PDA

View Full Version : [Tanya] Jokowi - JK... What's next?



Pages : 1 [2] 3 4

lattungtatturrus
14-01-2015, 11:36 PM
Nah berarti iya mantan kapolda jambi

freak_and_geek
15-01-2015, 12:11 PM
napa PDIP ngotot buat dilantik jadi kapolri...hhhmmm...
pasti ada sesuatu nich..

porcupine
15-01-2015, 01:17 PM
Kalau mau berkonspirasi sih.

Kenapa DPR pada kompak dukung calon ini karena mereka pegang kartu truf nya. Jadi nantinya bakal gampang di setir.

et dah
15-01-2015, 10:47 PM
jokowi jokowi ...Tsk! ::doh::

purba
15-01-2015, 11:27 PM
Jokowi? ::ngakak2::

Udeh gw bilang yg pilih Jokowi 50% lebih dikit. Tapi seolah-olah dipilih oleh 1000% rakyat Indonesia. ::ngakak2::

Antek-antek Jokowi akan melihat Jokowi pake tangan KPK utk jegal pilihan Mega? ::ngakak2::

Orang-orang baik di sekeliling Jokowi? ::ngakak2::

Siap-siap mati ketawa a la Jokowi.... ::ngakak2::

freak_and_geek
16-01-2015, 06:17 PM
^^^...

Puas banget ketawanya...

surjadi05
16-01-2015, 08:02 PM
Ekonomi


Harga Premium Turun Menjadi Rp 6.600 Per Liter

AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA
Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014).
Jumat, 16 Januari 2015 | 14:20 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar. Harga kedua jenis BBM tersebut mulai berlaku pada Senin (19/1/2015).

"Mulai nanti Senin jam 00.00 WIB, harga premium turun menjadi 6.600 per liter. Harga solar turun menjadi Rp 6.400," kata Presiden dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Sebelumnya, sesuai Peraturan Menteri No 39 Tahun 2014, pemerintah per 1 Januari 2015 menurunkan harga premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter. Sementara harga solar turun menjadi Rp 7.250 per liter dari sebelumnya Rp 7.500 per liter.

Harga premium tersebut sudah sesuai pasar. Perhitungan harga tersebut mengacu MOPS sebesar 73 dollar AS per barrel dan kurs Rp 12.380 per dollar AS pada periode 25 November-24 Desember 2014.

Harga BBM jenis premium dan solar rencananya akan dievaluasi setiap dua minggu sekali.

Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan, pihaknya akan mengubah Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 yang masih mengatur penetapan harga BBM setiap satu bulan menjadi dua minggu sekali.

Duhh udah terlanjur naek nasi padank langganan gw, bakal turun lagi kaga ya? ::kesal::

purba
16-01-2015, 09:46 PM
Ekonomi


Harga Premium Turun Menjadi Rp 6.600 Per Liter

AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA
Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014).
Jumat, 16 Januari 2015 | 14:20 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar. Harga kedua jenis BBM tersebut mulai berlaku pada Senin (19/1/2015).

"Mulai nanti Senin jam 00.00 WIB, harga premium turun menjadi 6.600 per liter. Harga solar turun menjadi Rp 6.400," kata Presiden dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Sebelumnya, sesuai Peraturan Menteri No 39 Tahun 2014, pemerintah per 1 Januari 2015 menurunkan harga premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter. Sementara harga solar turun menjadi Rp 7.250 per liter dari sebelumnya Rp 7.500 per liter.

Harga premium tersebut sudah sesuai pasar. Perhitungan harga tersebut mengacu MOPS sebesar 73 dollar AS per barrel dan kurs Rp 12.380 per dollar AS pada periode 25 November-24 Desember 2014.

Harga BBM jenis premium dan solar rencananya akan dievaluasi setiap dua minggu sekali.

Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan, pihaknya akan mengubah Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 yang masih mengatur penetapan harga BBM setiap satu bulan menjadi dua minggu sekali.

Duhh udah terlanjur naek nasi padank langganan gw, bakal turun lagi kaga ya? ::kesal::

Begini cara antek-antek Jokowi utk menutupi keburukan 'sesembahan'nya... ::ngakak2::

Harga premium sesuai pasar? Lha kata Faisal Basri, cuman Indonesia satu-satunya yg impor premium? Pasar apaan kalo cuman satu-satunya? ::ngakak2::

et dah
16-01-2015, 10:27 PM
dulu harga lama premium 6.500 kan
sekarang 6.600 ::doh::
awal tahun ini berasa naik roller coaster :ngopi:

ndableg
17-01-2015, 03:11 AM
Akhirnya, pemberhentian kapolri sutarman, pengangkatan plt polri Komjen Polisi Badrodin Haiti, serta penundaan pelantikan kapolri sampe masalahnya selesai.

surjadi05
17-01-2015, 01:02 PM
Begini cara antek-antek Jokowi utk menutupi keburukan 'sesembahan'nya... ::ngakak2::

Harga premium sesuai pasar? Lha kata Faisal Basri, cuman Indonesia satu-satunya yg impor premium? Pasar apaan kalo cuman satu-satunya? ::ngakak2::

Coba dibaca dulu sumbernta, indo bukan satu2nya pengimport premium (ron88), tapi yg terbesar

---------- Post Merged at 12:02 PM ----------


Akhirnya, pemberhentian kapolri sutarman, pengangkatan plt polri Komjen Polisi Badrodin Haiti, serta penundaan pelantikan kapolri sampe masalahnya selesai.

Yup, tapi kemaren melalui relawan jokowi, katanya tolong mengerti posisi presiden, duh capek deh, apa benar sampe presiden pun, minta dimengerti apa bener kekuatan koalisi sampe segitunya ::kesal::, yang herannya pak jk juga minta supporternya" buat sabar ::nangislari::

et dah
17-01-2015, 01:18 PM
bravo awal jabatan yang patut di acungi jempol kebawah :ngopi:

surjadi05
17-01-2015, 05:18 PM
Yoi, et, mana ada istilah "makan siang gratis" di politik ::kesal::

Politician shitto ::kesal::

et dah
17-01-2015, 05:32 PM
politisi =

http://qph.is.quoracdn.net/main-qimg-4065ca07d93fa77c90ca09f925a70869?convert_to_webp=t rue

purba
18-01-2015, 04:56 AM
Jokowi? ::ngakak2:: Jadi inget lagu "Boneka dari India" ::hihi::

Presiden perlu didampingi orang yg mengerti hukum tata negara, bukan emak-emak yg jadi ketua partai karena kebetulan anaknya mantan presiden. ::ngakak2::

Mana nih pendukung Jokowi? Orang-orang baik di sekitar Jokowi? Mosok orang yg diincar KPK mo dijadiin Kapolri? Alasannya praduga tak bersalah lagi... ::ngakak2::

Harga minyak mentah turun, eh malah naikin harga premium dgn alasan mengurangi subsidi... ::ngakak2::

Sampe sekarang gw gak habis pikir, kenapa 50% lebih dikit rakyat Indonesia pilih orang yg meninggalkan amanah jadi Gubernur DKI? ::doh::

Dengan sotoy-nya membanggakan diri, nanti kalo Jokowi jadi presiden, maka lebih mudah membereskan DKI. Bahhh!!! ::arg!::

Makanya mulai sekarang tinggalkan pelan-pelan kitab suci, dan beralihlah ke optimalisasi fungsi otak. ::ngakak2::

tuscany
18-01-2015, 05:42 AM
Kenapa yah kaset yg diputar terus2an lama2 kedengaran semper %hmm

surjadi05
18-01-2015, 07:51 AM
Kenapa yah kaset yg diputar terus2an lama2 kedengaran semper %hmm

Mungkin karna ga bisa menciptakan "lagu" baru karna ga punya "skill" tapi tetap pengen exist, makanya "diputar" trus ::hihi::

Well setidaknya kalimatnya lebih sopan dah ::ngopi::

cha_n
18-01-2015, 07:17 PM
trolling nya makin ga lucu ah purba, biasanya dia lebih baik dari ini kalo trolling.
yang ini udah kayak dendam pribadi ajah..

Yuki
18-01-2015, 07:48 PM
setiap hari dia kerjanya hanya menyindir dan menghina, tunggulah suatu saat nanti engkau akan menghadapi maut, memangnya engkau pikir engkau akan hidup selamanya di dunia ini? Tunggulah pada saat nanti saat nyawamu tinggal berada di kerongkongan.......

silahkan sekarang engkau tertawa menghina sepuasnya di masa hidupmu, tapi di suatu akhir nanti kamilah yg akan tertawa

tuscany
18-01-2015, 10:31 PM
setiap hari dia kerjanya hanya menyindir dan menghina, tunggulah suatu saat nanti engkau akan menghadapi maut, memangnya engkau pikir engkau akan hidup selamanya di dunia ini? Tunggulah pada saat nanti saat nyawamu tinggal berada di kerongkongan.......

silahkan sekarang engkau tertawa menghina sepuasnya di masa hidupmu, tapi di suatu akhir nanti kamilah yg akan tertawa

Woo rileks mas bro ndak usah terlalu serius. Rugi emosi.

Soal eksekusi terpidana mati narkoba, saya liat masy Indonesia pada kompak setuju kecuali yg serupa komnasham dan imparsial.

et dah
18-01-2015, 10:31 PM
hah..??? ::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::

ndableg
18-01-2015, 11:18 PM
Ya mgk ybs termasuk yg dirugikan dgn jadinya jokowi sbg pres. Makanya stress gitu.

cha_n
19-01-2015, 12:38 AM
jadi kayak pasukan panasbung alay atau kader pks yang taklid buta ama partainya gitu, omongannya muter2 persis si purba.

sekarang jkw itu presiden Indonesia. kalo salah ya wajar diingatkan dengan cara yang baik, mau itu dulu pendukung pas pemilu atau bukan.

sekarang soal bg, kita lihat, toh nyatanya semua setuju. kmp ama kih kompak dukung. tinggal kpk doang.

freak_and_geek
19-01-2015, 06:22 PM
Akhirnya, pemberhentian kapolri sutarman, pengangkatan plt polri Komjen Polisi Badrodin Haiti, serta penundaan pelantikan kapolri sampe masalahnya selesai.

Terlalu cari aman kayanya Jokowi...

purba
19-01-2015, 11:18 PM
Pendukung Jokowi di ::KM:: nguamuk.... ::ngakak2::

---------- Post Merged at 10:16 PM ----------


setiap hari dia kerjanya hanya menyindir dan menghina, tunggulah suatu saat nanti engkau akan menghadapi maut, memangnya engkau pikir engkau akan hidup selamanya di dunia ini? Tunggulah pada saat nanti saat nyawamu tinggal berada di kerongkongan.......

silahkan sekarang engkau tertawa menghina sepuasnya di masa hidupmu, tapi di suatu akhir nanti kamilah yg akan tertawa

Ketawa dimana? Di surga? Hukumnya makruh ketawa di surga... ::ngakak2::

---------- Post Merged at 10:18 PM ----------


Mungkin karna ga bisa menciptakan "lagu" baru karna ga punya "skill" tapi tetap pengen exist, makanya "diputar" trus ::hihi::

Well setidaknya kalimatnya lebih sopan dah ::ngopi::

Weleh antek-antek Jokowi kayak yg bener aja... Belain dah sesembahan lu sampe masup surga... prootss... prootss... ::hihi::

ndableg
20-01-2015, 02:16 AM
jadi kayak pasukan panasbung alay atau kader pks yang taklid buta ama partainya gitu, omongannya muter2 persis si purba.

Oo.. ternyata congor purba sekelas habib fpi.. ::hihi::

TheCursed
20-01-2015, 02:54 AM
Ketawa dimana? Di surga? Hukumnya makruh ketawa di surga... ::managuetahu::
....

Sotoy, loh.... :ngopi:

serendipity
20-01-2015, 09:38 AM
Hukuman mati buat pengedar narkoba sebenernya gw setuju banget... tapi alangkah lebih baik kalo yang bener-bener produsen narkoba yang dieksekusi.
Pengedar narkoba istilahnya cuma pembantu alias kaki tangan dari produsen yang sekarang lagi menikmati uangnya.
Anyway... gw gak pernah liat adegan narkoba (jenis apapun) dibakar.

Tolong donk Kak Owi.... itu polisinya disuruh bakar narkobanya, sama kaya miras yang dihancurin itu loohhhh... jangan pilih kasih sama narkoba

surjadi05
20-01-2015, 12:02 PM
Pendukung Jokowi di ::KM:: nguamuk.... ::ngakak2::

---------- Post Merged at 10:16 PM ----------



Ketawa dimana? Di surga? Hukumnya makruh ketawa di surga... ::ngakak2::

---------- Post Merged at 10:18 PM ----------



Weleh antek-antek Jokowi kayak yg bener aja... Belain dah sesembahan lu sampe masup surga... prootss... prootss... ::hihi::

mulai dah asbun lagi, pret prets::hihi::::hihi::

TheCursed
20-01-2015, 03:22 PM
...

Tolong donk Kak Owi.... itu polisinya disuruh bakar narkobanya, ....

Kapan mau di bakarnya ?
Orang luar boleh jadi pengunjung ?

Mau berdiri di arah hembusan asapnya.... ::oops::

surjadi05
20-01-2015, 04:53 PM
Terlalu cari aman kayanya Jokowi...

atau "kapolri" terlalu powerful, coba bayangkan semua fraksi dpr bahkan gerindra yg biasanya "heboh" pun manut2 aja::arg!::::arg!::

---------- Post Merged at 03:53 PM ----------



sekarang soal bg, kita lihat, toh nyatanya semua setuju. kmp ama kih kompak dukung. tinggal kpk doang.

makanya ada yg aneh kan, sutarman diberhentikan dengan hormat, padahal pensiunnya bisa sampe oktober, kenapa mesti pake "pejabat" kapolri::arg!::::arg!::

freak_and_geek
20-01-2015, 06:55 PM
gue rasa DPR ama presiden malah saling lempar2an tanggungjawab...

surjadi05
20-01-2015, 08:04 PM
gue rasa DPR ama presiden malah saling lempar2an tanggungjawab...

Gaklah dengan keadaan sekarang ini, bola sepenuhnya ditangan jokowi, dpr ga bisa ngapa2in lagi, kalo dpr ga setuju bisa aja dia menolak kan kemaren, makanya heran gw kok presiden kayaknya "impoten" kali ini, gosip ibu2 tetangga sebelah si mbok katanya udah ga masalah diganti tapi koalisi2 yg ngotot, jadi terpikir teori konspirasi tingkat kuli, bahwa ini adalah jebakan betmen buat jokowi, duh ::facepalm::

tuscany
21-01-2015, 09:28 PM
Keliatannya emang gitu. Udah saya catet tuh, yang namanya Trimedya Panjaitan mendesak2 terus di media supaya presiden menghormati DPR yang telah meloloskan BG sebagai kapolri dengan cara melantik secepatnya. Meloloskan fit and proper test tersangka korupsi kok minta dihormati. Entah siapa konstituennya dia. Pemilu legislatif berikutnya idealnya omongan2 ga mutu anggota DPR kudu dipajang di medsos sebagai cara melawan lupa.

ndableg
22-01-2015, 01:04 AM
Emang budi gunawan itu sepenting apa sampe semua dpr pengen dia jadi kapolri?

surjadi05
22-01-2015, 01:14 AM
Nah itu dia yg jadi pertanyaan 1 juta dollarnya? Well setidaknya bagi gw::managuetahu::

mbok jamu
22-01-2015, 06:31 AM
Membalas Budi.

surjadi05
22-01-2015, 07:10 AM
Mungkin mbok, tapi ga menjelaskan kenapa koalisi merah putih juga tetap ikutan "memaksa" presiden tetap melantiknya ::ungg::

et dah
22-01-2015, 09:38 AM
Karena budi adiknya wati
*kriuuuk

serendipity
22-01-2015, 11:04 AM
Kapan mau di bakarnya ?
Orang luar boleh jadi pengunjung ?

Mau berdiri di arah hembusan asapnya.... ::oops::

makanya pengedar narkoba dieksekusi supaya orang luar yg jenguk kagak beli narkoba lagi dari pengedar.
No thank u, gw gak mau berdiri di arah hembusan asapnya hahaha ;))
Whatever caranya deh kakak... mau dibakar, dibuang ke toilet, atau diblender kemudian dikasih ke buaya yang penting gak bisa di kasih ke manusia lagi

mbok jamu
22-01-2015, 11:34 AM
Mungkin mbok, tapi ga menjelaskan kenapa koalisi merah putih juga tetap ikutan "memaksa" presiden tetap melantiknya ::ungg::Kan Budi banyak temennya. Tapi temen banyak dan bisnis keluarga yang nilainya miliaran ternyata ndak cukup.

surjadi05
22-01-2015, 02:01 PM
^^^
akhirnya tetap aja kembali ke " $ 1m question", seberapa penting(powerful) nya kah bg?

freak_and_geek
22-01-2015, 05:04 PM
abis diserang ama foto sekarang diserang lagi soal gak jadi cawapres...
bakalan seru ini..
besok apa lagi...

tuscany
22-01-2015, 09:41 PM
Gile serangan PDIP (Hasto) ke KPK benar2 membabi-buta. Masa dikondisikan Abraham Samad dendam dengan BG karena BG mendukung JK jadi wapres? emang BG siapa pas pemilu?

Mana blog yang jadi sumber Hasto di kompasiana baru hadir 6 hari yang lalu, abal-abal pula. Bener2 dimunculkan buat merusak reputasi Abraham Samad/KPK doang. Ini akibat trio macan biarkan berkeliaran sembarangan sekian lama sehingga orang menggampangkan saja kalo mau fitnah sana-sini.

Dan Hasto berani sekali bawa2 nama Hendropriyono. Mungkin supaya berasa dibacking mantan jenderal.

Oh ya, saya suka kata-kata Johan Budi: jangan mengundi keberanian KPK.

surjadi05
22-01-2015, 11:05 PM
Err mengundi? ::ungg::

tuscany
23-01-2015, 05:58 AM
Nah itu dia yg jadi pertanyaan 1 juta dollarnya? Well setidaknya bagi gw::managuetahu::


Membalas Budi.

Jawaban mbok jamu ude bener kayaknya. ICW menduga si budi sering kasi camilan ke anggota DPR. Mayan kan inves ke anggota dewan yg sudah terkenal maruknya. Yg sudah disebut ICW sih si Trimedya itu. Secara hasto ngototnya lebi parah, pasti hasto dikasinya bukan cemilan lagi. Upss...si ICW tau dr mana ya urusan bagi2 cemilan...

waks!!
23-01-2015, 11:03 AM
Mo ngeramein.
Link sumber nyusul

Jumat, 23/01/2015 09:43 WIB
Bambang Widjojanto Ditangkap Petugas Bareskrim Saat Antar Anak ke Sekolah
Ikhwanul Khabibi - detikNews

FOKUS BERITA
Calon Kapolri Tersangka
Jakarta - Pihak Bareskrim Mabes Polri menangkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. Bambang ditangkap saat tengah mengantar anaknya ke sekolah.

Belum diketahui apa yang menyebabkan Bambang ditangkap. "Saat mengantar anaknya ke sekolah," ujar sumber detikcom, Jumat (23/1/2015).

"Iya tadi dibawa oleh Bareskrim Mabes Polri. Mungkin sekarang posisinya di Bareskrim," kata Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi, Jumat (23/1/2015).

"Belum ada keterangan ditangkap karena kasus apa," jelas Johan.

freak_and_geek
23-01-2015, 11:20 AM
^^..
seru2..Polri VS KPK julid 2...
samad gak mempan sekarang wakilnya ditangkap langsung...
kita liat kelanjutan dramanya gimana

waks!!
23-01-2015, 11:23 AM
Iya seru kalo yg ga terlibat ;D

Ini info terbaru di twitter bisa jadi Bambang W. diculik

et dah
23-01-2015, 11:50 AM
wah parah....nunggu presiden jokowi reaksinya apa :ngopi:

mbok jamu
23-01-2015, 11:55 AM
Jahat banget. Jokowi harus bertanggungjawab dunia akhirat kalau terjadi sesuatu pada Bambang.

surjadi05
23-01-2015, 12:20 PM
KPK Benarkan Penangkapan Bambang Widjojanto
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (kiri), Ketua KPK Abraham Samad (tengah) dan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja (kanan) menyampaikan paparan kinerja KPK akhir tahun, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (29/12).
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (kiri), Ketua KPK Abraham Samad (tengah) dan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja (kanan) menyampaikan paparan kinerja KPK akhir tahun, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (29/12). (sumber: Antara/Reno Esnir)
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan informasi diamankannya Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jumat (23/1). Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi SP mengatakan, kemungkinan Bambang saat ini masih berada di Bareskrim Polri.

"Iya tadi dibawa oleh Bareskrim Mabes Polri. Mungkin sekarang posisinya di Bareskrim," kata Johan saat dikonfirmasi, Jumat (23/1) pagi.

Berdasar informasi, Bambang ditangkap saat mengantar anaknya ke sekolah. Namun, Johan mengaku belum mendapat informasi lebih jauh mengenai dasar penangkapan tersebut.

"Belum ada keterangan ditangkap karena kasus apa," kata Johan.

saus http://www.beritasatu.com/nasional/242993-kpk-benarkan-penangkapan-bambang-widjojanto.html


JAKARTA, KOMPAS.com — Polri membenarkan adanya penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto oleh penyidik Bareskrim Polri.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Ronny Sompie saat jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (23/1/2015).

"Bareskrim telah melakukan upaya penangkapan terhadap tersangka BW," kata Ronny.

Ronny menjelaskan bahwa kasus yang menjerat Bambang terkait sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi.


duh cicak lawan gerombolan buaya ::arg!::::arg!::

---------- Post Merged at 11:20 AM ----------

sengketa pilkada mk yg ditangani bambang sapa ya? si akil bukan?::ungg::

waks!!
23-01-2015, 12:27 PM
Cicak lawan seluruh isi kebun binatang (buaya, banteng) ;D
Bisa2 nanti ada kasus kaya antasari.

twitter lagi rame banget nih.

Sementara itu...ada yg masih blm bisa move on dengan ngetwit, semua karena salah pilih presiden

surjadi05
23-01-2015, 12:54 PM
Yg gw sayangkan kenapa si bambang yg ditangkap, bukan si samad ::kesal::

et dah
23-01-2015, 03:11 PM
gokil nih indonesia sekarang
kayaknya jokowi masih nunggu petunjuk dari ibu megawati :ngopi:
apa yg disampaikan istana nanti kayaknya itu pasti petunjuk dr megawati

---------- Post Merged at 02:11 PM ----------

imho, soal bambang tetep harus di proses hukum mau itu nanti bener bersalah atau ngga

#MasihMendingSBY #TinggalBikinLagu

freak_and_geek
23-01-2015, 05:41 PM
wah parah....nunggu presiden jokowi reaksinya apa :ngopi:

Reaksinya cuma datar seperti biasa....
gak ada tegas2nya kalo diliat dari statementnya dia..

tuscany
23-01-2015, 07:31 PM
Emang kasusnya si bambang apaan sih? kalo sengketa pilkada kok saya nda ingat perannya si bambang? Ya ampun...padahal dia ini the real ketua KPK loh.

---------- Post Merged at 06:31 PM ----------

This is crazy. Semua berita di kompas online mengenai penangkapan BW tidak bisa diakses. Kalo berita lain bisa. Ada yang mengalami hal yang sama?
Mulai dari tadi malem sih berita BG di kompas udah nggak bisa saya akses. Masih berpositif thinking sumtin wrong with the network. Kalo sekarang kayanya saya udah masuk mode teori konspirasi ::elaugh::

freak_and_geek
23-01-2015, 07:45 PM
berita di detik.com hari ini semua soal penangkapan BW...

purba
23-01-2015, 09:46 PM
Mana nih antek-antek Jokowi? Ngumpet di ketiak emak Mega? ::hihi::

Sudah diingatkan jangan mengajukan BG utk Kapolri...
Sudah pemilihannya tidak konsisten dengan pemilihan menteri sebelumnya...
Sudah pemilihannya tidak mengikuti UU yg berlaku...
Sudah banyak orang yg memperingatkan jangan mengajukan BG...

Apa karena kupingnya kesumpel kotoran karena sering blusukan keluar masuk comberan?
Apa karena merasa dipilih 1000% rakyat?

Kasihan Jokowi... ::nangis::
Dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia yg tidak menggunakan rasionya...
Akhirnya hanya jadi bahan olok-olok di media sosial...

Apalagi yg mau ente belain dari sesembahan kalian, wahai antek-antek Jokowi?

::ngakak2::

surjadi05
23-01-2015, 09:53 PM
Emang kasusnya si bambang apaan sih? kalo sengketa pilkada kok saya nda ingat perannya si bambang? Ya ampun...padahal dia ini the real ketua KPK loh.

---------- Post Merged at 06:31 PM ----------

This is crazy. Semua berita di kompas online mengenai penangkapan BW tidak bisa diakses. Kalo berita lain bisa. Ada yang mengalami hal yang sama?
Mulai dari tadi malem sih berita BG di kompas udah nggak bisa saya akses. Masih berpositif thinking sumtin wrong with the network. Kalo sekarang kayanya saya udah masuk mode teori konspirasi ::elaugh::
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri dalam kasus dugaan menyuruh memberikan keterangan palsu dalam sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi pada 2010.

Pada 2010 silam, Kotawaringin Barat melaksanakan pilkada untuk memilih calon bupati dan wakil bupati Kotawaringin Barat. Dalam pilkada tersebut, terdapat dua calon, yakni pasangan nomor urut satu atas nama H Sugianto dan H Eko Soemarno serta pasangan nomor urut dua atas nama H Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto.

Hasil pilkada tersebut memutuskan bahwa pasangan nomor urut satu memenangi pilkada dengan memperoleh 67.199 suara, sementara pasangan nomor urut dua hanya memperoleh 55.281 suara. Pasangan nomor urut dua tidak terima atas hasil pilkada tersebut dan melakukan gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi.

Permohonan gugatan tersebut didaftarkan pada 16 Juni 2010. Berdasarkan putusan sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat tahun 2010 Nomor 45/PHPU.D-VIII/2010 yang diterima Kompas.com dari Pusat Pelayanan Informasi dan Dokumentasi Mahkamah Konstitusi, diketahui bahwa Bambang Widjojanto yang saat itu masih berprofesi sebagai pengacara menjadi kuasa hukum pasangan nomor urut dua, yakni Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto.

Pasangan nomor urut dua ini keberatan terhadap keputusan KPU Kabupaten Kotawaringin Barat yang menetapkan pasangan nomor urut satu menjadi calon terpilih dalam Pilkada Kotawaringin Barat 2010. Menurut keduanya, pasangan nomor urut satu melakukan banyak pelanggaran dan tindak kecurangan yang sistematis, terstruktur, dan masif, di antaranya ancaman kekerasan dan politik uang.

Dalam perjalanan sidang di MK, pemohon, yakni pasangan nomor urut dua, menghadirkan sebanyak 68 saksi untuk menguatkan tuduhan yang disangkakan kepada pasangan nomor urut satu. Dari keterangan 68 saksi dan bukti-bukti yang dibeberkan oleh pemohon, Mahkamah Konstitusi kala itu meyakini adanya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi yang dilakukan oleh pasangan calon nomor urut satu.

Pelanggaran itu berupa praktik politik uang yang meluas, yaitu terjadi pada semua kecamatan se-Kabupaten Kotawaringin Barat.

"Dalil-dalil bantahan termohon tidak didukung oleh bukti-bukti yang meyakinkan Mahkamah," ucap hakim Mahkamah kala itu.

Mahkamah Konstitusi yang saat itu masih diketuai oleh Mahfud MD memutuskan untuk mengabulkan permohonan pasangan nomor urut satu untuk seluruhnya dan mendiskualifikasi pasangan calon nomor urut satu atas nama H Sugianto dan H Eko Soemarno sebagai pemenang Pilkada Kabupaten Kotawaringin Barat.

Penulis: Fathur Rochman

Gw juga bingung ini si bambang sebagai pengacara, kok bisa kena tuduhan bersaksi palsu ::kesal::

Ronggolawe
23-01-2015, 10:19 PM
Bambang Widjojanto disinyalir menjadi menjadi
pengarah gaya para saksi palsu, Kong :)

surjadi05
23-01-2015, 11:06 PM
Bambang Widjojanto disinyalir menjadi menjadi
pengarah gaya para saksi palsu, Kong :)

Oo PENGARAH toh? Kirain sebagai "pengacara", ::facepalm::

et dah
23-01-2015, 11:09 PM
Oo PENGARAH toh? Kirain sebagai "pengacara", ::facepalm::

hahahaha ;D ;D

tuscany
24-01-2015, 01:04 AM
Itu yang nggugat mantan suaminya Ussy.
#ndakpentingsih

Menggugat kok sekarang, kentara banget padahal kasusnya kapan dan udah lama selesai. Kali ini Jokowi ndak bisa ngelak-ngelak lagi pake middle way. Pilihannya cuma kiri atau kanan. Rakyat lebi percaya KPK dari pada siapa pun. Btw, yang politisi kotor keliatan banget yah gegara kasus BG ini. Salut saya kalo masih ada yang mau daptar jadi pimpinan KPK setelah ini. Potensi kriminalisasinya makin hari makin besar.

Ronggolawe
24-01-2015, 01:25 AM
kekeke...
Pimpinan KPK nya sendiri yang main-main di pusaran
arus politis :)

lapor 2015 (apapun motif nya) ditangani 2015 itu hal
yang wajar....

lapor 2008 ditangani 2015 apa wajar? :)

ndableg
24-01-2015, 01:35 AM
Kapan majunya indonesia ini? Kirain bakal sama2 membangun, malah ribut2 lagi mirip jaman sby dulu. SBY ud jendral, lah jokowi orang kampung makin susah.

purba
24-01-2015, 07:17 AM
Kapan majunya indonesia ini? Kirain bakal sama2 membangun, malah ribut2 lagi mirip sby dulu. SBY ud jendral, lah jokowi orang kampung makin susah lawannya.
Gimana mau berharap indonesia makin maju..


Mangkanya lo sebagai rakyat pilih presiden dg rasional. ::bwekk::
Jangan cuman modal blusukan, lo anggap tuh orang udeh kapabel utk jadi presiden. Ini Indonesia mas.... ::hihi::

---------- Post Merged at 06:13 AM ----------

http://www.tempo.co/read/news/2015/01/23/063637107/Pelapor-Bambang-KPK-dan-Isu-Potong-Jari-Aktivis


...Nama Sugianto sempat mencuat saat terjadi kasus penyiksaan investigator lingkungan hidup Faith Doherty dari Environmental Investigation Agency, London dan Ruwidrijanto, anggota lembaga swadaya masyarakat Telapak Indonesia. Sugianto juga diduga memiliki kaitan dengan penyiksaan Abi Kusno Nachran, wartawan tabloid Lintas Khatulistiwa. Abi ternyata masih kakek Sugianto.

