Quote Originally Posted by Sauron View Post
Berkaca dari pengalaman salah satu anggota DPR kita, yang naas ketimpa tangga--kepergok sedang nuntun purnu--saya jadi bertanya-tanya.

Kenapa ya, kalo udah menyangkut "aspirasi urusan bawah" begini orang-orang selaluuuu aja cepet tanggapnya?

Mulai dari kasus Ariyel (Aril Ngeyel) dan para selirnya yang menjadi bumbu penyedap di berbagai saluran berita dan inpotemen selama sekian bulan lamanya. Skandal Ariyel diobok-obok, dibumbu-bumbui, ditambah-tambahi dengan cerita adanya sekian selir lainnya--di samping yang ada di vidio-vidio tersebut.

Untuk beberapa hal lain--poligami misalnya--orang-orang juga pada ribut gak karu-karuan. Padahal apanya coba yang rugi kalo orang lain poligami atau poliandri sekalian?

Ada semacam kecenderungan untuk lebih cepat merespon dan antipati tentang hal-hal beginian dibandingkan hal-hal yang jauh lebih merusak dampaknya, seperti dugaan korupsi oleh pejabat A, misalnya (kalopun ada... toh, ga sedahsyat respon terhadap skandal "urusan bawah" tadi...).

Dari pengamatan saya, keliatannya masyarakat kita (termasuk saya, mungkin ) jauh lebih tertarik tentang segala hal yang berbau-bau seks.

Apa mungkin ya, seks ini adalah insting terkuat kita?

Ya, ya, kedengaran sangat Freudian.

Tapi saya pernah berpikir seperti ini sih.

Contoh ya. Ini sekadar contoh, tak bermaksud hendak SARA.

Organisasi2 keagamaan semacam FPI akan lekas bereaksi jika itu
berhubungan dengan syahwat (aurat, tindakan mesum, goyang dangdut)
Ketimbang kelakuan wakil rakyat yang makin lama makin edan bin mencederai
kemaslahatan rakyat.


Hukum Islam di Aceh, paling lekas dipraktikkan dan paling heboh diurusin
jika berhubungan dengan syahwat (berupa keharusan menutup aurat,
tidak boleh berkhalwat dan semacamnya).


Seakan, kaum agamawan (dan akhirnya seolah agama) urusannya spesialis
menertibkan syahwat.

S.eks ini seakan satu2nya urusan dalam hidup ini. Suatu tabu yang makin
diributkan malah makin menjadi-jadi.

Jadi, mungkin Freud benar (meski saya menilai dia berlebihan).