kalo masalah umur sih tergantung persediaan di bawah. ada yg langsung dibor langsung tutup karena gak ada isinya--seperti proyek exxon itu yg ampe general manager utk endonesanya digetok superboss di amrik--ada yg puluhan tahun warisan belanda. sumur2 lapangan tua pertamina ada yg masih bertahan dr tahun 40an, cuman 99.99% isinya udah air semua tapi masih tetap dipaksa diproduksikan karena minyak mahal (dr seember cairan yg keluar, cuma sesendok minyaknya, itupun dg pengolahan yg ribet, biaya produksi makin mahal, beban subsidi makin berat. Lapangan Minas yg dibanggakan endoensa yg dikelola Chevron sekarang, produksi udah 95-99.99% air, air yg keluar dipompakan kembali ke dalam tanah). Dari sumur2 yg udah ada saja, secara ekonomis tetap dipaksakan berproduksi sehingga menambah beban biaya produksi.
alternatif lainnya, cari lapangan baru. tentu saja utk nyari lapangan baru bukan perkara gampang. hampir semua potensi endonesa udah terpetakan dan diambil, yg masih berprospek itu daerah2 laut dalam. cuman resiko biayanya terlalu besar buat perusahaan endonesa, apoalagi setelah kegagalan exxon itu, perusahaan lain makin tambah parno eksplorasi di laut dalam (perusahaan total langsung nge-pending proyek laut dalam mereka). utk cari lapangan baru, harus maen gali secara "trial & error" (gak murni coba2 sih, ada studi rumitnya). kalo dapet yah syukur. kalo nggak, yah nombok. dan biaya "gagal" ini tetep dimasukan ke biaya produksi perusahaan. makanya ditambah harga minyak impor yg makin mahal, harga produksi pun makin tinggi. beban subsidi makin berat, sementara kebutuhan2 primer buat pembangunan (pendidikan+kesehatan) makin terus menghimpit.
dan bayangkan jika semua itu ditambah faktor korupsi. sama sekali gak ada harapan buat endonesa![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

--ada yg puluhan tahun warisan belanda. sumur2 lapangan tua pertamina ada yg masih bertahan dr tahun 40an, cuman 99.99% isinya udah air semua tapi masih tetap dipaksa diproduksikan karena minyak mahal (dr seember cairan yg keluar, cuma sesendok minyaknya, itupun dg pengolahan yg ribet, biaya produksi makin mahal, beban subsidi makin berat. Lapangan Minas yg dibanggakan endoensa yg dikelola Chevron sekarang, produksi udah 95-99.99% air, air yg keluar dipompakan kembali ke dalam tanah). Dari sumur2 yg udah ada saja, secara ekonomis tetap dipaksakan berproduksi sehingga menambah beban biaya produksi.
Reply With Quote