Penyiksaan yang diterima Faith Doherty waktu itu cukup kejam. Empat jari tangan kirinya terpotong, menyisakan hanya jempol. Sedangkan Abi Kusno Nachran, jari di tangan kanannya utuh, tapi sekujur lengannya menyimpan bekas luka. Abi menyebut dua nama yang bertanggung jawab atas kekerasan itu: Sg dan AR (Baca:Pelapor Bambang KPK Klaim Korban Pilkada Kobar )...

::ngakak2::

---------- Post Merged at 06:17 AM ----------


kekeke...
Pimpinan KPK nya sendiri yang main-main di pusaran
arus politis :)

lapor 2015 (apapun motif nya) ditangani 2015 itu hal
yang wajar....

lapor 2008 ditangani 2015 apa wajar? :)

Dasar cekak... ::hihi::

BG sudah dinilai merah oleh KPK dan PPATK sewaktu mo dijadiin menteri oleh Jokowi.
Para penggiat anti-korupsi sudah wanti-wanti Jokowi supaya jgn ajukan BG.
Kok KPK dibilang ikut-ikutan politik?

Cekak...cekak... ::ngakak2::

kandalf
24-01-2015, 07:47 AM
Mana nih antek-antek Jokowi? Ngumpet di ketiak emak Mega? ::hihi::

....

Apalagi yg mau ente belain dari sesembahan kalian, wahai antek-antek Jokowi?

::ngakak2::

Yang ada di foto di Reuters ini,
http://s3.reutersmedia.net/resources/r/?m=02&d=20150123&t=2&i=1019299904&w=580&fh=&fw=&ll=&pl=&r=LYNXMPEB0M0H6
http://in.reuters.com/article/2015/01/23/indonesia-police-idINKBN0KW0OU20150123

mereka justru sebagian besar adalah pemilih Jokowi.
Di depannya, sejam setelah foto tersebut diambil, salah satu bikin tulisan menggunakan lakban merah putih.
"PRESIDEN MANA
#RELAWANJKW
#SAVEKPK"


Tapi setelah maghrib, microphone-nya lebih banyak dipakai oleh sayap FPI. ::hihi::
Gak apa-apa sih..
Trus ada PMKRI datang, saya FPI-nya melipir.

Tapi sayap FPI semalam sempat berjanji, kalau Om BW dalam waktu 1x24 jam tidak dibebaskan, FPI akan demo besar-besaran hari Sabtu dan Senin.
Tapi Om BW sudah dilepaskan, ditangguhkan penahanannya tadi pagi sebelum Shubuh.

---------- Post Merged at 08:47 AM ----------

Tapi semalam banyak yang galau, nyeri dada karena dulu milih Jokowi. ::ngakak2::

etca
24-01-2015, 08:10 AM
^
uhuk!
cie cie cieee adminjulnya KM yang masuk tipi dan reuters ::hihi::

#OOT

Ronggolawe
24-01-2015, 10:21 AM
ya iyalah...
Kalau kemarin pilpres kita milih Prabowo, ngga bakal
kaya begini jadinya....

karena negara langsung Bubrah ketika ARB jadi Menteri
UTAMA :)

surjadi05
24-01-2015, 10:54 AM
Apa karena merasa dipilih 1000% rakyat?

Kasihan Jokowi... ::nangis::
Dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia yg tidak menggunakan rasionya...
Akhirnya hanya jadi bahan olok-olok di media sosial...



sorry nih gatal banget tangan gw, gini gw ajarin dikit jadi troll, jokowi tidak dipilih oleh 50% rakyat indo,
ingat yg boleh milih itu orang yg udah berumur 17 tahun atau yg sudah nikah, jadi kasihan kalo anak kecil umur 1-2 tahun kalo dituduh memilih jokowi, padahal jalan aja belum lurus, trus belum lagi yg golput, oh ya jangan2 nak purba ga tahu artinya golput, golput itu singkatan dari golongan putih, golongan putih itu bukan maksdnya orang yang warna kulitnya atau orang yg suka pake baju putih, tapi orang yg tidak mau memakai hak pilihnya, sampe sini ngerti donk ya?::ungg::::ungg::

nah jadi kalo ditotal dari seluruh rakyat indonesia yg milih jokowi-jk itu ga sampe 40%,ngerti donk beda dibawah 40%, sama diatas 50%, nah kalo ada pertanyaan lagi silahkan nanya gw, kalo malu misalnya lewat pm juga boleh kok, gw ga bakal bilang siapa2::hihi::::hihi::

ndableg
24-01-2015, 03:50 PM
Mangkanya lo sebagai rakyat pilih presiden dg rasional. ::bwekk::
Jangan cuman modal blusukan, lo anggap tuh orang udeh kapabel utk jadi presiden. Ini Indonesia mas.... ::hihi::

Jadi elu dan habib fpi pilih siapa pur?? Keknya seleranya mirip2 nih...

ndableg
24-01-2015, 03:52 PM
http://s3.reutersmedia.net/resources/r/?m=02&d=20150123&t=2&i=1019299904&w=580&fh=&fw=&ll=&pl=&r=LYNXMPEB0M0H6

Yg paling kanan itu keknya kenal... %hmm
Kalo jamannya lupus dibilang numpang mejeng.

tuscany
24-01-2015, 04:02 PM
kekeke...
Pimpinan KPK nya sendiri yang main-main di pusaran
arus politis :)

lapor 2015 (apapun motif nya) ditangani 2015 itu hal
yang wajar....

lapor 2008 ditangani 2015 apa wajar? :)

Dalam politik semua diwajar2kan. Namanya juga kepentingan. Selama KPK atau pulisi kepentingannya rakyat ya rapopo. Kalo nda Pinter membaca arus politik dan berselancar dalam situ malah gampang dijagal.

Ronggolawe
24-01-2015, 05:41 PM
http://s3.reutersmedia.net/resources/r/?m=02&d=20150123&t=2&i=1019299904&w=580&fh=&fw=&ll=&pl=&r=LYNXMPEB0M0H6
Yg paling kanan itu keknya kenal...
Kalo jamannya lupus dibilang numpang mejeng.
wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini

---------- Post Merged at 04:41 PM ----------


Dalam politik semua diwajar2kan. Namanya juga kepentingan. Selama KPK atau pulisi kepentingannya rakyat ya rapopo. Kalo nda Pinter membaca arus politik dan berselancar dalam situ malah gampang dijagal.

yang namanya elite itu orang pintar, orang kuat
orang pintar dan orang kuat ya mestinya punya
tanggung jawab... Kalau sampai "berantem" se
sama elite, jelas itu menunjukkan ketidakpeduli
annya akan kepentingan rakyat, cuma peduli pa
da kepentingan kelompok nya sendiri.

ndableg
24-01-2015, 05:57 PM
wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini.

::hihi::::hihi:: keknya emang pernah liat ekspresi spt ini di manaaaa gituh...

Jadi ceritanya gini..
Entah karena balas budi atau keuntungan apa, jokowi diberi masukan oleh partai2 pendukung untuk mencalonkan budi gunawan sbg kapolri.
KPK melindungi pemerintahan jokowi dengan menetapkan calon kapolri sbg tersangka, walau tanpa bukti kuat sekalipun, tanpa sepengetahuan jokowi. Mgk dorongan dari relawan jokowi yg juga relawan kpk.
Kemudian calon kapolri tetep diloloskan DPR yg menganggap jokowi sbg tumbal (KIH) maupun musuh (KMP). Jokowi pun tidak punya jalan lain selain menunda pelantikan sampai kasus selesai.
Polri pun meradang, merasa KPK sebagai aparat hukum bermain2 politik. Akhirnya saling serang lagi antara cicak dan buaya ini, akhirnya bales2an..

Politik kayak gaul abg jg ya..

purba
24-01-2015, 07:00 PM
sorry nih gatal banget tangan gw, gini gw ajarin dikit jadi troll, jokowi tidak dipilih oleh 50% rakyat indo,
ingat yg boleh milih itu orang yg udah berumur 17 tahun atau yg sudah nikah, jadi kasihan kalo anak kecil umur 1-2 tahun kalo dituduh memilih jokowi, padahal jalan aja belum lurus, trus belum lagi yg golput, oh ya jangan2 nak purba ga tahu artinya golput, golput itu singkatan dari golongan putih, golongan putih itu bukan maksdnya orang yang warna kulitnya atau orang yg suka pake baju putih, tapi orang yg tidak mau memakai hak pilihnya, sampe sini ngerti donk ya?::ungg::::ungg::

nah jadi kalo ditotal dari seluruh rakyat indonesia yg milih jokowi-jk itu ga sampe 40%,ngerti donk beda dibawah 40%, sama diatas 50%, nah kalo ada pertanyaan lagi silahkan nanya gw, kalo malu misalnya lewat pm juga boleh kok, gw ga bakal bilang siapa2::hihi::::hihi::

Jiahhh... ceritanya keren nih menunjukkan kesalahan si purba.... ::ngakak2::

Ngapain ente tulis panjang lebar kayak di atas? Ente tinggal ganti kata 'rakyat' yg ane tulis jadi 'rakyat yg ikut nyoblos di pemilu'. Beres 'kan? ::ngakak2::

Trus utk tulisan ente pake ada yg ngasih jempol lagi... Dendam ya mbok? ::bwekk::

Betewe, antek-antek Jokowi gak mau ngakuin kalo sesembahannya gak becus. Emang susah...ibaratnya nasi udah jadi bubur ayam...makan aja... ::ngakak2::

ndableg
24-01-2015, 07:11 PM
Wah.. sensitip jg purba, sampe yg ngasih jempol pun ditanggepin.. ente kesepian lay?

Biar ga becus juga ud jadi presiden, elu jg musti ikut makan. Ato ente lebih pilih makan telék ayam? Silakan tuh bareng2 gubernur tandingan jakarta.. ::ngakak2::

mbok jamu
24-01-2015, 08:11 PM
Biarkan, itu dia mancing-mancing, kangen berat sama simbok.. ::ngakak2::

cha_n
24-01-2015, 08:30 PM
malam minggu, kesepian banget si purba wkwkwk temenin dong bleg

emang sensi banget si purba, kayak lagi pms.
jokowi kalo dilihat sih, dia sendiri tertekan kanan kiri. emang tipikalnya dia ga main frontal.
kurang tegas pas press conference kemaren.

eniwei bw kan dan dibebasin, abis itu apa ya?
pelapor si bw sendiri kalau baca kisah hidupnya, sarap orangnya. kakek sendiri disiksa, malah pernah motong jari2 orang

mbok jamu
24-01-2015, 10:55 PM
Yang ada di foto di Reuters ini,http://s3.reutersmedia.net/resources/r/?m=02&d=20150123&t=2&i=1019299904&w=580&fh=&fw=&ll=&pl=&r=LYNXMPEB0M0H6Rakyat ndak jelas. ::hihi::

ndableg
25-01-2015, 12:51 AM
https://www.youtube.com/watch?v=p_2IN1kO7-4

kandalf
25-01-2015, 01:28 AM
wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini


Bukan.. miscall dari bos-nya karena tiba-tiba menghilang dari tempat kerja. Itu lagi komunikasi ama bos-nya.
Dari sore sebelumnya gue gak bisa login ke komputer gue dan birokrasi kantor klien ribet hingga untuk reset password saja, sampai saat Shalat Jumat belum juga ada response.

Daripada bengong karena gak bisa kerja di tempat klien mending demo.

heihachiro
25-01-2015, 03:49 AM
https://www.youtube.com/watch?v=p_2IN1kO7-4

jawabannya tetep normatif-normatif aja, dan kalo soal jawaban normatif IMO cara menjawab "normatif" ala SBY masih lebih bagus dari cara menjawab terbata-bata dan berkesan bingung dari Jokowi :ngopi:

"saya kan juga baru kemarin.." ::doh::

kenapa bukan Anies Baswedan yang dijadiin jubir presiden aja ya?

tuscany
25-01-2015, 04:14 AM
wajah serius tangan kanan pegang Smartphone...
kayanya habis menyadari dapat 10 misscall dari bini

---------- Post Merged at 04:41 PM ----------



yang namanya elite itu orang pintar, orang kuat
orang pintar dan orang kuat ya mestinya punya
tanggung jawab... Kalau sampai "berantem" se
sama elite, jelas itu menunjukkan ketidakpeduli
annya akan kepentingan rakyat, cuma peduli pa
da kepentingan kelompok nya sendiri.

Kan tinggal diliat om, yang bobotnya di pihak rakyat lebih banyak yang mana. Kadang bentrok tak terhindarkan dalam rangka self defense. Kadang loh ya...

---------- Post Merged at 03:14 AM ----------

Purba bukan lagi sensitip, tapi lagi on the mood, menyala2 sehingga repot2 mengkoreksi tata bahasa sama mengkomen jempolnya orang. Mungkin lagi banyak waktu luang.

Ronggolawe
25-01-2015, 06:58 AM
jawabannya tetep normatif-normatif aja, dan kalo soal jawaban normatif IMO cara menjawab "normatif" ala SBY masih lebih bagus dari cara menjawab terbata-bata dan berkesan bingung dari Jokowi

"saya kan juga baru kemarin.."

kenapa bukan Anies Baswedan yang dijadiin jubir presiden aja ya?
http://birokrasi.kompasiana.com/2015/01/24/membedah-pernyataan-normatif-jokowi-698250.html


Membedah Pernyataan “Normatif” Jokowi

Birokrasi
Nararya

Pecinta teologi, sejarah, bahasa, filsafat, pendidikan, dan [sedikit] politik. Blog pribadi: nararya1979.wordpress.com (Blog ini khusus berisi selengkapnya
Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare
Membedah Pernyataan “Normatif” Jokowi
HL | 24 January 2015 | 13:54 Dibaca: 1218 Komentar: 103 36

1422097167350162662

Presiden Jokowi/Kompasiana (sumber foto: Kompas.com)

Setelah “sukses” memperburuk citranya di hadapan publik dengan mengajukan prapengadilan untuk Budi Gunawan, kini, sekali lagi, Polri mempertontonkan kegegabahannya di hadapan publik. Sepakat dengan rekan Kompasiner Hendra Budiman, drama penangkapan Bambang Widjojanto kemarin, merupakan sebuah kriminalisasi. Entah kegegabahan apa lagi berikutnya!?

Konotasi negatif bagi “normatif”

Dampak dari “serangan balik“ yang gegabah di atas, Jokowi pun menuai kritikan pedas terkait pernyataan resminya sebagai Presiden RI atas peristiwa penangkapan BW. Adalah Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care, memberi konotasi buruk kepada istilah “normatif” dengan menyebut pernyataan Jokowi berintonasi lebih rendah dari ketegasan seorang RT. Hidayah tampaknya masih mengasumsikan bahkan belum move on dari julukan latah, “petugas partai” (baca artikel saya di sini).

Tak ketinggalan, sejumlah tulisan di Kompasiana pun ikut mengekor cercaan Hidayah. Jokowi dianggap sebagai biang semua kekacauan ini. Mereka berandai, Jokowi seharusnya tak mengusung BG sebagai calon tunggal Kapolri pada waktu itu. Lalu ketika terjadi “kericuhan”, Jokowi malah memberi respons “normatif”. Lagi-lagi, istilah “normatif” mendapatkan muatan konotatif yang negatif.

Saya paham dan mengapresiasi kandungan makna di balik cibiran tersebut. Mereka menginginkan Jokowi menentukan sikap. Tidak kelabu. Arahnya adalah, Jokowi seharusnya menyalahkan Polri [atau KPK juga?] secara terbuka yang mempertontonkan aksi kriminalisasi di atas.

Saya setuju dengan kandungan makna di atas, tetapi tidak setuju dengan cara yang diharuskan bagi Jokowi yang olehnya mereka menelorkan cibiran nan pedas itu. Saya memilih fleksibel untuk memberi ruang unik bagi Jokowi mengekspresikan maksudnya.

Saya bahkan berpendapat bahwa Jokowi memang menegor Polri atas aksi penangkapan BW. Saya akan memperlihatkannya di bawah ini.

Indikatif-imperatif

Dalam bidang apa pun, entah itu tulisan atau lisan, seyogyanya orang bergerak dari indikatif menuju imperatif. Indikatif adalah adalah sebutan teknis dalam dunia akademis yang merujuk kepada: fondasi, norma, acuan dasar, atau sejenisnya yang melandasi tindakan atau sikap. Selanjutnya, imperatif juga adalah sebuah istilah teknis. Sebutan ini merujuk kepada: perintah, himbauan, nasihat, arahan, dan instruksi yang landasannya adalah indikatif tadi. Istilah teknis yang sinonim dengan imperatif adalah paraenesis.

Dalam pernyataan resminya sebagai Presiden RI, kelihatannya Jokowi mengemukakan semata-mata imperatif, seperti yang saya kutip di bawah ini:

Sebagai kepala negara, saya meminta institusi Polri dan KPK memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai aturan perundang-undangan yang ada [kalimat pertama].

Saya meminta agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugasnya masing-masing [kalimat kedua] (Sumber: kompas.com).

Sebenarnya tidak begitu. Jika Anda memperhatikan kalimat pertama di atas, teri-imply bahwa indikatif yang diasumsikan Jokowi adalah bahwa harus ada proses hukum yang objektif sesuai dengan UU. Atas dasar indikatif ini, ia mengemukakan imperatif atau paraenesisnya agar Polri dan KPK tidak saling gesek-menggesek. Gesek-menggesek di sini tentu dalam arti tidak melangar proses hukum yang objektif sesuai UU (indikatifnya).

Lalu, adakah yang salah dari apa yang tereksplisit dari mulut Jokowi di atas? Tak ada! Jika istilah “normatif” dimaknai sebagai sesuai dengan norma atau yang bersifat norma, saya kira kandungan konotasi negatif di atas langsung terpental pada langkah pertama.

Rupanya mereka mengingkan tegoran. Dan for sure, teguran itu ada, hanya saja tidak dengan cara yang mereka inginkan. Silakan perhatikan ulasan saya pada bagian berikut ini.

Mirror reading

Dalam artikel kemarin, saya sudah menjelaskan tentang metode baca mirror reading. Di sini, saya akan menggunakannya sekali lagi.

Tanpa mengemukakannya secara eksplisit, pernyataan Jokowi di atas mencerminkan dua occasions (situasi spesifik) yang memprihatinkan. Kalimat pertama di atas mengindikasikan keprihatinan Jokowi terhadap proses hukum yang tidak objektif. Kalimat kedua juga mencerminkan adanya gesekan yang tidak sesuai dengan proses hukum yang objektif (kalimat pertama). Saya kira, ini adalah cerminan keprihatinan Jokowi menyikapi drama “heroik” penangkapan BW.

Jika saya “membaca” secara tepat cerminan occasions tersebut, maka adalah sah untuk “memburu” referents (rujukan spesifik)-nya lebih lanjut. Hanya ada dua pihak yang disebutkan dalam konteks ini, yaitu KPK dan Polri. Pertanyaannya, apakah menurut Jokowi KPK atau Polri?; atau kedua-duanya sedang menjadi intonasi keprihatinan Jokowi di atas?

Saya belum memiliki cukup alasan untuk menyebut KPK termasuk di dalam keprihatinan itu. Sebaliknya saya justru melihat dalam terang hidden transcript Jokowi bahwa status tersangka yang didulang BG adalah bukti bahwa KPK secara tepat menangkap “maksud” Jokowi. BG adalah “pintu masuk” menuju jejaring pemilik rekening gendut di kalangan petinggi Polri (Majalah Tempo 2010)!

Berkiblat pada argumen Kompasianer Hendra Budiman di atas, termasuk argumen saya dalam tulisan terdahulu saya mengenai keblunderan Mabes Polri, saya kira kedua keprihatinan Jokowi tersebut merupakan “tamparan halus” bagi Polri, dalam konteks ini!

Jokowi adalah seorang politikus yang santun (dalam konteks kultur Indonesia). Di hadapan publik, ia dapat menegor tanpa melukai; ia dapat menampik tanpa mengecewakan terlalu dalam. Kita semua ingin menjadi diri kita sendiri, bukan? Lalu mengapa Jokowi tak boleh menjadi “dirinya sendiri” dalam berpolitik serta mengurus Negara besar ini?

De gustibus non est disputandum

Saya sengaja menampilkan satu kali lagi, peribahasa dalam bahasa Latin di atas yang berarti “dalam hal selera/cara/gaya, tak [perlu] ada perbantahan.”

Peribahasa di atas penting dalam konteks ini ketika orang menyerang pernyataan Jokowi dengan intonasi kepada “cara” atau “style“-nya, namun tak menyimak secara teliti kandungan esensial dari pernyataan Jokowi di atas.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, seyogyanya kita memiliki ruang fleksibilitas yang cukup untuk membiarkan Jokowi mengekspresikan gaya kepemimpinannya dalam keunikannya. Rakyat Indonesia yang jumlahnya sekian ratus juta, dengan sekian ratus juta pula keinginan dan selera, jika menginginkan bahkan mengharuskan Jokowi memuaskan cara yang kita semua inginkan, betapa terpecah-belahnya tubuh Jokowi untuk memuaskan kita semua!

Dalam terang argumentasi tersebut, cibiran-cibiran di atas mungkin hanya cocok diterapkan di suatu dunia yang entah ada di mana. Saya tidak tahu eksistensi dunia semacam itu. Yang pasti, di dunia ini, tempat di mana kita berpijak dan hidup bahkan boleh meneriakkan cibiran itu, berlaku, sekali lagi, pepatah Latin di atas: de gustibus non est disputandum!


Yang gw suka, Jokowi selalu ngomong apa adanya,
tidak malu-malu menunjukkan kekurangan diri nya,
makanya "Jokowi adalah kita" :)

dan sudah jelas kok, 1) secara institusi KPK dan Polri
belum dewasa, 2) keduanya harus membuktikan ka
lau kedua nya mampu profesional, 3) tidak boleh ada
intervensi dari pihak mana pun.

justru kalau Jokowi mutusin ini itu, ya sama saja de
ngan gaya Babe di Orde Baru :)
Lagian, KPK dan Polri, lembaga besar dan kuat kok,
bukan rakyat yang dizalimi pengusaha besar, atau
rakyat korban bencana, yang tidak bisa berbuat apa
apa :)

surjadi05
25-01-2015, 08:39 AM
Baca tribun hari ini, katanya jokowi marahin samad dan pejabat kapolri,sampe samad mau mengundurkan diri, tapi cari di tribun online, kok kaga ada, duh apa tribun
salah cetak ::kesal::

freak_and_geek
25-01-2015, 08:55 AM
https://www.youtube.com/watch?v=p_2IN1kO7-4

keliatan kaya gak PD yah atau takut salah ngomong???...
dari jawabannya keliatan kurang tegas...masih mo main aman kayanya...

mbok jamu
25-01-2015, 09:40 AM
Membedah pernyataan Jokowi = membedah kepala orang sakit karena masuk angin.

Membela diri secara elegan, mbok kasih 10/10 buat Jokowi.

Salah satu kewajiban presiden itu menjaga perdamaian tentunya termasuk di dalam republiknya sendiri. Nama BG sudah diberi simbol tanda tanya oleh KPK tapi Jokowi tetap memilih nama tersebut untuk menjadi Kapolri. Ndak usah berat-berat ditarik ke filsafat dulu deh, logika-nya di mana?

Jokowi juga harus membuktikan bahwa dia adalah presiden yang profesional, yang mampu menunjukkan bahwa he knows what he's doing, bukan menimbulkan polemik dan gesekan antar institusi, sampai-sampai seorang panutan publik ditangkap dan diborgol seperti penjahat. Only God knows what could have happened that day if something went wrong.

Menegur KPK dan Polri untuk menutup malu karena kesalahannya sendiri. Pathetic.

purba
25-01-2015, 11:24 AM
http://birokrasi.kompasiana.com/2015/01/24/membedah-pernyataan-normatif-jokowi-698250.html


Yang gw suka, Jokowi selalu ngomong apa adanya,
tidak malu-malu menunjukkan kekurangan diri nya,
makanya "Jokowi adalah kita" :)

dan sudah jelas kok, 1) secara institusi KPK dan Polri
belum dewasa, 2) keduanya harus membuktikan ka
lau kedua nya mampu profesional, 3) tidak boleh ada
intervensi dari pihak mana pun.

justru kalau Jokowi mutusin ini itu, ya sama saja de
ngan gaya Babe di Orde Baru :)
Lagian, KPK dan Polri, lembaga besar dan kuat kok,
bukan rakyat yang dizalimi pengusaha besar, atau
rakyat korban bencana, yang tidak bisa berbuat apa
apa :)

Iyee...sesembahan lo kagak salah... ::ngakak2::

Artikel kompasiana di atas identik dgn orang yg menafsirkan kitab suci. Pertama definisikan dulu bahwa kitab suci selalu benar. Kemudian pernyataan apapun yg ada di kitab suci dapat dicarikan pembenarannya.

Contoh: Kitab suci says: "Makanlah tahi kucing karena dapat menyehatkan tubuh." Kompasiana di atas akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari pembenaran bahwa tahi kucing memang menyehatkan tubuh.

Contoh lain: Sumber suci says: "Kalo minuman ente dicemplungin laler, maka benamkanlah seluruh body laler tersebut, karena di sayap yg satunya ada obatnya."

Contoh lain juga: Sumber suci says: "Minumlah air kencing onta, karena sesungguhnya air kencing onta dapat menggantikan ion-ion tubuh anda yg hilang ketika mengelilingi big-black-box."

::ngakak2::

---------- Post Merged at 10:24 AM ----------


Baca tribun hari ini, katanya jokowi marahin samad dan pejabat kapolri,sampe samad mau mengundurkan diri, tapi cari di tribun online, kok kaga ada, duh apa tribun
salah cetak ::kesal::

Nih ane bantuin...

http://img.okeinfo.net/content/2015/01/14/337/1091931/abraham-samad-bantah-foto-mesra-mirip-dirinya-3KWOvhaNvx.jpg

Gimane? Puas? ::ngakak2::

surjadi05
25-01-2015, 11:29 AM
Membedah pernyataan Jokowi = membedah kepala orang sakit karena masuk angin.

Membela diri secara elegan, mbok kasih 10/10 buat Jokowi.

Salah satu kewajiban presiden itu menjaga perdamaian tentunya termasuk di dalam republiknya sendiri. Nama BG sudah diberi simbol tanda tanya oleh KPK tapi Jokowi tetap memilih nama tersebut untuk menjadi Kapolri. Ndak usah berat-berat ditarik ke filsafat dulu deh, logika-nya di mana?

Jokowi juga harus membuktikan bahwa dia adalah presiden yang profesional, yang mampu menunjukkan bahwa he knows what he's doing, bukan menimbulkan polemik dan gesekan antar institusi, sampai-sampai seorang panutan publik ditangkap dan diborgol seperti penjahat. Only God knows what could have happened that day if something went wrong.

Menegur KPK dan Polri untuk menutup malu karena kesalahannya sendiri. Pathetic.
yg saya bold dan underline itu kaga loh mbok, jokowi ga pernah check ke kpk masalah si budi, makanya banyak yg menyalahkan dia kenapa waktu mentri minta kpk " screening" sedang kapolri tidak, waktu itu dia cuma nanya mapolri, apakah si budi udah selesai masalah " rekening gendut" nya, dan dijawab waktu itu udah selesai, sorry saya lupa baca di majalah gatra/tempo, makanya waktu kemaren ditanya sama relawan jokowi yg ke jakarta, alasan/pembelaan diri jokowi adalah, lah menurut uud kan kapolri harus disetujui oleh pemerintah dan dpr, makanya harusnya dpr yg screening
makanya bisa aja sih dibilang jawaban politisi::arg!::::arg!::

trus fakta yg kedua, samad waktu itu sangat berambisi jadi cawapres hingga pada "hasil terakhir" tinggal samad sama JK tapi (gossipnya) samad terganjal ditangan budi (yg bisa dibilang sobatnya jokowi), trus habis jokowi mengirimkan nama tunggal ke dpr, 1 hari sebelum di "fit & proper test" sama dpr,kpk menetapkan budi sebagai tersangka, kalo mbok bilang kebetulan,saya boleh dong beranggapan ada unsur balas dendam,::ungg::::ungg::

kalo menurut saya yg ideal saat ini, samad mengundurkan diri, dan budi digantikan, tapi yah semuanya balik ada ditangan 3 orang ini, kalo mau berjiwa besar:ngopi:

Ronggolawe
25-01-2015, 12:08 PM
Membedah pernyataan Jokowi = membedah kepala orang sakit karena masuk angin.

Membela diri secara elegan, mbok kasih 10/10 buat Jokowi.
subyektif lah :)



Salah satu kewajiban presiden itu menjaga perdamaian tentunya termasuk di dalam republiknya sendiri. Nama BG sudah diberi simbol tanda tanya oleh KPK tapi Jokowi tetap memilih nama tersebut untuk menjadi Kapolri. Ndak usah berat-berat ditarik ke filsafat dulu deh, logika-nya di mana?

Ini soal stabilo-stabilo an, emangnya berkas resmi
nya sudah pada lihat? sejauh ini cuma ada pernyata
an tanpa ada bukti berkas berstabilo nya :)

lagipula, urusan stabilo-stabiloan cuma saat Jokowi
hendak memilih menteri. Kenapa Jokowi minta pertim
bangan KPK dan PPATK saat itu? Karena ketika itu
memilih menteri adalah HAK PREROGATIF Presiden, ja
di wajar dia mau pake cara apa saja untuk menentu
kan pilihan.

Sedangkan Jabatan Kapolri sudah ada UU yang menga
tur, jadi ngga ada urusan Presiden harus minta skrining
dari KPK atau Pihak manapun, diluar Kompolnas dan DPR.



Jokowi juga harus membuktikan bahwa dia adalah presiden yang profesional, yang mampu menunjukkan bahwa he knows what he's doing,
masih ada 5tahun minus 104hari untuk membuktikannya.

bukan menimbulkan polemik dan gesekan antar institusi

polemik yang mana ya?
Jokowi menjalankan hak dan wewenangnya menurut
UU, kok malah dituduh bikin polemik?


sampai-sampai seorang panutan publik ditangkap dan diborgol seperti penjahat. Only God knows what could have happened that day if something went wrong.

1. BW bukan panutan gw, jadi ini subyektif.
2. kalau terbukti bersalah, ya ujung-ujungnya berstatus
terpidana :)
3. Ngga bakal terjadi apa-apa lah, wong habis ditangkap
masih dikasih kesempatan nelepon Ajudannya, untuk lapor
ke KPK kok :)



Menegur KPK dan Polri untuk menutup malu karena kesalahannya sendiri. Pathetic.
Kesalahan mana, Mbok? :)

Agitho_Ryuki
25-01-2015, 01:00 PM
Ayo buaya dan Banteng.. Masa kalah dengan cicak. he he he... Hajar terus itu si cicak... Buaya dan Banteng, ayo kalian bisa!!!!









ck... miris.....

et dah
25-01-2015, 01:33 PM
teralu tenang, tidak tegas ... err diplomatis lah komentarnya

ndableg
25-01-2015, 05:58 PM
keliatan kaya gak PD yah atau takut salah ngomong???...
dari jawabannya keliatan kurang tegas...masih mo main aman kayanya...

Coba bagi yang merasa lebih ahli daripada presiden utarakan apa sih yg dimaksud ga normatif yg kalian inginkan? Maen ga aman itu biar apa, kalo maen aman ga boleh?

Ronggolawe
25-01-2015, 06:36 PM
mungkin maksudnya Jokowi menggunakan Hak nya
untuk Deponering atau SP3 status tersangka nya
Bambang Widjojanto :)

purba
25-01-2015, 08:03 PM
yg saya bold dan underline itu kaga loh mbok, jokowi ga pernah check ke kpk masalah si budi, makanya banyak yg menyalahkan dia kenapa waktu mentri minta kpk " screening" sedang kapolri tidak, waktu itu dia cuma nanya mapolri, apakah si budi udah selesai masalah " rekening gendut" nya, dan dijawab waktu itu udah selesai, sorry saya lupa baca di majalah gatra/tempo, makanya waktu kemaren ditanya sama relawan jokowi yg ke jakarta, alasan/pembelaan diri jokowi adalah, lah menurut uud kan kapolri harus disetujui oleh pemerintah dan dpr, makanya harusnya dpr yg screening
makanya bisa aja sih dibilang jawaban politisi::arg!::::arg!::


Masih aje dibelain sesembahanye... Jokowi SAW... ::ngakak2::

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/12/ni1fti-eks-ppatk-diusulkan-jadi-menteri-budi-gunawan-dapat-rapor-merah


... Yunus melanjutkan, Budi Gunawan memiliki catatan merah ketika diajukan sebagai calon menteri. "5. Calon KAPOLRI sekarang, pernah diusulkan menjadi menteri, tetapi pada waktu pengecekan info di PPATK & KPK, yang bersangkutan mendapat rapor merah/tidak lulus." ...



trus fakta yg kedua, samad waktu itu sangat berambisi jadi cawapres hingga pada "hasil terakhir" tinggal samad sama JK tapi (gossipnya) samad terganjal ditangan budi (yg bisa dibilang sobatnya jokowi), trus habis jokowi mengirimkan nama tunggal ke dpr, 1 hari sebelum di "fit & proper test" sama dpr,kpk menetapkan budi sebagai tersangka, kalo mbok bilang kebetulan,saya boleh dong beranggapan ada unsur balas dendam,::ungg::::ungg::


Bales dendam? Dangkal banget... ::hihi:: Kalo Samad mau bales dendam, kenapa komisioner KPK yg lain juga ikut-ikutan? Emangnya Bambang dan Adnan kebelet mau jadi wakil Jokowi juga? ::ngakak2::

ndableg
25-01-2015, 08:04 PM
mungkin maksudnya Jokowi menggunakan Hak nya
untuk Deponering atau SP3 status tersangka nya
Bambang Widjojanto :)
Kenape presiden musti menggunakan haknya untuk sp3 BW?

purba
25-01-2015, 08:09 PM
Ini soal stabilo-stabilo an, emangnya berkas resmi
nya sudah pada lihat? sejauh ini cuma ada pernyata
an tanpa ada bukti berkas berstabilo nya :)

lagipula, urusan stabilo-stabiloan cuma saat Jokowi
hendak memilih menteri. Kenapa Jokowi minta pertim
bangan KPK dan PPATK saat itu? Karena ketika itu
memilih menteri adalah HAK PREROGATIF Presiden, ja
di wajar dia mau pake cara apa saja untuk menentu
kan pilihan.

Sedangkan Jabatan Kapolri sudah ada UU yang menga
tur, jadi ngga ada urusan Presiden harus minta skrining
dari KPK atau Pihak manapun, diluar Kompolnas dan DPR.



Ah cekak... Pembentukan kabinet oleh presiden juga ada UU nya coy... Bukan karena ada UU utk Polri, trus Jokowi gak punya prerogatif... ::bwekk::

Dalam Nawacicak eh Nawacita... Jokowi udeh janji mo milih pejabat yg bersih... Pengangkatan Jagung dan Kapolri tidak konsisten dgn Nawacicak eh Nawacita... ::oops::

Ronggolawe
25-01-2015, 08:14 PM
Kenape presiden musti menggunakan haknya untuk sp3 BW?
itu kan mau nya para penggiat #saveKPK, baru deh
dibilang Jokowi tegas, ngga normatif :)

purba
25-01-2015, 08:15 PM
Antek-antek Jokowi di ::KM:: masih kekeuh ngebelain sesembahannye... ::ngakak2::

ndableg
25-01-2015, 08:29 PM
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/12/ni1fti-eks-ppatk-diusulkan-jadi-menteri-budi-gunawan-dapat-rapor-merah


Itu jadi menteri coy. Masalahnya menurut kompolnas, badan yang mengajukan calon kapolri, BG dianggap bersih. Kalo KPK menganggapnya tidak bersih, ya sekarang saatnya KPK membuktikan itu.

ndableg
25-01-2015, 08:31 PM
Antek-antek Jokowi di ::KM:: masih kekeuh ngebelain sesembahannye... ::ngakak2::

Yah daripada lo... bisanya ngetroll kayak anak ber IQ 10000 ::ngakak2::
Orang yg dibela presiden sendiri, bukan presiden negara lain. Kecuali elu ga mau tinggal di indo.. Terpaksa tinggal di indo, gara2 ga diterima dimana2.. ::ngakak2::
Betapa orang2 pada terpesona dgn kepinteran lu.. Gaya lu kayak cuman elu seorang yg benci jokowi aja..

Ternyata beginilah sikap purba ketika GAGAL menggolkan sesembahannya jadi presiden.. susah move on..

ndableg
25-01-2015, 08:47 PM
itu kan mau nya para penggiat #saveKPK, baru deh
dibilang Jokowi tegas, ngga normatif :)

Yea right.. emang ga perlu proses apa? Baru kejadian ud langsung harus begitu? Jadi apakah tegas dan ga normatif = sembrono/buru2?

Eh.. tapi yang komentar di sini keknya bukan penggiat saveKPK deh..

tuscany
25-01-2015, 09:07 PM
Baca tribun hari ini, katanya jokowi marahin samad dan pejabat kapolri,sampe samad mau mengundurkan diri, tapi cari di tribun online, kok kaga ada, duh apa tribun
salah cetak ::kesal::

Berita asalnya dari merdeka online. Terus Samad sudah membantah kalo dimarahi presiden. Kata orang sih Samad nggak merasa dimarahin karena yg marahin pake gaya wong solo.


keliatan kaya gak PD yah atau takut salah ngomong???...
dari jawabannya keliatan kurang tegas...masih mo main aman kayanya...

Setau saya gaya Jokowi ngomong memang begitu. Sampe2 sering pake kata "Perlu saya tegaskan..." karena sering dianggap nggak tegas kalo lagi ngomong. Dia bukan tipe orator atau preman. Diliat tegas enggaknya dari tindakan belio.



Salah satu kewajiban presiden itu menjaga perdamaian tentunya termasuk di dalam republiknya sendiri. Nama BG sudah diberi simbol tanda tanya oleh KPK tapi Jokowi tetap memilih nama tersebut untuk menjadi Kapolri. Ndak usah berat-berat ditarik ke filsafat dulu deh, logika-nya di mana?


Selain Jokowi, anggota dewan juga perlu dihujat karena tingkahnya yang lebi parah. Udah tersangka malah diloloskan fit and proper test. Logikanya di mana? eh kalo soal yang ini mah ketebak.


Iyee...sesembahan lo kagak salah... ::ngakak2::

Artikel kompasiana di atas identik dgn orang yg menafsirkan kitab suci. Pertama definisikan dulu bahwa kitab suci selalu benar. Kemudian pernyataan apapun yg ada di kitab suci dapat dicarikan pembenarannya.

Nih ane bantuin...

http://img.okeinfo.net/content/2015/01/14/337/1091931/abraham-samad-bantah-foto-mesra-mirip-dirinya-3KWOvhaNvx.jpg

Gimane? Puas? ::ngakak2::

Purba vs kitab suci. Sapa yang lebih benar? ::elaugh::
Ini mah pertarungan abadi.


yg saya bold dan underline itu kaga loh mbok, jokowi ga pernah check ke kpk masalah si budi, makanya banyak yg menyalahkan dia kenapa waktu mentri minta kpk " screening" sedang kapolri tidak, waktu itu dia cuma nanya mapolri, apakah si budi udah selesai masalah " rekening gendut" nya, dan dijawab waktu itu udah selesai, sorry saya lupa baca di majalah gatra/tempo, makanya waktu kemaren ditanya sama relawan jokowi yg ke jakarta, alasan/pembelaan diri jokowi adalah, lah menurut uud kan kapolri harus disetujui oleh pemerintah dan dpr, makanya harusnya dpr yg screening
makanya bisa aja sih dibilang jawaban politisi::arg!::::arg!::

trus fakta yg kedua, samad waktu itu sangat berambisi jadi cawapres hingga pada "hasil terakhir" tinggal samad sama JK tapi (gossipnya) samad terganjal ditangan budi (yg bisa dibilang sobatnya jokowi), trus habis jokowi mengirimkan nama tunggal ke dpr, 1 hari sebelum di "fit & proper test" sama dpr,kpk menetapkan budi sebagai tersangka, kalo mbok bilang kebetulan,saya boleh dong beranggapan ada unsur balas dendam,::ungg::::ungg::

kalo menurut saya yg ideal saat ini, samad mengundurkan diri, dan budi digantikan, tapi yah semuanya balik ada ditangan 3 orang ini, kalo mau berjiwa besar:ngopi:

Kong, menurut saya kalo masi gosip sifatnya jangan lantas diasumsikan benar. Itu berbahaya. Yang mengumbar Samad berminat jadi cawapres itu media massa. Adakah dari belio sendiri pernah mendeklarasikan langsung keinginannya?


Masih aje dibelain sesembahanye... Jokowi SAW... ::ngakak2::

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/12/ni1fti-eks-ppatk-diusulkan-jadi-menteri-budi-gunawan-dapat-rapor-merah
Bales dendam? Dangkal banget... ::hihi:: Kalo Samad mau bales dendam, kenapa komisioner KPK yg lain juga ikut-ikutan? Emangnya Bambang dan Adnan kebelet mau jadi wakil Jokowi juga? ::ngakak2::

Nah ini saya setuju. Keputusan KPK itu kolektif kolegial. Isu Samad dendam dihembuskan untuk merusak solidaritas KPK. Kok ada aja yang masi percaya.


Ah cekak... Pembentukan kabinet oleh presiden juga ada UU nya coy... Bukan karena ada UU utk Polri, trus Jokowi gak punya prerogatif... ::bwekk::

Dalam Nawacicak eh Nawacita... Jokowi udeh janji mo milih pejabat yg bersih... Pengangkatan Jagung dan Kapolri tidak konsisten dgn Nawacicak eh Nawacita... ::oops::

Yang ini pitonah. Dari mana dasarnya Jagung tidak bersih? Kapolri pun belom diangkat, masih ditunda.


Itu jadi menteri coy. Masalahnya menurut kompolnas, badan yang mengajukan calon kapolri, BG dianggap bersih. Kalo KPK menganggapnya tidak bersih, ya sekarang saatnya KPK membuktikan itu.

Kompolnasnya yang perlu ditelisik, kok ndak rembukan sama KPK dulu sebelum pengajuan calon? Padahal menurut Adnan Pandu Praja yang mantan anggota Kompolnas, tradisi itu sebelumnya sudah berlangsung. Kepala Kompolnasnya "kebetulan" Menkopolhukam. Makanya dia cuap2 terus di media karena usulannya dikepalai dia ::elaugh::

ndableg
25-01-2015, 09:22 PM
Kong, menurut saya kalo masi gosip sifatnya jangan lantas diasumsikan benar. Itu berbahaya. Yang mengumbar Samad berminat jadi cawapres itu media massa. Adakah dari belio sendiri pernah mendeklarasikan langsung keinginannya?

Nah ini saya setuju. Keputusan KPK itu kolektif kolegial. Isu Samad dendam dihembuskan untuk merusak solidaritas KPK. Kok ada aja yang masi percaya.

Gw bilang justru KPK ingin menyelamatkan pemerintahan jokowi dgn caranya. Buktinya Setya NOvanto yg jg bermasalah didiemin aja jadi ketua DPR.


Kompolnasnya yang perlu ditelisik, kok ndak rembukan sama KPK dulu sebelum pengajuan calon? Padahal menurut Adnan Pandu Praja yang mantan anggota Kompolnas, tradisi itu sebelumnya sudah berlangsung. Kepala Kompolnasnya "kebetulan" Menkopolhukam. Makanya dia cuap2 terus di media karena usulannya dikepalai dia ::elaugh::

Masalahnya apa ada undang2nya yg mengatakan polri harus konsultasi ke KPK untuk memilih komendannya? Dan polri sendiri sudah punya dokumentasi ttg masalahnya BG.

et dah
25-01-2015, 09:53 PM
cewe yg cium pipi sama om samad bening cing
i salute you, broh.. respect :ngopi:

tuscany
25-01-2015, 10:24 PM
Gw bilang justru KPK ingin menyelamatkan pemerintahan jokowi dgn caranya. Buktinya Setya NOvanto yg jg bermasalah didiemin aja jadi ketua DPR.
Masalahnya apa ada undang2nya yg mengatakan polri harus konsultasi ke KPK untuk memilih komendannya? Dan polri sendiri sudah punya dokumentasi ttg masalahnya BG.

Kalo mau nyaring yang terbaik ya selain undang-undang pake cara lain juga dong. deliver extra, why not? jadi kompolnas kalo cuman normatif begitu kerjanya nggak perlu orang pinter.


cewe yg cium pipi sama om samad bening cing
i salute you, broh.. respect :ngopi:

Itu putri Indonesia mas bro, lagi berlaga di Miss Universe. Jelas aja bening, masa kirim ke LA yang butek.

ndableg
26-01-2015, 12:31 AM
Kalo mau nyaring yang terbaik ya selain undang-undang pake cara lain juga dong.
Kalo BG menurut mereka yg terbaik gimane? Terbaik ato terbersih? Seandainya kompolnas mau konsultasi mana yang terbaik, ya tanyanya ke jenderal2 polisi dong.. kalo ke KPK itu kan tanya yang ga korupsi. Kalo mereka yang POLISI nanya ke KPK, berarti logikanya POLISI yang penegak hukum ga tau tentang catatan hukum calonnya... Sounds weird, isn't it?

et dah
26-01-2015, 12:42 AM
Itu putri Indonesia mas bro, lagi berlaga di Miss Universe. Jelas aja bening, masa kirim ke LA yang butek.


ooooh
doi emang oke banget .. dari beberapa bulan ini gw cuma bisa follow ignya doang
the best by far putri Indonesia ,imo

---------- Post Merged at 11:42 PM ----------

anw ngapain itu om samad cipok cipok calon emak anak2 gue ;D

surjadi05
26-01-2015, 08:36 AM
@tucsany yg soal cawapres itu kan fakta, orang saat terakhirnya pilihannya samad atau pak Jk, yg maksd saya gossip itu yg samad diganjal sama budi, kalo menurut saya pak Jk dipilih karna jelas nilai jualnya lebih tinggi dari samad
So?al hasil keputusan kpk menerapkan budi sebagai tersangka, ok lah anggap aja itu keputusan kolektif, nah kalo begitu kenapa keputusan bw tersangka ga bisa dianggap keputusan kolektif juga, bukannya berarti itu ga fair?

Tolong dilihat case by case, jangan secara generalisir, bukannya ga adil mengganggap samad sebagai ketua kpk ga ada hubungannya dengan budi sebagai tersangka, tapi di lain pihak, ngejudge bahwa budi lah yg menentukan bw sebagai tersangka? ::ungg::

kandalf
26-01-2015, 11:55 AM
Cuma pendapat pribadi:

Pertama,
Saya tidak setuju imunitas pimpinan KPK.

Kedua,
saya setuju mendukung bahwa Pak Bambang Widjojanto harus mengundurkan diri atau setidaknya mengajukan permohonan tertulis untuk mengundurkan diri.

Ketiga,
saya sepakat dengan Mao Zedong, "tak perduli hitam atau putih, selama kucing itu bisa menangkap tikus maka kucing itu bagus".
Saya tak perduli dengan isu KPK bersih atau tidak, selama dia bisa menangkap koruptor, maka KPK layak dipertahankan.

Keempat,
ada bedanya pernyataan "saya percaya Budi Gunawan bersih" dengan pernyataan "Ada pengkhianat di tubuh Polri sehingga Budi Gunawan diutak-atik". Pernyataan pertama adalah hal wajar karena kedekatan. Pernyataan kedua, dan sayangnya diucapkan oleh Kabareskrim Budi Waseso, menunjukkan keberpihakan dan permusuhan sehingga kepemimpinannya di Bareskrim layak dipertanyakan.

Kelima,
penahanan Budi Widjojanto yang dilakukan pada hari Jumat pagi lalu, tidak memenuhi prosedur penangkapan yang benar dan penahanannya tidak memiliki dasar, dan fakta bahwa pimpinan Polri tidak diberitahu sehingga terjadi beberapa saat penyangkalan menunjukkan itikad tidak baik dari Kabareskrim yang menunjukkan kembalinya cara-cara orde baru dipergunakan. Seandainya, cara ini terjadi pada seorang aktivis di daerah, yang tak terlalu dikenal publik, sendirian (tak bawa anak yang sudah menginjak dewasa), niscaya aktivis tersebut akan hilang dari publik.

Karena itu, apa yang terjadi pada Budi Widjojanto tersebut sudah layak disebut sebagai penculikan bukan penangkapan.

kandalf
26-01-2015, 12:15 PM
Terkait dengan kasus di Waringin sendiri,
saya percaya Pak Bambang Widjojanto. Saya melihat beliau, Sabtu pagi menjelang shubuh.
Ini subyektif.

Tapi kawan-kawan yang demo Jumat kemarin adalah orang-orang LBH. Mereka juga melihat kasus yang disebut sebagai alasan Bambang Widjojanto dijadikan tersangka dan kasus itu juga tidak kuat. Bahkan kalau Bambang Widjojanto kelak dianggap bersalah, bisa menjadi preseden buruk buat para pengacara LBH.

Yang saya dengar dari percakapan anak-anak LBH Jakarta Jumat kemarin kurang lebih mirip seperti yang diceritakan Pak Taufik Basari dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
http://news.detik.com/read/2015/01/26/031040/2813408/10/taufik-basari-bambang-widjojanto-advokat-yang-bersih-dan-berintegritas

"Saya meyakini bahwa tuduhan yang membuat BW menjadi tersangka adalah tuduhan tidak berdasar. Saya yakin karena 3 hal. (a) karena saya mengenal BW, bagaimana ia menjaga integritasnya. Rekam jejaknya membuktikan itu," ujar Taufik.

"(b) karena saya paham kasus Kotawaringin Barat (Kobar) di MK yang dituduhkan kepada BW, dan perjalanan kasus tersebut selanjutnya. (c) sebagai lawyer yang biasa beracara di MK, tuduhan kepada BW mengarahkan saksi kemudian dianggap bertanggungjawab atas kesaksian palsu, juga tidak tepat," bebernya.

kandalf
26-01-2015, 12:51 PM
Perkap 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan

Pasal 36
(1) Tindakan penangkapan terhadap tersangka dilakukan dengan pertimbangan
sebagai berikut:
a. adanya bukti permulaan yang cukup; dan
b. tersangka telah dipanggil 2 (dua) kali berturut-turut tidak hadir tanpa
alasan yang patut dan wajar.

---------- Post Merged at 01:51 PM ----------

Masih di Perkap yang sama.

Pasal 44
Tindakan penahanan terhadap tersangka dilakukan dengan pertimbangan sebagai
berikut:
a. tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri;
b. tersangka dikhawatirkan akan mengulangi perbuatannya;
c. tersangka dikhawatirkan akan menghilangkan barang bukti; dan
d. tersangka diperkirakan mempersulit Penyidikan.

Ronggolawe
26-01-2015, 01:04 PM
Pasal 44 ayat D?

surjadi05
26-01-2015, 02:37 PM
Kalo gw bicara opini apa mungkin bw "mengarah" saksi2 dia, menurut gw 99% mungkin, soalkan jangankan dia, bisa dibilang hampir seluruh pengacara "mengarahkan" cara bicara saksi, jangankan di indo, gw pernah diminta jadi saksi soal perpajakan indo di uk, pengacaranya juga "mengarah"kan cara bicara gw, nah untuk itulah gunanya hakim/juri kan ::ngopi::

kandalf
26-01-2015, 03:48 PM
Pasal 44 ayat D?


Jelas hari Jumat kemarin beliau tidak mau menjawab satupun pertanyaan sebelum Ashar karena beliau tidak didampingi pengacara.
Setelah Ashar, begitu ditanya, beliau bertanya balik minta detailnya.
Karena tak ada surat panggilan, polisi asal main comot.
Beliau meminta hak-haknya dipenuhi, diperjelas atas pasal berapa dia dipersangkakan.

Kalau itu disebut sebagai mempersulit penyidikan, maka polisi perlu belajar lagi tentang hak-hak para tersangka.

Dan alasan ke wartawan adalah, "takut mempengaruhi saksi", betapa menggelikan.
Memangnya KPK punya senjata buat meneror?

Jadi Sabtu pagi sekitar pukul 1 kemarin,
Wakapolri intervensi penyidikan. Beliau minta Bambang Widjojanto bersedia kerjasama saat dipanggil kelak bila dibebaskan. Setelah Bambang Widjojanto bersedia, barulah Wakapolri meminta tim penyidik mengabulkan permohonan penangguhan penahanan.

Om surjadi05.
Benar, semua pengacara "mengarahkan saksi" karena itu tugas mereka. Menyeleksi saksi, mengarahkan saksi agar hanya memberitahu hal-hal yang relevan dengan hukum, menghindari kesaksian akan hal-hal yang bisa mengalihkan pembelaan. Dan itu sah di mata hukum.

Saya masih mencari dokumen tentang peradilan kesaksian palsu dan belum menemukannya.
Yang saya temukan cuma putusan PTUN 153/G/2011/PTUN-JKT yang ada pertimbangan pembelaan begini

Bahwa tidak benar keputusan Pengadilan Jakarta Pusat, menghukum Ratna Mutiara karena sumpah palsu berkaitan dengan keterangan yang tidak benar di Mahkamah Konstitusi adanya money politic dibeberapa tempat dalam pemilukada Kotawaringin Barat, yang benar terbukti di Pengadilan antara lain berkaitan dengan keterangan tidak benar intinya tentang keterangan Ratna Mutiara yang menerangkan money politic di kampungnya dan keterangan ; “Lurahnya terdakwa bernama Nanang Sabri ditahan baru 10 hari sudah dikeluarkan dengan jaminan tahanan luar dari Sugian dan kalau Sugian sampai bisa menang di desa terdakwa, maka Lurah terdakwa (Nanang Sabri) akan dikeluarkan dari
penjara”;--------------------------------------------------------------

Jujur, sebelum benar2 dapat dokumen yang memvonis Ratna, aku masih ragu.

Nah ini dia,
"mengarahkan saksi" itu sah dalam mata hukum.
Kalau itu disebut "menyuruh saksi berbohong", maka semua aktivitas para pengacara-pengacara LBH akan terancam kriminalisasi.

surjadi05
26-01-2015, 04:18 PM
Nasional


Bambang Serahkan Keputusan Pengunduran Dirinya Pada Pimpinan KPK

AFP PHOTO / AZQA HARUN
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto saat meninggalkan Mabes Polri, Sabtu (24/1/2015) dini hari setelah penahanannya ditangguhkan. Ia dijerat kasus saksi palsu kasus gugatan Pilkada Kotawaringin Barat pada 2010 saat menjadi pengacara.
Senin, 26 Januari 2015 | 15:05 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyerahkan kepada pimpinan KPK lainnya untuk mengambil keputusan terkait pengunduran diri sementara yang diajukannya. Pada Senin (26/1/2015), Bambang mengajukan surat pengunduran diri sementara setelah ditetapkan Polri sebagai tersangka.

"Biar pimpinan KPK yang akan menentukan lebih lanjut, jadi saya mengajukan surat itu kepada pimpinan KPK, biar pimpinan KPK yang akan menentukan lebih lanjut permohonan itu," kata Bambang di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta.

Ia yakin pimpinan KPK lainnya segera menggelar rapat untuk memutuskan sikap atas surat pengunduran diri sementara Bambang. Jika kemudian pimpinan KPK menolak pengunduran diri sementara yang diajukannya, Bambang akan mempertimbangkan lagi kemudian keputusan pimpinan KPK tersebut.

"Saya akan mempertimbangkan, saya serahkan sepenuhnya kepada pimpinan KPK," ucap dia. (Baca: Jadi Tersangka, Bambang Widjojanto Ajukan Pengunduran Diri Sementara dari KPK)

Pengunduran diri ini diajukan Bambang setelah dia ditetapkan Bareskrim Polri sebagai tersangka atas dugaan menyuruh saksi menyampaikan keterangan palsu dalam sengketa pemilihan kepala daerah Kotawaringin Barat 2010. Menurut Bambang, Sesuai dengan Undang-Undang tentang KPK, kata dia, seorang pimpinan KPK harus diberhentikan sementaar jika ditetapkan sebagai tersangka.

"Saya tunduk pada konsitusi, undang-undang dan kemaslahatan kepentingan publik. Itu sebabnya saya mengajukan surat itu dengan alasan di atas kepada pimpinan KPK," ujar dia.

Kendati yakin bahwa kasus yang menjeratnya ini diada-adakan, Bambang akan mengikuti proses hukum di Kepolisian. Pada 20 Januari nanti, Bambang kembali dijadwalkan Bareskrim untuk diperiksa sebagai tersangka.


Menurut gw, bw udah jantan, dengan menyerahkan surat mundur, jujur aja saya berharap surat ini ditolak sama pimpinan kpk, ::ngopi::
setidaknya dia lebih jantan dari samad yg sampe sekarang selalu berkata dia tidak pernah "menginginkan" jawaban cawapres tahun 2014, atau sudah? ::ungg::

freak_and_geek
26-01-2015, 04:37 PM
Cuma pendapat pribadi:

Pertama,
Saya tidak setuju imunitas pimpinan KPK.

Kedua,
saya setuju mendukung bahwa Pak Bambang Widjojanto harus mengundurkan diri atau setidaknya mengajukan permohonan tertulis untuk mengundurkan diri.



gue juga gak setuju kalo ada pejabat KPK atau sapa lah yang dapat imunitas hukum..ntar malah sewenang2 lagi..

BW udah mengajukan surat pengunduran diri sementara dari KPK

surjadi05
26-01-2015, 04:54 PM
gue juga gak setuju kalo ada pejabat KPK atau sapa lah yang dapat imunitas hukum..ntar malah sewenang2 lagi..

BW udah mengajukan surat pengunduran diri sementara dari KPK

Yg minta imunitas kayaknya baru si adnan kan? Atau sudah semua pimpinan kpk? Sorry belum sempat baca koran ::ungg::

surjadi05
26-01-2015, 08:36 PM
Calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan (kanan) berbincang dengan Ketua Komisi III DPR Azis Syamsudin saat mendapat kunjungan di kediamannya Jalan Duren Tiga Barat VI, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2015).
Senin, 26 Januari 2015 | 19:24 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - DPR akan tetap memaksa Presiden Joko Widodo segera melantik Komisaris Jendral Budi Gunawan sebagai Kapolri. Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsudin menyadari, banyak publik yang menganggap pelantikan Budi akan melanggar etika karena yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun, kata Aziz, DPR tidak mau terjebak dalam stigma etika, melainkan undang-undang.

"Kita mau bicara UU atau etika? Kalau etika itu setiap personal bisa berbeda-beda. Saya mau bicara Undang-Undang," kata Aziz di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2015) petang.

Aziz mengatakan, jika Presiden tak melantik Budi sebagai Kapolri, maka dia akan melanggar Undang-Undang. Pasalnya, Budi sudah menjalani fit and proper test di Komisi III dan dinyatakan lolos.

"Harusnya sejak Kapolri Sutarman diberhentikan kemarin, Jokowi sudah harus melantik Budi Gunawan. Harus dilantik dulu, urusan nanti non-aktif belakangan," ucap Aziz.

Jika nantinya Jokowi memutuskan untuk tidak melantik Budi, kata Aziz, tidak menutup kemungkinan DPR akan menggunakan hak interpelasi kepada Presiden.


Tuh ada yg aneh kan,jangan2 beneran jebakan betmen ::ungg::

purba
26-01-2015, 09:53 PM
Itu jadi menteri coy. Masalahnya menurut kompolnas, badan yang mengajukan calon kapolri, BG dianggap bersih. Kalo KPK menganggapnya tidak bersih, ya sekarang saatnya KPK membuktikan itu.

Lha kalo orangnya itu-itu juga, emang beda kalo jadi Menteri atau jadi Kapolri?

Penggunaan KPK dan PPATK dlm memilih pejabat adalah ide bagus yg didukung banyak orang. Tapi Jokowi tidak menjalankannya secara konsisten (buat gw mah gak aneh ::ngakak2:: ). Itu sumber masalahnya . Apalagi, Jagung dan Kapolri adalah penegak hukum yg diperlukan utk pemberantasan korupsi. Itu butuh saringan ekstra yg lebih kuat lagi dibandingkan memilih Menteri.

Gw percaya, Jokowi sadar dia gak punya kekuatan politik, maka itu dia manut saja sama Megawati dan Paloh. Kalo Jokowi juga 'berontak' thd Megawati dan Paloh, siapa yg dukung dia di DPR nanti? Tanpa dukungan DPR, pemerintahan Jokowi stagnan, Nawacita cuman jadi macan ompong gak berkuku.

Strategi yg perlu dijalankan oleh Jokowi, mengambil 'hati' bukan pemilih dia yg kurang dari 50% tsb. Biarkan Megawati dan Paloh pun bersekutu dgn Ical, dll, tapi Jokowi dapat dukungan riil dari, katakanlah, 90% rakyat pemilih tadi.

Mana tuh antek-antek Jokowi? Bisa gak kasih strategi jitu buat sesembahannya.... ::hihi::

tuscany
27-01-2015, 03:00 AM
@tucsany yg soal cawapres itu kan fakta, orang saat terakhirnya pilihannya samad atau pak Jk, yg maksd saya gossip itu yg samad diganjal sama budi, kalo menurut saya pak Jk dipilih karna jelas nilai jualnya lebih tinggi dari samad
So?al hasil keputusan kpk menerapkan budi sebagai tersangka, ok lah anggap aja itu keputusan kolektif, nah kalo begitu kenapa keputusan bw tersangka ga bisa dianggap keputusan kolektif juga, bukannya berarti itu ga fair?

Tolong dilihat case by case, jangan secara generalisir, bukannya ga adil mengganggap samad sebagai ketua kpk ga ada hubungannya dengan budi sebagai tersangka, tapi di lain pihak, ngejudge bahwa budi lah yg menentukan bw sebagai tersangka? ::ungg::

Oh memang fakta ya bahwa AS masuk bursa cawapres Jokowi versi Jokowi? bukan versi media loh ya. Saya sih cuma tidak mau berprasangka karena saya ndak tau persis. Media palagi online palagi pas pilpres hadeuh entah mana yang benar mana yang dikarang sudah ndak jelas.

Kalo dah tau gosip doang bahwa AS diganjal Budi, topik balas dendam AS - Budi mestinya ndak relevan dibahas. Bahwa KPK kolektif kolegial itu udah jamak, tapi kalo polisi kolektif kolegial saya baru dengar. Polisi setau saya decision makingnya hikarki.


Cuma pendapat pribadi:

Pertama,
Saya tidak setuju imunitas pimpinan KPK.

Kedua,
saya setuju mendukung bahwa Pak Bambang Widjojanto harus mengundurkan diri atau setidaknya mengajukan permohonan tertulis untuk mengundurkan diri.


Impunitas perlu tapi terbatas, kalo di negara lain itu impunitas batasnya tertangkap tangan. Kalo enggak, satu-satu pimpinan KPK dipreteli dengan dicari2 kesalahan masa lalu yang belom tentu juga kejadian, terus secepatnya dijadikan tersangka - yang mana sudah terjadi, bentar lagi Zulkarnaen juga kena kayaknya. Terus semuanya secara ksatria mengundurkan diri karena menjadi tersangka. Kalo pimpinan KPK kosong, siapa yang dapat untung? Just give a thought about it. Pimpinan KPK sudah disaring masa lalunya harus bersih. Mending saringannya aja diperketat lagi.








JAKARTA, KOMPAS.com - DPR akan tetap memaksa Presiden Joko Widodo segera melantik Komisaris Jendral Budi Gunawan sebagai Kapolri. Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsudin menyadari, banyak publik yang menganggap pelantikan Budi akan melanggar etika karena yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun, kata Aziz, DPR tidak mau terjebak dalam stigma etika, melainkan undang-undang.
Tuh ada yg aneh kan,jangan2 beneran jebakan betmen ::ungg::

DPR mah udah nggak aneh kalo berseberangan dengan keinginan rakyat. Kalo sama itu malah yang jebakan betmen.


Lha kalo orangnya itu-itu juga, emang beda kalo jadi Menteri atau jadi Kapolri?

Penggunaan KPK dan PPATK dlm memilih pejabat adalah ide bagus yg didukung banyak orang. Tapi Jokowi tidak menjalankannya secara konsisten (buat gw mah gak aneh ::ngakak2:: ). Itu sumber masalahnya . Apalagi, Jagung dan Kapolri adalah penegak hukum yg diperlukan utk pemberantasan korupsi. Itu butuh saringan ekstra yg lebih kuat lagi dibandingkan memilih Menteri.

Gw percaya, Jokowi sadar dia gak punya kekuatan politik, maka itu dia manut saja sama Megawati dan Paloh. Kalo Jokowi juga 'berontak' thd Megawati dan Paloh, siapa yg dukung dia di DPR nanti? Tanpa dukungan DPR, pemerintahan Jokowi stagnan, Nawacita cuman jadi macan ompong gak berkuku.

Strategi yg perlu dijalankan oleh Jokowi, mengambil 'hati' bukan pemilih dia yg kurang dari 50% tsb. Biarkan Megawati dan Paloh pun bersekutu dgn Ical, dll, tapi Jokowi dapat dukungan riil dari, katakanlah, 90% rakyat pemilih tadi.

Mana tuh antek-antek Jokowi? Bisa gak kasih strategi jitu buat sesembahannya.... ::hihi::

Jieeeh yang merasa strateginya jitu ::elaugh::
Haters will be haters, mau pake strategi apa pun ndak bakal mempan karena segregasinya sudah parah. Mending Jokowi fokus membereskan kekisruhan ini secepatnya dan kemudian kerja kerja dan kerja. IItu yang mau dilihat dan dirasakan rakyat pemilih, non pemilih maupun golput. Kebanyakan berstrategi ntar lupa kerja.

---------- Post Merged at 01:59 AM ----------

Ngomong-ngomong, prestasi banget kalo pas anniversary Konferensi Asia Afrika nanti Kim Jong Un beneran datang.

---------- Post Merged at 02:00 AM ----------


Kalo BG menurut mereka yg terbaik gimane? Terbaik ato terbersih? Seandainya kompolnas mau konsultasi mana yang terbaik, ya tanyanya ke jenderal2 polisi dong.. kalo ke KPK itu kan tanya yang ga korupsi. Kalo mereka yang POLISI nanya ke KPK, berarti logikanya POLISI yang penegak hukum ga tau tentang catatan hukum calonnya... Sounds weird, isn't it?

terbaik kok dipisah sama terbersih om bro?

ndableg
27-01-2015, 03:03 AM
terbaik kok dipisah sama terbersih om bro?

Ya iyalah.. apa KPK menilai juga prestasi dan jasa2 calon kapolri?

tuscany
27-01-2015, 03:08 AM
Loh saya kira mestinya terbaik itu udah semuanya, mencakup terbersih juga. Dan konsul ke KPK termasuk di poin yang itu. Poin lainnya ya konsul ke tempat lain lagi, gitu kira2.

ndableg
27-01-2015, 03:10 AM
Lha kalo orangnya itu-itu juga, emang beda kalo jadi Menteri atau jadi Kapolri?

Penggunaan KPK dan PPATK dlm memilih pejabat adalah ide bagus yg didukung banyak orang. Tapi Jokowi tidak menjalankannya secara konsisten (buat gw mah gak aneh ::ngakak2:: ). Itu sumber masalahnya . Apalagi, Jagung dan Kapolri adalah penegak hukum yg diperlukan utk pemberantasan korupsi. Itu butuh saringan ekstra yg lebih kuat lagi dibandingkan memilih Menteri.

Masalahnya, mentri itu adalah pembantu presiden yang dia pilih tanpa ada yg kasih informasi apakah mereka pilihan yg tepat atau tidak. Tapi buat calon kapolri, sudah direkomendasikan kompolnas.
Ngarti ora son?


Gw percaya, Jokowi sadar dia gak punya kekuatan politik, maka itu dia manut saja sama Megawati dan Paloh. Kalo Jokowi juga 'berontak' thd Megawati dan Paloh, siapa yg dukung dia di DPR nanti? Tanpa dukungan DPR, pemerintahan Jokowi stagnan, Nawacita cuman jadi macan ompong gak berkuku.

Strategi yg perlu dijalankan oleh Jokowi, mengambil 'hati' bukan pemilih dia yg kurang dari 50% tsb. Biarkan Megawati dan Paloh pun bersekutu dgn Ical, dll, tapi Jokowi dapat dukungan riil dari, katakanlah, 90% rakyat pemilih tadi.

Ya sudah lu nasehati diri sendiri aja biar ntar bisa jadi sesembahan orang laen.. jangan cemburu dong sama jokowow.::hihi::


Mana tuh antek-antek Jokowi? Bisa gak kasih strategi jitu buat sesembahannya.... ::hihi::

Mana yah? mana lah penyembah bisa kasih nasehat strategi bagi sesembahannya.. ada2 saja kau ini. Ga konsisten.

ndableg
27-01-2015, 03:13 AM
Loh saya kira mestinya terbaik itu udah semuanya, mencakup terbersih juga. Dan konsul ke KPK termasuk di poin yang itu. Poin lainnya ya konsul ke tempat lain lagi, gitu kira2.

Nah.. sekarang kalo kompolnas bilang dia bersih, gimana? Jokowi musti ngotot kalo kompolnas salah dan hanya kpk yang benar? INi milih kapolri loh.. calon pemimpin polisi. Milih yg orang kampung nan lugu nanti malah dibully anak buah juga.

mbok jamu
27-01-2015, 04:56 AM
Kriteria Terbaik dan Terbersih memang harus dipisah karena memang (orangnya) ndak ada. Kecuali kalau Kapolri Hoegeng hidup lagi. ::oops::

surjadi05
27-01-2015, 08:48 AM
Oh memang fakta ya bahwa AS masuk bursa cawapres Jokowi versi Jokowi? bukan versi media loh ya. Saya sih cuma tidak mau berprasangka karena saya ndak tau persis. Media palagi online palagi pas pilpres hadeuh entah mana yang benar mana yang dikarang sudah ndak jelas.

Kalo dah tau gosip doang bahwa AS diganjal Budi, topik balas dendam AS - Budi mestinya ndak relevan dibahas. Bahwa KPK kolektif kolegial itu udah jamak, tapi kalo polisi kolektif kolegial saya baru dengar. Polisi setau saya decision makingnya hikarki.



Impunitas perlu tapi terbatas, kalo di negara lain itu impunitas batasnya tertangkap tangan. Kalo enggak, satu-satu pimpinan KPK dipreteli dengan dicari2 kesalahan masa lalu yang belom tentu juga kejadian, terus secepatnya dijadikan tersangka - yang mana sudah terjadi, bentar lagi Zulkarnaen juga kena kayaknya. Terus semuanya secara ksatria mengundurkan diri karena menjadi tersangka. Kalo pimpinan KPK kosong, siapa yang dapat untung? Just give a thought about it. Pimpinan KPK sudah disaring masa lalunya harus bersih. Mending saringannya aja diperketat lagi.






DPR mah udah nggak aneh kalo berseberangan dengan keinginan rakyat. Kalo sama itu malah yang jebakan betmen.


Yang soal 2 orang cawapres itu jokowi ngomong kok ke pers dia bilang cawapresnya pasti bukan orang jawa, walo dia ga nyebut nama, dan satu2nya alasan saya mau jadi relawan jokowi, kalo bukan pak JK yg jadi cawapres, mana mau saya jadi relawan jokowi di batam, palingan nyoblos jokowi doank ::hihi::

Yg soal gossip itu kan bisa salah, bisa bener kenapa jokowi milih Jk, kan cuma dia yg tahu, bisa aja abraham samad ngira gossip itu bener dia dijegal budi ::ngopi::

Soal kolektif itu kan kpk sendiri yg bilang, kita ga pernah diceritakan prosesnya, kecuali yg tertangkap tangan, ibarat tim sepakbola hasil maen, gelar konferensi pers trus mengatakan timnya solid dan itu semua kerjasama tim, mana mungkin mereka cerita kalo ada masalah di dapurnya?

Saya ga bilang kpk ga bener loh, saya cuma bilang untuk tidak 100% percaya sama kpk, ingat orang yg baik(meminjam kata si mbok) adakalanya juga bisa berbuat jahat, karna pengaruh temen, lingkungan atau apapun ::ngopi::

kandalf
27-01-2015, 08:49 AM
Usul Imunitas itu dari Denni Indrayana saat demo hari Sabtu lalu.
Usul tersebut bukan dari KPK.


Nah.. sekarang kalo kompolnas bilang dia bersih, gimana? Jokowi musti ngotot kalo kompolnas salah dan hanya kpk yang benar? INi milih kapolri loh.. calon pemimpin polisi. Milih yg orang kampung nan lugu nanti malah dibully anak buah juga.
ndableg sayang, kau tahu Kompolnas itu siapa?
tiga orang menteri kabinet yang sekarang duduk di Kompolnas, salah satunya menjadi ketua kompolnas dan satunya lagi menjadi wakil ketua.

Silakan anda lihat di
http://www.kompolnas.go.id/kompolnas/susunan-keanggotaan-kompolnas/

Kompolnas mengatakan bersih dengan alasan sudah dinyatakan bersih oleh Bareskrim yang dipimpin oleh Pak Ito Sumardi (yang bersangkutan sekarang Duta Besar Indonesia untuk Myanmar).

Padahal sebenarnya, yang lebih tepat adalah, Pak Ito, dengan mudah memasukkan kasusnya ke dalam peti es tanpa menyelidiki lebih lanjut keganjilan jawaban Budi Gunawan. Mereka cukup puas dengan dokumen2 pernyataan dari perusahaan yang menyatakan memberikan pinjaman dsb kepada Budi Gunawan. Tidak ada pertanyaan lanjut yang diajukan.

Silakan engkau membaca berita seputar surat balasan dari Bareskrim kepada PPATK no B/1538/VI/2010/Bareskrim.

Dari kemarin, KPK itu masih bungkam lho, tidak mengeluarkan penjelasan kasus Budi Gunawan. Semua berita-berita seputar Budi Gunawan yang dimuat di berita-berita seperti Tempo dan Detik kemarin, itu dikembangkan oleh para wartawan sendiri dari salinan surat Bareskrim itu.

Kalau kata sopir taksi,
rakyat awam yang gak ngerti politik pun juga bakal merasa ganjil membaca pembelaannya Budi Gunawan yang tertera di surat Bareskrim.

purba
27-01-2015, 10:42 AM
Masalahnya, mentri itu adalah pembantu presiden yang dia pilih tanpa ada yg kasih informasi apakah mereka pilihan yg tepat atau tidak. Tapi buat calon kapolri, sudah direkomendasikan kompolnas.
Ngarti ora son?


Dasar cekak... ::ngakak2::

Kompolnas gak ngajuin satu orang tapi beberapa orang. Dalih beberapa orang tsb bisa digunakan Jokowi utk meminta bantuan KPK dan PPATK utk memilih yg paling baik di antara yg disodorkan. Itu kalo Jokowi konsisten dg Nawacicak-nya... ::ngakak2::

Tapi yg paling parah, udh diwanti-wanti jangan ngajuin BG, tetap aja ngeyel ngajuin BG juga. KPK skak mat Jokowi dgn menyatakan BG tersangka. DPR dapet angin, diloloskanlah BG buat jebakan dan kartu truf. Jokowi mutung... ::ngakak2::

Mangkanya, sadarlah bahwa sesembahan ente cuman dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:31 AM ----------



Jieeeh yang merasa strateginya jitu ::elaugh::
Haters will be haters, mau pake strategi apa pun ndak bakal mempan karena segregasinya sudah parah. Mending Jokowi fokus membereskan kekisruhan ini secepatnya dan kemudian kerja kerja dan kerja. IItu yang mau dilihat dan dirasakan rakyat pemilih, non pemilih maupun golput. Kebanyakan berstrategi ntar lupa kerja.

Halagh.. dasar antek-antek... ::hihi::

Membereskan kasus KPK vs Polri secepatnya seperti ente bilang itu juga sebuah strategi. Kalo cuman ngomong kerja kerja dan kerja, semua orang juga bisa. Yg gak mudah realisasinya. Lihat apa realisasi yg dilakukan Jokowi? Belum setahun jadi presiden sudah ada kasus KPK vs Polri. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:40 AM ----------

Kasus hukuman mati buat napi narkoba warga negara asing. Ini jangan dianggap enteng. Semangat global memang perang thd narkoba, tapi juga menghilangkan hukuman mati. Jokowi sedang menanam masalah. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:42 AM ----------

Menkopolhukam malah ngoceh kagak jelas. Ini bukti Jokowi gak mampu menghandle Menteri-nya. ::hihi::

Menteri Susi yg seneng dg berita menenggelamkan kapal kayu. Lha kerja kerja dan kerja meningkatkan taraf hidup nelayan kagak kedengeran. ::hihi::

surjadi05
27-01-2015, 12:03 PM
Dasar cekak... ::ngakak2::

Kompolnas gak ngajuin satu orang tapi beberapa orang. Dalih beberapa orang tsb bisa digunakan Jokowi utk meminta bantuan KPK dan PPATK utk memilih yg paling baik di antara yg disodorkan. Itu kalo Jokowi konsisten dg Nawacicak-nya... ::ngakak2::

Tapi yg paling parah, udh diwanti-wanti jangan ngajuin BG, tetap aja ngeyel ngajuin BG juga. KPK skak mat Jokowi dgn menyatakan BG tersangka. DPR dapet angin, diloloskanlah BG buat jebakan dan kartu truf. Jokowi mutung... ::ngakak2::

Mangkanya, sadarlah bahwa sesembahan ente cuman dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:31 AM ----------



Halagh.. dasar antek-antek... ::hihi::

Membereskan kasus KPK vs Polri secepatnya seperti ente bilang itu juga sebuah strategi. Kalo cuman ngomong kerja kerja dan kerja, semua orang juga bisa. Yg gak mudah realisasinya. Lihat apa realisasi yg dilakukan Jokowi? Belum setahun jadi presiden sudah ada kasus KPK vs Polri. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:40 AM ----------

Kasus hukuman mati buat napi narkoba warga negara asing. Ini jangan dianggap enteng. Semangat global memang perang thd narkoba, tapi juga menghilangkan hukuman mati. Jokowi sedang menanam masalah. ::ngakak2::

---------- Post Merged at 09:42 AM ----------

Menkopolhukam malah ngoceh kagak jelas. Ini bukti Jokowi gak mampu menghandle Menteri-nya. ::hihi::

Menteri Susi yg seneng dg berita menenggelamkan kapal kayu. Lha kerja kerja dan kerja meningkatkan taraf hidup nelayan kagak kedengeran. ::hihi::
Gw bingung yg post si tuscany, tapi kok namanya diganti gw, salah lagi::facepalm::

Gw jadi ge er, sedemikian pentingnyakah menang debat dari gw disini sampe pake pemalsuan data ::merokok::

etca
27-01-2015, 01:51 PM
Diminta Jokowi Mundur, Budi Gunawan Menolak

http://statik.tempo.co/data/2015/01/13/id_360728/360728_620.jpg

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo ternyata sempat melontarkan permintaan kepada calon tunggal Kapolri, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, untuk mundur dari pencalonan. (Baca: 3 Aktor Kontroversial di Balik Kisruh KPK vs Polri)

Menurut sumber Tempo, permintaan itu disampaikan Jokowi kepada Budi Gunawan setelah Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui pencalonan Budi, meski Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkannya sebagai tersangka.

"Namun Jenderal Budi berkukuh menolak," kata politikus dekat Jokowi kepada majalah Tempo, pekan lalu. (Baca: Nurul Arifin: Jokowi Direcoki Partai Pendukung)

Jokowi meminta mundur saat memanggil Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti dan Budi pada hari persetujuan parlemen untuk pencalonan Budi. Soal ini, Badrodin mengaku tidak mendengar adanya permintaan Jokowi itu. (Baca: Sejak Budi Gunawan Tersangka, KPK Diserang 7 Kali)

Berdasarkan cerita dari orang-orang dekatnya, Jokowi sengaja memutuskan untuk mengulur waktu pelantikan Budi hingga proses hukum di KPK selesai. Jokowi dipastikan menolak melantik mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri tersebut karena telah menjadi tersangka. (Baca: Jokowi Bekerja Sebagai Presiden atau Pelayan Ratu?)

Selanjutnya: Jokowi Protes ke Kompolnas

Jokowi sendiri langsung menggelar rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah orang dekat setelah KPK mengumumkan penetapan tersangka terhadap Budi pada 12 Januari lalu. Dalam rapat itu, Jokowi memprotes soal rekomendasi dari Komisi Kepolisian Nasional, yang mengklaim Budi sebagai jenderal yang bersih rekam jejak keuangannya. (Baca: Mudah Disetir, Jokowi Itu Presiden RI atau PDIP?)

Pejabat KPK sendiri mengklaim proses penyelidikan kasus Budi digelar sejak Juli 2014. Kasus ini masuk ke penyelidikan berdasarkan pengaduan masyarakat, bukan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang rutin menelisik rekam jejak rekening para pejabat. (Baca: Tak Tegas, Jokowi Dianggap Cuma Tukang Stempel)

Budi menjadi tersangka dengan dugaan kasus gratifikasi saat menjabat Kepala Biro Pembinaan Karier Polri dan jabatan lainnya di kepolisian. KPK menjerat Budi dengan Pasal 12 huruf a atau b, Pasal 5 ayat 2, Pasal 11 atau Pasal 12 B UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP

saus (http://www.tempo.co/read/news/2015/01/27/078637915/Diminta-Jokowi-Mundur-Budi-Gunawan-Menolak)



Ini BG ga mau mundur karena merasa atasannya bukan Jokowi tapi Megawati kah? ::oops::

TheCursed
27-01-2015, 07:13 PM
Kriteria Terbaik dan Terbersih memang harus dipisah karena memang (orangnya) ndak ada. Kecuali kalau Kapolri Hoegeng hidup lagi. ::oops::

dan yang gue inget dari Pak Hoegeng malah Ukulele-nya yang maut itu.

fakta bahwa dia itu pernah jadi Kaplori malah lupa, blass, sama sekali... ;D

ndableg
28-01-2015, 02:32 AM
kau tahu Kompolnas itu siapa?
tiga orang menteri kabinet yang sekarang duduk di Kompolnas, salah satunya menjadi ketua kompolnas dan satunya lagi menjadi wakil ketua.

Silakan anda lihat di
http://www.kompolnas.go.id/kompolnas/susunan-keanggotaan-kompolnas/

Kompolnas mengatakan bersih dengan alasan sudah dinyatakan bersih oleh Bareskrim yang dipimpin oleh Pak Ito Sumardi (yang bersangkutan sekarang Duta Besar Indonesia untuk Myanmar).

Padahal sebenarnya, yang lebih tepat adalah, Pak Ito, dengan mudah memasukkan kasusnya ke dalam peti es tanpa menyelidiki lebih lanjut keganjilan jawaban Budi Gunawan. Mereka cukup puas dengan dokumen2 pernyataan dari perusahaan yang menyatakan memberikan pinjaman dsb kepada Budi Gunawan. Tidak ada pertanyaan lanjut yang diajukan.

Silakan engkau membaca berita seputar surat balasan dari Bareskrim kepada PPATK no B/1538/VI/2010/Bareskrim.

Dari kemarin, KPK itu masih bungkam lho, tidak mengeluarkan penjelasan kasus Budi Gunawan. Semua berita-berita seputar Budi Gunawan yang dimuat di berita-berita seperti Tempo dan Detik kemarin, itu dikembangkan oleh para wartawan sendiri dari salinan surat Bareskrim itu.

Kalau kata sopir taksi,
rakyat awam yang gak ngerti politik pun juga bakal merasa ganjil membaca pembelaannya Budi Gunawan yang tertera di surat Bareskrim.Jadi apakah jokowi seharusnya tidak mempercayai polisi? Gimana mau milih kapolri kalo ga percaya polisi? Apakah jokowi tidak seharusnya percaya menkopolhukam nya sendiri?
Apa mustinya tutup mata lalu cap cip cup? Lagian jendral polisi mana di indo yg bersih? Kalo mau dikorek2, sbgn besar jendral di indo ya dapet jatah korup lah. Wong negara masih menganut sistem premanisme gitu.

ndableg
28-01-2015, 02:39 AM
Mangkanya, sadarlah bahwa sesembahan ente cuman dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia. ::ngakak2::

Tetep aja menang... ::bwekk::
Dan sisanya tetep aja namanya loser biar cuman beda 1 orang pun.
Sekarang tinggal gimana jiwa orang2 kalah aja. Kalo jiwanya ga sehat... ya.. kaya lu! ::ngakak2::

ga_genah
28-01-2015, 03:03 AM
hanya merasa ada yg aneh dari sang presiden....

mbok jamu
28-01-2015, 06:48 AM
Mempercayai polisi? ::hihi::

Sudah jelas sumber kekayaan polisi tersebut patut dipertanyakan koq Jokowi masih ndak bijak mengambil keputusan. Itu sama saja dengan membutakan mata dan menulikan telinga. A president can't afford to do that, taruhannya terlalu besar.

Jokowi sudah membuat kesalahan pertama menyutujui Sutarman diberhentikan secara tiba-tiba. Dari situ bisa ditarik kesimpulan kenapa BG akhirnya dipilih walaupun ada tanda tanya di jidatnya.

Big mistake.

kandalf
28-01-2015, 07:56 AM
Jadi apakah jokowi seharusnya tidak mempercayai polisi? Gimana mau milih kapolri kalo ga percaya polisi? Apakah jokowi tidak seharusnya percaya menkopolhukam nya sendiri?
Apa mustinya tutup mata lalu cap cip cup? Lagian jendral polisi mana di indo yg bersih? Kalo mau dikorek2, sbgn besar jendral di indo ya dapet jatah korup lah. Wong negara masih menganut sistem premanisme gitu.
Plis deh..
Dari sekian banyak polisi, dan ada beberapa yang bersih,
kenapa kita harus percaya yang jelas-jelas mencurigakan, yang jelas-jelas melanggar HAM?

Pak Sutarman itu punya dosa apa sehingga harus mundur ketika masa jabatannya gak ada?
Pak Suhardi Alius itu punya dosa apa sehingga dimutasikan ke lokasi gak jelas (bilangnya Lemhamnas tetapi gak jelas di bagian apa) dan diganti oleh jendral pelanggar HAM?

surjadi05
28-01-2015, 08:36 AM
Bukannya yg dua orang itu saingannya si budi, setelah melihat perkembangannya kini, kok gw berubah pikiran yah, jadi setuju soal immunitas kpk selama 5 tahun,tentu dengan syarat2 tertentu::ngopi::

et dah
28-01-2015, 10:31 AM
BG jadi tersangka, BW ditangkap, BH sudah dicopot, sekarang CD mulai di incar untuk diturunkan!!!

*kriuk

kandalf
28-01-2015, 10:58 AM
surjadi05
Pak Sutarman bukan saingan Budi Gunawan. Beliau sudah jadi kapolri. Pak Budi Gunawan itu direncanakan untuk menggantinya tetapi Jokowi memaksa agar Pak Sutarman dipercepat pensiunnya.



http://nasional.news.viva.co.id/news/read/579791-alasan-jokowi-berhentikan-sutarman-lebih-cepat

Menurut Sekretaris Kabinet Andi Widjojanto, alasan Presiden Jokowi mencopot Jenderal Sutarman tak lebih karena proses politik. Di mana, Jokowi telah melakukan proses politik sebelum mengganti Kapolri.

"Dimulai dari pencalonan Pak Budi Gunawan, dalam proses itu sekaligus sepaket dengan Pak Sutarman," kata Andi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin 19 Januari 2015.


Itu Seskab yang ngomong ya.


Hak Imunitas itu sebenarnya ada di beberapa profesi.
Polisi misalnya, punya diskresi seperti melanggar lalulintas dalam keadaan mendesak.
Pengacara misalnya, punya hak imunitas dalam membela kliennya, misalnya pengacara boleh menuding seseorang termasuk polisi, jaksa, dll tanpa takut dipidanakan atas pencemaran nama baik.

Nah,
Hak Imunitas untuk KPK ini batasannya mana? Diatur oleh apa? UU atau Perppu?
Malah ribet menurutku karena ide ini tergolong baru, tidak matang, dan berpotensi disalahgunakan.

Sudah deh,
mending Presiden Jokowi netral saja dahulu.
Pertama, batalkan saja pencalonan Jendral Budi Gunawan sebagai kapolri,
Kedua, copot Budi Waseso dari Kabareskrim kalau perlu pecat.
Ketiga, untuk menenangkan para pembisiknya, terima permohonan pengunduran diri Bambang Widjojanto.

Mudah, kan? :p

kandalf
28-01-2015, 11:40 AM
dari laman
https://www.facebook.com/bantuanhukumorid/posts/366308140215997

Sebarkan supaya publik tidak ragu:
LBH Jakarta/ tim kuasa hukum BW mempelajari putusan Ratna Mutiara (saksi yg dipidana karena sumpah dan keterangan palsu. Kemudian dikaitkan dg BW). Berikut kesimpulannya :
Kesimpulan; putusan Ratna (kasus yg dimana BW dianggap memberikan keterangan palsu) tidak dapat dijadikan dasar untuk menjadikan BW tersangka karena:
1. Dalam putusan Ratna mengakui bahwa ia memberikan kesaksian dengan sadar tanpa tekanan di MK dan mengerti konsekuensi dari kesaksiannya
2. Dalam putusan tidak ada sama sekali keterangan mengenai peran BW dalam memberikan keterangan, namanya saja tidak pernah disebut-sebut.
3. Seluruh saksi berjumlah 23 plus 1 tidak ada yang membahas tentang peranan BW.
4. Yang dianggap keterangan palsu oleh hakim adalah keterangan terkait lurah ditahan atau tidak, Sugiharto bagi-bagi uang atau tidak, Sugiharto janjikan bagi-bagi kebun sawit atau tidak...tidak membahas tentang BW.
Sekian

surjadi05
28-01-2015, 12:36 PM
surjadi05
Pak Sutarman bukan saingan Budi Gunawan. Beliau sudah jadi kapolri. Pak Budi Gunawan itu direncanakan untuk menggantinya tetapi Jokowi memaksa agar Pak Sutarman dipercepat pensiunnya.



Itu Seskab yang ngomong ya.

iya tapi harusnya dia fleksibel, begitu budi jadi tersangka dan dia menunda budi jadi kapolri, harusnya sutarman dipertahankan, minimal sampe oktober 2015, dimana sutarman memasuki usia pensiun, trus mana mungkin sih seskab mengakui ada "fraksi" di tubuh polri ::ungg::



Nah,
Hak Imunitas untuk KPK ini batasannya mana? Diatur oleh apa? UU atau Perppu?
Malah ribet menurutku karena ide ini tergolong baru, tidak matang, dan berpotensi disalahgunakan.

Sudah deh,
mending Presiden Jokowi netral saja dahulu.
Pertama, batalkan saja pencalonan Jendral Budi Gunawan sebagai kapolri,
Kedua, copot Budi Waseso dari Kabareskrim kalau perlu pecat.
Ketiga, untuk menenangkan para pembisiknya, terima permohonan pengunduran diri Bambang Widjojanto.

Mudah, kan? :p
Hak imunitas ini kan bisa dibuat paku perpu atau uu, batasannya gampang aja selama dia masih menjabat sebagai pimpinan kpk yaitu selama 4 tahun, dia ga bisa dituntut untuk kasus apapun yg terjadi di masa lalu, nah setelah lewat 4 tahun yah, monggo aja mau dituntut, soalnya menurut uu , kedudukan pimpinan kpk beda dengan polisi atau pns,pimpinan kpk yg baru menjadi tersangka aja harus mengundurkan diri, jadi misal saya benci sama samad kira2 10 tahun lalu dia makan nasi di warteg trus lupa bayar, saya bisa minta pemilik warteg buat nuntut samad, nah samad jadi tersangka kan, nah dia sudah harus mengundurkan diri, nah begitu dia mengundurkan diri saya bisa minta pemilik warteg mencabut tuntutannya tapi hasilnya udah terasa, samad sudah mengundurkan diri, kecuali presiden menolak pengunduran dirinya ::ngopi::

tuscany
28-01-2015, 03:59 PM
Purba cinta buta kayaknya sama kong sur. Postingan eike sampe dipalsukan ::elaugh::

Ya tepat seperti itu kong sur skenarionya. Semua pimpinan KPK sudah kena, dan sebentar lagi para penyidiknya menyusul.
Menurut yang saya liat2 dari beberapa pendapat, skenarionya BG bakal dilantik. Salah satunya sbb.


SKENARIO TERBURUK

Mau tahu skenario terburuk ?

Skenario terburuk bukan dilemahkan atau dihancurkannya KPK, karena meski berdampak masih bisa terukur.

Skenario terburuk adalah jika Jokowi tidak melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Belajar dari kasus era pemerintahan Gus Dur, ketika itu terjadi situasi yang mirip. Gus Dur menyuruh Kapolri waktu itu Bimantoro untuk mundur. Tapi Bimantoro tidak mau. Ia berpegang pada DPR yang pada waktu itu bermusuhan dengan Gus Dur.

Situasi dualisme di tubuh Polri membuat DPR akhirnya memakzulkan Gus Dur dan menurunkannya dari kursi Presiden. Situasi begitu tegang pada waktu itu dan berpotensi chaos jika Gus Dur tidak menunjukkan kebesarannya.

Ketika Jokowi tidak melantik BG sebagai Kapolri, maka DPR punya alasan untuk memakzulkan Jokowi. Dan BG pasti tidak akan mundur dari posisi Kapolri karena dia merasa DPR di belakangnya.

Disinilah skenario terburuk akan terjadi. Dua kekuatan antara pendukung Jokowi dan pendukung KMP & KIH akan bentrok. Dan ini adalah kekuatan yang dampaknya sangat besar dan luas.

Jadi ketika Jokowi akhirnya melantik BG sebagai Kapolri, kita harus sangat maklum meski geram. Ada hal yang jauh lebih besar yang harus dihindarkan dan dinanti oleh asing, yaitu pecahnya Indonesia.

Ini mirip situasi ketika Imam Hasan as menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Seorang pengikutnya mencibir Imam Hasan as ketika mereka bertemu dengan kata2, "Hai penghina orang beriman.."
.....

link (https://www.facebook.com/denny.siregar.50?fref=nf)

mbok jamu
28-01-2015, 05:07 PM
Presiden tidak dapat dimakzulkan dalam masa jabatannya kecuali melanggar hal-hal yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 7A yang berbunyi: “Presiden dan/atau wakil presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden.”

DPR bisa menyatakan pendapat yang dimilikinya bahwa presiden telah melakukan pelanggaran hukum dan tindak pidana berat lain atau perbuatan tercela atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden/wakil presiden tersebut. Adapun pemeriksaan, penyelidikan, dan keputusan atas pendapat DPR tersebut menjadi wewenang sepenuhnya Mahkamah Konstitusi (MK) sesuai dengan hukum acara di sana. Bahkan lebih jauh dari itu, ketika seandainya MK telah membuktikan kebenaran pendapat DPR sekalipun dan DPR mengajukan usulan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk memberhentikan presiden/wakil presiden, MPR dapat saja tidak memberhentikannya. Presiden/wakil presiden masih juga diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan atas keputusan MK yang menyatakan presiden telah terbukti bersalah. Penjelasan presiden/wakil presiden tersebut toh bisa saja diterima oleh MPR. Walhasil, dalam UUD 1945 sekarang ini kedudukan presiden secara politik sangatlah kuat. Pintu pemakzulan (impeachment) memang ada, tetapi jalannya sangat panjang dan berliku serta pintunya sangat-sangat kecil. Berbeda dengan sebelum ada amendemen UUD 1945, proses pemakzulan sepenuhnya politis dan itu hanya terjadi di dalam (within) dua lembaga politik saja, yaitu DPR (ingat mekanisme jatuhnya memorandum kepada presiden jika DPR menduga presiden melanggar garis-garis besar daripada haluan Negara) dan MPR (melalui Sidang Istimewa) saja.

Sementara setelah amendemen pemakzulan presiden/wakil presiden merupakan perpaduan atau gabungan antara proses politik dan proses hukum. Pemakzulan bukan lagi hanya menjadi urusan DPR dan MPR, melainkan juga memutlakkan peran dan wewenang MK. Bahkan menurut penafsiran penulis MK-lah yang lebih menentukan secara signifikan: satu-satunya lembaga negara yang berhak memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat DPR mengenai pelanggaran tersebut di atas itu.

Jadi dalam sistem presidensial, DPR tidak bisa menjatuhkan Presiden, kecuali Presiden sendiri yang menjatuhkan dirinya sendiri melalui tindak pelanggaran hukum, perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden/wakil presiden. Sebaliknya, presiden tidak bisa membubarkan DPR. Keduanya tidak lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain dan hanya bisa dibedakan dari perspektif fungsi dan kewenangannya.

kandalf
28-01-2015, 05:08 PM
https://www.youtube.com/watch?v=Lb0PThFrXg4


Purba cinta buta kayaknya sama kong sur. Postingan eike sampe dipalsukan ::elaugh::

Ya tepat seperti itu kong sur skenarionya. Semua pimpinan KPK sudah kena, dan sebentar lagi para penyidiknya menyusul.
Menurut yang saya liat2 dari beberapa pendapat, skenarionya BG bakal dilantik. Salah satunya sbb.


SKENARIO TERBURUK

Mau tahu skenario terburuk ?

Skenario terburuk bukan dilemahkan atau dihancurkannya KPK, karena meski berdampak masih bisa terukur.

Skenario terburuk adalah jika Jokowi tidak melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Belajar dari kasus era pemerintahan Gus Dur, ketika itu terjadi situasi yang mirip. Gus Dur menyuruh Kapolri waktu itu Bimantoro untuk mundur. Tapi Bimantoro tidak mau. Ia berpegang pada DPR yang pada waktu itu bermusuhan dengan Gus Dur.

Situasi dualisme di tubuh Polri membuat DPR akhirnya memakzulkan Gus Dur dan menurunkannya dari kursi Presiden. Situasi begitu tegang pada waktu itu dan berpotensi chaos jika Gus Dur tidak menunjukkan kebesarannya.

Ketika Jokowi tidak melantik BG sebagai Kapolri, maka DPR punya alasan untuk memakzulkan Jokowi. Dan BG pasti tidak akan mundur dari posisi Kapolri karena dia merasa DPR di belakangnya.

Disinilah skenario terburuk akan terjadi. Dua kekuatan antara pendukung Jokowi dan pendukung KMP & KIH akan bentrok. Dan ini adalah kekuatan yang dampaknya sangat besar dan luas.

Jadi ketika Jokowi akhirnya melantik BG sebagai Kapolri, kita harus sangat maklum meski geram. Ada hal yang jauh lebih besar yang harus dihindarkan dan dinanti oleh asing, yaitu pecahnya Indonesia.

Ini mirip situasi ketika Imam Hasan as menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Seorang pengikutnya mencibir Imam Hasan as ketika mereka bertemu dengan kata2, "Hai penghina orang beriman.."
.....

link (https://www.facebook.com/denny.siregar.50?fref=nf)


Tebakanku sih BG akan dilantik.
Kepercayaanku pada Jokowi sudah menurun.

Tapi gak ada istilah KIH dan KMP dalam kisruh Cicak vs Buaya.
Kecuali Partai Demokrat, baik KIH dan KMP pro-Budi Gunawan.
Sementara di level tengah ke bawah, anti Budi Gunawan.

Budi Gunawan itu dekat dengan orang-orang DPR karena dulu dia selalu jadi penghubung kepolisian dengan DPR.


https://www.youtube.com/watch?v=OFW-zemUsUM

tuscany
28-01-2015, 10:26 PM
Presiden tidak dapat dimakzulkan dalam masa jabatannya kecuali melanggar hal-hal yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 7A yang berbunyi: “Presiden dan/atau wakil presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden.”

DPR bisa menyatakan pendapat yang dimilikinya bahwa presiden telah melakukan pelanggaran hukum dan tindak pidana berat lain atau perbuatan tercela atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden/wakil presiden tersebut. Adapun pemeriksaan, penyelidikan, dan keputusan atas pendapat DPR tersebut menjadi wewenang sepenuhnya Mahkamah Konstitusi (MK) sesuai dengan hukum acara di sana. Bahkan lebih jauh dari itu, ketika seandainya MK telah membuktikan kebenaran pendapat DPR sekalipun dan DPR mengajukan usulan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk memberhentikan presiden/wakil presiden, MPR dapat saja tidak memberhentikannya. Presiden/wakil presiden masih juga diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan atas keputusan MK yang menyatakan presiden telah terbukti bersalah. Penjelasan presiden/wakil presiden tersebut toh bisa saja diterima oleh MPR. Walhasil, dalam UUD 1945 sekarang ini kedudukan presiden secara politik sangatlah kuat. Pintu pemakzulan (impeachment) memang ada, tetapi jalannya sangat panjang dan berliku serta pintunya sangat-sangat kecil. Berbeda dengan sebelum ada amendemen UUD 1945, proses pemakzulan sepenuhnya politis dan itu hanya terjadi di dalam (within) dua lembaga politik saja, yaitu DPR (ingat mekanisme jatuhnya memorandum kepada presiden jika DPR menduga presiden melanggar garis-garis besar daripada haluan Negara) dan MPR (melalui Sidang Istimewa) saja.

Sementara setelah amendemen pemakzulan presiden/wakil presiden merupakan perpaduan atau gabungan antara proses politik dan proses hukum. Pemakzulan bukan lagi hanya menjadi urusan DPR dan MPR, melainkan juga memutlakkan peran dan wewenang MK. Bahkan menurut penafsiran penulis MK-lah yang lebih menentukan secara signifikan: satu-satunya lembaga negara yang berhak memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat DPR mengenai pelanggaran tersebut di atas itu.

Jadi dalam sistem presidensial, DPR tidak bisa menjatuhkan Presiden, kecuali Presiden sendiri yang menjatuhkan dirinya sendiri melalui tindak pelanggaran hukum, perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden/wakil presiden. Sebaliknya, presiden tidak bisa membubarkan DPR. Keduanya tidak lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain dan hanya bisa dibedakan dari perspektif fungsi dan kewenangannya.

Memang sekarang kedudukan presiden lebi kuat. Yang dipost itu worst case scenario.



https://www.youtube.com/watch?v=Lb0PThFrXg4



Tebakanku sih BG akan dilantik.
Kepercayaanku pada Jokowi sudah menurun.

Tapi gak ada istilah KIH dan KMP dalam kisruh Cicak vs Buaya.
Kecuali Partai Demokrat, baik KIH dan KMP pro-Budi Gunawan.
Sementara di level tengah ke bawah, anti Budi Gunawan.

Budi Gunawan itu dekat dengan orang-orang DPR karena dulu dia selalu jadi penghubung kepolisian dengan DPR.


https://www.youtube.com/watch?v=OFW-zemUsUM

Kata tim independen mending kaga dilantik. Dan saya sapakat.



"Setelah kita merenung, memahami kaitannya dengan hukum, opini di DPR, dan nurani di masyarakat, kami beranggapan mudarat secara nurani, marwah dan substansial akan lebih besar (jika Budi dilantik)," ucap Imam.

Sosiolog dari Universitas Indonesia itu melanjutkan, marwah lembaga penegak hukum juga akan runtuh saat figur pemimpinnya menyandang status tersangka. Ia mendorong lembaga penegak hukum, khususnya Polri dan KPK, untuk tidak diisi oleh pimpinan yang menyandang status tersangka. "Dalam sejarah bangsa ini, jangan sampai ada pimpinan KPK atau Polri jadi tersangka dan dilantik jadi Kapolri atau pimpinan KPK," ucapnya.

tauco (http://nasional.kompas.com/read/2015/01/28/18394711/Tim.Independen.Rekomendasi.Kami.Ada.Keterbatasan.t etapi.Itu.yang.Terbaik)

ndableg
29-01-2015, 04:02 AM
Ada hal yang jauh lebih besar yang harus dihindarkan dan dinanti oleh asing, yaitu pecahnya Indonesia.

Belakangan sering denger nih..

ndableg
29-01-2015, 04:14 AM
Tebakanku sih BG akan dilantik.
Kepercayaanku pada Jokowi sudah menurun.

Akhirnya memang harus diakui kalo jokowi ga mampu menghadapi tekanan politik.
Gw sendiri memilih jokowi ga punya harapan untuk jokowi memberantas korupsi ataupun mengatasi kasus HAM ataupun hal2 yang berurusan dgn masa lalu. Bagi gw itu nomor sekian.
Gw lebih mengharapkan pembangunan, kemajuan ekonomi, dan kesejahteraan. Dari aspek itulah gw berharap jokowi bisa memperbaiki indonesia. Tapi apa mau dikata, kekuatan politik juga penting karena begitu diganggu, orang ga bakal bisa kerja, stabilitas terganggu. Gw pikir mega atau JK bakal jadi pelindung, tapi spt nya memang kepentingan lebih dominan. Mungkin indonesia emang ga siap maju, entahlah.

kandalf
29-01-2015, 06:06 AM
tekanan politik mana?

Untuk pertama kalinya, DPR satu suara, pro- Budi Gunawan (kecuali Partai Demokrat).

Pembangunan macam apa yang kau harapkan kalau penegak hukumnya dikepalai seorang koruptor?
Pembangunan macam apa yang kau harapkan kalau pimpinan teratas setelah Kapolri dan Wakapolri, dipimpin oleh orang yang menggunakan kepolisian untuk kepentingannya sendiri, yang tidak segan untuk melanggar peraturan?

Korupsi justru musuh nomor satu yang menghambat Indonesia,
dari zamannya VOC,
hingga ke zaman Hindia Belanda,
hingga ke zaman Bung Karno,
hingga ke zaman Eyang Suharto
hingga ke zaman sekarang.

Karena korupsi,
konflik-konflik tanah dan agraria terjadi.

Karena korupsi,
kekayaan alam dengan mudah ditambang tanpa ada kompensasi sepadan

Karena korupsi,
anak-anak gadis kita dijual ke negara-negara lain tanpa suara.

Karena korupsi,
alat-alat negara tidak berfungsi dengan optimal.

Polisi bersih harga mati!
Justru untuk melindungi program-program Jokowi yang lain.

Karena korupsi,
anak buah Menteri Susi membangkang, menolak membakar kapal, dan lebih suka melelangnya.

Karena korupsi,
anak buah Menteri Anies diam-diam mengancam dan memeras sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013 tanpa persiapan.

Bisa jadi, karena korupsi pula lah,
anak buah Menteri Jonan, meloloskan pesawat terbang tak laik terbang sehingga gagal menembus awan Cumulonimbus. Ya, udah dengar perkembangan terbaru Air Asia?

mbok jamu
29-01-2015, 06:34 AM
Well said.

Ronggolawe
29-01-2015, 07:17 AM
well... negeri bersih bagaimana yang akan kita harap
kan kalau Trial by Press Conducted Public Opinion ter
jadi dimana-mana dan setiap saat?

semua orang dah jadi hakim bagi semua orang lain
nya... armchair bloggers n generation of critics :)

::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::

surjadi05
29-01-2015, 09:08 AM
Statement yg bagus, jadi ingat jaman babe harto dulu, kalo dia bilang seseorang itu komunis, pasti orang itu komunis ::kesal::

kandalf
29-01-2015, 10:25 AM
Karena itu ada yang namanya proses pengadilan.
Dilihat dari alurnya, udah jelas itu gratifikasi. Memang belum tentu korupsi tetapi jelas sudah lalai melaporkan.

KPK tidak mengenal SP3, beda dengan Kejagung maupun Kepolisian.
Jadi sekali dijadikan tersangka, sudah jelas pasti menjadi terdakwa di pengadilan.
Jadi gak ada cerita 'main sandera'.
Biarpun sekalian semua pimpinan KPK ditahan oleh polisi oleh kasus-kasus,
dan pimpinan KPK yang baru dipilih,
penyidikan tetap jalan dan pimpinan KPK yang baru tak bisa menghentikan kasus.

Kita bicara tentang calon kapolri yang tidak hanya bakal harus bolak-balik diinterogasi KPK juga bakal bolak-balik ke pengadilan.
Apa iya jabatan kapolri harus digantung hanya demi dia seorang sementara masih banyak jenderal-jenderal lain?

---------- Post Merged at 11:25 AM ----------

Oh iya,
berbicara tentang Arm Chair Blogger,
saya kira sudah pada tahu kalau walaupun aku lebih banyak di belakang keyboard tetapi kalau sudah emosi bisa maju di depan, kan? ::hihi::

Ronggolawe
29-01-2015, 10:52 AM
Poin nya bukan di armchair tapi di generation of critics...
Atau mungkin lebih tepatnya generations of whinning :)

mbok jamu
29-01-2015, 12:12 PM
Whining, not whinning.

v.whined, whin·ing, whines

v.intr.
1. To produce a sustained, high-pitched, plaintive sound, as in pain, fear, or complaint.

2. To complain or protest in a childish or annoying fashion: fans who are always whining about the poor officiating.

3. To produce a sustained noise of high pitch: jet engines whining.


Don't use the word if you have no idea what it means.

Ronggolawe
29-01-2015, 12:28 PM
If i didn't use it, you wouldn't correct me... That's how we learn.

TheCursed
29-01-2015, 02:50 PM
Bangsa yang aneh.
paling sensi kalau sudah berdebat berdiskusi berbicara soal urusan standarisasi agama, moral dan keTuhanan.

Tapi tiap bangun pagi amnesia lagi, kalau makin dekat ke liang lahat satu hari.







aaaaaaaaaa.......nd, I just went emo..... ::arg!::

surjadi05
29-01-2015, 06:41 PM
Karena itu ada yang namanya proses pengadilan.
Dilihat dari alurnya, udah jelas itu gratifikasi. Memang belum tentu korupsi tetapi jelas sudah lalai melaporkan.

KPK tidak mengenal SP3, beda dengan Kejagung maupun Kepolisian.
Jadi sekali dijadikan tersangka, sudah jelas pasti menjadi terdakwa di pengadilan.
Jadi gak ada cerita 'main sandera'.
Biarpun sekalian semua pimpinan KPK ditahan oleh polisi oleh kasus-kasus,
dan pimpinan KPK yang baru dipilih,
penyidikan tetap jalan dan pimpinan KPK yang baru tak bisa menghentikan kasus.

Kita bicara tentang calon kapolri yang tidak hanya bakal harus bolak-balik diinterogasi KPK juga bakal bolak-balik ke pengadilan.
Apa iya jabatan kapolri harus digantung hanya demi dia seorang sementara masih banyak jenderal-jenderal

Makanya dari awal juga saya bilang, mari kita lihat kasus perkasus, liat kasus ini aja,kayaknya semua orang yg ga terlibat politik praktis juga beranggapan kpk saat ini lembaga yg paling keren, terlepas nanti si budi diputuskan bersalah atau tidak di pengadilan, sekali lagi menurut saya kpk melakukan "penyalahgunaan kekuasaan", keliatan sekali niat menjegal si budi, itu aja yg saya ga suka! apakah opini saya subyektif? Pasti dan sangat subyektif, saya ga sesombong itu menyatakan opini saya obyektif ::maap::

freak_and_geek
29-01-2015, 07:21 PM
Jokowi ama Prabowo udah damai tuch kayanya abis ketemuan di bogor...
Apa jokowi mo pindah haluan??...
menarik untuk disimak apa lagi kejadian besok2..

et dah
29-01-2015, 07:47 PM
ga penting deh kayaknya ketemu prabowo

purba
29-01-2015, 08:06 PM
Akhirnya memang harus diakui kalo jokowi ga mampu menghadapi tekanan politik.
Gw sendiri memilih jokowi ga punya harapan untuk jokowi memberantas korupsi ataupun mengatasi kasus HAM ataupun hal2 yang berurusan dgn masa lalu. Bagi gw itu nomor sekian.
Gw lebih mengharapkan pembangunan, kemajuan ekonomi, dan kesejahteraan. Dari aspek itulah gw berharap jokowi bisa memperbaiki indonesia. Tapi apa mau dikata, kekuatan politik juga penting karena begitu diganggu, orang ga bakal bisa kerja, stabilitas terganggu. Gw pikir mega atau JK bakal jadi pelindung, tapi spt nya memang kepentingan lebih dominan. Mungkin indonesia emang ga siap maju, entahlah.

::ngakak2:: ..bakalan bunuh diri nih bocah. Pertama, prustrasi ke Belanda cari makan. Kedua, prustrasi milih orang geblek jadi presiden. ::ngakak2::

Jokowi udah gak kuat ngumpet di ketek Megawati. Sekarang mau pindah ke ketek Prabowo. Pagi-pagi Jokowi udeh ngadu ke datuak SM sutan batokok, bahwa pengajuan BG bukan inisiatif darinya, tapi dari...ehem..ehem... Ini orang emang gak mau mengakui kesalahannya. Licin...licin... ::ngakak2::

Taruhan dah... Sifat dasar Jokowi adalah kagak konsisten.... Lihat problem-problem ke depan yg akan muncul, itu akibat presidennya kagak konsisten... ::hihi::

tuscany
29-01-2015, 10:34 PM
Makanya dari awal juga saya bilang, mari kita lihat kasus perkasus, liat kasus ini aja,kayaknya semua orang yg ga terlibat politik praktis juga beranggapan kpk saat ini lembaga yg paling keren, terlepas nanti si budi diputuskan bersalah atau tidak di pengadilan, sekali lagi menurut saya kpk melakukan "penyalahgunaan kekuasaan", keliatan sekali niat menjegal si budi, itu aja yg saya ga suka! apakah opini saya subyektif? Pasti dan sangat subyektif, saya ga sesombong itu menyatakan opini saya obyektif ::maap::

Si engkong masi aja berkutat dengan teori penjegalan ::elaugh::
Sekarang KPK secara lembaga yang kena, sebelumnya Abraham Samad doang.
Ada dendam apa si kong KPK sama Budi sampe dijegal?

Poin pakde ronggo ada benarnya. Kita kebanyakan mengkritik (termasuk saya) tapi tidak tidak konstruktif. Menyalahkan seakan kita bisa berlaku paling benar dan paling konsisten dalam situasi yang serupa. Ngasi solusi pun seadanya, belum tentu feasible. ... #kehabisankatakata

cha_n
30-01-2015, 12:46 AM
wahahaha si purba stres, jokowi ama wowo saling dukung

ndableg
30-01-2015, 02:50 AM
::ngakak2:: ..bakalan bunuh diri nih bocah. Pertama, prustrasi ke Belanda cari makan. Kedua, prustrasi milih orang geblek jadi presiden. ::ngakak2::

Yee.. di indo jg gw punya rumah tong.
Untung aja gw dibutuhkan orang belanda pur. Di bayar lebih tinggi lah dari pribumi yg ga punya skill. kagak dibuang kaya lu dari jepang.. ::ngakak2::
Sekarang nyesel ga diterima di negara2 atheis mana pun, bisanya kalo ga mencak2 presiden ya mencak orang2 seindonesia.
Mgk orang2 atheis tau, lu jg ga pantes jadi atheis. Sudah lah pur, ga tega gw.


Jokowi udah gak kuat ngumpet di ketek Megawati. Sekarang mau pindah ke ketek Prabowo. Pagi-pagi Jokowi udeh ngadu ke datuak SM sutan batokok, bahwa pengajuan BG bukan inisiatif darinya, tapi dari...ehem..ehem... Ini orang emang gak mau mengakui kesalahannya. Licin...licin... ::ngakak2::

Taruhan dah... Sifat dasar Jokowi adalah kagak konsisten.... Lihat problem-problem ke depan yg akan muncul, itu akibat presidennya kagak konsisten... ::hihi::

Mari kita liat 4 taun kedepan tanpa banyak cingcong.. biar yg laen jg ga kesel ma lu dan akhirnya percaya kalo elu yg bener. deal?

ndableg
30-01-2015, 02:59 AM
tekanan politik mana?

Untuk pertama kalinya, DPR satu suara, pro- Budi Gunawan (kecuali Partai Demokrat).

Tekanan dari mega dan KIH juga termasuk tekanan politik bukan?
Katanya syafii maarif keknya bukan jokowi yg tunjuk BG.


Pembangunan macam apa yang kau harapkan kalau penegak hukumnya dikepalai seorang koruptor?


Jiaah.. lebay..
Seorang koruptor jg lagi diproses hukum kan? kalo akhirnya bersalah jg dipenjara. Sante aja lagih..
Kalo ga bisa membuktikan ya ga us dipaksa bersalah. Sudah ada badan yg ngurus masalah keadilan, yaitu pengadilan.


Karena korupsi,
kekayaan alam dengan mudah ditambang tanpa ada kompensasi sepadan

Karena korupsi,
anak-anak gadis kita dijual ke negara-negara lain tanpa suara.

Karena korupsi,
alat-alat negara tidak berfungsi dengan optimal.

Polisi bersih harga mati!
Justru untuk melindungi program-program Jokowi yang lain.

Karena korupsi,
anak buah Menteri Susi membangkang, menolak membakar kapal, dan lebih suka melelangnya.

Karena korupsi,
anak buah Menteri Anies diam-diam mengancam dan memeras sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013 tanpa persiapan.

Bisa jadi, karena korupsi pula lah,
anak buah Menteri Jonan, meloloskan pesawat terbang tak laik terbang sehingga gagal menembus awan Cumulonimbus. Ya, udah dengar perkembangan terbaru Air Asia?

Artinya korupsi tidak bisa diberantas satu2 seperti ngusir nyamuk. Nyamuk dipukul satu2 mati sih, tapi tetep aja dateng terus. Sistem pengairan, kebersihan dan obat nyamuk perlu diperbaiki dan diupgrade sedemikian rupa atau sekalian kedap suara pasang AC, jadi kagak dinyamukin lagi dan ga perlu tepok2 nyamuk sepanjang malam.

Jokowi ngarti gw. Itu yang akan dia lakukan. Tapi ya kalo diganggu suhu politik bisa2 kayak sby kemaren, ga bisa ngapa2in.
Salah satu senjata jokowi adalah menempatkan birokrasi secara elektornik. Karena kalo orang ketemu orang kemungkinan korupsi lebih besar daripada orang ketemu mesin. Ga bisa kurang dari 0.001 rupiah pun.

mbok jamu
30-01-2015, 05:41 AM
If i didn't use it, you wouldn't correct me... That's how we learn.

Read between the lines. Duh.

o btw

You would have not corrected me.

surjadi05
30-01-2015, 07:42 AM
Si engkong masi aja berkutat dengan teori penjegalan ::elaugh::
Sekarang KPK secara lembaga yang kena, sebelumnya Abraham Samad doang.
Ada dendam apa si kong KPK sama Budi sampe dijegal?
Lah gini loh tusc, misal ya, kamu ditawarin untuk jadi ceo di perush yg kamu mimpi2kan, gaji ditawarin $5M, waktu kerja fleksibel, cuti dibayar 4 bulan setahun,dikasih rumah en mobil pribadi, nah sudah hampir deal, tiba2 digagalin sama staff admin kamu kerja sekarang? Kamu marah ga? Kesal ga? Tiba2 kamu ada kesempatan balas dendam, dan kamu ada power buat balas dendam? lalu kamu balas dendam, kurang lebih gitu deh gambaran samad, kalo soal kpk, saya tetap berkesimpulan si samad menyalahgunakan posisinya sebagai ketua untuk mempengaruhi para wakil pimpinan kpk untuk menjadikan budi tersangka!

Jadi point saya kalo samad ga berhenti sebagai pimpinan kpk, maka budi harus tetap jadi kapolri, anggap aja sebagai hukuman buat samad, udah ahh kelamaan di theori "konspirasi anak tk" ::hihi::

Ronggolawe
30-01-2015, 09:04 AM
Read between the lines. Duh.

o btw

You would have not corrected me.
wah... makasih atas pelajaran bahasa inggris nya Mbo :)

---------- Post Merged at 08:04 AM ----------


Read between the lines. Duh.

o btw

You would have not corrected me.
wah... makasih atas pelajaran bahasa inggris nya Mbo :)

purba
30-01-2015, 09:22 PM
Jokowi ngarti gw. Itu yang akan dia lakukan. Tapi ya kalo diganggu suhu politik bisa2 kayak sby kemaren, ga bisa ngapa2in.
Salah satu senjata jokowi adalah menempatkan birokrasi secara elektornik. Karena kalo orang ketemu orang kemungkinan korupsi lebih besar daripada orang ketemu mesin. Ga bisa kurang dari 0.001 rupiah pun.

Jiahh..diganggu? ::ngakak2::

Jokowi diganggu? Lha dia sendiri yg bikin masalah...

Ini sama dg curhatannya ke datuak SM sutan batokok, katanya BG bukan inisiatifnya. Lha dia presidennya, kok mau aja ngajuin orang yg bukan inisiatifnya? Trus apa bener bukan inisiatifnya? Lha dia bilang klo pilih mosok yg jauh. Artinya, dia pilih BG karena kedekatannya. Dlm kasus ini, ane lebih salut dg Megawati, berani berdiri di atas keputusannya sendiri, meski keputusannya amburadul.

Ape ane bilang, Jokowi licin..licin... Kecoa kalo pilih presiden ya dari bangsa kecoa juga..mosok pilih jangkrik... ::ngakak2::

ndableg
31-01-2015, 12:48 AM
Ya diganggu sama orang2 jiwa ga sehat kek lu ::ngakak2::
Dibilang tunggu 4 taun, tapi ngoceeeeh aja.. banyak ngoceh tanda pinter mungkin..

ndableg
31-01-2015, 12:55 AM
wah... makasih atas pelajaran bahasa inggris nya Mbo :)

Btw ada kursus grammar gratis di sini? Ada forumnya nya sendiri tuh. Koreksinya di sana aja ya mbok.
Yg baca orang indonesia ini, ga perlu bener2 banget sih. Orang bule juga ngarti kok.

et dah
31-01-2015, 01:47 AM
terus terang gw pesimis sama jokowi
continue bright im pessimist equal jokowi

^^^ maaf ya English gw level dewa

surjadi05
31-01-2015, 10:05 AM
http://m.kompasiana.com/post/read/699218/3/bocoran-transkrip-sadapan-jokowi-prabowo-bocor-ke-publik-.html
ternyata ::kesal::

Fere
01-02-2015, 03:07 PM
Menyesal Memilih Jokowi

Sebelum saya memulai, ada baiknya anda baca dulu apa yang ada di kepala saya tentang Jokowi yg saya tulis tanggal 2 Juni 2014 di sini

Lalu dalam jeda 21 hari, ini pendapat saya akan Jokowi

Nah, skarang mari kita bahas realitanya. Apa saja yang sudah terjadi semenjak tulisan itu dan juga apa yang terjadi dalam pemerintahan semenjak di bawah Jokowi

Yang Mengecewakan:

Puan Maharani. Mungkin bukan Puannya secara spesifik tapi Puan jadi semacam simbol terhadap pembagian jatah politik yang sebelumnya sempat digadang gadang tidak akan dilakukan Jokowi. Ibu Puan dengan segala hormat mungkin tidak perlu menjelaskan kepada pak Jokowi, tapi publik gagal menemukan kepantasan beliau dalam jabatan mentri koordinator.
Terkait hal ini, di social media ada kubu yang secara konsisten menyindir fakta bahwa Jokowi ternyata bagi bagi kue ke partai. Siapakah mereka? Ya lihat saja yang tidak dapat jatah siapa :)

Jaksa Agung Agung Prastyo. Kini kejaksaan agung dianggap rawan intervensi politik. Maklum, Prasetyo ini orang Nasdem. Tidak diperiksa dulu oleh KPK & PPATK (mungkin Jokowi sempat diberikan catatan oleh KPK & PPATK tapi publik tidak tahu, bisa jadi) dan walaupun dianggap banyak orang tidak ada dosanya, tapi juga tidak punya prestasi yang membuatnya layak jadi Jaksa Agung. Karenanya wajar orang merasa, lagi lagi ini jatah politik.

Pollycarpus. Mungkin bukan Pollycarpusnya yang jadi fokus karena bagaimanapun, Polly keluar lewat prosedur & tata cara yang sah. Tapi Polly jadi simbol akan lalainya Jokowi terhadap janji penuntasan kasus HAM. Apalagi dengan Muchdi PR yg erat dikaitkan dengan pembunuhan Munir masih “mondar mandir” di sekitar Jokowi.
Sementara itu, setiap Kamis aksi Kamisan tak putus dengan pesan & payung hitam di depan istana Presiden. Hingga muncul kejelasan.

Wantimpres. Ini juga teramat penting. Bayangkan, 9 orang yang jadi Dewan Pertimbangan Presiden. Yang berarti, setiap kali Jokowi butuh arahan atau usulan atau bahan pertimbangan terkait pengambilan keputusan & penyikapan isu, Jokowi akan bertanya kepada sebuah dewan yang 6 dari 9 adalah orang dari partai pendukungnya. Salah satunya adalah Jan Darmadi dari Nasdem yang disebut sebagai mantan bos judi. Kenapa mantan? Krn Jan Darmadi merupakan pengusaha begitu banyak rumah judi besar di Jakarta, ketika Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta mengijinkan perjudian & menarik pajaknya utk pembangunan Jakarta. Juga yang menjalankan Porkas & SDSB sebelum pada akhirnya program ini ditutup pemerintah krn kemudian melarang perjudian.
Terus terang saya pribadi masih bingung dengan masalah wantimpres. Karena mereka hanya bisa beri rekomendasi. Keputusan tetap di Jokowi. Kalau saya jadi Jokowi, saya butuh untuk dengar juga pendapat dari sisi yang tertutup bayang bayang. Tapi itu saya.
Entah apa pertimbangan Jokowi dalam memilih 9 nama tadi, tapi yang pasti kontrol rakyat harus tetap pada Jokowi.

Nah yang paling hangat, Kapolri.
Ini benar benar kekecewaan banyak orang. Budi Gunawan sudah pernah dapat raport merah dari KPK. Jokowi tau. Jokowi trima laporan tersebut di masa penyusunan kabinet. Tapi Jokowi tanpa nama lain & tanpa berkonsultasi dgn KPK & PPATK mengajukan Budi Gunawan jadi Kapolri. Yang lucu, SEMUA di DPR stuju (kecuali demokrat). Semua lho. Baik yang di kubu KMP maupun KIH. Semua setuju Budi Gunawan jadi Kapolri. PDI-P, PKS, Gerindra, Golkar, Hanura, Nasdem, dll… Semua setuju. Kompak bener nih. Tumben.
Akhirnya KPK menjadikan Budi Gunawan sebagai tersangka. Kemudian dimulailah drama KPK vs Polri. Samad kena kasus, Badrodin (plt Kapolri sementara BG masih dlm proses KPK) diindikasi rekeningnya lebih gendut dari BG, Bambang Widjoyanto ditangkap Polisi ketika mengantar anaknya yang masih SD ke sekolah, kemudian muncul ke permukaan yang melaporkan BW adalah mantan Anggota DPR RI dari PDIP lulusan SMEA bernama Sugianto Sabran. Dia pernah terlibat Kasus pembalakan Liar, pernah dilaporkan dalam kasus penyiksaan Aktivis. Bahkan memotong tangan aktivis Faith Doherty dari Enviromental Investigation Agency dan seorang aktivis Ruwidrijanto menjadi Korban. Dan juga terlibat dalam penganiayaan wartawan tabloid Abi Kusno Nachran yang ternyata kakeknya sendiri. Pusing kan?
Setelah melewati pemeriksaan panjang, BW dilepas Polri.

Jokowi? Sempat muncul sebagai cameo dalam drama ini dengan menyatakan bahwa semua pihak harus menghormati proses hukum yang berlangsung.

Sementara semua orang fokus pada drama ini, pertanyaan besar tidak dibahas banyak orang: Mengapa Sutarman diberhentikan dari jabatan Kapolri?

Masa jabatan masih hingga oktober 2015. Beliau tidak sakit. Tidak terkena kasus. Tapi sebelum usai masa jabatan, langsung ingin diganti. Bahkan ketika BG tidak jadi dilantik, Jokowi malah menunjuk Badrodin sbg plt Kapolri daripada membiarkan Sutarman tetap bekerja hingga akhir masa jabatan.
Kenapa?
Jawabannya, bisa membuka banyak hal termasuk terkait KPK.

Sekarang kita tinggalkan sejenak yang pusing pusing dan bahas yang satu ini.

Yang Melegakan dari Jokowi

Pengurangan subsidi BBM untuk infrastruktur. Kenaikan BBM akibat pengurangan subsidi sudah langkah yang tepat. Kalau Jokowi hanya peduli dgn citranya, dia tidak akan naikkan harga BBM di awal masa kepresidenan. Tapi toh tetap dia lakukan karena dia peduli sekali dgn Indonesia yang jelas sekali butuh margin pengurangan subsidi utk infrastruktur yang akan meringankan beban rakyat kecil.
Seperti yang sudah saya bahas di sini sejak lama

Mas Anies jadi mentri pendidikan sudah diprediksi di tulisan saya di atas. Hasilnya sejauh ini, sangat menyenangkan.

UN yang begitu meresahkan tidak lagi jadi syarat kelulusan

Kurikulum 2013 yang buat bingung murid, orang tua & bahkan guru juga pihak sekolah dibatalkan utk kebanyakan sekolah dan hanya sedikit yang jadi percontohan

Mengembalikan Persatuan antar umat beragama seperti yang pernah saya jelaskan di sini

Belum lagi Mentri Agama yang menyegarkan & mendamaikan dengan ikut mengucapkan selamat Natal. Juga Ibu Susi yang tegas & lugas menghajar pencuri ikan di perairan kita.

Setelah semua yang sudah kita bahas di atas, bagaimana penilaian saya terhadap Jokowi?

Terus terang, hiburan saya belakangan ini adalah orang orang yang mention saya di twitter menyindir “Kok mengkritik Jokowi? Udah gak mendukung ya? Menyesal ya?”
Karena pertanyaan itu, tanpa mereka sadari, membongkar borok mereka sendiri.

“Kenapa dulu mendukung & sekarang mengkritik Jokowi?”

Lah emang kalo presidenmu yang terpilih kemudian berbuat salah, tidak akan kamu kritik? Begitukah prinsipmu? Untung pilihanmu gak menang. Bahaya sekali menutup mata & membuang muka setelah memilih Presiden. Kelakuannya seperti anak yang baru ikutan pemilu. Memilih lalu berpikir tanggung jawabnya berhenti di situ.
Atau kamu yakin sekali kalau yang terpilih adalah Presiden pilihanmu, lalu dia PASTI tidak akan berbuat salah? Naif sekali.

Kalo pertanyaannya menyesal atau tidak milih Jokowi, jawabannya terlalu gampang.

Pilihannya saat itu hanya Jokowi & Prabowo.
Terlalu mudah. Jelas Jokowi lah pilihannya. Apalagi sampai hari ini belum ada yang mampu menjawab pertanyaan saya di akhir tulisan ini dgn lugas & jelas

Lagipula menanyakan apakah saya menyesal atau tidak adalah hal yang lucu karena saya sama sekali tidak ada pikiran ke arah sana. Lah memang mereka kalau memilih Presiden kemudian keadaan tidak berjalan dengan keinginan mereka, mereka akan menyesal?
Saya pernah menulis di Januari 2009, 6 tahun yang lalu, bahwa menyesal adalah sifat pecundang

Jaman sekarang, menyikapi politik itu harus realistis. Termasuk menyikapi Presidennya.
Presiden adalah bagaikan CEO-nya Politisi.
Dia adalah politisi terbaik sehingga bisa memuncaki jabatan tertinggi.
Maka naif kalau kita berharap Presiden Jokowi adalah aktivis atau negarawan. It doesnt even exist anymore in this modern time governmental playbook.

Yg Jokowi lakukan, serupa dengan yang SBY lakukan. Yaitu berkompromi. Seperti yang pernah saya tulis di sini
Bedanya dgn SBY, Jokowi memiliki fokus pembangunan terhadap sektor yang lain. Tapi sama sama kompromi. Ya memang begitulah cara bermainnya. Cara Jokowi bisa sampai posisi inipun ya begitu caranya.
Semua Presiden jaman sekarang juga pasti begitu.
Tau siapa yang gak begitu caranya? Yang jadi Presiden tapi bukan politisi? Gus Dur.
Akhirnya dipaksa turun karena tanpa kompromi.
Walau ada beberapa perubahan yang terjadi, tapi tidak seberapa dengan kalau beliau bisa menyelesaikan periodenya apalagi melanjutkan di periode selanjutnya.

Saya sebenarnya senang dengan kondisi sekarang. Kalau pemerintahan Jokowi adem ayem, maka pasti ada yang salah. Ramainya gejolak pemerintahan Jokowi adalah karena beliau sedang mengguncang keadaan.
The President is shaking things up. Dan itu hal yang benar. Dan berani.

Dan membuat saya, tidak menyesal memilih Jokowi


http://pandji.com/menyesal-memilih-jokowi/

tuscany
01-02-2015, 11:48 PM
Btw ada kursus grammar gratis di sini? Ada forumnya nya sendiri tuh. Koreksinya di sana aja ya mbok.
Yg baca orang indonesia ini, ga perlu bener2 banget sih. Orang bule juga ngarti kok.

Hehe selamat yah bro lapaknya laku keras karena sedia rupa2 mulai dari kursus grammar, curhat, fitnah, teori konstipasi, whinning dan sebagainya.


Lah gini loh tusc, misal ya, kamu ditawarin untuk jadi ceo di perush yg kamu mimpi2kan, gaji ditawarin $5M, waktu kerja fleksibel, cuti dibayar 4 bulan setahun,dikasih rumah en mobil pribadi, nah sudah hampir deal, tiba2 digagalin sama staff admin kamu kerja sekarang? Kamu marah ga? Kesal ga? Tiba2 kamu ada kesempatan balas dendam, dan kamu ada power buat balas dendam? lalu kamu balas dendam, kurang lebih gitu deh gambaran samad, kalo soal kpk, saya tetap berkesimpulan si samad menyalahgunakan posisinya sebagai ketua untuk mempengaruhi para wakil pimpinan kpk untuk menjadikan budi tersangka!

Jadi point saya kalo samad ga berhenti sebagai pimpinan kpk, maka budi harus tetap jadi kapolri, anggap aja sebagai hukuman buat samad, udah ahh kelamaan di theori "konspirasi anak tk" ::hihi::

Ye engkong, masa samad doang yang disuru berenti, kan keputusannya kolektif kolegial. Semua yang setuju menurut saya kudu berenti juga kok mau aza dipengaruhi.

---------- Post Merged at 10:48 PM ----------


KPK, pimpinan kpk saat ini khususnya, digebuki di ILC, bahkan oleh mantan ketua/pengurus kpk sendiri.

https://www.youtube.com/watch?v=gWHIA5Ae994

Alamak...pideonya tiga jam an. Kalo ada yang bersedia meringkaskan apa point2 ILC dan siapa yang dari mantan pengurus menggebuk KPK, dapat hadiah senyuman manis dari sayah :) :) - senyumnya uda dikasi duluan.


Gw baru tahu, bahwa tidak etis pimpinan kpk menjadi cawapres, pantesan si samad ngotot ga mau ngaku terus waktu ketemu para wakil pdip pake acara nyamar ::facepalm::

Sama nggak etisnya gubernur jadi capres? #eh...

surjadi05
02-02-2015, 05:50 AM
Hehe selamat yah bro lapaknya laku keras karena sedia rupa2 mulai dari kursus grammar, curhat, fitnah, teori konstipasi, whinning dan sebagainya.



Ye engkong, masa samad doang yang disuru berenti, kan keputusannya kolektif kolegial. Semua yang setuju menurut saya kudu berenti juga kok mau aza dipengaruhi.

---------- Post Merged at 10:48 PM ----------



Alamak...pideonya tiga jam an. Kalo ada yang bersedia meringkaskan apa point2 ILC dan siapa yang dari mantan pengurus menggebuk KPK, dapat hadiah senyuman manis dari sayah :) :) - senyumnya uda dikasi duluan.



Sama nggak etisnya gubernur jadi capres? #eh...

Gaklah gubernur jadi capres ga melanggar kode etis,kalo menurut pengakuan johan budi, mereka ga tahu samad mencalonkan diri jadi cawapres, jadi besar kemungkinan mereka ditipu samad ::ungg::

purba
05-02-2015, 07:52 PM
Sumber masalahnya jelas: Jokowi itu sendiri. Presiden boneka. ::ngakak2::

kandalf
06-02-2015, 12:45 AM
Gue bisa ngomong berbusa2 ngebela KPK tapi topik ini tentang Jokowi-JK.

Samad, Bambang, Adnan, Zulkarnaen tidak bisa menetapkan tersangka tanpa dukungan proses yang sangat panjang dalam tubuh KPK.
Ketika Budi Gunawan akan menjadi calon menteri, Samad hanya bisa kasih label merah karena Budi Gunawan belum bisa dijadikan tersangka saat itu se-dendam apapun (katanya) Samad.
Ketika Bambang Soesatyo menjadi ketua DPR, mau Samad koar-koar bagaimanapun, tetap tidak akan ada penetapan tersangka karena KPK tidak dikendalikan oleh Samad.

Biarpun Samad berjanji akan mengusut tuntas Century di masanya, kenyataannya sampai sekarang pun tidak ada satupun yang jadi tersangka karena KPK tidak dikendalikan Samad.

Dan sekarang,
seandainya Samad, Bambang, Adnan, Zulkarnaen diganti semua oleh orang-orang baru yang lebih kooperatif pada partai-partai pendukung Jokowi, BG tetap akan diusut dan akan diseret ke pengadilan karena KPK tidak mengenal SP3. Bahkan seandainya Hakim Sarpin membela BG dan menyatakan penetapan tersangka tidak beralasan, BG tetap akan diusut dan diseret. Persis seperti kata-kata kepolisian ketika Cicak vs Buaya jilid I, penetapan tersangka tidak bisa dipraperadilankan.

Jadi SBY sudah benar,
sekali ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK, anak buahnya harus mundur karena jelas dia akan menghadapi proses rumit sampai ke bangku terdakwa. Tidak ada kasus berhenti hingga ke pengadilan.

Dan mau berbusa-busa membela Jokowi bagaimanapun,
tetap saja sama, Jokowi lemah, jauh lebih lemah daripada SBY.

Sekarang,
bukan hanya KPK yang mau dilemahkan,
Komnas HAM pun sudah mulai diancam akan dibubarkan.
Mengapa?

Karena pendukung kuat Budi Gunawan yakni calon besannya, Budi Waseso, dinilai oleh Komnas HAM telah melanggar HAM saat melakukan penangkapan Bambang Widjojanto.

Dan yang dilakukan oleh Jokowi selama ini adalah mengikuti jejak Bung Karno maupun jejak Pak Harto sebelum dilengserkan.
Bung Karno dahulu gak berani kasih pernyataan melainkan ngumpet di Istana Bogor dan itu yang dilakukan oleh Jokowi di hari Bambang Widjojanto ditangkap.
Sekarang, di saat krisis, Jokowi pergi ke luar negeri, persis saat Pak Harto di masa krismon, pergi ke Kairo.

Gue berharap Jokowi berani seperti dahulu ketika dia menantang Bibit Walujo.


Oh iya,
KPK tidak menyandera kasus.
KPK memang terpaksa melakukan tebang pilih dan lambat dalam mengusut kasus karena keterbatasan jumlah penyidik. Berbeda dengan kepolisian yang ada di setiap kecamatan, KPK tidak sampai sebanyak itu.

ndableg
06-02-2015, 03:52 AM
Dan mau berbusa-busa membela Jokowi bagaimanapun,
tetap saja sama, Jokowi lemah, jauh lebih lemah daripada SBY.

Ya iyalah. SBY tentara, jendral lagih, punya partai lagih, Jokowi orang ndeso.
Masalahnya kita liat 5 taun kedepan apakah yang dibangun sang jenderal bakal lebih banyak dari yang dibangun pengusaha kampung.

Gw bela2 presiden jg buat indonesia, kalo sampe ada apa2 di indonesia yg paling rugi bukan gw. Kalo misalnya masalah politik manjang terus ga selesai2, lalu akhirnya jokowi digulingkan, lalu kembali pemilu dan belum lagi kalo ada rusuh2, yg buang2 waktu itu kan orang indonesia sendiri. Ga ada kepentingan apa2 sih gw. Gw cuman pengen indonesia maju dan membangun, orang2nya berkarya. Gw hanya coba memantau dari jauh, dan menurut gw jokowi akan membangun indonesia. Menurut penglihatan gw dari jauh, jokowi punya planning untuk maju. That's it.

Masalah salah milih kapolri korup, atau tidak memberantas habis kasus korupsi, atau tidak mengusut HAM ga terlalu gw permasalahkan (dan bukan pertimbangan gw waktu milih dia) karena menurut gw yg terjadi sekarang cuman intrik2 politik untuk menjatuhkan jokowi yang dianggap mengusik banyak kepentingan orang. Itu masalah HAM ataupun korupsi para penegak hukum (KPK, Polri, kejaksaan dll) semua ud punya, cuman dibiarkan saja, ditimbun saja, ditahan2 saja sampe ada situasi2 spt ini. Lagian kalo mau dikorek sedalam2nya, pejabat negara mana sih yg ga korup? Sama juga jenderal2.

Gw ga liat dimana salah jokowi memilih jenderal yang direkomendasikan parpol2 secara dia bukan dari lingkungan tentara dan terbilang baru jadi pejabat negara. Mgk jokowi melihatnya parpol2 sebagai perwakilan rakyat. Mosok jokowi harus langsung ahli dan kenal semua orang. Pasti adalah model2 pembisik berkeliaran di istana itu. Jokowi jelas belum punya ilmu mengatasi setan2 istana. Ini kan masalah sederhana, memilih kepala polri. Sambil merem aja jadi, cap cip cup jadi, tapi menjadi rumit karena ada urusan gado2 politik dan hukum. Ada yang bilang, jokowi tidak melantik BG, maka dia akan diancam interpelasi, mengacu pada kasus gus dur. Lalu BG dilantik yang salah jokowi. Kemudian pengganti nya BG jg katanya salah lagi. Beuh?

Ronggolawe
06-02-2015, 09:12 AM
bagi gw sih, sesuai slogan "kerja... kerja... kerja" saja
urusan printilan politik berbungkus hukum atau HAm, bi
ar diurusin media saja sebagai Pilar "superbody" :)

et dah
06-02-2015, 10:45 AM
Wibawanya Presiden Jokowi jadi inget mantan Presiden Gus Dur dulu

tuscany
06-02-2015, 11:04 PM
Mestinya eike kerja ni sekarang tapi ada yang ngganjel kalo ndak komen.


Gue bisa ngomong berbusa2 ngebela KPK tapi topik ini tentang Jokowi-JK.

Jadi SBY sudah benar,
sekali ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK, anak buahnya harus mundur karena jelas dia akan menghadapi proses rumit sampai ke bangku terdakwa. Tidak ada kasus berhenti hingga ke pengadilan.

Dan mau berbusa-busa membela Jokowi bagaimanapun,
tetap saja sama, Jokowi lemah, jauh lebih lemah daripada SBY.

Oh iya,
KPK tidak menyandera kasus.
KPK memang terpaksa melakukan tebang pilih dan lambat dalam mengusut kasus karena keterbatasan jumlah penyidik. Berbeda dengan kepolisian yang ada di setiap kecamatan, KPK tidak sampai sebanyak itu.


Ya iyalah. SBY tentara, jendral lagih, punya partai lagih, Jokowi orang ndeso.
Masalahnya kita liat 5 taun kedepan apakah yang dibangun sang jenderal bakal lebih banyak dari yang dibangun pengusaha kampung.

Gw bela2 presiden jg buat indonesia, kalo sampe ada apa2 di indonesia yg paling rugi bukan gw. Kalo misalnya masalah politik manjang terus ga selesai2, lalu akhirnya jokowi digulingkan, lalu kembali pemilu dan belum lagi kalo ada rusuh2, yg buang2 waktu itu kan orang indonesia sendiri. Ga ada kepentingan apa2 sih gw. Gw cuman pengen indonesia maju dan membangun, orang2nya berkarya. Gw hanya coba memantau dari jauh, dan menurut gw jokowi akan membangun indonesia. Menurut penglihatan gw dari jauh, jokowi punya planning untuk maju. That's it.

Masalah salah milih kapolri korup, atau tidak memberantas habis kasus korupsi, atau tidak mengusut HAM ga terlalu gw permasalahkan (dan bukan pertimbangan gw waktu milih dia) karena menurut gw yg terjadi sekarang cuman intrik2 politik untuk menjatuhkan jokowi yang dianggap mengusik banyak kepentingan orang. Itu masalah HAM ataupun korupsi para penegak hukum (KPK, Polri, kejaksaan dll) semua ud punya, cuman dibiarkan saja, ditimbun saja, ditahan2 saja sampe ada situasi2 spt ini. Lagian kalo mau dikorek sedalam2nya, pejabat negara mana sih yg ga korup? Sama juga jenderal2.

Gw ga liat dimana salah jokowi memilih jenderal yang direkomendasikan parpol2 secara dia bukan dari lingkungan tentara dan terbilang baru jadi pejabat negara. Mgk jokowi melihatnya parpol2 sebagai perwakilan rakyat. Mosok jokowi harus langsung ahli dan kenal semua orang. Pasti adalah model2 pembisik berkeliaran di istana itu. Jokowi jelas belum punya ilmu mengatasi setan2 istana. Ini kan masalah sederhana, memilih kepala polri. Sambil merem aja jadi, cap cip cup jadi, tapi menjadi rumit karena ada urusan gado2 politik dan hukum. Ada yang bilang, jokowi tidak melantik BG, maka dia akan diancam interpelasi, mengacu pada kasus gus dur. Lalu BG dilantik yang salah jokowi. Kemudian pengganti nya BG jg katanya salah lagi. Beuh?


bagi gw sih, sesuai slogan "kerja... kerja... kerja" saja
urusan printilan politik berbungkus hukum atau HAm, bi
ar diurusin media saja sebagai Pilar "superbody" :)

Di satu sisi, perlu ada yang militan membela KPK sampe berbusa-busa. Tujuannya sebagai penyeimbang kelompok yang sedang menyerang KPK dari berbagai sisi.
Saya juga paham meski namanya super body, tapi KPK hanya punya pegawai sekian dengan kasus kali sekian. Maka ketika ada yang mbandingin kinerja KPK dan kepolisian dalam memberantas korupsi dengan outcome berapa yang dikembalikan ke negara, I do not buy that meski tulisan2 lainnya saya kagumi. Ndak apple to apple soalnya.

Sama ndak apple to apple mbandingin SBY dan Jokowi. Poin dari ndableg udah mencakup banyak hal. Satu lagi mungkin, kasus Bibit Chandra waktu itu sudah sampe ke kejaksaan baru dideponering. Yang sekarang baru tersangka di kepolisian, sebiji. Lainnya masih diperiksa. SBY jauhhhh lebih melempem waktu itu, kalau ukurannya timing.

Sementara itu, saya lihat kinerja di bidang lain tidak begitu terpengaruh dan terus melaju. Menurut ketua ikatan asuransi, dia dalam sebulan sudah empat kali diundang di kementerian yang berbeda. Katanya baru sekali ini asuransi dipandang pemerintah. Artinya apa? Pemerintah punya concern untuk handle risk secara serius. Investasi terus nambah (katanya) dan sudah di atas target. PBB dihapuskan dan pajak rumah mewah dinaikkan berkali lipat untuk memecah bubble property. Kasus hukum KPK-Polri terlalu garing digoreng media, sampe prestasi lainnya nyaris tak tercover.

Dia sudah kerja, menurut saya. Perkara udah maksimal atau belum, biar waktu menjawabnya. Ini juga baru tiga bulan lebih. Kurang atau lebihnya saya maklumi sebagai manusia selama kelihatan ada niat untuk improve.

ndableg
07-02-2015, 03:17 AM
OK, tentang KPK vs POLRI bisa dilanjut di sini (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php/18591-KPK-vs-POLRI)

mbok jamu
07-02-2015, 08:15 AM
Btw ada kursus grammar gratis di sini? Ada forumnya nya sendiri tuh. Koreksinya di sana aja ya mbok.Yg baca orang indonesia ini, ga perlu bener2 banget sih. Orang bule juga ngarti kok.Lha.. Kalau yang baca orang Indonesia, kenapa mesti pakai bahasa Inggris? Salah-salah pulak, bikin sakit mata.------Rakyat Indonesia tahu Jokowi bukan jendral, bukan purnawirawan, bukan politikus. Justru karena dia bukan semua itu Jokowi diharapkan tampil beda. Kalau Jokowi jujur dan menjunjung etika kerja, dia sendiri harus mencontohkan kejujuran dan etika itu pada publik. Dia sendiri harus menunjukkan bahwa para menterinya, pembantunya, pejabatnya, polisinya punya kejujuran dan etika yang serupa.Ibarat orang-orang yang mengaku bersih, mandi pakai sabun wangi, tapi mandi di comberan.

ndableg
07-02-2015, 04:52 PM
duh.. Yg bule2 aja ga sampe sakit mata bu..
Ya sudah lanjut..

purba
07-02-2015, 06:43 PM
Gw bela2 presiden jg buat indonesia, kalo sampe ada apa2 di indonesia yg paling rugi bukan gw. Kalo misalnya masalah politik manjang terus ga selesai2, lalu akhirnya jokowi digulingkan, lalu kembali pemilu dan belum lagi kalo ada rusuh2, yg buang2 waktu itu kan orang indonesia sendiri. Ga ada kepentingan apa2 sih gw. Gw cuman pengen indonesia maju dan membangun, orang2nya berkarya. Gw hanya coba memantau dari jauh, dan menurut gw jokowi akan membangun indonesia. Menurut penglihatan gw dari jauh, jokowi punya planning untuk maju. That's it.

Penglihatan atau harapan? Harapan ngkali... ::hihi::

ndableg
08-02-2015, 01:19 AM
Kalo harapan gw, semoga planning2nya berhasil/terwujud.

tuscany
09-02-2015, 03:01 AM
Kenapa trit ini jadi adem?
*nuang seember bensin

ndugu
10-02-2015, 06:23 AM
http://i.giphy.com/fOMZItI9ebZBK.gif

http://i.giphy.com/52LfVuVGItImA.gif

tuscany
10-02-2015, 06:35 AM
The Breakfast Club bukan yang atas? Favoritku banget.

ndugu
10-02-2015, 06:47 AM
ketauan nih umurnya tusc

cha_n
10-02-2015, 10:17 PM
seumuran ya gu? :D

ndugu
11-02-2015, 12:46 AM
chan: kayanya tuaan tusc deh :cengir:

tuscany
11-02-2015, 01:43 AM
kenapa jadi eike yang dituakan? ntar lama2 didewakan lagi dan etca bakal ada saingannya

*kabur

surjadi05
11-02-2015, 08:56 AM
Emang umur tucs berapaan? ::ungg::




Makin oot

ndableg
11-02-2015, 06:14 PM
Kembali ke laptop! ::pletak::

et dah
11-02-2015, 11:44 PM
tekeee aja

tuscany
12-02-2015, 06:05 AM
Ih ndableg, kan intermezo sampe ada bahan diskusi baru lagi.

