Perangkat akal menjadi sangat vital peranannya menurut Ibnul Qayyim. Jika secara matan sudah dicurigai dloif, maka perawi-perawinya juga pasti ada yang bermasalah. Namun tidak begitu jika sanadnya dloif, tidak serta merta matan menjadi dloif juga. Berikut kritertia-kriteria hadits shahih yang bisa diketahui melalui matan hadits:[12]
a. Materi hadis tidak mengandung perkiraan-perkiraan yang tidak biasa dikemukakan oleh Nabi.
b. Materi hadis tidak bertentangan dengan penemuan empirik
c. Materi hadis tidak berupa pernyataan yang kotor dan keji
d. Materi hadis tidak bertentangan dengan materi sunnah yang jelas diyakini datang dari Nabi.
e. Materi hadis tidak berisi informasi yang menyatakan bahwa Rasul Muhammad saw. telah berbuat sesuatu dihadapan para sahabatnya, tetapi para sahabat sepakat untuk tidak meriwayatkannya.
f. Materi hadis tidak batal dengan sendirinya disebabkan tidak pantas disandarkan kepada Nabi.
g. Materi hadis harus layak disebut sebagai perkataan para Nabi, lebih-lebih layak disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. yang hakekatnya merupakan wahyu.
h. Materi hadis tidak mengisahkan cerita-cerita yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
i. Materi hadis tidak menyerupai pernyataan-pernyataan paramedis, dokter dan dukun.
j. Materi hadis tidak dengan sendirinya dibantah dan dibatalkan oleh argumentasi dan dalil-dalil yang sahih dan kuat .
k. Materi hadis tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
l. Materi hadis tidak dibatalkan oleh adanya indikator-indikator yang cukup jelas
m. Materi hadits tidak berisikan pernyataan-pernyataan yang mengada-ada tentang keutamaan makanan dan tempat tertentu.
Hal ini tentu sebuah terobosan pada zamannya, di mana kebanyakan ulama hadits berhenti pada analisa sanad an sich dan mengabaikan “kebenaran” matan. Sebenarnya matan hadits yang dla’if atau maudlu’ dalam perspektif Ibnul Qayyim sangat mudah diketahui. Dengan 13 kriteria di atas maka tiap pembaca hadits akan “curiga” pada hadits-hadits yang berisikan hal-hal yang tidak masuk akal, dengan pengetahuan yang sederhana saja, terlebih dengan pengetahuan yang mendalam atas sirah Nabi dan pengetahuan Nabi.