Page 1 of 5 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 94

Thread: #IndonesiaTanpaJIL

  1. #1
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137

    #IndonesiaTanpaJIL



    Ditengah munculnya gerakan Indonesia Tanpa FPI, ter
    nyata sekelompok umat Islam yang masih peduli, me
    lancarkan gerakan tandingan, Indonesia Tanpa JIL.

    ---------- Post added at 09:36 PM ---------- Previous post was at 08:59 PM ----------

    JIL Akui Kegagalannya Menyebarkan Paham Liberal
    Selasa (13/12), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) mengadakan bedah buku Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mengambil tempat di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bedah buku menghadirkan sejumlah pembicara yang kerap menulis gagasan pemikiran liberalisme Islam. Diantaranya adalah Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asy Saukanie,dan Zainun Kamal. Tak ketinggalan Ioanes Rakhmat (Kritikus Kristen) didapuk jadi pembicara.

    Pada kesempatan yang dihadiri 300 mahasiswa UIN itu, penggagas JIL, Luthfi Asy Sakunie secara jujur mengatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam lewat jalan liberalisme sepanjang ini masih jauh dari harapan. Munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme Islam, baginya, adalah bentuk kegagalan ide “pembaharuan”.

    Senada dengan Luthfi, Ioanes Rakhmat, turut mengamini kenyataan itu. Menurutnya berkembangnya perda-perda Syariat adalah bukti metode pembaharuan Islam yang selama ini disuarakan kawan-kawan Islam Liberal belum ada, “Karena yang ada baru metode penafsiran teks,” katanya.

    Meski berlatar belakang Kristen, ia menegaskan bahwa perjuangan membumikan pemikiran liberalisme Islam tidak boleh surut. Usaha-usaha itu tetap harus berjalan. Karena hanya dengan itu Islam akan maju di Indonesia.

    Oleh karenanya, Ioanes mengusulkan agar Luthfi cs mulai terfikir terjun ke dunia politik. “Kalau kelompok Islam pembaharu tidak terjun ke dunia politik, maka kelompok Islam politik akan bertambah kuat,” tandasnya.

    Usulan tersebut sempat ditolak oleh Zainun Kamal. Tokoh yang kerap menjadi penghulu pernikahan beda agama ini mengatakan politik bukanlah jalan terbaik bagi Islam Liberal.

    Ia berkaca dari partai-partai Islam maupun kelompok Islam saat ini yang hanya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. “Maka itu Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi harus cepat taubat dari politik,” sanggahnya.

    Ulil pun angkat suara. “Itu kan partai sektarian yang berbasis agama. Sedangkan saya di partai sekuler. Maka itu kita harus masuk partai sekuler,” pungkas fungsionaris Partai Demokrat itu yang sebelumnya sempat memuji sekularisme Erdogan dan melunaknya Ideologi Ikhwan di Mesir.


    ---------- Post added at 09:46 PM ---------- Previous post was at 09:36 PM ----------

    Gerakan #Indonesia Tanpa JIL Ramai di Media Sosial
    Senin, 20 Februari 2012. Persis usai subuh muncul sebuah gerakan #IndonesiaTanpaJIL (JIL=Jaringan Islam Liberal). Munculnya gerakan ini sontak saja semakin disambut dengan penuh semangat ketika di fanspage gerakan tersebut yang beralamat di http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL tampil sebuah video berdurasi 32 detik yang menampilkan sosok aktor Fauzi Baadilla yang dengan tegasnya mengatakan : “Indonesia Tanpa JIL !”.
    Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim. Hastag #IndonesiaTanpaJIL sampai saat ini terus semakin ramai. Yang menarik adalah dalam waktu 12 jam fanspage gerakan tersebut sudah di-like oleh hampir 2500 orang, tanpa bantuan Likers Engine (boot).
    Pertanyaan yang muncul adalah : Fauzi Baadilla saja berani dengan tegas tanpa khawatir kehilangan pekerjaan dan penggemarnya, lantas kenapa tokoh-tokoh yang sebetulnya menolak JIL masih (jaim) jaga image ?.

  2. #2
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    ini thread berat....

    tapi gw maw komentarin fauzi baadilla nya aza yak

    damn fauzi baadilla, setelah gay bashing sekarang ini, padahal dulu jaman pilem Tentang Dia gw ngefans ama ni aktor, ternyata beda aliran sama sayah~~~

    Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim.
    bisa berikan contohnya? so far gw ga pernah dengar gerak2 ni jaringan .....

