Katanya kemarin rame di tipi...berhubung tipi sering matinya, gugling deh...nemu:
Mata pelajaran Bahasa Inggris tidak akan lagi dimuat dalam kurikulum wajib untuk siswa sekolah dasar (SD) yang akan diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun ajaran 2013-2014. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, mata pelajaran ini ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing.
Ia menegaskan bahwa aturan ini harus diikuti oleh semua sekolah. Namun, jika ada sekolah yang menjadikan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran tambahan, itu merupakan persoalan lain dan akan dipertimbangkan lagi.
Kurikulum untuk siswa SD akan dipadatkan hanya enam mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Namun, ini baru disepakati untuk siswa kelas 1-3 saja, sedangkan kelas 4-6 masih didiskusikan lagi.
sambel
Tapi sepertinya rencana itu gak mulus sih...ada sekolah2 dan pihak yang menentang rencana ini (kayaknya udah bukan wacana, sudah diputuskan)
Para guru sekolah dasar (SD) yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris menyesalkan rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghapus mata pelajaran tersebut. Mereka menganggap bahasa Inggris penting bagi pengetahuan para murid sekolah dasar.
"Kalau saya pribadi menyayangkan rencana tersebut karena bahasa internasional memang untuk pengetahuan anak," kata Guru Bahasa Inggris di SD Islam Terpadu (SDIT) Al-Muhajirin Rikhotul Aisyi, Jumat (19/10/2012).
Menurut Rikhotul, pelajaran Bahasa Inggris ini sangat penting sebagai kebutuhan siswa. Apalagi di sekolah ini, mata pelajaran Bahasa Inggris sudah diberikan sejak kelas satu. Dia menambahkan, mata pelajaran yang menggunakan bilingual bagus bagi pengetahuan dan perkembangan anak-anak. "Namun jika terpaksa akan dihapus dan pergantian kurikulum yang baru lebih baik, ya tidak apa-apa," tuturnya.
Rikhotul berharap agar mata pelajaran tersebut tidak jadi dihapuskan. Menurut dia, saat ini Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional. Sehingga sangat diperlukan jika dikenalkan sejak dini. "Sangat diperlukan. Dari kecil sebaiknya memang diperkenalkan Bahasa Inggris," tukasnya.
Tidak hanya guru, para murid juga menyesalkan rencana penghapusan tersebut. Misalnya, Shalma, murid kelas VI SDIT Al-Muhajirin. Terlebih, Bahasa Inggris adalah mata pelajaran favoritnya. "Saya enggak setuju dihapus karena saya suka Bahasa Inggris. Jadi jangan dihapus," papar Shalma.
Dia setuju dengan pendapat bahwa Bahasa Inggris bisa menambah pengetahuan siswa SD. Apalagi, dirinya kerap berkomunikasi dengan saudaranya di luar negeri. "Aku maunya tetap ada Bahasa Inggris. Biar makin lancar," katanya
sambel
Anak gwe termasuk yang favorit sama pelajaran bahasa inggris juga sih, dan gwe liat di bukunya pelajaran masih sangat sederhana, hanya membiasakan anak menulis dan melafalkan vocab yang sehari2 dia temukan, macam kalimat sapaan, warna, makanan, buah2an dan sayur2an...dan saya liat Naomi fun2 aja menerima pelajaran ini. Bahasa Indonesianya juga bagus, masih bisa mengikuti.
Saya justru pusing sama PPKN dan IPS, materinya hampir2 sama, cuma dibolak-balik aja urutan babnya, bahkan ada yang dibahas di IPS, dibahas lagi di Bahasa Indonesia.
Sebenernya kasusnya bukan di banyaknya mata pelajaran, lebih ke arah penyusunan kurikullum yang bener biar satu pelajaran dengan pelajaran lain gak tabrakan.
Pendidikan karkater atau attitude juga penting, tapi kalo jadinya standart seperti PKN, itu sama aja pemasungan pribadi sejak kecil...malah kadang saya liat bagusan kurikulum agama di sekolah Naomi, menjabarkan attitude dengan baik dan mudah dipahami anak2.
Nah ini, keputusan kemarin itu sudah berdasarkan studi yang mendalam dan data2 yang valid belum? Kalau memang bahasa inggris ditiadakan, apakah para elit depdiknas sudah memikirkan nasib ratusan guru honorer studi bahasa inggris yang sudah menyebar di pelosok SD?Menurut Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr. Soedijarto, MA, perubahan kurikulum bukanlah sesuatu yang diperlukan sistem pendidikan nasional saat ini. Selain itu, mengubah kurikulum tidak bisa dilakukan secara instan.
"Tidak bisa sekarang jadi, lalu tahun depan langsung diterapkan," ujar Soedijarto kepada Okezone, Kamis (11/10/2012).
Penyusunan dan revisi kurikulum, ujar Soedijarto, itu memerlukan evaluasi yang mendalam. Pemerintah haruslah melihat dan mengevaluasi penerapan kurikulum di ruang kelas dan bagaimana guru menguasai kurikulum tersebut.
"Ini bukanlah sesuatu yang apriori dan harus dilakukan tanpa pertanyaan. Dasarnya harus evaluasi, bukan sebatas asumsi-asumsi," tegas Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (PP ISPI) ini.
Evaluasi yang dimaksud Soedijarto meliputi pemetaan kesulitan apa saja yang dialami guru di ruang kelas. Kemudian, sebuah kurikulum baru juga seharusnya diuji coba terlebih dahulu sebelum benar-benar diterapkan. Dengan begitu, guru benar-benar sudah menguasai kurikulum.
sumber
Sebaiknya kalau memang mau mengadakan perubahan kurikullum, lakukan studi dulu dan lihat mapel lain...masih banyak mapel yang tumpang tindih dengan mapel lain
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote