Oke, sebelum membahas...dibatasi aja. Guru Yunior itu jam terbang mengajarnya 20 tahun ke bawah ya, sedang guru senior yang jam terbangnya sudah 20 tahun ke atas
Ceritanya kemaren ngobrol-ngobrol sama emaknya salah seorang sahabat si sulung. Gegara saya penasaran, si Salsa ini TKnya sekolah di TK Islam yang bisa dibilang golongan super mahal di kota kami, sebut aja TK B. Kog masuknya ke SD Islam yang bisa dibilang murah meriah seperti SD Muhammadiyah? Trus yang bikin saya terheran-heran Salsa termasuk siswa yang ikut jam khusus untuk pemantapan baca tulis karena dianggap tertinggal dari teman-teman yang lain di kelasnya. Juga nilai-nilainya blum bisa nembus ke sepuluh besar untuk laporan bulanan maupun rapot semester, pun itu nilai agama Islam yang mestinya dia lebih unggul dibanding teman-temannya karena setau saya jargon TK Islam nan mahal itu menjamin anak-anaknya lebih maju agama dan akhlaqnya.
Pas ngobrol2, saya sempet menangkap kekecewaan si ibu, sudah bayar mahal-mahal di TK itu tapi dianggap tidak membawa hasil apapun. Karenanya si ibu malas memasukkan Salsa ke SD B, yang satu yayasan sama TKI B ini. Alasan pertamanya karena kecewa tadi, plus dia menganggap SDI B itu guru2nya masih baru, masih yunior, memang lulusan S1 semua, tapi masih muda, masih baru, dan pengalamannya kalah dari guru-guru di SD Muhammadiyah.
Saya jadi tergelitik, emang masih bagusan guru senior ya dibanding guru yunior?
Perbandingannya gini, kelasnya si sulung wali kelasnya itu guru yunior baru 7 tahun mengajar. sedang kelas 1 yang lain wali kelasnya guru senior, sudah lebih dari 20 tahun mengajar. Tapi menurut saya tetep ada plus minusnya sih mereka berdua.
Si guru yunior ini, memang tidak terlalu galak dan saklek urusan disiplin entah berpakaian atau kerapian dan keantenang di kelas. Selama tidak mengganggu teman yang lain dan bisa mengikuti, guru yunior ini masih bisa mentoleransi polah anak didiknya, termasuk Naomi yang diibaratkan seperti gasing, blas gak bisa diem.
Tapi beliau termasuk saklek urusan nilai. Gak ada istilah buat beliau "upah menulis". Jadi kalau ngerjain 10 soal, 10 soal salah, ya dapet nilai nol. Gak bakal dikasih nilai 20 umpamanya sekedar buat si anak dikasih upah nulis. Jadi nilai di kelasnya si kakak murni hasil kerja anak-anak itu. Beliau juga tidak mentoleransi keterlambatan mengumpulkan tugas-tugas atau PR. Naomi pernah nilainya dapet 40 karena tidak segera menyelesaikan latihan ulangan padahal waktunya sudah lewat dari 10 menit yang lalu untuk selesai. Nilai PR Naomi juga disunat 5 poin, mestinya dapet 100 tapi dapet 95 karena Naomi terlambat menyerahkan PR, harusnya kemarin baru diserahkan hari ini.
Sedang si guru senior ini agak galak, disiplin, dan tidak mentoleransi anak didik yang polahnya macam Naomi (gwe yakin kalau naomi di kelas yang satu lagi, tiap minggu dipanggil sama wali kelasnya kali, membahas ketidakantengan Naomi). Hasilnya memang anak2 di kelas yang bersangkutan cenderung patuh dan diam, dan pulang selalu lebih cepat dibanding anak2 di kelas si sulung.
Cuma, untuk urusan nilai, guru ini lumayan pemurah. Kalau ada anak didiknya mengeerjakan soal dan salah semua, tidak dikasih nol tapi ada nilai upah nulis 20 poin. Nilai raportnya memang cenderung ajaib, lebih tinggi dibanding kelas si kakak, cuma bukan murni hasil kerja keras anak itu sendiri jadinya.
Jadi menurut saya sih, pengalaman atau lamanya jam terbang mengajar bukan berarti jadi jaminan si guru lebih baik mengajar daripada guru yunior ya? Soalnya saya cenderung lebih memilih anak saya diajar oleh huru model wali kelas si sulung
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

). Hasilnya memang anak2 di kelas yang bersangkutan cenderung patuh dan diam, dan pulang selalu lebih cepat dibanding anak2 di kelas si sulung.
Reply With Quote
nah ini yg seringkali harus ditanamkan dalam hati.....sing sabar ya jadi guru, hik, lol