  3. #3
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Reportase Program Agama dan Masyarakat Radio 68 H
    Nasib Homoseksual Dalam Cengkaraman Agama dan Budaya Diskriminatif

    “Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.”
    Meskipun pada 17 mei 1990 organisasi kesehatan dunia (WHO) telah memutuskan bahwa homoseksualitas tidak tergolong suatu penyakit atau gangguan jiwa, namun diskriminasi terhadap kelompok minoritas ini masih kerap terjadi di negeri ini. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, diskriminasi terhadap minoritas homoseksual diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan terhadap mereka. Diskriminasi itu misalnya, terlihat dari perda-perda yang mencantumkan homoseksual dalam kategori perbuatan cabul dan pelacuran. Tidak kurang, dalam UU Pornografi yang belum lama disahkan itu, dikatakan bahwa homoseksual sebagai penyimpangan seks. Padahal “fatwa” dari WHO tersebut sudah tercantum pula dalam kitab PPDGJ milik Depkes RI (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis dan Gangguan Jiwa) edisi III tahun 1993. Ini berarti materi UU tersebut tidak merujuk kepada kitab pedoman kesehatan tersebut.

    Menelusuri seluk beluk diskriminasi terhadap kaum homoseksual yang terjadi di Indonesia, Radio KBR 68 H bersama Jaringan Islam Liberal, melalui Program Agama dan Masyarakat pada tanggal 18 Mei 2011 mengangkat sebuah diskusi bertema “Diskriminasi dan Kekerasan Terhadap Warga Negara Karena Orientasi Seksualnya”. Diskusi berlangsung selama satu jam dengan menghadirkan dua narasumber sekaligus, Hartoyo dari Our Voice dan Andi Yentriyani dari Komnas HAM.

    Diskriminasi terhadap kelompok minoritas homoseksual terjadi, dalam analisa Hartoyo, dikarenakan stigma yang mendominasi pola pikir masyarakat terhadap mereka. Ketiadaan pendidikan seks dan pendidikan tentang identitas gender dari pemerintah untuk warganegaranya, dan tidak tersedianya informasi yang benar, membentuk pemahaman yang keliru dalam masyarakat dalam melihat dan memperlakukan kaum homoseksual. Dari persoalan ini, mereka kerap dinilai negatif oleh masyarakat. Mereka dilihat sebagai pendosa, penyebar penyakit atau bahkan pembunuh.

    Sementara Andi mencoba menyoroti persoalan diskriminasi ini dari sudut konstitusi. Dalam pandangan Andi, meskipun secara ideal konstitusi mengakui adanya persamaan setiap warga negara, namun dalam tataran praktis pelaksanaannya kerap kali bertolakbelakang. Ini terjadi, begitu Andi, karena adanya prasangka-prasangka yang berkembang dalam polapikir masyarakat dan membuat orang merasa boleh memperlakukan orang lain secara berbeda. Pembedaan-pembedaan itulah yang belakangan menimbulkan diskriminasi kelompok homoseksual, sekalipun hak bebas dari diskriminasi telah diakui oleh negara.

    Masyarakat kita memang mudah sekali menstigma orang yang berbeda sebagai orang yang “menyimpang”. Padahal menjadi berbeda secara orientasi seksual itu sungguh tidak mudah bagi mereka kelompok LGBT sendiri (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Seperti diakui oleh banyak di antara mereka, usaha untuk menjadi seperti apa yang dimaui lingkungan bukan tidak pernah mereka jalani. Dalam “keberbedaan” nya itu, mereka masih harus berhadapan dengan represi dari lingkungan dan bahkan keluarga terdekat. Hidup mereka dibuat tidak tenang dengan adanya curative right, dipaksa untuk “sembuh” dan “bertaubat”. Masih belum cukup, mereka juga kerapkali dihadapkan dengan kekerasan fisik dan psikologis selama bertahun-tahun untuk kembali “ke jalan yang benar”. Jadi, penderitaan yang mereka alami menjadi berlapis-lapis.

