View Full Version : #IndonesiaTanpaJIL
Ronggolawe
20-02-2012, 10:46 PM
http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=6mEEjoMnvGA
Ditengah munculnya gerakan Indonesia Tanpa FPI, ter
nyata sekelompok umat Islam yang masih peduli, me
lancarkan gerakan tandingan, Indonesia Tanpa JIL.
---------- Post added at 09:36 PM ---------- Previous post was at 08:59 PM ----------
JIL Akui Kegagalannya Menyebarkan Paham Liberal (http://www.eramuslim.com/berita/nasional/jil-akui-kegagalannya-menyebarkan-paham-liberal.htm)
Selasa (13/12), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) mengadakan bedah buku Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mengambil tempat di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bedah buku menghadirkan sejumlah pembicara yang kerap menulis gagasan pemikiran liberalisme Islam. Diantaranya adalah Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asy Saukanie,dan Zainun Kamal. Tak ketinggalan Ioanes Rakhmat (Kritikus Kristen) didapuk jadi pembicara.
Pada kesempatan yang dihadiri 300 mahasiswa UIN itu, penggagas JIL, Luthfi Asy Sakunie secara jujur mengatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam lewat jalan liberalisme sepanjang ini masih jauh dari harapan. Munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme Islam, baginya, adalah bentuk kegagalan ide “pembaharuan”.
Senada dengan Luthfi, Ioanes Rakhmat, turut mengamini kenyataan itu. Menurutnya berkembangnya perda-perda Syariat adalah bukti metode pembaharuan Islam yang selama ini disuarakan kawan-kawan Islam Liberal belum ada, “Karena yang ada baru metode penafsiran teks,” katanya.
Meski berlatar belakang Kristen, ia menegaskan bahwa perjuangan membumikan pemikiran liberalisme Islam tidak boleh surut. Usaha-usaha itu tetap harus berjalan. Karena hanya dengan itu Islam akan maju di Indonesia.
Oleh karenanya, Ioanes mengusulkan agar Luthfi cs mulai terfikir terjun ke dunia politik. “Kalau kelompok Islam pembaharu tidak terjun ke dunia politik, maka kelompok Islam politik akan bertambah kuat,” tandasnya.
Usulan tersebut sempat ditolak oleh Zainun Kamal. Tokoh yang kerap menjadi penghulu pernikahan beda agama ini mengatakan politik bukanlah jalan terbaik bagi Islam Liberal.
Ia berkaca dari partai-partai Islam maupun kelompok Islam saat ini yang hanya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. “Maka itu Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi harus cepat taubat dari politik,” sanggahnya.
Ulil pun angkat suara. “Itu kan partai sektarian yang berbasis agama. Sedangkan saya di partai sekuler. Maka itu kita harus masuk partai sekuler,” pungkas fungsionaris Partai Demokrat itu yang sebelumnya sempat memuji sekularisme Erdogan dan melunaknya Ideologi Ikhwan di Mesir.
---------- Post added at 09:46 PM ---------- Previous post was at 09:36 PM ----------
Gerakan #Indonesia Tanpa JIL Ramai di Media Sosial (http://tumble.rosid.net/video/gerakan-indonesiatanpajil-ramai-di-media-sosial/)
Senin, 20 Februari 2012. Persis usai subuh muncul sebuah gerakan #IndonesiaTanpaJIL (JIL=Jaringan Islam Liberal). Munculnya gerakan ini sontak saja semakin disambut dengan penuh semangat ketika di fanspage gerakan tersebut yang beralamat di http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL tampil sebuah video berdurasi 32 detik yang menampilkan sosok aktor Fauzi Baadilla yang dengan tegasnya mengatakan : “Indonesia Tanpa JIL !”.
Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim. Hastag #IndonesiaTanpaJIL sampai saat ini terus semakin ramai. Yang menarik adalah dalam waktu 12 jam fanspage gerakan tersebut sudah di-like oleh hampir 2500 orang, tanpa bantuan Likers Engine (boot).
Pertanyaan yang muncul adalah : Fauzi Baadilla saja berani dengan tegas tanpa khawatir kehilangan pekerjaan dan penggemarnya, lantas kenapa tokoh-tokoh yang sebetulnya menolak JIL masih (jaim) jaga image ?.
choodee
20-02-2012, 11:45 PM
ini thread berat....
tapi gw maw komentarin fauzi baadilla nya aza yak ;D
damn fauzi baadilla, setelah gay bashing sekarang ini, padahal dulu jaman pilem Tentang Dia gw ngefans ama ni aktor, ternyata beda aliran sama sayah~~~ %cry
Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim.
bisa berikan contohnya? so far gw ga pernah dengar gerak2 ni jaringan .....
Ronggolawe
20-02-2012, 11:59 PM
Reportase Program Agama dan Masyarakat Radio 68 H
Nasib Homoseksual Dalam Cengkaraman Agama dan Budaya Diskriminatif (http://islamlib.com/id/artikel/nasib-homoseksual-dalam-cengkaraman-agama-dan-budaya-diskriminatif)
“Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.”
Meskipun pada 17 mei 1990 organisasi kesehatan dunia (WHO) telah memutuskan bahwa homoseksualitas tidak tergolong suatu penyakit atau gangguan jiwa, namun diskriminasi terhadap kelompok minoritas ini masih kerap terjadi di negeri ini. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, diskriminasi terhadap minoritas homoseksual diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan terhadap mereka. Diskriminasi itu misalnya, terlihat dari perda-perda yang mencantumkan homoseksual dalam kategori perbuatan cabul dan pelacuran. Tidak kurang, dalam UU Pornografi yang belum lama disahkan itu, dikatakan bahwa homoseksual sebagai penyimpangan seks. Padahal “fatwa” dari WHO tersebut sudah tercantum pula dalam kitab PPDGJ milik Depkes RI (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis dan Gangguan Jiwa) edisi III tahun 1993. Ini berarti materi UU tersebut tidak merujuk kepada kitab pedoman kesehatan tersebut.
Menelusuri seluk beluk diskriminasi terhadap kaum homoseksual yang terjadi di Indonesia, Radio KBR 68 H bersama Jaringan Islam Liberal, melalui Program Agama dan Masyarakat pada tanggal 18 Mei 2011 mengangkat sebuah diskusi bertema “Diskriminasi dan Kekerasan Terhadap Warga Negara Karena Orientasi Seksualnya”. Diskusi berlangsung selama satu jam dengan menghadirkan dua narasumber sekaligus, Hartoyo dari Our Voice dan Andi Yentriyani dari Komnas HAM.
Diskriminasi terhadap kelompok minoritas homoseksual terjadi, dalam analisa Hartoyo, dikarenakan stigma yang mendominasi pola pikir masyarakat terhadap mereka. Ketiadaan pendidikan seks dan pendidikan tentang identitas gender dari pemerintah untuk warganegaranya, dan tidak tersedianya informasi yang benar, membentuk pemahaman yang keliru dalam masyarakat dalam melihat dan memperlakukan kaum homoseksual. Dari persoalan ini, mereka kerap dinilai negatif oleh masyarakat. Mereka dilihat sebagai pendosa, penyebar penyakit atau bahkan pembunuh.
Sementara Andi mencoba menyoroti persoalan diskriminasi ini dari sudut konstitusi. Dalam pandangan Andi, meskipun secara ideal konstitusi mengakui adanya persamaan setiap warga negara, namun dalam tataran praktis pelaksanaannya kerap kali bertolakbelakang. Ini terjadi, begitu Andi, karena adanya prasangka-prasangka yang berkembang dalam polapikir masyarakat dan membuat orang merasa boleh memperlakukan orang lain secara berbeda. Pembedaan-pembedaan itulah yang belakangan menimbulkan diskriminasi kelompok homoseksual, sekalipun hak bebas dari diskriminasi telah diakui oleh negara.
Masyarakat kita memang mudah sekali menstigma orang yang berbeda sebagai orang yang “menyimpang”. Padahal menjadi berbeda secara orientasi seksual itu sungguh tidak mudah bagi mereka kelompok LGBT sendiri (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Seperti diakui oleh banyak di antara mereka, usaha untuk menjadi seperti apa yang dimaui lingkungan bukan tidak pernah mereka jalani. Dalam “keberbedaan” nya itu, mereka masih harus berhadapan dengan represi dari lingkungan dan bahkan keluarga terdekat. Hidup mereka dibuat tidak tenang dengan adanya curative right, dipaksa untuk “sembuh” dan “bertaubat”. Masih belum cukup, mereka juga kerapkali dihadapkan dengan kekerasan fisik dan psikologis selama bertahun-tahun untuk kembali “ke jalan yang benar”. Jadi, penderitaan yang mereka alami menjadi berlapis-lapis.
Pandangan Andi ini diamini oleh Hartoyo sendiri sebagai sosok yang pernah menjalani pengalaman diskriminasi. Seperti diceritakan Hartoyo, dalam hal ini pihak negara sama sekali tidak turun tangan untuk memberi perlindungan. Dan ironisnya, justru aparat negara sendiri yang menjadi pelaku diskriminasi tersebut. Sepertinya, semua jalan untuk mencari keadilan dari diskriminasi bagi kelompok LGBT sudah tertutup. Kalaupun ada, dukungan itu datang dari pihak luar, dan beberapa lembaga seperti Komnas Perempuan. Dengan sepinya dukungan menentang diskriminasi kelompok LGBT, menandakan bahwa masyarakat memilih diam, untuk mengatakan tidak peduli terhadap kasus-kasus diskriminasi.
Dalam sebuah komentarnya, seorang pendengar diskusi beropini bahwa kelompok LGBT seharusnya sadar diri terhadap lingkungan di mana mereka hidup. Meskipun benar hak bebas dari diskriminasi diakui undang-undang, namun mereka hidup dalam sebuah kultur masyarakat yang sulit sekali menerima perubahan, ditambah lagi dengan pemerintahan negara yang lemah. Pendengar lain, menanggapi bahwa Homoseksualitas sebetulnya budaya Barat yang bertentangan dengan budaya Indonesia sendiri.
Menanggapi ini, Andi berargumen bahwa sebenarnya ada banyak budaya yang justru tidak dikenali oleh masyarakat kita sendiri. Secara historis-kultural, demikian Andi, Homoseksualitas bukanlah suatu yang asing dari masyarakat kita. Kalau ingin disebut, kita akan menjumpai banyak tradisi asli Indonesia yang bernuansa Homoseksualitas. Pemetak-metakan suatu budaya berdasarkan kategori Timur-Barat, dalam pandangan Andi, membuat sebuah norma menjadi esensialis. Faktanya kekerasan terhadap kaum Homoseksual bukan hanya ada di Timur, tapi juga Barat. Ini sekaligus menolak anggapan bahwa Homoseksualitas merupakan budaya asing yang berasal dari Barat.
Ke “berbedaan” secara orientasi seksual, bukanlah dasar yang bisa menghalalkan kita untuk melakuan diskriminasi. Perlu ditegaskan ulang, diskriminasi terhadap kaum Homoseksual, bukan hanya terjadi di Indonesia secara khusus, atau dunia Islam secara umum, tapi juga terjadi di dunia Barat sendiri yang sekarang ini mulai belajar membuka diri terhadap minoritas yang memiliki orientasi seksual berbeda. Atas dasar fakta ini, Andi mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat secara terbuka sejarah peradaban dunia, di mana kekerasan dan diskriminasi terhadap mereka yang berbeda bukanlah soal “Timur-Barat” saja, tapi lebih jauh soal kelapangan jiwa dan pola pikir komunitas tersebut untuk menerima mereka yang berbeda.
Pandangan sinis terhadap kaum Homoseksual, membuat banyak orang mempertanyakan sisi positif kaum Homoseksual, juga memandang miris kepada setiap usaha advokasi yang ditujukan kepada mereka.
Menjawab ini, Hartoyo menegaskan, bahwa sekalipun berbeda, tapi kaum Homoseksual atau LGBT sejatinya juga manusia yang memiliki perasaan yang sama dengan mereka yang normal. Mereka bukannya tidak mau berusaha menjadi sama dengan orang lain. Bagi Hartoyo, menurut pengalamannya homoseksualitas bukanlah sebuah pilihan, tapi lebih merupakan ketetapan yang ditakdirkan kepada mereka. Karena itu, advokasi kepada kaum Homoseksual sejatinya adalah advokasi kepada kemanusiaan itu sendiri.
Hartoyo juga menyinggung, bahwa takdir homoseksual bisa saja diterima oleh siapa saja, termasuk mereka yang ada dalam anggota keluarga kita. Membela Homoseksualitas, dengan begitu berarti membela keluarga kita sendiri, membela sesama manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dihadapan Tuhan.
Andi menambahkan, jika merujuk kepada tujuan pernikahan, anggapan bahwa homoseksualitas adalah sebuah anomali sejatinya lahir dari pemikiran tentang keharusan adanya pro-creation purpose dalam sebuah hubungan seksual (hubungan seksual untuk mendapat keturunan). Dalam hal ini, Islam dalam pandangan Andi memiliki pandangan yang lebih maju tentang adanya tujuan lain hubungan seksual selain untuk mendapat keturunan, yakni untuk mendapat kesenangan (rekreasi). Seandainya pandangan ini diterima, tentulah dukungan terhadap pernikahan Homoseksual tidak akan lagi menjadi suatu kesulitan.
Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.
Andi juga menilai, persoalan diskriminasi terhadap kelompok Homoseksual atau secara umum LGBT merupakan tantangan baru bagi para teolog. Kalau dulu para teolog dihadapkan pada persoalan diskriminasi perbudakan misalnya, di mana seseorang dianggap boleh mendiskriminasi orang lain karena identitasnya, maka diskriminasi terhadap kaum Homoseksual adalah ujian baru bagi para teolog. Ujian ini sengaja diberikan Tuhan untuk mengetahui apakah agama yang mereka agung-agungkan itu masih berkomitmen pada nilai-nilai kemanusiaan, atau justru mereka jadikan alat justifikasi untuk mendiskriminasi manusia lainnya, dan ini berarti sudah keluar dari tujuan awal diturunkannya agama-agama itu sendiri.
Untuk keluar dari diskriminasi ini, kelompok Homoseksual berharap agar pemerintah lebih ikhlas dalam membela warga negaranya. Mereka juga berharap agar fatwa WHO terkait dengan persoalan Homoseksualitas disosialisasikan kepada masyarakat melalui Depkes. Ini perlu dilakukan demi mengikis stigma-stigma yang masih kuat bercokol dalam pola pikir masyarakat terhadap kaum Homoseksual. Mereka juga berharap agar para ahli dan kelompok professional tidak mencampuradukan antara penafsiran agama mereka yang subjektif dengan bidang studi yang mereka dalami. Mereka harus jujur untuk mengakui dan menerangkan kepada masyarakat bahwa Homoseksual bukanlah suatu penyakit yang bisa menular atau perlu disembuhkan.
Andi menutup diskusinya dengan mengajukan solusi-solusi berikut untuk menyudahi tindakan diskriminasi terhadap kaum Homoseksual. Pertama, memperbaiki sistem pendidikan dan sosialisasi informasi di masyarakat. Ini dilakukan agar masyarakat terbiasa mengukur sesuatu bukan berdasar dogma yang subjektif, tapi atas standar ilmiah yang objektif. Sosialisasi informasi juga perlu dilakukan untuk memberikan pandangan yang benar tentang Homoseksualitas. Kedua, membuka wawasan terhadap budaya-budaya yang lebih terbuka. Ini dilakukan demi menciptakan perbaikan dan pembenahan dalam komunitas kultur kita. Ketiga, pendewasaan beragama melalui pencerahan dan diskusi-diskusi agar agama tidak lagi dipolitisir untuk kepentingan politik sesaat. Keempat, demokratisasi keluarga. Ini perlu dilakukan agar tidak lagi terjadi pemaksaan terhadap kaum homoseksual yang berakibat pada depresi yang mereka alami dan membunuh jatidiri mereka sendiri.
“Jihad” untuk membebaskan kaum Homoseksual dari diskriminasi mayoritas bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan agamawan saja, tapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan warga negara secara serentak. Perlu diingat, Homoseksualitas bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan apalagi menular. Sebagaimana ia tidak bisa dipaksakan menjadi Heteroseksual, kaum Heteroseksual juga tidak mungkin bisa direkayasa menjadi Homoseksual.
sekalian gw kasih link yang program JIL anti-Gay Bashing
namun berseberangan dengan ajaran Islam :)
choodee
21-02-2012, 12:43 AM
gw anti gay-bashing, berarti gw JIL donk ::hihi:: kalo gitu gw cabut deh dari sini ;D
sebenarnya gw gak pernah melabeli kepercayaan gw aliran apa, yang gw anggap benar dalam hati gw itulah yang gw percaya, dan gw percaya bahwa Tuhan gw Maha pengasih keseluruh umatnya regardless kekurangan umat tersebut. dan berhubung gw yakin di sini topiknya bakal bersebarangan dengan apa yang gw percaya dan tidak mungkin ada titik temu, maka gw say goodbye aja lgsg ::bye:: tapi gw tetap survey dan baca2 kok, ilmu euy, kali gw dapat pencerahan di sini ;D happy discuss.
Ronggolawe
21-02-2012, 12:47 AM
oke, thank you
hajime_saitoh
21-02-2012, 06:08 AM
Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...
BundaNa
21-02-2012, 06:37 AM
mana nih, jaga ;)) dia kan di ak t'masuk barisan p'bela JIL ::hihi::
mpe bosen gwe liat muka si ulil
bidawang
21-02-2012, 08:11 AM
Aliran anti hadits termasuk JIL bukan yak?
Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...
Bukannya di qur'an ada kebolehan menikahi wanita dari ahli kitab?
BundaNa
21-02-2012, 09:45 AM
nti kl gw bahas ahli kitab itu bkn non muslim, jd bahas agama -_-
udah terusin aja bahas indonesia tanpa JIL
Urzu 7
21-02-2012, 10:01 AM
So..JIL is gay
BundaNa
21-02-2012, 10:22 AM
sayangnya di pasal 29 UUD 45 (udah diamandemen blum ya?) negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, jadi mau ahmadiyah, JIL, FPI, semuanya bebas di Indonesia -_-
danalingga
21-02-2012, 01:35 PM
Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya? ;))
cha_n
21-02-2012, 01:38 PM
Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya? ;))
kagak
mereka gagal total... so ?
danalingga
21-02-2012, 01:47 PM
^ berarti dah bubar sendiri. ;))
Terus terang, gue sendiri ikut milist JIL dan dah beberapa tahun belakangan ini sepi kek kuburan. :D
BundaNa
21-02-2012, 02:17 PM
jualannya ga laku rupanya ;))
cuman dpt simpati dari luar negara ya? ::ngakak2::
choodee
21-02-2012, 02:27 PM
^
true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini ::hihi::
danalingga
21-02-2012, 03:44 PM
jualannya ga laku rupanya ;))
cuman dpt simpati dari luar negara ya? ::ngakak2::
Soale JIL juga extrim sih -- hanya saja berseberangan dengan FPI dan sejenisnya -- tapi tetap saja extrimist (kalo kata belanda). ;))
Parameswara Li
21-02-2012, 03:47 PM
^
true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini ::hihi::
JIL itu memang bukan kelompok dakwah. Mereka itu mencoba memaparkan kajian versi mereka. Karena mereka bukan juru dakwah jadi memang tulisan-tulisan mereka hanya dibaca oleh sedikit orang. Ada kok websitenya. Kegagalan mereka bukan karena marketingnya kurang, tapi justru karena mereka terang-terangan berhimpun dalam wadah JIL itu. Kalau mereka tidak pakai merk liberal mungkin pandangan orang akan lain. Para pendahulu mereka justru lebih sukses karena tidak membawa bendera tertentu.
cha_n
21-02-2012, 04:15 PM
bukan...
JIL gagal karena emang "barang" dagangannya ga laku
well i didn't buy it... ga penting soalnya
bukan karena marketingnya.
aku pernah diajak waktu kuliah dulu, udahlah akui aja emang dapet duit dari luar negeri kok.
dengan barang dagangan yang dipaksain ke masyarakat indonesia, gw bilang konyol abis, walo dimodalin gede tetep aja konyol kalau memaksakan.
kajian apa yang jadi fokus jil? soal tidak wajibnya jilbab, pemberian ruang bagi kaum homoseksual, bolehnya nikah beda agama?
see???? ga penting semua kan barang dagangannya?
masih mending mereka pake pendekatan kemanusiaan dulu, bahas gimana memberdayakan umat, kalau mau bawa2 liberal, jual gimana sebuah kebebasan/liberalisme bisa menaikkan perekonomian bangsa, gimana liberalisme bisa meminimalkan kemiskinan...
kalau emang ga bisa (yang mana di amerika sendiri ga pake sistem yang liberal murni), ya udah, akui aja ini paham gagal... try again next time
Parameswara Li
21-02-2012, 04:45 PM
Nah justru itu. JIL itu terlalu vulgar. Jadi cara menawarkan dagangannya tidak benar. Dagang apapun asal caranya bagus ada kemungkinan tetap bisa laku. Kalau mereka tidak terlalu vulgar seperti itu, walaupun orang tidak tertarik, juga tidak membenci. Ulil itu memang harus belajar banyak. Intinya mereka itu kan Mu'tazilah. Di Indonesia dari dulu sudah banyak sekali Mu'tazilah hanya saja caranya halus. Orang-orang seperti Nurcholis Madjid, Dawam Rahardjo, Harun Nasution, Komaruddin Hidayat, dsb adalah contohnya. Tapi mereka jauh lebih halus daripada Ulil, jadi yang terang-terangan menentang merekapun hanya sedikit, setidaknya di mata orang awam mereka tidak bermasalah. Kegilaan Ulil yang sangat parah adalah kenekadannya mengikuti Arkoun mengenai Analisis Derrida tentang Dekonstruksi.
BundaNa
21-02-2012, 04:55 PM
bkn juru dakwah maksudnya paham agama ato basicnya bkn tukang ceramah? ulil itu tukang ceramah n mantu tk ceramah -_-
---------- Post added at 03:55 PM ---------- Previous post was at 03:53 PM ----------
btw saya sepokat sm bunda hegel. yg diusung jil itu ga menyentuh p'soalan bangsa, makanya ga dianggep penting sm org
Parameswara Li
21-02-2012, 05:00 PM
bkn juru dakwah maksudnya paham agama ato basicnya bkn tukang ceramah? ulil itu tukang ceramah n mantu tk ceramah -_-
Kalau bicara latar belakang memang Ulil punya punya basic yang kuat. Namun kelihatannya tujuan Ulil bukan itu sehingga pendekatan yang selalu dia lakukan sama sekali berbeda dari pendekatan yang dilakukan juru dakwah. Sedangkan JIL sendiri jelas bukan kelompok dakwah karena anggota-anggota yang lain punya latar belakang yang berbeda dari Ulil. Lagipula dari dulu kaum Mu'tazillah jarang berdakwah seperti lazimnya para juru dakwah. Biasanya mereka menyebarkan pahamnya melalui jalur pendidikan.
BundaNa
22-02-2012, 11:49 AM
ya sekarang mereka bikin bedah buku, diskusi blabla itu kan juga dakwah...intinya memang jualan mereka gak laku kog -_-
Parameswara Li
22-02-2012, 01:48 PM
ya sekarang mereka bikin bedah buku, diskusi blabla itu kan juga dakwah...intinya memang jualan mereka gak laku kog -_-
Iya bener, tapi kan jualannya dengan pangsa yang terbatas. Ibarat kita jualan mobil sport yang harganya milyaran, berapa orang sih yang sanggup beli ? Seandainya pun sanggup juga belum tentu beli kan karena nggak penting.
Bedah buku dan diskusi juga dakwah, tapi kan bukan dakwah konvensional yang masif. Karena mereka nggak mungkin pake metode dakwah konvensional yang masif dengan materi yang absurd begitu. Sebaiknya mereka kembali dengan cara pendidikan. Tentu saja semua materinya harus dibungkus sehingga kelihatan membumi. Kalau kayak sekarang itu kan diawang-awang banget. Membaca makalah mereka biasanya orang malah bingung, yang lumayan ngerti maksud mereka adalah yang biasa baca makalah. Mengerti maksud bukan berarti setuju lho.
Pada masa lalu, Kaum Mu'tazilah, pernah sukses pada tahun-tahun awal dinasti Abbasiyah. Walaupun sebenarnya mereka hanya digunakan penguasa untuk melawan sisa-sisa pendukung dinasti Umayyah karena setelah dinasti Abbasiyah kokoh tiba giliran mereka untuk ditekan. Nah pada masa itu sebelum masuk ke birokrasi mereka bertunas pada sektor pendidikan.
JIL adalah Neo Mu'tazilah yang sangat radikal sehingga mungkin banyak juga Neo Mu'tazilah lain yang kurang respek terhadap mereka karena sepak terjang mereka justru kontra produktif terhadap gerakan Neo Mu'tazilah. Hal ini terbukti dengan menguatnya sentimen anti Mu'tazilah saat ini. Suara-suara JIL hanya memperkuat keyakinan orang bahwa Kaum Mu'tazilah adalah kaum yang memberhalakan akal belaka.
cha_n
22-02-2012, 06:06 PM
lah emang kenyataannya begitu
thats why nobody buy it
atleast here in indonesia
untuk yang mengedepankan akal semata kan udah ada purba dan sodaara2nya . kenapa harus JIL ?
soal barang dagangan.. ini indonesia tapi jualan ferrari no wonder ga ada yang beli, atau pasar terbatas. masyarakatnya tidak butuh itu
AsLan
22-02-2012, 06:11 PM
Kalo memang JIL gak laku, kenapa musti repot2 bikin gerakan Indonesia tanpa JIL ?
BundaNa
22-02-2012, 06:19 PM
gak laku di grassroot iya, di orang t'pelajar adalah yg t'tarik. biasa kan, ada yg pro n kontra
Parameswara Li
22-02-2012, 06:25 PM
Kalo memang JIL gak laku, kenapa musti repot2 bikin gerakan Indonesia tanpa JIL ?
Karena JIL itu ekstrem. Di Indonesia banyak sekali orang atau kelompok yang berpendirian seperti JIL, tapi tidak diapa-apakan karena gerakannya jauh lebih halus. JIL mau kelihatan eksis tapi itu malah jadi bumerang.
---------- Post added at 07:25 PM ---------- Previous post was at 07:22 PM ----------
untuk yang mengedepankan akal semata kan udah ada purba dan sodaara2nya . kenapa harus JIL ?
Ya bedalah ! Kalo Purba itu kan Atheis, kalo JIL itu Mu'tazilah. Orang JIL juga pasti tersinggung kalo disamakan dengan kaum atheis.
BundaNa
22-02-2012, 06:46 PM
knp t'singgung? kan mrk m'dewakn akal? Tuhan buat mrk apa? nyatanya ilmu Tuhan ga laku buat mrk. apa bedanya dgn atheis?
Parameswara Li
22-02-2012, 07:00 PM
knp t'singgung? kan mrk m'dewakn akal? Tuhan buat mrk apa? nyatanya ilmu Tuhan ga laku buat mrk. apa bedanya dgn atheis?
Ya tanya saja dengan mereka. Kaum mu'tazilah itu lebih mementingkan akal daripada wahyu, tetapi tetap dalam kerangka Islam. Lagipula kadar rasional mereka berbeda-beda setiap individu, jadi penafsiran seseorang tidak plek 100 % dengan penafsiran orang yang lain dalam kelompok mereka. Kalau Ulil itu kelihatannya sudah kronis sekali. Kalau teman-temannya, Sukidi misalnya, masih agak lumayan.
---------- Post added at 08:00 PM ---------- Previous post was at 07:56 PM ----------
soal barang dagangan.. ini indonesia tapi jualan ferrari no wonder ga ada yang beli, atau pasar terbatas. masyarakatnya tidak butuh itu
Kalo masalah laku nggak laku sih relatif juga. Barang dagangan Ulil ini kan sebenarnya sama dengan dagangan almarhum Nurcholis Madjid. Tetapi karena cara pendekatan dan penyampaian yang berbeda maka reaksi orang juga berbeda. Orang yang kontra terhadap pemikiran Nurcholis Madjid jauh lebih sedikit daripada yang kontra terhadap Ulil walau secara prinsip yang mereka jajakan hal yang sama.
cha_n
22-02-2012, 09:10 PM
dan yang paling konyolnya adalah dia masuk demokrat...
maksudku demokrat konyol juga ngajak ulil.
yah entahlah toh semacam nazar dan ruhut pun ada. ga ada alasan buat kaget
Parameswara Li
22-02-2012, 09:14 PM
dan yang paling konyolnya adalah dia masuk demokrat...
maksudku demokrat konyol juga ngajak ulil.
yah entahlah toh semacam nazar dan ruhut pun ada. ga ada alasan buat kaget
Iya benar ! Dan justru karena dia terjun ke politik itulah yang kemudian lebih mencederai citranya. Orang jadi lebih curiga bahwa dia punya agenda lain selain mempromosikan pemikirannya. Seorang cendikiawan sejati tidak akan membiarkan dirinya ikut terseret arus politik yang tidak jelas seperti itu.
danalingga
22-02-2012, 11:28 PM
knp t'singgung? kan mrk m'dewakn akal? Tuhan buat mrk apa? nyatanya ilmu Tuhan ga laku buat mrk. apa bedanya dgn atheis?
Kurang setuju juga jika disebut JIL itu mendewakan akal -- mungkin lebih kepada menggunakan metode harmeneutika makanya hasil tafsir bisa berbeda dengan yang selama ini diikuti umunnya umat Islam. Tapi umumnya itu juga belon tentu benar sih.
pasingsingan
23-02-2012, 09:15 PM
Kegilaan Ulil yang sangat parah adalah kenekadannya mengikuti Arkoun mengenai Analisis Derrida tentang Dekonstruksi.
good statement
bisa dijelaskan lebih jaoh lagi
spt apa prinsip pemikirannya? :mrgreen:
Ronggolawe
23-02-2012, 10:07 PM
satu serangan baru dari Munarman kepada Ulil
Dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla melakukan zina di luar nikah? (http://arrahmah.com/read/2012/02/22/18283-dedengkot-jil-ulil-abshar-abdalla-melakuan-zina-diluar-nikah.html)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Kebobrokan kelompok yang menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) terus diungkap. Setelah membuka dugaan adanya dana Rp. 62 Milyar yang mengalir untuk membubarkan FPI, pengurus FPI kembali membuka borok orang yang berniat membubarkan FPI sejak 2006 itu. Kali ini FPI membuka skandal perempuan dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla. Jika terbukti kebenarannya ini adalah skandal yang sangat memalukan.
Awalnya, Ketua DPP FPI Bidang Nahi Munkar Munarman ditanya oleh seorang wartawan mengenai sikap FPI atas penolakan sejumlah “kalangan masyarakat” atas keberadaan FPI. Mendengar pertanyaan itu, Munarman menjawab selama ini tidak ada masyarakat yang menolak FPI. “Masyarakatnya siapa dulu?” Munarman balik bertanya. Wartawan yang tadi bertanya pun jadi gelagapan.
Munarman menambahkan bahwa fakta di lapangan tidak ada masyarakat yang menolak FPI. “Jangan dipersepsikan salah lagi,” lanjut advokat senior itu.
