Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 29

Thread: What are we missing..?

  1. #1
    Barista kupo's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Jog Ja karta
    Posts
    3,850

    What are we missing..?

    dapat dari FB, menarik buat di renungkan...




    Spoiler for video:


    "A man sat at a metro station in Washington DC and started to play the violin; it was a cold January morning. He played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time, since it was rush hour, it was calculated that 1,100 people went through the station, most of them on their way to work.

    Three minutes went by, and a middle aged man noticed there was musician playing. He slowed his pace, and stopped for a few seconds, and then hurried up to meet his schedule.

    A minute later, the violinist received his first dollar tip: a woman threw the money in the till and without stopping, and continued to walk.

    A few minutes later, someone leaned against the wall to listen to him, but the man looked at his watch and started to walk again. Clearly he was late for work.

    The one who paid the most attention was a 3 year old boy. His mother tagged him along, hurried, but the kid stopped to look at the violinist. Finally, the mother pushed hard, and the child continued to walk, turning his head all the time. This action was repeated by several other children. All the parents, without exception, forced them to move on.

    In the 45 minutes the musician played, only 6 people stopped and stayed for a while. About 20 gave him money, but continued to walk their normal pace. He collected $32. When he finished playing and silence took over, no one noticed it. No one applauded, nor was there any recognition.

    No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the most talented musicians in the world. He had just played one of the most intricate pieces ever written, on a violin worth $3.5 million dollars.

    Two days before his playing in the subway, Joshua Bell sold out at a theater in Boston where the seats averaged $100.

    This is a real story. Joshua Bell playing incognito in the metro station was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste, and priorities of people. The outlines were: in a commonplace environment at an inappropriate hour: Do we perceive beauty? Do we stop to appreciate it? Do we recognize the talent in an unexpected context?

    One of the possible conclusions from this experience could be:

    If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world playing the best music ever written, how many other things are we missing?"

  2. #2
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    diluar negri klo jam kerja semua orang kyk robot,
    saking patuhnya/tanggung jawab atas pekerjaan mereka
    kadang mereka kurang menyadari sekeliling..

    dari hari senin s/d jum'at kadang sabtu mereka serius kerja
    dalam perjalanan dari rumah, ke stasiun kereta, dari stasiun
    ke kantor begitupun sebaliknya, kadang tidak memperhatikan
    sekelilingnya..

    begitu dia mendapat libur dia jalan2 ke sekitar rumahnya
    dan ter heran2 karena di dekat rumahnya sudah berdiri sebuah
    bangunan mall yg besar



    ini satu contoh kesibukan di jam kerja di shibuya, tokyo..

  3. #3
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    atau bisa juga orang yang berani bayar 100$ ga ada di subway itu jadi ga ngikutin lagu2 "mahal"
    bisa juga yang ke konser cuma cari prestise. bisa juga ini masalah selera.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  4. #4
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    semua orang pasti gak bakal sampai kepikiran, ada org terkenal main di stasiun

  5. #5
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681

    i remember this dulu pertama kali baca bbrp taon yang lalu dari washington post (news media yang melakukan eksperimen ini), dan saya inget banget karena artikel ini cukup bagus dan sangat menarik topiknya. dan respon2 orang yang melewati / menonton pengamen ini juga sangat menarik dan lucu. denger2 artikel ini kemudian sempat menang award.

    kupikir studi ini mencoba melihat human behavior, dan mencoba menjawab (ato bertanya) secara filosofis apa yang menyebabkan ato mendefinisikan good music / musician. apakah yang berperan itu nama, ato simply good old music? i think it was a very good social experiment, and a very humbling one too for the musician. dia yang terbiasa ditepuk tangan-in di concert halls, menjadi nobody di stasiun kereta gini dan kuinget ternyata ada kok yang akhirnya mengenal identitas asli pengamen ini.


    having said that, saya belakangan juga menyadari semakin menjadi manusia yang jaded (jenuh, tidak memperhatikan sekeliling lagi). di saat rush hour, situasi rame2, semua buru2, sibuk sendiri, pokoknya setiap orang mempunyai misi sendiri tanpa melihat kiri kanan lagi. i'm starting to turn into that person, maybe i already am. padahal saya dulu sangat suka nonton pengamen. sebenarnya skarang juga masih, cuman biasa ya itu, buru2 dikejar waktu, jadi ga stop2 lagi tapi kalo ada waktu, dan pengamennya bagus, saya suka kok brenti dan nonton. dan saya pernah melakukan itu, berdiri di spot yang sama dan nonton pengamen beraksi di stasiun kereta, for a straight 2 long hours kalo pas di luar stasiun misalnya di taman2 yang ada tempat duduknya, malah bisa lebih lama lagi sampe bbrp jam kadang malah sengaja ke taman sengaja ingin melihat street musicians nge-jam bersama secara impromptu. it was priceless

    i kinda missed that actually
    Last edited by ndugu; 03-05-2013 at 10:02 PM.

  6. #6
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    lagian dia pas di jam orang masuk kantor gitu,

    kita kalau ke stasiun biasanya jamnya tuh udah dipasin ama jadwal kereta, jadi ga mau ketinggalan, pasti buru2.
    aku biasa nunggu di peron 5-10 menit saja untuk menunggu kereta.
    waktu segitu ga kerasa, kadang dari tempat tiket, ngantri sampai masuk ke kereta bisa 5-10 menit, jadi ga lihat kiri kanan lagi dari pada ketinggalan.

    mungkin akan ga sadar juga kalau ada yang main musik. milih cepet sampe di tujuan aja deh.

    kecuali dia main violin di taman, yang emang orang datang ke sana buat refreshing, aku rasa beda lagi kejadiannya
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  7. #7
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    gara2 thread ini, saya jadi cari kembali loh artikel aslinya baca2 kembali secara sekilas

    kebanyakan orang memang buru2 dan ga brenti. tapi ada juga yang brenti dan menyadari ini musik bagus, and they stayed as long as possible sebelum terpaksa pergi karena ngejar janji ato kereta. katanya ada satu orang yang brenti dan mendengar selama 9 menit - dia kebetulan pernah belajar biola dan menyadari pemusik ini mempunyai teknik yang bagus. ada juga tukang semir sepatu di sekitar situ yang biasa kalo pengamen terlalu keras bunyinya pasti dilaporin ke polisi. tapi tukang semir sepatu ini tidak memanggil polisi (for the first time) saat itu biarpun pengamen ini brisik, katanya something about him and his music yang membuatnya tidak telpon polisi ada orang2 laen yang diinterview yang lalu dikasi tau mengenai siapa pengamen ini, jadi ada yang nyesel juga udah cuekin, apalagi waktu dikasi tau kalo mo nonton dia biasanya harus bayar ratusan dolar lucu juga

  8. #8
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Beautiful, kupo. Thanks for sharing.

    Jadi ingat ajaran ayah saya dulu. Beliau cerita, ada seorang pemuda yang ketika jalan di hutan mendadak dikejar oleh seekor harimau, yang setelah lari sekian jauh, dia buru-buru manjat ke sebuah pohon. Dasar nasib sial, baru manjat setengah jalan, ternyata di atas pohon berdiam seekor ular raksasa. Jadilah dia terjepit, di bawah ada seekor harimau yang mencakar-cakar, di atas ada seekor ular yang pelan-pelan merayap turun.

    Ketika keadaan kritis seperti itu, si pemuda menemukan buah menggantung di dekatnya. Melihat warna buah yang ranum dan mengeluarkan wangi itu, si pemuda memetik beberapa dan memakannya. Ternyata rasanya memang sangat lezat. Si pemuda-pun duduk santai di dahan menikmati buah tadi.

    Moral of the story?
    Sebenarnya pelajaran ini diberikan dalam konteks beladiri. Menurut ayah, kita baru bisa bertarung dengan baik kalau selalu bisa bersikap tenang dalam keadaan paling terancam sekalipun. Tapi ternyata pelajaran ini meluber ke sisi kehidupan saya yang lain. Teman-teman saya paling jengkel kalau saya mendadak berhenti karena mau mendengar pengamen nyanyi, atau melihat awan, mencium bau tanah basah habis hujan, dan hal-hal remeh lainnya. Tapi entah kenapa, mereka memang menarik hati saya. Apalagi setelah istri hobi fotografi, saya jadi ikut-ikutan melihat hal-hal biasa dari sudut pandang seorang fotografer, selalu ada komposisi menarik yang bisa dibuat, dan cerita yang bisa dikisahkan.

