Quote:
B. Hermeneutik Apostolik
Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah metode penafsiran literal. Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.
YESUS KRISTUS, PENAFSIR SEMPURNA.
Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak memberikan penafsiran kitab-kitab PL. {[sweb]Joh 5:39 Lu 24:27,44[/sweb]} Dengan cara demikian Yesus telah membuka pikiran murid-muridNya untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat (mis: [sweb]Mat 15:1-9; Mar 7:1-7 Mat 23:1-33 Mat 22:29[/sweb]). Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: [sweb]Mt 10:5,6 12:1-4,15-21 13:1-9 18:23 19:3-9 21:42-44 22:41-46 24:36-39 Lu 11:29,30 21:20-24 24:27-44[/sweb].
PARA RASUL, PENULIS-PENULIS YANG MENDAPATKAN INSPIRASI DARI ALLAH.
Mereka adalah contoh penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: [sweb]Ro 3:1-23 9:6-13 Ga 3:1-29; 4:21-31 1Co 9:9-12 10:1-11 Heb 6:20-7:21 8-8-12 10:1-14,37-11:40; 1Pe 2:4-10; 2Pe 3:1-13[/sweb].
C. Hermeneutik Bapak-bapak Gereja
Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:
95 - 202 M (CLEMENT DARI ROMA SAMPAI IRENAEUS).
Tidak ada banyak catatan penting mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.
202 - 325 M (SEKOLAH ALEKSANDRIA).
Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.
Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.
Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.
325 - 600 M (SEKOLAH ANTIOKIA).
Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat diringkaskan sbb.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode tipologi.
Tokoh-tokoh Sekolah Antiokia adalah:
Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah. Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.
Gereja Bagian Timur
Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).
Gereja Bagian Barat
Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).
Quote:
D. Hermeneutik Abad Pertengahan
Masa periode tahun 600 - 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi gereja. Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.
Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.
Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah: THOMAS AQUINAS. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.
JOHN WYCLIFFE.
Ia sering disebut sebagai "Bintang Fajar Reformasi" karena kegigihannya menyerang pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.
Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.
E. Hermeneutik Reformasi
Periode ini terjadi pada tahun 1517 - 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.
PERJUANGAN REFORMASI.
Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang memperjuangkan "sola scriptura" (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:
Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.
Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.
Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.
Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.
Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.
Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.
Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.
TOKOH REFORMASI.
Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.
Prinsip penafsiran Martin Luther:
Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.
Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.
Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah.
Penafsiran alegoris tidak berlaku.
Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.
Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.
Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.
John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.
Prinsip penafsiran John Calvin:
Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.
Alkitab akan menafsirkan Alkitab.
Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi kata dan memeriksa tata bahasa.
Menolak penafsiran alegoris.
Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.
Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat. Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.