Ya jelas anda salah karena berangkat dari asumsi pribadi dgn tdk mau memandang konsep dlm agama Islam.
Printable View
Oke pake common sense lagi... :cengir:
Faktor apa yg mendasari hal tsb disebut berjudi?
Apakah krn adanya faktor 'siapa tahu'? Misalnya seandainya saya datangi di perempatan2 jalan tempat dimana para pecatur jalanan biasa bertaruh lalu saya ikutan nimbrung bermain. Meskipun saya tetap tidak berani mengatakan bahwa saya pasti menang, tapi secara rasional saya sangat2 yakin (bukan sekedar 'siapa tahu') untuk mendapatkan 'hadiah uang' iming2 dari para pecatur kelas jalanan tsb.
Apakah itu termasuk berjudi? Saya yakin dapat lho, bukan siapa tahu...
Ato krn faktor 'untung2an'? Misalnya seandainya saya samperin orang yg menggelar quiz catur di pinggir jalan lalu setelah berpikir sejenak dan tahu kunci jawabannya saya langsung pasang 1000 perak sambil merem dalam hati mengatakan pasti (bukan cuma 'untung2an') untuk mendapatkan sebungkus rokok 234.
Apakah itu judi? Saya bisa pastikan dapat lho, bukan untung2an...
Atau krn faktor 'taruhan'? Misalnya, ini bukan seandainya lagi tapi benar2 kenyataan, saya sudah 'bertaruh' uang relatif banyak untuk menyekolahkan anak2 saya dan berharap 'siapa tahu' (yg jelas bukan saya) mereka tumbuh menjadi orang yg baik dan pintar. Bagi saya hal itu adalah salah satu 'hadiah' terbesar dlm hidup saya. Dan saya akan merasa sangat 'beruntung' kalo hal itu sampai terwujud.
Apakah saya sedang berjudi? Saya sedang bertaruh untung2an siapa tahu lho...
Atau mungkin krn adanya faktor 'pamrih' ingin menang bertaruh (mendapatkan hadiah)? Misalnya, ini juga dulu waktu belum kerja pernah beberapa kali saya lakukan biasanya kalo tengah malem lagi suntuk kena serangan insomnia, saya keluar rumah ngider nyari orang yg sedang ngumpul main catur di pinggir jalan lalu saya nimbrung ikutan main lawan mereka dan tentu saja dgn taruhan uang (soale kalo ndak pake taruhan mainnya jadi kurang sungguh2). Saya ndak punya pamrih (tujuan) untuk menang taruhan apalagi boro2 untuk memperkaya diri. Saya hanya ingin bisa bermain catur sbg hobi sekaligus untuk menghilangkan suntuk saat itu. Kalo saya menang, dan itu yg selalu terjadi sepanjang yg saya alami soale lawannya memang cuman pecatur kelas jalanan, saya selalu kembalikan uang mereka. Disamping saya senang bisa menyalurkan hobi main catur, saya juga bisa menambah kawan baru krn jadi kenal baik dgn mereka. Tapi kalo cerita yg ini saya malah ndak ingin tanyakan apakah yg saya lakukan termasuk judi ato tidak. :cengir:
***
Btw bagaimana dgn orang yg beragama krn iming2 'hadiah surga'? Padahal kapan hadiah itu diundinya pun sifatnya masih 'untung2an siapa tahu' alias ndak jelas lho...
:ngopi:
Gak cuma iming iming surga, masih diperlukan intimidasi neraka supaya pada mau ibadah.
::hihi::
Judi itu dilarang agama karena menghasilkan dampak berupa efek candu. Elu kalah judi jadi penasaran, kalo menang juga sama penasarannya. Tentu saja selain hal itu ada hal lain knp judi itu haram antara lain karena uang hasil mennag judi banyak unsur membuat banyak pihak sakit hati.
Kembali ke pertanyaan ts, boleh gak? Selama ente gak nyandu, selama acara tsb tidak menimbulkan efek candu ya sah sah aja. Maksudnya acara berulang ulang dan peserta undiannya makin banyak dan makin kecanduan.
Jadi kalo judi tapi gak nyandu boleh dong? Kalo menurut ane boleh boleh aja.
^Setidaknya, menurutku, hasil judi itu lebih 'keren' kalo misalnya dibandingkan hasil nilep n korupsi...
Herannya, hampir semua koruptor yg ketangkep KPK bukannya pada nunduk kalo disorot kamera tapi masih bisa berjalan menengadahkan dada sambil pasang muka tebar senyuman. Apalagi 'si itu' tuh, senyumnya sambil dadah2 dah sok kayak seleb aja, bikin enegh aja liatnya...
Oops...sori salah fokus.
:ngopi:
Yang namanya judi (maysir) itu harus melibatkan 3 hal :
1. Adanya taruhan harta/materi yang berasal dari kedua pihak yang berjudi
2. Adanya suatu permainan yang digunakan untuk menentukan pemenang dan yang kalah
3. Pihak yang menang mengambil harta (sebagian/seluruhnya) yang menjadi taruhan, sedangkan pihak yang kalah kehilangan hartanya
Salah 1 hal tidak terpenuhi, maka BUKAN judi (maysir).
Dan hukum judi (maysir) MuTHLAQ haram, baik sedikit taruhannya atau banyak, baik ketagihan atau tidak. Sama seperti khamr, mau sedikit atau banyak, mabuk atau gak, tetap haram karena meminum/memakan yang diharamkan.
:D
Cekidot : http://mahir-al-hujjah.blogspot.com/...dalam.html?m=1