Originally Posted by
Alip
Kayaknya yang jadi masalah bukan ajaran surga neraka tapi lebih kepada ajaran 'I am hollier than thou'. Sebutlah seperti misalnya 'hanya kami-lah yang benar'.
Konsep ini lebih kuat dari 'hanya kami-lah yang akan masuk sorga' karena dalam perasaan kebenaran ada terkandung bahwa orang lain salah, sedangkan perasaan akan masuk sorga cuma terkandung implikasi bahwa dia akan mendapat hadiah atas kepercayaan dan perilakunya. Bahwa konsep surga akan berimplikasi bahwa orang lain masuk neraka, paling cuma akan menghasilkan pemikiran semacam 'itu memang resiko yang kamu ambil' dan tidak sampai ke wacana untuk menyalahkan apalagi sampai membantai pihak lain. Dalam kasus yang sehat bahkan adau kecenderungan untuk mengajak orang lain masuk surga dan menjauhi neraka.
Saya cenderung menyalahkan kasus kekerasan ini pada perilaku inferiority complex yang juga disebabkan oleh kurangnya kondisi.ekonomi. Orang yang merasa hidupnya kurang berhasil dan kurang bermakna akan sangat memerlukanu konsep 'aku benar dan kau salah' untuk membuat hidupnya terasa berarti. Bagi orang yang krisis identitasnya parah, dia bahkan lebih butuh kepada bagian 'kamu salah'-nya.
Nah, ketika orang semacam ini dihadapkan pada suatu pola pemikiran lain, dia akan berusaha mempertahankan ideologinya seolah-olah mempertahankan jiwanya. Karena jika ideologinya runtuh, terbukti salah, dia tidak punya apa-apa lagi untuk membuat hidupnya berarti.
Dalam kasus ringan ini tampil sebagai perilaku agresif dalam diskusi, tapi dalam kasus parah, bisa terjadi kasus seperti di Sampang, menghalalkan darah atas nama agama.
Karenanya saya percaya bahwa agama seharusnya bicara dulu soal perilaku/akhlak, bukan identitas atas posisi.
Sorry kalau banyak typo... Ini lagi belajar posting dari HP :-p