98.
Sensor Film dan Sensor TV itu adalah hal berbeda.
Penonton film harus merogoh kocek sebelum nonton satu film per kepala sementara TV lebih bebas. Karena itu sensor TV memang harus lebih ketat.
Selain itu, petugas bioskop bisa dipaksa untuk memperketat usia pembeli tetapi kita gak bisa memaksa orang tua memperketat apa yang boleh ditonton oleh anak.
Yang perlu dipahami adalah,
sensor film sebenarnya percuma. Penonton selalu bisa melihat versi tanpa sensor di DVD bajakan. Bahkan sensor yang tidak pas malah mengganggu kenikmatan menonton film. Selain itu aku pernah menemukan kasus-kasus tidak konsisten di mana di poster ditulis untuk dewasa tetapi di filmnya malah remaja. Dan selain itu juga tak ada penjelasan mengapa film A kategori dewasa, mengapa film B kategori remaja.
Jadi LSF perlu lebih terbuka. Lembaga klasifikasi Australia, OFLC, malah lebih terbuka. Begitu juga sistem rating MPAA. Bahkan unsur supernatural atau magis pun, juga menjadi unsur penentu rating.
Orang Jawa itu sombong karena berada di pusat kekuasaan. Tapi sebenarnya, sekarang budaya Jawa pun juga tertutup kok. Anak mudanya lebih senang ama pria korea yang girly daripada mas-mas berkumis tebal dan berblangkon ala Pak Raden.
Saya selalu percaya budaya itu cair. Bila tidak kita jaga maka budaya itu akan jatuh ke tangan bangsa lain yang lebih tertarik. Jadi daripada mengeluhkan mengapa budaya 'A' tertutup oleh budaya 'B', lebih baik mulai kita tuliskan, mulai kita lestarikan budaya 'A'.
Sebagai contoh nih,
budaya demokrasi politik yang dilestarikan melalui penulis2 Romawi seperti Cicero dkk, sempat hilang bersama budaya-budaya filsafat Yunani ketika tafsir radikal Kristiani menguasi Eropa. Di saat yang bersama, ada orang-orang yang bergerilya menyelamatkan tulisan-tulisan tersebut dan kemudian Bangsa Arab mulai tertarik dan menerjemahkan tulisan-tulisan Yunani dan Latin. Kelak budaya ini kembali menyusup ke Eropa, baik melalui Perang Salib, melalui Andalusia, melalui pedagang-pedagang Yahudi dan karya-karya ini diterjemahkan kembali.
Teknik Arsitektur Lengkung Romawi juga sempat hilang dan akhirnya ditemukan kembali di masa Abad Pertengahan.
Budaya cair juga berarti budaya yang kita kenal akan beradaptasi menjadi bentuk baru.
Beladiri kuno yang cenderung memanfaatkan area luas beradaptasi menjadi lebih sempit dan hanya digunakan untuk pertarungan jarak dekat karena untuk jarak jauh, sudah ada teknologi seperti panah, pistol.
Ada kisah, salah satu raja di masa Musim Semi dan Musim Gugur dalam sejarah Tiongkok, demi memenangkan perang, bersedia menanggalkan budaya pakaiannya dan mengadopsi budaya pakaian kerajaan lain yang lebih sederhana dan lebih bisa beradaptasi dalam mengendarai kuda.
Jadi sebenarnya gak usah merisaukan 'Budaya non-Jawa' tertutup oleh 'Budaya Jawa'.
Di Indonesia saya pernah ke
1. Denpasar
2. Yogya
3. Malang
4. Bandung
5. Cianjur
6. Semarang
7. Bukit Tinggi
Tapi kota yang benar2 saya pernah hidup dan benar-benar familiar cuma Bandung, Denpasar, dan Yogya. Sisanya cuma numpang lewat.
Kota yang paling indah justru yang hanya kulihat sekilas seperti Negara (Bali), Pasuruan, Banjar Negara.
Untuk menilai makmur agak susah tapi saya cukup salut dengan perkembangan usaha di kota Yogya. Rasanya, apapun bisa dijadikan peluang bisnis di Yogya. Penduduknya juga cukup terbuka menerima perubahan.
Paling sentosa? Sentosa itu artinya apa yak? Definisi KBBI: "bebas dari segala kesukaran dan bencana; aman dan tenteram". Saya pikir tak ada kota yang bebas dari segala kesukaran dan bencana.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)