    Moga-moga bisa bertahan terus.

    ---------- Post Merged at 10:21 PM ----------

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    gara2 thread ini, saya jadi cari kembali loh artikel aslinya baca2 kembali secara sekilas
    Minta link-nya dong, Nggu...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  9. #9
    pelanggan setia Bi4rain's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Location
    Neverland
    Posts
    2,539
    wah....senang membaca hal cerita filosofis begini, seperti halnya belajar mandarin dengan membaca beberapa kisah bijak di dalamnya dan memetik pelajaran darinya.
    A kid at heart

  10. #10
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Teman-teman saya paling jengkel kalau saya mendadak berhenti karena mau mendengar pengamen nyanyi, atau melihat awan, mencium bau tanah basah habis hujan, dan hal-hal remeh lainnya. Tapi entah kenapa, mereka memang menarik hati saya. Apalagi setelah istri hobi fotografi, saya jadi ikut-ikutan melihat hal-hal biasa dari sudut pandang seorang fotografer, selalu ada komposisi menarik yang bisa dibuat, dan cerita yang bisa dikisahkan.

    saya ada kecenderungan begitu juga dan pernah dikomentarin temen juga
    kalo lagi jalan2, kadang suka stop tiba2 dan memperhatikan hal2 remeh yang kadang kita lewati. kebetulan selain musik (pengamen), saya juga tertarik dengan bangunan/arsitektur (not that i know much about it), ato apa yang menurutku rada artistic (seperti murals ato grafiti yang ada di tembok2 jalanan), or anything i thought interesting (misalnya bagaimana penjual kaki lima set up standnya) jadi kadang2 saya bisa tiba2 brenti di tengah jalan, ngeliat2 ato ketuk2 struktur bangunan ato meraba2 merasakan tekstur sebuah daun ato ngeliat ini itu well, anything really. mahkluk bernama manusia sendiri saja pun sudah menjadi objek studi yang cukup menarik.

    i guess musuh utama skarang ya itu, harus mencoba tidak mengikut arus menjadi manusia jaded. saya sendiri merasa lama kelamaan sepertinya im turning into one, and it's easy to forget to stop and smell the roses terutama saat lagi hidup di kota metropolis yang serba terburu2 dan penuh dengan manusia2 jaded laennya

    Minta link-nya dong, Nggu...
    here you go, sir

    http://www.washingtonpost.com/wp-dyn...040401721.html


    ternyata artikel ini sempat menang pulitzer prize

    http://www.joshuabell.com/news/pulit...n-post-feature

  11. #11
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Bagus artikelnya. Aku juga suka lewat aja kalo ada pengamen2 di jalan, meskipun mereka bagus dan main sepenuh hati bukan kayak yg dalam bis pake krencengan gitu. Abis rasanya aneh aja, brenti terus merhatiin orang is not my style. Kecuali kalo sudah ada beberapa orang lain emang liat baru ikutan tertarik.

    Persepsi beauty orang kan beda2 ya apalagi musik yang bisa sangat subjektif tergantung background, gimana cara peneliti di eksperimen itu taking into account?

    If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world playing the best music ever written, how many other things are we missing?"
    Bagi beberapa orang, beauty bukan prioritas. Jadi mereka tidak mengalami missing jenis ini, imho.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  12. #12
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    kurasa point artikel di post pertama TS agak berbeda dengan artikel asli yang di washington post.

    yang di TS itu lebih ke mempertanyakan apa yang ter-missed oleh orang2 yang tidak berhenti dan memperhatikan sekeliling. and i think in this case, it could be something else, ngga harus mengenai musik. ini lebih sesuai dengan saran stop and smell the roses

    sedangkan artikel yang di wash post itu lebih ke mempertanyakan bagaimana kita mengapresiasi musik, or art in general ya. persepsi setiap manusia terhadap beauty and taste pasti berbeda2. soalnya saya kadang juga bertanya2, sebenarnya yang membuat seorang musisi ato seniman berharga itu namanya ato memang karyanya? apalagi kalo memfaktorkan keunikan persepsi beauty and taste setiap manusia itu. peminat musik rock mungkin rela mengeluarkan duit 100 dolar untuk menghadiri konser rock, but would he if he were to go to a classical concert? and vice versa?

    saya sih merasa eksperimen ini mengambil subjek yang pas ya this guy was at one point a child prodigy and supposed to be a very well known musician in classical world, bahkan instrumen yang dipakainya sangat berharga dan bersejarah pula (from the 1700s) dan dikenal akan kebeningan kualitas suaranya. konser2nya sold out di concert halls. bagaimana kalo seandainya dia dilempar ke tempat yang tidak keren seperti di stasiun, trus dilepaskan atribut2nya dan tampil sebagai pengamen biasa, apakah apresiasi manusia masih akan sama? dan saya merasa subjek ini pas karena kupikir dunia musik klasik itu sangat niche dan tidak semua orang mendengarkan musik klasik. jadi si joshua bell ini bisa menyamar dan tidak dikenali oleh banyak orang. kalo pun ada kenel namanya ato musiknya, belum tentu kenel tampangnya. laen dengan seandainya kita taro lady gaga ato madona yang mukanya uda pernah tercetak dan muncul di berbagai media dan dikenal sama banyak orang. dan laen cerita kalo misalnya dia memainkan popular tunes ato atraksi dengan twist laen yang bisa menarik perhatian penonton. what happened?

    toh hasilnya katanya kan cuman dapet 30+ dolar kan. bahkan menurut artikel, sumbangan 20 dolarnya (yang dari 30+ dolar itu) adalah sumbangan dari seorang wanita yang sudah mengenali identitasnya. so in a way, separo sumbangannya sudah ternodai oleh identitasnya.

  13. #13
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Kalo soal stop and smell the roses, sepertinya memang gitu kecenderungan akhir2 ini. After all, menikmati hidup jadi skill yang langka di zaman sekarang. Kok jadi teringat lagunya Jessie J yg soal duit2 itu ya?
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  14. #14
    Pikiran pertama yang terlintas setelah selesai membaca artikelnya adalah:

    "ah iya kita ini memang korban marketing"

    Maksudku marketinglah yg membuat orang2 membeli tiket $100,
    bukan karena musiknya.

    ---------- Post Merged at 08:08 AM ----------

    Ah, baru baca komen Ndugu, bisa jadi marketing diganti menjadi nama besar.

  15. #15
    pelanggan setia ul.malik's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    C.G.H City
    Posts
    2,594
    inilah alasan kenapa saya suka jalan kaki.
    kalo kita naik kendaraan terkadang banyak hal" kecil yg sebenernya cukup indah untuk dinikmati sesaat terlewat karena kecepatan kendaraan yang tinggi.
    dan emang dasarnya juga demen observasi
    just stop and look around.

    ah saya merindukan pengamen yang menyanyikan lagu jazz di atas bus itu.
    udah sengaja ngepasin jadwal bus juga ga ketemu lagi

  16. #16
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    here you go, sir
    thanks clicked

    Quote Originally Posted by ndugu View Post

    saya ada kecenderungan begitu juga

    saya juga tertarik dengan bangunan/arsitektur (not that i know much about it)...
    you beat me to it...

    Saya pernah lama berhenti di kuburan belanda dan cina karena merasakan semacam "sejarah" tercatat di sana, sedangkan teman-teman malah berusaha menjauh.
    Istri saya paling betah di pasar becek, melihat orang bertransaksi, barang-barang yang dijual, kostum yang dikenakan... pokoknya banyak banget...