@kong sur: kayaknya tuaan saya deh dari kong sur


Supaya ndak OOT, mari kita bahas wacana pindahan ke istana Bogor. Katanya sih karena di Jakarta banyak yang hilir mudik. Tapi mungkin juga karena gampang kebanjiran.

Sebenarnya ada satu lagi istana di luar Jakarta yaitu Istana Tampak Siring.

http://sp.beritasatu.com/media/images/original/20150107131513324.jpg

Istana Bogor

http://rumana.tk/wp-content/uploads/2014/09/bogoristana-ii-1024x709.jpg

---------- Post Merged at 05:05 AM ----------

Istana Cipanas

http://4.bp.blogspot.com/-NVtxCb3nc7E/Ti-xv9NF71I/AAAAAAAAAZo/R2Krq5pMqDs/s400/Istana+Presiden+Cipanas.jpg

Gedung Agung

https://gusti7070.files.wordpress.com/2010/08/dsc09712.jpg?w=1000&h=

Loh...malah jadi wisata virtual ke istana2 kepresidenan ::elaugh::

surjadi05
12-02-2015, 08:16 PM
Kalo gw bilang pindah aja deh pusat pemerintahan, jakarta pusat bisnis aja, biar tempat laen juga cepat berkembang

et dah
12-02-2015, 10:26 PM
ie, pindahin ke papua

ndableg
13-02-2015, 01:27 AM
Supaya ndak OOT, mari kita bahas wacana pindahan ke istana Bogor. Katanya sih karena di Jakarta banyak yang hilir mudik. Tapi mungkin juga karena gampang kebanjiran.

Tebakan gw seh, sehubungan dengan akan memulai program menanggulangi banjir di jkt dari gunung. Jadi bakal sibuk di deket2 bogor. Itu makanya kagak pindah ke bali, padahal banyak bule bugil di sana.

ndugu
13-02-2015, 06:02 AM
Kalo gw bilang pindah aja deh pusat pemerintahan, jakarta pusat bisnis aja, biar tempat laen juga cepat berkembang
sebentar dulu
sebelum urusan banjir dll selesai di jkt, jangan pindah dulu
abis jangankan udah pindah, eh ntar urusan itu dibiarin. toh udah pindah gitu, bukan korban lagi, bukan urusannya lagi :cengir:

purba
13-02-2015, 01:50 PM
Taruhan yuuk? Selesai Jokowi jadi presiden, Jakarta tetap banjir seperti sekarang.

Jokowi walikota Solo: Banjir dan macet Jakarta mudah diselesaikan.

Jokowi gubernur DKI: Saya musti jadi presiden utk membereskan banjir dan macet Jakarta (banyak nih orang orang di ::KM:: percaya ini).

Sekarang Jokowi jadi presiden: Masalah Jakarta sudah bukan urusan saya lagi. Tak pindah mBogor yaa...

Alethia
13-02-2015, 02:01 PM
Mas Purba mungkin harus pindah ke Timbuktu dulu, baru Jakarta bebas banjir, eiimm::hihi::

et dah
13-02-2015, 07:38 PM
kata siapa Purba mas-mas?

surjadi05
13-02-2015, 07:46 PM
kata siapa Purba mas-mas?

Err kata ale ::hihi::

tuscany
14-02-2015, 02:26 AM
Mas Purba ...
Romantis amat. Nyaris keselek bacanya.

Saya setuju Jokowi pindah2 istana, biar adil semua tempat dapat bagian. #apaancoba

Ronggolawe
16-02-2015, 01:56 AM
Oops Jokowi “did it again!”, APBN-P 2015 Disahkan Secara Mulus (http://politik.kompasiana.com/2015/02/15/oops-jokowi-did-it-again-apbn-p-2015-disahkan-secara-mulus-701854.html)



Politik
Hanny
Setiawan

Twitter: @hannysetiawan Gerakan #hidupbenar, Solo Mengajar, SMI (Sekolah Musik Indonesia) http://www.hannysetiawan.com Think Right. Speak Right. Act Right. selengkapnya
TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare
Oops Jokowi “did it again!”, APBN-P 2015 Disahkan Secara Mulus
OPINI | 15 February 2015 | 23:22 Dibaca: 14 Komentar: 0 0

solopos.com

solopos.com

Jokowi diharapkan jadi aktifis dan tidak begitu disukai ketika mulai berpolitik. Itu adalah realitas nyata mengapa para aktifis pendukung Jokowi “marah-marah” khususnya soal BG dan Proton. 13 Februari kemarin, APBN-P 2015 yang di gembar-gemborkan adakan keras pembicaraannya karena DPR dikuasai KMP, ternyata jauh panggang dari api, APBN-P 2015 lolos dengan mulus.

Jokowi bukanlah aktifis HAM, atau LSM, dia adalah presiden RI yang harus mengakomodir semua kepentingan dan mampu bermain politis ditengah perbedaan. Realitas DPR yang dikuasai “oposisi” seakan-akan sudah dilupakan karena kesepakatan KMP-KIH mendukung BG. Sekaligus manuver Jokowi dengan mengundang Prabowo ke Istana. Semua adalalah move politik untuk kepentingan yang lebih besar.

Apakah berarti Jokowi harus kompromi? Politik adalah seni untuk berkompromi. Itu sebabnya yang tidak kuat ada di dalam sistem akan gampang terkhamiri dan akhirnya “sleeping with devil”. Ini sebabnya pendukung Jokowi yang “tulus” bersuara paling keras ketika dirasa Jokowi “berkompromi” di kasus BG.

Hasil akhir kasus BG belum keluar, sebab itu seluruh pengamat baik yang profesional maupun yang amatir akan melihat “hasil pengamatan”-nya setelah keputusan Jokowi keluar. Hasil akhir ini yang akan memperlihatkan seberapa jauh Jokowi berkompromi dengan DPR. Yang pasti, move Jokowi untuk menggunakan isu BG ini sebagai bargaining position mampu menggolkan APBN-P 2015. Move ini diakui secara eksplisit oleh Jokowi, jadi bukan sekedar perkiraan saya (baca).

Para relawaan aktifis yang sensi dengan “jurus lambat”-nya Jokowi, harusnya membuka mata bahwa dengan postur APBN-P 2015 1984,1 T atau hanya sekitar 10T lebih kecil dari yang diusulkan, Jokowi menunjukkan kelihaiannya bermain dalam sistem (baca). Untuk sekedar mempermalukan DPR, KMP, KIH, dan menyenangkan rakyat dengan membela Samad, BW, dsb Jokowi dengan gampang melakukannya, tapi hal itu tidak strategis. Perjalanan Jokowi masih panjang, dengan disahkannya APBN-P 2015 sekarang kabinet Jokowi tidak ada alasan lain kecuali kerja, kerja, dan kerja.

***

Gus Dur adalah negarawan luar biasa. Tapi sejarah mencatat dia bukan politikus yang handal. Demikian juga Megawati, secara politik di justru di bodohi SBY. Peristiwa yang akhirnya berkepanjangan sampai sekarang. Sebaliknya, SBY adalah politikus licin sehingga mampu bertahan 10 tahun memerintah. Tapi mengatakan SBY negarawan akan sulit, apalagi 5 tahun kedua paruh pemerintahannya.

Semua presiden “era reformasi” harus menghadapi kenyataan bahwa “the evil” masih ada dalam sistem. Bermain dalam sistem berbeda jauh dengan ketika kita di luar sistem. Seorang Anies Baswedan pun harus menghadapi kenyataan melawan sistem jahat yang merasuk di diknas-diknas untuk tetap bisa mempertahankan idealismenya. Ahok merombak total seluruh jajaran birokrasinya. Susi mengaku “tidak betah” jadi menteri karena sesak nafas oleh aturan-aturan birokrasi dan bahaya serangan politik yang selalu menghantui.

Mengharapkan Jokowi mengambil keputusan tanpa kompromi dengan parpol sama dengan mengundang sejarah Gus Dur terulang lagi. Kompromi tetap harus dilakukan, yang tidak boleh dilakukan adalah KORUPSI. Kompromi tidak selalu sama dengan korupsi. Tapi memang kompromi yang diwaspadai sebagai awal dari KKN, dan Kong Kalikong.

Prioritas Jokowi adalah infrastruktur, swasembada, dan pertumbuhan ekonomi. Dan untuk itu bisa terlaksana kadang “peperangan” yang lain harus diredam dulu. Disini peran para menteri yang harus kreatif dan benar-benar aktif bergerak. Bahkan BEK (Badan Ekonomi Kreatif) -pun akhirnya tidak kebagian anggaran, dan menurut saya tidak apa-apa untuk sementara ini. Fokus kepada simpul-simpul yang bisa menjadi lokomotif dan yang lain akan mengikut.

***

Dalam strategi bermain catur ada yang disebut ROKADE. Perpindahaan posisi raja untuk dilindung Benteng. Yang saya lihat, Jokowi sedang melakukan Rokade sehingga dia terlindung dari serangan DPR. Dan benteng terkuat Presiden RI adalah TNI, BIN, Kejaksaan, KPK dan Polri.

Moeldoko, Hendropriyono, Prasetyo adalah “orangnya Jokowi”, prediksi saya yang mungkin bisa salah. Paska KPK-POLRI akan muncul nama-nama baru yang akan menjadi “orangnya Jokowi. Lengkap sudah pertahanan sang Presiden. Secara politik aman, secara hukum aman, maka terbuka jalan tol luar untuk menggenjot pembangunan Indonesia menuju Indonesia Baru.

Kita semua menunggu langkah catur Jokowi, tapi paling tidak sekarang ini kita bisa berkata “Oops Jokowi did it again!”. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

tuscany
16-02-2015, 05:53 AM
Di pas-pasin yah timing keputusan BG abis APBN-P diketok. Jadi presiden memang mesti super fokus.

purba
17-02-2015, 09:58 PM
Pencoblos-pencoblos Jokowi mencari penghiburan... ::ngakak2::

tuscany
17-02-2015, 10:03 PM
Pemikiran satu dimensimu juga hiburan kok Pur :)

et dah
18-02-2015, 03:41 AM
kasih feed aja trus trollnya :ngopi:

surjadi05
19-02-2015, 12:23 AM
JAKARTA, KOMPAS.com — PDI Perjuangan merasa berada di posisi yang serba salah menyikapi keputusan Presiden Joko Widodo yang membatalkan pelantikan Budi Gunawan. Sebagai partai pendukung pemerintah, PDI-P merasa seharusnya mendukung kebijakan Jokowi.

Namun, di sisi lain, PDI-P merasa keputusan Jokowi tersebut bertentangan dengan undang-undang yang ada.

"Keputusan Presiden tersebut tentu saja akan menyulitkan posisi Fraksi PDI-Perjuangan sebagai fraksi partai pemerintah di DPR untuk membela kebijakan Presiden Jokowi," kata Wasekjen PDI-P Ahmad Basarah saat dihubungi, Rabu (18/2/2015).

Menurut Basarah, Presiden tak bisa begitu saja membatalkan pelantikan Budi karena mantan ajudan Megawati Soekarnoputri tersebut sudah disetujui oleh DPR. Seharusnya, kata dia, sebelum mengusulkan nama Komjen Badrodin Haiti sebagai calon kapolri yang baru, Presiden Jokowi harus lebih dahulu menentukan status hukum Budi Gunawan.

"Tidak satu pun norma dalam Undang-Undang Polri yang memberikan kewenangan kepada Presiden jika dia tidak melantik seorang calon kapolri yang telah mendapatkan persetujuan secara resmi dari DPR," ucap Basarah.

Ketua Fraksi PDI-P di MPR ini menyarankan, seharusnya Presiden menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) terlebih dahulu sebelum menunjuk calon kapolri baru. Dengan begitu, terdapat norma hukum yang mengatur agar presiden dapat tidak melantik seorang calon kapolri yang telah disetujui DPR.

Presiden batal melantik Budi Gunawan sebagai kepala Polri karena menilai pencalonan Budi telah menimbulkan perbedaan pendapat di masyarakat. Presiden pun mengajukan Komjen Badrodin Haiti sebagai calon kapolri baru ke DPR. Presiden memutuskan hal itu untuk menciptakan ketenangan dan memenuhi kebutuhan Polri terkait kepemimpinan definitif. (Baca: Batal Lantik Budi Gunawan, Jokowi Usulkan Badrodin Haiti Calon Kapolri)

"Maka dari itu, hari ini kami usulkan calon baru, yaitu Komisaris Jenderal Badrodin Haiti untuk mendapat persetujuan DPR sebagai kepala Polri," kata Jokowi saat jumpa pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu siang.



Sapa tuh yg bilang jokowi presiden bonekanya si mbok::hihi::

ndableg
19-02-2015, 12:49 AM
Ternyata ga perlu dicari, hati pun terhibur.. ::itrocks::

ndableg
19-02-2015, 01:18 AM
Sebenernya sih, gw lebih setuju jokowi melantik BG, jadi dia ga dapet banyak masalah berarti dari DPR. Tapi ya sudah, rakyat ga perduli. Konsekuensinya sih menurut gw, orang2 yg kemaren nuntut jokowi untuk tidak melantik BG harus turun ketika jokowi dijatuhkan DPR.

tuscany
19-02-2015, 02:22 AM
Saya mikirnya si - bukan nuntut lho - mending nggak dilantik demi menjaga marwah blablabla ala Buya Syafii Maarif, tapi kesian ntar kena goyang sama DPR. Lha ternyata APBNP mulus ketok palu, yo wes hajar. Di sini keliatan bedanya manajemen masalah antara Jokowi dan Ahok.

---------- Post Merged at 01:22 AM ----------


kasih feed aja trus trollnya :ngopi:

Biar gemukan et ::elaugh::

surjadi05
19-02-2015, 10:25 AM
gw setuju sama tusc kali ini, sangat adil bagi gw yg milih dia,tinggal nego sama pimpinan partai aja lagi ::ngopi::

kandalf
19-02-2015, 12:45 PM
Sebenernya sih, gw lebih setuju jokowi melantik BG, jadi dia ga dapet banyak masalah berarti dari DPR. Tapi ya sudah, rakyat ga perduli. Konsekuensinya sih menurut gw, orang2 yg kemaren nuntut jokowi untuk tidak melantik BG harus turun ketika jokowi dijatuhkan DPR.

Jangan khawatir. Saya pasti akan turun ke jalan kalau beneran DPR mau memakzulkan gara-gara ini.
Salah satu alasan saya dahulu memilih Joko Widodo adalah karena ia pernah berseteru berkali-kali dengan Bibit Waluyo yang atasannya di partai maupun di struktur pemerintahan.
Jadi ya, saya kemarin-kemarin benar-benar marah ketika beliau diam dan tidak berani melawan DPR.

surjadi05
19-02-2015, 02:52 PM
^^^

Sounds like a true warrior ::jempol::

Ronggolawe
19-02-2015, 09:54 PM
Cara Jokowi Memainkan Politik (http://politik.kompasiana.com/2015/02/19/cara-jokowi-memainkan-politik-702642.html)


Usai sudah penetapan Jokowi “menyelesaikan” kemelut antara KPK dan Polri. Dengan “memberhentikan” Abraham Samad (AS) dan Bambang Widjojanto (BW) dari KPK dan “menetapkan” untuk mengusung Plt Badroen Haiti (BH) sebagai Kapolri “menggantikan” Budi Gunawan (BG) membuat saya menarik “sejenak” nafas untuk melihat persoalan ini. Terlepas kemudian Jokowi mengusung “Taufikurrahman Ruki (TR)”, Johan Budi (JB) dan Indriyanto Senoaji (IS) mengisi kekosongan komisioner KPK.

Diibaratkan pertandingan sepakbola, kedua tim sudah menunjukkan permainan tidak fair, saling tacking, suka memaki lawan bahkan cenderung bermain kasar. Pokoknya pertandingan tidak enak ditonton.

Penonton mulai bergemuruh. Keduanya saling memberikan semangat kepada kedua tim. Namun pertandingan masih tidak enak ditonton.

Padahal kapten kedua kesebelasan sudah dipanggil. Sebagai wasit Jokowi sudah mengingatkan baik-baik. Keduanya kemudian menggangguk dan bersedia melanjutkan dengan baik.

Namun kembali pertandingan semakin brutal, kasar dan terkesan sudah adu jotos. Perkelahian tidak terhindarkan. Entah berapa kali wasit membunyikan pluit untuk mengingatkan agar pertandingan dilanjutkan dengan baik. Namun keduanya sudah “keburu” menganggap pertandingan merupakan “arena” show of force. Saling pamer kekuatan. Bukan menampilkan permainan yang baik.

Sebagai wasit, Jokowi mulai marah. Pemain yang dianggap bermasalah “kemudian” dikeluarkan. Pemain pengganti diingatkan Jokowi agar melanjutkan permainan dilakukan dengan fair. Memberikan tontonan yang baik kepada penonton.

Perumpamaan itulah yang dilakukan oleh Jokowi didalam menyelesaikan kemelut KPK vs Polri.

Dengan memberhentikan AS dan BW dan mengganti BG dengan BH, sebagian kalangan menarik napas lega. Keinginan untuk tidak melantik BG disambut kalangan aktivis pemberantasan korupsi. Sementara Polri tidak kehilangan muka dengan melihat cara Jokowi menghargai dengan “mengukuhkan” BH sebagai calon yang diusung ke DPR menggantikan BG. Kedua opsi ini memberikan kemenangan kedua belah pihak.

Tentu cara Jokowi menyelesaikan kemelut “diluar” perkiraan saya. Perkiraan pertama disebabkan Jokowi lebih memilih BH sebagai calon Kapolri menggantikan BG. Tidak melantik BG tentu saya kredit point yang diraih oleh Jokowi. Jokowi dianggap masih mendengarkan suara masyarakat banyak. Terutama dari rekomendasi dari Tim 9 melalui Buya Syafii Maarif. Seorang tokoh yang cukup dihormati Jokowi selain Hazyim Muzadi.

Padahal issu mulai berseliweran dengan promosi terhadap Komjen Budi Wasesi (BW).

Namun Jokowi tidak membuat kisruh di tubuh Kepolisian. Dengan mendorong BH sebagai “tokoh senior” maka relatif mudah diterima.

Kedua. Mengangkat JB merupakan strategi ciamik yang mendapatkan “kredit point”. Sekali lagi saya tidak menduga Johan Budi kemudian didorong sebagai komisioner KPK.

Dengan mengangkat BH sebagai Calon Kapolri dan JB sebagai Komisioner maka justru memberikan “kredit point” yang tidak menimbulkan resistensi dari kalangan masing-masing internal. Keduanya sudah pasti diterima kedua kalangan.

Ketiga. Dengan mengangkat BH dan JB, effektivitas kerja bisa dijalankan. Meminjam istilah Jusuf Kalla, tidak perlu lagi “mengeluarkan” budget tambahan, karena keduanya sudah mengetahui medan dan bisa on the way.

Keempat. Hubungan antara JB dan BH cukup harmonis. JB sebagai “utusan” khusus dalam polemik BW saat penangkapan justru memberikan informasi yang “menyejukkan”. JB dengan bijaksana tidak “menyerang” BH ketika BW ditangkap. JB sadar, penangkapan BW sama sekali diluar kendali dan dianggap sebagai “insubkoordinasi”. Dengan tenang, JB bisa menjelaskan proses komunikasi antara JB dengan BH dan tetap menghargai posisi BH yang sama sekali tidak “mengetahui” penangkapan BW.

Kelima. Masuknya TR relatif diterima. TR berasal dari kepolisian dan pernah menjadi bagian dari KPK merupakan strategi yang cukup jeli dari Jokowi. Padahal saya menduga, salah satu anggota tim 9 yang akan masuk menjadi komisioner KPK. Mereka berasal dari pimpinan KPK sebelumnya. Yaitu Erry Riyana Hardjapamekas atau Tumpak Hatorangan Panggabean. Atau bisa juga Komjen (purn) Oegroseno dan Bambang Widodo Umar.

Keenam. Dengan tidak mengangkat BG, memberhentikan AS dan BW, maka “sedikit” mengurangi ketegangan antara KPK dan Polri. KPK “sadar” tidak kuat mempertahankan AS dan BW dari “serangan” Polri. Terlepas dari “tuduhan” terhadap AS dan BW, ketentuan normatif sudah bisa memastikan, keduanya sudah ditetapkan tersangka dan memang “diberhentikan sementara”. Sedangkan tidak melantik BG memberikan “penghormatan” dari Jokowi terhadap suara-suara kritis issu pemberantasan korupsi.

Ketujuh. Dengan mengambil strategi “tidak melantik BG dan memberhentikan AS dan BW”, Jokowi memainkan politik yang jitu. Jokowi berhasil “keluar” dari pengap. Sikap Jokowi kemudian dibaca, Jokowi “Menyelesaikan” persoalan tanpa “memberikan malu” kepada kedua lembaga. Jokowi berhasil keluar dari tekanan politik (baik dari masyarakat, partai pendukung maupun suara di parlemen).

Kedelapan. Mengangkat BH dan JB merupakan strategi diluar perkiran. Jokowi berhasil berhitung “kalkulasi” politik. Baik resistensi ataupun yang akan mencibirnya. Dari sikap ini, kalkulasi politik Jokowi tidak menimbulkan dampak baik di tengah masyarakat maupun dari parlemen.

Dengan melihat strategi yang tengah dimainkan Jokowi, saya kemudian teringat cara Jokowi “menguraikan masalah”. Jokowi sering sekali “mengaduk kolam yang baru keruh”. Jokowi bukan membersihkan kolam. Namun membiarkan kolam semakin keruh sehingga kelihatan ikan-ikan yang mulai kehabisan nafas karena sulit bernafas. Ikan-ikan yang naik ke permukaan untuk menarik nafasnya biasa lebih enak ditangkap untuk digoreng. Ikan tidak menjadi liar. Namun ikan yang bertahan (dan biasanya lebih sehat, baik dan enak disantap) tidak mau mengikuti air yang semakin keruh. Ikan itu tetap bertahan dan relatif baik untuk hidup di kolam itu.


Dari air yang keruh, maka ketika kolam mulai dijernihkan, tinggallah ikan-ikan yang memang pantas hidup di kolam.

Strategi ini yang dimainkan Jokowi. Dengan membiarkan dan “terkesan” kedua lembaga ini show untuk menunjukkan kekuatan masing-masing kedua lembaga ini, maka publik mudah menangkap pesan. Siapa saja yang terbukti menjadi pecundang. Dan siapa yang masih pantas bertahan untuk “membenahi” kedua institusi ini.

Menunggu proses “semakin keruh” dan mulai membersihkan kolam yang membuat saya sempat sesak nafas. Namun dengan ending yang dimainkan Jokowi, tidak sia-sia kemudian Jokowi berhasil menjadi Walikota Solo dua periode dan “menaklukan” sang penguasa Jakarta dengan menumbangkan incumbent Fauzi Bowo.

Tapi apabila kita lihat tanda-tanda yang dimainkan Jokowi, kita bisa menarik benang merah bagaimana Jokowi “memainkan” berbagai skenario politik

Masih ingat ketika Jokowi menyelesaikan mafia rusun Marinda. Jokowi dan Ahok menemukan mafia yang melibatkan Lurah Warakas. Lurah Warakas kemudian menyewakan rusun kepada orang lain. Tentu ini menyalahi peraturan. Pemprov DKI kemudian “memutihkan” rusun Lurah Warakas. Lurah Warakas kemudian marah dan menentang kebijakan Jokowi soal lelang jabatan.

Publik kemudian “sempat” terkesima. Bahkan Lurah Warakas ini sempat mendapat dukungan dari berbagai pihak. Namun dengan membongkar “praktek” Lurah Warakas, diapun tidak berkutik.

Begitu juga saat penetapan Wapres. Jokowi datang ke Solo sebelum pengumuman calon Wakil Presiden. Dari suara Walikota Solo yang merupakan Ketua PDIP Solo kemudian menolak Puan Maharani sebagai pendamping Jokowi di Pilpres.

Jokowi juga mendatangi Prabowo sebelum pelantikan Presiden. Jokowi memberikan panggung kepada Prabowo dengan menghormati Prabowo sehingga pelantikan berjalan mulus.

Peristiwa terakhir ketika pertemuan petinggi KIH di Solo dalam rangka menghadiri Munas II Partai Hanura. Dengan jeli, Walikota Solo sebagai tuan rumah menjadikan “tempat” untuk memastikan Jokowi tidak melantik BG.

Berbagai strategi yang dimainkan Jokowi mengingatkan gaya dan cara Jokowi berpolitik sebagaimana telah saya ungkapkan sebelumnya. Dengan menggunakan prinsip “rukun”, maka Jokowi memberikan kesempatan kepada BH untuk menjadi Kapolri dan JB sebagai komisioner KPK. Keduanya relatif bisa diterima di internal sehingga tidak menimbulkan gejolak dan mampu membangun koordinasi yang baik.

Jokowi terus “memerankan” sikap sopan santun kepada partai pendukung dengan tidak langsung “memberhentikan” BG dan memberikan kesempatan kepada BG untuk “mengclearkan” di praperadilan.

Cara Jokowi tidak melantik BG dengan cara mengirimkan pesan baik melalui Tim 9, menghubungi Syafiie Maarif dan Ketua DPR.

Namun Jokowi juga hendak mengirimkan pesan kepada siapapun agar saling menghormati dan “tepa selira”. Jokowi menunjukkan sikap tegas terhadap keputusan yang diambilnya. Jokowi tidak mau ditekan siapapun. Jokowi tidak mengikuti “kehendak” partai pengusung dengan melantik BG. Namun Jokowi tidak meladeni “hak imunitas” kepada AS dan BW.

Dengan menggunakan nilai “kerukunan”, “sopan santun”, “tepa salira”, “tidak grusa grusu” maka gaya dan cara Jokowi berpolitik sering disampaikan dalam dunia pewayangan. “negara ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tenteram tur rajaharja”. Negara yang terkenal, banyak dibicarakan orang, tinggi marbabatnya, luhur budinya dan amat berwibawa.

Sikap ini sudah disampaikan Jokowi ketika status di Facebook Jokowi memuat kalimat Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…” segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar, maka Jokowi ingin menyelesaikan persoalan “kerumitan” tanpa ingin menang sendiri. Jokowi ingin menyelesaikannya tanpa ada yang merasa dikalahkan.

Sekali lagi Jokowi menyelesaikan masalah tanpa “mempermalukan” kedua institusi. Kedua institusi tidak dikalahkan. Namun kredit point yang diraih Jokowi. Jokowi menjadi pemenang. Jokowi menjadi pemenang tanpa ada yang “merasa” dikalahkan.

ndableg
20-02-2015, 03:48 AM
Jangan khawatir. Saya pasti akan turun ke jalan kalau beneran DPR mau memakzulkan gara-gara ini.
Salah satu alasan saya dahulu memilih Joko Widodo adalah karena ia pernah berseteru berkali-kali dengan Bibit Waluyo yang atasannya di partai maupun di struktur pemerintahan.
Jadi ya, saya kemarin-kemarin benar-benar marah ketika beliau diam dan tidak berani melawan DPR.

Sip.. percaya gw.. jangan lupa bawa pedangnya.. ::hihi::
Berhati2 itu belon tentu tidak berani, karena yg hidup dan berperan di indonesia bukan malaikat doang. Kalo sekarang melihat keputusan yang bertentangan dengan kehendak pdip, apa masih dianggap tidak berani?

Casanova Love
20-02-2015, 01:43 PM
Saya jd ingat masa lalu,
Dahulu dg bangga saya coblos partai merah dan akhirnya mreka jd pemenang pemilu utk pertama kalinya.
Stelah menang, tnyata tindak tanduk orang-orang partainya bikin saya eneg.
Akhirnya saya mnyesal pilih mreka.

Kmudian pemilu kmarin saya coblos lagi itu partai merah,
Stelah menang, skrg saya sedang mnuju arah pnyesalan lagi dan jadi ingat nostalgia masa lalu.

Hahahahahaha
Smoga saya ngga salah pilih partainya lg ya.

purba
20-02-2015, 06:18 PM
...
Salah satu alasan saya dahulu memilih Joko Widodo adalah karena ia pernah berseteru berkali-kali dengan Bibit Waluyo yang atasannya di partai maupun di struktur pemerintahan. ...


Ah walikota/bupati dipilih langsung, bukan ditunjuk oleh gubernur, makanya banyak yg berani dg gubernur. Di atasnya Bibit, ada Megawati. Nah itu yg ditakuti Jokowi. ::ngakak2::

Mau bukti takutnya apa? Lha itu penunjukan BG jadi Kapolri. Rakyat sudah bekoar agar hati-hati dg penunjukan BG, tetapi tetap saja Jokowi jalan terus. Sampe pendekar mabok AS dan BW menetapkan BG jadi tersangka, barulah Jokowi tepok jidad.

surjadi05
20-02-2015, 08:14 PM
Mau bukti takutnya apa? Lha itu penunjukan BG jadi Kapolri. Rakyat sudah bekoar agar hati-hati dg penunjukan BG, tetapi tetap saja Jokowi jalan terus. Sampe pendekar mabok AS dan BW menetapkan BG jadi tersangka, barulah Jokowi tepok jidad.
Rakyar mana yah, yg berkoar hati2 dg penunjukan BG? Timbuktu?::hihi:: Kalo rakyat indonesia setahu gw baru berkoar sesudah bg "ditersangkain" oleh kpk,jadi sesudah bg dijadikan calon tunggalpun ga masalah kok rakyat indo, ngomong kok asbun mulu ::facepalm::

tuscany
20-02-2015, 10:23 PM
Don't feed the troll.

*nah kali ini gue nyang ngomong begono ::doh::

surjadi05
20-02-2015, 10:33 PM
Don't feed the troll.

*nah kali ini gue nyang ngomong begono ::doh::

Biar gemukan tusc ::hihi::

et dah
21-02-2015, 04:06 PM
gemukin egonya ,kak

tuscany
23-02-2015, 04:12 AM
Yang kurang disorot gegara konflik cicak buaya adalah kinerja Susi similikiti yang bakal bikin bangkrut perusahaan pengolahan dan ekspor ikan luar negeri semisal Filipina dan Thailand. Emang harga ikan dalam negeri udah turun belum sih? Kalo belum, masih ada yang salah nih, antara klaim bu Susi ndak benar atau ada yang main-main dengan pasokan ikan.

Satu lagi adalah pembatalan UU Sumber Daya Air. Terus pemerintah mau ngapain yah dengan batalnya UU ini. Semoga air langsung minum ndak harus beli galonan bisa jadi kenyataan.

purba
23-02-2015, 01:17 PM
Rakyar mana yah, yg berkoar hati2 dg penunjukan BG? Timbuktu?::hihi:: Kalo rakyat indonesia setahu gw baru berkoar sesudah bg "ditersangkain" oleh kpk,jadi sesudah bg dijadikan calon tunggalpun ga masalah kok rakyat indo, ngomong kok asbun mulu ::facepalm::

Setahu lo? Rakyat Indonesia yg mana setahu lo? ::ngakak2::
Klo gak punya argumen, lebih baik diem... ::hihi::

---------- Post Merged at 12:17 PM ----------


Saya jd ingat masa lalu,
Dahulu dg bangga saya coblos partai merah dan akhirnya mreka jd pemenang pemilu utk pertama kalinya.
Stelah menang, tnyata tindak tanduk orang-orang partainya bikin saya eneg.
Akhirnya saya mnyesal pilih mreka.

Kmudian pemilu kmarin saya coblos lagi itu partai merah,
Stelah menang, skrg saya sedang mnuju arah pnyesalan lagi dan jadi ingat nostalgia masa lalu.

Hahahahahaha
Smoga saya ngga salah pilih partainya lg ya.

Partai nya sih gak salah. Emang udah dari dulu begitu...

Yang parah antek-antek presidennya. Klo presidennya bikin kebijakan yg gak beres, yg salah adalah partainya. Itu kebijakan pesanan partai, bukan maunya presiden. Presidennya tetap malaikat, partainya jadi setan. ::hihi::

kandalf
23-02-2015, 01:56 PM
Rakyar mana yah, yg berkoar hati2 dg penunjukan BG? Timbuktu?::hihi:: Kalo rakyat indonesia setahu gw baru berkoar sesudah bg "ditersangkain" oleh kpk,jadi sesudah bg dijadikan calon tunggalpun ga masalah kok rakyat indo, ngomong kok asbun mulu ::facepalm::

Nggak.
Sudah ada kok yang protes dengan penunjukkan Budi Gunawan sebelum jadi tersangka oleh KPK. Emmerson Yuntho dari ICW misalnya. Nih. Saya bahkan nyebut nama.
Cuma, gerakan anti Budi Gunawan jadi melonjak paska penetapan tersangka oleh KPK.

E-mail dia sebelum penetapan tersangka KPK


Setelah Hoegeng yang legendaris meninggal dunia, hingga kini kita tidak memiliki figur-figur Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang dapat dibanggakan, dipercaya dan dicintai oleh rakyat. Maka tugas Presiden Jokowi lah untuk memunculkan kembali “Hoegeng” baru menjadi Kapolri.

Namun harapan mendapatkan figur "Hoegeng" yang baru nampaknya sirna. Jumat 9 Januari 2015 - dalam suratnya kepada DPR-Jokowi secara resmi memilih Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri. Meskipun proses selanjutnya adalah harus melalui seleksi di DPR, namun seperti kebiasaan sebelumnya calon Kapolri yang diusung oleh Presiden dipastikan akan disetujui oleh parlemen.

Penunjukan Budi Gunawan, mantan ajudan Presiden Megawati Soekarno Putri sebagai calon Kapolri sungguh mengejutkan dan menjadi perdebatan banyak pihak. Hal ini karena Budi Gunawan, sang calon Kapolri yang dipilih Jokowi -berdasarkan Laporan Investigasi Majalah Tempo tahun 2010- diduga memiliki transaksi keuangan yang tidak wajar. Meskipun hal ini dibantah oleh Budi Gunawan.

Muncul pertanyaan mengapa Presiden Jokowi terkesan terburu-buru melakukan proses seleksi calon Kapolri padahal Jenderal Pol. Sutarman baru akan pensiun pada Oktober 2015 mendatang? Selain itu mengapa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tidak dilibatkan dalam memberikan masukan mengenai figur calon Kapolri?

Mengapa harus melibatkan KPK dan PPATK? Kedua lembaga ini telah teruji dan berperan aktif dalam upaya pemberantasan korupsi dan pencucian uang, memiliki data dan informasi mengenai rekam jejak seseorang terkait dengan perkara korupsi maupun transaksi keuangan yang mencurigakan. Lembaga ini juga memiliki citra yang positif dan relatif lebih dipercaya dimata publik. Untuk mengetahui apakah figur calon Kapolri pernah atau tidak melakukan pelanggaran HAM, maka Komnas HAM adalah institusi yang tepat untuk dimintai keterangan.

Meski pemilihan Calon Kapolri adalah hak prerogatif Presiden, namun jika Jokowi salah memilih figur Kapolri, maka kesalahan ini akan berdampak rusaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Tidak saja sesaat namun bisa saja hingga lima tahun kedepan atau selama periode pemerintahan Jokowi. Sangat menyedihkan jika memilih figur calon Kapolri hanya didasarkan faktor kedekatan namun memiliki persoalan secara integritas. Sulit bagi publik untuk percaya kepada institusi penegak hukum seperti Kepolisian jika pimpinan kepolisian yaitu Kapolri punya masalah dengan hukum.

Kami mengingatkan Presiden Jokowi jangan “menutup mata” dalam memilih calon Kapolri.

Pertama, pemilihan Kapolri sebaiknya tidak didasarkan pada politik dagang sapi atau politik balas budi. Penunjukan Kapolri harus didasari pada aspek kepemimpinan (leadership), integritas, rekam jejak, kapasitas, dan komitmen yang kuat dalam mendorong agenda reformasi dan antikorupsi. Sebaiknya Jokowi juga tidak memilih figur Kapolri hanya karena dia dianggap berjasa terhadap dirinya selama masa Pilpres maupun titipan Ketua Umum atau elit partai tertentu.

Kedua, Harus dipastikan bahwa Kapolri yang nantinya dipilih tidak bermasalah atau berpotensi menimbulkan masalah. Hal ini penting agar pemerintahan Jokowi-JK kedepan tidak terganggu atau tercoreng kredibilitasnya dan bahkan tersandera dengan persoalan korupsi, HAM , pencucian uang atau persoalan hukum lain yang dilakukan oleh Kapolri ataupun yang terjadi di internal Kepolisian.

Jokowi sebaiknya juga harus konsisten menjalankan janjinya sebagaimana tercantum dalam Program Nawacita yaitu "Kami akan memilih Jaksa Agung dan Kapolri yang bersih, kompeten, antikorupsi, komit dalam penegakan hukum"

Untuk mendapatkan figur Kapolri yang terbaik maka Kami meminta Presiden Jokowi:

1. Menarik kembali surat yang disampaikan kepada DPR pada 9 Januari 2015 berkaitan dengan proses seleksi calon Kapolri. Penarikan surat ini harus dianggap sebagai bentuk koreksi terhadap langkah Jokowi yang terburu-terburu dalam menetapkan calon tunggal Kapolri.

2. Melibatkan atau mengundang KPK, PPATK dan Komnas HAM untuk memberikan masukan mengenai rekam jejak para calon Kapolri.

3. Membuka diri terhadap masukan dari semua pihak termasuk masyarakat dan media mengenai rekam jejak para calon Kapolri.

Dukung dan sebarkan petisi ini ya agar kita dapat memiliki Kapolri yang bersih dan mampu bekerja sebaik-baiknya.

Salam,
Emerson Yuntho


E-mail dia paska penetapan tersangka




Change.org



Rekan-rekan,
Tidak disangka-sangka setelah petisi ini tersebar langsung mendapatkan dukungan belasan ribu.
Tidak disangka-sangka juga, kemarin dapat berita bahwa KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai tersangka kasus korupsi.
Ini semakin memperkuat alasan mengapa Jokowi harus menarik nama BG sebagai calon Kapolri, dan proses fit & proper tes ditunda. Apakah negara ini patut memiliki Kapolri tersangka korupsi?
Dengar-dengar, pagi ini Jokowi akan ambil keputusan mengenai hal ini. Ayo kita bikin rame rekan-rekan! Dengan tagar #TarikBudi. Yang belasan ribu kita buat puluhan ribu. Kita suarakan terus aspirasi bersihnya instansi polisi.
Tanda-tangani dan sebar terus petisi di bawah ini ya! Saya akan terus update perkembangan dari perjuangan kita bersama.
Salam anti korupsi,

Emerson Yuntho

surjadi05
23-02-2015, 05:56 PM
Setahu lo? Rakyat Indonesia yg mana setahu lo? ::ngakak2::
Klo gak punya argumen, lebih baik diem... ::hihi::

---------- Post Merged at 12:17 PM ----------



Partai nya sih gak salah. Emang udah dari dulu begitu...

Yang parah antek-antek presidennya. Klo presidennya bikin kebijakan yg gak beres, yg salah adalah partainya. Itu kebijakan pesanan partai, bukan maunya presiden. Presidennya tetap malaikat, partainya jadi setan. ::hihi::
Hihihi si tukang asbun sensi, kayak punya argumen aja padahal argumennya kayak kentut, asal bunyi, giliran diminta bukti ga pernah bisa kasih ::hihi::

---------- Post Merged at 04:56 PM ----------


Nggak.
Sudah ada kok yang protes dengan penunjukkan Budi Gunawan sebelum jadi tersangka oleh KPK. Emmerson Yuntho dari ICW misalnya. Nih. Saya bahkan nyebut nama.
Cuma, gerakan anti Budi Gunawan jadi melonjak paska penetapan tersangka oleh KPK.

E-mail dia sebelum penetapan tersangka KPK


E-mail dia paska penetapan tersangka

Err who is emerson yuntho? ::ungg::

mbok jamu
23-02-2015, 06:49 PM
Keadilan yang utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari musuh dan orang yang dibenci.

Serta mengatakan kesalahan sebagai kesalahan dan menolaknya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari sahabat dan orang yang dicintai.

purba
23-02-2015, 07:22 PM
Err who is emerson yuntho? ::ungg::

Halagh..kalo udeh abis argumen, belagak pilon... ::ngakak2::

surjadi05
23-02-2015, 08:21 PM
Halagh..kalo udeh abis argumen, belagak pilon... ::ngakak2::

Kalo ga punya argumen lebih baik diem, elu sendiri yg ngomong loh ::hihi::

---------- Post Merged at 07:21 PM ----------

Dari gugel
BIOGRAFI
Emerson Yuntho adalah Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW). Aktivis ICW ini dikenal tegas dalam menghadapi kasus korupsi di Indonesia. Emerson berupaya untuk menuntaskan kasus korupsi hingga ke akarnya. Menurut dia, ICW memiliki peran untuk mendorong penyelesaian kasus korupsi yang ada bisa terlaksana lebih cepat.

Seperti kasus Hambalang yang menjerat Andi Mallarangeng (AM). Dia menyebutkan Andi bukan tersangka terakhir yang terlibat pada kasus tersebut. Pria berkacamata ini bahkan tidak hanya membiarkan masyarakat menafsirkan nama lain selain AM. Tetapi Emerson secara eksplisit menyebut nama-nama yang amat mungkin akan ditetapkan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sebagai tersangka selanjutnya, setelah AM yang juga masih aktif sebagai salah seorang Anggota Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Pemerintahan Presiden SBY.

Emerson sekaligus menyatakan keheranan kepada KPK yang tidak menjadikan pengumuman penetapan tersangka AM sebagai acara puncak, melainkan pencekalan terhadap tersangka AM.
Dia juga berani mengkritik anggota KPK karena tidak menjadikan pengumuman tersangka AM sebagai acara utama, melainkan pencekalannya. Padahal masyarakat menantikan penetapan tersangka baru kasus Hambalang. Bagi Emerson, seharusnya itu yang diutamakan.

Riset dan analisis oleh Vizcardine Audinovic
PENDIDIKAN
-
KARIR
Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW)
PENGHARGAAN
-



Err serius, emang penting gw mesti kenal orang ini? ::ungg::

Di biografinya sendiri ditulis penghargaan nihil

purba
24-02-2015, 12:06 AM
Dari gugel
BIOGRAFI
Emerson Yuntho adalah Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW). Aktivis ICW ini dikenal tegas dalam menghadapi kasus korupsi di Indonesia. Emerson berupaya untuk menuntaskan kasus korupsi hingga ke akarnya. Menurut dia, ICW memiliki peran untuk mendorong penyelesaian kasus korupsi yang ada bisa terlaksana lebih cepat.

Seperti kasus Hambalang yang menjerat Andi Mallarangeng (AM). Dia menyebutkan Andi bukan tersangka terakhir yang terlibat pada kasus tersebut. Pria berkacamata ini bahkan tidak hanya membiarkan masyarakat menafsirkan nama lain selain AM. Tetapi Emerson secara eksplisit menyebut nama-nama yang amat mungkin akan ditetapkan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sebagai tersangka selanjutnya, setelah AM yang juga masih aktif sebagai salah seorang Anggota Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Pemerintahan Presiden SBY.

Emerson sekaligus menyatakan keheranan kepada KPK yang tidak menjadikan pengumuman penetapan tersangka AM sebagai acara puncak, melainkan pencekalan terhadap tersangka AM.
Dia juga berani mengkritik anggota KPK karena tidak menjadikan pengumuman tersangka AM sebagai acara utama, melainkan pencekalannya. Padahal masyarakat menantikan penetapan tersangka baru kasus Hambalang. Bagi Emerson, seharusnya itu yang diutamakan.

Riset dan analisis oleh Vizcardine Audinovic
PENDIDIKAN
-
KARIR
Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW)
PENGHARGAAN
-



Err serius, emang penting gw mesti kenal orang ini? ::ungg::

Di biografinya sendiri ditulis penghargaan nihil

ICW ini satu elemen masyarakat Indonesia yg mewanti-wanti Jokowi ketika mencalonkan BG menjadi Kapolri. Masih banyak yg lain.

Jangan bilang lu gak suka baca koran atau gak punya internet... ::hihi::

surjadi05
24-02-2015, 12:58 AM
Iya tapi emang penting gitu kenal dia, orang ketua icw aja bukan, jadi ingat dulu quote siapa yah "kritikus itu adalah orang yg ga pande akting" jujur aja gw langganan banyak media cetak, yg gw ingat icw paling ade irawan, danang wijanarko, ga pernah baca sekalipun nama tuh orang atau udah baca mungkin lupa, gw sih ga mau muluk2 mengubah indonesia, gw cuma berubah mengubah diri gw dan keluarga gw dulu,sekarang baru sampe berusaha "mengubah" lingkungan dan batam dulu ::managuetahu::

kandalf
24-02-2015, 11:39 AM
Ya sudah deh.. kalau ICW gak dianggap.

Yunus Husein PPATK juga ribut sebelum Budi Gunawan ditetapkan tersangka oleh KPK.


Ini twit dia tanggal 11 Januari (dua hari sebelum penetapan tersangka)

1. Hak prerogatif Pres utk mengangkat Jaksa Agung dan Kapolri, tetap dlm NAWA CITA Pres berjanji mengangkat pejabat yg berintegritas baik.

2.Utk mengetahui integritas calon pjbt publik Pres dg Governance yg baik dpt meminta info dr masy, KPK, PPATK, Dirjen Pajak, Komnas HAM dll.

3. Pada waktu memilh Jaksa Agung Presiden, sama sekali tidak meminta informasi dr KPK, PPATK, Ditjen Pajak, Komnas HAM dan masyarakat/NGO.

4. Begitu pula pd waktu mengusulkan calon KAPOLRI , Pres sama sekal tidak meminta informasi dr KPK, PPATK, KOMNAS HAM,Ditjen Pajak 7 masy.

5. Calon KAPOLRI skrg, pernah diusulkan menjadi menteri, tetapi pd wkt pengecekan info di PPATK & KPK, ybs mendapat rapor merah/tdk lulus..

6. Mengapa Presiden msh mencalonkan ybs sebagai calon KAPOLRI ? Bukankah hal ini akan mengurangi kepercayaan masy pd Presiden/Pem & POLRI.

7. Percayalah Pemerintahan & institusi POLRI tdk dapat menjalakan tugas dg baik & efektif tanpa dukungan dan kepercayaan masyarakat luas.

8. Seharusnya Presiden mempertimbangkan hal2 tsb, kuat & tdk tunduk pd tekanan politisi & pihak2 yg memiiliki kepentingan pribadi/ golongan



Sekedar catatan,
Pak Yunus sekarang sudah dalam daftar dibidik oleh Kabareskrim dengan nomor laporan TBL/38/I/2015/Bareskrim

surjadi05
24-02-2015, 12:04 PM
kandalf bukan gw ga menganggap icw, post gw kemaren lebih menuju ke post nya purba, yg mengatasnamakan seluruh rakyat indonesia, dan kebetulan post anda menyebutkan nama orang dari icw, maka si purba yg ga bisa kasih bukti,mengganggap bahwa icw mewakili seluruh orang indo ::maap::

Ronggolawe
24-02-2015, 12:17 PM
kekeke...

Setelah Komisioner KPK, sekarang Jajaran PPATK
pun mau dianggap manusia setengah dewa :)

---------- Post Merged at 11:17 AM ----------

Kini Dunia Coba Menggertak Jokowi! (http://luar-negeri.kompasiana.com/2015/02/23/kini-dunia-coba-menggertak-jokowi-708201.html)



Setelah Jokowi dapat mengatasi panasnya gejolak politik dan hukum di Tanah Air dengan brilian. Kini, Dunia coba menggertak Jokowi! Mengapa saya sebut mencoba menggertak? Sebab dunia belum kenal betul sepak terjang Jokowi, meskipun majalah Time sudah pernah menjadikan Jokowi cover majalah, tetapi dunia belum tahu Jokowi yang sebenarnya.

Adalah Brazil dan Australia yang coba menggertak lewat Presiden Dilma Rousseff dan PM Australia Tony Abbott. Presiden Brazil Dilma Rousseff menggertak Jokowi dengan menolak Duta Besar RI untuk Brazil sebagai balasan atas di hukum matinya 2 warga negara Brazil gembong narkoba.

Demikian juga PM Tony Abbot yang mengungkit sumbangan Australia terhadap korban Tsunami yang hampir 1 milyar Dolar Amerika. PM Abbot seakan mengatakan kepada dunia bahwa Australia sudah pernah berbuat baik kepada Indonesia. Tony Abbot tidak sepenuhnya didukung oleh warganya atas pernyataan PM mereka. Pernyataan itu tentu dilandasi oleh sikap emosional seorang pemimpin.

Tony Abbot sadar bahwa sumbangan itu tidak mungkin dikembalikan oleh korban tsunami, tetapi Tony Abbot juga sadar, orang yang sudah dieksekusi mati tidak mungkin hidup kembali.

Jika Presiden Brazil Dilma Roussef dan PM Australia Tony Abbot melakukan kedua tindakan itu, itu tak lain tak bukan, hanya untuk menggertak Jokowi sebagai pendatang baru dalam lingkup pergaulan dunia. Mereka sadar, Jokowi datang dari kalangan bawah, mereka sadar Jokowi lahir dari nonelitis di kancah politik Indonesia. Seperti halnya di kancah politik Tanah Air, Jokowi terus diuji oleh berbagai kalangan politisi, baik dari KIH maupun KMP, kedua koalisi ini dimotori oleh para politisi gaek yang dimiliki Indonesia saat ini. Merekalah selama 3 bulan pertama yang coba menggulirkan “bumble-bumble politics” untuk diselesaikan Jokowi dan ternyata Jokowi menyelesaikan dengan brilian untuk sementara. Saya sebut brilian, oleh karena hasilnya dan dampaknya cukup soft. KIH dan KMP adem, publik dan netizen bergembira ria, Polri dan KPK tidak dipermalukan yang ada mereka saat ini berkoordinasi dengan baik lewat pemimpin baru.

Di perpolitikan dunia juga sama, mereka sedang menunggu apa gerangan peran Jokowi. Di satu bulan pertama Jokowi menjadi presiden, Jokowi lewat event APEC telah membuktikan dia pemimpin idola, cara dan geraknya menyedot perhatian dunia.

Tony Abbot dan Dilma Rousseff sadar betul, tindakan mereka hanya gertak sambal belaka kepada Jokowi, tidak lebih tidak kurang, sebab apa?

Pertama, Jokowi adalah marketing hebat. Jokowi adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap serangan, gertakan, tekanan kepadanya menjadi nilai lebih kepada dirinya. Sering kali dalam setiap tindakannya, Jokowi membiarkan dirinya dihujat, dicaci, tetapi di ending-nya, Jokowi mengambil langkah yang brilian, sehingga semua orang akan kembali memujinya. Demikian juga tentang tindakan Dilma Rouseff yang menolak Duta Besar RI untuk Brazil yang baru dan pernyataan Tony Abbot tentang tsunami, itu adalah bentuk tekanan, gertakan yang pada saatnya nanti Jokowi mengambil tindakan maupun sikap yang mengundang kagum dunia. Dunia tidak akan mengingat tindakan eksekusi mati yang sedang terjadi, tetapi dunia akan melihat sisi positif tindakan tegas dari Pemerintah Indonesia melawan narkoba. Saya yakin Jokowi telah menyiapkan gebrakan akan pemberantasan narkoba.

Kedua, Jokowi bukanlah SBY. Jika Australia gampang menggertak Indonesia di masa pemerintahan SBY, jangan berharap Australia mampu melakukannya di masa Jokowi. Kita sudah melihat buktinya, kapal pencuri ikan diledakkan, Gerbong Narkoba dieksekusi hukuman mati, perbatasan sedang dibangun, itu semua untuk menjaga kedaulatan RI yang mantap dan berdaulat. Menggertak Jokowi akan jadi blunder bagi Dilma Rousseff dan Tony Abbott, sebab pemimpin dunia akan melihat dan merasakan sentuhan Jokowi dalam perannya sebagai pemimpin dunia. Semakin banyak Anda memberikan tekanan kepada Jokowi, itu semakin baik, sebab biasanya Jokowi mampu mengambil keuntungan dari setiap tekanan. Jadi jangan coba menggertak Presiden kami, Jokowi.

Ketiga, Jokowi adalah pemimpin yang tidak mau biasa saja, dia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin level dunia. Satu tahun pertama ini akan digunakan untuk menghimpun kekuatan di dalam negeri, tetapi di tahun kedua dan seterusnya, Jokowi akan mengambil alih kharisma para pemimpin dunia. Feeling saya, Jokowi akan menjadi kiblat pemimpin dunia di masa yang akan datang. Dapat kita lihat, gaya dia berbicara di event APEC, lain dari yang lain. Jokowi akan menjadi contoh pemimpin dunia di masa yang akan datang.

AustRalia dan Brazil sudah memulai mencoba menggertak Jokowi, pemimpin dunia yang lain juga akan melakukannya di masa yang akan datang. Silahkan mencoba menggertak Jokowi, tetapi Anda harus ingat, itu bakal sia-sia, sebab Jokowi dapat membalikkannya menjadi kekuatan bagi dirinya.

Salam kompasiana.

Grand Wisata, 23 Feb 2015

surjadi05
24-02-2015, 01:24 PM
kandalf soal ppatk, bukannya udah di jelaskanjokowi mentri itu dia yg pilih, dia yg melakukan "uji kepatutan", sedang kapolri yg melakukan "uji kepatutan" dilakukan oleh dpr, dan jokowi juga mengatakan ke indonesia, benar dia pilih kapolri berdasarkan kedekatan, emang jokowi harus LEBIH mendengarkan icw dan ppatk daripada koalisinya gitu?
Trus hasilnya bukannya kita dah liat dia lebih mendengarkan rakyat daripada dpr, dengan menggantikan budi ke haiti? Apa lagi? Kalo anda jadi presiden anda memilih kapolri juga berdasarkan "kedekatan" bukan?
Ingat kpk, ppatk,icw bukan lembaga screening indo dan saat itu si budi belum dijadikan tersangka
::ungg::

purba
25-02-2015, 02:36 AM
kandalf bukan gw ga menganggap icw, post gw kemaren lebih menuju ke post nya purba, yg mengatasnamakan seluruh rakyat indonesia, dan kebetulan post anda menyebutkan nama orang dari icw, maka si purba yg ga bisa kasih bukti,mengganggap bahwa icw mewakili seluruh orang indo ::maap::

Jiah... Ini sama dgn "Jokowi dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia". Trus rakyat Indonesia-nya luh terjemahin sbg 250an juta rakyat Indonesia. Jadi si purba salah, soalnya yg ikut pemilu kan bukan 250an juta tsb. Si purba salah ooyyy.... Hadeuhhh.... cekak mennn..... ::ngakak2::

Sekarang pas gw bilang Jokowi diwanti-wanti oleh rakyat Indonesia, artinya Jokowi diwanti-wanti oleh 250an juta rakyat Indonesia, gitu? ::doh:: ::nangis::

surjadi05
25-02-2015, 06:14 AM
Jiah... Ini sama dgn "Jokowi dipilih oleh 50% lebih dikit rakyat Indonesia". Trus rakyat Indonesia-nya luh terjemahin sbg 250an juta rakyat Indonesia. Jadi si purba salah, soalnya yg ikut pemilu kan bukan 250an juta tsb. Si purba salah ooyyy.... Hadeuhhh.... cekak mennn..... ::ngakak2::

Sekarang pas gw bilang Jokowi diwanti-wanti oleh rakyat Indonesia, artinya Jokowi diwanti-wanti oleh 250an juta rakyat Indonesia, gitu? ::doh:: ::nangis::
Jiahh lagi2 alasan beginian, jadi misal ada 2-3 orang di ::KM:: yg mengganggap elu troll asbun yg menyebalkan maka seluruh rakyat indonesia mengganggap elu troll asbun gitu ::doh::::hihi::

Casanova Love
25-02-2015, 01:57 PM
Setahu lo? Rakyat Indonesia yg mana setahu lo? ::ngakak2::
Partai nya sih gak salah. Emang udah dari dulu begitu...

Yang parah antek-antek presidennya. Klo presidennya bikin kebijakan yg gak beres, yg salah adalah partainya. Itu kebijakan pesanan partai, bukan maunya presiden. Presidennya tetap malaikat, partainya jadi setan. ::hihi::

Jokowi itu politisi, Brur.
Sbg politisi, langkahnya patut diberi tepuk tangan.

Coba skrg siapa yg bahas-bahas soal kinerja kabinet?

Namun sih saya masih mending pilih Jokowi drpd saingannya yg satu itu.
Hahahaha.

Soal partai,
Kl itu partai ngambil kdudukan setan dan di-setan-kan oleh pihak bkepentingan,
Maka sukar mlihat adakah Jokowi setan atau malaikat.

Tp teuteup,
Saya belum nyesel pilih presidennya dbandingkan yg satu itu.
Saya cuma mdekati nyesel pilih partainya.

purba
25-02-2015, 07:39 PM
Jokowi itu politisi, Brur.
Sbg politisi, langkahnya patut diberi tepuk tangan.

Coba skrg siapa yg bahas-bahas soal kinerja kabinet?

Namun sih saya masih mending pilih Jokowi drpd saingannya yg satu itu.
Hahahaha.

Soal partai,
Kl itu partai ngambil kdudukan setan dan di-setan-kan oleh pihak bkepentingan,
Maka sukar mlihat adakah Jokowi setan atau malaikat.

Tp teuteup,
Saya belum nyesel pilih presidennya dbandingkan yg satu itu.
Saya cuma mdekati nyesel pilih partainya.

Masalah tepuk tangan, tinggal ente mo lihatnya gimana brur... Jokowi ya Jokowi... Tapi yg paling menarik adalah tingkah polah antek-antek Jokowi. Bagaimana mereka menafsirkan semua sepak terjang Jokowi, itu yg menarik.... ::ngakak2::

Ronggolawe
25-02-2015, 07:44 PM
makanya gw pilpres milih Jokowi, sedangkan pileg
milih PPP dan PKS :)

surjadi05
25-02-2015, 08:00 PM
makanya gw pilpres milih Jokowi, sedangkan pileg
milih PPP dan PKS :)

Hihi om ronggo kesempatan promosi::hihi::

Tapi emang sih, selama si mbok belum pensiun, susah padahal kadernya banyak yg potensial tapi si mbok sangat ketakutan kadernya lebih "bersinar" dari dia apalagi dengan banyaknya penjilat2 disekitarnya ::kesal::

cha_n
25-02-2015, 09:32 PM
Masalah tepuk tangan, tinggal ente mo lihatnya gimana brur... Jokowi ya Jokowi... Tapi yg paling menarik adalah tingkah polah antek-antek Jokowi. Bagaimana mereka menafsirkan semua sepak terjang Jokowi, itu yg menarik.... ::ngakak2::

yah... katanya lo pinter... jelas2 lagi bahas jokowi jk, eh lu malah bahas supporternya. ya pantes kagak nyambung molo

purba
26-02-2015, 12:12 AM
Jiahh lagi2 alasan beginian, jadi misal ada 2-3 orang di ::KM:: yg mengganggap elu troll asbun yg menyebalkan maka seluruh rakyat indonesia mengganggap elu troll asbun gitu ::doh::::hihi::

Lha? Itu bukannya kerjaan lu? ::ngakak2::

Kayaknya bener nih gw musti ngajarin bahasa Indonesia. ::nangis::

Kalo gw bilang "Jokowi dipilih oleh 50% lebih dikit dari seluruh rakyat Indonesia", bolehlah lu bilang gw salah, karena "seluruh rakyat Indonesia" berarti 250an jt tsb. Itu juga klo lu maksain supaya si purba kelihatan salah. Tapi gak gitu-gitu amat. Konteks kalimat tsb jelas, bhw 50% lebih rakyat Indonesia artinya 50% lebih rakyat Indonesia yg ikut pemilu. ::arg!:: ::doh:: :iamdead:

---------- Post Merged at 11:12 PM ----------


Jakarta - Usai putusan praperadilan Komjen Budi Gunawan oleh Hakim Sarpin Rizaldi, para koruptor yang menjadi tersangka pun seolah mendapat angin segar dan akan melakukan hal serupa. Salah satu tersangka korupsi yang mengajukan praperadilan kemudian adalah eks Menteri Agama Suryadharma Ali.

Jika nantinya para koruptor menempuh jalur yang sama, apa pendapat Presiden Joko Widodo (Jokowi)?

"Kalau memang hal itu (mengajukan praperadilan) ada di dalam hukum positif kita, masa saya mau intervensi? Masa saya intervensi masalah hukum?" ujar Jokowi saat dimintai tanggapan di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2015).

http://news.detik.com/read/2015/02/24/131903/2841459/10/sarpin-effect-disambut-positif-para-koruptor-ini-reaksi-jokowi

Licin...licin... ::ngakak2::

Begitulah presiden pilihan 50% lebih dikit rakyat Indonesia. ::doh:: ::nangis:: ::hihi::

Hidup malaikat!! ::ngakak2::