    Pandangan Andi ini diamini oleh Hartoyo sendiri sebagai sosok yang pernah menjalani pengalaman diskriminasi. Seperti diceritakan Hartoyo, dalam hal ini pihak negara sama sekali tidak turun tangan untuk memberi perlindungan. Dan ironisnya, justru aparat negara sendiri yang menjadi pelaku diskriminasi tersebut. Sepertinya, semua jalan untuk mencari keadilan dari diskriminasi bagi kelompok LGBT sudah tertutup. Kalaupun ada, dukungan itu datang dari pihak luar, dan beberapa lembaga seperti Komnas Perempuan. Dengan sepinya dukungan menentang diskriminasi kelompok LGBT, menandakan bahwa masyarakat memilih diam, untuk mengatakan tidak peduli terhadap kasus-kasus diskriminasi.

    Dalam sebuah komentarnya, seorang pendengar diskusi beropini bahwa kelompok LGBT seharusnya sadar diri terhadap lingkungan di mana mereka hidup. Meskipun benar hak bebas dari diskriminasi diakui undang-undang, namun mereka hidup dalam sebuah kultur masyarakat yang sulit sekali menerima perubahan, ditambah lagi dengan pemerintahan negara yang lemah. Pendengar lain, menanggapi bahwa Homoseksualitas sebetulnya budaya Barat yang bertentangan dengan budaya Indonesia sendiri.

    Menanggapi ini, Andi berargumen bahwa sebenarnya ada banyak budaya yang justru tidak dikenali oleh masyarakat kita sendiri. Secara historis-kultural, demikian Andi, Homoseksualitas bukanlah suatu yang asing dari masyarakat kita. Kalau ingin disebut, kita akan menjumpai banyak tradisi asli Indonesia yang bernuansa Homoseksualitas. Pemetak-metakan suatu budaya berdasarkan kategori Timur-Barat, dalam pandangan Andi, membuat sebuah norma menjadi esensialis. Faktanya kekerasan terhadap kaum Homoseksual bukan hanya ada di Timur, tapi juga Barat. Ini sekaligus menolak anggapan bahwa Homoseksualitas merupakan budaya asing yang berasal dari Barat.

    Ke “berbedaan” secara orientasi seksual, bukanlah dasar yang bisa menghalalkan kita untuk melakuan diskriminasi. Perlu ditegaskan ulang, diskriminasi terhadap kaum Homoseksual, bukan hanya terjadi di Indonesia secara khusus, atau dunia Islam secara umum, tapi juga terjadi di dunia Barat sendiri yang sekarang ini mulai belajar membuka diri terhadap minoritas yang memiliki orientasi seksual berbeda. Atas dasar fakta ini, Andi mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat secara terbuka sejarah peradaban dunia, di mana kekerasan dan diskriminasi terhadap mereka yang berbeda bukanlah soal “Timur-Barat” saja, tapi lebih jauh soal kelapangan jiwa dan pola pikir komunitas tersebut untuk menerima mereka yang berbeda.
    Pandangan sinis terhadap kaum Homoseksual, membuat banyak orang mempertanyakan sisi positif kaum Homoseksual, juga memandang miris kepada setiap usaha advokasi yang ditujukan kepada mereka.

    Menjawab ini, Hartoyo menegaskan, bahwa sekalipun berbeda, tapi kaum Homoseksual atau LGBT sejatinya juga manusia yang memiliki perasaan yang sama dengan mereka yang normal. Mereka bukannya tidak mau berusaha menjadi sama dengan orang lain. Bagi Hartoyo, menurut pengalamannya homoseksualitas bukanlah sebuah pilihan, tapi lebih merupakan ketetapan yang ditakdirkan kepada mereka. Karena itu, advokasi kepada kaum Homoseksual sejatinya adalah advokasi kepada kemanusiaan itu sendiri.

    Hartoyo juga menyinggung, bahwa takdir homoseksual bisa saja diterima oleh siapa saja, termasuk mereka yang ada dalam anggota keluarga kita. Membela Homoseksualitas, dengan begitu berarti membela keluarga kita sendiri, membela sesama manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dihadapan Tuhan.

    Andi menambahkan, jika merujuk kepada tujuan pernikahan, anggapan bahwa homoseksualitas adalah sebuah anomali sejatinya lahir dari pemikiran tentang keharusan adanya pro-creation purpose dalam sebuah hubungan seksual (hubungan seksual untuk mendapat keturunan). Dalam hal ini, Islam dalam pandangan Andi memiliki pandangan yang lebih maju tentang adanya tujuan lain hubungan seksual selain untuk mendapat keturunan, yakni untuk mendapat kesenangan (rekreasi). Seandainya pandangan ini diterima, tentulah dukungan terhadap pernikahan Homoseksual tidak akan lagi menjadi suatu kesulitan.
    Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.

    Andi juga menilai, persoalan diskriminasi terhadap kelompok Homoseksual atau secara umum LGBT merupakan tantangan baru bagi para teolog. Kalau dulu para teolog dihadapkan pada persoalan diskriminasi perbudakan misalnya, di mana seseorang dianggap boleh mendiskriminasi orang lain karena identitasnya, maka diskriminasi terhadap kaum Homoseksual adalah ujian baru bagi para teolog. Ujian ini sengaja diberikan Tuhan untuk mengetahui apakah agama yang mereka agung-agungkan itu masih berkomitmen pada nilai-nilai kemanusiaan, atau justru mereka jadikan alat justifikasi untuk mendiskriminasi manusia lainnya, dan ini berarti sudah keluar dari tujuan awal diturunkannya agama-agama itu sendiri.

    Untuk keluar dari diskriminasi ini, kelompok Homoseksual berharap agar pemerintah lebih ikhlas dalam membela warga negaranya. Mereka juga berharap agar fatwa WHO terkait dengan persoalan Homoseksualitas disosialisasikan kepada masyarakat melalui Depkes. Ini perlu dilakukan demi mengikis stigma-stigma yang masih kuat bercokol dalam pola pikir masyarakat terhadap kaum Homoseksual. Mereka juga berharap agar para ahli dan kelompok professional tidak mencampuradukan antara penafsiran agama mereka yang subjektif dengan bidang studi yang mereka dalami. Mereka harus jujur untuk mengakui dan menerangkan kepada masyarakat bahwa Homoseksual bukanlah suatu penyakit yang bisa menular atau perlu disembuhkan.

    Andi menutup diskusinya dengan mengajukan solusi-solusi berikut untuk menyudahi tindakan diskriminasi terhadap kaum Homoseksual. Pertama, memperbaiki sistem pendidikan dan sosialisasi informasi di masyarakat. Ini dilakukan agar masyarakat terbiasa mengukur sesuatu bukan berdasar dogma yang subjektif, tapi atas standar ilmiah yang objektif. Sosialisasi informasi juga perlu dilakukan untuk memberikan pandangan yang benar tentang Homoseksualitas. Kedua, membuka wawasan terhadap budaya-budaya yang lebih terbuka. Ini dilakukan demi menciptakan perbaikan dan pembenahan dalam komunitas kultur kita. Ketiga, pendewasaan beragama melalui pencerahan dan diskusi-diskusi agar agama tidak lagi dipolitisir untuk kepentingan politik sesaat. Keempat, demokratisasi keluarga. Ini perlu dilakukan agar tidak lagi terjadi pemaksaan terhadap kaum homoseksual yang berakibat pada depresi yang mereka alami dan membunuh jatidiri mereka sendiri.

    “Jihad” untuk membebaskan kaum Homoseksual dari diskriminasi mayoritas bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan agamawan saja, tapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan warga negara secara serentak. Perlu diingat, Homoseksualitas bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan apalagi menular. Sebagaimana ia tidak bisa dipaksakan menjadi Heteroseksual, kaum Heteroseksual juga tidak mungkin bisa direkayasa menjadi Homoseksual.
    sekalian gw kasih link yang program JIL anti-Gay Bashing
    namun berseberangan dengan ajaran Islam

  4. #4
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    gw anti gay-bashing, berarti gw JIL donk kalo gitu gw cabut deh dari sini

    Spoiler for fyi:
    sebenarnya gw gak pernah melabeli kepercayaan gw aliran apa, yang gw anggap benar dalam hati gw itulah yang gw percaya, dan gw percaya bahwa Tuhan gw Maha pengasih keseluruh umatnya regardless kekurangan umat tersebut. dan berhubung gw yakin di sini topiknya bakal bersebarangan dengan apa yang gw percaya dan tidak mungkin ada titik temu, maka gw say goodbye aja lgsg tapi gw tetap survey dan baca2 kok, ilmu euy, kali gw dapat pencerahan di sini happy discuss.

  5. #5
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    oke, thank you

  6. #6
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...

  7. #7
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    mana nih, jaga dia kan di ak t'masuk barisan p'bela JIL
    mpe bosen gwe liat muka si ulil

  8. #8
    Aliran anti hadits termasuk JIL bukan yak?


    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...
    Bukannya di qur'an ada kebolehan menikahi wanita dari ahli kitab?

  9. #9
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    nti kl gw bahas ahli kitab itu bkn non muslim, jd bahas agama

    udah terusin aja bahas indonesia tanpa JIL

  10. #10
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    So..JIL is gay

  11. #11
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    sayangnya di pasal 29 UUD 45 (udah diamandemen blum ya?) negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, jadi mau ahmadiyah, JIL, FPI, semuanya bebas di Indonesia

  12. #12
    Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya?

  13. #13
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya?
    kagak
    mereka gagal total... so ?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  14. #14
    ^ berarti dah bubar sendiri.

    Terus terang, gue sendiri ikut milist JIL dan dah beberapa tahun belakangan ini sepi kek kuburan.

  15. #15
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    jualannya ga laku rupanya
    cuman dpt simpati dari luar negara ya?

  16. #16
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    ^
    true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini

  17. #17
    Quote Originally Posted by BundaNa View Post
    jualannya ga laku rupanya
    cuman dpt simpati dari luar negara ya?
    Soale JIL juga extrim sih -- hanya saja berseberangan dengan FPI dan sejenisnya -- tapi tetap saja extrimist (kalo kata belanda).
    Last edited by danalingga; 21-02-2012 at 03:49 PM.

  18. #18
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by choodee View Post
    ^
    true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini
    JIL itu memang bukan kelompok dakwah. Mereka itu mencoba memaparkan kajian versi mereka. Karena mereka bukan juru dakwah jadi memang tulisan-tulisan mereka hanya dibaca oleh sedikit orang. Ada kok websitenya. Kegagalan mereka bukan karena marketingnya kurang, tapi justru karena mereka terang-terangan berhimpun dalam wadah JIL itu. Kalau mereka tidak pakai merk liberal mungkin pandangan orang akan lain. Para pendahulu mereka justru lebih sukses karena tidak membawa bendera tertentu.

  19. #19
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    bukan...
    JIL gagal karena emang "barang" dagangannya ga laku
    well i didn't buy it... ga penting soalnya
    bukan karena marketingnya.

    aku pernah diajak waktu kuliah dulu, udahlah akui aja emang dapet duit dari luar negeri kok.
    dengan barang dagangan yang dipaksain ke masyarakat indonesia, gw bilang konyol abis, walo dimodalin gede tetep aja konyol kalau memaksakan.
    kajian apa yang jadi fokus jil? soal tidak wajibnya jilbab, pemberian ruang bagi kaum homoseksual, bolehnya nikah beda agama?
    see???? ga penting semua kan barang dagangannya?
    masih mending mereka pake pendekatan kemanusiaan dulu, bahas gimana memberdayakan umat, kalau mau bawa2 liberal, jual gimana sebuah kebebasan/liberalisme bisa menaikkan perekonomian bangsa, gimana liberalisme bisa meminimalkan kemiskinan...
    kalau emang ga bisa (yang mana di amerika sendiri ga pake sistem yang liberal murni), ya udah, akui aja ini paham gagal... try again next time
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  20. #20
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093
    Nah justru itu. JIL itu terlalu vulgar. Jadi cara menawarkan dagangannya tidak benar. Dagang apapun asal caranya bagus ada kemungkinan tetap bisa laku. Kalau mereka tidak terlalu vulgar seperti itu, walaupun orang tidak tertarik, juga tidak membenci. Ulil itu memang harus belajar banyak. Intinya mereka itu kan Mu'tazilah. Di Indonesia dari dulu sudah banyak sekali Mu'tazilah hanya saja caranya halus. Orang-orang seperti Nurcholis Madjid, Dawam Rahardjo, Harun Nasution, Komaruddin Hidayat, dsb adalah contohnya. Tapi mereka jauh lebih halus daripada Ulil, jadi yang terang-terangan menentang merekapun hanya sedikit, setidaknya di mata orang awam mereka tidak bermasalah. Kegilaan Ulil yang sangat parah adalah kenekadannya mengikuti Arkoun mengenai Analisis Derrida tentang Dekonstruksi.
    Last edited by Parameswara Li; 21-02-2012 at 04:49 PM.

Page 1 of 5 123 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •