Untuk dicari.
Printable View
Untuk apa mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Kalau ketemu dan dapat penjelasan, maka bukankah Tuhan kemudian tidak tidak dapat dijelaskan? Tapi bukankah tadinya bersikeras bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan? Kalau dapat dideskripsikan, maka itu bukan Tuhan?
Bukan tidak boleh.. tetapi tidak dapat.
Membicarakan sesuatu yang tidak dapat dibicarakan.
Aneh..
Tuhan bukannya tidak terjelaskan. Bedakan tidak terjelaskan dengan belum terjelaskan secara memadai. Agama hadir sebagai pra-penjelasan tentang Tuhan tersebut. Anggap aja sebagai prolog sebuah buku. Isinya bagaimana?
Belum ada penjelasan lebih lanjut, sama seperti klaim ateis tentang alam semesta ini. Apa mereka (ateis) udah menjelaskan semuanya, sehingga sampai pada kesimpulan yang berani (gegabah dan terburu-buru) bahwa Tuhan itu tidak ada?
Oke lah.. Anda berpendapat begitu.
Tetapi pemula utas (TS) tampaknya tidak berpendapat demikian.
Saya kutip lagi kata-katanya di tulisan awalnya.
~adaGakYahOrangBunuhDiriKarenaPusingMenjelaskanTuh anQuote:
Ketika saya menjelaskan tentang apa dan bagaimana Tuhan itu, kok saya merasa itu bukan Tuhan ya? Tuhan kan seharusnya tidak terjelaskan ya?
Dan ketika saya mengatakan bahwa Tuhan tidak terjelaskan, itu juga saya telah menjelaskan Tuhan bukan?
Sebenarnya, pemahaman kalian menjelaskan itu kayak gimana ?
Kalau sekadar sebaris kalimat semacam Tuhan tak dapat dijelaskan,
hemat saya bukan menjelaskan Tuhan.
Tidak sekadar kalimat seperti itu, saya kira kita semua mafhum.
Nanti diskusi sekadar akrobat kata-kata.
Jadi setiap kata, konsep, persepsi harus disamakan dulu.
Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.
Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).
Gitu loh. :D
Bentar dulu, masih kurang ngerti apa yang dimaksud dengan “Pemaksaan”.
Misalnya Gw bilang, gini:
Kambing itu mammamlia. Kambing itu makan rumput. Kambing itu suka kawin (misalnya).
Apa itu salah satu bentuk “pemaksaan” yang dimaksud? Apakah di sini saya sudah mendikte kambing?
Jangan pake analogi ah, kok malah jadi lucu. ;))
Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.
Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?
Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan. ;))
Lah, kalu kita bilang harus adil, jadinya kan kita memaksa (mendikte) Tuhan tuh.
Kalau begitu, semua deskripsi tentang Tuhan bakal dicap “pemaksaan” kan? Termasuk yg ini juga :
Tuhan berbuat suka-suka? Ini juga sebuah pemaksaan. Bagaimana kalau suatu saat Tuhan memilih untuk tidak bertindak suka-suka?Quote:
Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.
Lantas, bagaimana kita bisa mendeskripsikan sesuatu tanpa disebut memaksakan kehendak / pengertian kita terhadap sesuatu tersebut?
Ini circular. :)
Menurut saya anda tidak memaksa tapi sedang mikirQuote:
danalingga
Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.
Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).
Jelas saja bahwa anda mau tak mau berurusan dengan tak terjelaskan dan terjelaskan-nya TUhan
Anda berangkat dari masalah itu sehingga timbul perasaan memaksakan kehendak
Jadi agar anda tentram tanpa merasa memaksakan kehendak adalah dengan memperoleh jawaban semacam :
1. Memang Tuhan tak terjelaskan kok atau
2. Memang Tuhan dapat dijelaskan kok
Persamaan Tuhan dan Lord Voldermort adalah kadang2 menimbulkan rasa gentarQuote:
Originally Posted by ndugu http://www.kopimaya.com/forum/images...post-right.png
seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan
dan mencekam ;D
Tuhan pasti adil, Maha Adil
hendaklah harus berpikir positif tentang Tuhan, karena Tuhan itu sebagaimana sangkaanmu
Benar,
suka-suka si Pencipta.