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    :i guess musuh utama skarang ya itu, harus mencoba tidak mengikut arus menjadi manusia jaded. saya sendiri merasa lama kelamaan sepertinya im turning into one, and it's easy to forget to stop and smell the roses terutama saat lagi hidup di kota metropolis yang serba terburu2 dan penuh dengan manusia2 jaded laennya
    Guilty as charged

    Untungnya dari awal semua manusia yang kenal saya sudah tau kalau saya adalah freak sejati, jadi saya tidak perlu menjelaskan apapun lagi ke mereka. Mereka maklum kalau saya memang sering kumat trance-nya dan sibuk dengan hal-hal gaib. Saya pernah nelpon bilang akan terlambat meeting semata-mata karena di jalan ketemu sama kupu-kupu sedang kawin...

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Pikiran pertama yang terlintas setelah selesai membaca artikelnya adalah:

    "ah iya kita ini memang korban marketing"

    Maksudku marketinglah yg membuat orang2 membeli tiket $100,
    bukan karena musiknya.

    ---------- Post Merged at 08:08 AM ----------

    Ah, baru baca komen Ndugu, bisa jadi marketing diganti menjadi nama besar.
    There is marketing and there is also value. Dalam persepsi saya, marketing berfungsi untuk membujuk orang agar mengonsumsi sesuatu, tapi sesungguhnya value dari sesuatu itulah yang dikonsumsi oleh orang.

    Marketing sendiri dimulai dari menentukan nilai guna/value dari produk, memilih sasaran pasar, yaitu orang yang hidupnya akan lebih menyenangkan bila menikmati value itu, lalu mengomunikasikan value itu ke mereka. Jadi bila seseorang merasa membayar $100 untuk menyaksikan Bach dimainkan oleh seorang profesional yang telah berlatih delapan jam sehari selama dua puluh tahun terakhir, itu bukan salah marketing, tapi bertemunya dua orang dengan kecintaan yang sama. Marketing hanya berperan sebagai mak comblang.

    Harus diakui sih, ada orang jualan yang tidak segan menggunakan trik ini itu untuk membujuk orang membeli barang yang tidak dia butuhkan, tapi itu the dark side of the force (kenapa saya jadi ingat MLM ya? ) ...

    ***

    Isu yang perlu diperhatikan adalah ketika orang tidak paham bahwa mereka membutuhkan value tersebut. Dalam kasus percobaan ini, banyak orang yang tidak paham bahwa mereka membutuhkan keindahan dalam hidup mereka. Ada 1.100 orang yang melintas ketika Bach dimainkan... hanya beberapa yang berhenti sejenak...

    Tidak harus memahami Bach... we know good music when we hear one... buktinya si tukang bersih-bersih yang biasanya lapor keamanan setiap ada pengamen berisik, kali itu tidak protes dan ikut menikmati (as conveyed in the article).
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  17. #17
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    g mungkin kalo denger musik bagus gitu bisa terlena dan terhanyut ngedengerinnya

    eh tapi dalam keseharian sih....biasanya nyangkut ke hal2 lain...
    apapun yg berkaitan dengan seni, keindahan dan hal2 yg bikin g takjub...bisa g amati berjam2
    ini cara g menghabiskan waktu luang...yg seringnya diliat orang2 jadi kaya bengong atau melamun
    Popo Nest

  18. #18
    Barista kupo's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Jog Ja karta
    Posts
    3,850
    baca artikel diatas jadi sedih... betapa saya jadi tidak peduli terhadap apa yg terjadi disekitar saya ....

    tiap hari main internet.. buka forum KM... lupa sama yg ada di dekat saya...

  19. #19
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Kalau sekali -sekali ke KM, boleh lah. Bersosialisasi, tukar pendapat, tukar info. Jangan nongkrong di 48 Family, ndak guna.

  20. #20
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    di trotoar senayan, atau depan ratu plaza kadang juga suka ada orang2 yg main musik. Kadang ada yg main biola dan gw bisa liat dia emang profesional.
    Dan gak usah orang2 di luar negri, di indonesia pun orang-orangnya udah pada sibuk banget, gak memperhatikan si pemain biola, atau penyanyi itu.
    gw sih seneng aja memperhatikan, kadang iseng nonton ampe 10 menit.. enak liatin org yg sibuk dengan hobynya sendiri

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •