He he he... pernyataan saya kok dipelintir toh om. Masalah suka-tidak suka gak termasuk contoh yang saya kasih, om purba.
Bakso ada ---> baru ada manfaat mempercayainya ---> yaitu dengan cara: memakannya (terlepas suka atau tidak suka).
Tuhan ada ---> baru ada manfaat mempercayainya ---> yaitu dengan cara: [diisi sendiri dong]
Gimana mungkin seorang purba mempertanyakan manfaat dari mempercayai sesuatu, sementara purba (misalkan) mengasumsikan sesuatu itu tidak ada.
Gimana mungkin saya mendapatkan manfaat dari percaya Alien, sementara saya mengasumsikan Alien itu tidak ada.
Gimana mungkin saya mendapatkan manfaat dari percaya (mengenal) sebuah rumus matematika, sementara saya mengasumsikan rumus matematika itu tidak pernah ada.
Kalo ga percaya sesuatu itu ada... ya ga ada manfaatnya. Simpel aja kan?
