Page 2 of 4 FirstFirst 1234 LastLast
Results 21 to 40 of 67

Thread: Sidik Jari

  1. #21
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694


    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kecerdasan anak bisa dibentuk dengan memberikan stimulus yang tepat sasaran bersumber pada pengenalan bakat dan gaya belajar. Pertanyaannya, sejauh mana orang tua mengenal bakat dan gaya belajar si kecil?

    Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dwi Putro Widodo mengatakan stimulus diperlukan si kecil guna menghadirkan pertumbuhan dan perkembangan jaringan otaknya.

    “Pada usia dua tahun, anak memiliki dua proses penting. Pertama, pertumbuhan sel otak dan kedua, pendewasaan sel otak,” tukasnya saat berbicara dalam acara Analis Sidik Jari Cerdas Frisian Flag di Jakarta, Kamis (26/5).

    Dwi menyebut dalam dua tahun itum komposisi otak anak meningkat secara drastis. Paska kelahiran, volume otak si kecil mencapai 200 gram dan naik pesat menjadi 1000 gram pada usia dua tahun. Sementara, volume otak pada usia remaja hingga dewasa mencapai 1200 gram.

    Peningkatan volume otak ini merupakan fase dimana otak butuh stimulus untuk mendapatkan optimalisasi kemampuan kinerja otak si kecil. Dwi menuturkan, apabila momen pertambahan volume otak tidak diberikan stimulus memadai maka perkembangan kinerja sel saraf dan sinanpsi (jaringan penghubung saraf) tidaklah berfungsi maksimal.

    Penurunan daya ingat ini, kata Dwi, akan berdampak pada kemampuan anak untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman. Akibatnya anak bakal mengelami kesulitan untuk berkembang .”Anak yang makin sering distimulus jaringan sinapsisnya akan kuat dan bertahan lama. Semakin cerdas anak maka makin kuat kemampuan mengingatnya,” tukasnya.

    Ia menambahkan, proses belajar berdasarkan pengulangan dapat terbentuk memori jangka pendek maupun jangka panjang. Setiap perkembangan dipengaruhi oleh tahap perkembangan sebelumnya dan mempengaruhi tahap perkembangan berikutnya.

    Orangtua disarankan, memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar dengan menyediakan rangsangan motorik pada usia satu tahun pertama. “Otak adalah ciptaan tuhan dan kecerdasan ciptaan kita sendiri melalui pemberian stimulasi nutrisi dan non nutrisi,” pungkasnya.

    Metode Pengukuran

    Sejatinya pengenalan bakat dan minat anak telah dikenal dalam dunia psikologi. Salah satunya melalui tes penelusuran minat dan bakat atau yang dikenal dengan nama psikotes. Kini, psikotes bukanlah satu-satunya metode yang digunakan untuk menelusuri minat dan bakat anak. Metode lain itu adalah metode sidik jari atau finger prints analysis.

    Metode sidik jari adalah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak. Analisa sidik jari didasari penelitian dan metode yang ilmiah yang bersifat analisis deskriptif atau perkiraan potensi bakat yang dimiliki seseorang dan pengembangannya di masa depan.

    Pakar bidang ilmu dermatologi dan neuroanatomi telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan berusia 13-24 minggu.

    Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari ternyata diketahui memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Kerena itu, para pakar berasumsi adanya bukti ilmiah yang menunjukan keterkaitan antara sidik jari dengan kualitas, bakat dan gaya seseorang.

    “Penggunaan metode sidik jari dimaksudkan untuk membantu para orangtua lebih mudah dalam memahami potensi tersebut. Dengan mengenali bakat anak lebih dini, orangtua lebih mudah dalam memberikan stimulus dan pengarahan yang tepat," kata pakar psikologi, Efnie Indrianie.

    Ia menjelaskan, saat ini banyak orangtua dan guru yang kesulitan berinteraksi dengan anak sehingga meminta anak untuk belajar bukanlah hal yang mudah. Tak jarang pula orangtua memaksakan anaknya mengikuti kegiatan les yang tidak diminati anak.

    "Dengan memahami potensi bakat anak, orangtua dapat mengetahui cara terbaik yang dapat dilakukan anak dalam belajar. Selain itu, bakat anak yang menonjol juga dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya, serta dalam waktu yang lebih efisien," papar Efnie.

    Selain metode analisis sidik jari, ada beberapa metode lain untuk mengukur kepribadian seseorang, yakni metode psikometri yang mengukur kondisi psikologis seseorang dari aspek perilaku yang dimunculkan. Misalnya, tes IQ, tes bakat minat, tes kepribadian, grafologi, dan tes gambar

    sumber

    sumber lain..

    Last edited by ancuur; 22-05-2011 at 10:35 PM.

  2. #22
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari ternyata diketahui memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak.
    Ini dia kalimat yg sulit dipertanggung jawabkan, Dr Sarlito dan banyak Psikolog sudah mencari data penelitian hal ini tapi tidak menemukannya.

  3. #23
    Barista deddy's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Mahakam
    Posts
    2,250
    Ia menjelaskan, saat ini banyak orangtua dan guru yang kesulitan berinteraksi dengan anak sehingga meminta anak untuk belajar bukanlah hal yang mudah. Tak jarang pula orangtua memaksakan anaknya mengikuti kegiatan les yang tidak diminati anak.
    iya saat ini kan banyak orang pinter, termasuk yang membuat ramalan melalui sidik jadi ini ....

    aku rasa orang tua lebih tahu karekter anaknya dr pd melalui ramalan ini.....
    GARUDA DI DADAKU

  4. #24
    pelanggan putu_138's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    Warung Kupi
    Posts
    68
    ini sidik jari kan yg lagi gembar gembor di promosiin ama salah satu susu anak kan
    I am the love that dare not speak its name

  5. #25
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Ya wajar saja, Chan, soalnya
    • variabel yang diuji cuma dua dengan dua kemungkinan hasil, jadi ada 25% kemungkinan bener
    • persepsi, ibu-ibu melihat apa yang ingin mereka lihat pada anaknya


    Hasil tes si kakak saya rasa cocok di variabel 'intuitif', tapi saya agak ragu soal 'ekstrovert'... bisa jadi saya memroyeksikan keinginan saya sendiri pada si kakak, secara bapaknya introvert
    Nah coba baca artikel di atas, gimana ga mau percaya, artikelnya bilang tes sidik jari itu benar, bagus, ilmiyah, diklaim "pakar psikologi" yang ngomong

    termasuk pembohongan publik ga sih nih??
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  6. #26
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    dulu pas main2 ke taman pintar jogja pernah ditawarin buat test sidik jari si kakak, cuman saya males karena musti balik lagi ke jogja buat ngambil dan harganya mending buat beli beras berkarung2 dan protein hewani si kakak, jelas buat menstimulasi perkembangan otak

    Kemudian saya berdiskusi sama guru PG naomi tentang psikotest dan test sidik jari ini. Memang psikotest juga tidak bisa jadi andalan 100%, tapi setidaknya jadi acuan. Gimana dengan test sidik jari? gurunya tidak merekomendasikan karena setiap anak, meski dengan guratan yang sama punya karakter berbeda2 tergantung dari stimulasi dan asupan nutrisi yang diterima.

    Jadi saya pun mengabaikan test sidik jari ini, setelah diangkat di sini (isunya udah lama banget, Naomi masih PG, setaun yang lalu). Sekolah Naomi lebih suka pake jasa psikotest yayasan Grahita Indonesia (weits promosi). Menurut mereka, sampai usia 6 tahun anak mengalami perubahan IQ maupun EQ dan minat bakat yang kadang kala naik drastis atau mundur drastis. Jadi test minat bakat pun bisa dilakukan maksimal setahun sekali untuk mengechek saja, karena yang tahu anak adalah ortu dan guru sendiri. Mengenai perubahan drastis itu Naomi mengalami sendiri...dari IQ standart normal taun yang lalu, tahun sekarang menjadi superior...jadi kemungkinan taun depan kembali ke normal atau jenius bisa saja terjadi, tergantung stimulasi dan asupan gizi serta faktor genetis. Dan btw, IQ itu cuma menyumbang 10% dari keberhasilan si anak dalam pendidikannya. Yang dominan justru pola belajar dan stimulasi loh...jadi apa gunanya test sidik jari yang katanya cukup dilaksanakan sekali seumur hidup?

  7. #27
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    Nah coba baca artikel di atas, gimana ga mau percaya, artikelnya bilang tes sidik jari itu benar, bagus, ilmiyah, diklaim "pakar psikologi" yang ngomong
    termasuk pembohongan publik ga sih nih??
    Termasuk hoax publik mungkin perlu masuk acara mythbuster

    Saya sendiri sih kalo lagi pas ngobrol sama para ibu-ibu, ngomongnya selalo gini, "lah, memangnya siapa yang lebih paham soal anak kita? Siapa yang menghabiskan waktu delapan belas jam sehari sama mereka (yang empat jam sisanya kita ketiduran)? siapa yang diceritain mereka soal cita-cita dan ketakutan mereka?"

    Masak mau lebih percaya sama tes macem-macem ketimbang pengamatan kita sendiri bertaon-taon?

    Quote Originally Posted by BundaNa
    Mengenai perubahan drastis itu Naomi mengalami sendiri...dari IQ standart normal taun yang lalu, tahun sekarang menjadi superior...jadi kemungkinan taun depan kembali ke normal atau jenius bisa saja terjadi, tergantung stimulasi dan asupan gizi serta faktor genetis.
    Lebih dari itu saja Bunda, alat ukur psikologi juga memiliki nilai reliabilitas yang bervariasi, makanya biasanya digabung satu sama lain untuk membuahkan hasil yang bisa dipercaya. Jadi selain faktor subyek testee-nya, ada faktor-faktor lain yang bersifat teknis yang mempengaruhi hasil tes, misalnya metode scoring dan interpretation si psikolognya, kondisi testee pas lagi melaksanakan tes, dan macem-macem. Jadi tetap saja hasil tes itu sebagai pendamping dari pengamatan kita sendiri, jangan mau terperangkap oleh berhala yang disebut psikotest.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  8. #28
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Termasuk hoax publik mungkin perlu masuk acara mythbuster

    Saya sendiri sih kalo lagi pas ngobrol sama para ibu-ibu, ngomongnya selalo gini, "lah, memangnya siapa yang lebih paham soal anak kita? Siapa yang menghabiskan waktu delapan belas jam sehari sama mereka (yang empat jam sisanya kita ketiduran)? siapa yang diceritain mereka soal cita-cita dan ketakutan mereka?"

    Masak mau lebih percaya sama tes macem-macem ketimbang pengamatan kita sendiri bertaon-taon?
    beberapa emak ngomong macam ituh, cukup percaya diri dan banyak cari info tentang psikologi anak,
    emak2 yang lain, yang merasa frustasi (errr mudah2an orangnya ga baca, bisa dilempar nih bilang dia prustasi) menangani anak yang diasuhnya, trus ikutan tes ini itu...
    merasa bahwa uang untuk tes yang kepake adalah investasi, ga masalah supaya masalh anak terpecahkan... maka ketika disodorkan informasi bahwa sidik jari ini hoax, merasa sedikit terpukul, apalagi dah ngeluarin duit

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Lebih dari itu saja Bunda, alat ukur psikologi juga memiliki nilai reliabilitas yang bervariasi, makanya biasanya digabung satu sama lain untuk membuahkan hasil yang bisa dipercaya. Jadi selain faktor subyek testee-nya, ada faktor-faktor lain yang bersifat teknis yang mempengaruhi hasil tes, misalnya metode scoring dan interpretation si psikolognya, kondisi testee pas lagi melaksanakan tes, dan macem-macem. Jadi tetap saja hasil tes itu sebagai pendamping dari pengamatan kita sendiri, jangan mau terperangkap oleh berhala yang disebut psikotest.
    aku inget jaman sekolah dulu (SMA kalo ga salah) "dipaksa" tes psikologi, untuk menentukan minat bakat (dengan bayaran tertentu, wajib)
    padahal ga penting banget buat beberapa orang (termasuk diriku) aku udah tau kok minat dan bakatku... kadang uang berbicara

    tes psikologi selanjutnya pas ikutan tes2 masuk kerja, entah apa yang dicari... masih blm mengerti. Kata-nya tes2 macam ini juga bisa dimain2kan, ada trik2nya untuk pilih2 mana yang sebaiknya dipilih untuk bisa diterima kerja
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  9. #29
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    he eh...apa jangan2 psikolog gak penting ya? *dipentung*