Menyinggung segelintir orang Liberal yang berdemo di Bundaran HI pasca insiden palangkaraya beberapa waktu lalu, Munarman menjelaskan bahwa mereka bukanlah masyarakat, tetapi kelompok banci, homo dan perempuan dugem. “Yang demo itu banci, homo, sama perempuan dugem. Bagi saya itu itu sampah,” kata Munarman.
Para wartawan yang mengerubuti Munarman di depan Ruang Asmara Nababan, Gedung Komnas HAM, terus mendesak dan memastikan bahwa tidak ada masyarakat yang menolak FPI. Munarman pun kembali menegaskan, “Ngga ada, saya jamin tidak ada. Itu preman. Yang menolak FPI itu yang suka dugem, main perempuan dan menghamili anak perempuan di bawah umur. Kalau mau bukti, ini saya punya buktinya. Ini nama perempuannya ada.”
Lantas, kepada para wartawan Munarman menunjukkan bukti pesan Blackberry Mesenger (BBM) antara Ulil Abshar Abdalla dengan seorang perempuan bernama Marchelinta Dhika. Seorang wartawan diminta membaca pesan itu:
http://static.arrahmah.net/images/stories/2012/02/ulil-1.jpg
Aku merasa berbuat salah pd isteriku krn aku telah selingkuh dg perempuan lain
Aku Ingin kembali mencintai isteriku saja
Aku pernah suka kamu, itu aku akui
“Lebay..ini aktivis yang katanya anti-FPI,” cetus Munarman.
Kemudian direktur An Nashr Institute itu balik bertanya, “jadi siapa yang menolak FPI? Tukang dugem, pelaku zina, pezina ini. Jangan coba-coba dia main sama kita. Kita punya kartunya,” kata Munarman.
Munarman lantas menceritakan perihal skandal yang terjadi antara Ulil dengan Marchelinta. Menurutnya, perempuan itu dihamili Ulil di luar nikah. Perempuan itu lantas diminta menggugurkan janinnya dengan imbalan sebuah mobil. Ternyata Ulil tidak memenuhi janji itu, tetapi hanya memberi uang ratusan juta kepada orang tua perempuan itu. Hingga kecewalah perempuan itu.
Jika Ulil merasa difitnah atau nama baiknya dicemarkan, Munarman mempersilahkan Ulil menggugat dirinya. “Kalau Ulil mau menggugat saya, silahkan,” tantang Munarman.
Penasaran dengan cerita itu, lantas wartawan menelusuri lebih lanjut kebenarannya. Ternyata, selain pesan BBM di atas masih banyak lagi pesan BBM Ulil kepada perempuan di bawah umur yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu. Misalnya Ulil pernah cemburu dengan teman laki-laki baru perempuan itu. Hal itu diungkapkannya dalam pesan BBM:
http://static.arrahmah.net/images/stories/2012/02/ulil-2.jpg
Kamu menyakiti aku berkali2, aku berusaha sabar
Yg terakhir kemaren itu, aku sudah tak tahan
Aku baru saja kirim bunga Valentine ke kamu, tiba2 kamu pacaran dengan cowo lain, dan kamu tunjukin di pp BB
Malam Rabu, (21/2/2012), wartawan Suara Islam mengklarifikasi persoalan ini ke Marchelinta. Melalui pesan singkat (SMS), Marchelinta membenarkan bahwa ia pernah mempunyai hubungan spesial dengan Ulil Abshar Abdalla. “Iyah dengan ulil abshar abdallah…tahun kmren pas bulan puasa tp saya kenal dia sudah lama dua tahunan saya kenal dia..,” kata Marchelinta.
http://static.arrahmah.net/images/stories/2012/02/dhika-1.jpg
Sementara saat wartawan mengklarifikasi ke Ulil melalui pesan SMS ke nomor handphonenya ternyata failed (gagal). Pertanyaaan melalui twitter juga tidak ditanggapi. Hingga berita ini akan dimuat, SI Online kembali mencoba menghubungi Ulil. Hasilnya, “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi”. (suara-islam.com/arrahmah.com)
spears
23-02-2012, 10:47 PM
::ngakak2::::ngakak2:: itu BBMnya si Ulil???
::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2:: Alay detecteeeeddd ::ngakak2::::ngakak2::
najooooooooooooooooooooooooooooonnnnnnnnnnnnnnnngg gggggggggggggg::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::
purba
23-02-2012, 11:54 PM
Menurut ane, JIL adalah muslim progresif. Mereka berislam di luar arus utama. Sebenarnya itu gerakan yg menarik, mencoba berislam di luar kotak. Tapi itu malah terkesan dipaksakan. Mereka berusaha mencari nilai-nilai universal yg terkandung di dalam Quran. Mereka tidak mau meninggalkan Quran tetapi bersamaan dgn itu mereka ingin mengikuti kekinian. Itulah yg dilihat oleh muslim arus utama sbg sepak terjang yg nyeleneh.
:))
spears
24-02-2012, 12:07 AM
kacian deh JIL kalah tenar ama FPI.
sama ahmadiyah juga kesalip. organisasi2 yg rootnya gak kuat dr sononya, emang biasanya akan tergerus oleh waktu dgn sendirinya.
jadi, grup ini ntar juga mati sendiri. gak usah diurusin lah. suaranya jg gak signifikan. dipake buat numpang tenar juga gak laku. gak penting.
jangan mementingkan hal2 yg sebenernya gak penting. :))
JIL?JIL who???? :))
nurdin
24-02-2012, 11:24 AM
Mereka tidak mau meninggalkan Quran tetapi bersamaan dgn itu mereka ingin mengikuti kekinian.
:))
JIL tidak ingin memperoleh imej meninggalkan Al-Quran, walaupun sejatinya mereka meninggalkannya.
Secara logika kekinianpun JIL itu aneh, ingin mengaburkan masalah yg sudah jelas, sehingga bukannya menjadi sumber solusi tetapi malah menjadi sumber penyakit.
BundaNa
24-02-2012, 11:26 AM
JIL tidak ingin memperoleh imej meninggalkan Al-Quran, walaupun sejatinya mereka meninggalkannya.
Secara logika kekinianpun JIL itu aneh, ingin mengaburkan masalah yg sudah jelas, sehingga bukannya menjadi sumber solusi tetapi malah menjadi sumber penyakit.
makanya, kenapa mereka masih membawa2 Islam kalau Allah dan AL Qur'an cuma dijadiin aksesoris saja?
purba
24-02-2012, 11:27 PM
Bagi yg berseberangan dgn JIL, tentu saja akan mengatakan JIL bukan Islam. Tapi apa alasannya? :))
Dlm pemaparan pemikiran2nya, JIL pun masih menggunakan Quran sbg dalil. Sudah bukan jamannya lagi mengklaim cuman gue yg Islam, yg lain bukan (seperti JIL, Ahmadiyah, dll), padahal masih sama2 pake Quran sebagai dalil. Seandainya Ulil cs pun tidak menggunakan kata Islam, sementara dlm berargumen masih berdalil dgn Quran, nanti diprotes juga, bisa2 dituduh misionaris yg menyalahgunakan Quran utk menyesatkan muslim. Kalau mau melarang, jangan penggunaan kata Islam, tapi penggunaan Quran: Dilarang berdalil dgn Quran selain gue. Lucu kan? :))
BundaNa
25-02-2012, 10:57 AM
kalau Al Qur'an jadi aksesoris sih, jangan ngaku2 memperjuangkan Islam -_-
ishaputra
25-03-2012, 01:48 AM
Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...
Kenapa masyarakat "resah" dengan nikah beda agama? Kalo anda atau masyarakat tidak suka dengan nikah beda agama, ya JANGAN MENIKAH DENGAN SESEORANG YANG BERBEDA AGAMA!! Gampang to!
Apa JIL dan kawan-kawannya pernah MEMAKSA seorang Muslim untuk menikah beda agama? Saya rasa tidak. So what?
Kalo ada sepasang kekasih beda agama memutuskan untuk menikah, dan mereka tidak berkeberatan, SO WHAT? Mereka nikah nggak pake duit masyarakat kok.
Jujur ya: Anggapan JIL "meresahkan masyarakat dengan pemikirannya" itu cuma wujud kecemburuan ideologi saja. Kalo berani, ghazwul fikri dong! Pemikiran LAWAN dengan pemikiran. Minder?
---------- Post added at 12:33 AM ---------- Previous post was at 12:28 AM ----------
^
true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini ::hihi::
JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?
---------- Post added at 12:35 AM ---------- Previous post was at 12:33 AM ----------
^ berarti dah bubar sendiri. ;))
Terus terang, gue sendiri ikut milist JIL dan dah beberapa tahun belakangan ini sepi kek kuburan. :D
Sepi bukan karena nggak laku. Tapi pindah media. Sekarang ramenya di twitter (follow @ulil, @assyaukanie, dkk deh). Sama aja kayak AK, dulu kan rame. Tapi pas udah ada FB dan Twitter, pada bedol desa deh semuanya.
---------- Post added at 12:48 AM ---------- Previous post was at 12:35 AM ----------
kagak
mereka gagal total... so ?
Tuduhan yang menarik. Begini: Ini pernah menjadi otokritik di salah satu diskusi JIL (saya hadir). Salah satu peserta memberi kritik terhadap kajian-kajian keagamaan JIL yang terkesan eksklusif dan "berat". Hal ini membuat ide-ide JIL hanya milik segelintir elite intelektual (mahasiswa, dosen dan akademisi umumnya). JIL tidak membumi, tidak masuk ke kampung-kampung seperti "para musuhnya" (Muslim garis keras).
Hal tersebut membuat orang awam tidak begitu mengenal ide-ide Islam liberal secara utuh. Mereka (orang awam) tahu JIL hanya dari ustad-ustad mereka di Masjid yang memang anti JIL. Jadi, ada ketimpangan opini di sini.
Makanya, banyak orang awam anti JIL hanya ikut-ikutan karena terpengaruh ustad mereka yang memang anti JIL, bukan karena ideologi. Apalagi dipanas-panasi bahwa JIL itu menghalalkan nikah beda agama. Tentu ini ide yang "nyeleneh" dan "tidak bisa diterima" di --terutama-- masyarakat kelas bawah yang rasa primordialismenya kuat. Padahal, ihwal boleh tidaknya nikah beda agama dalam Islam itu debatable. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Seharusnya sesuatu yang "debatable" jangan dihakimi secara sepihak. Lebih fair kalau dibuka ruang seluas-luasnya untuk dialektika. (Btw: bukankah Rosul menikahi Khadijah yang Kristen? Bukankah Yasser Arafat juga menikahi Suha yang Kristen?)
Seseorang atau siapapun boleh dan sangat boleh untuk tidak setuju dengan Islam liberal. Tapi, dimohon mampu bersikap secara fair. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Jadi ada diskusi, ada dialektika. Pemikiran tidak bisa dilawan dengan ancaman kekerasan. Diskusi di Utan Kayu, Freedom Institute, Salihara, terbuka untuk umum. Tidak dipungut bayaran pula, alias gratis! So, apa yang salah? Tidak ada! Yang salah itu kalo kumpul-kumpul lantas bergerak ke sana kemari untuk merusak properti orang. Itu yang salah dan harus ditindak tegas secara hukum!!
Ray Surya
25-03-2012, 01:56 AM
jadi da'wahnya JIL itu untuk seluruh manusia atau khusus utk orang kampus/sarjana?
ishaputra
25-03-2012, 02:43 AM
ya sekarang mereka bikin bedah buku, diskusi blabla itu kan juga dakwah... intinya memang jualan mereka gak laku kog -_-
Udah pernah ikut diskusi di Utan Kayu? Kalo topiknya pas rame, itu aula teater penuh sesak. Apalagi seri Tadarus Ramadhannya, wah.. rame! Tapi ya itu, segmen JIL memang --otomatis-- terbatas. Yang datang cuma kalangan tertentu saja; Kebanyakan mahasiswa atau kalangan intelektual. Beda dengan Tabligh Akbar, segala tukang becak, pengangguran, dll pada muncul.
Ibarat musik, wacana Islam yang diketengahkan JIL itu bisa dianggap musik klasik atau jazz. Tidak "easy listening" tapi bukan berarti tidak berkualitas.
Nah, kalo Majelis Rasulullah, Ustad Jefri, Mamah Dedeh, Aa Gym, dkk ibarat musik ya DANGDUT. Sangat easy listening, sangat populer, dan digemari banyak orang. Tapi ya kajian seringkali kurang berbobot.
Anda mau buka konser klasik, opera atau jazz di kampung-kampung ya nggak laku. Coba konser dangdut koplo, wah, itu orang tua dan muda pada jejingkrakan semalem suntuk. Dijamin deh!!!
---------- Post added at 01:16 AM ---------- Previous post was at 12:58 AM ----------
Nah justru itu. JIL itu terlalu vulgar. Jadi cara menawarkan dagangannya tidak benar. Dagang apapun asal caranya bagus ada kemungkinan tetap bisa laku. Kalau mereka tidak terlalu vulgar seperti itu, walaupun orang tidak tertarik, juga tidak membenci. Ulil itu memang harus belajar banyak. Intinya mereka itu kan Mu'tazilah. Di Indonesia dari dulu sudah banyak sekali Mu'tazilah hanya saja caranya halus. Orang-orang seperti Nurcholis Madjid, Dawam Rahardjo, Harun Nasution, Komaruddin Hidayat, dsb adalah contohnya. Tapi mereka jauh lebih halus daripada Ulil, jadi yang terang-terangan menentang merekapun hanya sedikit, setidaknya di mata orang awam mereka tidak bermasalah. Kegilaan Ulil yang sangat parah adalah kenekadannya mengikuti Arkoun mengenai Analisis Derrida tentang Dekonstruksi.
Apa yang dilakukan Ulil itu biasa-biasa aja kok dalam ranah keilmuan. Kritik dan dekonstruksi agama, hal yang biasa saja. Masalahnya adalah: Masyarakat kita tidak terbiasa melihat agama dihakimi dengan standart-standart ilmiah. Admit it!! Padahal, di kalangan akademisi terutama di barat mah biasa.
Di kalangan Kristen ada Ioanes Rakhmat. Dia seorang mantan pendeta GKI yang "murtad". Dia pernah mengkoreksi anggapan rekannya, Abd. Moqsith Ghazali, dalam sebuah diskusi di mana Pak Ioanes jadi pembicara. Abd. Moqsith, sebagai moderator, memperkenalkan Ioanes sebagai "seorang teolog". Ioanes mengkoreksinya, "saya bukan teolog, tapi kritikus teologi". "Kritikus teologi", sambungnya, "bertugas mendekonstruksi teologi".
Di kalangan Kristen, banyak yang memusuhi Ioanes. Tapi umumnya tidak ada yang sampai mengancam fisik. Padahal, Ioanes begitu gamblang mendekonstruksi teologi Kristen. Karena bukunya, "Membedah Soteriologi Salib", Ioanes berurusan dengan petinggi GKI yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Pendeta.
Ioanes JAUH lebih gahar dalam mendekonstruksi dan mengkritisi agamanya (bekas agamanya), ketimbang siapapun yang dicap "tokoh JIL". Dibandingkan Ioanes, Ulil Abshar itu masih terlalu halus.
Blognya Ioanes Rakhmat bisa dibaca di sini:
http://ioanesrakhmat.blogspot.com/
---------- Post added at 01:24 AM ---------- Previous post was at 01:16 AM ----------
Kalau bicara latar belakang memang Ulil punya punya basic yang kuat. Namun kelihatannya tujuan Ulil bukan itu sehingga pendekatan yang selalu dia lakukan sama sekali berbeda dari pendekatan yang dilakukan juru dakwah. Sedangkan JIL sendiri jelas bukan kelompok dakwah karena anggota-anggota yang lain punya latar belakang yang berbeda dari Ulil. Lagipula dari dulu kaum Mu'tazillah jarang berdakwah seperti lazimnya para juru dakwah. Biasanya mereka menyebarkan pahamnya melalui jalur pendidikan.
Banyak orang nggak ngerti JIL tapi sudah anti. Ngomongin JIL, yang dicecar selalu "Ulil". Padahal, Hamid Basyaib lebih vulgar ketimbang Ulil. Dalam sebuah wawancara di DW (Deustche Welle), pandangan Hamid sudah mengarah jelas ke Deisme. Secara "teknis", dia sudah keluar dari Islam.
Segmen wacana-wacana JIL, sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya, memang bukan untuk "orang awam". Ulil, tentu beda dong kelasnya dengan Uje, Mamah Dedeh, Aa Gym dan sejenisnya. Ulil itu kelas akademisi, bukan retoris panggung layaknya ustad-ustad selebriti tersebut.
---------- Post added at 01:36 AM ---------- Previous post was at 01:24 AM ----------
Kalo memang JIL gak laku, kenapa musti repot2 bikin gerakan Indonesia tanpa JIL ?
Karena MINDER! Tidak berani ghazwul fikri! Mengatakan "JIL tidak laku" cuma sebagai wujud ketakutan dan rendah diri saja. Karena dengan mengatakan seperti itu, dirinya merasa "besar". Yah, sekedar tombo ati karena tidak mampu melawan dengan intelektual.
Ayo, lawan JIL dengan intelektual!! MAMPU ATAU TIDAK?? Buat paper atau makalah yang menjabarkan sanggahan-sanggahan terhadap ide-ide JIL, upload di sini atau kirim artikelnya ke media massa, MAMPU ATAU TIDAK??
Banyak orang-orang JIL itu Doktor, atau minimal S2. Lawan mereka dengan cara intelek. Tulisan dibalas tulisan, artikel dibalas artikel. MAMPU ATAU TIDAK?? Saya yakin, sekelas Fauzi Baadila TIDAK MAMPU menerima tantangan ini. Itulah makanya, saya bisa menuduh "gerakan anti JIL" lebih tampak sebagai wujud KECEMBURUAN INTELEKTUAL SAJA.
---------- Post added at 01:41 AM ---------- Previous post was at 01:36 AM ----------
gak laku di grassroot iya, di orang t'pelajar adalah yg t'tarik. biasa kan, ada yg pro n kontra
JIL memang kelas intelektual. Jelas di grassroot nggak laku. Ibarat musik, mana ada grassroot dengar Jazz atau Klasik? Kalopun ada, JARANG!
Grassroot ya dangdut, SKA, ST 12, Kangen Band, dan band-band Malaysia.
---------- Post added at 01:43 AM ---------- Previous post was at 01:41 AM ----------
Btw, follow twitter saya: @tingnongtingcer
Kalau mau difolback, tinggal mention dan bilang dari Kopi Maya.
Ronggolawe
25-03-2012, 07:19 AM
Kenapa masyarakat "resah" dengan nikah beda agama? Kalo anda atau masyarakat tidak suka dengan nikah beda agama, ya JANGAN MENIKAH DENGAN SESEORANG YANG BERBEDA AGAMA!! Gampang to!
Apa JIL dan kawan-kawannya pernah MEMAKSA seorang Muslim untuk menikah beda agama? Saya rasa tidak. So what?
Kalo ada sepasang kekasih beda agama memutuskan untuk menikah, dan mereka tidak berkeberatan, SO WHAT? Mereka nikah nggak pake duit masyarakat kok.
Jujur ya: Anggapan JIL "meresahkan masyarakat dengan pemikirannya" itu cuma wujud kecemburuan ideologi saja. Kalo berani, ghazwul fikri dong! Pemikiran LAWAN dengan pemikiran. Minder?
emangnya ada yang mentungin JIL, Ish?
Selama ini JIL menang corong, giliran masyarakat
awam punya corong, mulai deh JIL kalah suara :)
JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?
intelek atau sok intelek, Ish?
itu dua hal yang berbeda...
Sepi bukan karena nggak laku. Tapi pindah media. Sekarang ramenya di twitter (follow @ulil, @assyaukanie, dkk deh). Sama aja kayak AK, dulu kan rame. Tapi pas udah ada FB dan Twitter, pada bedol desa deh semuanya.
#IndonesiaTanpaJil juga memanfaatkan Twitter
dan Facebook...
Tuduhan yang menarik. Begini: Ini pernah menjadi otokritik di salah satu diskusi JIL (saya hadir). Salah satu peserta memberi kritik terhadap kajian-kajian keagamaan JIL yang terkesan eksklusif dan "berat". Hal ini membuat ide-ide JIL hanya milik segelintir elite intelektual (mahasiswa, dosen dan akademisi umumnya). JIL tidak membumi, tidak masuk ke kampung-kampung seperti "para musuhnya" (Muslim garis keras).
Hal tersebut membuat orang awam tidak begitu mengenal ide-ide Islam liberal secara utuh. Mereka (orang awam) tahu JIL hanya dari ustad-ustad mereka di Masjid yang memang anti JIL. Jadi, ada ketimpangan opini di sini.
Makanya, banyak orang awam anti JIL hanya ikut-ikutan karena terpengaruh ustad mereka yang memang anti JIL, bukan karena ideologi. Apalagi dipanas-panasi bahwa JIL itu menghalalkan nikah beda agama. Tentu ini ide yang "nyeleneh" dan "tidak bisa diterima" di --terutama-- masyarakat kelas bawah yang rasa primordialismenya kuat. Padahal, ihwal boleh tidaknya nikah beda agama dalam Islam itu debatable. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Seharusnya sesuatu yang "debatable" jangan dihakimi secara sepihak. Lebih fair kalau dibuka ruang seluas-luasnya untuk dialektika. (Btw: bukankah Rosul menikahi Khadijah yang Kristen? Bukankah Yasser Arafat juga menikahi Suha yang Kristen?)
Seseorang atau siapapun boleh dan sangat boleh untuk tidak setuju dengan Islam liberal. Tapi, dimohon mampu bersikap secara fair. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Jadi ada diskusi, ada dialektika. Pemikiran tidak bisa dilawan dengan ancaman kekerasan. Diskusi di Utan Kayu, Freedom Institute, Salihara, terbuka untuk umum. Tidak dipungut bayaran pula, alias gratis! So, apa yang salah? Tidak ada! Yang salah itu kalo kumpul-kumpul lantas bergerak ke sana kemari untuk merusak properti orang. Itu yang salah dan harus ditindak tegas secara hukum!!
Faktanya, saat ini JIL sudah kalah suara, ketika
masyarakat awam yang tersadarkan mulai meng
gunakan media yang sama untuk memerangi JIL
betewe, saat menikahi Khadijah, Muhammad be
lum jadi Rasullullah, Ish, jadi belum bisa dicontoh.
---------- Post added at 06:18 AM ---------- Previous post was at 06:09 AM ----------
Udah pernah ikut diskusi di Utan Kayu? Kalo topiknya pas rame, itu aula teater penuh sesak. Apalagi seri Tadarus Ramadhannya, wah.. rame! Tapi ya itu, segmen JIL memang --otomatis-- terbatas. Yang datang cuma kalangan tertentu saja; Kebanyakan mahasiswa atau kalangan intelektual. Beda dengan Tabligh Akbar, segala tukang becak, pengangguran, dll pada muncul.
Ibarat musik, wacana Islam yang diketengahkan JIL itu bisa dianggap musik klasik atau jazz. Tidak "easy listening" tapi bukan berarti tidak berkualitas.
Nah, kalo Majelis Rasulullah, Ustad Jefri, Mamah Dedeh, Aa Gym, dkk ibarat musik ya DANGDUT. Sangat easy listening, sangat populer, dan digemari banyak orang. Tapi ya kajian seringkali kurang berbobot.
Anda mau buka konser klasik, opera atau jazz di kampung-kampung ya nggak laku. Coba konser dangdut koplo, wah, itu orang tua dan muda pada jejingkrakan semalem suntuk. Dijamin deh!!!
hahaha....
manusia sok intelek memang begitu, Ish, ngakunya
demen Klasik, Opera, atau Jazz...
padahal begitu dengar musik dangdut, diam-diam
ikut goyang, minimal goyang jempol :)
Apa yang dilakukan Ulil itu biasa-biasa aja kok dalam ranah keilmuan. Kritik dan dekonstruksi agama, hal yang biasa saja. Masalahnya adalah: Masyarakat kita tidak terbiasa melihat agama dihakimi dengan standart-standart ilmiah. Admit it!! Padahal, di kalangan akademisi terutama di barat mah biasa.
Di kalangan Kristen ada Ioanes Rakhmat. Dia seorang mantan pendeta GKI yang "murtad". Dia pernah mengkoreksi anggapan rekannya, Abd. Moqsith Ghazali, dalam sebuah diskusi di mana Pak Ioanes jadi pembicara. Abd. Moqsith, sebagai moderator, memperkenalkan Ioanes sebagai "seorang teolog". Ioanes mengkoreksinya, "saya bukan teolog, tapi kritikus teologi". "Kritikus teologi", sambungnya, "bertugas mendekonstruksi teologi".
Di kalangan Kristen, banyak yang memusuhi Ioanes. Tapi umumnya tidak ada yang sampai mengancam fisik. Padahal, Ioanes begitu gamblang mendekonstruksi teologi Kristen. Karena bukunya, "Membedah Soteriologi Salib", Ioanes berurusan dengan petinggi GKI yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Pendeta.
Ioanes JAUH lebih gahar dalam mendekonstruksi dan mengkritisi agamanya (bekas agamanya), ketimbang siapapun yang dicap "tokoh JIL". Dibandingkan Ioanes, Ulil Abshar itu masih terlalu halus.
Blognya Ioanes Rakhmat bisa dibaca di sini:
http://ioanesrakhmat.blogspot.com/
wakaka...
berbikini juga biasa dikalangan Barat, juga makan
babi.. kenapa itu harus loe paksakan untuk dijalan
kan oleh umat Islam?
Banyak orang nggak ngerti JIL tapi sudah anti. Ngomongin JIL, yang dicecar selalu "Ulil". Padahal, Hamid Basyaib lebih vulgar ketimbang Ulil. Dalam sebuah wawancara di DW (Deustche Welle), pandangan Hamid sudah mengarah jelas ke Deisme. Secara "teknis", dia sudah keluar dari Islam.
Segmen wacana-wacana JIL, sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya, memang bukan untuk "orang awam". Ulil, tentu beda dong kelasnya dengan Uje, Mamah Dedeh, Aa Gym dan sejenisnya. Ulil itu kelas akademisi, bukan retoris panggung layaknya ustad-ustad selebriti tersebut.
sudah kalah suara, Ish... pake ngeles sok Intelek :)
Karena MINDER! Tidak berani ghazwul fikri! Mengatakan "JIL tidak laku" cuma sebagai wujud ketakutan dan rendah diri saja. Karena dengan mengatakan seperti itu, dirinya merasa "besar". Yah, sekedar tombo ati karena tidak mampu melawan dengan intelektual.
Ayo, lawan JIL dengan intelektual!! MAMPU ATAU TIDAK?? Buat paper atau makalah yang menjabarkan sanggahan-sanggahan terhadap ide-ide JIL, upload di sini atau kirim artikelnya ke media massa, MAMPU ATAU TIDAK??
#IndonesiaTanpaJil, merupakan gerakan kaum awam,
Ish... dan itu sudah cukup untuk membungkam JIL.
soal kualitas pemikiran, loe juga jangan kuper dong,
ada bejibun buku dan makalah yang membongkar
ngawurnya pemikiran JIL :)
Banyak orang-orang JIL itu Doktor, atau minimal S2. Lawan mereka dengan cara intelek. Tulisan dibalas tulisan, artikel dibalas artikel. MAMPU ATAU TIDAK?? Saya yakin, sekelas Fauzi Baadila TIDAK MAMPU menerima tantangan ini. Itulah makanya, saya bisa menuduh "gerakan anti JIL" lebih tampak sebagai wujud KECEMBURUAN INTELEKTUAL SAJA.
ngakunya intelek, kok loe masih silau ama ijazah?
JIL memang kelas intelektual. Jelas di grassroot nggak laku. Ibarat musik, mana ada grassroot dengar Jazz atau Klasik? Kalopun ada, JARANG!
Grassroot ya dangdut, SKA, ST 12, Kangen Band, dan band-band Malaysia.
hahaha...
asal jangan begitu dengan musik kampung, jem
pol loe masih ikut goyang, Ish ::arg!::::arg!::
Btw, follow twitter saya: @tingnongtingcer
Kalau mau difolback, tinggal mention dan bilang dari Kopi Maya.
ups... loe ngga lagi taruhan dapatin 3000 follo
wer sebelum jam 12 malam nanti?
::hohoho::::hohoho::
purba
25-03-2012, 09:36 AM
Mungkin INSIST (Adian Husaini, Hamid Zarkasyi, dll) bisa dijadikan tandingan JIL (Ulil, Moqsith, dll). :))
ishaputra
25-03-2012, 10:42 AM
emangnya ada yang mentungin JIL, Ish?
Selama ini JIL menang corong, giliran masyarakat
awam punya corong, mulai deh JIL kalah suara :)
"Menang corong?" Memangnya corong JIL itu di mana saja? Wacana dan dakwah JIL itu DARI DULU memiliki segmen yang eksklusif (dan ini menjadi otokritik di kalangan JIL sendiri, sudah saya katakan di atas). Kalopun ada artikel yang ditulis di media massa, kebanyakan muncul di Kompas atau Koran Tempo. Nah, kita tahu siapa aja segmen dua media tersebut. Umumnya adalah kelas intelektual menengah ke atas.
Aneh kalo tiba-tiba ada yang "menuduh" JIL menang corong, dan tiba-tiba pula, diikuti tuduhan: "karena orang awam punya corong" maka JIL kalah suara".
Emang pernah ada kontestasi seperti itu?
intelek atau sok intelek, Ish?
itu dua hal yang berbeda...
Tanggapan anda sepertinya tidak bermutu, dangkal. Terdengar seperti "asal kontra" atau "asal kejawab".
#IndonesiaTanpaJil juga memanfaatkan Twitter
dan Facebook....
So what? Nggak ada argumen babarblas!
Faktanya, saat ini JIL sudah kalah suara, ketika
masyarakat awam yang tersadarkan mulai menggunakan media yang sama untuk memerangi JIL....
"Memerangi JIL?" Bhuakakakaka..... Bagaimana WUJUD memeranginya? Ide dan pemikiran kok diperangi cuma dengan koar-koar dan statment "Indonesia tanpa JIL?"
betewe, saat menikahi Khadijah, Muhammad be
lum jadi Rasullullah, Ish, jadi belum bisa dicontoh.
Berarti itu suatu tindakan yang tidak terpuji?
hahaha....
manusia sok intelek memang begitu, Ish, ngakunya
demen Klasik, Opera, atau Jazz...
padahal begitu dengar musik dangdut, diam-diam
ikut goyang, minimal goyang jempol :).
Tanggapan yang tidak ada substansinya, tidak bermutu. Wacana JIL memang kenyataannya kelas intelektual menengah ke atas. Yang datang ke situ kebanyakan memang sudah bidangnya. Salah satunya adalah kelompok Mahasiswa UIN. Apa itu sok intelek?
Misalkan ada orang kuliah Seni, terus ikut diskusi Seni, apa itu "sok intelek?"
Tuduhan anda itu pointless, dan sepertinya hanya menunjukkan kecemburuan intelektual saja. Toh saya lihat, dari tadi anda belum satupun melontarkan bantahan substansial "kenapa harus anti JIL".
berbikini juga biasa dikalangan Barat, juga makan
babi.. kenapa itu harus loe paksakan untuk dijalan
kan oleh umat Islam?
Jadi, umat Islam menolak pendekatan kritis dan dekonstruktif atas agama Islam, begitu? Hahahaha.....
Kalo ada umat Islam yang tidak suka pendekatan kritis dan dekonstruktif terhadap agama Islam, ya silakan. Oke-oke saja kok. Tapi jika ada umat Islam yang setuju dengan pendekatan kritis dan dekonstruktif terhadap agamanya, anda juga tidak bisa melarang. Adil kan?
sudah kalah suara, Ish... pake ngeles sok Intelek :)?
KALAH SUARA?? Memangnya kalo "menang suara" berarti BENAR begitu? Berarti, sesuatu itu BENAR karena "banyak yang menyuarakan" ya, bukan karena argumentasi rasional?? Bandwagon fallacy! (Ternyata kualitas "para anti JIL" cuma segini.)
#IndonesiaTanpaJil, merupakan gerakan kaum awam,
Ish... dan itu sudah cukup untuk membungkam JIL.
Ya nggak cukuplah! Hahahaha..... Sebuah ide/pemikiran kok dilawan dengan teriakan yang menentang ide tersebut. Nggak nyambung!
#soal kualitas pemikiran, loe juga jangan kuper dong,
ada bejibun buku dan makalah yang membongkar ngawurnya pemikiran JIL :).
Dan ada bejibun buku yang menjawab. Biarlah, pemikiran bertanding di level pemikiran. Buku dilawan buku, ide dilawan ide. Tidak ada masalah sedikitpun ada kritisisasi terhadap pemikiran JIL. Itu bagian dari dialektika. Tapi, apa hubunganya dengan "orang awam" dan aksi menentang JIL yang dangkal itu? Kalo memang mau menentang, ya tulis aja buku atau artikel! Apa anda dulu nggak pernah kuliah? Nggak pernah berkecimpung di ranah akademik?
Makanya, saya berani bilang: Aksi gerakan anti JIL itu cuma wujud kecemburuan intelektual saja. Dangkal dan tanpa argumen. Masa ide/pemikiran intelektual dilawan pake demo di HI? Banyak orang tidak tahu apa-apa tentang JIL, tapi sudah terprovokasi untuk menentang.
#ngakunya intelek, kok loe masih silau ama ijazah?
Dalam konteks ini, gelar kesarjanaan itu menunjukkan standart keilmuan. Mereka membicarakan sesuatu yang sudah merupakan bidang mereka. Dalam kerangka bidang tersebut, latar belakang akademik (gelar) penting (meskipun bukan segala-galanya).
Misalnya ada wacana formalisasi syariat Islam. Wacana ini kan nggak bisa dilihat cuma dari satu perspektif saja (sekedar menurut agama Islam). Tapi bisa dari beragam perspektif. Ada pakar antropologi, pakar fikih, pakar ilmu politik, pakar sejarah, dan seterusnya yang bisa ikut andil memberikan pendapat. Di sinilah nanti terjadi dialektika, dan itulah diskusi.
Bisa saja para pakar itu salah, tapi "salah"-nya mereka tentu berbeda dengan salahnya orang awam. Dan kesalahan itu akan bisa dikoreksi di forum diskusi. Itu sudah "nature"-nya para akademisi dan kaum intelektual. Dan dari kesalahan itulah, ilmu itu terus berkembang.
Sikap yang salah itu adalah sikap yang menentang suatu pemikiran, tapi sebagian besarnya cuma koar-koar anti terhadap pemikiran tersebut. Tidak ada diskusi, tidak ada dialektika.
Makanya saya katakan: Banyak buku yang kontra pendapat dengan JIL itu "natural" dan bagian dari dialektika. Tidak perlu anda "nggumun", karena sebuah pemikiran itu menjadi sempurna dan matang salah satunya karena peran pendapat yang kontra. Lantas kenapa juga kan harus turun ke jalan menolak sebuah pemikiran? Nggak nyambung!!
---------- Post added at 09:42 AM ---------- Previous post was at 09:33 AM ----------
Mungkin INSIST (Adian Husaini, Hamid Zarkasyi, dll) bisa dijadikan tandingan JIL (Ulil, Moqsith, dll). :))
Adian Husaini yang dokter hewan itu? ::arg!::::arg!::
Point saya: Silakan memerangi pemikiran JIL. Itu bagian dari kebebasan berpendapat. Tapi, jangan sampe ada "pembungkaman" atau "ancaman fisik" terhadap siapapun yang dituding Muslim liberal. Karena menjadi Muslim liberal juga bagian dari kebebasan berpendapat, betapapun tidak setujunya anda.
Silakan, ide dilawan dengan ide. Buku dibalas buku. Artikel dibalas artikel.
Sejujurnya, saya melihat di thread ini mereka yang "anti JIL" TIDAK BISA/TIDAK MAMPU mengurai kontra opininya dengan baik. Kebanyakan cuma modal koar-koar saja. Kenapa sih? Kalo mereka pernah kuliah kan pasti tahu dan paham bagaimana "nature"-nya kaum intelektual. Boleh saja nggak setuju, tapi uraikan pandangan anda secara argumentatif.
Sejak era AK sampe KM, kayaknya penyakit para fanatik agama itu sama saja. Saya butuh sparing partner yang bagus. Karena dengan sparing partner yang bagus, saya bisa meningkatkan kadar wawasan saya.
Kualitas diskusi tidak akan meningkat selama para pesertanya cuma bisa posting sebaris-dua-baris, cuma bisa "ngetroll" opini yang tidak disetujuinya, dan selama cuma bisa copy-paste link tanpa opini pengantar.
BundaNa
25-03-2012, 11:15 AM
berarti JIL tidak membumi, gak berbicara pake bahasa masyarakat...dan sorry Ish, lu kan bukan Islam. Di Islam gak ada tuh bicara sok mengawang2, harus bisa diterima masyarakat. Jadi, JIL gagal buat membuat mereka diterima masyarakat. Mereka bukan intelektual, lebih tepatnya sok intelek biar dianggap beda. Dan apakah dengan berbeda mereka bisa diterima masyarakat? -_-
danalingga
25-03-2012, 11:27 AM
^ Tidak membumi bagi kalangan tertentu Bunda, tapi membumi bagi kalangan yang lain.
BundaNa
25-03-2012, 11:28 AM
ah tidak, Islam itu bahasa kaum...mestinya ini yang dipahami JIL...menyerukan kebenaran mereka ya pake bahasa kaum, bukan bahasa sok intelek
ishaputra
25-03-2012, 12:06 PM
berarti JIL tidak membumi, gak berbicara pake bahasa masyarakat...dan sorry Ish, lu kan bukan Islam. Di Islam gak ada tuh bicara sok mengawang2, harus bisa diterima masyarakat. Jadi, JIL gagal buat membuat mereka diterima masyarakat. Mereka bukan intelektual, lebih tepatnya sok intelek biar dianggap beda. Dan apakah dengan berbeda mereka bisa diterima masyarakat? -_-
Masyarakat yang mana? Audience JIL juga kebanyakan orang Islam kok. Dan mereka ngerti, saya sendiri ngerti. Makanya bu, main ke Utan Kayu dan saksikan diskusinya.
Audience kajian Islam JIL TIDAK SAMA dengan audiencenya Aa Gym, Uje atau Mamah dedeh! Segmentasi wacananya berbeda! Jadi bukan bermaksud "tidak membumi".
Jujur yah, anda sama sekali tidak paham apa-apa sepertinya. Menyalahkan JIL tapi tidak mampu memberi sanggahan intelek atas ide-ide JIL. Coba deh, anda buat satu thread yang mengkritisi substansi pemikiran JIL (tulisan sendiri). Nanti saya akan tanggapi. Saya mau tahu sejauh mana anda mengetahui/memahami Islam liberal dan seperti apa kritik anda terhadapnya.
Kajian Islam yang sering diketengahkan JIL (dalam seri-seri diskusi di Utan Kayu) memang wacana akademik. Bukan "tausyiah" kelasnya Uje atau Aa Gym. Jadi kalo anda cermati diskusinya, itu sama saja seperti kuliah. Di Salihara juga sering ada kuliah umum. Dan ketika topiknya bukan agama, saya yakin anda juga tidak akan protes. Hanya karena kebetulan topik agama, jadi protes. Jadi bukan masalah sok pinter atau apa. Agama apapun, termasuk Islam, memang BISA dikaji dengan pendekatan ilmiah.
Makanya, saya bilang di atas: Kebencian orang awam terhadap JIL itu lebih disebabkan oleh kecemburuan intelektual saja (faktor jealous) bukan faktor pemikiran. Merasa agamanya "dikritisi" tapi tidak mampu memberi sanggahan yang sekelas, lantas kelimpungan dan emosi.
Pendekatan ilmiah atas agama memang seringkali bersifat kritis dan dekonstruktif. Agama dikaji dengan jarak. Dan kajian-kajian seperti ini memang bukan "dakwah umum" sebagaimana yang sering anda saksikan di TV. Apakah hanya karena masyarakat awam "tidak bisa nangkep" wacana semacam itu, lantas wacana semacam itu menjadi tidak perlu? Ya enggak! Mubazir dong ada fakultas filsafat, ada fakultas ini-itu yang mengkaji agama sampe tingkat tinggi.
Jujur yah, justru saya melihat ceramah-ceramah agama di TV itu DANGKAL dan tidak bermutu (Aa Gym, Uje, Mamah Dedeh dkk). Masalah yang dikaji itu masalah sepele. Easy listening memang, tapi tidak bergizi. Sejauh pengamatan saya, acara agama Islam paling bermutu itu adalah acara yang dibawakan Quraish Shihab. Tapi, Qurash jarang-jarang muncul di TV. Nah, Quraish itu adalah tipikal selera saya. Menonton paparan Quraish, seperti kuliah. Tidak ada jokes norak, serius dan berbobot.
---------- Post added at 11:06 AM ---------- Previous post was at 11:01 AM ----------
ah tidak, Islam itu bahasa kaum...mestinya ini yang dipahami JIL...menyerukan kebenaran mereka ya pake bahasa kaum, bukan bahasa sok intelek
"Kaum" apa? Apa yang dimaksud "bahasa sok intelek?" Bisa diurai secara detil, dan lebih bagus kalau buat thread baru? Silakan!
Saya khawatir, tuduhan anda itu bias emosi pribadi karena "jealous" dengan wacana JIL. Merasa terkritik, tapi tidak bisa menyanggah karena memang tidak mampu.
Ray Surya
25-03-2012, 12:31 PM
gw gak suka quraish Sihab. ustadz kok anaknya gak pakai jilbab. ::ungg::
ishaputra
25-03-2012, 12:35 PM
gw gak suka quraish Sihab. ustadz kok anaknya gak pakai jilbab. ::ungg::
Kenapa harus pake jilbab? Yang penting kan pakaiannya sopan. Lagipula, anaknya sudah dewasa. Bebas menentukan bagaimana cara berpakaian, dan tentu saja bertanggungjawab.
purba
25-03-2012, 12:47 PM
Adian Husaini yang dokter hewan itu? ::arg!::::arg!::
Nah, respon anda ini tidak berbeda dgn respon para anti-JIL. :))
Adian Husaini memang S1 lulusan kedokteran hewan tetapi ketika S3 dia mengambil studi Islam di Malaysia (CMIIW).
Ada perbedaan mendasar antara INSIST dan JIL dalam mengaji Islam. INSIST berpijak pada keyakinan Quran sbg teks ilahiyah yg memiliki kebenaran absolut. Itu sangat berbeda dgn JIL yg memandang Quran sbg dialektika tuhan dan manusia. Saya masih melihat JIL sebagai orang-orang yg masih takut neraka tetapi tidak mau ketinggalan jaman. JIL berusaha reinterpretasi ajaran Islam sesuai dgn konteks kekinian. Tetapi apakah demikian maksud para pendiri Islam dulu (Muhammad cs)? Atau justru INSIST yg lebih dekat dgn maksud para pendiri Islam tsb?
:))
BundaNa
25-03-2012, 01:30 PM
sy ga ada dendam pribadi n urusan sama JIL. justru sy aneh liat non islam getol banget bela2in JIL, agenda? -_-
ishaputra
25-03-2012, 01:54 PM
sy ga ada dendam pribadi n urusan sama JIL. justru sy aneh liat non islam getol banget bela2in JIL, agenda? -_-
Nggak ada yang lebih elaboratif lagi apa komentarnya? Coba, tunjukkan saja --menurut pendapat anda-- di mana pokok-pokok pemikiran JIL yang keliru. Kalo perlu buat thread tersendiri. Itu lebih bermutu dan bisa menjadi wawasan baru bagi saya.
Nah, respon anda ini tidak berbeda dgn respon para anti-JIL. :))
Cuma memastikan saja. Adian Husaini yang dokter hewan itu ya? Takut salah... soalnya di kampung saya, ada tukang onde-onde namanya Adian Husaini. ::hihi::
Adian Husaini memang S1 lulusan kedokteran hewan tetapi ketika S3 dia mengambil studi Islam di Malaysia (CMIIW).
S2 nya apa? Teknik sipil? ::hihi::
Ada perbedaan mendasar antara INSIST dan JIL dalam mengaji Islam. INSIST berpijak pada keyakinan Quran sbg teks ilahiyah yg memiliki kebenaran absolut. Itu sangat berbeda dgn JIL yg memandang Quran sbg dialektika tuhan dan manusia. Saya masih melihat JIL sebagai orang-orang yg masih takut neraka tetapi tidak mau ketinggalan jaman. JIL berusaha reinterpretasi ajaran Islam sesuai dgn konteks kekinian. Tetapi apakah demikian maksud para pendiri Islam dulu (Muhammad cs)? Atau justru INSIST yg lebih dekat dgn maksud para pendiri Islam tsb?
Semua kitab suci, kalo dipelajari atas dasar keyakinan "bahwa kitab suci ini benar dan tidak mungkin salah", hasilnya ya "agama ini adalah agama yang paling benar". Nggak di Islam, nggak di Kristen, ya begitu.
Primbon juga kalo dikaji dengan dasar keyakinan bahwa "semua teks ini adalah benar", hasilnya ya tidak akan ada kesalahan dalam primbon.
purba
25-03-2012, 02:49 PM
Semua kitab suci, kalo dipelajari atas dasar keyakinan "bahwa kitab suci ini benar dan tidak mungkin salah", hasilnya ya "agama ini adalah agama yang paling benar". Nggak di Islam, nggak di Kristen, ya begitu.
Primbon juga kalo dikaji dengan dasar keyakinan bahwa "semua teks ini adalah benar", hasilnya ya tidak akan ada kesalahan dalam primbon.
Ah kirain mo diskusi secara intelek, nyatanya cuma olok2 saja. Gak beda dgn yg anti-JIL... :))
Sekali lagi saya coba utk diskusi secara intelek. Baik INSIST maupun JIL masing-masing memiliki pijakan dlm menelaah Quran. Misalnya masalah pluralisme (bukan pluralitas). INSIST menolak pluralisme, sementara JIL menerimanya, meski keduanya mendasari pendapatnya dgn Quran. Kok bisa berbeda meski sumbernya sama? Ini karena pijakan tadi. Bisa jadi memang INSIST yg benar bahwa Quran tidak mengajarkan pluralisme. Jika demikian, JIL terlihat justru memaksakan keinginannya bahwa Quran mengajarkan pluralisme. Dalam hal ini JIL seperti tidak mau lepas dari Islam tetapi tidak mau lagi berislam seperti founding fathers-nya. Kalau saya bilang, JIL masih takut neraka. Dilihat dari namanya "Jaringan Islam Liberal", itu sudah menunjukkan bahwa mereka adalah para umat Islam yg tidak mau lagi berislam seperti founding fathers-nya tetapi masih takut neraka. Kalau mereka berani, jangan pakai lagi nama Islam. Para orientalis Barat adalah dalam posisi yg lebih tepat dlm mengaji Quran dibandingkan JIL. Mereka bukan muslim, dengan begitu mereka tidak perlu takut dgn neraka dan tidak terikat dgn keyakinan Quran sbg kebenaran absolut.
:))
BundaNa
25-03-2012, 03:18 PM
bikin aja thread sendiri, yg butuh pengakuan bukan gw ;)) ah katanya intelek, tpi suka m'hina n standart ganda :lololol:
ishaputra
25-03-2012, 05:22 PM
bikin aja thread sendiri, yg butuh pengakuan bukan gw ;)) ah katanya intelek, tpi suka m'hina n standart ganda :lololol:
Simpel jawabannya: Anda nggak mampu. Anda menolak JIL karena faktor "tidak suka" saja. Tidak ada landasan konsepnya sama sekali. Disuruh menjabarkan, tidak mampu. Lagipula, sejak awal thread komentar anda juga tidak berkualitas. Cuma sebaris dua baris, sepertinya yang penting asal kejawab saja.
E = mc²
25-03-2012, 05:42 PM
Cuma memastikan saja. Adian Husaini yang dokter hewan itu ya? Takut salah... soalnya di kampung saya, ada tukang onde-onde namanya Adian Husaini. ::hihi::
S2 nya apa? Teknik sipil? ::hihi::
Dawam Raharjo juga lulusan sarjana ekonomi kok :D
ishaputra
25-03-2012, 05:43 PM
Ah kirain mo diskusi secara intelek, nyatanya cuma olok2 saja. Gak beda dgn yg anti-JIL... :))
Sebelah mana yang olok-olok?
Sekali lagi saya coba utk diskusi secara intelek. Baik INSIST maupun JIL masing-masing memiliki pijakan dlm menelaah Quran.
Tentu saja. Yang jadi persoalan berikutnya: Pijakan mana yang lebih realistis?
Memandang Alquran sebagai "kitab suci" yang sudah pasti benar, atau memandang Alquran sebagai "teks biasa" yang muncul di Arab abad ke 7, dan melakukan penafsiran secara hermeneutik terhadapnya?
Bisa jadi memang INSIST yg benar bahwa Quran tidak mengajarkan pluralisme. Jika demikian, JIL terlihat justru memaksakan keinginannya bahwa Quran mengajarkan pluralisme. Dalam hal ini JIL seperti tidak mau lepas dari Islam tetapi tidak mau lagi berislam seperti founding fathers-nya. Kalau saya bilang, JIL masih takut neraka.
Oke. Tapi pada bagian ini, harus dielaborasi dengan agak rinci.
Apa itu pluralisme? Bagian ayat mana dalam Alquran yang tidak mengajarkan pluralisme? Dan seterusnya.
Saya melihat, JIL memang tidak sedang mempromosikan cara berislam yang PERSIS seperti founding fathernya. Apakah itu salah? Saya melihatnya, tidak ada yang salah. Justru masuk di akal, karena zaman berubah dan agama harus menyesuaikan diri dengan perubahan. Agama apapun harus seperti itu jika mau tetap eksis dengan fleksibel di jaman sekarang.
Pertanyaannya: Bagian mana dari agama yang mesti bisa menyesuaikan diri dengan zaman? Jawabnya: Yaitu bagian-bagian "horizontal" yang menyentuh hubungan bermasyarakat. Sedangkan JIL, sejauh pengamatan saya, tidak mempersoalkan (mengutak-utik) bagian-bagian ajaran agama yang vertikal (ibadah murni). (Makanya, bagi para rekan yang "anti JIL", dimohon pahami dan kuasai apa itu manifesto JIL, dan kalau bisa ikuti serial-serial diskusinya. Jangan taunya cuma separo-paro, langsung pasang sikap anti)
purba
26-03-2012, 12:46 AM
Tentu saja. Yang jadi persoalan berikutnya: Pijakan mana yang lebih realistis?
Memandang Alquran sebagai "kitab suci" yang sudah pasti benar, atau memandang Alquran sebagai "teks biasa" yang muncul di Arab abad ke 7, dan melakukan penafsiran secara hermeneutik terhadapnya?
Coba anda jawab, mana yg lebih realistis?
INSIST adalah para muslim yg konsisten dgn kemuslimannya. Karena mereka muslim, sudah selayaknya mereka menelaah segala sesuatu dari pijakan mereka bahwa Quran adalah perkataan tuhan yg mutlak dan sudah pasti benar. Seandainya mereka memperlakukan Quran sebagai teks biasa, tentu tidak konsisten. Akan sangat lucu, seseorang yg mengaku muslim tetapi memperlakukan Quran sbg teks biasa. Itulah yg dilakukan JIL. Sangat berbeda jika telaah Quran sbg teks biasa dilakukan oleh nonmuslim. Para orientalis nonmuslim yg menelaah Quran sbg teks biasa justru itu yg konsisten.
Saya melihat, JIL memang tidak sedang mempromosikan cara berislam yang PERSIS seperti founding fathernya. Apakah itu salah? Saya melihatnya, tidak ada yang salah. Justru masuk di akal, karena zaman berubah dan agama harus menyesuaikan diri dengan perubahan. Agama apapun harus seperti itu jika mau tetap eksis dengan fleksibel di jaman sekarang.
Memang tidak salah dan bukan masalah salah atau benar, tapi masalah konsistensi. Yg ingin saya tuju adalah originalitas Islam. Jika Islam memang seperti INSIST, ya itulah Islam. Malahan saya melihat INSIST sbg orang-orang yg berani mengatakan beginilah Islam. Dan, itu seharusnya sejalan dgn telaah orientalis nonmuslim ttg Islam.
Pertanyaannya: Bagian mana dari agama yang mesti bisa menyesuaikan diri dengan zaman? Jawabnya: Yaitu bagian-bagian "horizontal" yang menyentuh hubungan bermasyarakat. Sedangkan JIL, sejauh pengamatan saya, tidak mempersoalkan (mengutak-utik) bagian-bagian ajaran agama yang vertikal (ibadah murni).
Karena itu saya katakan JIL masih takut neraka. :))
choodee
26-03-2012, 01:43 AM
JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?
Lah kan sebelumnya gw sebut, pas jaman kuliah S1, means maksud gw dakwah2 yg gencar dilakukan di kampus2, bukan masjid kampung ;D jadi di kampus yg isinya kaum intelek aja hampir ga kedengaran jadi kaum intelek mana yang bisa mengerti JIL?
BundaNa
26-03-2012, 02:51 AM
oh jawaban saya emang ga b'kualitas krn saya ga merasa perlu keminter buat berislam secara kaffah kog -_-
---------- Post added at 12:49 AM ---------- Previous post was at 12:43 AM ----------
@choode: itu yg gw bilang si isha standar ganda. dia bilang isi JIL org2 intelek. nah yg diluar JIL ga intelek gitu? ;))
---------- Post added at 12:59 AM ---------- Previous post was at 12:49 AM ----------
JIL bukan m'bawa Islam dalam kekinian, tapi menabrak Islam dgn diskusi2 hanya untuk melegalkan pandangan mereka.
---------- Post added at 01:02 AM ---------- Previous post was at 12:59 AM ----------
memisahkan ibadah horizontal dgn ibadah murni? itu aneh, padahal ayat qur'an bilang berislam secara kaffah. so gmn JIL?
---------- Post added at 01:06 AM ---------- Previous post was at 01:02 AM ----------
isha bilang antiJIL ga bs m'bantah argumen JIL? atau malas b'debat kusir dgn JIL? n saat nolak JIL dianggap ga intelek?
---------- Post added at 01:09 AM ---------- Previous post was at 01:06 AM ----------
ada banyak cendikiawan muslim n memilih "nyueki" JIL, lalu mrk dianggap ga intelek? apa itu bukan standart ganda ya? :))
---------- Post added at 01:13 AM ---------- Previous post was at 01:09 AM ----------
menertawakan latar belakang pendidikan cendikiawan muslim di luar JIL, apa itu bukan melecehkan ya? ;))
---------- Post added at 01:17 AM ---------- Previous post was at 01:13 AM ----------
masalah kawin campur, kl bilang tentang ahli kitab, justru JIL kembali ke masa lalu. bagian mana JIL sbg islam kekinian?
---------- Post added at 01:21 AM ---------- Previous post was at 01:17 AM ----------
knp saya males ngomong panjang2 td? krn toh isha posting panjang2 itu intinya 1, JIL intelek, diluar JIL bukan. p'hinaan
---------- Post added at 01:24 AM ---------- Previous post was at 01:21 AM ----------
memang bahasanya halus, "awam" blabla yadayada, tapi maksudnya jelas, yg diluar JIL bodoh krn ga ngikutin JIL :lololol:
---------- Post added at 01:29 AM ---------- Previous post was at 01:24 AM ----------
pdhl benarkah JIL m'dobrak Islam? ato jangan2 nabrak Islam hingga jadi keping2? ingin tetap dibilang muslim tp melenceng
---------- Post added at 01:32 AM ---------- Previous post was at 01:29 AM ----------
kawin campur dibilang sama dgn poligami, menyakiti hati tetapi bisa dilaksanakan? argumen dr mana? dasarnya saja beda
---------- Post added at 01:36 AM ---------- Previous post was at 01:32 AM ----------
poligami mesti berat menerima, tetapi ada di Islam. kawin campur? ada syarat akad dn keluarga sakinah yg sudah dilanggar
---------- Post added at 01:40 AM ---------- Previous post was at 01:36 AM ----------
p'nikahan dlm Islam adlh m'bentuk keluarga sbg sendi hidup Islam, bukan sekedar melegalkan s3.x. nikah campur memenuhi?
---------- Post added at 01:47 AM ---------- Previous post was at 01:40 AM ----------
nah dr sana saja JIL sudah ga kaffah masih maksa disebut muslim (tapi) liberal? ;)) so antiJIL bodoh? apa ga kebalik? ;D
---------- Post added at 01:51 AM ---------- Previous post was at 01:47 AM ----------
abis ini isha pasti ngomong blabla yadayada, intinya 1, antiJIL ga intelek, n JIL great moslem. monggo lah ;)) dont care
hajime_saitoh
26-03-2012, 09:48 AM
wew Bundana postingannya kepisah2 semua....
JIL hanya melihat Ibadah itu yang vertikal saja... padahal ibadah2 sosial pun sudah ada tuntunannya dalam Al-Quran, contoh nikah, waris, jilbab (hijab) dll... mereka tidak melranggar ibadah2 ritual tersebut entah karena apa.. namun mereka dengan berani menolak hukum2 tentang ibadah sosial yang ada di Al-Quran.. jadinya sebenarnya JIL itu mau apa... mau beragama sesuai dengan keinginan akal mereka, atau mau beragama sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallollohu alaihi wa sallam?
BundaNa
26-03-2012, 05:01 PM
pake hp om hajime...hape ga keren::hihi::
ishaputra
27-03-2012, 02:41 AM
Lah kan sebelumnya gw sebut, pas jaman kuliah S1, means maksud gw dakwah2 yg gencar dilakukan di kampus2, bukan masjid kampung ;D jadi di kampus yg isinya kaum intelek aja hampir ga kedengaran jadi kaum intelek mana yang bisa mengerti JIL?
Memang harus diakui: Pandangan Islam yang liberal, justru laris di kampus-kampus Islam seperti UIN (di jurusan-jurusan yang terkait). Hipotesanya: Karena mereka lebih mengerti agama (lha wong jurusannya agama). Memang tidak semua mahasiswa UIN memiliki corak pandang yang liberal, tetapi bisa ditelaah bahwa ide-ide liberalisasi agama (dalam hal ini Islam), lebih ramai di sana.
Hal ini berbeda dengan kampus-kampus non-agama, di mana para mahasiswanya tidak studi agama "sedalam" rekan-rekan mereka yang memang mengambil jurusan agama.
Kajian-kajian dekonstruksi agama itu memang kajian yang "elitis". Suka tidak suka, kita harus akui ini.
Sebenarnya tidak hanya UIN, di STF Driyarkara, banyak pula pastur-pastur di sana, juga mahasiswanya, yang berpandangan liberal dan melakukan pendekatan kritis atas agamanya. Dan ini sebenarnya sesuatu yang biasa-biasa saja dalam konteks kajian agama dan filsafat.
---------- Post added at 01:41 AM ---------- Previous post was at 01:12 AM ----------
choode: itu yg gw bilang si isha standar ganda. dia bilang isi JIL org2 intelek. nah yg diluar JIL ga intelek gitu?
Apa sih itu "standar ganda?" Emang yang kayak begitu namanya "standar ganda?" Anda boleh mengkritik, tapi pakailah istilah yang tepat supaya maksud atau point kritiknya bisa dipahami.
JIL bukan m'bawa Islam dalam kekinian, tapi menabrak Islam dgn diskusi2 hanya untuk melegalkan pandangan mereka.
Uraikan dong, biar lebih jelas. Anda dari tadi tak punya argumentasi apa-apa.
memisahkan ibadah horizontal dgn ibadah murni? itu aneh, padahal ayat qur'an bilang berislam secara kaffah. so gmn JIL?
Ibadah murni itu ibadah vertikal. Seperti sholat, misalnya. Sedangkan agama tidak hanya mengatur hal-hal yang bersifat "ibadah murni", tapi juga hubungan bermasyarakat.
Nah, hal-hal yang mengatur hubungan bermasyarakat itulah yang tidak bisa dimutlakkan, karena MASYARAKAT BERUBAH. Ada perubahan nilai-nilai, ada perubahan peta politik, ada perubahan kultur-budaya dan seterusnya.
isha bilang antiJIL ga bs m'bantah argumen JIL? atau malas b'debat kusir dgn JIL? n saat nolak JIL dianggap ga intelek??
Apa bedanya "malas berdebat" dengan "tidak mampu berdebat?"
Atau jangan-jangan, anda memang tidak mampu berdebat karena minder dengan tingkat wawasan anda. Tapi supaya tidak malu bilang saja "saya malas berdebat kusir".
isha ada banyak cendikiawan muslim n memilih "nyueki" JIL, lalu mrk dianggap ga intelek? apa itu bukan standart ganda ya?
Contohnya siapa? "Nyuekin" itu maksudnya bagaimana?
Anda ini sepertinya dengan sekuat tenaga ingin "menghindari debat", karena MINDER dengan tingkat wawasan anda. Anda ingin bersikap menolak JIL tapi tidak mau terbeban dengan tanggungjawab memberi penjelasan.
isha menertawakan latar belakang pendidikan cendikiawan muslim di luar JIL, apa itu bukan melecehkan ya?
Siapa yang mentertawakan? Siapa yang melecehkan?
isha masalah kawin campur, kl bilang tentang ahli kitab, justru JIL kembali ke masa lalu. bagian mana JIL sbg islam kekinian?
Menurut pendapat anda: Kawin campur dalam Islam itu BOLEH ATAU TIDAK?
knp saya males ngomong panjang2 td? krn toh isha posting panjang2 itu intinya 1, JIL intelek, diluar JIL bukan. p'hinaan
Kalo di luar JIL intelek, BUKTIKAN. Nggak usah jauh-jauh, MULAI DARI ANDA SENDIRI. Tunjukkan point-point mana di mana JIL itu keliru, dan bagaimana yang benar. Kita boleh adu opini di sini. Silakan!! (Kalau bisa, tulis dalam bentuk artikel dalam thread tersendiri. Nanti akan saya tanggapi dengan baik).
Tidak perlu lagi menanggapi hal-hal yang tidak substansial. Mari masuk ke substansinya langsung
memang bahasanya halus, "awam" blabla yadayada, tapi maksudnya jelas, yg diluar JIL bodoh krn ga ngikutin JIL :lololol:
Buktikan bahwa tuduhan saya salah. Mulai dari diri anda sendiri.
pdhl benarkah JIL m'dobrak Islam? ato jangan2 nabrak Islam hingga jadi keping2? ingin tetap dibilang muslim tp melenceng
Contohnya apa? Silakan elaborasi, jangan cuma statement sepotong-potong. Sukar dipahami.
kawin campur dibilang sama dgn poligami, menyakiti hati tetapi bisa dilaksanakan? argumen dr mana? dasarnya saja beda
1. Boleh tau, tuduhan itu dapat darimana? (Maksudnya, ada artikel atau buku yang bercorak Islam liberal yang pernah mengatakan itu?)
2. Kalo kawin campur dibilang "menyakiti hati", maka hati siapa yang tersakiti?
poligami mesti berat menerima, tetapi ada di Islam. kawin campur? ada syarat akad dn keluarga sakinah yg sudah dilanggar
Kawin campur itu maksudnya kawin beda agama? Bukankah Alquran memperbolehkan kawin dengan perempuan Ahlul Kitab?
p'nikahan dlm Islam adlh m'bentuk keluarga sbg sendi hidup Islam, bukan sekedar melegalkan s3.x. nikah campur memenuhi?
Kembali ke komentar saya sebelumnya: Bukankah Alquran melegalkan lelaki Muslim menikahi perempuan Ahli Kitab?
nah dr sana saja JIL sudah ga kaffah masih maksa disebut muslim (tapi) liberal? ;)) so antiJIL bodoh? apa ga kebalik? ;D[
Apakah ada SATU SAJA, kelompok aliran Islam yang mewakili apa itu Islam secara sebenar-benarnya? Sunni pun menganggap Syiah itu sesat dan keliru. Demikian pula sebaliknya.
Di antara sesama Sunni, pentakfiran itu pun marak terjadi. Contoh, Abu Bakar Baasyir menganggap Muslim yang tidak setuju negara Islam, batal syahadatnya. Lho, bagaimana ini? Bukankah pendirian negara Islam (Khilafah) itu sendiri debatable di kalangan Muslim? NU misalnya, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, menyatakan bahwa NKRI dan pancasilanya sudah final. Dalam arti, tak perlu ada negara Islam. NU kafir?
Saya katakan: Tidak ada Islam "an sich". Yang ada itu, Islam yang telah "diolah" melalui akal pikiran manusia. Jika anda menuduh JIL "tidak kaffah", maka, ukuran "kaffah" itu sendiri apa sih? Ini mungkin sangat debatable. Kaffah dalam pandangan Baasyir, ya termasuk menyetujui pendirian negara Islam khilafah. Tapi NU mengatakan NKRI dan Pancasila sudah final. Jadi, NU TIDAK KAFFAH DALAM BERISLAM? Ini contoh saja.
abis ini isha pasti ngomong blabla yadayada, intinya 1, antiJIL ga intelek, n JIL great moslem. monggo lah ;)) dont care
Bagaimana dengan anda sendiri? Bukankah secara implisit, anda juga berpandangan bahwa: JIL tidak intelek dan bodoh. Dan anti JIL adalah Islam yang benar dan intelek. Begitu kan?
BundaNa
27-03-2012, 06:49 AM
saya ga pernah blg JIL intelek ato bukan, saya hanya bilang jualan mrk ga laku n kamu bilang JIL cuma kaum intelek -_-
hajime_saitoh
27-03-2012, 12:02 PM
Originally Posted by ishaputra
Di antara sesama Sunni, pentakfiran itu pun marak terjadi. Contoh, Abu Bakar Baasyir menganggap Muslim yang tidak setuju negara Islam, batal syahadatnya. Lho, bagaimana ini? Bukankah pendirian negara Islam (Khilafah) itu sendiri debatable di kalangan Muslim? NU misalnya, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, menyatakan bahwa NKRI dan pancasilanya sudah final. Dalam arti, tak perlu ada negara Islam. NU kafir?
tunggu sebentar bung anda membawa nama ustadz Abu Bakar Baasyir, coba sebutkan dimana kami bisa mengkroscheck pernyataan anda biar pernyataan diatas tidak menjadi fitnah, karena menurut pemikiran saya masalah takfir (pengkafiran) dengan alasan yang tidak sesuai syariat itu sangat tidak sesuai dengan jati diri ustadz Abu Bakar Baasyir, walopun memang beliau sangat keras dalam memperjuangkan tegaknya daulah khilafah......
---------- Post added at 12:02 PM ---------- Previous post was at 11:53 AM ----------
Originally Posted by ishaputra
Kembali ke komentar saya sebelumnya: Bukankah Alquran melegalkan lelaki Muslim menikahi perempuan Ahli Kitab?
ya terus anda tahu siapa yang dimaksud ahli kitab yang disebut di dalam Al-Quran?
sedgedjenar
27-03-2012, 02:32 PM
JIL udah bikin paranoid
yg berpikiran liberal, langsung dicap JIL
yang bilang Tuhannya semua agama itu sama, di anggap pengikut Ulil
padahal gue kenal ulil aja kaga, JIL aja gue baru tau
::arg!::
kira2 sama kayak teroris, yang kena getahnya ya islam sebagai agama
padahal yg salah itu ulah oknumnya yg kebetulan beragama islam
Jilanto, bisa dipanggil pak Jil, seorang pengusaha kuliner asli solo mencipatakan resep mie dengan kuah santan
paling enak dinikmati saat hujan...sluurpp
#IndomieSantanPakJIL
danalingga
27-03-2012, 03:58 PM
^ padahal entarnya juga bakal liberal ya bro Sedge. ;))
ishaputra
28-03-2012, 11:42 PM
saya ga pernah blg JIL intelek ato bukan, saya hanya bilang jualan mrk ga laku n kamu bilang JIL cuma kaum intelek -_-
Apa ukuran "nggak laku"-nya? Sebelum menilai, PAHAMI DULU posisi dan kondisi yang anda nilai itu. Segmen audience wacana-wacana JIL itu SEMPIT, jadi nggak usah heran kalo suaranya tidak sekenceng ceramahnya Aa Gym atau Uje yang "selebritis".
Coba main sekali-kali ke Utan Kayu. Kalau tidak hujan dan topiknya lumayan menarik, kita harus datang lebih awal untuk dapat tempat duduk yang strategis. Kalo telat, siap-siap aja ngemper di bawah. Saking penuhnya ruangan.
Eh, Kamis besok ada diskusi di sana. Nih undangannya:
http://islamlib.com/id/artikel/doktrin-syiah-dalam-konteks-islam-indonesia
Jangan tau JIL cuma dari congornya ustad-ustad mesjid yang memang sudah anti JIL. Lihat sendiri diskusinya, lihat sendiri bagaimana para peserta diskusinya. Bebas kok. Kalo ada materi atau substansi yang tidak anda setujui, gampang saja: BANTAH LANGSUNG DI DEPAN PEMBICARANYA. Itu sudah merupakan budaya yang dibangun kaum liberal di mana-mana.
---------- Post added at 10:32 PM ---------- Previous post was at 10:21 PM ----------
tunggu sebentar bung anda membawa nama ustadz Abu Bakar Baasyir, coba sebutkan dimana kami bisa mengkroscheck pernyataan anda biar pernyataan diatas tidak menjadi fitnah, karena menurut pemikiran saya masalah takfir (pengkafiran) dengan alasan yang tidak sesuai syariat itu sangat tidak sesuai dengan jati diri ustadz Abu Bakar Baasyir, walopun memang beliau sangat keras dalam memperjuangkan tegaknya daulah khilafah......
"Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali melanjutkan bahwa kini sudah saatnya untuk menyampaikan apa adanya tentang wajibnya bagi kaum Muslimin untuk menegakkan Negara Islam. Dengan demikian, jika ada tokoh, atau ulama, da’i atau kaum Muslimin yang menolak tuntutan penegakan syariat Islam secara kaffah (sempurna) dengan wujudnya Negara Islam, maka jangan ragu untuk mengatakan kepadanya murtad. Karena pada hakikatnya dia telah menolak Islam, telah keluar dari Islam. Ini harus tegas dan jelas, karena menyangkut masalah yang pokok (ushul) dimana kaum Muslimin tidak boleh berbeda alias harus sama".
Sumber:
http://www.globalmuslim.web.id/2012/02/ustadz-abu-bakar-baasyir-abb-tuntutan.html
Dilansir juga di sini:
http://arrahmah.com/read/2012/02/04/17804-ustadz-abu-bakar-baasyir-abb-tuntutan-negara-islam-harga-mati.html
---------- Post added at 10:42 PM ---------- Previous post was at 10:32 PM ----------
saya ga pernah blg JIL intelek ato bukan, saya hanya bilang jualan mrk ga laku n kamu bilang JIL cuma kaum intelek -_-
Btw, anda ini dari awal thread kok postingannya irit banget dan tidak elaboratif? Nggak punya bahan atau gimana? Sepertinya anda ini asal kontra saja. Mau kontra, tapi nggak bisa mempertanggungjawabkan sikapnya.
Coba deh, yang elaboratif. Jadi kami-kami di sini bisa membaca apa dan bagaimana alur pikir anda. Siapa tahu ada point-point yang bisa kami terima. Kalo cuma ngepost "irit" kaya begitu, ya apa dong kualitasnya? Apa kontribusinya? Sekedar teriak "anti JIL" itu tidak berarti apa-apa.
Percumah atuh masuk forum begini kalo postingannya irit. Mending main twitter aja.
hajime_saitoh
29-03-2012, 08:54 AM
Quote Originally Posted by ishaputra View Post
"Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali melanjutkan bahwa kini sudah saatnya untuk menyampaikan apa adanya tentang wajibnya bagi kaum Muslimin untuk menegakkan Negara Islam. Dengan demikian, jika ada tokoh, atau ulama, da’i atau kaum Muslimin yang menolak tuntutan penegakan syariat Islam secara kaffah (sempurna) dengan wujudnya Negara Islam, maka jangan ragu untuk mengatakan kepadanya murtad. Karena pada hakikatnya dia telah menolak Islam, telah keluar dari Islam. Ini harus tegas dan jelas, karena menyangkut masalah yang pokok (ushul) dimana kaum Muslimin tidak boleh berbeda alias harus sama".
kalo sudah jelas begini enak... berarti memang beliau sudah melakukan takfir (pengkafiran) yang gegabah....... mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Islam... ini bahaya dan memang ini bentuk pemikiran khawarij.. dan semoga beliau sadar dan bertaubat dari pemikirannya.......
E = mc²
29-03-2012, 08:57 AM
berarti fatwa hukum mati buat Ulil (plus pengkafiran hp tokoh-tokoh JIL lainnya), juga gegabah dong? :mikir:
hajime_saitoh
29-03-2012, 08:59 AM
Originally Posted by ishaputra
Jangan tau JIL cuma dari congornya ustad-ustad mesjid yang memang sudah anti JIL. Lihat sendiri diskusinya, lihat sendiri bagaimana para peserta diskusinya. Bebas kok. Kalo ada materi atau substansi yang tidak anda setujui, gampang saja: BANTAH LANGSUNG DI DEPAN PEMBICARANYA. Itu sudah merupakan budaya yang dibangun kaum liberal di mana-mana.
kalo dari segi budaya, budaya Islam yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallohu alaihi wa sallam tidak begitu... beliau mengajarkan apabila ingin meluruskan atau menasihati seseorang harus dilakukan secara 4 mata, dengan bahasa yang baik dan didakwahi dengan sopan dan santun mengutip kata2 beliau ketika mengutus seorang shabat untuk berdakwah "permudahlah jangan mempersulit".. wallohu`alam
BundaNa
29-03-2012, 10:31 AM
ya sana twitteran, siapa juga yg nahan tetap di KM :lololol: posting panjang2 juga buat apa, situ aja standart ganda -_-
sedgedjenar
29-03-2012, 03:01 PM
^ padahal entarnya juga bakal liberal ya bro Sedge. ;))
ntar kalo dah waktunya di buka aja semuanya ya bro ?
::ngakak2::
purba
29-03-2012, 09:59 PM
Coba deh, yang elaboratif. Jadi kami-kami di sini bisa membaca apa dan bagaimana alur pikir anda. Siapa tahu ada point-point yang bisa kami terima. Kalo cuma ngepost "irit" kaya begitu, ya apa dong kualitasnya? Apa kontribusinya? Sekedar teriak "anti JIL" itu tidak berarti apa-apa.
Nih ane coba kritik JIL. Di atas ente sempat mengatakan bahwa JIL menelaah Quran sbg teks biasa. Apakah itu sebuah metodologi yg tepat? Menurut ane tidak. JIL tetap mengaku sebagai muslim. Itu berarti mengaku bahwa Quran adalah perkataan tuhan yg sudah barang tentu bukan teks biasa. Tetapi dalam sepak terjangnya, JIL memperlakukan Quran sebagai teks biasa. Dimana letak intelektualitas dari sikap seperti itu?
:))
pasingsingan
29-03-2012, 11:00 PM
@purba:
mungkin kamsudnya ishaputra tuh gini pur
secara ilmiah (baca kajian akademis)
quran, al-kitab, rig veda, bagawat gita dll yng dianggap setara
adalah bebas untuk dikaji n didesakralisasikan, itu sah saja
masalahnya tinggal, kajian itu untuk tujuan apa?
ttg JIL
emang ada bbrp kelompok yng resisten atau parno dng kelompok JIL
tapi tdk sedikit jg yng cuek n enjoy aja dng eksistensi JIL
krn ada yng memandang bhw, kelompok semacam JIL itu
bukan hal baru. Jaman baheula jg udah ada yng sejenis
yakni mu'tazilah, cmiiw
hajime_saitoh
30-03-2012, 09:41 AM
@purba:
mungkin kamsudnya ishaputra tuh gini pur
secara ilmiah (baca kajian akademis)
quran, al-kitab, rig veda, bagawat gita dll yng dianggap setara
adalah bebas untuk dikaji n didesakralisasikan, itu sah saja
masalahnya tinggal, kajian itu untuk tujuan apa?
ttg JIL
emang ada bbrp kelompok yng resisten atau parno dng kelompok JIL
tapi tdk sedikit jg yng cuek n enjoy aja dng eksistensi JIL
krn ada yng memandang bhw, kelompok semacam JIL itu
bukan hal baru. Jaman baheula jg udah ada yng sejenis
yakni mu'tazilah, cmiiw
nah itulah yang menjadi masalah kop pasing.. mereka (JIL) mengaku Islam namun pada saat mereka mentafsirkan Al-Quran secara tidak langsung mereka mengakui Al-Quran itu tidak sakral, AL-Quran itu hanyalah buku yang bebas di interpretasikan denagn metode apapun, jadi secara tidak langsung mereka mengatakan Al-Quran bukanlah firman Allah azza wa jalla..... Wallohu'alam....
yup benar mu'tazilah itu ada dari dulu, dan dari dulu mereka mendapat tentangan yang keras dari ulama sunnah... Wallohu'alam.
purba
30-03-2012, 10:03 PM
@purba:
mungkin kamsudnya ishaputra tuh gini pur
secara ilmiah (baca kajian akademis)
quran, al-kitab, rig veda, bagawat gita dll yng dianggap setara
adalah bebas untuk dikaji n didesakralisasikan, itu sah saja
masalahnya tinggal, kajian itu untuk tujuan apa?
Berarti ketika JIL sedang menelaah Quran secara ilmiah, mereka bukan muslim?
Predikat muslim mengikat seseorang utk memperlakukan Quran sbg teks luar biasa karena Quran merupakan bagian keimanan dari seorang muslim. Mungkin analoginya kurang lebih begini. Muhammad adalah ayah dari Fatimah. Apakah mungkin Fatimah melayani Muhammad sbg suaminya? (diperjelas: hubungan syeiks) busyet dah... s.e.x aja disensor :))
Dari sudut pandang nonmuslim, boleh saja JIL mendekonstruksi aqidah Islam agar sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi dari sudut pandang muslim itu sendiri, apakah mungkin?
Buat ane apa yg dilakukan JIL agak aneh. Mereka membela diri dgn mengatakan bahwa mereka mendekonstruksi hubungan sesama manusia, bukan hubungan dgn tuhan. Tetapi memperlakukan Quran sebagai teks biasa sudah menunjukkan bahwa mereka juga mendekonstruksi hubungan dgn tuhan.
:))
pasingsingan
31-03-2012, 07:26 PM
Berarti ketika JIL sedang menelaah Quran secara ilmiah, mereka bukan muslim?
apa hubungannya antara obyek kajian dengan kepercayaan pengkajinya?
klo seorang yng ente label orientalis aja boleh suka2 mengkaji kitab suci agama
mengapa muslim atau kristiani atau buddhis misalnya, ketika mengkaji kitab sucinya secara ilmiah
ostosmastis kehilangan kepercayaannya?, apa dasar ente mendiskriminasi mereka dng orientalis?
Predikat muslim mengikat seseorang utk memperlakukan Quran sbg teks luar biasa karena Quran merupakan bagian keimanan dari seorang muslim. Mungkin analoginya kurang lebih begini. Muhammad adalah ayah dari Fatimah. Apakah mungkin Fatimah melayani Muhammad sbg suaminya? (diperjelas: hubungan syeiks) busyet dah... s.e.x aja disensor :))
iki maksudnya apa?
bikin analogi kok tendensius, kesannya sekedar pengen olok2
klo gitu apa bedanya ente dng ishaputra?
persoalan spt apa yng pas dianalogikan dng anak perempuan ente
melayani ente layaknya suami misalnya.
Dari sudut pandang nonmuslim, boleh saja JIL mendekonstruksi aqidah Islam agar sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi dari sudut pandang muslim itu sendiri, apakah mungkin?
kenapa enggak?
emangnya cuman kelompok JIL yng spt itu?
coba baca sejarah pemikir2 islam lebih banyak lagi
Buat ane apa yg dilakukan JIL agak aneh. Mereka membela diri dgn mengatakan bahwa mereka mendekonstruksi hubungan sesama manusia, bukan hubungan dgn tuhan. Tetapi memperlakukan Quran sebagai teks biasa sudah menunjukkan bahwa mereka juga mendekonstruksi hubungan dgn tuhan.
:))
maksud ente buat yng ngaku ateis aja dah merasa aneh, apalagi buat muslim gitu?
emangnya pemikiran setiap muslim harus = yng ente kira?
purba
31-03-2012, 09:26 PM
apa hubungannya antara obyek kajian dengan kepercayaan pengkajinya?
klo seorang yng ente label orientalis aja boleh suka2 mengkaji kitab suci agama
mengapa muslim atau kristiani atau buddhis misalnya, ketika mengkaji kitab sucinya secara ilmiah
ostosmastis kehilangan kepercayaannya?, apa dasar ente mendiskriminasi mereka dng orientalis?
Tidak usah diperluas ke umat kristen, buddha, dll, fokus saja dulu ke muslim. Ente kan muslim? Apa posisi Quran bagi ente? Firman tuhan (Allah swt) kan? Dengan begitu, apakah posisi Quran sama dengan koran Pos Kota misalnya? Tentu beda. Ente tidak akan pernah menyalahkan satu pernyataan pun dalam Quran, tapi ente bisa dengan mudah menyalahkan suatu pernyataan dalam koran Pos Kota.
Seandainya ente menyalahkan satu pernyataan saja dlm Quran, berarti ente tidak lagi beriman bahwa Quran adalah firman tuhan, karena yg namanya firman tuhan, tentu tidak akan pernah salah. Jadi tidak ada yg namanya kajian ilmiah dari seorang muslim pada Quran. Segala sesuatu yg dikaji secara ilmiah, maka suatu ketika harus bersedia utk disalahkan. Bagaimana dgn Quran? Bagi seorang muslim, Quran tidak akan pernah salah.
Lain halnya dgn nonmuslim. Mereka tidak terikat dgn keimanan bahwa Quran sbg firman tuhan. Dengan begitu tidak ada kendala utk mengaji Quran secara ilmiah. Artinya posisi Quran sepadan dgn koran Pos Kota. Dlm pengertian, suatu ketika Quran pun dapat disalahkan seperti halnya koran Pos Kota. Tidak ada kontradiksi metodologi ketika nonmuslim mengaji Quran secara ilmiah.
iki maksudnya apa?
bikin analogi kok tendensius, kesannya sekedar pengen olok2
klo gitu apa bedanya ente dng ishaputra?
persoalan spt apa yng pas dianalogikan dng anak perempuan ente
melayani ente layaknya suami misalnya.
Ane ambil Muhammad dan Fatimah supaya jelas saja. Bisa saja analoginya antara ane dan anak perempuan ane, tapi itu tidak akan menarik perhatian. Itu juga bukan olok-olok. Beda dgn ishaputra. Dia meremehkan orang-orang INSIST dgn mempertanyakan latar belakang mereka sbg pengaji agama. Bukan begitu caranya diskusi yg intelek. Padahal ada juga muslim yg disegani kalangan JIL yg berlatar belakang sarjana teknik (ane lupa nama muslim tsb).
Muslim dan Quran seperti Fatimah dan Muhammad, suatu relasi yg mutlak, tidak bisa relatif. Muslim adalah mereka yg mengimani Quran sbg firman tuhan. Ketika mereka memperlakukan Quran seperti koran Pos Kota, maka mereka bukan muslim. Demikian juga dgn Fatimah adalah anak Muhammad. Ketika Fatimah melayani Muhammad sbg suami, maka Fatimah bukan anak Muhammad.
kenapa enggak?
emangnya cuman kelompok JIL yng spt itu?
coba baca sejarah pemikir2 islam lebih banyak lagi
Lha topik ini kan lagi ngebahas JIL, ya fokus saja pada JIL. Jika ada pemikir-pemikir muslim di masa lalu yg seperti JIL, ya penilaian ane sama saja bahwa pemikir-pemikir tsb memiliki metodologi kontradiktif.
Sejauh ini ane menilai INSIST konsisten dlm mengaji agama. Dalam metodologi mereka, Quran punya posisi spesial, tidak sama dgn koran Pos Kota. Mengapa ane bilang mereka konsisten? Karena sejauh yg ane tahu para founding father Islam tidak ada yg memperlakukan Quran sbg teks biasa.
JIL harus menunjukkan bahwa ada founding father yg sempat memperlakukan Quran sbg teks biasa, maka metodologi mereka pun tidak lagi kontradiktif dan bahkan mendapatkan legitimasi sejarah.
Analoginya begini. Para founding father mendirikan Indonesia dgn dasar Pancasila. Jika sekarang ada yg mau mengubahnya menjadi bukan Pancasila, maka negaranya sudah bukan Indonesia lagi.
maksud ente buat yng ngaku ateis aja dah merasa aneh, apalagi buat muslim gitu?
emangnya pemikiran setiap muslim harus = yng ente kira?
Lha kalo beda, apa pikiran ente? :))
pasingsingan
01-04-2012, 05:56 PM
Seandainya ente menyalahkan satu pernyataan saja dlm Quran, berarti ente tidak lagi beriman bahwa Quran adalah firman tuhan, karena yg namanya firman tuhan, tentu tidak akan pernah salah. Jadi tidak ada yg namanya kajian ilmiah dari seorang muslim pada Quran. Segala sesuatu yg dikaji secara ilmiah, maka suatu ketika harus bersedia utk disalahkan. Bagaimana dgn Quran? Bagi seorang muslim, Quran tidak akan pernah salah.
Betul,
secara literal/tekstual emang muslim beranggapan spt itu
tapi secara maknawi/tafsir, itulah ranah relatifnya.
Lain halnya dgn nonmuslim. Mereka tidak terikat dgn keimanan bahwa Quran sbg firman tuhan. Dengan begitu tidak ada kendala utk mengaji Quran secara ilmiah. Artinya posisi Quran sepadan dgn koran Pos Kota. Dlm pengertian, suatu ketika Quran pun dapat disalahkan seperti halnya koran Pos Kota. Tidak ada kontradiksi metodologi ketika nonmuslim mengaji Quran secara ilmiah.
Setuju
tapi ketika memasuki ranah transliterasi (penafsiran)
apakah ente yakin bhw penafsiran non-muslim pasti terbebas dari kekeliruan?
Ane ambil Muhammad dan Fatimah supaya jelas saja. Bisa saja analoginya antara ane dan anak perempuan ane, tapi itu tidak akan menarik perhatian. Itu juga bukan olok-olok. Beda dgn ishaputra. Dia meremehkan orang-orang INSIST dgn mempertanyakan latar belakang mereka sbg pengaji agama. Bukan begitu caranya diskusi yg intelek. Padahal ada juga muslim yg disegani kalangan JIL yg berlatar belakang sarjana teknik (ane lupa nama muslim tsb).
Imadudin Abdul Rahim?
Muslim dan Quran seperti Fatimah dan Muhammad, suatu relasi yg mutlak, tidak bisa relatif. Muslim adalah mereka yg mengimani Quran sbg firman tuhan. Ketika mereka memperlakukan Quran seperti koran Pos Kota, maka mereka bukan muslim. Demikian juga dgn Fatimah adalah anak Muhammad. Ketika Fatimah melayani Muhammad sbg suami, maka Fatimah bukan anak Muhammad.
ooow, gitu toh kamsudnya
oke, accepted
maksud ente buat yng ngaku ateis aja dah merasa aneh, apalagi buat muslim gitu?
emangnya pemikiran setiap muslim harus = yng ente kira?
Lha kalo beda, apa pikiran ente?
maksud gw gini pur
JIL maseh bermaen ditataran penafsiran
yng oleh kelompok yng tdk sepaham dngnya dianggap terlalu ekstrim (baca nyeleneh)
masalahnya, apa iya JIL sudah sampai pada taraf mendeclare bhw quran itu bukan
firman tuhan misalnya?, ini yng gw blom mudeng (baca katrok)
purba
01-04-2012, 10:59 PM
tapi ketika memasuki ranah transliterasi (penafsiran)
apakah ente yakin bhw penafsiran non-muslim pasti terbebas dari kekeliruan?
Kajian nonmuslim thd Quran bisa lebih luas dari sekedar tafsiran saja. Nonmuslim bisa mengaji Quran sbg teks biasa dan bisa mengonfrontasikan Quran dgn teks-teks sejarah lainnya. Di situ ada kemungkinan Quran salah. Ketika itu terjadi (Quran salah), nonmuslim tidak terbebani dgn keimanan Quran sbg firman tuhan yg selalu benar.
Sementara yg namanya kajian mungkin saja mengandung kesalahan dan itu hal biasa, namanya juga kerjaan manusia. :))
maksud gw gini pur
JIL maseh bermaen ditataran penafsiran
yng oleh kelompok yng tdk sepaham dngnya dianggap terlalu ekstrim (baca nyeleneh)
masalahnya, apa iya JIL sudah sampai pada taraf mendeclare bhw quran itu bukan
firman tuhan misalnya?, ini yng gw blom mudeng (baca katrok)
Sbg contoh masalah warisan. Apakah ayat2 Quran ttg warisan mutlak atau partikular? JIL memilih partikular, artinya ayat2 tsb sekarang tidak relevan lagi. Tuhan menurunkan ayat yg usang? Tuhankah itu? Di sini JIL perlu merekonstruksi pemahaman ttg tuhan sedemikian rupa sehingga ayat2 ttg warisan tsb dapat dibuang. JIL memang masih mengimani tuhan, tetapi apakah itu tuhan yg sama dgn yg diimani oleh para founding fathers Islam? Islam tradisional melihat Quran sebagai pembentuk peradaban. Dan, ane kira, itu juga yg dimaksud oleh para founding fathersnya. Sementara JIL merekonstruksi Islam sedemikian rupa sehingga Quran dapat disesuaikan dgn peradaban.
hajime_saitoh
02-04-2012, 08:56 AM
wah2 hebat.. kok saya melihat dari diskusi antara kop pasing dan kop purba sangat menarik, dan dari hasil diskusi dua sesepuh ini saya melihat ternyata kop Purba ternyata secara "pola pikir" lebih Islami dibandingkan kop pasing.... semoga dengan ilmu yang kop Purba miliki sekarang ini, kop akan diberikan Hidayah oleh Allah azza wa jalla.... Amin...
yak silakeun dilanjutkan diskusinya.... :ngopi:
BundaNa
02-04-2012, 09:29 AM
krn dasarnya purba bicara sbg atheis yg menurutnya aneh, JIL yg m'aku theis kog memandang kitab dari Tuhan gak full ;D
danalingga
03-04-2012, 12:02 AM
wah2 hebat.. kok saya melihat dari diskusi antara kop pasing dan kop purba sangat menarik, dan dari hasil diskusi dua sesepuh ini saya melihat ternyata kop Purba ternyata secara "pola pikir" lebih Islami dibandingkan kop pasing.... semoga dengan ilmu yang kop Purba miliki sekarang ini, kop akan diberikan Hidayah oleh Allah azza wa jalla.... Amin...
yak silakeun dilanjutkan diskusinya.... :ngopi:
Jangan keburu mengambil kesimpulan. Mereka berdua sedang bersandiwara dan memainkan peran masing2 dengan baik. :))
hajime_saitoh
03-04-2012, 08:31 AM
Jangan keburu mengambil kesimpulan. Mereka berdua sedang bersandiwara dan memainkan peran masing2 dengan baik. :))
upppppssss. ternyata cuman sinetron kejar tayang to mbah..... ::hihi::
pasingsingan
03-04-2012, 05:17 PM
ini kamsudnya apa yak
bukannya komentarin subyek diskusi
eh, malah komentarin yng diskusi
hajime :gebuk:
dana :gebuk:
purba
05-04-2012, 09:29 AM
Si ishaputra kan nantangin para anti-JIL di KM buat memberikan argumen yg memadai kalo gak setuju dgn JIL. Ane sendiri sih gak masalah dgn JIL. Tapi yg anti-JIL di KM kok gak bekutik ditantang oleh ishaputra, ya ane bantuin dah... Tapi si ishaputra kok gak nanggepin... Eh malah engkong Pasing yg nongol... :))
BundaNa
05-04-2012, 10:29 AM
bukan ga bekutik, tapi sama isha mah mending ga usah serius, krn dia sih anti-islam -_-
pasingsingan
09-04-2012, 07:23 AM
Si ishaputra kan nantangin para anti-JIL di KM buat memberikan argumen yg memadai kalo gak setuju dgn JIL. Ane sendiri sih gak masalah dgn JIL. Tapi yg anti-JIL di KM kok gak bekutik ditantang oleh ishaputra, ya ane bantuin dah... Tapi si ishaputra kok gak nanggepin... Eh malah engkong Pasing yg nongol... :))
ahaha ....
lo bisa aja pur
klo isha kan emang sohib lame kite pur
dah sama2 ngarti jurus andalannya lah
gw jg gak musolah dng JIL atawe JAL
kadang suka iseng baca2 artikel mereka n coba pahami dasar pemikirannya :mrgreen:
Powered by vBulletin® Version 4.2.5 Copyright © 2026 vBulletin Solutions Inc. All rights reserved.