Tapi saya menolak mengakui dia Tuhan.
Menurut saya, sebuah sosok itu layak disebut Tuhan bila ia layak diabdi dan layak didukung. Jadi bukan sekedar 'menciptakan' atau 'punya kuasa'.
Jadi menurut saya, 'Tuhan' harus punya fungsi untuk manusia. Pilihan 'percaya pada Tuhan' harus punya manfaat pada manusia.
Ya.. sebut saja itu keegoisan saya sebagai manusia.
^ kalo ga ada feedbacknya ga percaya yah om;D
Nope.
Tanpa feedback dari sosok 'Tuhan' pun seseorang juga bisa 'percaya pada Tuhan'. Hanya saja aksi 'percaya pada Tuhan' itu haruslah punya efek pada perbuatan seseorang yang mengklaim 'percaya' itu.
Nah,
kalau 'Tuhan' itu beneran ada dan ternyata berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh si yang percaya, maka antara 'Tuhan' itu tidak diakui 'Tuhan' oleh si pemercaya atau si pemercaya harus mereevaluasi kembali konsepnya tentang Tuhan. Bila si pemercaya memilih yang terakhir, maka perilakunya pun juga akan berubah sesuai dengan konsep baru yang ia pilih, dengan asumsi ia masih hidup di dunia.
Bingung yah?
Perkataan seperti “Tuhan harus punya fungsi untuk manusia” lah yg dimaksud si danalingga sebagai pemaksaan bagaimana seharusnya (seorang? seekor? sebuah?) Tuhan bersikap.
Btw, baca postingan kop, jadi ingat nenek ane yang sering nasihatin gw musti begini, musti begitu. ::hihi::
Efek dan benefitnya sih pasti ada. Cuman, bisa sangat abstrak dan sangat, sangat, sangattt subkyektif. ::ungg::
Memaksakan kehendak pada tuhan? Memperkosa tuhan? Emangnya tuhan pake rok mini? :))
Tuhan menciptakan alam semesta. Setelah itu ngapain? Apakah dia mengawasi saja atau tetap bekerja menjalankan ciptaannya tsb?
Ketika seseorang kentut, apakah itu kerjaan tuhan atau bukan? Jika bukan, berarti ada bagian dari alam semesta ini (yaitu kentut) yg tidak dikuasai oleh tuhan. Mosok punya julukan maha kuasa tapi kentut saja tidak tertangani. Atau kentut bagian dari freewill manusia? Tapi perasaan ane sejauh ini, ane gak bisa milih2 kentut. Kadang nyaring, kadang senyap. Kadang bau, kadang bau banget. Kadang kering, kadang lengket. Jadi gimana nih, kentut kerjaan tuhan atau freewill manusia?
Teis pengennya tuhan maha suci, maha tinggi, maha baik, maha sempurna. Tapi itu justru jadi membatasi tuhan, padahal tuhan juga maha kuasa, maha berdikari. Karena pusing dgn sifat2 tuhan, sementara tetap percaya adanya tuhan, akhirnya terbetik utk tidak mau membicarakan tuhan. Tuhan semakin dibicarakan, semakin tidak ada. Sementara jika tuhan tidak dibicarakan, lama2 tuhan terlupakan.
Mungkin solusinya pilih saja sifat2 tuhan yg sesuai kebutuhan. Misalnya maha mengawasi atau maha melihat atau maha mengetahui dan maha menepati janji. Ini utk menjaga agar teis tidak terperosok ke dalam perbuatan tercela. Misalnya ketika mau korupsi, teringat janji tuhan berupa siksa neraka. Tapi masalahnya kalo ingat tuhan, lha kalo lupa karena melihat setumpuk rupiah gimana?