  10. #30
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Sebagai mantan anak kecil yang beberapa kali dites psikologi, aku baik-baik aja. Malah senang tiap kali tes karena ada soal-soal unik-unik, kayak tebak-tebakan atau main teka-teki.
    Tapi gak senang kalau kemudian orang tua pakai hasil tes buat menentukan keputusan.. hmph.

  11. #31
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Hmm terus terang saya pengin tau pandangan dari psikolog itu sendiri mengenai tes sidik jari ini.
    Adakah kenalan anak KM?

  12. #32
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Pandangan psikolog sih beragam... ada yang kayak Prof. Sarlito, bingung cari referensi dan gak ketemu ... ada juga yang tertarik sama bagian duitnya, nyatanya ikutan buka franchise


    Yang saya kenal sih menganggap ini pseudo-science alias psiko-pop...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  13. #33
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    psiko-pop sampe jutaan rupiah...yang tes minta bakat konvensional cuma makan 75rebu duang...bandingannya jauh amat

  14. #34
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Kalo yg berikut ini ada dasar ilmiahnya, korelasi panjang jari manis dan jari telunjuk... :





    Sayangnya penelitian ilmiah semacam ini kemudian menimbulkan interpretasi yg kebablasan, yg tidak lagi ilmiah seperti ini :


  15. #35
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Ini saya copas dari FB,
    pendapat salah satu pelanggan di sini yang kebetulan seorang psikolog,
    sayangnya mungkin beliau lupa passwordnya di kopimaya atau bagaimana.. ya dunno.
    wong sampun sepuh

    tapi yang disampaikan beliau ini, bisa menambah wawasan kita :

    "Ilmu" untuk mempelajari sifat2 manusia memang sudah lama ada.
    Dalam budaya saya (budaya Jawa) dikenal "Ngelmu Katurangga".
    Dulu bangsawan Jawa senang dengan kuda, maka para budayawan Jawa "menyelidiki" sifat2 kuda berdasar ciri2 fisiknya
    mis. dari bentuk kukunya, tracak (cetakan kuku pada tanah)
    dan ciri2 fisik lainnya untuk memilih kuda yang baik (Turangga=kuda).

    Ilmu ini lalu diterapkan juga pada perkutut (katurangganing perkutut) bahkan pada manusia terutama wanita (katurangganing wanita)
    mis. yang terkenal kalau punggung wanita agak bungkuk (bungkuk udang) nafsu seksnya besar.
    Saya kira pada bangsa2 lain spt China, India juga terdapat "Ilmu" yang mirip itu.
    Bahkan dalam khazanah pustaka Islam dikenal "Ilmu" itu yang dinisbatkan kepada Imam Syafi'i.
    Orang Jawa (Islam) kalau bilang seseorang kurang baik sifatnya dikatakan Iman Sopinginya kurang baik.

    Saya sependapat dengan Prof. Sarlito Wirawan
    bahwa sifat seseorang dibentuk oleh lingkungan, pendidikan dan pengalaman hidup.
    Tetapi saya juga percaya teori bakat yang mempengaruhi sifat seseorang.
    Yang perlu diingat adalah "Bahwa tidak ada satu teoripun yang sifatnya DETERMINISTIK.
    Semua yang terjadi di alam ini sifatnya PROBABILISTIK".

  16. #36
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Yang perlu diingat adalah "Bahwa tidak ada satu teoripun yang sifatnya DETERMINISTIK.
    Semua yang terjadi di alam ini sifatnya PROBABILISTIK".
    Kalimat ini gak boleh ditetapkan pada semua ilmu, nanti jadinya orang merelatif kan segala sesuatu.
    Lebih tepat kalau kalimat tersebut diterapkan pada teknik2 pembacaan sifat manusia saja.

  17. #37
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    'kan namanya juga teori, Lan... sesuai definisinya, suatu teori bukan hal yang deterministik. Dia bisa berubah atau ditolak samasekali bila kemudian ada penjelasan-penjelasan atau fenomena baru yang tidak konsisten dengan teori tersebut.

    Saya juga percaya pada teori tentang bakat yang diturunkan melalui kode genetik, seperti halnya bawaan lahiriah. Cuma bahwa penampakan fisik tertentu bisa mencerminkan pembawaan tertentu, kok kayaknya cenderung nggak percaya.

    Dulu di kampus kita pernah bikin penelitian soal watak dihubungkan dengan penampakan-penampakan lahiriah tertentu. Jadi orang-orang yang punya penampilan tertentu kita tes kepribadiannya. Ternyata hasilnya tidak ada korelasi signifikan... begitu pula dengan tanggal kelahiran, shio, zodiak, dan sejenisnya...

    Tapi ya maklum, penelitian seru-seruan dengan sampling yang kurang banyak (kocek urunan kantong mahasiswa yang niatnya memang cuma menyalurkan hobi meneliti)
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  18. #38

    Red face Fingerprint test

    Sharing pengalaman pribadi saya dan teman-teman, kadang kala kita merasa tidak mengenali anak kiita sepenuhnya. Ketika si kecil tidak mau belajar menulis, kekesalan memuncak dan akhirnya anak akan terkena hukuman. Hukuman yang mereka jalani, entah fisik atau kata-kata kasar, yang tentunya tidak disengaja yang diakibatkan oleh rasa kekesalan kita yang memuncak, membuat si kecil merasa sedih - tentunya, dan ada satu lagi yang tidak kita sadari. kita telah melakukan kekerasan kepada si anak.

    "Nak, kamu bodoh sekali sihhhh menulis huruf A saja tidak bisa-bisa, ah payah kamu. Mama tidak mau belajar bersama kamu lagi."

    "Semua teman kamu bisa, kalau kamu tidak bisa-bisa, Mama akan jewer kamu."

    Di lain pihak, tahu tidak sih ternyata anak itu memang seperti itu sejak lahir? Kemampuan alami yang anak kita miliki, kelemahan dan kelebihan nya, baik dan buruk anak itu, ternyata tidak semuanya kita tahu.

    Untuk kasus di atas, motorik halus anak itu kurang begitu baik. Kemampuan tersebut memang sudah lemah secara alami, dan kita pun dapat mengetahui apakah kemampuan tersebut masih dapat dikembangkan atau tidak.

    Kuncinya hanya satu, kesabaran. Untuk anak seperti itu, kiita hanya bisa mengulang, mengulang, dan mengulang lagi, menambah alat-alat yang dapat membuatnya lebih baik lagi, seperti pencil yang dikhususkan untuk anak yang baru mulai belajar menulis, dll.

    Pasti banyak yang bertanya-tanya, kok bisa tahu sih??

    Awalnya karena cerita teman yang anaknya baru selesai ikutan fingerprint test. Saya pikir, wah canggih sekali yah sekarang lewat sidik jari aja dapat diketahui talenta, potensi dan kelemahan mereka. Berkat rekomendasi teman saya tersebut, saya cari informasi dan ikutan juga, dan hasilnya 120% benar-benar anak saya banget. Jujur, sampai terheran-heran juga setelah mendengar hasil yang sudah dibacakan.

    Fingerprint test yang saya pakai : Wonderful Minds. Coba deh browsing. Agak mahal memang, tapi setelah ingat Patent nya dari Amerika, worth it juga lah karena hasilnya pun nggak akan berbeda seumur hidup. Jadi ibarat sekali test seumur hidup.

    Selamat mencoba teman-teman

  19. #39
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    apa bedanya dengan konsep ramal-meramal ?

  20. #40
    nah awalnya juga saya pikir ini ilmu ramal,tapi katanya sih fingerprint ini nggak berubah seumur hidup, jadi memang udah bawaan orok. kalo ramalan yang dilihat kan garis tangan nya, kalo garis tangan bisa berubah-ubah.

    alat yang dipakai juga software yang udah dapet paten dari US. jadi beda sama ramalan.

Page 2 of 4 FirstFirst 1234 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •